Thursday, March 27, 2014

Belanja di Pasaraya Grande, Toko Djohan dan Farina Busana


Ini sebenernya late post ya karena waktu itu saya belum suka ngeblog *ketauan deh. Ceritanya begini. Suami saya kan mau dinas ke Jepang, semula katanya berangkat minggu ketiga Januari. Begitu pulang ke rumah, langsung deh cerita ke saya dan diberitau temannya itu masih musim dingin. Nah, tau begitu saya disuruh mencari info tentang toko-toko yang menjual peralatan musim dingin. Sebagai istri yang baik (*uhuk) saya nurut saja.

Setelah googling sana-sini sebagian besar menceritakan tentang Toko Djohan di Pasar Pagi Mangga Dua. Saya laporkan hasilnya ke suami dan ternyata beliau keberatan karena jauh mengingat rumah kami di Depok. Beliau meminta saya untuk mencari di Depok saja. Ya sudah, saya googling lagi demi suami. Cari keyword bolak-balik, gonta-ganti teteeeep aja gak ada yang menjual peralatan musim dingin di Depok *apa saya yang gak tau ya? Akhirnya kami kantongi dulu informasi tentang Toko Djohan.

Atas saran teman suami, sebaiknya beli perlengkapan winternya nanti saja, mepet-mepet saja karena meeting belum jelas kapan berangkatnya. Takutnya kalau kita udah beli ternyata gak jadi berangkat, kan sayang uangnya. Bener juga sarannya. Ya sudah kami manut saja. Singkat cerita, setelah meeting berkali-kali akhirnya berangkat diputuskan tanggal 11 Februari *Alhamdulillah akhirnya jadi juga karena sudah woro-woro ke keluarga dan asisten di rumah.

Hari Jumat tepatnya 7 Februari ceritanya saya disuruh ke kantor yang mana dulu saya mengabdi sepenuh jiwa raga (*gak lebay lho ini) karena ada keperluan (sekarang sudah resign). Langsung dong, saya janjian ama sahabat buat jalan-jalan mumpung ketemuan. Saya dan sahabat rencana pengen ke daerah Rancho.

Berhubung suami telepon kalo di Grande ada yang jual perlengkapan winter akhirnya arah jjs kami berpindah ke Blok M. Habis beli obat di A Tong, makan, jalan-jalan bentar, lalu ke Grande. Kata suami ada di Lt.4 atau Lt.5 ya? *lupa*. Meluncurlah kami ke sana. Begitu sampai di sana kami bingung kog gak ada barang yang dimaksud ternyata setelah tanya SPG tempatnya agak ke dalam. Kami putuskan untuk sholat ashar dulu biar puas lihat-lihat barangnya nanti. Setelah sholat kami turun lagi. Dan ternyata setelah kami mengecek ya Allooooh harganya mahal-mahal.

Sebagai perbandingan kalo longjohn di Djohan aja gak nyampe 100rb, di situ bisa dua kali lipat. Jaket bulu angsa jutaan boooo. Dengan tegas saya putuskan untuk tidak membeli di Grande. Begitu saya lapori hal ini, suami setuju dan sepakat untuk ke Djohan.

Besoknya, hari Sabtu tanggal 8 Februari kami berangkat ke Toko Djohan memakai KRL. Oia sebelumnya saya sudah mencatat nomer telepon dan HP nya untuk menanyakan  jam buka. Setelah tau bukanya jam 10.30 - 16.30 kami berangkat dari rumah jam setengah 9. Sampai St.Depok Lama, kendaraan kami titipkan, kami naik KRL tujuan ke Kota.

Begitu sampai Kota, kami naik angkot tujuan pasar pagi. Banyak kog angkotnya, kalo gak salah bayar 2 ribu/orang karena gak jauh-jauh amat sih. Setelah sampai di pasar pagi, kami nanya ke bagian informasi, dan dikasih tau Toko Djohan ada di lantai 2. Meluncurlah kami ke sana. Setelah kami mencari kesana kemari ke lorong satu ke lorong yang lain, sampailah di Djohan *lega*. Nyampe jam setengah 11 lebih sedikit, toko masih agak sepi. Tempatnya kecil dan sempit. Kami bolak-balik mencari barang yang sesuai dengan keinginan tapi belum ada yang pas mana makin lama makin rame, kami malah kurang nyaman.

Akhirnya saya tanya ke pegawainya, buka cabang gak? Ternyata ada namanya Farina. Tempatnya kalo dari Djohan, keluar lorong, belok kiri yang ada ATM nya. Dari situ ke kanan, toko Farina ada di bagian kiri, di pojokan. Atau tanya aja sama pedagang di situ, mereka tau kog. Begitu di Farina kami senang karena tempatnya lebih luas dan sepi. Yang menjaga toko ada bapak-bapak tua 1 dan om 1 (saya manggilnya om karena gak tua-tua amat), pelayan 2. 

Setelah saya tanya, ternyata Toko Farina itu milik ortunya Djohan. Awalnya ya Farina terus beranak deh jadi Djohan *hehe. Kata si om, Djohan lulusan komputer, karena persaingan di bisnis kompi ketat, akhirnya bantuin babe jualan sampai buka toko. Barangnya sama, harganya juga sama, harga pas, dan Djohan ngambilnya juga dari sini. 



Di Farina kami membeli long jhon, syal, topi, sarung tangan, dan kaos kaki tebal. Harganya relatif terjangkau. Di Farina kami beli Longjohn sekitar 90-95rb, sarung tangan 35-100rb, kaos kaki @50rb, sweater 90rb.  Berhubung jaketnya belum ada yang cocok, kami balik lagi ke Djohan. 



Yaelah, Djohan ruamenyaaaa. Kami sampai shift-shiftan jaga barang. Begitu sampai saya langsung to the point, kalo saya sih gampang ya orangnya, begitu cocok langsung oke. Saya beli jaket bulu angsa, syal, topi. Karena suami saya orangnya agak ribet, beliau ngeceknya detail banget dan karena rame pula, beliau kurang sreg. Akhirnya balik lagi ke Farina untuk beli jaket suami doang *sabaaaar.
Dan karena sudah siang, sudah lapar, mendung, akhirnya suami langsung ke jaket yang sudah diincar, bayar, langsung buru-buru pulang. 


Barang Belanjaan

Alamat Toko Djohan
Pasar Pagi Mangga Dua, Jalan Mangga Dua No.Lt. 2, Blok B No.48, Jakarta
+62 21 6013789, 0818 - 867618

 Alamat Toko Farina

 Pasar Pagi Mangga Dua  Lt.2 Blok B NO.198-199
021-6255615, 021-6005725, 0813-10608608
         
Kalau masalah pelayanan, kami suka di Farina mungkin karena sepi kali ya. Jadi kami bebas bertanya dan mencoba barang. Kalau di Djohan, ampun deh, kadang-kadang dicuekin sama pegawainya. Apalagi kalo kesiangan ke Djohan, mending belok aja ke Farina :) Lebih baik lagi kalo mau ke sana agak pagi biar gak kesiangan. Selamat berbelanja,ya.

























Continue Reading…

Tuesday, March 18, 2014

Imperial Palace East Garden Tokyo


Kali ini kami ke Tokyo. Masih sedikit wilayah yang kami jajahi di ibukota Jepang ini. Berangkat dari Kannai ke Stasiun Tokyo membeli tiket seharga 540 yen. Begitu sampai Tokyo, saya terkagum-kagum dengan stasiunnya yang besar dan membuat bingung. Banyak sekali orang berlalu lalang. Supaya tidak bingung, kami membaca peta dulu (padahal yang mudeng suami dan temannya, saya hanya makmum hehe), mencari tahu di mana letak Tourist Informationnya.

Ruangan yang terletak di dekat pintu keluar tersebut cukup ramai. Dengan sabar petugas informasi memberikan penjelasan dan mempersilakan kami mengambil tourist guide. Wow komplit sekali informasinya ada Tokyo handy map, Tokyo handy guide, Kyoto guide, bahkan Yokohama Visitor Guide juga ada dan masih banyak lagi yang lainnya. Semua gratis. Di ruangan itu, tatanannya apik, simple, dan komplit karena ada wifi dan komputer berisi panduan wisata.
Lobby
Bagian luar dari stasiun ini juga cantik sekali. Sebuah bangunan yang kuno berwarna merah bata dengan gaya khas Eropa. Gedung yang terawat sejak dulu dengan fasilitas yang modern di dalamnya.
Di sekeliling stasiun tampak bangunan yang menjulang dengan puluhan lantai. Bangunan modern yang diperuntukkan untuk perkantoran. Di luar stasiun juga berbaris puluhan taksi yang dengan tertib mereka antri mendapatkan penumpang. Sungguh pemandangan yang berbeda ketika saya keluar dari stasiun Gambir.

Bagian luar Stasiun Tokyo
Gedung di sekitar stasiun dan puluhan taksi
Kami berencana ke Imperial Palace East Garden, yang kata orang wajib hukumnya bila kita ke Tokyo. Untuk sampai ke sana cukup jalan kaki 10-15 menit dari Stasiun Tokyo. Taman ini terbuka untuk umum setiap tahunnya secara gratis kecuali pada hari Senin, Jumat dan acara-acara khusus. Taman ini bentuknya sangat tradisional. Pintu masuknya masih mempertahankan bentuk kuno yang sangat kontras dengan bangunan di sekitarnya. 




Jembatan ini letaknya kurang lebih 5 menit dari pintu utama East Garden




Lihatlah lebih jauh

 Memasuki taman rasanya sejuk sekali. Banyak sekali tanaman dan bunga yang indah meski ada beberapa yang belum mekar bahkan meranggas. Namun itu semua tak mengurangi keindahan dari taman tersebut karena bila dilihat dari jauh maka tanaman yang meranggas itu memberikan sentuhan yang artistik jika digabungkan dengan kolam dan tanaman di sekelilingnya.
Setiap ayun kaki kami tak lelahnya berhenti mengagumi indahnya berbagai warna bunga ada merah, putih, kuning semua menyatu memberikan keunikan sendiri-sendiri. 






Yang unik dari taman ini yakni beberapa bangunan kuno yang ada di dalamnya masih terawat dengan baik. Masing-masing punya nama dan fungsi sendiri, tapi maaf, saya tidak mengetahui secara detail.


Atapnya unik



Menariknya lagi pada saat kami di sana ada rombongan manula yang sedang melukis. Mereka berpencar mencari obyek yang berbeda untuk dilukis dan saat hari mulai siang, mereka akan berkumpul dan lukisannya akan dikoreksi. Jadi para manula di sini sangat aktif sekali. Mungkin ini salah satu resep agar mereka panjang umur.


Eyang sedang melukis


Eyang sedang memberi komentar
Saran saya sebaiknya membawa perbekalan ketika datang ke sini. Kalau air minum habis, bisa diisi ulang di kran yang tersedia di taman, letaknya dekat toko suvenir. Jika lelah, bisa beristirahat dan makan di bangku yang ada.
Sebenarnya saya belum cukup puas berada di taman ini karena masih ada beberapa tanaman yang belum mekar dan meranggas. Suatu hari nanti, semoga suami saya mau diajak berkunjung lagi ke sini. Semoga.


Continue Reading…

Beberapa Tempat Wisata di Yokohama


Nama "Yokohama" sebagai sebuah kota, berasal dari nama desa nelayan bernama desa Yokohama (Yokohama-mura) yang terletak di Distrik Kuraki, Provinsi Musashi. Hingga di akhir zaman Edo, desa Yokohama adalah desa kecil di atas sebuah delta sungai yang penduduknya bermata pencaharian sebagai petani dan nelayan. Sebagai pelabuhan perdagangan terbesar di Jepang, Yokohama menikmati masa keemasan perdagangan internasional yang akhirnya memberikan kemudahan bagi perkembangan perdagangan dan industri yang sangat cepat.

Tak ketinggalan, banyak juga kebudayaan asing ikut masuk. Banyak kebudayaan Barat pertama kali diperkenalkan dan berkembang di Yokohama, antara lain, hotel bergaya Barat, restoran, penjahit, dan pabrik roti. Di zaman sekarang, Pelabuhan Yokohama berfungsi sebagai pelabuhan kontainer dan salah satu dari berbagai pelabuhan di Jepang yang melayani arus ekspor impor. 

Kali ini saya akan merangkum beberapa tempat yang telah kami kunjungi selama satu bulan ini terutama di Yokohama karena kami tinggal di daerah ini. Kami menuju ke tempat-tempat wisata dengan jalan kaki. Bila tempatnya jauh, barulah kami naik kereta.

1. China Town



Tempat ini terhitung dekat dengan apartemen, jadi kami berjalan kaki. Dari Yokohama Stadium, ada penunjuk jalan ke China Town, sehingga kami ikuti saja, tinggal jalan lurus kurang lebih 5 menit kita sudah sampai. Di sini banyak restoran dan toko-toko yang menjual makanan, pakaian, suvenir. Ratusan jumlahnya, kami sampai bingung.
Disini anda harus benar-benar memilih barang-barang yang ingin anda beli dengan baik. Termasuk juga harganya, memang seluruhnya sudah dalam harga pas, tetapi anda bisa memilih mana yang sekiranya lebih murah dari satu toko dengan toko lainnya untuk mendapatkan barang yang bagus dan sama.

Ada juga toko yang menjual barang-barang etnik, khas anak muda tapi sayang sebagian besar barang impor (tidak khas Jepang), bahkan produk Bali ada di sini :) Ramai sekali jalanan di sana. Anda juga bisa menjumpai Daiso yang berada di China Square. Letaknya tidak di pinggir jalan, agak nyempil. Waktu itu kami tidak sengaja melihat pernak-pernik di kaki lima yang ternyata di depan China Square. Kami penasaran dan ternyata di dalam ada Daiso. Toko Daiso terletak di Lantai 1-3. 
Apa itu Daiso? Daiso adalah toko serba ada yang menjual pernak-pernik Jepang seperti alat rumah tangga, kosmetik, keperluan dapur, buku, makanan, dan suvenir Jepang dengan harga rata-rata 105 yen. Jadi kalau bingung mencari oleh-oleh, beli di Daiso saja.


Tulisan 'From Bali' nya kecil
2. Motomachi

Shopping street yang menjual aneka baju. Kami hanya melihat-lihat saja dan mampir ke mall nya sebentar untuk mencari makan tetapi tidak ada yang pas yakni pas di mata, pas di hati, dan pas di kantong. Tanggal 15 Maret lalu ada perayaan St.Patrick's Day. Untuk lebih jelasnya bisa dibaca di sini http://id.wikipedia.org/wiki/Hari_Santo_Patrick  Cukup menghibur paradenya.



3. Marine Tower
Marine Tower dari dekat


Pemandangan dari Marine Tower
Menara setinggi 106 m dengan tiket masuk 750 yen. Di dalam marine tower ada restoran dan shop yang menjual suvenir. Kami melihat pemandangan yang indah dari sini dan mencetak 'medali' sebagai kenang-kenangan. Saya lupa membayar berapa karena kita tinggal memasukkan uang ke dalam mesin dan kita pilih bentuk medali yang kita suka serta kata apa saja yang mau kita cetak.


'Medali' yang kami cetak :)


4. NYK Hikawamaru dan Yamashita Park

NYK Hikawamaru merupakan kapal besar yang sekarang berfungsi sebagai museum. Tiket masuknya 200 yen. Di dalam kapal ada video yang menceritakan tentang sejarah kapal tersebut. Saya sempat capek berkeliling di dalam kapal karena memang sangat besar. Kala itu terbayang betapa megah dan jayanya kapal ini di eranya.



Lokasi kapal ini menyatu dengan Yamashita Park, sebuah taman kota yang indah sekali karena dekat dengan laut dan tentunya sangat nyaman.


Ini candid :)
5. Cosmo World - Cup Noodles Museum
Area ini masuk dalam wilayah Sakuragicho sehingga kami naik kereta untuk mencapai sana. Hanya sebentar karena setelah stasiun Kannai yaitu Stasiun Sakuragicho. Setelah keluar dari Sakuragicho (lupa pintu yang mana) kami hanya menyebrang saja. Untuk masuk ke cosmo world gratis tapi jika mau naik wahananya maka harus membayar. Cosmo world merupakan taman hiburan yang di dalamnya ada roller coaster dan seluncur air. Kami tidak masuk ke dalam. Kami hanya menikmati pemandangan di sekitarnya yang bersih  sekali airnya. Betapa indahnya pemandangan di sekitar situ jika malam hari. 
Cosmo World di malam hari
Cosmo World di siang hari
Lokasi cup noodles museum tidak jauh dari cosmo world, merupakan museum mie instan. Banyak anak-anak yang tertarik, rameeee sekali sehingga kami urung untuk masuk. Kami hanya mampir di shop nya saja dan membeli suvenir. Tiketnya 500 yen untuk dewasa dan gratis untuk anak-anak.  Menurut saya, ini merupakan tempat rekreasi yang bagus untuk anak-anak karena mereka bisa mengetahui sejarah mie dan tahu proses pembuatannya. 

6. Japanese Overseas Migration Museum - Japan Coast Guard Museum

Merupakan museum yang menceritakan tentang migrasi penduduk Jepang dan kekuatan angkatan laut Jepang. Semuanya gratis. Secara garis besar, museum ini lumayan sepi, yang datang kebanyakan orang tua, mungkin mereka ingin mengenang masa lalunya.




Di dalam Coast Guard Museum
 
7. Red Brick

Terletak satu area dengan Coast Guard Museum. Bangunan kuno berupa bata merah yang dibangun pada era Meiji dan Taisho. Ada dua gedung, yang pertama untuk konser, pameran dan gedung serbaguna. Semuanya gratis. Waktu kami ke sana, untungnya masih ada ice skating outdoor yang merupakan agenda tahunan di winter season. Untuk dapat bermain ice skating, harus membayar seribu yen termasuk sewa sepatu. Di gedung pertama ini kami juga menjumpai beberapa shop yang menjual berbagai souvenir dan barang-barang yang unik, tapi sayang sekali mahal. Ada juga pameran lukisan di lantai dua.

Sedangkan di gedung kedua ada sekitar 50 tenant di dalamnya meliputi live music bar, restoran, dan shop yang menjual barang-barang lucu. Ada beberapa tenant yang murah dan yang mahal. Anda harus jeli. Saya sempat membeli beberapa barang untuk dijadikan kenang-kenangan. Kami juga membeli  semacam donat yang isinya daging sapi/ayam, harganya sekitar 200 yen per bijinya, hmmmm  lumayan untuk mengganjal perut yang lapar. Setelah itu kami mencari minum, alhamdulillah ada tenant kopi yang menyediakan kopi icip-icip, sehingga kami mampir untuk minum gratisan :). Perut kenyang dan hatipun riang hehe.

8. Nageyama Zoo

Pada waktu ke sana, sayang sekali Yokohama sedang hujan. Dari Sta.Sakuragicho kami berhujan-hujanan dan jalannya yang naik membuat kami lumayan letih dan terengah-engah. Tempatnya di dataran tinggi dan agak jauh dari jalan raya. Kami sempat kesasar karena letaknya yang nyempil. Ini merupakan taman dan ada koleksi hewannya. Saya kurang tahu persis satwa apa saja yang ada sebab kami buru-buru turun karena hujan dan dingin.

9. Landmark Tower 

Simbol Yokohama berupa menara yang tingginya 296 m. Isinya macam-macam dari kantor, hotel, dan mall. Di lantai 69 kita bisa mengamati Yokohama dari atas. Sayang, kami belum naik ke obsevatorium tersebut. Awalnya suami sudah mengajak, tapi saya tolak karena sudah capek. Kami hanya berkeliling di mall nya saja dan mampir ke shop 'Yokohama Memories' yang menjual berbagai suvenir khas Yokohama. Sebelumnya kami juga mampir ke shop yang menjual pernak-pernik kereta api. Oia di sini ada Pokemon Area yang rameee banget karena banyak anak kecil yang bermain di situ dan membeli barang-barang pokemon.

10. Colette Mare

Satu area dengan Landmark Tower, kita tinggal mengikuti jalan saja. Hampir sama dengan Landmark, di sini banyak tenant yang menjual baju, ada restoran, dan bioskop. Tak lupa kami mampir ke Daiso di lantai 4 dan sempat membeli beberapa barang. Semula kami mau makan di sini karena lapar sekali, akhirnya kami lihat satu per satu menu yang ditawarkan tapi tetap saja tidak ada yang pas.


11. Yokohama Station Area

Waktu itu kami ke sana malam minggu, ramenyaaaaaa. Penasaran dengan Tokyu Hands. Begitu keluar dari Sta.Yokohama maka akan disuguhi ratusan shopping street dan mall. Sesuai dengan peta, kami jalan menuju ke sana. Di tengah perjalanan, kami isi bensin dulu di kedai makan mirip Yoshinoya, memesan beef bowl yang ukuran small tapi ternyata tak sekecil yang kami bayangkan.



Tradisi makan di Jepang agak unik. Pertama kali yang disuguhkan yaitu air es.  Biar hemat, kami tidak pernah beli minum karena sudah ada air es tadi hehe. Ada beberapa tempat yang menyediakan handuk hangat untuk lap tangan, ada juga yang tidak. Dan yang tidak saya suka yakni sambalnya. Di Jepang, sambal hanya berupa cabai kering bubuk seperti sambal mie instan, dimana pedasnya coba?

Setelah makan, kami melanjutkan perjalanan dan ternyata kami tidak menemukannya, mungkin sedang direnovasi karena kami sudah sampai di tempat yang menurut kami itulah yang kami cari. Dengan sedikit kecewa, kami balik arah menuju stasiun tetapi kami mampir dulu ke toko-toko sekitar situ. Ada toko elektronik yang menjual HP seharga 0 yen tapi syarat dan ketentuan berlaku di Jepang :(
Setelah itu kami ke Takashimaya, mall yang cukup lumayan. Kami di sana cuma menumpang nganget saja karena dinginnya udara di luar serta mampir ke toilet. Berhubung saya alergi dingin dan selama perjalanan batuk terus menerus, akhirnya kami memutuskan pulang. Mungkin nanti kami akan menjelajah area ini lagi :)

12. Kanagawa Prefectural Museum of Cultural History

Namanya panjang ya? Hanya museum yang berupa bangunan kuno peninggalan Eropa dan tidak gratis. Waktu itu kami hanya masuk ke shopnya saja, melihat suvenir yang dijual ternyata tidak pas di hati dan di kantong, biasa saja. Mau masuk museumnya sayang, karena harus bayar dan semuanya tulisan Jepang, mana kami tahu artinya :) Gedungnya bagus, masih terawat dengan baik.

13. Towers of Jack, King, and Queen 

Kami ke sana hari Minggu dan sebagian besar tutup. Letaknya dekat Minato Mirai. Hanya bangunan kuno peninggalan Eropa yang berada di area yang berdekatan. Jujur saja, saya kurang tahu banyak dan hanya mengagumi bentuk bangunannya saja.

King Tower
Jack Tower

14. Yokohama Yamate-British House-Harbor View Park

Salah satu lokasi favorit saya dan semuanya gratis (yang saya sebutkan di sini ya). Yakni berupa kumpulan dari beberapa rumah kuno mantan diplomat yang masih terawat dengan baik. Letaknya dekat Motomachi. Jika dari Motomachi-Chugakai stasiun, kita naik lift, turun di roof. Begitu keluar lift, maka kita langsung ada di America Yama Park. Sebuah taman yang asri dan nyaman. Keluar taman, jika ke kiri kita ke arah British House dan Harbor View Park. Sedangkan jika ke arah kanan, kita ke Berrick Hall, Ehrismann Residence, dll.
Saya suka dengan rumah kuno yang masih terawat dengan apik bahkan barang-barangnya juga masih terawat. terasa ada sesuatu yang berbeda, luar biasa saya mengaguminya karena pada dasarnya saya suka hal-hal yang vintage.


Salah satu rumah di Yamate



Berrick Hall
Pemandangan dari Harbor View Park

15. Osanbashi

Osanbashi Yokohama International Passenger Terminal terletak diantara Yamashita Park dan Minato Mirai, menjadi pelabuhan penumpang internasional dimana banyak kapal – kapal wisata yang mewah berlabuh. Desainnya yang unik membuat banyak didatangi pengunjung untuk piknik atau sekedar duduk santai pun tak dikenai biaya, alias gratis. Beberapa view menarik yang bisa dilihat selain pemandangan matahari tenggelam antara lain pemandangan Yokohama Bay Bridge, Minato Mirai lengkap dengan Landmark Towernya, Ferris Wheel, hingga Red Brick Building yang cantik.


sunset di Osanbashi  
Osanbashi
Masuk ke Osanbashi gratis. Di dalamnya ada hall, beberapa shop yang menjual makanan dan suvenir, restoran, dan kafe. Asyik sekali menghabiskan sore dan malam di sini.


Kapal di Osanbashi

Sekian dulu cerita dari saya. Tertarik ke Yokohama??


Continue Reading…

Monday, March 17, 2014

Terpesona dengan Jepang


Tak terasa saya dan suami sudah sebulan berada di Jepang, tepatnya di Yokohama. Kami tinggal di apartemen di daerah Kannai. Apartemen yang cukup strategis bagi kami karena dekat dengan taman, supermarket, dan hanya lima menit ke Stasiun Kannai. Bersyukur sekali hewan peliharaan tidak diperbolehkan tinggal di apartemen jadi saya aman dari gangguan hewan terutama anjing sebab orang Jepang suka sekali memelihara anjing. Lebih asyiknya lagi, fasilitas internetnya yang 24 jam membuat saya bebas berselancar di sini.

Suami saya di sini dinas sekitar 2-3 bulan (mudah-mudahan diperpanjang sampai 'BEP' terlampaui hehe) otomatis semua fasilitas ditanggung kantor cuma statusnya single. Sebagai istri dan makmum yang baik dan tidak mungkin juga suami meninggalkan saya sendirian di rumah berbulan-bulan, maka beliau berencana akan mengajak saya. Hal ini kemudian dilaporkan ke pak dept head dan manajer. Kata suami, para bos tersebut kaget mengetahui hal ini tetapi setelah beliau  bilang ' Saya membawa istri dengan biaya sendiri' (hal ini memang sudah kami rundingkan sebelumnya) barulah mereka setuju. Singkat cerita, saya membuat paspor sendiri tetapi visa dan tiket ditanggung kantor dulu baru kemudian potong gaji. Hhhhmm, mengetahui tiket PP saya yang agak menguras kantong membuat suami saya terkejut karena demi menyelamatkan keuangan 'negara', terpaksa gaji dipotong selama 3 bulan :'( .

Mengapa bisa semahal itu? Karena kantor menyerahkan pemesanan tiket dan pengurusan visa melalui pihak ketiga dan tiket pesawatnya direct atau tidak transit. Selain itu,  tiket yang dipesan tanggal kembalinya  fleksibel, bisa diatur menyesuaikan selesainya tugas di sini atau diusir dari sini hehe. Sehingga mau tidak mau dan suka tidak suka akan menambah biaya dari tiket tersebut.  Semula malah akan dipesankan JAL tetapi suami langsung menolak karena JAL lebih mahal dibanding GA (kalau tanpa istri sih tidak apa-apa karena ditanggung kantor begitu gerutu suami saya). Akhirnya kami berangkat naik GA sekitar jam 1 malam dan sampai di Jepang jam 9 pagi.

Kesan mendalam saya rasakan begitu sampai di Narita. Begitu bersih, disiplin, canggih, dan wifinya lancar jaya :). Pada waktu pemeriksaan paspor oleh pihak bea cukai Jepang, saya berdiri di samping suami (karena waktu di Soetta hal ini tidak masalah). Ternyata saya langsung kena tegur karena  melanggar batas (saya tidak tahu kalau ada batas antri). Jleb! disiplinnya, begitu kata hati saya. 

Setelah melalui beberapa pemeriksaan dan koper sudah di tangan,  maka kami menuju ke penjualan tiket bis tujuan Yokohama dengan kode YCAT. Harga per tiket sekitar 3.500 yen atau setara 350ribu rupiah. Begitu keluar bandara, saya merasakan udara dingin sekali meski cuaca terang. Kami menunggu bis di halte 3, koper dan tas yang masuk bagasi semua diberi nomer dan tepat sesuai jadwal bis tersebut sampai di halte. Saya kagum dengan bisnya yakni berpintu otomatis,  kondisinya bagus, sopirnya rapi meski sudah tua dan cara mengendarainya termasuk dalam kategori safety riding. Oia di kursi penumpang ada safety beltnya, dan sayapun memakainya. Saya menikmati perjalanan dari Narita ke Terminal Yokohama. Perjalanan tersebut menempuh waktu satu jam lebih. Terlihat sisa salju di pinggir jalan dan berbagai pohon yang meranggas. Sepanjang jalan tak terlihat sampah, bersih sekali. Ketika mau turun, saya lupa kalau masih memakai sabuk pengaman (habis di Indonesia jarang yang seperti ini sih) jadi jelas saya tidak bisa jalan. Saya pun mempersilakan perempuan Jepang yang berdiri di belakang saya untuk turun duluan, tetapi dia tidak mau dan menunggu. Lagi-lagi saya dibuat kagum, baik sekali orang Jepang.

Begitu sampai di Terminal Yokohama, suami saya sms ke orang yang menjemput kami yakni owner apartemen, Uchiyama-san. Kami menunggu sekitar 5 menit. Ternyata Uchiyama-san berumur sekitar 45 tahunan, tinggi, ramah, baik, rapi (memakai jas). Pertama kali bertemu, dikira kami orang Malaysia. Beliau menawarkan ke toilet dulu atau tidak karena perjalanan ke apartemen sekitar 15 menit. Setelah kami bilang no, meluncurlah kami ke tempat parkir. Ya Allooooh, saya sampai lari-lari mengikuti jalannya Pak Uchiyama, cepat sekali. Ternyata begini ya cara jalan orang Jepang, cepat seperti ada yang mereka kejar di sana. Di dalam mobil kami bertiga hanya mengobrol biasa saja.

Sekali lagi, saya menikmati perjalanan menuju apartemen. Banyak gedung menjulang tinggi, tertata rapi, bersih, orang-orang berjalan kaki memakai baju hangat, dan saya baru tahu kalau Yokohama ternyata mempunyai pelabuhan. Setelah kurang lebih 15 menit, sampailah di apartemen. Kami diberitahu cara masuk apartemen, yaitu memakai kartu (seperti kartu hotel) yang mana bila hilang akan dikenai biaya sekitar 5.000 yen. Jadi jika hilang, boro-boro bisa masuk ruangan, masuk ke lobby saja tidak bisa. Beliau menunjukkan ruangan kami dan menjelaskan segala fasilitasnya satu per satu secara detail bahkan kami diberi check list barang-barang yang ada jadi jika nanti kami pulang barang tersebut hilang atau rusak, maka kami WAJIB menggantinya (ckcckk sebegitu disiplinnya). Tak lupa, kami juga diberi buku 'Information Book' yang umumnya berisi tata cara menggunakan piranti di sini karena sebagian besar piranti tersebut memakai tulisan Jepang bahkan acara televisinya pun lokal bukan yang internasional.

Ada satu yang menarik minat saya di buku tersebut yakni mengenai pengaturan sampah. Bagian tersebut mencolok  karena kertasnya berwarna sendiri dan eye catching. Ternyata benar, Jepang sangat peduli akan sampah. Sampah di sini dipisah-pisah berdasarkan jenisnya yaitu sampah yang mudah terbakar, sampah yang tidak mudah terbakar, sampah botol dan kaleng, sampah kertas, dan sampah berat. Setiap jenis mempunyai aturan sendiri-sendiri dalam pengambilannya.
Untungnya, di apartemen ini kami bisa membuang sampah apa saja setiap hari Senin-Sabtu dan tidak boleh lebih dari jam 11 pagi. Hari Minggu kami dilarang membuang sampah. Jadi apartemen mempunyai tempat sampah sendiri dimana ada tiga bagian terpisah yakni bagian yang mudah terbakar, plastik, dan botol/kaleng. Maka di ruangan saya saat ini, ada empat plastik sampah yakni untuk sampah yang mudah terbakar, plastik, kertas, dan botol/kaleng. Sampai saat ini, saya hanya membuang sampah untuk sampah rumah tangga dan plastik saja sementara sampah botol/kaleng dan sampah kertas masih kami kumpulkan. Jadi untuk masalah sampah pun, warga Jepang turut andil besar karena mereka terlibat dalam pemilahan sampah. Hal ini merupakan bentuk kepedulian Jepang terhadap lingkungan.


 

Sampai di sini dulu cerita saya mengenai negri matahari terbit. Negri yang sangat displin, sopan, berteknologi tinggi, dan sangat mencintai budayanya. Saya yakin Indonesia kelak bisa seperti Jepang karena masyarakatnya sudah banyak yang pintar dan tahu mana yang benar dan yang salah. Apakah mimpi saya terlalu tinggi?







Continue Reading…

Thursday, March 13, 2014

Pencerahan Usai 'Blog Walking'


Sudah hampir dua minggu saya tidak menulis di sini rasanya seperti ada yang kurang. Menulis bagi saya adalah sebuah dunia yang mengasyikkan dimana unek-unek yang ada di kepala dapat mengalir sebebas-bebasnya. Bahkan menulis bagi saya ibarat memasak. Bahan-bahan yang ada di kepala bila diramu dengan bumbu-bumbu bahasa yang pas maka akan menghasilkan masakan tulisan yang enak dibaca. Layaknya memasak, menulispun jika tidak diimbangi dengan pengetahuan atau referensi yang cukup maka akan menghasilkan tulisan yang kurang sedap dan dangkal.

Akhir-akhir ini saya banyak melakukan blog walking, membaca bacaan digital yang ternyata sangat unik. Dari hasil jalan-jalan tersebut saya sangat malu dengan tulisan-tulisan saya.  Tak dapat dipungkiri saat ini tulisan saya masih sangat sangat dangkal. Hal baru yang sebenarnya lama saya gemari tetapi tidak dikembangkan dengan baik jadilah hasil karya ini kurang sedap. Di luar sana masih banyaaaaaak sekali para blogger yang tulisannya bisa membangkitkan semangat dan membuat saya terpana akan bahasa yang digunakan. Ada yang bahasanya simple, puitis, bahkan ada yang ilmiah. Jujur, saya dibuat kagum oleh mereka. Hasil karya mereka yang berasal dari hati dan pikiran benar-benar bisa dirasakan maknanya. Bahkan saya bisa merasakan setting tulisannya seolah-olah saya benar-benar menjadi lakon dalam tarian tulisan mereka di panggung baris dan paragraf.  Sehingga blog mereka pun tak hanya berisi tulisan semacam diary saja tetapi lebih dari itu yakni orang yang membaca tulisan tersebut akan mendapat suatu pengetahuan, pemahaman, atau belajar pengalaman dari sang penulis.

Sampai saat ini saya pun belum tahu cara menulis yang baik bagaimana dan seperti apa. Tetapi sebagai orang yang pernah mengenyam bangku kuliah, tentunya saya masih ingat sedikit aturan menulis karena merupakan prasyarat dalam kelulusan (baca : aturan skripsi). Pada prinsipnya sebelum menulis hendaknya kita mengetahui dulu topik apa yang akan kita tulis sehingga kita bisa fokus kepada hal tersebut, kalau pengetahuan kita dirasa kurang, tak ada salahnya kita mencari bahan untuk dijadikan referensi. Setelah itu, kita bisa menulis paragraf per paragraf. Usahakan pokok paragraf berhubungan dengan anak paragraf. Pun begitu dengan antar paragraf sebaiknya ada benang merahnya. Biar enak dibaca dan tidak membosankan sebaiknya paragraf jangan terlalu panjang. Setelah itu lakukan proses pengeditan baik dari segi bahasa, tatanan paragraf maupun tulisannya. Setelah dirasa cukup, barulah tulisan dipublikasikan.




Untuk menjadi penulis yang baik tentunya membutuhkan proses yang sangat panjang. Tak hanya itu, dari beberapa referensi yang saya baca, memperbanyak bacaan juga penting karena bagaimana mungkin kita akan menulis tapi kita tidak mengetahui bahan-bahan apa saja yang kita perlukan. Dan yang tak kalah penting yakni memperbanyak latihan menulis. Semakin banyak kita menulis, semakin banyak pula kita mengetahui kemampuan dan kekurangan yang ada. Jujur saja, ini merupakan wadah yang saya impikan karena di sini saya belajar, berkembang, berlatih, dan berkespresi yang dampaknya positif bagi saya sendiri utamanya. Dengan menulis, ada suatu kepuasan tersendiri yang saya dapatkan.

Dulu setelah kuliah saya pernah iseng mencoba membuat tulisan dan mengirimkannya ke sebuah harian di Semarang yakni Suara Merdeka. Ceritanya dulu ada kolom 'Spot' dimana pembaca bebas mengirimkan artikel tentang apa saja dengan aturan penulisan yang telah ditetapkan. Tak dinyana, tulisan saya dimuat. Betapa senangnya kala itu sampai-sampai tulisan tersebut saya simpan dan sekarang entah dimana, yang pasti ada di rumah ibu saya di Semarang. Berikut tulisan yang saya buat kala itu http://www.suaramerdeka.com/harian/0704/02/bud01.htm


Postingan saya ini mungkin sesuatu yang biasa saja tetapi bagi saya ini merupakan tahap awal setelah berkelana dari beberapa blog tetangga yang sarat akan makna dan pengetahuan. Menulis adalah sebuah pilihan, sebuah perjalanan, sebuah pembelajaran yang tak akan lekang zaman karena subyeknya selalu bergerak, berkembang, dan berkreasi tanpa batas. Jadi, Yuk Menulis!  :)











Continue Reading…
Powered by Blogger.

Recent Posts

    Follow Me

    Page Views

    Copyright © Pipit Widya | Powered by Blogger
    Design by Saeed Salam | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com