Thursday, April 10, 2014

Aneka Kisahku dengan Asisten Rumah Tangga


Asisten Rumah Tangga (ART) saya akui salah satu orang yang membantu dalam hidup kita. Pekerjaan kita menjadi mudah dan ringan dengan adanya ART. Tetapi saat ini, sepertinya dunia memang sudah terbalik. Sepertinya ART itu lebih berkuasa dibandingkan majikannya. Bila dikasih hati terus, ia ngelunjak, kalo dimarahi, takut engga betah terus resign. Bingung kan? 

Selama tinggal di Depok hampir 3 tahun (dari mengontrak Oktober 2011), kami sudah 6 kali ganti ART. Banyaaaak buanget kisah dengan mereka. Ada yang baik dan ada yang bikin dongkol. 

Pada waktu kami sedang membangun rumah di Depok, suami menyarankan untuk pindah kontrakan yang dekat dengan calon rumah agar kami bisa mengawasi pembangunannya. Saya pun setuju hanya resikonya jarak dari kontrakan ke kantor menjadi lebih jauh. 

Agar saya tidak terlalu kesiangan ke kantor waktu itu (baca : sekarang saya sudah resign) akhirnya kami mencari seorang Asisten Rumah Tangga (ART). Oleh ibu yang punya kontrakan, kami dikenalkan dengan seorang tetangga sebut saja namanya Um. Sebenarnya Um mau karena sibuk mengurus suaminya yang stroke, akhirnya anak bungsunya yang waktu itu masih SMA kelas 3 mau bekerja dengan saya.

Sebenarnya orang yang bekerja dengan saya termasuk enak sebab kami hanya berdua jadi cucian dan setrikaan juga tidak terlalu banyak dan kami orangnya tidak terlalu ribet. Untuk urusan bersih-bersih juga mudah karena luas kontrakan kami yang tidak terlalu besar.

Pada dasarnya saya termasuk orang yang engga tegaan apalagi tahu ART masih sekolah, saya malah anggap seperti adik sendiri. Setiap ada uang lebih, saya kasihkan untuk menambah uang jajan. Kalau dia sibuk dengan urusan sekolahnya, saya biarkan dia mengatur waktunya sendiri, asal kerjaan rumah beres. Tapi kalau weekend, saya biarkan saja toh saya kan libur jadi kerjaan rumah masih bisa tertangani. Hal ini bertahan sekitar 3 bulan sampai saya pindah rumah. Yang bikin saya dongkol, waktu kami pindahan, dia tidak membantu hanya bersih-bersih piring dan rumah saja. Orangnya kurang pengertian. Dalam hati, masak iya saya harus bilang 'besok aku pindahan lhooo, bantuin yaaa'.

Sejak saya pindah rumah tanggal 23 Januari 2012, memang saya nyatakan lepas dari dia mengingat rumah agak jauh. Saya takut sekolahnya terbengkalai. Setelah itu, saya dibantu oleh istrinya pemborong. Itu pun hanya bertahan seminggu karena dia kabur dengan suaminya dan meninggalkan pekerjaan bangunan yang belum beres. Saya bertahan selama 2 hari tanpa ART akhirnya nyerah juga. Untungnya ada tetangga seberang rumah yang mau bekerja dengan saya, namanya Ir. Orangnya seumuran dengan saya, bertanggung jawab, dan kerjaannya rapi. Jujur saja, saya dan suami cocok dengan dia. Karena itulah, saya sering memberinya bonus. 

Tak disangka, September 2012 bertepatan dengan Pemilihan Gubernur DKI, dia menyatakan resign karena capek. Selain bekerja di rumah saya, dia juga membantu ibunya mengurus rumah. Saya kagetnya bukan main. Bingung banget waktu itu. Ibunya menawarkan diri, tapi saya tolak karena sudah sepuh. Si Ir sendiri yang menawarkan kakaknya, namanya Id. 

Jujur, saya dan suami kurang cocok dengan Id. Beda banget sama Ir. Si Id kalau bekerja sepertinya setengah hati, kasar, dan kurang bersih. Pernah saya marah banget sama dia gara-gara menagih janjinya (lewat sms) mau beres-beres minuman tukang malah dia main dan bilang 'Bu, jam kerja saya sudah habis.'

Masya Alloh, saya mengelus dada dan memperbanyak istighfar agar bisa sabar. Akhirnya minuman dan makanan tukang saya bereskan sendiri. Dan kagetnya pas saya beres-beres, dia tiba-tiba datang. Saya baik-baikin dia, saya bilangin pelan-pelan, takut menyinggung perasaannya. 

Lama-lama karena memang tidak cocok dan dari pada sakit hati terus-terusan, akhirnya saya pecat, dia hanya 2 bulan bekerja. Kemudian saya minta tolong teman pengajian untuk mencari penggantinya. Alhamdulillah dapat ibu-ibu yang benar, kerjaannya bersih, namanya Bu Sa. Masalah kerjaan sih beres, tapi orangnya suka berhutang. Baru sebulaan kerja, sudah berani hutang. Kalau hutang, saya tidak berani mengambil bunga. Makanya dia lumayan sering berhutang. Pernah suatu kali berhutang karena anaknya mau lamaran, saya kasih disaksikan suami dengan jangka waktu pengembalian setelah hajatan saja (sekitar 4-5 bulanan). Wuenak banget kan?

Karena Bu Sa mau hajatan, dia minta cuti sebulan sebelum hari-H (kenyataannya cuti 2 bulan sebelum hari-H). Saya menyetujui dengan syarat tolong dicarikan pengganti sementara. Akhirnya dapat pengganti namanya Bu Ls. Orangnya agak penakut, tapi sopan, kerjaan lumayan meski kadang-kadang kurang bersih. Tapi kalau dikasih tahu, dia mau menuruti dan kerjaannya makin baik.

Nah, setelah cuti Bu Sa habis, saya menunggu kabar dari dia, kog tidak ada kabar mau kerja lagi, saya sms ternyata balasannya masih capek karena habis jualan di makam (baca : memanfaatkan musim Lebaran). Memang bila menjelang puasa dan musim Lebaran tiba, banyak tetangga yang berjualan bunga dan minuman di sekitar area pemakaman yang besar, tak jauh dari rumah. Bu Sa minta cuti sebulan lagi. Dalam hati saya, enak benar, wong saya kerja saja ada aturannya.

Kedongkolan saya dengan Bu Sa tak berhenti sampai di situ. Dia kan masih punya hutang, saya sms katanya mau ke rumah. Saya lembur pun, dia tidak sms sekedar menanyakan saya di rumah apa tidak. Berarti dia tidak niat membayar hutang dong? Akhirnya malam-malam dengan diantar ojek, saya mampir ke rumahnya untuk menagih hutang. Aduuuh, seperti rentenir saja saya kala itu.

Hal ini saya ceritakan ke suami dan tak tahunya beliau membuat keputusan untuk mempertahankan Bu Ls, say good bye to Bu Sa. Yang menjadi pertimbangan yakni Bu Ls perangainya baik, mau dikasih tahu, dan belum pernah berhutang. Meski demikian, hubungan kami dengan Bu Sa tetap baik, malah Bu Sa ingin balik sama saya.

Alhamdulillah, setelah melalui gonta-ganti personil akhirnya Bu Ls sudah setahun bekerja dengan kami. Bertukar sayur dan lauk juga sering kami lakukan. Apalagi sejak saya resign, kami sering mengobrol dan bercanda. Saya mau engga pakai ART, kog kasihan sama dia. Hitung-hitung buat teman mengobrol di rumah. Bahkan waktu saya pamit dan titip rumah karena mau ke Jepang, kami berpelukan dan menangis bersama. Dia seakan tak mau melepaskan pelukan saya. Semoga Bu Ls masih bertahan lama dengan kami.

Itulah kisahku dengan para ART. Mungkin teman-teman juga mempunyai cerita yang sama atau malah lebih dramatis dan mengharukan. ART memang sangat membantu terutama bila ibu bekerja. Tetapi kita harus memberi aturan dan batasan yang jelas dengan dia. Sampaikan dengan baik-baik agar tidak menyinggung perasaannya. Alhamdulillah, hubungan saya dengan mantan ART sampai saat ini baik-baik saja kecuali yang kabur tadi hehe.




3 comments:

  1. Memang susah nyari ART yg handal y mak. Menurut saya yg penting jujur, tahu menempatkan diri dan nggak usil sama urusan orang yg punya rumah.. Urusan kerja, asal mau belajar dan dikasih tahu, kayaknya udah lebih dari cukup beruntung bisa nemu yg begituan... :)

    ReplyDelete
  2. Iye, mak...Alhamdulillah udah nemu yang sesuai spek :)
    Skrg mak Yanet tinggal di Bogor ya?

    ReplyDelete
  3. hi hi banyak bgt kisah saya dengan art mba..tapi byk juga yg udah saya lupain he he he, untungnya sejak 2009 awet pake yg pulper aja

    ReplyDelete

Powered by Blogger.

Recent Posts

    Follow Me

    Page Views

    Copyright © Pipit Widya | Powered by Blogger
    Design by Saeed Salam | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com