Monday, April 07, 2014

Masakan Indonesia di Jepang

Masakan Indonesia salah satu yang paling saya kangeni di sini. Maklum, lidah tidak bisa lepas dari makanan dan bumbu negeri sendiri. Masakan atau makanan ndeso justru yang paling bikin kangen seperti ikan asin, sambal terasi, tempe, tumis oncom-leunca yang pedas, dan tumis kangkung pakai tempe busuk. Masakan atau makanan tersebut menurut saya justru Indonesia banget.

Ketika bilang ke suami kalau saya kangen dengan hal-hal tadi, suami mengajak saya ke restoran yang menjual masakan Indonesia, Restoran Surabaya namanya. Karena saya tinggal di Yokohama, baru tempat itu yang saya ketahui sebab berada di lantai 5 World Porter, mall yang tidak jauh dari arena Cosmo World, tepatnya di daerah Sakuragicho.
Saya naik kereta dari Sta.Kannai ke Sta.Sakuragicho seorang diri karena janjian dengan suami. Beliau dari kantor tinggal jalan kaki ke stasiun tersebut.

Dari Sta.Sakuragicho menuju ke World Porter cukup berjalan kaki sekitar 5-10 menit. Kami menikmati jalan-jalan sore tersebut sambil melihat bunga sakura yang ada di taman, melewati Cosmo World, dan berfoto di taman sekitar area Pacifico yang dekat dengan laut.


Arena Cosmo World



Restoran Surabaya ini ternyata milik orang Jepang, tetapi chef dan pegawainya orang Indonesia. Selain di Yokohama, restoran ini mempunyai cabang yang lumayan banyak antara lain di daerah Odaiba, Chofu, Urawa, dan Kouhoku. 

Bentuk bangunan luarnya cukup menarik dengan ornamen patung Bali. Restoran ini cukup besar. Saat masuk kami disambut dengan iringan musik Bali yang khas. Wah, serasa di Indonesia. Penataan ruangnya pun cukup bagus, simple, dengan kursi dan meja kayu khas Indonesia.
Pengunjung yang datang kebanyakan orang dewasa yang baru pulang kerja (karena kami ke sana hari Jumat). Sepertinya anak muda Jepang jarang yang datang ke sini.


Di Depan Restoran
Masalah harga jangan ditanya, pastilah jauh dibandingkan di negeri asalnya. Memang, kalau urusan makan di sini, jangan dikurskan, nanti malah engga menikmati makanannya lho. Waktu itu saya pesan mie ayam dan tempe goreng. Suami pesan sop buntut. Untuk penyajiannya sudah beradaptasi dengan Jepang yakni ketika pengunjung duduk tak lama kemudian diberi suguhan air es. Lumayanlah untuk pengiritan karena kami tidak perlu memesan minuman.
Porsi mie ayamnya besar ditambah bakso ayam sebanyak 3-4 butir. Karena besar, mie ayam bisa dimakan oleh dua orang. Sedangkan tempe gorengnya satu porsi isi enam ditambah sambal dabu-dabu. Kalau sop buntut porsinya kecil.

Harga Mie Ayamnya Jika Dikurskan Bikin Emosi :)
Tempe Goreng
Porsi Mie Ayam

Urusan rasa, jelas masih mantap masakan aslinya. Menurut saya, bumbunya kurang nendang, masakannya kurang panas, sambalnya kurang pedas, dan sambalnya dingin. Tempenya rasanya aneh, kebanyakan tepung, jadi kurang terasa. Untuk mengobati kerinduan akan masakan Indonesia, restoran ini cukup memuaskan. Bagaimanapun, yang asli tidak pernah bohong hehe. Saya cinta masakan Indonesia.




2 comments:

  1. katanya kalau makanana jepang itu rasanya lebih plain gitu kan ya Mbak? mungkin si resto surabaya ini juga menyesuaikan rasanya sama lidah orang Jepang kali yaa..lidah yang punya mungkin? hihihi
    maskaan indonesia emang juara ya Mbak.. juara buat orang2 Indonesia x))

    ReplyDelete
  2. masaakan Jepang menurut saya asin hehe..
    Bumbunya kayaknya berat di ongkos..
    Makasih sudah mampir..

    ReplyDelete

Powered by Blogger.

Recent Posts

    Follow Me

    Page Views

    Copyright © Pipit Widya | Powered by Blogger
    Design by Saeed Salam | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com