Thursday, April 03, 2014

Cerita Jilbabku


Bulan April memang bulanku. Bukan hanya karena saya berulang tahun di bulan ini tetapi karena ini bulan 'jilbabku'. Saya memutuskan berjilbab tahun 2006 tepat di hari ulang tahun. Dulu saya tidak kepikiran untuk berjilbab.

Seseorang berjilbab tentu ada faktor yang mempengaruhi. Terus terang faktor lingkungan cukup berpengaruh tetapi bila hati tak tergerak untuk berjilbab ya belum ada keinginan untuk mengenakannya. 
Sewaktu kuliah dulu saya kaget bukan kepalang. Apa sebabnya? Saya berada di fakultas yang lingkungannya berbeda sekali sewaktu di SMP dan SMA. Mayoritas teman saya berjilbab bahkan jilbabnya besar dan mereka memakai rok. Saya merasa bahwa mahasiswa yang tidak berjilbab seperti saya waktu itu sangat dibedakan oleh kaum jilbaber *hehe bahasa saya waktu itu.

Kehidupan di kampus saya sangat islami. Bahkan teman asal Semarang ada yang tidak kuat dengan lingkungan kampus dan dia get out, cuma ikut kuliah di tahun pertama. Awalnya saya juga aneh tapi lama-lama cuek saja. Toh mereka sejatinya baik hati kog. Makin lama saya sering bergaul dengan mereka entah karena main atau karena tugas kuliah. Dan saya akui saya kagum dengan kehidupan mereka, kayaknya adem. Mereka juga aktif ikut kajian atau liqo. Jangan-jangan ini merupakan cara Alloh agar saya lebih banyak mengenal Islam terutama dalam hal menutup aurat. Entahlah.

Keinginan kuat saya untuk berjilbab justru setelah KKN. Waktu KKN dulu teman wanita satu kelompok semua berjilbab kecuali saya. Dari situ, saya mulai merasa agak disentil sama Alloh. 
Kog saya sendiri yang engga berjilbab? Padahal sama-sama Islam.
Kog saya sendiri yang kelihatan rambutnya?
Kog saya sendiri yang memakai baju lengan pendek?

Dari situ saya mulai agak tertarik dengan jilbab. Saya tidak mencari referensi dari siapa-siapa, hanya saja saya teringat pelajaran agama yang mewajibkan muslimah menutup auratnya atau berkerudung sampai sebatas dada. Hanya itu saja. Waktu saya mau berjilbab, saya utarakan maksud saya untuk berjilbab kepada ibu. Semula ibu saya menentang karena sifat saya yang masih galak dan keras terutama kepada orang tua. Tapi saya tetap kekeh dengan keingan saya *namanya juga keras haha. Entah dapat hidayah dari mana saya akhirnya berjilbab.

Waktu pertama kali berjilbab, tentu saya tak mempunyai baju lengan panjang. Cara pakai bajunya gimana? Pake aja baju atau kaos lengan pendek dan disambung dengan deker *bener gak sih namanya? Itu tu yang sambungan lengan itu lho. Atau kalau engga ya pakai kaos daleman panjang. Dan dulu masih suka pakai yang ketat. Jujur, sebenarnya saya risi dengan penampilan saya seolah-olah berjilbab kog kayak engga niat gitu.
Waktu memakai jilbab pertama kali terasa panaaaaaas buanget. Apa jangan-jangan dosa saya dibakar kali ya waktu itu hehe (AAMIIN).

Makin lama saya merasakan kalau memakai jilbab itu ternyata nyaman. Saya merasa seperti terlindungi terutama bila berjalan ada laki-laki. Sungguh, nyaman sekali ketika berjilbab.

Dulu saya juga suka memakai celana jeans tetapi kog lama-lama engga nyaman ya. Serius. Kayaknya sesak di perut apalagi jika digunakan untuk rukuk dan sujud sholat. Apa karena bentuk tubuh yang 'maju perut pantat mundur' ya hehe. Entahlah yang jelas kalo naik motor pun saya juga kurang nyaman memakai celana jeans. Lambat laun saya tidak pernah memakai celana jeans lagi, lebih suka celana bahan. Beneran. Eh tapi saya juga punya 1 legging jeans, itupun dibelikan ibu saya dan sekarang saya pakai untuk daleman memakai rok. Oia saya beberapa bulan lalu juga membeli celana jeans tapi kulot jadinya gombrong, saya pakai juga di sini (Jepang). Entah karena kurang cocok atau kurang garam kali, mungkin celana itu akan saya pakai di lingkungan rumah saja pas balik ke Indonesia, engga untuk bepergian. Celana itu juga baru saya pakai sekali, ya pas jalan-jalan di foto ini *ceritanya celana baru booo.

Celana Jeans Kulotku
Alhamdulillah, saat ini semakin banyak muslimah yang memakai jilbab. Suatu perubahan yang bagus sekali. Tapi maaf ya, menurut saya banyak muslimah yang memakai jilbab karena sekarang jilbab bagian dari fashion. Banyak dari mereka yang memakai saat bepergian jauh saja sedang di lingkungan tempat tinggalnya, mereka engga memakai. 

Saya, saat ini, sampai detik ini memang belum dapat berjilbab syar'i. Terbesit keinginan untuk dapat memakai secara syar'i. Jujur saja, kalau melihat akhwat yang jilbabnya syar'i rasanya iriiiii sekali, kapan ya saya bisa seperti mereka?

Saya sangat bersyukur bisa berjilbab. Bila kita sedang berada di negri yang mana Islam merupakan minoritas, jika bertemu dengan sesama muslimah (ketauan dari jilbabnya) maka kita akan mengucap dan berbalas salam, saling senyum atau bahkan bersay hello. Subhanallah, indah sekali, seneeeeng banget rasanya meski kita tidak saling mengenal tetapi kita merasa sebagai satu kesatuan, yakni Islam. Bukan hanya sebagai identitas, bagiku jilbab juga sebagai pengingat untuk selalu menjaga ucapan dan tingkah laku agar senantiasa dekat dengan-Nya.
Saat ini, melalui berbagai kejadian yang saya alami, saya mencoba untuk berbenah terutama untuk diri saya sendiri. Saya berbenah untuk selalu menjaga lisan saya agar tidak menyakiti orang lain. Saya berbenah agar ibadahku lebih baik lagi. Sungguh.

Melalui tulisan ini pula, semoga Alloh SWT dapat mengabulkan permohonan saya agar saya bisa menjadi muslimah yang baik, karena saya takut akan neraka dan belum pantas masuk surga. Ampuni hamba Ya, Rabb. Ampuni hamba. Aamiin.















0 comments:

Post a Comment

Powered by Blogger.

Recent Posts

    Follow Me

    Page Views

    Copyright © Pipit Widya | Powered by Blogger
    Design by Saeed Salam | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com