Friday, June 06, 2014

Dunia Hampa Tanpa Blogger

Blogger itu sesuatu. Bagaimana tidak? Kalau dilihat dari jasanya, ternyata blogger itu sangat membantu banyak pihak. Coba saja teman-teman mencari sesuatu entah makanan, film, tempat atau barang dengan googling. Mana yang lebih dipercayai infonya? Pastinya tulisan dari blogger.

Seorang blogger menulis itu karena hobi dan sebagian besar dari tulisannya merupakan pengalaman pribadi. Jadi jika ada blogger yang menulis tentang review sesuatu entah makanan, film, tempat, atau barang maka mereka akan menceritakan berdasarkan pengalaman. Disadari atau tidak, justru hal inilah yang dicari pembaca karena mereka mendapatkan informasi secara gratis dari tulisan tersebut.

Maka tak heran jika banyak perusahaan yang mengadakan lomba blog tentang produk mereka. Karena ini merupakan salah satu cara berpromosi yang cukup efektif. Setiap blogger akan menceritakan reviewnya dari sudut yang berbeda. Jika yang ikut lomba banyak maka semakin banyak pula produk tersebut direview dan dikenal masyarakat.

Tulisan blogger sangat beragam. Blogger menulis satu per satu dengan gaya bahasanya sendiri tetapi tulisan mereka saling melengkapi karena memberikan informasi dengan cara dan sudut pandang yang berbeda. Tulisan mereka ada yang membuat tertawa, sedih, dan bengong. Kapan lagi bisa membaca tulisan gratis hanya dengan klik.

Jangan salah, blogger juga mempunyai komunitas yang solid. Masing-masing komunitas tersebut memberikan kebebasan kepada anggotanya untuk menulis. Meski bebas, menulis di dunia maya tidak boleh seenaknya karena bisa saja penulis malah dibully karena tulisannya. Tata krama dan koridor menulis juga dibutuhkan di dunia perbloggeran. Dan, kebanyakan dari anggotanya sering memberikan hadiah atau dikenal dengan 'Give Away.' Asyik banget kan kalau nulis dapat hadiah. Meski saya belum pernah menang, ajang ini bisa dijadikan tempat mengasah kemampuan menulis.

Apa jadinya kalau dunia tanpa blogger? 

H.AM.P.A

# Jika googling, mungkin yang ada tulisan wikipedia dan tulisan tentang promosi yang belum tentu diriview dengan berbagai macam orang. Hhhhhmmm kayaknya nggak mantep ya kalau mencari informasi tanpa pengalaman orang lain.

# Nggak bakalan ada cerita-cerita tentang keluarga, cinta, persahabatan yang lucu dan mengharu biru khas blogger.

# Nggak bakalan ada promosi suatu produk yang diriview oleh banyak blogger.

# Nggak bakalan ada Give Away yang hadiahnya lucu-lucu.

# Nggak bakalan ada tips-tips oke dari blogger.

# Nggak bakalan ada tulisan seru yang bisa dibaca gratis.

Ya..ya..ya blogger memang patut diapresiasi. Tulisannya sangat dinanti karena memberikan informasi dan persepsi tentang sesuatu yang dinanti.



Continue Reading…

Yang Penting Nulis!

Ngeblog sebenarnya bukan hal baru bagi saya tetapi saya mulai kecanduan sejak Februari lalu. Dulu sih punya blog, tapi lupa alamat emailnya dan jarang banget menulis. Awalnya saya ngeblog karena ingin mengabadikan kehidupan di Jepang. Biar ada kenangannya eeee malah keasyikan.

Jujur, saya suka blog walking namun sebagai silent reader. Saya suka membaca tulisan teman-teman lalu tak sedikit yang blognya saya ikuti. Dari situ saya belajar banyak hal. Belajar menulis dan belajar tentang kehidupan. Ternyata banyak juga yang kisahnya hampir mirip dengan yang saya alami. Belajar kehidupan itu bisa di mana saja dan kapan saja karena ini tidak ada akhirnya. Jika kita sudah meninggal, baru tak bisa belajar kehidupan lagi.

Eh tapi dari BW tersebut, saya suka jiper sendiri soalnya tulisan saya biasa banget dan belum seinformatif mereka. Kalau sudah begini, jadinya malas mau menulis blog padahal ide banyak tapi susah keluar. Yang ada saya hanya bolak-balik BW dan mendengarkan lagu. Mentok!!

Dari BW saya juga tahu ternyata banyak juga blogger yang bisa mendapatkan uang dari blog. Siapa sih yang nggak pengen seperti itu? Pasti pengen dong yaaa. Hohoho ternyata ilmunya untuk menuju ke situ banyak tho. Saya harus banyak belajar dulu lah. Saya percaya bahwa sesuatu itu tidak datang begitu saja, semua butuh proses.

Eh tapi, saya ngeblog tujuannya bukan untuk mencari uang lho ya. Semata-mata murni hanya menyalurkan hobi dan menuangkan ke dalam tulisan. Jika sudah menulis, rasanya plong banget. Saya tidak peduli dengan page rank dan komen. Bagi saya, mendapatkan kepuasan dan kebahagiaan ketika menulis itu cukup. Toh, kalau bisa sampai ke tahap seperti para blogger yang top, saya anggap sebagai bonus.

Mempunyai branding atas blog sendiri tentu menjadi kebanggaan setiap blogger. Namun, jika menulis dari hati dan informatif itu suatu hal yang sangat membahagiakan bagi seorang blogger.

Menulis dan menulis. Itulah yang bisa saya lakukan. Ternyata menjadi blogger yang jujur lebih mudah dalam menuangkannya ke dalam tulisan. Menulis apa adanya. Tak perlu lah memikirkan hal-hal lain dulu, memposting dengan rajin maka dengan sendirinya pengunjung blog bertambah. Kasihan juga blognya kalau tidak dirawat, nanti banyak debunya. Ibarat rumah, maka saya akan mempercantik rumah saya dan tidak akan membiarkan berdebu.







Continue Reading…

Malam Terakhir

Malam ini malam terakhir bagi kita *lagu dangdut Bang Haji*.
Hiks, akhirnya datang juga hari Jumat, hari terakhir kami berada di apartemen, hari terakhir kami berada di Jepang. Sedih banget ketika menerima kenyataan kalau besok kami harus balik ke Indonesia. 

Hiks, meratap saat melihat berbagai bawaan yang akan kami bawa. Dua koper gedhe yang berat banget, tas ransel, tas trolley, tas saya sendiri. Sedih, jika memikirkan berapa uang yang harus kami bayar karena kelebihan tersebut.  Belum lagi sepatu dan beberapa benda yang rencananya akan kami buang di sini. Kalau dipikir, harga barangnya tak semahal dengan biaya overload nanti. Ikhlas yang teramat sangat dibutuhkan. Ah, semoga saja masih ada sisa uang nantinya.

Hiks, ketika mengingat semua kejadian di sini yang datang silih berganti di angan. Dari takjub akan ketepatan datangnya bus dan kereta, bingungnya mencari makanan halal, mencari tempat belanja murah, membaca rute kereta yang njlimet, wah banyak banget kalau diceritakan satu per satu nggak bisa saya. Maklum, blogger baru, masih bingung mau nulis yang runtut.

Bukannya kami tidak suka dengan Indonesia tetapi memang Jepang memberikan pengalaman yang oke banget. Hidup di sini sangat berbeda dengan negri sendiri. Kalau masalah teknologi, kami harus meminjam jempol tetangga, deh. Dari segi apapun, Jepang memang unggul. Sebetulnya alam Indonesia masih lebih baik dari Jepang. Hanya saja, kurang dikelola dengan baik, jadi ya tidak seramai dan semenarik di sini.

Yah, tak perlulah saya menjembrengkan hal-hal positif dan negatifnya. Bagi saya, negara itu ibarat manusia, masing-masing mempunyai keunikan, kelebihan, dan kekurangan. Tinggal bagaimana negara tersebut mau bangkit untuk menjadi lebih baik. Itu semua tergantung dari masing-masing individunya. 

Kembali ke negri sendiri harus kami hadapi karena bagaimanapun kami berasal dari Indonesia. Seenak-enaknya di negri orang, masih enak di negri sendiri. Harapan kami semoga bisa ke Jepang lagi dengan keadaan yang lebih baik. AAMIIN.

Frankly i want to say that i love Japan but love Indonesia more. *ehem*










Continue Reading…

Wednesday, June 04, 2014

Malam Mingguan di Tokyo Tower

Setelah melihat Sanja Festival, saya dan suami jalan-jalan ke Tokyo Tower. Kami sengaja memilih waktu agak sore karena niat banget melihat sunset dan night view dari Tokyo Tower. Sebelumnya kami sudah ke Tokyo Sky Tree. Berhubung harga tiket untuk naik ke Sky Tree mahal, saat itu kami hanya berfoto di luar dan melihat aneka shop yang ada di situ. Istilahnya, ini pembalasan kami atas kejadian tersebut. Toh, sama-sama menara, tingginya saja yang beda.

Dari Asakusa kami ke Daimon Station. Dilanjutkan jalan kaki sekitar lima menit, kami sudah sampai di depan Zojoji Temple. Tempat ibadah ini sangat terkenal di Tokyo karena merupakan salah satu temple Budha aliran Jodo. Zojoji ini letaknya nggak jauh dari Tokyo Tower. Sebelum ke Tokyo Tower, kami berkeliling dulu di Zojoji.

Gerbang besarnya seolah menyambut dengan gagah kepada siapa saja yang datang. Zojoji terletak di persimpangan lalu lintas dan di depannya ada taman yang besar dan rindang. Ada hal yang membuat kami terperangah di sini. Di halaman Zojoji ada topeng monyet. Kami geli dan tidak menyangka ternyata ada juga topeng monyet selain di Indonesia. Hanya saja, pertunjukan topeng monyet di sini orangnya rapi dan niat banget memakai mik untuk bicara. 

Gerbang Zojoji

Topeng Monyet
Di dalam Zojoji ada juga bel besar yang dibunyikan pada pagi dan sore hari, masing-masing sebanyak enam kali. Dan, yang membuat kami ngeri tapi lucu yaitu adanya area yang berisi patung-patung memakai hiasan warna-warni serta ada kincir anginnya. Semacam tempat untuk nyekar dan memberikan sesaji kepada orang yang sudah meninggal. Kalau pas nyekar dan kinci anginnya goyang apa tidak takut ya? Hii..

Bel Besar

Patung Warna-warni
Usai berkeliling Zojoji, kami menuju ke Tokyo Tower. Nggak jauh kok dari Zojoji. Menaranya saja sudah kelihatan. Tokyo Tower merupakan salah satu land mark yang terkenal di Tokyo. Dibuka pada tahun 1958, menara ini termasuk menara baja tertinggi di dunia. Tingginya mencapai 333 m. Tokyo Tower dibangun sebagai pemancar gelombang untuk siaran televisi dan radio.

Di halaman Tokyo Tower tersedia kafe dan beberapa kedai makanan. Di lantai dasar juga ada toko souvenir dan dokumentasi yang menceritakan tentang pembangunan Tokyo Tower. Ada juga museum lilin semacam Madam Tussauds. Masuk ke museum lilinnya, tidak gratis.

Sepertinya Sejarah Tokyo Tower
Di ketinggian 150 m, kami melihat view kota Tokyo. Kalau beruntung, pengunjung malah bisa melihat Gunung Fuji. Masing-masing spot ada penunjuknya kok, jadi pengunjung tahu view apa yang sedang dilihat. Harga tiket masuk ada dua yakni di ketinggian 150 m dan  di puncak menara. Untuk masing-masing ketinggian harga tiket bagi anak-anak, pelajar, dan dewasa juga berbeda. Uniknya, kami bisa melihat pemandangan di bawah menara melalui look down window. Ngeri-ngeri gimana gitu.

View dari Tokyo Tower
 


Tokyo Sky Tree dari Tokyo Tower


Rainbow Bridge

Look Down Window
Selain itu, di sini juga ada kafe, toko souvenir, mainan anak, dan beberapa gambar mengenai Tokyo Tower. Hampir mirip dengan yang ada di lantai bawah. Eh, wishing list berbentuk hati berbahan kayu juga ada di sini. Lucu sewaktu membaca wishing list yang bergantungan. Kayunya juga dicoret-coret untuk menulis wishing list atau semacam 'i was here' kali ya. Hehehe. Hebatnya lagi, ada juga petunjuk yang ditulis dengan huruf Braille.

Wishing Lists yang Penuh Coretan


Petunjuk Braille
Puas banget berada di sini. Waktu kami di sana, ada pertunjukan musik di kafe. Yang tampil waktu itu girl band semacam AKB 48 tapi personilnya hanya enam orang. Kami tidak tahu apakah setiap hari ada pertunjukan musik atau hanya di weekend saja. Kebetulan kami ke sana malam minggu. Dan, sebagai penutup, kami mengabadikan Tokyo Tower di malam hari. Lalu kami mampir makan di restoran India dan naik kereta JR dari Stasiun Hamamatsucho. Malam minggu yang berkesan.

Kawaii



Continue Reading…

Sanja Festival di Asakusa


Jadi, ceritanya tanggal 17 Mei kemarin, saya dan suami ke Asakusa memang niat banget melihat Sanja Festival. Soalnya kok rameee buanget reportasenya. Selain itu, kami juga penasaran sama pernak-pernik yang dijual di sana. Meski ini kedua kalinya kami ke Asakusa, tapi kami tetep semangat karena kunjungan yang pertama cuma melihat lampion raksasa saja.

Sanja Festival disebut juga Sanja Matsuri (Festival Tiga Kuil) merupakan festival tahunan yang diadakan di Asakusa selama tiga hari yakni Jumat, Sabtu, Minggu pada minggu ketiga di bulan Mei. Festival ini untuk menghormati tiga pendiri Sensoji Temple, yang diabadikan sebagai Dewa Shinto di Kuil Asakusa. Selama tiga hari, setidaknya diperkirakan dua juta orang melihat festival ini. Makanya Sanja Festival termasuk salah satu festival terbesar di Tokyo.

Festival ini dimulai pada hari Jumat sore, diawali dengan Parade Daigyoretsu. Dalam parade ini, para pemuka agama, pejabat setempat, geisha, penari, dan para musisi memakai kostum zaman Edo. Mereka berarak sepanjang Yanagi Dori ke Sensoji Temple dan Asakusa Shrine. Setelah itu, langsung diadakan upacara keagamaan Shinto untuk mengharap kesejahteraan yang berlimpah. Lalu salah satu mikoshi (replika kuil) dari lingkungan sekitar akan diarak sepanjang jalan diiringi musik khas Jepang.

Hari Sabtu, setidaknya ada seratus mikoshi dari distrik sekitar Asakusa dibawa ke Sensoji Temple dan Asakusa Shrine. Mikoshi ini akan didoaakan dulu sebelum diarak. Mikoshi dari masing-masing distrik berbeda-beda bentuknya. Ada juga yang bentuknya kecil. 

Pemberkatan Mikoshi

Pengarakan Mikoshi

Di hari terakhir atau Minggu, masing-masing grup dari masing-masing distrik akan berkumpul di Asakusa Shrine dan mereka bertanding membawa salah satu mikoshi yang besar. Kemudian mikoshi diarak sepanjang Asakusa. 

Sepanjang Asakusa dan Sensoji Temple itu banyak banget toko makanan dan souvenir. Kebayang dong bagaimana ramenya saat itu. Apalagi yang mengarak mikoshi satu grup jumlahnya banyak banget bisa dua puluh orang lebih. Yang membuat kami salut  yakni ada mikoshi yang diarak anak kecil. Mikoshinya sih kecil. Tapi, cara mereka mengenalkan budaya dan adat setempat sejak kecil patut ditiru.

Mikoshi Mini

Selama Sanja Festival, banyak juga kuliner yang dijual di sana. Lumayan menolong pengunjung yang kepanasan dan kelaparan di siang yang sangat terik. Harganya cukup terjangkau, dengan catatan jangan dikurskan, ya! :)


Selain melihat Sanja Festival, kami juga berkeliling di area Sensoji Temple. Seperti temple-temple yang lain, di sini juga banyak pohon yang rindang, taman, toilet, dan juga tempat berteduh. Bahkan ada juga kran air minum gratis yang letaknya dekat dengan toilet. Para pengunjung juga bisa membeli buah tangan yang dijajakan sepanjang jalan di Sensoji Temple. Meski temple, tetapi tempat ini juga sangat nyaman bagi wisatawan karena fasilitasnya yang cukup memadai.





Continue Reading…
Powered by Blogger.

Recent Posts

    Follow Me

    Page Views

    Copyright © Pipit Widya | Powered by Blogger
    Design by Saeed Salam | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com