Friday, April 18, 2014

Enaknya Sushi di Pasar Tsukiji, Jepang


Siapa yang suka makan sushi? Tinggal di Jepang kalau belum menyicipi segarnya sushi di Pasar Tsukiji tentu belum afdol dong. Jalan-jalan ke pasar Tsukiji memang telah kami rencanakan sebelumnya. Rencananya, kami akan melihat proses pelelangan ikan di pasar yang tersohor itu.

Agar tidak terlambat, kami berangkat dari apartemen jam 4 pagi, sebelum subuh. Kami berjalan menembus dinginnya pagi menuju Sta.Kannai. Tapi jangan salah, meski pagi buta ternyata banyak juga warga Jepang yang sudah di stasiun, padahal itu hari Sabtu, hari dimana orang-orang libur bekerja.

Untuk sampai ke sana, kami naik kereta dari Sta.Kannai (Omiya Line) turun di Hamamatsucho, keluar pintu utara, lalu oper dengan subway Toei Line, turun di Sukijishijo.

Setelah itu, kami menuju pasar Tsukiji dengan tergopoh-gopoh karena waktu sudah menunjukkan  pukul 05.30. Saya mengamati aktivitas di sana. Meski masih pagi, pasar sudah ramai, bahkan di salah satu sudut banyak orang yang mengantri untuk makan sushi.

Pasar ini besar, banyak aktivitas di pasar ikan terbesar di dunia ini. Para pekerja sibuk mengangkat kardus berisi ikan, melakukan bongkar muat, dan hilir mudik dengan alat transportasi khusus yang memudahkan pekerjaan mereka. Meski besar dan sibuk, pasar ini sangat bersih dan tidak bau amis. Bahkan, saya tidak melihat kucing yang berseliweran di dalam pasar.


Aktivitas di Tsukiji
Ketika kami sampai di tempat lelang, ternyata lelangnya sudah tutup. Mereka tidak bisa menerima pengunjung lagi. Menurut informasi, lelang ikan dimulai sejak jam 3 pagi. Padahal kami berangkat jam 4 pagi. Kecewa? Pasti. Yaaah, sia-sia sudah pengorbanan kami untuk berangkat pagi. Tetapi kami tidak larut dalam kesedihan. Kami berkeliling pasar untuk mencari sushi buat sarapan.

Ketika berkeliling, beberapa kedai ada yang sudah buka, tapi banyak juga yang belum buka. Kami menemui salah satu kedai yang ramai banget. Jika ke sana, jangan langsung menuju ke salah satu tempat makan. Berkelilinglah dahulu, melihat-lihat harga dan menu yang ditawarkan. Berdasarkan observasi kami, beberapa kedai ada yang menjual sushi satu set saja (tidak menjual satuan) dan ada juga yang menjual satuan, harganya juga beda-beda. Salah masuk kedai, bisa-bisa tekor gara-gara sushi.


Antri Demi Sushi
Setelah berkeliling, ternyata kedai yang ramai tadi memang yang reasonable. Hal ini karena kedai tersebut juga menjual sushi secara satuan meski ada juga yang satu set. Harganyapun cukup terjangkau sekitar 300-800 Yen.


Menu



Nama Kedainya
Untuk makan di sana, kami harus antri dengan pengunjung lain, yang kebanyakan turis manca negara. Jika kita rombongan, maka untuk mendapatkan tempat duduk akan ditawarkan akan dipisah atau digabung. Jika rombongannya banyak, maka kita harus sabar menunggu kursi kosong sejumlah rombongan kita. Rata-rata yang makan di sini jumlah rombongannya tidak banyak, sekitar 2-3 orang. Ada juga yang makan seorang diri, malah lebih cepat dapat tempat duduknya.

Ketika duduk, kita langsung diberi ocha, kuah seafood isinya kerang kecil, dan tempat sushi yang isinya jahe. Jahe di sini diiris tipis-tipis, bentuknya mirip irisan ikan. Jahe berguna untuk menetralisir ikan mentah yang kita makan.


Sushi Segar


Sushi Enak dan Jahe

Setelah itu chef akan menawarkan sushi apa yang akan kami makan. Sushi yang disajikan di sini sangat segar dan enak. Tidak ada bau amis sama sekali. Wow, tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata makan sushi di tempat ini. Benar-benar nikmat sekali. Dagingnya yang merah dipadu dengan saus yang lezat, hhhmmm bikin nambah sushi dan nambah lagi. Apalagi kulit ikan yang dibalutkan pada nasi, hhhmm enak sekali. Ada juga tamago (telur dadar) yang dibungkus nori. Hati-hati, norinya asin banget.
Tamago
Soal harga sebandinglah sama rasanya. Semakin banyak yang kita makan, semakin banyak pula pengeluaran. Uniknya, dalam satu perhitungan, chef akan memakai alat seperti mainan dari plastik, yang warnanya putih dan hijau serta ada angkanya. Misalnya kita memesan sushi 'A', maka alat tersebut akan diletakkan di sebelahnya, dan akan bertambah terus tumpukannya sampai kita selesai makan, kemudian diberikan ke kasir sebagai dasar perhitungan harga.

Memang benar kata orang, makan sushi di Pasar Tsukiji memang sensasinya luar biasa. Terbayar sudah perjuangan antri selama satu jam sebelum makan. Setelah kenyang, kami melanjutkan perjalanan berhanami di Taman Ueno, ke Asakusa, dan melihat Sky Tree. Ceritanya ada di sini dan di sana.






5 comments:

  1. wah jadi pengen ke Jepang nyobain sushi..

    ReplyDelete
  2. wew.. pasti rasanya sushi dijepang beda sama di Indonesia..
    jadi pngn kesana nih.. :(

    Teknonetwork.com

    ReplyDelete
  3. sushinya halalkah mbak?

    ReplyDelete

Powered by Blogger.

Recent Posts

    Follow Me

    Page Views

    Copyright © Pipit Widya | Powered by Blogger
    Design by Saeed Salam | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com