Wednesday, December 31, 2014

Hari Terakhir di Singapura

Hari terakhir di Singapura kami sangat santai dan tidak ada target. Berhubung malamnya kami mau ke Malaysia naik bus maka kami ke terminal bus yang ada di dekat Bugis Street. Kami hanya mencari informasi dan melihat jadwal bus yang tertera di situ. Hati-hati, petugas loketnya sudah tua dan galak. Sepertinya busnya bisa dibeli dadakan. Baiklah, kami lanjutkan jalan-jalannya. 

Di Bugis Street kami hanya melihat-lihat saja. Dibandingkan Little India, tempat ini lebih ramai. Di sini banyak juga penjual oleh-oleh dengan harga murah. Ada kuil Hindu di tengah ramainya pusat perbelanjaan di situ. Ada juga penjual es krim potong di salah satu sudut. Dan, saya pun kembali membeli es krim potong hehehe. 


Dari Bugis Street kami cukup berjalan kaki menuju Kampong Glam. Karena kemarin tutup, akhirnya kami bisa ke sini. Melihat budaya melayu di sini. Dan, kami mampir sholat di Masjid Sultan. Tak jauh dari masjid ada Malay Heritage Center, mungkin museum melayu di sana. Kami tidak masuk karena tiket dari Duck and Hippo sudah hangus. 

Masjid Sultan

Habis ishomah di sana kami melanjutkan perjalanan melewati terminal bus tadi. Dan sekali lagi, kami ke Garden By the Bay. Kami penasaran karena belum naik ke puncaknya. Di salah satu pohon raksasa, ada lift yang akan membawa pengunjung ke atas. Harga tiketnya S$5. Saya dan suami tidak bosan datang ke taman ini. Banyak petugas yang berjaga kok baik di lift maupun di atas pohon. Mereka tak segan memperingatkan pengunjung untuk selalu berhati-hati. Dan, mereka dengan senang hati menawarkan bantuan untuk memotret. 



Setelah turun perjalanan dilanjutkan ke salah satu hutan buatan yang ada di situ. Di sekitar Garden By the Bay ada dua hutan buatan yakni Floral Dome dan Cloud Forest. Kami memilih ke Cloud Forest. Hutan buatan ini disetting mirip di hutan baik soundnya maupun suhunya. Yang istimewa ada air terjun buatan yang dingin banget. Cloud forest ada beberapa lantai, setiap lantai satu temanya berbeda dengan lantai lain. Ada lantai yang stalaktit dan stalagmit, ada juga tentang hutan tropis, dan ada lagi ruang yang menceritakan tentang kondisi bumi saat ini dan pentingnya hutan. Tenang, di sini juga ada toiletnya kok hehehe. 



Capek berkeliling kami pun melangkah ke Marina Bay Sands lagi untuk makan malam. Aduh, tempatnya enak banget di sini, makan sambil lihat teluk. Oia, untuk makanan halal di Singapura agak susah. Biasanya sih di tempat-tempat makan ada satu kios yang menjual makanan halal. Untuk sholat pun masih susah mencari tempat yang nyaman. Habis makan lalu siap-siap packing dan melanjutkan perjalanan ke Malaysia. 




Continue Reading…

Wisata Budaya di Singapura

Masih di Singapura dan berencana melihat budaya yang ada di negeri singa ini. Kami masih punya tiket Duck and Hippo. Kami ke Suntec City pagi hari untuk naik duck tours. Semacam kapal tapi ada rodanya. Di duck tour ada pemandu yang akan menceritakan sejarah setiap gedung yang dilihat. Mulanya pengunjung naik duck tour dan berjalan seperti mobil sampai ke river. Sampai di air, roda tersebut akan menutup dan kendaraan berganti kapal. Bagi yang tidak ingin basah, jangan duduk di dekat sopir karena goncanangan pertama saat masuk ke air lumayan keras. 

Tour ini hampir mirip dengan Hippo River Cruise. Sepeti biasa gedung-gedung yang dilihat ya itu-itu saja sambil diceritakan sejarahnya, awal mulanya, dan proses pembangunannya. Duck tour ini waktunya sekitar 30 menit. Setelah itu kembali lagi ke pangkalan dan kami naik Heritage Tour.


#Hari Kedua City Sightseeing


Saya dan suami turun di Little India. Ternyata banyak banget orang India yang berjualan di sini. Saran teman saya, lebih baik membeli oleh-oleh di China Town yang harganya lebih murah. Saya sempat membeli barang di Little India dan ternyata benar, harga di sana lebih mahal dibanding China Town.


Heritage tour mengelilingi beberapa bangunan bersejarah yang ada di Singapura diantaranya Raffles Hotel dan Kampong Glam. Sayang, sewaktu ke sana Kampong Glam tutup. Bangunan bersejarah di Singapura masih terawat dengan baik dan ini menjadi daya tarik wisata yang luar biasa. 

Kami juga mampir di Fort Canning Park dan Singapore Filateli Museum. Di Fort Canning kami beristirahat sebentar sambil menikmati pepohonan rimbun dan suasana yang tenang dan teduh. Sumpah, saya sempat ketiduran di sini saking capeknya dan suasana mendukung banget. Setelah bangun, kami ke museum filateli. Koleksi berbagai macam hal-hal filatelinya bagus-bagus. Penataan ruang dan pencahayaannya bagus banget tidak seperti museum yang ada di Indonesia. 



Dari museum filateli, kami pergi ke China Town. Jujur, sampai di China Town, saya langsung teringat Yokohama. Sebelum menjelajah, kami membeli makan di 7 eleven yang ada di situ. Lalu siap menjelajah. Kalau membeli oleh-oleh yang murah, sebaiknya membeli di China Town dijamin harganya murah. Kami sempat masuk ke tempat seperti museum di sini. Tak banyak pengunjung yang datang. Tempat ini menceritakan perjalanan orang China yang merantau sampai ke Singapura. Eh, coba deh jalan-jalan sampai ke dalam ada tukang sulap yang lucu dan oke banget. Beliau menjual berbagai alat sulap. Kiosnya terletak di pojok, kurang tahu deh pojokan yang sebelah mana, bingung mau menerangkan hehehe. Saya sempat mampir dan melihat atraksi sulapnya. 

Hhhmm, jika dibandingkan dengan China Town di Yokohama, jauh banget. China Town Singapura lebih kecil dan barang yang dijual kebanyakan bukan barang yang China banget tapi kebanyakn souvenir yang ikonik dengan Singapura. Kalau kawasan pecinan di Yokohama gedhe banget. 

Salah Satu Sudut di China Town

Setelah puas dan takut ketinggalan bus, kami mendapat bus terakhir dan langsung menuju ke Marina Bay Sands. Menghabiskan sisa sore hingga malam di sini. Kami berjalan menikmati udara Singapura yang bersih. Kemudian kami bergegas mencari tempat duduk untuk melihat pertunjukan laser Wonder Full. 

Pertunjukan laser dan air ini setiap hari ada kalau cuaca mendukung. Pertunjukan laser dan air ini berlangsung selama kurang lebih 15 menit dan tiap hari ada tiga kali pertunjukan. Wow, benar-benar wonderfull karena bagus banget. Sepertinya pertunjukan laser menjadi andalan Singapura untuk menarik wisatawan. Eh tapi ini gratis lho. Hebat ya!



Malamnya kami pulang ke hotel dan mampir ke Garden By the Bay..
Continue Reading…

Jalan-jalan di Kota Singapura

Setelah dari USS, kami memang berniat akan city sightseeing menggunakan bus hop and off. Kami memilih naik Duck and Hippo selama dua hari. Tiket Duck and Hippo kami beli di Suntec City. Sebelumnya sarapan di Suntec City bersama kawan yang tinggal di sana. Setelah makan dan ngobrol sana-sini akhirnya kami ke loket Duck anh Hippo. Dengan bus hop and off ini, kami bisa turun dan naik sesuai tempat yang disukai. 

Bus ini terbagi menjadi dua yakni bagian atas dan bawah. Bagian atas merupakan ruang terbuka sedang bagian bawah sebaliknya. Bus dilengkapi dengan informasi setiap tempat dan jalan yang dilalui. Informasi ini tersedia dalam berbagai bahasa termasuk Bahasa Indonesia. Bus ini memberikan tiga fasilitas untuk berkeliling antara lain Original Route, Heritage Route, dan City Route. Di loket tersedia brosur lengkap tentang jadwal bus tersebut. 

#Hari Pertama City Sightseeing

City sightseeing ini benar-benar kami lakukan dengan santai tanpa beban. Pertama kami memilih melihat landmark Singapura menggunakan Hippo River Cruise setelah sebelumnya kami naik bus dan turun di Clarke Quay. Kemudian perjalanan dilanjut ke Botanical Garden yang merupakan kebun raya rapi, tertata apik dan sangat indah. Kami betah berlama-lama di sini. Saking betahnya, kami sempat tersesat.  


Lalu ke Orchard Road membeli es krim potong yang terkenal itu. Sempat salah turun halte karena kami tidak tahu dimana tempat yang berjualan. Setelah tanya sana-sini akhirnya dapat juga es krimnya. Yang berjualan es krim ini ternyata engkong-engkong yang sudah sepuh banget dibantu anaknya. Katanya sih yang asli di Orchard ini. Di beberapa tempat selain Orchard, saya melihat banyak juga yang berjualan es krim potong di Singapore. Di Orchard kami hanya melihat-lihat saja karena memang tidak berniat belanja. Sepanjang jalan banyak outlet terkenal dan selalu rame. Kami ke sana hari Minggu, di salah satu sudut saya melihat banyak pekerja dari negara lain yang bergerombol. Sepertinya mereka rutin berkumpul setiap minggu di situ.


Kemudian lanjut ke Singapore Art Museum (SAM). Koleksi barang-barang yang ada di sini sangat unik. Banyak banget koleksi-koleksi yang membuat kami takjub dan ngeri. Keren deh museumnya.

Rambut Siapa Ini? 
Setelah tidak terlalu panas, kami naik Singapore Flyer. Sebelum naik ke atas kami melewati area yang seperti museum menceritakan tentang pembangunan flyer ini. Singapore Flyer adalah komidi putar berbentuk kapsul dengan ketinggian 165 m. Dari Singapore Flyer pemandangan Singapura dapat terlihat dari atas. Jalannya pelan banget. Singapura itu kan kecil ya jadi yang dilihat ya itu-itu saja. Kemudian kami ke hutan buatan yang ada di bawah flyer. 

Garden By The Bay dari Singapore Flyer

Sorenya kami ke Merlion Park. Melihat patung singa yang menjadi ikon Singapura. Dari pagi sampai sore, lokasi ini rame banget. Ada yang santai menikmati air, ada yang foto-foto. Kami juga tidak mau kalah dong. Untungnya ketemu orang Indonesia yang berbaik hati mau memfoto kami hehehe. 

Sah Jadi Turis :)
Malamnya ke Garden By The Bay. Sebuah kebun buatan yang sangat menakjubkan terdiri dari pohon-pohon raksasa yang terbuat dari beton tapi diberi tanaman. Pohon-pohon ini menggunakan energi matahari. Kebun di sana tertata sangat rapi. Ada satu pohon yang dibuka untuk umum. Untuk naik ke atas harus membeli tiket dulu baru naik lift. Malam itu kami belum naik ke atas. Kami hanya menikmati indahnya permainan laser dari pohon-pohon tersebut. Cantik dan indah sekali. 

Garden By The Bay di Waktu Malam

Setelah itu kembali ke hotel untuk lanjut keesokan harinya.




Continue Reading…

Wahana yang Seru di Universal Studio

Puas di Sentosa Island, perjalanan lanjut ke USS. Universal Studio Singapore (USS) memang wajib dikunjungi. Berbeda saat di Osaka, waktu itu kami tidak masuk ke USJ karena tiketnya mahal. Ada cara mudah dan murah menuju ke USS yakni jalan kaki di Sentosa Boardwalk. Kalau hari biasa di Sentosa Broadwalk harus bayar tapi kalau weekend gratis. 

Dari Harbourfront kami ke Vivocity lalu menuju ke Sentosa Broadwalk. Kami berangkat pagi agar tidak kepanasan di Boardwalk dan bisa puas menjelajah USS. Jarak dari Broadwalk ke Sentosa atau USS tidak terlalu jauh. Apalagi ada travelatornya jadi kami bisa jalan santai dan menikmati pemandangan di sana.



Saya dan suami memesan tiket USS lewat internet. Dengan cara ini kami tidak perlu antri membeli tiket, tinggal menunjukkan bukti pembeliannya saja.

Sewaktu di sana ada wahana yang tidak dibuka yakni Human dan Cyclon, semacam roller coaster yang meliuk-liuk mengerikan. Saya dan suami sepakat menyukai wahana baru yakni Transformer. Keren banget di sana maka tidak heran kalau wahana tersebut menjadi favorit pengunjung yang antrinya minta ampun.

Untuk masuk ke transformer harus antri panjaaang banget, belum lagi harus muter-muter dulu untuk bisa masuk. Sempat sih mau keluar antrian, tapi sayang banget. Selama mengantri, atmosfer transfoemer kuat banget. Benda-benda serba transformer dipasang sebagai hiasan. Di sini kami naik mobil berpetualang bersama robot-robot transformer memakai kacamata 3D. Keren banget deh perpaduan teknologi dan permainannya. Bener-bener seperti berpetualang dan kena tembakan. Asli, kami puas dan tidak menyesal sudah antri lama. 

Selain Transformer, kami juga suka dengan Water World. Kami duduk di panggung dan menonton atraksi perang-perangan dari stuntman. Adegan tembakan, api, boat, sangat menghibur. Asyiknya, para stuntman ini sering menyemprotkan air ke pengunjung apalagi pas adegan balap-balapan pakai boat. Kalau tidak ingin basah, jangan duduk di depan. 

Berbagai wahana yang ada di USS memang seru dan menegangkan. Ada wahana yang memang tidak boleh untuk anak-anak. Dan, setiap Jumat, Sabtu, Minggu ada pertunjukan kembang api di danau dekat Hollywood. Saat ke sana, kami beruntung karena sedang ada parade di sana. Hhhhm puas banget main di USS karena kami bisa mencoba aneka permainan, melihat parade dan pertunjukan kembang api. 






Continue Reading…

Cerita Pemula ke Singapura

Bulan Agustus lalu saya dan suami jalan-jalan ke Singapura dan Malaysia. Kami berdua bukanlah traveller sejati. Hehe kami jalan-jalan tetap mencari budget rendah dan browsing sana-sini. Tapi, kami jalan-jalan santai jadi mungkin ada beberapa tempat yang tidak kami kunjungi.

Ini travelling pertama kali ke luar negeri. Pernah sih jalan-jalan ke negeri lain karena kebetulan suami saya dinas di sana. Jadi, bisa dikatakan kalau ini termasuk pengalaman pertama murni travelling ke luar negeri.

Seperti biasa, Pak MJ bertugas mencari tiket promo dan penginapannya. Berapa besarnya? Jujur, lupa hehehe. Pesawat take off Kamis sore sampai di bandara Changi maghrib. Setelah landing, saya dan suami berkeliling dulu di Bandara Changi. Bandaranya bagus, ada tamannya. Karena malam, kami tidak sempat berkeliling taman-taman tersebut satu per satu. Yang saya suka, wifinya lancar banget. Di sana juga ada internet gratis lewat komputer. Tujuan kami berkeliling juga mencari bangku untuk tidur. Ya, kami memang berniat tidur layaknya backpacker di bandara, biar irit hehehe.

Sumpah, ini pengalaman pertama saya tidur di bandara. Karena alergi dingin, batuk saya kambuh. Berkali-kali saya batuk. Untungnya tempat tidur kami dekat toilet jadi saya agak aman bolak-balik ke toilet. Eh, toilet di Changi bersih dan wangi kok. Saya dapat bonus badan pegel-pegel hehehe.

Waktu di Singapura satu jam lebih cepat dari WIB. Tapi, meski di sana jam 6 pagi saat mencari sarapan beberapa outlet di bandara masih banyak yang tutup. Yang bikin jengkel, KFC-nya tidak ada nasinya heuheu. Kami sarapan di salah satu restoran di sana. Lupa namanya. Saya beli mie laksa dan teh anget. Enak rasanya. 

Nah, hasil dari contekan di internet, agar transportasi selama di Singapura murah, kami membeli tiket EZ-link di bandara, semacam kartu multi trip commuterline kalau di Indonesia. Hebatnya EZ link ini, selain untuk membayar MRT, bisa juga untuk bayar bus, taksi, beli di McD, 7 eleven, dan time zone. Kartu ini berlaku selama lima tahun. Sempat menunggu lama karena loketnya belum buka.

Setelah mendapat EZ-link, kami naik MRT dan turun di Aljunied. Iya, saya dan suami menginap di kawasan Geylang tepatnya Hotel Fragrance Rubi. Hehehe kawasan Geylang termasuk kawasan red district, pagi-pagi banyak banget cewek seksi. Ini pilihan suami saya lho, hhhmm tak apalah. Hotelnya bagus pelayanannya tapi internet gratis hanya di lobby. Karena check in siang, maka kami hanya menitipkan barang dan cuci muka. Setelah itu ngebolang.

Oia, sebelumnya kami mengisi perut di warung dekat hotel. Murah sih karena mirip warteg. Penjualnya orang Surabaya. Ramah banget orangnya. Karena setiap pagi dan malam kami makan di situ, penjualnya sampai hapal. 

#Vivo City

Vivo city ini mall yang ada tamannya di atap (roof top). Dari sini kita bisa melihat Sentosa Island. Setelah foto-foto sebentar, kami naik monorail ke Sentosa Island. Dari Vivo City kami membeli tiket monorail ke Sentosa Island. Kami masuk ke bagian informasi dan bertanya tentang cara membeli tiket wahana yang ada di Sentosa. Di situ diterangkan detail dan ada brosurnya, komplit. Jadi pengunjung bisa memilih berbagai wahana yang ada di Sentosa sesuai budget dan waktu. 




#Sentosa Island

Sentosa memang wajib dikunjungi karena memang banyak tempat wisata di sini, diantaranya Imbiah Lookout, Siloso, Pantai. Masing-masing tempat ini dihubungkan dengan transportasi bis, monorail, dan trem. Ini semua gratis karena include di tiket masuknya. Kami memang berniat mengelilingi tempat ini sampai puas. 

Pertama kali kami ke Imbiah Lookout, melihat patung Merlion yang gedhe banget, foto-foto terus beli makan siang di 7 eleven yang murah meriah. Sempat deg-degan di sini karena gerimis turun. Oia, kami membeli beberapa tiket wahana di sini, diantaranya tiket Wings of time, skyride and luge, dan cable car.


Setelah itu kami puas-puasin naik trem di Sentosa. Mampir ke pantai, Nature Discovery, dan Siloso. Pemandangan di pantai yang seperti pulau buatan bagus banget. Sayang Pak MJ tidak membawa baju ganti jadi tidak bisa renang. Kalau Nature Discovery masuknya gratis. Di situ semacam museum flora dan fauna serta hutan yang treknya sangat nyaman. Sedangkan Siloso itu pantai yang ramai banget pengunjungnya. 




Setelah puas berkeliling, kami ke wahana skyride and luge. Awalnya melayang tinggi lalu dilanjutkan dengan meluncur dengan alat luncur roda tiga tanpa motor, jadi hanya pakai rem, menuruni bukit sepanjang 650 m. Seru banget naik ini. 



Karena sudah sore, kami siap-siap nonton Wings of Time. Pertunjukan laser di pantai. Asli, keren banget pertunjukannya. Ada dramanya, ada tari dan nyanyi, dan tentu saja laser yang indah. Setelah itu kami pulang ke hotel. Kalau naik monorail penuh banget. Untungnya kami masih punya tiket cable car. Jadi kami pulang naik cable car ke Harbour Front.

Untuk menuju ke lokasi cable car kami harus ke Merlion Plaza dulu. Ikuti saja jalannya sampai ketemu loket cable car. Selama di cable car, kami menikmati pemandangan Singapura di malam hari. Karena pada waktu itu tidak punya tripod, kami tidak bisa mengabadikan gambar di malam hari dengan baik.


Lalu kami pun kembali ke hotel. Duh, yang namanya Geylang di malam hari itu rame banget. Kotanya hidup banget. Meski termasuk kawasan red district, tapi aman kok. Wanita yang bekerja di jalan termasuk pekerja legal dan mereka punya kartu identitas sendiri. Jangan salah, mereka juga kena pajak lho.

Selanjutnya kami ke Universal Studio
Continue Reading…

Tuesday, December 30, 2014

Jalan-jalan Hemat ke TMII

Taman Mini Indonesia Indah merupakan miniatur dari Indonesia. TMII merupakan tempat wisata yang sangat komplit karena ada berbagai wahana permainan dan edukasi di sana. TMII terdiri dari rumah adat yang ada di Indonesia dan wahana yang seru terutama untuk anak-anak. Di TMII pula kita bisa mengenalkan budaya yang ada di Indonesia kepada anak-anak.

Di dalam TMII ada beberapa wahana yang gratis, murah dan mahal. Untuk rumah-rumah adat yang ada di sana semua gratis. Sedangkan beberapa wahana seperti istana anak, museum transportasi, museum filateli, snow bay, dll harus bayar. Harga tiketnya bervariasi dari dua ribu sampai ratusan ribu. Jika kita pergi secara rombongan dan tidak diatur mau masuk ke wahana mana saja, bisa-bisa tekor. Belum lagi kalau membeli makanan dan minuman yang harganya lebih mahal dibandingkan harga di luar TMII.

Salah Satu Rumah Adat di TMII

Nah, berdasarkan pengalaman saya, sebaiknya kalau mau ke TMII direncanakan dulu mau masuk ke wahana apa saja. Sebagai perkiraan, harga tiket masuk mobil Rp.10.000,-. Setiap orang di atas 3 tahun dikenakan biaya masuk Rp.10.000,-. Nah, kalikan saja berapa orangnya dan tiket masuk mobilnya, sudah banyak kan?

Sewaktu ke sana awal Desember lalu, rombongan terdiri dari 5 orang dewasa dan 1 anak usia 3th, kami membawa mobil. Berarti tiket masuknya saja sudah Rp.60.000,- ( 5 orang + tiket mobil). Kalau musim liburan, biasanya harga tiket masuk ke TMII akan naik dari harga semula. Harga tiket di beberapa wahana saat hari kerja dan weekend atau liburan juga berbeda. Biasanya tiket di hari libur atau weekend lebih mahal.

Nah, biar tidak tekor-tekor amat, berikut tips untuk jalan-jalan hemat di TMII :

1. Tentukan dulu teman-teman mau ke wahana apa saja.

Cek di internet berapa tiket masuk ke TMII, hitung jumlah orangnya dan kendaraan yang dibawa. Jangan lupa hitung perkiraan tiket masuk ke berbagai wahana yang akan dikunjungi. Hitung kembali besaran biaya yang akan dikeluarkan. Informasi tiket masuk ke TMII bisa klik di sini.

2. Sebaiknya membawa kendaraan pribadi baik sepeda motor maupun mobil.

TMII itu luas banget, makanya dengan membawa kendaraan sendiri teman-teman bisa berkeliling di semua wahana dengan puas dan bisa berhenti kapan saja dan dimana saja sesuka kita. Kalau naik transportasi yang ada di TMII pasti bayar dan terkadang antri, apalagi kalau sedang musim liburan.

3.  Membawa bekal dari rumah.

Yup, cara ini terbukti ampuh mengurangi biaya pengeluaran. Dengan membawa bekal sendiri teman-teman bisa menyantap bekal tersebut di mobil atau di parkiran atau di pinggir danau sambil menggelar tikar. Asyik kan? Coba bayangkan kalau berombongan jajan, berapa uang yang harus dikeluarkan untuk makan siang dan jajan anak-anak? Kalau bisa irit, kenapa harus boros?

4. Masuk ke wahana yang murah.

Teman-teman bisa masuk ke wahana yang murah seperti museum transportasi. Biasanya anak-anak senang bermain di museum transportasi. Mereka bisa melihat dan naik berbagai transportasi yang ada di situ. Bisa juga teman-teman mengenalkan budaya Indonesia dengan mengunjungi rumah adat yang di sana. Kalau masuk ke rumah adat atau anjungan, semua gratis.

5. Manfaatkan toilet gratis.

Kalau jalan-jalan dan harus bayar ke toilet kan lumayan juga tuh biayanya apalagi jika termasuk orang beser seperti saya. Teman-teman bisa kok memanfaatkan toilet gratis yang ada di anjungan atau rumah adat. Selain itu, di beberapa museum toiletnya juga gratis. 

6. Naik kereta gantung.

Jika teman-teman ingin melihat keseluruhan TMII tanpa capek, bisa saja naik kereta gantung. Dari situ kita bisa melihat TMII semuanya. Harga tiketnya waktu itu Rp.30.000,- per kepala. Anak kecil pun harus membayar tiket penuh.



Selamat berlibur di TMII ya!



Continue Reading…

Monday, December 22, 2014

Berburu Bacaan Bekas

Kebiasaan membaca buku bermula dari bapak yang suka membaca koran di rumah. Setiap pulang dari kantor bapak selalu membawa koran. Setiap hari bapak berlangganan koran di kantor. Untuk koran hari Sabtu biasanya beli di loper koran langganan dikarenakan bapak libur, sedangkan hari Minggu tidak ada koran di rumah. 

Bacaan di rumah saat itu hanya koran. Maklum, orang tua hanya abdi negara yang sederhana, meski tidak kekurangan. Adanya koran di rumah terkadang memudahkan saya dan adik-adik jika ada tugas membuat kliping. Begitu juga dengan anak tetangga, mereka akan ke rumah jika ada tugas mengenai berita yang ditayangkan di koran.

Meski kondisi keuangan pas-pasan, bapak selalu membelikan saya majalah Bobo setiap liburan sekolah. Tak lebih dari sehari, majalah tersebut sudah habis saya lahap. Mengetahui hal ini, suatu ketika bapak mengajak saya keluar malam. Saya tidak tahu mau diajak kemana, biasanya sih kalau keluar malam diajak membeli kacang hijau. Ternyata dugaan saya salah besar. Bapak mengajak pergi ke Jalan Pemuda, Semarang. Setelah memarkir motor, saya hanya mengikuti beliau berjalan di samping. Tak disangka, saya diajak pergi ke tukang loak.

Setiap malam di Jalan Pemuda, tepatnya di depan Pasaraya Sriratu, berjajar tukang loak. Mereka menjual apa saja termasuk buku dan bacaan bekas. Setelah berkeliling dari pedagang satu ke pedagang yang lain, bapak berhenti di salah satu pedagang dan menyuruh saya memilih bacaan yang disuka. Dengan senang hati, saya pun memilih beberapa bacaan. Setelah tawar-menawar, akhirnya bacaan tersebut saya bawa pulang. Asyik, liburan jadi banyak bacaan di rumah.

Jika liburan terlalu lama, seringnya saya dilanda bosan di rumah. Untuk itu, biasanya saya minta diantar ke rumah Budhe di daerah Tlogosari. Di sana saya bermain dengan kakak sepupu dan teman-temannya. Selain bermain, yang saya cari tentu saja bacaan. Saya tahu kalau sepupu berlangganan Majalah Mentari Putera Harapan. Majalah yang sudah tidak dibaca diletakkan di almari khusus. Jika ada majalah yang sudah lama dan menumpuk, biasanya Pakdhe mengikat jadi satu dengan tali rafia. Bacaan tersebut boleh saya bawa pulang. Terjadi simbisosis mutualisme di sini, rumah Pakdhe berkurang bacaan bekasnya dan saya mendapat majalah bekas. Yuhu, senangnya mendapat banyak bacaan meski bekas. Saya tidak malu, justru senang karena mendapat bacaan gratis. 

Saat ini, saya merasa beruntung karena menikah dengan orang yang suka membaca. Dari awal mempunyai rumah, saya dan suami sepakat akan memperbanyak bacaan di rumah. Bacaan tersebut tak semuanya bekas. Beberapa ada yang dibeli sewaktu kami belum menikah dan ada juga yang di beli di toko buku. Untuk mengurangi jumlah buku yang ada di gudang, sebagian buku yang kami punya diletakkan di bufet dengan tujuan agar tamu yang sedang bertandang ke rumah bisa membaca atau meminjam buku tersebut. Buku-buku yang ada di rumah ada juga yang merupakan pemberian dari teman dan buku gratis sebagai door prize di suatu acara. Asyik ya kalau ada acara yang memberikan door prize berupa buku.

Sebagian Koleksi di Rumah

Meski sudah bisa membeli buku sendiri di toko buku, kebiasaan lama untuk berburu buku bekas masih suka saya lakukan. Kalau di Depok, pedagang buku bekas ada di Stasiun Pondok Cina. Meski sempat terkena gusuran tapi masih ada beberapa yang bertahan di sana. Seringnya saya membeli buku atau bacaan bekas di daerah blok M. Iya, saya rela naik kopaja dari pucuk ke pucuk demi berburu buku bekas. 

Pedagang buku di blok M Square sangat mudah ditemui. Letak pedagang tersebut ada di lantai basement. Tempatnya nyaman karena di dalam ruang dan ber-AC meski kadang kala ACnya tidak dingin. Tempat ini juga pas untuk menghabiskan waktu sembari menunggu hujan di luar reda. Di situ banyak sekali penjual yang menawarkan buku baik baru maupun bekas. Harga buku di situ lebih murah jika dibandingkan di toko buku. Apalagi harga buku atau bacaan bekasnya. Selain itu pembeli juga bisa menawar. Jangan sungkan untuk menawar dengan harga yang rendah.

Bacaan Bekas di Blok M

Beberapa minggu yang lalu, saya sengaja datang ke sini untuk mencari bacaan. Saya membeli tiga bacaan bekas. Harga untuk novel bekas sekitar lima hingga enam puluh ribu, tergantung tebal tipisnya. Wow, melihat banyaknya buku di situ membuat hati saya berdesir. Ingin rasanya memborong semua bacaan tersebut. Benar-benar surganya para pecinta buku. 

Mencintai buku dan membuat kebiasaan membaca sekarang sangat mudah. Banyak sekali orang yang membuat buku. Banyak sekali penulis-penulis baru bermunculan. Kalau buku yang mereka buat tidak untuk  dibaca, lalu untuk apa? Membiasakan membaca tidak harus dengan buku yang mahal. Dengan bacaan bekas pun kita bisa memperluas pengetahuan dengan cara murah. Bacalah maka engkau akan membuka jendela dunia.



Continue Reading…

Sosok Ibu di Kantor

Pengalaman bekerja pertama kali pasti menorehkan cerita tersendiri bagi siapa pun. Saya juga mengalami hal itu. Banyak sekali cerita tapi satu yang masih berkesan yakni menjadi staf seorang pimpinan yang disegani. 

Mempunyai pimpinan yang kondang seantero kantor membuat saya tertarik mengetahui apa saja yang membuatnya disegani padahal beliau seorang perempuan. Ketenarannya sampai ke instansi sejawat bahkan instansi yang mempunyai wewenang lebih tinggi. 

Penampilan pimpinan saya selalu matching dari atas sampai bawah, kecuali sepatu. Misalkan PDH (Pakaian Dinas Harian) berwarna hijau, mulai dari frame kacamata, aksesoris, dan tas semua berwarna hijau. Andai tidak ada larangan memakai sepatu berwarna-warni, pasti deh sepatunya juga hijau. Pun begitu kalau sedang dinas ke luar kota. Karena pernah menjadi asisten kepercayaannya, saya tahu dan hapal. Kalau keluar kota, di dalam koper pink pasti ada beberapa set  pakaian dan aksesoris yang matching. 

Sebagian orang menganggap bahwa ibu tersebut galak tetapi saya mengartikannya lain. Beliau orangnya tegas, serba cepat serta lumayan perfeksionis. Ada lho staf yang tidak bisa mengikuti ritme kerjanya lalu minta dirolling ke bagian lain.

Bagi saya, justru inilah sifat yang membuat saya bisa menjadi lebih baik. Serasa masuk ke dalam camp yang dilatih tentara. Saya meyakini, hal ini pasti berguna untuk saya nanti.

Jika beliau meminta data atau laporan maka stafnya harus tahu data dimaksud dan dimana letak data tersebut. Staf yang bertanggung jawab harus bergerak cepat agar laporan tersebut segera tersaji di meja beliau. Setelah itu, kami, stafnya, menunggu beberapa menit jika ada panggilan. Setiap laporan di meja pasti akan dibaca dan dipelajari. Jika ada kekurangan baik soal data atau penampilan data yang kurang rapi pasti beliau minta diperbaiki segera. Sifat inilah yang membuat saya harus bekerja cepat, tepat, dan rapi.

Meski begitu beliau tidak pelit ilmu. Setiap keluar kota atau ke instansi terkait untuk membahas masalah kantor, beliau pasti membawa staf dengan harapan agar si staf dapat kenal dengan dunia luar dan memperoleh ilmu serta pengalaman. Beliau ingin agar bawahannya selalu berkembang. Ini yang saya suka, keluar kantor tapi mendapat ilmu.

Saya jadi tahu berbagai ilmu terutama soft skill menghadapi orang lain. Gampang-gampang susah untuk meyakinkan orang atas laporan yang kami buat. Butuh ilmu khusus yakni melobi. Ini bukan berarti suap- menyuap tetapi lebih meningkatkan komunikasi agar tidak terjadi kesalahpahaman.

Selain tidak pelit ilmu, beliau juga sering mengeluarkan uang pribadi untuk menyenangkan anak buahnya. Entah makan bersama atau piknik keluar kota bersama. Jalan-jalan di seputar Jawa Tengah beserta kulinernya sudah pernah saya cicipi. Jelajah kuliner ibu tersebut memang lumayan luas untuk area Jawa Tengah. Dari situ saya mengenal Getuk Kethek yang enak di Salatiga, soto rumput di Boyolali, roti mandarin di Solo, bakso balungan di Demak, dll. 

Pimpinan saya tidak suka memasak tapi beliau pernah cerita kalau suka sekali tumis selada air. Jadi jika ibu kandung saya memasak tumis tersebut, pasti saya juga menyiapkan seporsi makan siang di meja beliau. Bekal makan siang kala itu agak banyak karena membawa dua porsi.

Ah, itulah pengalaman saya mengenai sosok perempuan dan seorang ibu yang berjasa bagi saya. Dengan beliau saya tahu arti kerja keras dan menghargai pekerjaan orang lain. Dengan beliau saya juga mengerti arti kebersamaan di tempat kerja. Saya tidak akan melupakannya karena sudah saya anggap sebagai ibu di kantor. Saat mau menikah, saya menyerahkan undangan sendiri sambil pamitan karena harus resign setelah menikah. Saat itu, tak kuasa saya menangis di depan beliau. Sampai sekarang, secuil kata di balik kartu namanya masih saya simpan ketika harus meninggalkan kantor tersebut. 





Continue Reading…

Saturday, December 20, 2014

Mendapat Kawan Baru


Kalau disuruh menengok kembali tulisan yang berkesan selama tahun 2014 ini, jujur saya malu. Postingan saya masih sedikit dan saya pun belum ada setahun di dunia perbloggeran ini. Apalagi blog saya masih biasa-biasa saja. Tetapi, mau tidak mau saya harus mencari dan memposting ini di detik-detik terakhir.

Tahun 2014 ada satu hal yang tidak mungkin saya lupakan karena usaha mendapat momongan gagal. Tulisan yang berjudul Hasil Inseminasiku  saya buat tepat sehari sebelum jadwal test pack setelah disuntik inseminasi. Saya menulis tersebut dengan penuh emosi, antara sedih, marah, dan menyalahkan diri sendiri. Apalagi tulisan tersebut terjadi saat tanggal cantik yakni tanggal 10, bulan ke-10. Bagaimana rasanya mengenang suatu tanggal cantik dengan peristiwa yang tidak cantik, sungguh pilu. Apalagi sesaat setelah itu, saya membaca status facebook suami saya yang menandakan beliau sungguh kecewa dan kesal.

Saya mencoba instropeksi dengan kondisi saya saat itu. Setelah memposting, saya mematikan komputer dan menangis sendiri di kamar sepuasnya. Sambil curhat dengan sahabat lewat BBM dan berakhir dengan tangisan lagi sampai beberapa pesan tidak saya balas. Saat itu saya hanya ingin sendiri. Jujur, saya tambah sedih karena teringat status kekecewaan suami yang hal ini seakan menambah beban pikiran. Seakan-akan saya adalah istri yang tidak berguna.

Di luar dugaan, ternyata banyak sekali doa dan dukungan dari teman-teman blogger yang notabene tidak saya kenal. Ketemu di dunia nyata pun hanya beberapa saja. Sungguh, saya membaca komentar mereka dengan menangis. Ada haru ketika membalas komentar dan mengamini doa-doa mereka. Tanpa saya sadari, saya kembali bangkit dan tidak berlama-lama sedih.

Dari beberapa komentar tersebut, ada komentar yang bernasib sama dan meminta alamat surel saya. Hubungan berlanjut dengan saling curhat lewat dunia maya dan saling menguatkan. Sampai sekarang pun, alhamdulillah pertemanan kami masih berjalan dan saya merasa tambah intens. Dari yang semula curhat masalah ikhtiar mendapat momongan jadi melebar ke urusan domestik khas ibu-ibu.

Bahkan ada juga teman suami yang mengirim pesan lewat facebook mengatakan bahwa beliau mengetahui kondisi saya dan ingin berbagi bersama. Padahal teman tersebut mengetahui kondisi saya hanya dari tulisan yang tidak seberapa di blog. Saya sempat kaget dengan hal ini. 

Padahal tulisan saya biasa-biasa saja dan jauh dari sempurna karena hanya berisi curhatan. Sebagian dari mereka yang ingin berbagi karena ingin mengetahui lebih lanjut tahap-tahap saya untuk mendapatkan momongan baik soal dokter maupun biaya rumah sakitnya. Pengobatan alternatif pun saya bagikan semata-mata karena ingin berbagi. Mengetahui hal ini, saya pun berjanji akan menulis lebih baik lagi dan memberikan informasi yang bermanfaat setidaknya mereka tahu pengalaman-pengalaman yang saya alami. 

Hanya lewat rangkaian kata di blog, saya mendapat teman baru dan saling menguatkan. Hanya lewat tulisan yang tidak seberapa, mereka tahu informasi yang saya sampaikan. Hanya dengan tulisan di blog, saya bisa berkawan meski masih secara maya. Terimakasih buat persahabatan selama ini. Mungkin ini seperti yang Pak NH bilang, this is the beauty of blogging.




Continue Reading…

Thursday, December 18, 2014

Alkesa, Buah Rasa Ubi

Dulu, sekitar dua tahun lalu, saya pernah mencicipi buah yang sudah langka, yakni buah kecapi. Setahu saya, kecapi itu alat musik yang pernah menjadi judul sebuah film di TVRI. Film misteri ketika saya masih kecil berjudul Misteri Kecapi, bercerita tentang misteri alat musik petik tersebut. Tapi setelah berpuluh tahun kemudian saya mendapati bahwa kecapi juga merupakan nama buah. Beruntungnya saya saat itu. 

Akhir pekan kemarin saya pun kembali mencicip buah langka lainnya. Hari Sabtu siang setelah acara arisan ibu-ibu di rumah tetangga, saya kaget ketika salah satu ibu makan buah yang belum pernah saya temui. Buah tersebut sudah dibuka dan dimakan bersama. 

'Ini buah apa, Bu? tanya saya kepada ibu tersebut.

'Buah apa ya, lupa,  rasanya kayak ubi, Mba,' jawab Si Ibu.

'Kecapi bukan? tanya saya balik.

Ibu-ibu lain yang boncengan naik motor sambil teriak bilang namanya alkesa dengan suara yang tidak begitu jelas. 

Oh, saya baru mendengar nama buah secantik itu di lingkungan kampung ini. Tempat tinggal dimana-mana pasti ada enak dan tidaknya. Salah satu enaknya tinggal di kampung orang, saya sudah pernah merasakan buah yang saat ini sudah langka. Diantarnya kecapi dan alkesa tadi.

Karena kebingungan dan kepolosan saya, akhirnya si ibu tersebut memberikan sisa buahnya kepada saya. Dan, saya makan buah tersebut di rumah. Saya masih belum terlalu ngeh dengan nama buahnya karena baru pertama kali mendengar itupun dengan teriakan dari motor. Sampai suatu hari saya membaca berita di salah satu portal yang menceritakan tentang alkesa. 

Alkesa mempunyai nama lain sawo mentega atau sawo ubi. Tanaman ini berasal dari Amerika Tengah dan Meksiko. Tanaman ini sudah banyak dibudidayakan di berbagai negara termasuk Indonesia. Alkesa termasuk dalam keluarga sawo-sawoan yang biasa tumbuh di pekarangan dengan tinggi 10 meter dan berbuah tidak mengenal musim.

Buah Alkesa yang Langka dan Unik

Buah alkesa bentuknya bulat seperti buah mangga yang kecil. Kalau sudah matang, kulitnya berwarna kuning. Tetapi ini bukan jaminan kalau buah tersebut sudah matang. Ada juga buah alkesa yang masih berwarna hijau tapi sudah matang. Jika ditekan lembek, berarti buah tersebut sudah matang. Daging buahnya tebal dan rasanya seperti ubi. Tekstur buahnya lembut sekali seperti alpukat dan ada aroma sedikit wangi. Biji buah alkesa bentuknya mirip pongge atau biji durian. 

Biji Alkesa

Saya menikmati sekali makan buah tersebut karena baru pertama kali tahu dan merasakan buah yang unik. Kandungan di dalam buah ini antara lain kalori, zat tepung, vitamin, dan mineral. Pemanfaatan buah alkesa di Indonesia belum maksimal bahkan buah ini sudah hampir punah karena jarang sekali ditemui. Kalau di negara lain buah alkesa makannya dicampur garam dan lada, sari jeruk, atau mayones. Ada juga yang mencampurkan buahnya ke dalam es krim atau milkshake. Kalau di Indonesia biasanya dimakan begitu saja sebagai buah segar. 

Penasaran dengan buah alkesa? 

Continue Reading…

Kenalan dengan Argalitha

Gegara berkunjung ke blog beberapa teman, mereka banyak yang menceritakan Argalitha. Penasaran juga, akhirnya saya berkunjung juga ke blognya. Saya tidak terlalu kenal karena saya memang baru di dunia tulis-menulis maya. Eh, ternyata mba Argalitha sudah menjadi teman saya di facebook. Hasil dari mengorek blognya, Mba Argalitha itu :

#Bidan
Iya, saya tahu dari profilnya. Seorang bidan yang sepertinya masih menjadi tenaga honorer. Saya tahu banget suasana dan ritme kerja bekerja di instansi kesehatan, milik pemerintah pula. Meski saya tidak mengalami kerja shift, tapi saya tahu betapa besar pengabdian mereka yang bekerja shift. 

Bekerja shift bagi saya berat sekali apalagi untuk mereka yang sudah berkeluarga. Dari obrolan dengan teman kerja dulu, mereka paling malas kalau mendapat shift malam karena harus meninggalkan keluarga, utamanya anak. Apalagi, jika ada partus (melahirkan) yang butuh penanganan ekstra. Harus menyiapkan segala peralatan dan tenaga medis yang mumpuni. Syukur-syukur, para bidan bisa menangani sendiri tanpa menelepon dokter kandungan. Kalau keadaan darurat, mereka harus cepat  dan tanggap menangani pasien karena berhubungan dengan nyawa manusia. 

Keadaan itulah yang membuat saya takut sekali ketika akan memutuskan untuk menerima sebagai mahasiswa kebidanan dari RS plat merah. Saya melepaskan begitu saja tanpa penyesalan. Makanya saya salut dengan si mba ini yang mau menjadi bidan. Semangat ya, Mba Argalitha!

#Ratu Kuis
Sewaktu main ke blognya si mba cantik ini, saya tidak sengaja membaca postingan yang membuatnya berkesan selama tahun 2014. Karena penasaran, saya pun mencoba menelusuri postingannya satu per satu. Saya baru tahu, kalau Mba Argalitha ini kuis mania, banyak banget ikut kuis baik GA dari para blogger maupun kuis-kuis lainnya. Hebatnya, semakin banyak ikut, semakin banyak pula beliau memenangkan kuis.

Senang ya jika kita bisa ikut kuis, apalagi menjadi pemenang. Seakan semua usaha yang dikeluarkan itu terbayar. Ada kepuasan tersendiri ketika menang. 

Kalau saya ikut kuis selain ingin menang (ngarep boleh kan) juga karena ingin meramaikan kuis tersebut. Saya memosisikan diri sebagai penyelenggara kuis, andai banyak yang ikut perhelatan yang saya buat, seneng banget rasanya. Seakan rumah kita rame karena banyak tamu datang dan kita bisa memberi mereka kenang-kenangan. Pun sebaliknya. Tapi yang terjadi pada saya belum seberuntung Mba Argalitha, saya belum pernah menang, tapi jujur, seneng banget sudah bisa ikut dan menulis sesuai tema. Apalagi temanya pas dengan diri kita. 

#Pantang Menyerah
Entah mengapa, ketika melihat fotonya, saya bisa menyimpulkan bahwa Mba Argalitha ini sosok pekerja keras dan pantang menyerah, hhmm sepertinya agak keras orangnya (maaf ya mba kalau salah). Melihat sorot matanya yang tajam, seakan beliau sudah mempunyai impian dan target yang harus diraih.

Hal ini ternyata cocok dengan usahanya yang tidak menyerah ikut tes CPNS beberapa kali. Hebat. Saya juga pernah ikut tes CPNS beberapa kali dan gagal. Jadi saya bisa merasakan bagaimana usahanya dan rasanya meraih impian tersebut. Jangan menyerah, Mba Argalitha, raih terus impianmu tersebut. Semoga saja tidak kena moratorium ya, kabarnya akan ada moratorium lima tahun ke depan. Eh, sepertinya moratorium untuk tenaga kesehatan tidak berlaku, ya? Kurang paham banget kalau masalah ini.

Semoga Mba Argalitha tidak menyerah mengejar cita-citanya. Dan, tetap semangat menghadapi pasien ya, mba. 

Mau kenalan lebih jauh dengan Argalitha? 
Yuk, ikutan GA-nya di sini, siapa tahu menang lho :)





Continue Reading…

Tuesday, December 16, 2014

Sepatu untuk Bapak

Getar HP di sore hari mengagetkan saya karena ada SMS dari bapak. 

'Sepatu sudah sampai. Nanti dicoba di rumah. Tks banget.'

Senyum mengembang karena sepatu yang dipesan online pada hari Sabtu kemarin akhirnya sampai juga. Awalnya saya dan suami memang berniat membelikan sepatu untuk bapak sewaktu lebaran nanti. Idenya suami awalnya ingin memberi surprise tetapi sewaktu keluarga saya menginap di rumah, saya utarakan maksud kami dan menyuruh bapak memilih model yang disuka. Kami takut jika surprise gagal karena bapak kurang suka dengan modelnya. 

Sewaktu ditawari model mana yang disuka, semula bapak keberatan karena takut harganya kemahalan, mengingat nama merk sepatunya adalah nama Wapres. Saya yakinkan bahwa harganya tidak sampai enam digit, akhirnya bapak mau juga. Saya catat kode sepatu yang bapak suka. Setelah keluarga pulang ke Semarang, barulah sepatu tersebut saya pesan.

Baru kali ini saya memesan sepatu secara online. Agar tidak terjadi kesalahpahaman, saya bertanya detail termasuk garansi pengembalian jika sepatu yang dipesan kekecilan atau kebesaran. Alhamdulillah, jangka waktu return sebulan. Jadi, biar tidak ribet dan mengefektifkan waktu, saya kirim langsung ke kantor bapak. Harapan saya dan suami, tentunya agar sepatu tersebut bisa langsung dipakai buat ganti. Apalagi bulan Agustus tahun depan bapak sudah pensiun dan tidak bisa diperpanjang lagi. 

Maghrib tadi bapak mengirim pesan lagi katanya sepatunya sudah dicoba dan pas. Tampaknya bapak senang sekali karena mengirim pesan berulang kali yang menandakan kalau beliau cocok dan suka dengan sepatu tersebut. 

Dari beberapa kali balasan pesan, saya sarankan agar sepatunya besok dipakai ke kantor. Mengingat masa pensiun tinggal beberapa bulan, jadi buat apa sepatunya dieman-eman. Dan sungguh saya terkejut membaca balasan pesan dari bapak seperti ini 

'Kelihatannya akan saya pakai setelah pensiun dan hanya sekali-kali pakainya.'

Gubrak!! Saya pun agak sewot membalas karena berharap sepatunya lekas dipakai dan bisa untuk ganti, inginnya bapak tidak pakai sepatu itu-itu saja. Namun itu terserah bapak karena sepatu tersebut adalah haknya. Mungkin ini karena sifat orang tua saya, baik bapak maupun ibu yang selalu sayang dengan pemberian orang lain, apalagi dari anaknya. Banyak sekali barang-barang pemberian dari sanak saudara atau kerabat yang masih dirawat dengan baik. Bapak dan ibu sangat menghargai pemberian orang lain karena kata mereka, pemberian itu tanda sayang dan bisa menjadi kenang-kenangan. 


Continue Reading…

Friday, December 05, 2014

Cerita di Daerah Rob

Kalau mengenang ini rasanya sedih sekali. Pernah merasakan tinggal di daerah yang airnya melimpah ruah selama puluhan tahun. Air selalu ada, di musim kemarau namanya rob, di musim hujan banjir campur rob. Saya sudah biasa dengan hal itu.

Saya juga nggak tahu kenapa orang tua dulu memilih tinggal di situ. Banyak menyebut bahwa itu daerah hitam, pantang didatangi kawan-kawan sekolah yang kece. Mereka takut. Anggapan mereka salah.

Memang karena dekat pantai orang yang tinggal di daerah tersebut ngomongnya keras tapi mereka orang baik kok. Mereka hidup sederhana. Alhamdulillah sebagian besar sekarang anak-anaknya sudah kuliah. Kalau kurang beruntung, biasanya mereka tamat SMA lalu bekerja sebagai buruh pabrik yang banyak berdiri di situ. Rumah-rumah di sana sangat padat. Jalan-jalannya sempit. Kalau ada yang bawa mobil terpaksa parkir di lapangan. 

Kadang saya selalu bilang ke orang tua kenapa nggak dijual saja rumahnya, mencari tempat yang nggak banjir. Ibu hanya menjawab sabar dan sabar. Sedangkan bapak memberi pandangan yang lain. Memang rumah bapak makin lama makin pendek. Hampir tiap 3 tahun sekali pasti ditinggikan atau diurug. Ya lama-lama pendek itu rumahnya. Panas lagi. Tapi anehnya tiap tamu kantor bapak-ibu datang, mereka bilang rumahnya gonta-ganti terus catnya. Malah dibilang variasi biar nggak bosan. Saya tahu mereka bercanda jadi ya ditanggapi santai saja.

Bapak mengajarkan saya untuk lebih bersyukur. Karena jika melihat rumah tetangga, kondisinya lebih memprihatinkan. Rumah mereka yang kecil dijejali dengan anak-menantu-cucu. Dibuat kamar per kamar. Belum lagi dindingnya yang tidak diplester atau diaci. Kata mereka, percuma diplester toh nanti bakal banjir dan diurug lagi. Bener juga sih pemikiran mereka. Sayang uangnya.

Di balik itu, saya melihat ada kegigihan yang luar biasa menjalani hidup. Mereka yang berprofesi sebagai penjual gorengan, penjual donat, tukang becak, nelayan nyatanya mampu hidup dan menyekolahkan anak mereka. Bahkan ada yang seorang buruh pabrik anaknya kuliah dan sekarang menjadi sukses. Saya selalu mengatakan hal ini kepada ibu saya. Kok bisa ya? Jika ada di posisi mereka, apa saya mampu bertahan seperti mereka?

Kehidupan di sana seru sekali. Orang mabuk dan marah-marah di malam hari sering membuat saya takut. Omongan kasar kepada istri dan keluarga keluar. Aduh Gusti, semoga mereka cepat terlelap dan tersadar. Kalau ada lagu yang sedang hits, pasti ada tetangga yang memberikan hiburan gratis. Mereka dengan baik hati membunyikan VCD kencang-kencang sebagai tanda bahwa dia sudah punya koleksi lagu tersebut. Hahaha kadang mendengarkan lagu sambil goyang India dan goyang dangdutan di rumah enak juga. Pernah saya sampai hapal urutan lagu-lagunya gara-gara sering banget diputar. 

Menggangu? Kadang. 
Terhibur? Iya.

Tukang bakso, mie ayam, mie tek tek, tukang soto langganan yang selalu dinanti. Bunyi-bunyian yang mengiringi sudah khas di telinga. Mereka sabar menunggui kami. Mereka asyik menceritakan keluarganya di kampung halaman. Mereka akan memberi tahu kalau mau absen jualan karena menengok saudara di kampung. Ah, bapak, mas, enak sekali jajanan kalian. 

Kehidupan bertetangga yang selalu berbagi dan nggak ada sekat di antara kami. Selalu bergotong royong tanpa minta ganti. Rame-rame bekerja bakti. Ah, kangen sekali suasana guyub tersebut. Alhamdulillah sampai sekarang meski sudah 6 tahun pindah orang tua selalu bersilaturahim ke sana, menyapa tetangga. Malah kalau belanja ikan seminggu sekali di pasar dekat rumah karena ikannya segar dan murah. Apalagi kedua adik saya, sering banget mereka main ke sana sendiri atau teman-temannya main ke rumah kami. Persahabatan yang indah. Untungnya, di ibu kota ini saya masih berhubungan baik dengan anak salah satu tetangga. Saling memberi kabar atau titip oleh-oleh dari daerah asal masih kami lakukan.

Hai kamu yang tinggal di daerah sana, indah sekali suasana guyub di daerahmu. Indah sekali seandainya polder berjalan baik dan menyedot air. Terimakasih, berkat kamu, saya menjadi lebih mengerti tentang arti berbagi dan bertahan.  





Continue Reading…

Wednesday, December 03, 2014

Tips Naik Kopaja 63 Biar Dapat Duduk

Kopaja itu bus kota warna hijau yang bersliweran di Jakarta. Angkutan ini sangat murah makanya fansnya banyak banget meski bentuk dan mesinnya sudah nggak layak. Kalau di Depok, adanya kopaja 63, satu-satunya kopaja yang menghubungkan Depok ke Jakarta, tepatnya Blok M. 

Selama tiga tahun saya menjadi fansnya. Biyuh-biyuh, jangan ditanya deh gimana rasanya. Perjuangan untuk naik kopaja 63 itu gilak banget. Bayangin ya, kalau mau mendapat tempat duduk di jam-jam sibuk, harus berangkat pagi dari rumah. Sampai terminal kalau sudah jam enam lewat, pasti penuh apalagi jam setengah tujuh sampai sampai delapan pagi. Belum lagi hari Senin-Rabu, penuh buanget!! Nyampai terminal, harus ikutan antri di depan pintu terminal untuk bisa naik kopaja 63 yang baru datang. Kalau si ijo udah kelihatan dari jauh, ada yang rela menyebrang dan lari-lari demi mendapatkan tempat duduk. Kalau udah di terminal, beuh pada rebutan tuh, nggak mikir dia laki atau perempuan, yang ada hanya siapa cepat dia dapat.

Saya udah rebutan untuk dapat duduk, tetep nggak dapat. Akhirnya berdiri. Mana lama lagi ngetemnya. Padahal di terminal masih ada kopaja 63 yang lain loh. Kenapa nggak dipake aja sih? Daripada nganggur kan? Toh ini untuk penumpang juga. Nggak habis pikir deh, apa ini akal-akalan sopir dan krunya biar kejar setoran.

Memang, kopaja ini selalu penuh, manusia disuruh berbaris sampai mepet pet dan nggak ada sela untuk gerak. Mana panas pula. Mirip ikan yang dipanggang. Gilak banget deh. Belum lagi macetnya. Dari UI terus Pancasila, kadang LA dan Tanjung Barat macetnyaaa amit-amit. Ini masih nyambung sampai tol terus Ampera dan Antasari loh. Apalagi setelah Pasar Inpres ada fly over, biasanya kopaja ini putar baliknya jauh banget. Ckckckck, kalau ingat itu ya, saya kadang tertawa. Menertawakan diri sendiri yang berjuang keras di ibukota *tsaaahh*. Soalnya cuma itu angkutan yang melewati kantor saya. Pernah sih nyoba rute lain, naik Deborah terus nyambung kopaja 615, ujung-ujungnya sama, muacet, malah lebih lama dan lebih mahal jatuhnya. 

Baru-baru ini saya naik kopaja 63 loh tapi nggak pas jam sibuk. Jam 9 nyampai terminal. Alhamdulillah nggak ada drama rebutan tempat duduk sih. Meski naiknya siang, banyak juga loh penumpang yang berdiri. Umumnya mereka turun di Cilandak. Saya sangat menikmati perjalanan tersebut. Bernostalgila masa-masa mengabdi dulu, bernostalgila menyapa gedung-gedung lama yang masih saya hapal dan menyapa gedung-gedung baru yang cantik dan tinggi.  Heran, pesona kopaja 63 dari dulu sampai sekarang nggak pudar. Padahal mesin-mesin yang ada sudah pudar semua. 

Berdasarkan pengalaman ini, saya punya tips untuk naik kopaja 63. Simak ya :

1. Kalau mau mendapat tempat duduk, berangkat kudu pagi. Kalau perlu berangkat subuh. Saya pernah lihat tuh, kopaja 63 jam 05.15 sudah ada yang jalan, masih sepi.

2. Kalau kesiangan, siap-siap ikutan antri di pintu terminal (sebelum pos). Kalau ada banyak orang berdiri disitu biasanya mereka pada ngantri kalau nggak Deborah ya kopaja 63. Kedua bus ini primadona banget di Depok. 

3. Kalau melihat bus warna hijau di kejauhan dan mau masuk terminal, pasti itu kopaja 63. Nah, buruan deh samperin, lari sekencang-kencangnya, rebutan tempat duduk.

4. Jangan antri di dalam terminal, pasti nggak dapat tempat duduk kecuali kalau berangkat siang banget.

5. Siapin ongkosnya di tempat yang mudah dijangkau, seperti di kantong tas, saku depan. Jangan taruh ongkos di dalam dompet karena itu bisa bahaya dan bakalan ribet, kopaja 63 penuh banget, ciiiin. Lebih baik waspada dan ambil praktisnya saja. Oia hati-hati sama barang bawaan terutama dompet. Mendingan dompet taruh di dalam tas. 

Sepertinya itu dulu deh, tips naik kopaja 63. Maap ye, saya ngasih tips nggak keren.


Continue Reading…

Dibuang Sayang

Belajar itu bisa dari siapa saja, termasuk dari asisten. Jangan remehkan mereka, dari seorang asisten saya banyak belajar menghargai. Menghargai manusia, menghargai waktu, dan menghargai uang. Sebelumnya saya nggak terlalu aware tentang ini terutama soal waktu dan uang. Tapi setelah saya menjadi IRT, luar biasa sekali dampaknya.

Asisten saya itu orangnya nrima, kalau dikasih apa pun mau. Tapi saya kalau ngasih juga lihat-lihat, masih layak nggak barang tersebut dikasih ke orang? Hal-hal kecil sangat dihargai oleh asisten. Misalnya saja sayur dan lauk sisa, meski masih enak, tapi saya urung memberikan ke asisten karena jumlahnya sedikit. Ee..nggak tahunya, dia sendiri yang bilang mau makan sayur/lauk tersebut. Sayang-sayang, katanya.

Saya langsung deg melihat itu. Dia cerita kalau masakan yang ada di rumahnya jarang dibuang karena dia merasa sayang kalau mengingat mencari uang itu susah. Dulu sewaktu masih kecil, dia cerita kalau untuk makan nasi itu jarang banget, seringnya makan singkong. Dan, sejak kecil dia juga sudah mencari uang. Pendidikanannya hanya sampai tingkat dasar. Makanya kalau ada nasi sisa di rumah, biasanya dibawa pulang olehnya, dijadikan pakan ayam.

Saya kan kadang sering bikin susu atau oat yang mana airnya direbus dulu, maklum nggak ada termos di rumah. Setiap ada sisa air di panci, pasti asisten tanya kalau itu air matang atau mentah. Jika saya menjawab air matang, maka air sisa di panci akan dituang olehnya ke dalam gelas lalu diminum. Sayang-sayang mba, air sama gasnya. Gitu kata asisten saya sambil minum. 

Duwenk! Jujur ya, saya nggak menyangka hal sekecil itu akan diperhatikannya. Karena selama ini saya orangnya suka membuang-buang saja, apalagi tinggal sedikit. Nggak kepikiran sama sekali soal sayang gas, sayang uang, sayang air. 

'Hello, aku kan kerja, jadi gak masalah hal-hal kayak gitu.' Keegoisan saya saat itu muncul. Iya, saya menganggap remeh hal-hal kecil tadi. Iya, saya kurang aware soal hal-hal kecil. Karena saat itu saya menganggap saya punya uang. Tapi sekarang berubah. Sejak menjadi IRT otomatis waktu ngobrol saya dengan asisten menjadi lebih banyak dan saya tahu tingkah lakunya selama ini. Meski masih ada kekurangan tapi sifatnya yang sangat menghargai hal-hal kecil membuat saya tersadar. Ternyata untuk mendapatkan hal-hal kecil tersebut itu nggak mudah, karena harus bekerja berangkat pagi dan pulang malam. Hal-hal kecil tersebut hanya sisa dari pengorbanan yang tidak kecil.

Continue Reading…

Tuesday, December 02, 2014

Kasih Ibu dalam Setiap Langkah

Bahagianya aku mempunyai seorang ibu yang sangat pengertian. Banyak sekali peristiwa yang membuatku kagum dengan sosok ibu. Meski tiap pagi beliau berangkat ke kantor tapi tak pernah lupa menyiapkan masakan sebelum berangkat. Setiap pagi sebelum subuh ibu sudah bangun dan asyik di dapur sendirian. Setelah sholat subuh, aku sering membantu ibu. Dari situ kami membahas berbagai hal. Pekerjaan menjadi lebih enteng rasanya. Rasa sayangku kepada ibu juga bertambah. 

Setiap ibu keluar kota baik dinas atau berkunjung ke rumah saudara pasti tak lupa menyiapkan sayur dan lauk untuk orang di rumah. Jadi siapa pun yang ada di rumah dijamin tidak akan pusing menyiapkan makanan karena tinggal memanaskan sebentar di kompor. Hal ini belum bisa kulakukan di rumah karena suamiku tidak suka sayur kemarin.

Jalinan antara aku dengan ibu semakin erat saat aku menemani beliau belanja. Ibuku suka sekali blusukan di pasar tradisional. Setiap Jumat setelah pulang kerja aku dan ibu biasanya pergi ke Pasar Johar. Ibuku memang suka belanja di pasar tradisional dibanding di mall. Harga barang di mall tidak bisa ditawar, itu yang menjadi alasannya. 

Aduhai, memang ibuku jago sekali menawar. Akan ditawarnya barang yang disukai sampai separuh harga bahkan lebih. Jika tidak dapat ibu pura-pura jalan beberapa langkah sambil menunggu dipanggil kembali. Jika beruntung memang ibu akan dipanggil lagi oleh si penjual. Tapi jika tidak, ibuku yang akan kembali lagi ke tempat tersebut setelah berkeliling ke sana-sini. Tentu saja aku yang malu, bukan ibuku. Binar matanya tanda kepuasan membuatku tersenyum mengiringi langkahnya menyusuri lorong-lorong sempit. 

Aku sadar, kasih sayang seorang ibu akan selalu mengiringi langkah anak-anaknya. Setelah menikah aku harus mengikuti suami yang bekerja di ibukota. Sebelum hari-H keberangkatan ke Jakarta, selain sibuk mengurus barang bawaan, aku juga sibuk membantu ibu memasak. Masaknya dobel karena ibu memasak untuk lauk di rumah dan untuk bekal selama di perjalanan. Masih kuingat, di bagasi mobil penuh sekali. Berbagai tas, kardus, dan barang tersusun tak karuan. Selain barang milikku dan suami, pastinya ada termos nasi, sayur dan beberapa tempat lauk serta makanan ringan lainnya.

Perjalanan ke ibukota kami lalui dengan riang. Kami berangkat pada hari Jumat setelah Maghrib. Aku duduk diantara suami dan ibuku sedang bapak duduk di depan bersama sopir, yang masih kerabatku juga. Kami saling cerita dan bercanda. Kami beristirahat di salah satu pom bensin besar yang ada di Brebes. Kami makan bekal yang sudah dibawa. Indah sekali kala kuingat momen tersebut. Sewaktu mengantuk, kulihat ibuku tidur bersama bantal yang dibawanya dari rumah. Ibu membawa dua bantal. Hal ini sudah kuingatkan sebelumnya lebih baik membawa satu bantal saja karena tempatnya penuh. Tapi ibu tetap kekeh untuk membawa kedua bantal tersebut. 

Perasaanku senang waktu itu karena aku merasakan kasih sayang orang tua yang luar biasa terutama ibuku. Seakan beliau ingin selalu menemaniku kemanapun aku pergi. Beliau ingin selalu ada saat aku membutuhkan nanti. Ibu ingin kasihnya selalu ada di setiap langkah anak-anaknya. Ah, jika ingat berbagai kesalahanku yang menyakiti hati ibu, bulir bening di kedua kelopak mataku turun di kegelapan malam. Aku menyekanya. Tak ada seorang pun yang tahu. 

Setelah menempuh beberapa jam perjalanan kami beristirahat lagi di Cikampek untuk sholat subuh dan menghangatkan tubuh dengan segelas minuman. Sekitar setengah jam kami beristirahat. Melemaskan otot-otot yang kaku dan menghirup udara pagi. 

Setelah itu perjalanan kami lanjutkan kembali. Memasuki tol Jakarta sempat nyasar karena suamiku sendiri kurang begitu hapal. Dan akhirnya kami sampai juga di tempat tujuan, rumah pertamaku meski saat itu mengontrak. Hari masih pagi dan kontrakan sepi karena penghuninya belum beranjak dari tidur. Satu per satu barang-barang diturunkan dari mobil. Setelah tak ada yang tersisa, kami semua beristirahat.

Saat itu ibu bilang kalau sore harus kembali pulang karena bapak dan ibu ingin beristirahat sebelum berangkat ke kantor. Maka saat itu juga aku berharap waktu berjalan pelan. Biarkan aku berlama-lama dengan ibuku. Aku tak tahu apakah aku siap melepas mereka pulang. Setelah Ashar, kulihat ibu segar lagi setelah mandi dan mencuci rambut. Ibu merapikan barang-barang miliknya. Ada termos, rantang plastik warna-warni, dan sendok. Dari yang semula penuh dengan makanan sekarang kosong tidak ada makanan sama sekali. Ibu tidak mengharapkan balasan apapun dariku.

Saat menyiapkan semuanya ternyata ada satu bantal yang tertinggal lalu kuingatkan pada ibu. Kata beliau bantal itu memang sengaja ditinggal, kalau kangen ibu maka aku disuruh memeluk bantal tersebut.

Bantal ini sampai sekarang masih kusimpan


Saatnya perpisahan tiba. Ingin rasanya aku menangis saat mencium tangan bapakku apalagi saat mencium tangan ibuku dan kami berpelukan. Sungguh, kulihat mata ibuku berkaca-kaca. Ibu berpesan agar kami selalu rukun dan selalu dalam keadaan baik.

Aku dan suami kemudian mengantar orang tuaku menuju tol Antam. Di situlah kami berpisah. Keluargaku masuk tol sedangkan aku putar balik di daerah Ranco. Saat putar balik itu, kulihat di bawah mobil keluargaku sedang lewat. Ya Tuhan, lindungilah mereka, doaku sambil terus melihat laju mobil keluargaku. Sampai di rumah, aku pun langsung menuju kamar dan memeluk bantal pemberian ibuku sambil menangis. 




http://abdulcholik.com/2014/11/03/kontes-unggulan-hati-ibu-seluas-samudera/#comments



Continue Reading…

Monday, December 01, 2014

Mencongak : Sarapan Pagi di SD

Lagi pengen bernostalgia di zaman SD dulu. Siapa yang nggak tau mencongak? Kalau saya nggak salah mencongak itu menjawab soal Matematika yang biasanya sudah di luar kepala. Mudeng nggak? Gini aja deh, mencongak itu identik dengan Matematika. Guru akan memberikan soal tapi bukan soal cerita, soal-soal Matematika pendek yang simpel dan biasanya jawabannya sudah diluar kepala. Misalnya saja soal perkalian, pembagian, volume, dll. Biasanya siswa akan menjawab dengan cepat soal tersebut dan langsung ditulis di buku. Kalau misal kita ketinggalan atau nggak bisa ngerjain nomor tertentu, ya sudah nggak bakal diulang lagi deh pertanyaan tersebut. 

Setiap hari mulai kelas 2 SD saya sudah mencongak. Di sekolah saya, mencongak dikerjakan di buku khusus, yakni buku notes kecil biasanya yang cap Banteng. Bukunya warna warni ada merah, hijau, biru, kuning. Satu halaman biasanya dibagi dua, untuk soal hari ini dan soal berikutnya. Setiap pagi setelah doa bersama, pasti mencongak dulu. Biasanya nggak lama sih, cuma lima atau 10 menit. Soalnya pun cuma sepuluh nomor. Habis mencongak biasanya buku tersebut ditukar dengan teman sebelah, teman di depan atau di belakang. Setelah dikoreksi oleh teman yang lain, buku tersebut dikumpulkan dan diberi nilai oleh guru.

Kalau mendapat nilai bagus sih seneng, kalau nggak kadang ngefek ke pelajaran setelahnya. Manyun dan memikirkan mencongak. Etapi saat ini mencongak masih ada nggak sih? Hayo, yang punya anak atau keponakan silakan ditanyakan. Penting nggak sih mencongak itu? Bagi saya kok penting nggak penting ya *bingung*. Memang sih mencongak itu untuk membentuk pondasi Matematika yang kuat tapi kan kalau ada siswa yang nggak suka Matematika gimana? Etapi jangan salah juga loh, soal-soal tes untuk masuk kerja biasanya berhubungan dengan Matematika dasar. Nah itu dia, kalau masih hapal hitungan dasar berikut satuannya akan memudahkan menjawab atau memahami soal tersebut. 

Buku mencongak kecil yang cap Banteng masih ada nggak ya di tukang foto kopi? Dulu seringnya beli di situ soalnya. 


Continue Reading…

Kebiasaan dari SD

Dulu di SD semua hal yang berkaitan dengan tugas sekolah ditulis di sebuah buku namanya 'buku tugas'. Buku tersebut dicatat oleh setiap siswa dengan arahan dari wali kelas. Hari ini mencatat apa saja yang perlu dipersiapkan untuk esok hari. Misalkan ada PR Matematika, mau ulangan IPA, besok membawa perlengkapan prakarya, ada mencongak, membawa pakaian olah raga, ada perayaan di sekolah, minta uang sumbangan, dll. Semua dicatat di buku tugas. Buku tersebut harus ditandatangani oleh orang tua dan wali kelas. Jika orang tua nggak ada di rumah, boleh diwakilkan. Tapi hal itu jarang banget terjadi. Biasanya wali kelas langsung tahu kalau ada tanda tangannya nggak sama dengan tanda tangan sebelumnya.

Yang sering tanda tangan di buku tugasku yaitu bapak, kalau ibu jarang banget tanda tangan. Pernah nih sekalinya ibu tanda tangan, wali kelas nanyain itu tanda tangan siapa. Memang sih sekolahku ketat. Aku bersekolah di SD Katolik yang terkenal sangat disiplin. Begitu pula dengan kedua adikku.

Masih teringat sampai sekarang, setiap pagi kalau ada siswa yang nggak memakai sepatu hitam dan kaos kaki putih akan dipanggil. Kemudian jika ada yang lupa memakai sabuk, siswa tersebut akan diberi sabuk tali rafia sampai pulang sekolah. Setiap Senin ada pemeriksaan gigi, kuku, rambut oleh siswa yang ditunjuk menjadi dokter kecil.

Huwaaa apa karena ini ya lama-lama aku menjadi terbiasa. Terbiasa untuk disiplin. Setiap malam sebelum tidur pasti aku sudah menyiapkan peralatan sekolah, mengecek apa-apa yang dicatat di buku tugas, dan membawa buku sesuai jadwal. Sampai sekarang pun hal ini masih kulakukan. Setiap mau pergi, biasanya aku paling detil membawa perlengkapan yang sudah kusiapkan malam sebelumnya. Makanya aku dibilang rempong sama besties. Lalu kuingat-ingat lagi kira-kira apa saja yang belum dibawa. Kalau ada yang ketinggalan satuu saja, kadang sedih apalagi itu barang yang sangat dibutuhkan. Dan, setiap seminggu sekali pasti aku memotong kuku. Itu harus. Kalau nggak dipotong biasanya perutku akan sakit pas aku makan pakai tangan. Ini beneran loh. Makanya kalau ada acara makan-makan biasanya aku selalu mengecek kuku terlebih dulu. Sayang kan kalau sudah makan enak terus perutnya sakit *hehe*.

Kalau teman-teman apa saja nih kebiasaan dari SD yang masih dilakukan sampai sekarang?



Continue Reading…

I Love Monday

Heiy, Desember!

Hari Senin, awal bulan lagi. Biasanya kalau hari Senin identik dengan hari yang dibenci ya. Maklum awal pekan mungkin masih terbawa hawa liburan weekend. Etapi kenapa nggak dibalik aja sih pikiran ini, Senin itu hari yang menyenangkan. Kalau awalnya sudah happy semoga saja seterusnya juga bikin happy. Lha kalau awalnya sudah bete, bisa-bisa mempengaruhi mood seminggu itu loh.

Ngomong sih gampang ya tapi ngelakuinnya susah. Eemm, saya pernah merasakan hal itu, kawan. Berangkat sudah diusahakan pagi apalah daya macet dan berjubel di kopaja sepanjang jalan pernah saya rasakan.  Apalagi berdiri dari Depok sampai Dharmawangsa selama dua jam pernah saya alami. Nyampai kantor, keringat banyak dan capek pula. Tuh kan, ngomong gampang. Tapi saya itu tipe orang yang menikmati setiap kejadian. Apapun itu. 

Banyak yang bilang ke saya 'kalau makan kok dinikmati banget, sih mba.' Padahal saya makan biasa saja. Sebelum makan saya biasakan bersyukur karena masih bisa makan, apalagi kalau gratisan. Saya selalu memikirkan masih ada orang yang belum seberuntung kita. Ada juga yang bilang, kalau saya membersihkan kaca *tugas sewaktu gadis resik-resik rumah* itu dielus-elus. Padahal saya  melakukan biasa saja loh. Tapi dalam kegiatan itu saya mencoba berbicara dengan kaca tersebut. Belum lagi aktivitas pribadi yang lain. Emm, antara lelet dan menikmati beda tipis ya *hehe*.

Hari Senin ini saya kangen sama warna-warni sayuran. Kalau belanja di abang sayur dekat rumah, saya lebih suka belanja pagi, sehabis subuh. Jam segitu masih belum banyak ibu-ibu yang belanja. Jujur, saya nggak suka dengan ibu-ibu yang belanja sambil ngrumpi. Saya lebih suka yang sepi. Saya bebas memilih sayuran yang masih komplit dan segar. Warna-warnanya itu loh bikin happy banget. Saya suka melihat isi gerobak sekedar untuk melihat warna tomat yang merah dan oranye. Atau di sudut kanan ada si terung ungu dan pare. Ada juga suara gemericik ikan emas yang digantung dekat tahu. Ah, saya suka dengan pemandangan itu. Apalagi si abang dan istrinya orangnya baik banget. 

Saya sangat menikmati belanja pagi ini. Tak disangka di akhir belanja, saya baru tahu ada sayur lalap kesukaan yakni daun pohpohan. Daun itu enak banget dilalap dan baunya wangi. Untung saja ada salah satu ibu di situ yang bertanya pohpohan, saya langsung ngeh kalau lalapan tersebut masih di dalam plastik. Tanpa pikir panjang, saya ambil pohpohan yang masih digantung dekat lele. Nggak didekatkan sama sayuran lain. 

Nikmat Pagi Ini
Di pojokan dekat kangkung ada singkong yang dibungkus plastik. Sebelum membeli, saya tanya empuk apa enggak singkongnya. Kata yang jual sih empuk. Saya ambil singkong tersebut dan percaya sedikit dengan omongan penjual. Ketika saya memasak singkong yang hanya direbus dengan gula aren, pandan, dan garam asisten saya bilang kalau singkong di abang tersebut kadang keras atau pahit. Alhamdulillah, yang saya beli enggak loh. Empuk banget. Asisten saya malah nyesel nggak beli singkong. Untuk tombo kecele, saya kasih sedikit itu singkongnya.

Nikmat Kecil
Mungkin ini lebay tapi saya memaknainya lain. Berkali-kali saya mendapatkan berkah-berkah kecil padahal hari masih pagi. Seneng banget rasanya bisa dapet apa yang kita pengenin selama ini meski itu hal yang remeh temeh. Selesai masak saya tersenyum sendiri mengingat hal-hal ini. Dan, ternyata masih ada lagi nikmat yang lain. 

Seperti biasa, ibu menelpon sekedar tanya kabar dan ngobrol ngalor ngidul. Tak disangka ibu dan keluarga saya in sya Alloh akan ke rumah besok Sabtu padahal di minggu kemarin katanya pertengahan Desember. Cepat sekali ya mereka memutuskan mau datang ke rumah atau nikmat Tuhan yang datang ke saya dipercepat ya. Hehehe saya nggak tahu. Bener-bener nggak tahu. Semoga saja mereka dilancarkan semuanya ya menuju ke rumah saya. Aamiin.

Mencoba berpikir positif dan selalu menikmati setiap proses kejadian yang kita hadapi enak juga. Saya merasa sangat happy menjalani hari ini. Dan saya akan selalu bersyukur. Semoga saja ini awal yang bagus di bulan Desember dan akan ada kejutan-kejutan lain di penghujung tahun. Aamiin. I love Monday.








Continue Reading…
Powered by Blogger.

Recent Posts

    Follow Me

    Page Views

    Copyright © Pipit Widya | Powered by Blogger
    Design by Saeed Salam | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com