Friday, May 23, 2014

The Liebster Award : Ini Ceritaku Apa Ceritamu?

Bangun tidur siang, buka Facebook, ada notif di group. Kaget waktu dapat tag dari Mak Tia Yusnita, empunya Tia's Scrapbook. Ternyata saya dapet estafet Liebster Award. Jujur ni ya, padahal pagi tadi baru baca blog tetangga sebelah tentang award ini, siangnya malah ketiban sampur. Hehehe. Kena hukum LOA, nih. Tapi nggak apa-apa. Seru kok awardnya. Lagipula manfaatnya positif.

Ini bukan award biasa. Awardnya seru dan berantai. Insya Alloh bisa menambah pertemanan dan silaturahim. Liebster Award ini ternyata ada syaratnya. Gampang kok. Dibaca dulu yaa...

1. Post award ke blog Anda.
2. Sampaikan terimakasih pada blogger yang mengenalkan pada award ini dan backlink ke blognya.
3. Share 11 hal tentang diri Anda.
4. Jawab 11 pertanyaan yang diberikan kepada Anda.
5. Pilih 11 blogger lainnya dan berikan mereka 11 pertanyaan yang Anda inginkan mereka jawab.
















Mak Tia yang baik, makasih banyak ya karena sudah menyolek saya dan mengenalkan pada award yang seru ini. Saya suka dengan Tia's Scrapbook yang simple. Semoga tali silaturahim berlanjut ya, Mak.
Saatnya kenalan dulu ya, mumpung new blogger, nih..
1. Saya asli Semarang, setelah nikah tinggal di Depok.
2. Saya anak pertama dari tiga bersaudara.
3. Saya tidak suka orang munafik.
4. Saya lebih suka mendengarkan radio daripada nonton tivi.
5. Saya doyan pete, jengkol baik mentah maupun mateng. Apalagi kalau petenya yang tua, warnanya oranye. Mantep!!
6. Saya suka bersih-bersih rumah.
7. Saya tidak suka kecap.
8. Saya seorang IRT dan saya senang *kenapa nggak dari dulu jadi IRT ya hehe.
9. Saya suka mencoba kuliner baru.
10. Saya suka makanan tradisional dan makanan khas suatu daerah.
11. Saya alergi dingin.

Oke, sekarang waktunya menjawab pertanyaan Mak Tia (ambil nafas hihihi) :


1. Sejak kapan nge-blog dan apa alasan kamu nge-blog?
#Ngeblog sejak Februari 2014 *tutupmuka* karena saya ingin mempunyai cerita yang bisa dikenang lewat tulisan.

2. Apa yang kamu lakukan kalau lagi menunggu? Main gadget, ngelamun, baca buku, atau ngapain?
#Main gadget dan melihat orang-orang di sekitar yang berlalu lalang.

3. Siapa tokoh di Indonesia yang paling menginspirasi hidupmu?
#Ibu Kartini.

4. Lebih suka baca buku atau nonton film? Apa alasannya?
#Baca buku dong sebab bisa bebas berkhayal.

5. Apa makanan favoritmu?
#Bakso.

6. Kalau dikasih kesempatan ke luar negeri, negara mana yang ingin kamu kunjungi dan kenapa?
#Mekah karena pengen banget haji.

7. Kejutan apa yang biasa diberikan ketika orang terdekatmu berulang tahun?
 #Nggak pernah ngasih kejutan. Seringnya saya minta kejutan. Hahahaha

8. Apa momen terindah dalam hidup kamu yang gak bisa dilupakan sampai sekarang?
#Menikah.

9. Apa yang pertamakali dilakukan saat bangun tidur?
#Mikir, saya ada dimana ya..

10. Suka binatang apa enggak? Kalau suka, binatang apa yang pingin dipelihara?
#Enggak suka blas.

11. Harapan/cita-cita apa yang ingin segera dicapai dalam waktu dekat ini?
#Pengen punya anak *aamiin.

 Mak Tia sudah cukup puaskah? Moga-moga sudah ya, Mak.

Nah, sekarang saatnya berbagi Liebster Award kepada emak-emak kece di bawah ini :



3. Mak Pudja Kusumah  

4. Mak Nunu Elfasa

5. Mak D Indah Nurma

6. Mak Santi Dewi


8. Mak Hana HM Zwan


10. Mak Dewi Rieka


Dan, pertinyiinnyinya adalaaaah... Pertinyi-inyi *ala Tukul :

1. Kota apa yang berkesan buat emaks? Kenapa?

2. Apa warna favorit emaks?

3. Buku apa yang emaks sukai?

4. Manfaat ngeblog buat emaks apa sih?

5. Gambarkan tentang Capres ideal versi emaks untuk Indonesia dalam 3 kata.

6. Kejadian dodol apa yang nggak bisa dilupain?

7. Siapa orang yang ingin emaks temui dalam waktu dekat ini?

8. Apa lagu favorit emaks? Kenapa?

9. Hal apa yang bikin emaks bete?

10. Sebutkan makanan tradisional yang emaks sukai. Makanan tersebut dari daerah mana?

11. Habis ini, emaks mau ngapain?

Kepo banget nggak sih pertanyaannya? Hihihi maaf ya, Maks..

Udah dulu yaaa..
Selamat sambung menyambung yaaaa...






Continue Reading…

Asyiknya Bermain Halma

Hai teman,
Masih ingat sama halma nggak? Kalau teman-teman lupa coba lihat gambar ini ya..

Sumber dari sini

Dari dulu sampai sekarang saya suka banget bermain halma karena permainan ini tidak membosankan. Tak hanya kesenangan yang saya peroleh. Permainan ini dapat menguji kemampuan berpikir karena bermain halma membutuhkan taktik. 

Permainan halma membutuhkan strategi untuk membuka jalan agar dapat melangkah. Kemampuan melihat peluang dan memakai logika sebelum melangkah dibutuhkan dalam permainan ini. Salah melangkah, bisa-bisa jalan dihadang lawan sehingga harus mengambil langkah lain.

Karena inilah, permainan ini tak hanya cocok untuk anak-anak saja tetapi bisa juga dimainkan oleh orang dewasa. Dengan bermain halma, strategi dan logika dapat terasah dengan cara yang mengasyikkan.

Pencipta permainan tradisional ini ternyata seorang Profesor dari Boston, Amerika, bernama George Howard Monks. Doctor inilah yang membuat permainan berbentuk heksagram ini. Halma adalah permainan yang membutuhkan 2 atau 3 orang yang bermain di atas papan persegi bergambar heksagram, yang telah ditentukan cara bermainnya. Ruang yang tercipta secara sengaja atau tidak sengaja dalam permainan, akan membuat jalan bagi bidak yang dimainkan.

#Cara Bermain

Halma berasal dari bahasa Yunani yang berarti loncat, sehingga hal ini berkaitan dengan cara bermain halma itu sendiri. Jika teman-teman melihat gambar halma di atas, di situ ada bulatan-bulatan hitam. Bulatan-bulatan itulah sebagai jalur untuk berpindahnya bidak.

Permainan halma mengharuskan setiap pemain mengisi ruang kosong di seberangnya yang berwarna sama. Masing-masing pasang warna hanya bisa dimainkan oleh satu pemain. 

Mula-mula setiap pemain hanya bisa melangkah atau bergeser satu bulatan saja. Jika sudah, pemain dapat menjalankan bidaknya dengan melompat. Pergerakan bidak dapat dilakukan secara horisantal, vertikal, maupun diagonal baik dengan melompati bidak sendiri maupun bidak lawan. Bidak yang dilompati tidak terpengaruhi oleh langkah pemain, tetap saja diam di tempatnya. Dengan cara ini maka perjalanan bidak akan lebih efektif karena melompat berarti melewati beberapa bulatan.

Ketika masing-masing pemain sudah menjalankan bidaknya, akan tercipta ruang gerak dengan sendirinya. Nah, disinilah kemampuan strategi dan logika setiap pemain dibutuhkan. Pergerakan yang memakai taktik, akan membuat langkah lebih efektif, sehingga teman-teman lebih besar peluangnya untuk menang.

Jika teman-teman mau bermain halma saat ini juga, bingung karena tidak mempunyai bidak dan papan halma?? Jangan khawatir. Permainan ini ada versi online-nya dengan klik di sini. Malah di versi online, teman-teman bisa memilih permainan untuk dua, tiga, empat, bahkan enam pemain. Enak kan? 

Sebagai pemula, teman-teman bisa memilih yang mudah dulu yakni dengan dua pemain. Lalu jika sudah merasa tertantang, bisa ditambah jumlah pemainnya. Kalau sudah berada di permainan dengan enam pemain, rasakan nikmatnya berstrategi dan berpusing ria. Hahaha. Kalau bermain ini, rasanya senang dan puas, apalagi kalau bisa menang.

Kalau dipikir-pikir, bermain halma itu kok sama ya dengan manusia. Ibaratnya bidak-bidak tersebut manusia, diri kita sendiri. Langkah yang pas dan berstrategi ternyata diperlukan dalam mengisi kehidupan, terutama dalam meraih kemenangan. Salah langkah, bisa-bisa jalan menuju kemenangan terhambat. Bisa sih sampai di sana, tapi lama, sedang teman-teman yang lain sudah merasakan nikmatnya kemenangan. Jadi, yuk bermain halma agar tidak salah langkah. Lhoh??


Continue Reading…

Thursday, May 22, 2014

Kaboki, Tas Rajut Indonesia yang Mendunia


Buat para emak dan wanita yang berada di dunia nyata dan maya, pasti suka dong dengan aksesoris tas kece yang menunjang penampilan. Apalagi kalau harganya terjangkau. Tambah suka kan?

Di tengah maraknya tas KW yang banyak banget dijual di sana-sini, saya kok kurang tertarik ya. Mungkin bagi sebagian orang, hal ini merupakan sesuatu yang aneh. Memang, saya bukan tipe orang yang branded-oriented. Jujur saja, saya lebih suka dengan tas produk dalam negeri. Ada kebanggaan dan kepuasan ketika saya memakai produk Indonesia.

Saya suka sekali dengan tas rajut. Ketika googling, ternyata ada lho tas rajut ASLI INDONESIA yang sudah lama mendunia, yakni tas rajut KABOKI.

#Sejarah Tas Kaboki

Awalnya produsen tas yang berdomisili di Bali, yaitu PT. Valesia bermitra dengan Indonesian Import Inc. yang ada di Amerika. Mereka semula bekerja sama dalam pembuatan tas kulit yang dikombinasikan dengan bahan kekayaan lokal seperti agel, tikar rotan Kalimantan, songket Palembang, ulos Batak, pahikung Sumba, dan tapis Lampung.

Karena persaingan tas kulit semakin kuat, saat itu PT. Valesia mulai melirik alternatif bahan baku lain. Pada tahun 1994, tas rajut mulai diperkenalkan. Benang nylon lokal yang berkualitas dipilih sebagai bahan utama. Oleh Indonesian Import Inc. selaku mitra importir, tas rajut ini diberi label The Sak.

Makin lama tas rajut ini mendapat sambutan yang luar biasa di Amerika, Eropa, Jepang, dan Australia. Untuk memenuhi permintaan tersebut, PT. Valensia membentuk kelompok binaan yang saat ini tersebar di Bali, Jawa Timur, dan Jawa Barat. Seluruh hasil produksi dari kelompok-kelompok binaan tersebut kemudian dikirim ke fasilitas produksi PT. Velesia untuk proses sortir, finishing dan final check. Fasilitas produksi ini awalnya berada di Denpasar-Bali. Pada tahun 1998, fasilitas produksi dipindah ke Kuta-Bali. Kemudian direlokasi ke Pasuruan-Jawa Timur pada 2007, yang sekarang dikenal dengan 'Wisata Tas Rajut Kaboki.'

Sudah dua tahun ini saya menjadi pelanggan Kaboki. Selain tas, saya juga membeli phone-pouch. Kualitas barangnya oke banget. Rajutannya rapi dan kuat. Apalagi ada lapisan water proofnya, jadi saya tidak perlu bingung jika kehujanan.

Sampai saat ini, tas dan phone-pouch Kaboki milik saya belum rusak sama sekali. Kualitas barangnya yang teruji membuat produk-produk Kaboki awet.

Satu lagi yang membuat saya senang yaitu adanya outlet di daerah Bintaro. Saya bisa memesan secara online sehingga biaya pengirimannya tidak mahal karena saya tinggal di Depok. Jadi, saya tidak perlu repot berbelanja. Tinggal klik, beres deh. Makin cinta dan loyal saja sama produk ini.

Kemana-mana Membawa Kaboki

Phone-Pouch Kesayangan



Saya membawa tas dan phone-pouch ini kemana-mana. Termasuk saat ini, ketika saya sedang menemani suami dinas di Jepang. Saya perhatikan, beberapa wanita Jepang melirik tas Kaboki yang saya pakai. Bangganya saya saat itu, apalagi memakai produk asli Indonesia.   

Nah, bagi teman-teman yang suka dengan produk Indonesia, jangan lupa datang ke  acara Pameran Produksi Indonesia yang diselenggarakan di Bandung, tepatnya di Harris Convention Festival CTLink, tanggal 22-25 Mei 2014. Bakalan banyak produk-produk Indonesia yang kece di sana. Ditunggu yaaaa.


Yuk, Cintai Produk Indonesia

 dan

Bangga Memakai Produk Indonesia

Continue Reading…

Wednesday, May 21, 2014

Jika ke Hakone, Jangan Lupakan Cuaca!

Hai teman,
Saya akan menceritakan pengalaman selama di Hakone. Campuran senang dan sedih jadi satu ketika saya dan suami berada di sini.

Hakone merupakan salah satu tempat wisata favorit di Jepang. Dari tempat ini, para wisatawan bisa melihat pemandangan perbukitan yang bagus lewat ropeway atau kereta gantung. Selain itu, di Hakone pula wisatawan bisa melihat pemandangan Gunung Fuji dengan kapal sebab Hakone merupakan daerah wisata di kaki Gunung Fuji. Jadi selain Kawaguchiko yang saya ceritakan di sini, Gunung Fuji juga bisa dilihat dari Hakone. Bahkan, bagi penggila shopping, bisa juga datang di tempat ini. Komplet banget, deh!

Untuk menikmati Hakone, teman-teman bisa membeli tiket pass selama 2 atau 3 hari. Waktu itu, kami join membeli tiket Hakone Free Pass 2 hari. Jadi, 1 hari untuk temannya suami dan 1 hari untuk kami. Dengan tiket pass itu, kami bisa memakai transportasi sepuasnya seperti cable car, bus, kapal, dan rope way. Lebih jelasnya, Hakone Free Pass dapat dilihat di link ini.

Kalau teman-teman ingin berkeliling ke Hakone dalam 1 hari, sebaiknya berangkat pagi. Biasanya, akan banyak antrian di cable car dan rope way. Apalagi kalau berbarengan dengan hari libur.

Saat Golden Week tepatnya tanggal 4 Mei kemarin,  saya dan suami pergi ke Hakone. Dari St.Kannai kami ke St.Yokohama lalu oper kereta (Tokaido Line) ke St.Odawara . Setelah itu, kami oper kereta lagi ke Hakone Yumoto. Karena Golden Week, maka jangan ditanya Hakone seperti apa. Rame buanget!!

Di stasiun Hakone Yumoto ini kami pindah ke Hakone Tozan Railway menuju Gora. Hakone Tozan Railway termasuk kereta wisata yang kuno. Seru lho naik kereta wisata ini. Sepanjang jalur ini, kami disuguhi pemandangan yang indah melewati lembah hutan, jembatan-jembatan, sungai, dan terowongan. Kadang-kadang keretanya berjalan mundur karena terbatasnya jalur yang ada.

Hakone Tozan Railway
Sampai di Gora, kami antri untuk naik Hakone Tozan Cable Car menuju Sounzan. Cable car ini mirip dengan kereta tetapi berbeda bagian dalamnya. Tempat duduk Tozan cable car berundak dengan jendela yang lebar sehingga kami bisa melihat pemandangan di luar.

Cable Car


Sampai Sounzan, kami pindah naik rope way. Di rope way ini, lagi-lagi kami melihat pemandangan kaki Fuji yang cantik berupa perbukitan yang rindang. Rope way ini akan membawa wisatawan sampai ke Togendai dengan pemberhentian di Owakudani dan Ubako. Kami turun di Owakudani.

Pemandangan dari Rope way
#Owakudani

Owakudani merupakan daerah yang masih memiliki zona vulkanik aktif yang ada belerangnya. Bau belerang sangat terasa apalagi bila naik ke puncak. Di tempat ini ada makanan yang terkenal yaitu Kuro Tamago atau Black Egg. Kuro Tamago berupa telur ayam yang dimasak di air belerang sehingga kulitnya hitam. Meski demikian, ketika dimakan tidak berasa belerangnya. Rasanya seperti telur rebus biasa. Kuro Tamago bisa dibeli di toko-toko yang ada di Owakudani atau di puncak Owakudani. Ketika sudah sampai puncak, teman-teman bisa beristirahat sambil makan telur dan menikmati pemandangan yang indah.

Asap Belerang di Puncak Owakudani

Siang yang Mendung di Owakudani

Kuro Tamago atau Black Egg

Di sini, seharusnya kami sudah bisa melihat Gumung Fuji. Sayang, saat itu cuaca mendung, jadi kami tidak bisa melihat Fuji. Nyesel banget :'( Saran saya, kalau mau ke Hakone, dilihat dulu cuacanya ya biar tidak menyesal seperti saya.
  
 #Togendai

Dari Owakudani kami naik rope way. Di sini, kami ingin menyusuri Lake Ashi dengan kapal Hakone Sightseeing Cruise. Kapalnya seperti kapal bajak laut. Kapal ini terdiri dari tiga tingkat. Karena waktu itu rame banget, kami naik di dek paling atas. Melihat danau dan bukit serta menahan angin yang kencang. Lagi-lagi, kami kecewa. Karena tak lama kemudian hujan turun. Terpaksa kami masuk ke kapal dan mencari tempat duduk yang kosong.

Lake Ashi-Hakone

Karena hujan dan tidak membawa payung, kami memutuskan tidak turun dari kapal. Kami ikut rombongan balik ke Togendai lagi. Jadi kami cuma muter-muter di kapal.

Padahal kalau tidak hujan, ada tempat yang bagus di sini seperti Hakone Jinja Shrine yang terletak di pinggir danau.

Torii Jinja Shrine

#Gotemba

Siang itu masih hujan, jadi kami memutuskan naik bus berkeliling Hakone. Dari Togendai kami naik bus yang berhuruf 'W' menuju Gotemba. Tempat ini terkenal sebagai Premium Outlets. Ada puluhan outlet dengan merk ternama ada di sini. Tempat ini cocok bagi yang suka shopping. Di hari-hari tertentu, misalnya Golden Week, banyak outlet yang memberikan diskon.

Dari Togendai, bus 'W' turun di St.Gotemba. Dari stasiun ini, akan ada bus khusus yang menuju ke Gotemba Premium Outlets. 

Sumber klik di sini
Di Gotemba ada banyak shuttle bus yang berbeda tujuannya. Masing-masing bus mempunyai waktu pemberangkatan dan tiba yang berbeda. Saran saya, ketika sampai di Gotemba, teman-teman lebih baik mengecek jam-jam tersebut terlebih dulu agar shoppingnya terjadwal dan tidak ketinggalan bus.

Oia, di shuttle bus tersebut tidak hanya untuk satu tujuan saja lho. Saat kami antre, sebenarnya ada bus yang langsung menuju Togendai. Kami pikir, busnya rusak, karena banyaknya orang yang antre. Ternyata orang-orang tersebut antre untuk tujuan yang berbeda dengan kami. Padahal bus selanjutnya datangnya sekitar satu jam lagi. Maka, kamipun pindah shuttle dan mencari bus yang menuju ke St.Gotemba saat itu juga.

Dari St.Gotemba, kami masih naik bus lagi ke Togendai. Untuk ke Odawara, kami diturunkan di shuttle bus pinggir jalan karena shuttle bus ini akan dilalui oleh bus tujuan kami. Kami naik bus selama kurang lebih 2,5 jam karena macet. Hal ini disebabkan karena hujan sehingga banyak mobil wisatawan merambat pelan menyusuri jalan pegunungan yang berkelok-kelok. Baru kali ini kami merasakan macet di Jepang.

Jujur saja, kami kurang puas menjelajahi Hakone karena faktor cuaca. Masih banyak tempat yang belum kami singgahi di sini. Sekali lagi, jika teman-teman mau jalan-jalan ke Hakone, jangan lupakan cuaca, ya!







Continue Reading…

Perpaduan Modern dan Kuno di Tokyo

Hai teman,

Jangan bosan ya kalau saya menulis tentang Tokyo lagi. Kota ini memang daya tariknya luar biasa. Ada tempat yang modern dan ada pula yang masih mempertahankan sisi tradisonalnya. Semuanya mempunyai keunikan sendiri-sendiri dan saling melengkapi.

#Harajuku

Harajuku terkenal dengan dengan gaya anak mudanya yang nyentrik. Biasanya kalau di Indonesia terkenal dengan kata 'Harajuku Style.' Padahal, Harajuku merupakan nama daerah di Tokyo yang terletak antara Shinjuku dan Shibuya.

Kami ke Harajuku tanggal 3 Mei lalu. Karena bertepatan dengan Golden Week, maka tempat ini ramainya luar biasa. Pada waktu ke sana, waktu menunjukkan pukul 9 pagi. Beberapa toko masih tutup, meski demikian ada toko yang sudah dibanjiri antrean penunjung meski belum buka. Beneran!! ckckckck...

Di Harajuku, ada 3 tempat yang ikonik yaitu Takeshita Street, Harajuku Street, dan Ommote Sando.

Mulanya dari St.Harajuku kami ke Takeshita Street yang berada tepat di seberang stasiun. Karena beberapa toko masih tutup, kami berjalan ke Harajuku Street. Kami hanya menyusuri Takeshita Dori sampai ujung, maka Harajuku Street tepat di seberangnya.

Harajuku Street bagi kami hanya sebuah gang kecil. Kami ingin melihat anak muda Jepang yang nyentrik di sana. Waktu sampai di Harajuku Street, ternyata sepi banget. Mungkin hari masih pagi lagipula hari Sabtu. Kabarnya, bila hari Minngu, anak-anak muda yang berdandan Harajuku akan ramai dan berkumpul di sana.

Ya sudah, kami melanjutkan perjalanan ke Ommote Sando. Kawasan ini termasuk kawasan shoping ternama karena di kanan kirinya terdapat butik dengan merk terkenal. Enaknya lagi, di kawasan ini rasanya adem banget karena banyak pohon-pohon tinggi di pinggir jalan.

Sumber dari sini


Kami sempat heran di sini karena ada antrean panjang sekali. Mereka sedang antre apa ya? Setelah kami telusuri, ternyata mereka antre makan di restoran Egg n Things. Restoran tersebut merupakan restoran breakfast terkenal di Honolulu. Sumpah, kami nggak habis pikir kok mereka rela antre panjaaaaang banget padahal tokonya belum buka. Eh tapi, restoran ini memang terkenal banget di Jepang. Sewaktu kami ke Yamashita Park (Yokohama), banyak juga masyarakat Jepang yang rela antre di restoran ini. Apa nggak keburu lapar, ya. Ckckckck...

Sumber dari sini
Lalu kami balik lagi ke Takeshita. Ternyata tempat ini sudah rame buanget. Banyak toko yang sudah buka. Kami sempat membeli beberapa barang di sana. Harganya lumayan murah. Kami sempat membandingkan harga boneka di Harajuku lebih murah dibandingkan di Asakusa. Tapi tidak semuanya demikian. Ada juga beberapa barang yang lebih mahal.

Takeshita merupakan shopping street yang komplet. Dari mulai baju, tas, souvenir, barang-barang yang lucu, makanan, sampai Daiso ada di sini. Beberapa toko ada yang pegawainya berdandan Harajuku. Mereka terlihat rempong tapi nyentrik. Asyik banget berada di sini.

Gerbang Takeshita

Crepes-nya Enak Banget


#Meiji Jinggu Shrine

Kuil ini merupakan kuil Shinto tertua di Tokyo, letaknya tak jauh dari St.Harajuku. Kami keluar Takeshita menuju St.Harajuku lalu berjalan ke arah kiri. Jika teman-teman menemukan gerbang yang sangat tinggi, kuno, dan besar itulah pintu masuk Meiji Jinggu Shrine. Masuk ke sini rasanya adem banget karena banyak pohon rindang dan besar.

Torii Meiji Jinggu Shrine


Memasuki kuil ini ada banyak drum-drum besar yang berada di sisi kanan. Kabarnya drum-drum ini dulunya merupakan tempat penyimpanan anggur milik kaisar. Drum-drumnya unik karena dihias dan bertuliskan Jepang.



Kuil ini masih digunakan oleh pemeluk Shinto di Jepang. Setiap tahun baru tanggal 1 Januari, mereka akan memadati kuil ini untuk berdoa. Selain untuk upacara keagamaan, kuil ini masih digunakan untuk upacara pernikahan.

Kami beruntung karena saat itu ada arak-arakan pengantin sebanyak tiga kali. Pengantin akan diarak oleh kerabatnya dan pemuka agama menuju kuil. Setelah menjalani proses keagamaan yang tertutup untuk umum, mereka diarak kembali untuk foto bersama di area kuil.


Tak hanya itu saja, kami juga sempat melihat pertunjukan seni yang sedang berlangsung saat itu. Ada tiga orang yang bernyanyi sambil bermain alat musik tradisonal seperti gitar. Nyanyian mereka sepertinya nyanyian keagamaan karena mereka terlihat khusyuk dan serius. 

Sebelum Menyanyi

Di kuil Meiji Jinggu juga ada taman namanya Naien Garden. Untuk bisa menikmati taman tersebut, pengunjung membayar 500 Yen. Di dalam Naien Garden berisi berbagai jenis tanaman dan bunga di seluruh Jepang. Selain itu, ada juga danau yang banyak ikannya.







#Shibuya

Dari Meiji Jinggu Shrine, kami berjalan ke Shibuya karena saya penasaran dengan patung Hachiko. Oia selama perjalanan menuju Shibuya, sebenarnya kami melewati Yoyogi Park tapi kami urung mampir karena alergi saya kumat. Sepertinya saya masih beradaptasi dengan udara di sini. Jadi tubuh saya gatal-gatal seperti biduran.Suami saya tidak mau mampir karena kasihan sama saya. Padahal saya pengen banget ke sana.

Di Shibuya kami hanya berfoto dengan Hachiko yang terletak tak jauh dari Shibuya Crossing dan St.Shibuya. Kalau mau foto dengan Hachiko, ternyata antre lho. Bagi kami, yang menarik adalah Shibuya Crossing karena tempatnya sangat ramai dan berlatar mall-mall tinggi dengan layar yang besar.

Shibuya Crossing

Patung Hachiko


Kalau teman-teman mau berkunjung ke daerah ini, jangan lupa sempatkan mampir di Yoyogi Park dan Tokyo Metropolitan Government Building (TMG). Di Yoyogi Park bisa melihat taman yang cantik sedang di TMG teman-teman bisa melihat kota Tokyo dari ketinggian. Untuk masuk kedua tempat tersebut gratis!!

Pengalaman yang sangat menarik karena Tokyo termasuk kota metropolitan tetapi tetap mempertahankan unsur tradisionalnya. Perpaduan yang sangat kontras tetapi layak untuk dikunjungi.



Continue Reading…

Monday, May 19, 2014

Makan di Makudonarudo

Kalau membaca judulnya keren ya? Padahal kalau diterjemahkan secara bahasa tak lain dan tak bukan adalah 'Makan di Mc Donald'. Kok bisa? Ya bisa.

Pertama kali berada di sini, kaget juga ketika tahu bahasa Jepangnya Mc Donald itu Makudonarudo. Jadi Mc = Maku, Donald = Donarudo. Hal ini mungkin, sekali lagi mungkin lho ya, karena kosakata di Jepang yang jarang berakhiran konsonan, jadi Mc enggak dibaca 'Mek' tapi akhirannya diberi huruf vokal dulu, jadilah 'Maku'. Dan sepertinya orang Jepang tidak bisa mengucapkan huruf 'L' huruf Hiragana dan Katakana tidak ada L maka Donald dibaca Donarudo. Lha kok nggak Maka, Maki, Donaruda, Donarudu dan kawan-kawannya? Ya, saya cuma bisa menjawab, mana saya tahu.

Mendengar ini awalnya aneh karena sangat asing sekali di telinga. Tapi ya kembali lagi, terserah Jepang-lah ya, ngapain dibikin pusing.

Saya termasuk orang yang jarang banget makan fast food, setahun bisa dihitung dengan jari. Gara-gara kelaparan di jalan, saya dan suami saat itu memutuskan makan nasi + ayam di Mc D dekat apartemen. Eh, ada yang berbeda lho antara Mc D di Indonesia dan di sini.

Mc D yang kami kunjungi terhitung kecil. Sewaktu membaca menu yang ada, kami kaget banget ternyata Mc D di sini tidak ada menu nasi + ayam seperti di Indonesia. Apa karena tempatnya kecil ya, maka tidak menyediakan menu nasi. Tapi waktu saya jalan-jalan ke mall, ada Mc D yang lebih besar, saya sempat melirik menu yang terpampang di dinding, ternyata juga tidak ada nasi. Padahal makanan pokok penduduk Jepang kan nasi ya? Yo wes lah, kembali lagi, terserah Jepang-lah ya, ngapain dibikin pusing.
Akhirnya kami pesan burger dan kentang *lha menunya cuma itu tok. Untuk minumnya sepertinya dimana-mana sama, minuman bersoda yang mendunia itu. Waktu itu saya memesan menu baru *penasaran sama rasanya, yaitu burger avocado. Gambarannya, burger ayam tidak ada selada dan tomat, tetapi diberi alpukat, ditambah dengan mayones.

Sumber dari sini

Nah, kebiasaan kalau makan fast food itu biasanya mengambil saos sebanyak-banyaknya kan? Di sini nggak akan bisa seperti itu karena di Makudonarudo tidak ada kran saos. Jadi, saosnya itu diberi kalau kita minta dan bentuknya kotak kecil. Terus, yang paling menyedihkan, tidak ada saos sambal, yang ada saos seperti mayones dan saos tomat.

Glek, aneh banget makan burger tanpa saos sambal. Karena ingat pesan ibu kalau ada makanan jangan suka dibuang, ya saya makan dengan pelan-pelan sampai habis. Soalnya, kalau dibuang kan sayang uangnya juga. Kebayang waktu itu saya makan burger yang aneh dan enak. Aneh karena baru pertama mencicipi burger pakai alpukat dengan mayones dan saos tomat. Enak karena saking laparnya.

Hal yang sangat saya suka, saat selesai makan, pengunjung merapikan tempat duduk sendiri lalu membawa nampan dan sisa makanan ke tempat sampah. Di situ ada tempat untuk menaruh nampan, serta tempat sampah yang sudah terpisah antara kertas dan plastik. Kebiasaan membuang sampah di sini patut diberi jempol. Beda banget ya dengan negara kita.

Saya kira Mc D dimana-mana sama, ternyata tetap menyesuaikan kebiasaan dan budaya di negaranya masing-masing. Kalau suatu saat teman-teman mau makan di Makudonarudo, ingat, jangan lupa membawa saos sambal sachet,ya! Makannya mumpet, biar saos sambalnya nggak ketahuan. Oke?











Continue Reading…

Tinggal di Apartemen

Bagi saya, tinggal di apartemen termasuk sesuatu yang wah. Sebab, pemikiran saya harga apartemen di Indonesia sangat mahal, hanya orang-orang berduit saja yang dapat membeli apartemen. Hhhmm, mungkin tergantung lokasinya juga yang mempengaruhi prestise sebuah apartemen. Padahal kalau dipikir-pikir, apartemen itu hampir sama dengan rumah susun kan ya?

Ndilalah, selama tinggal di negaranya Doraemon, saya dan suami tinggal di apartemen. Terdiri dari 8 lantai, apartemen ini sepertinya sudah lama sekali. Hal ini terlihat dari pintu kamar yang kuno. Meski demikian, peralatan yang digunakan di sini terbilang modern. Sangat membantu dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Bagi saya, itu sudah lebih dari cukup.

Selama tinggal di apartemen, saya merasakan sesuatu yang baru dan berbeda. Kemandirian dalam menangani segala hal sangat diperlukan. Soalnya kalau mau bertanya atau meminta bantuan ke tetangga sangat sungkan, karena tidak mengenal satu sama lain. Sepertinya tempat yang saya tinggali ini termasuk kawasan untuk ekspatriat. Sering saya menemui orang Malaysia, India, dan Cina.

Jika berbelanja, seringnya saya langsung membeli barang belanjaan untuk persediaan selama 2-3 hari. Malas. Ya, saya termasuk orang yang malas jika harus keluar apartemen untuk membeli barang yang hanya segelintir. Jadi, jika belanja biasanya saya membuat list barang-barang yang mau dibeli termasuk camilan. Padahal kalau di rumah, saya juga melakukan hal ini. Soalnya praktis dan hemat waktu hihihi.

Kalau saya lagi pengen banget makan di luar *terutama yang makanan berkuah panas, biasanya janjian dulu sama suami. Ketemu di suatu tempat, lalu makan bareng. Tapi seringnya sih, waktu untuk memenuhi hasrat makan tersebut pas weekend. Jadi, hasrat makannya ditahan dulu sampai maksimal baru dipuas-puaskan saat weekend. Kadang, saya merasa nelangsa bener demi makan.

Dari kejadian ini, terkadang saya berpikir sendiri, orang-orang di Jakarta yang tinggal di apartemen dekat jalan raya, kalau tiba-tiba pengen banget makan bakso atau mie ayam apa nggak repot ya? Mereka harus keluar dulu pakai mobil, belum lagi kalau terjebak macet. Dan, apa mereka nggak kangen sama bunyi abang bakso atau siomay yang suka lewat? Haha, kalau saya sih kangen banget, meski jarang beli. Mereka yang meramaikan sore di sekitar rumah. 

Tapi, kembali lagi dengan masing-masing orang ya. Mau tinggal di mana saja terserah, itu hak masing-masing individu. Bagi saya, asalkan dapat menjaga tingkah laku agar tidak merugikan orang lain. Buat apa tinggal di apartemen mewah tapi suka melakukan hal-hal yang mengganggu tetangga kanan-kiri. Bener kan?
Continue Reading…

Monday, May 12, 2014

Kuliner Ranjang 69 Depok

Ini adalah review pertama saya tentang kuliner. Hanya ini foto kuliner yang ada karena saya termasuk orang yang jarang mendokumentasikan makanan. Karena sekarang suka blogging, sebisa mungkin saya akan memberikan informasi tentang kuliner yang saya cicipi.

Teman-teman pikirannya jangan ngeres (kotor) dulu ya. Ini nama warung mie di Margonda. Singkatan dari Ramen Jangar 69. Ini termasuk kuliner baru di Depok. Saya dan suami ke sana sekitar November tahun lalu.

Apa itu Ranjang 69?
Tempat makan yang menyediakan mie ramen dengan cita rasa Indonesia. Tempat makan yang taglinenya 'Jagonya Basah-Basahan' ini cukup unik, didominasi warna merah. Makan di sini bisa rame-rame karena tempatnya cukup luas. Tempat duduknya bisa memilih di meja kursi biasa atau di sofa yang terkesan lebih santai.

Sumber dari sini

Dimana lokasinya?
Berada di Jalan Margonda Raya No.466, sebelah Margonda Residence. Kalau dari arah Jakarta, lebih kurang 400 meter dari Tugu Selamat Datang Depok. Teman-teman ambil posisi kiri yang jalur lambat, ya!
 
Sumber dari sini

Apa keunikannya?
Seperti yang saya katakan tadi, di sini menyediakan menu utama mie ramen dengan cita rasa Indonesia. Mie di sini ada 5 level tingkat kepedasannya yakni Merah Merona, Merah Merekah, Merah Menyala, Merah Membara, dan Membabi Buta.

Sumber dari sini

Sewaktu membaca menunya, saya tertawa sendiri karena namanya yang agak saru atau nyleneh. Ada istilah ML, 2 porsi 1 ranjang, dan banci.

Sumber dari sini

Soal harga?
Tenang, kuliner di Depok umumnya berkantong mahasiswa, jadi harga lumayan murah. Bisa dilihat dari gambar di atas.

Waktu itu saya memesan mie ramen miso level 2 dan suami mie soyu level 1. Saya cocok dengan rasa misonya yang gurih. Level 2 bagi saya sudah cukup pedas. Kalau mie soyu, rasanya agak manis. Level 1 membuat suami saya kepedasan karena beliau memang tidak suka pedas. 

Kalau masalah pedas, memang Ranjang 69 memberikan rasa yang luar biasa. Saya sampai keringetan dan bibirnya terasa puanas. Pedasnya poooooolll. Lha kalau level 5 rasanya seperti apa ya? Silakan mencoba sendiri ^.^

Penyajiannya mie ramen diletakkan di mangkok, ditambah telur, irisan daging, dan sosis/kornet (saya kurang tahu pasti). Mienya bentuknya agak pipih, kekenyalannya pas. Sayang, sayuran yang disajikan sedikit.

Sayuran Sedikit - Dok Pribadi

Jika teman-teman mau makan siang di sini, siap-siap sabar menunggu. Kabarnya, bisa waiting list dulu untuk mendapatkan meja. Kalau sore atau malam, biasanya tempat ini juga rame, apalagi kalau malam minggu atau hari libur. Banyak mahasiswa yang nongkrong di sini.

Kalau makan di sini, parkirnya memang di depan kedai. Tapi, menurut saya ini mengambil sebagian jalan di jalur lambat sehingga bisa berdampak pada kemacetan. So, jika selesai makan, istirahatlah sebentar lalu cepatlah pulang agar tidak menimbulkan macet ^.^







Continue Reading…
Powered by Blogger.

Recent Posts

    Follow Me

    Page Views

    Copyright © Pipit Widya | Powered by Blogger
    Design by Saeed Salam | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com