Friday, September 26, 2014

Tahapan Inseminasi

Ini adalah salah satu ikhtiar saya dan Pak MJ untuk mendapatkan momongan karena sudah empat tahun kami kosong dan saya belum pernah hamil sama sekali. Pada kondisi ini, jujur kami dalam kondisi yang sangat galau, mengingat usia sudah berkepala tiga. Sempat bolak-balik ganti dokter untuk mendapatkan opini yang nyaman di hati dan nggak membuat stress. 

Sebenarnya insem ini nggak kami rencanakan sebelumnya. Masih ingat cerita saya yang ini kan ya? Jadi, waktu itu saya dan Pak MJ mengambil hasil tes progesteron sekalian konsul ke dokter baru. Sebelumnya kami memang sepakat kalau hasil tesnya turun lagi, langsung ke klinik morula (sebelumnya konsul ke dsog biasa). Nah, saat itu hasil progesteron saya turun dari 0,57 menjadi 0,25. Langsung deh, Senin saya telepon ke RS Bunda Depok untuk konsul ke dr. Dian Indah Purnama, Sp.OG, salah satu dokter yang ada di bagian morula (saya singkat DD saja, ya).

Saya cerita dari awal konsul saja ya. Oia, yang diceritakan di sini tindakan yang saya alami di RS Bunda Depok. Ingat, kondisi tiap pasien dan biaya tiap RS berbeda lho ya..

#Senin, 22 Sept

Saya dan Pak MJ ketemu DD pertama kali. Setelah saya cerita kronologisnya dan bertanya mengapa kok progesteron saya turun terus, DD menjawab karena saya PCO. Orang yang terkena PCO biasanya siklus haidnya nggak lancar sehingga saat pengambilan hormon bisa saja itu pas lagi nggak subur atau nggak siklusnya. Lebih baik, tes progesteron diambil 7 hari sebelum haid. Nah lo, kalau PCO kan nggak bisa diprediksi kapan haidnya kan, maka pengambilan hormonnya diambil hari ke-21 dihitung saat mens pertama. Itu yang saya tangkap dari penjelasan DD, kurlebnya mohon maaf.

Kemudian saya di USG Transvagina. Dari hasil USG tersebut, ternyata DD melihat adanya sel telur yang bagus. Beliau nggak bilang berapa diameternya sih. Lalu saya dan Pak MJ diberi pilihan, mau pembuahan alami atau inseminasi? Kalau pembuahan alami, kemungkinan kami diberi obat profertil dan metformin (lagi) dengan dosis yang lebih tinggi dari sebelumnya. Kebetulan, saat itu kami memilih inseminasi. Maka dibuatlah jadwal insem yakni :

  • Selasa, 23 Sept : suntik ovidrel
  • Kamis, 25 Sept : suntik insem bawa fotocopy KTP dan surat nikah

Tahapan sebelum insem itu ternyata ada suntik ovidrel. Suntik ini untuk 'memecahkan' sel telur. Susternya menyarankan lebih baik membayar obat ovidrel saat itu juga agar besok sudah siap semua, tinggal suntik, nggak usah beli dan antri obat lagi. Kami oke-in saja saran susternya.

Oia hampir lupa, malam itu juga kami disarankan DD untuk berhubungan sebab sel telurnya bagus dan setelah suntik ovidrel tidak boleh berhubungan sampai suntik insem dilakukan.

Biaya

  • Biaya dokter 200rb
  • Tindakan USG 50rb
  • Alat Ultrasonograph 228rb
  • Kondom sutra 1400
  • Biaya RS 25rb
  • Ovidrel 765rb
  • Pastik 600

#Selasa, 23 Sept

Datang ke RS jam 21.30 langsung ke ruang bidan dan menunggu di sana. Jam 10an lebih saya baru dipanggil dan disuntik ovidrel. Suntiknya di bawah pusar, rasanya perih sedikit. Mengapa suntiknya malam? Karena insemnya pagi jadi mengejar waktu yang pas soalnya masa hidup sel telur sekitar 48 jam setelah ovulasi.  

Biaya

Nggak bayar karena sudah dibayar sehari sebelumnya.

#Kamis, 25 Sept

Pagi jam 7.30 kami tiba di RS, mendaftar lalu mengisi form pengambilan sperma dan persetujuan. Fotocopy KTP dan surat nikah dikumpulkan saat itu juga. Nah, ada sedikit drama nih waktu Pak MJ mengisi kapan terakhir mengeluarkan sperma. Ceritanya begini :

Senin atas saran DD kami berhubungan. Lalu Selasa-Rabu off, persiapan suntik insem. Rabu malam karena panas banget, saya menyalakan AC sebelum tidur. Ternyata oh ternyata Pak MJ 'basah' padahal beliau nggak mimpi lho. Alasannya sih kedinginan, jadi keluar deh *huhu*. Deg-degan karena perawatnya juga kaget mengetahui ini. Akhirnya di form tersebut PakMJ diminta susternya menulis 3 hari untuk pengeluaran sperma terakhir, dihitung dari hubungan terakhir. Setelah menunggu satu jam, Pak MJ diambil spermanya lalu dicuci dan dipilih yang bagus. Alhamdulillah, jumlah sperma Pak MJ masih bagus sekitar 8jutaan. Kalau jumlah spermanya sejuta atau kurang, nah itu yang nggak bisa disuntikkan ke ibu. Setelah menunggu dua jam lamanya, sayapun dipanggil untuk suntik insem. Untungnya saya membawa buku dan makanan, jadi bisa menghabiskan waktu untuk membaca dan ngemil.

Deg, sedikit takut sih. Sebelumnya saya disuruh untuk menahan kencing karena kandung kemih akan menekan rahim sehingga memudahkan mendeteksi rahim di monitor. Saya disuruh berbaring dengan kedua paha terbuka (posisi litotomi) kemudian area bawah pusar diberi cairan. Suster meletakkan alat sambil sedikit ditekan untuk melihat rahim. Karena rahimnya belum kelihatan, saya disuruh minum lalu ditunggu setengah jam sampai saya kebelet pipis banget. Sebenarnya sih nggak perlu selama ini ya menunggunya. Berhubung DD sedang ada pasien partus normal, maka beliau menangani pasien tersebut. Setelah partus selesai, DD datang beserta suster.

Saya mulai agak takut dan mencoba rileks. Enaknya nih, di ruang tersebut distel musik instrumental yang lagunya bikin rileks dan tenang, lumayan membantu lho ini. Setelah melihat mrs.V, ternyata saya keputihan dan ada calon polip. Haduuuhh tambah takut kan. Akhirnya keputihan saya dibersihkan dulu dan calon polipnya dicabut. Rasanya nggak sakit sama sekali, beneran!!

Setelah menunggu darah hilang, mulailah saya disuntik insem. Saya disuruh rileks dan ambil nafas. Alhamdulillah nggak sakit sama sekali dan prosesnya cepat sekitar 10-15 menit saja. Setelah itu saya disuruh tetap dalam posisi litotomi sekitar 15 menit lalu bayar ke kasir dan menebus obat.

Saya diberi resep cygest dan fetavita. Obat cygest untuk penguat rahim, biasanya dimasukkan melalui anus sedangkan fetavita itu vitamin untuk ibu hamil. Ternyata stok cygest di farmasi RS habis, kemudian saya disuruh menunggu konfirmasi atau beli obat di luar. Daripada ribet, saya memilih konfirmasi. Setelah telepon DD, apoteker memberi obat utrogestan sebagai pengganti cygest. Fungsinya sama, untuk menguatkan rahim juga, bisa diminum atau dimasukkan melalui mrs.V. Kata apotekernya, lebih baik dimasukkan ke mrs.V untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Setelah memasukkan utrogestan, baiknya istirahat dan diam selama 1 jam. Nah, untuk hal ini saya memasukkan obat tersebut sebelum tidur siang dan tidur malam, agar maksimal hasilnya. Saya mendapat resep utrogestan sebanyak 30 kapsul yang dipakai 2xsehari dan fetavita 15 kapsul yang diminum 1xsehari.

Biaya

Insem : 2juta sudah termasuk biaya cuci sperma
Biaya RS :25rb
Utrogestan 30 kapsul : 570rb
Fetavita 15 kapsul : 151.500

Hasil insem bisa diketahui 16 hari kemudian. Jadi tanggal 11 Oktober kalau saya masih belum mens, disuruh tes pack. Kalo mens sebelum 11 Oktober, berarti insem gagal. Yah, saat ini merupakan waktu yang sangat sangat mendebarkan buat saya dan Pak MJ. Setelah inseminasi, saya berdoa dan menunggu sampai Oktober nanti.

Oia, setelah insem, malam itu juga boleh lho langsung berhubungan. Sebaiknya dilakukan secara rutin karena pas subur-suburnya, banyak vitamin yang masuk. Si ibu juga dapat beraktivitas seperti biasa kok, asal jangan terlalu capek dan hindari stress. Hanya doa dan kebesaran Tuhanlah, apa yang kami harapkan dapat menjadi kenyataan. Sekali lagi, saya mohon doanya ya teman-teman ^_^


Update : untuk hasil inseminasi sudah saya tulis di sini, ya. 




Continue Reading…

Wednesday, September 24, 2014

Mendadak Inseminasi

Sudah tahu kan kronologi saya yang belum mempunyai keturunan? Dari ke dr. Shinta, Eyang Agung, dr. Tyas, lalu ke dr. Dian. Semua dokter tersebut praktiknya di RS Bunda Margonda (kecuali Eyang Agung lho ya hehee). Khusus untuk dr. Dian, merupakan dokter infertilitas. Jadi, di RS Bunda MGD ada klinik khusus untuk menangani infertilitas yang biaya dokternya berbeda dengan dokter kandungan biasa seperti yang saya tulis di bab sebelumnya. 

Hari Senin, saya dan pak MJ ketemu dr. Dian. Kami kira konsulnya di ruang morula yang dekat dengan bagian informasi, ternyata salah besar. Ruang konsul seperti dengan ruang dokter yang lain. Menurut saya, dr. Dian orangnya komunikatif banget. Setelah saya panjang lebar menceritakan kronologisnya, beliau lumayan ngayem-ayemi. Beliau juga bercerita kalau PCO itu lumrah jadi jangan sedih dan putus asa. Dari tindakan dr. Tyas kemarin, katanya sudah betul hanya dosisnya katanya masih terlalu kecil *ampuuunnnn*. Dokter Dian biasanya kalau ngasih resep jika nggak mempan ya dikasih dosis besar, biar cepat subur.

Setelah konsul lumayan lama, saya disuruh USG (lagi). Hasil USG kali ini membuat saya terkejut. Kenapa? Karena :

1. PCO sebelah kiri sudah bersih, tinggal yang kanan. Alhamdulillah, saya sangat bersyukur. Hhhhhmmm, apa ini efek ngejus saya tiap pagi ya? Entahlah, semoga keadaan baik ini tetap berlangsung terus.

2. Endometrium (rahim kali ya) bersih. Artinya, saya memang tidak ada kista, hanya PCO saja. Mungkin hal ini akan lebih mudah dalam penanganannya.

3. Adanya sel telur yang matang. Alhamdulillah, saya sempat nggak percaya. Tapi dokter meyakinkan saya bahwa itu sel telur yang siap dibuahi.

Setelah itu kami diberi pilihan, mau pembuahan secara alami atau inseminasi. Mumpung sel telurnya ada, matang, dan bagus. Tanpa pikir panjang suami saya langsung memilih inseminasi. Ternyata insem beda banget dengan bayi tabung. Kata dokter, insem itu peluangnya sekitar 15% sedangkan bayi tabung 40%.

Kalau insem, kita masih bisa berhubungan malah dianjurkan untuk rutin berhubungan agar spermanya lancar ke sel telur. Selain itu, sperma dimasukkan ke rahim. Kalau bayi tabung, sel telur dan sel sperma ditemukan di luar lalu dimasukkan ke rahim. Dan, kalau insem si ibu masih bisa beraktivitas seperti biasa. Hanya habis insem, diperlukan waktu sekitar 30 menit untuk tidak turun dari tempat tidur setelah dimasukkan sperma. 

Biaya insem kata dokternya sih sekitar dua juta rupiah. Kami tidak tahu apakah itu hanya biaya tindakan saja atau sudah termasuk obat-obatnya. Pada hari Senin (22 Sept) saya membayar biaya dokter sekitar 504 ribu dan biaya untuk suntik ovidrel sekitar 760 ribuan (suntik sebelum insem). Pada Selasa malam saya disuntik ovidrel, kami datang pukul 21.30, langsung menuju ke ruang bidan. Karena obat ovidrel sudah saya pesan sebelumnya, jadi saya tinggal menunggu untuk dipanggil saja. Ini semacam obat untuk memecah sel telur, disuntik di bawah pusar, rasanya perih. Habis itu rasanya biasa saja sih.

Besok, Kamis (25 Sept) saya dan suami akan melakukan suntikan inseminasi. Mohon doanya ya teman-teman semoga apa yang kami harapkan dapat terkabul. Aamiin.



Update : Hasil inseminasi bisa dibaca di sini, ya


Continue Reading…

PCO oh PCO

Ini merupakan kelanjutan cerita saya untuk mendapatkan momongan. Setelah dari dokter lalu ke pengorbatan alternatif, kami kembali lagi ke dokter. Atas dasar belum mempunyai keturunan, maka saya memutuskan untuk resign pada Oktober 2013. Saya ingin istirahat, jauh dari capek dan stress. Saya dan Pak MJ pada pertengahan Juni lalu memutuskan kembali ke RS Bunda, tetapi kami ganti dokter, mencari opini lain.

Setelah sebelumnya dengan dr.Shinta Utami, kami konsultasi dengan dr. Tyas Priyatini. Mengapa? karena beliau perempuan dan praktiknya sore, yakni Senin dan Jumat jam 5 sore sampai jam 7 malam. Enaknya dengan dr. Tyas, jumlah pasiennya dibatasi cuma 10 orang. Kalau mau konsul, saya biasanya pagi telepon, lalu sore mengambil nomor antrian. Ya, nomor antrian sesuai kedatangan pasien, siapa cepat dia dapat. 

Seperti biasa, saya di USG (lagi). Dari hasil tersebut, saya ternyata terkena PCO. Mengapa di dokter yang dulu nggak muncul PCO ya? Entahlah, apa dokternya yang nggak teliti atau memang saya saat itu nggak ada PCO. Jujur saja, dr. Tyas sih nggak banyak memberikan info tentang PCO, saya yang aktif mencari tahu dan saat konsul tiba, saya banyak bertanya ini dan itu. 

PCO adalah keadaan dimana indung telur mengandung 12 folikel atau lebih. Ini bukan kista, melainkan folikel-folikel kecil yang berukuran 5-7 mm. Ternyata saat ini PCO buanyak buanget dijumpai pada perempuan. Faktor gaya hidup menjadi salah satu penyebab, misalnya suka makan junk food, merokok,polusi, dll. 

Sumber Klik
Setelah dipikir-pikir, beberapa kejadian yang saya alami memang mengarah ke PCO. Selain hasil USG seperti gambar di atas, biasanya penderita PCO mengalami hal-hal berikut :

*Haid tidak teratur. Ketika haid, bisa hanya bercak-bercak, waktunya cuma sebentar atau malah sering nggak datang. Kalau saya pribadi, siklus haid memang tidak teratur. Kadang kalau haid hanya bercak-bercak, apalagi kalau saya sedang stress atau capek. 

*Adanya tanda hormon laki-laki yang tinggi atau hiperandrogen, misal berbulu, kumis, berjerawat. Nah, sepertinya saya juga hiperandrogen nih karena bulu kaki saya banyak *ups* dan dulu waktu SD sampai kuliah muka berjerawat parah dan sempat berobat ke dokter kecantikan di Semarang. Alhamdulillah, sekarang sudah nggak jerawatan lagi tapi bulu kaki teuteup banyak.

*Biasanya gula darah meningkat, apalagi jika ada keturunan diabetes. Lagi-lagi saya hampir termasuk kategori ini karena bapak penderita diabetes mellitus. Alhamdulillah, waktu tes gula kemarin kadar gula saya masih normal.

Lalu apa yang dokter lakukan waktu itu?
Saya disuruh tes gula dan progesteron. Dari hasil lab, kadar gula saya normal dan kadar progesteron 5,71. Alhamdulillah kadar progesteron naik dari yang dulunya 0,05. 

Lalu apa saran dari dokter?
Menjaga pola makan agar mengurangi manis dan gorengan serta mengatur stress. Ya, semua orang pasti stress tapi tinggal bagaimana kita mengelola stress tersebut agak tidak berefek negatif pada diri kita sendiri. 

Lalu apa yang dokter berikan?
Obat profertil dan metformin. Ini obat penyubur dan obat untuk menjaga kadar gula agar tidak naik. Biasanya obat ini sepaket untuk penderita PCO. Profertil biasanya diminum haid hari kedua dengan waktu yang tetap. Misal jika minumnya jam 8 delapan pagi, diusahakan jam segitu terus. Hal ini berbeda dengan metformin, yang diminum sesuai dosis yang dianjurkan sebanyak tiga kali dalam sehari.

Awalnya dosis obat yang diberikan 250 mg untuk metformin dan 1 tablet untuk profertil. Lalu hari ke-21 dari haid pertama, saya lab progesteron. Hasil progesteron kedua malah turun dari 5,71 menjadi 0,57. Waduh, sediiih banget ketika tahu hal ini. Kemudian dr. Tyas menaikkan dosis obatnya. Ampuuuun. Begitu terus seperti siklus yang nggak ada hentinya. Dosis obat naik-mens-hari ke21 lab progesteron. Saya melakukan ini sebanyak dua kali. Di hasil tes progesteron terakhir, malah turun lagi, yakni cuma 0,25. Huhuhu lumayan bokek juga buat membayar dokter, USG, beli obat (yang mahal profertil), dan tes progesteron. Semakin tinggi dosis obat, biaya untuk obat semakin mahal pula.

Begitu mengetahui terkena PCO, saya lalu googling dan mencari solusinya. Memang, saat ini PCO belum ada obatnya. Tapi ini tidak termasuk dalam kondisi berbahaya atau merenggut nyawa. Hanya mengatur pola hidup sehat dan menjaga BB ideal *saya masih kelebihan 6 kg dari BB ideal*. Lalu apa yang saya lakukan?

#Olahraga
Ya, minimal tiga kali seminggu saya berolahraga. Nggak perlu yang berat, yang penting teraturnya. Saya beroalahraga sore hari di rumah, pakai alat, bergerak sendiri sesukanya asal teratur dan ada hitungannya. Berolahraga sambil mendengarkan radio oke juga tuh.

#Beras merah
Saya mengganti konsumsi beras putih ke beras merah sejak sebulan lalu karena beras merah tinggi serat dan kadar gulanya lebih rendah dibanding beras putih. Etapi kemarin waktu mau beli beras merah ternyata stok di pedagang habis, jadinya terpaksa beli beras putih *huhu*. Jujur, saya lebih suka makan beras merah karena irit. Kapan-kapan deh saya ceritain.

#MSG
Sejak dulu kalau memasak saya nggak pakai micin tapi masih pakai m*s*ko, kalau beli bakso atau mie ayam juga pesennya gitu. Dua tahun terkahir, saya memasak tanpa micin dan m*s*ko. Meski awalnya aneh, lama-lama akan terbiasa.

#Jus
Sudah 1,5 bulan setiap pagi saya minum jus sebelum sarapan. Seringnya jus wortel dan tomat. Kalau jus yang rasanya asam, perut saya masih belum kuat menerima. Pernah suatu kali saya membuat jus pisang dan ubi ungu. Enak lho ternyata. Kadang juga saya membuat jus stroberi dan bit, atau wortel+stroberi+bit. Dalam membuat jus, saya nggak pakai gula dan susu. Jadi cukup buah dan air secukupnya. Usahakan jangan terlalu encer. 

Nah, di samping hal-hal tadi, saya dan Pak MJ rutin ke dokter sesuai jadwal yang ditetapkan. Biasanya sih jadwal ambil lab progesteron langsung konsul ke dokter, irit waktu dan biaya transport. Jujur, sampai saat ini saya dan Pak MJ galau berat. Kalau ada bumil yang perutnya gedhe, saya tatap lekat-lekat, sambil berdoa semoga bisa seperti mereka. Saya juga agak stress lagi. Akhirnya, hari Senin kemarin saya dan Pak MJ memutuskan ganti dokter (lagi) dan ikut dalam klinik morula. Klinik ini khusus menangani infertilitas. Dokternya Spog juga cuma harganya yang beda. Ditangani dengan dokter khusus infertilitas biaya dokternya dua kali lipat dan printilan-printilan USG-nya banyak banget lho, beda kalau ditangani dokter spog biasa.

Kwitansi di Morula
Misalnya kalau dengan dokter spog biasa, di kwitansi tertera biaya dokter, USG, biaya umum RS. Nah di dokter morula ada biaya dokter (dua kali lipat dari dokter spog biasa), tindakan USG, alat ultrasonograph, kondom sutra, biaya umum RS. Hhhhmm karena kasus saya di luar kehamilan, jadi tidak ditanggung asuransi alias bayar sendiri alias bokek berat *gakpapa namanya juga ikhtiar*. Nah, apa yang dilakukan dokter morula tersebut? Klik di sini ya..


Continue Reading…

Pengobatan Alternatif

Pengobatan alternatif sampai saat ini masih banyak peminatnya di masyarakat, termasuk saya kala itu *hihi*.  Kepercayaan masyarakat terhadap pengobatan alternatif semakin tinggi dengan semakin tinggi pula biaya pengobatan di rumah sakit. Berawal dari menonton acara Hitam Putih, saya tahu sosok Eyang Agung (EA). Acara di salah satu stasiun televisi tersebut mengatakan bahwa pengobatan EA sudah ada izin dari Dinkes, tambah semangat dong untuk mencari tahu tentang EA. Apalagi saya yang kala itu takut ketemu dokter lagi.

Seperti biasa, saya googling dulu kalau mencari tahu sesuatu. Dari informasi yang saya dapat, EA buka praktik hari Senin-Sabtu (hari libur tutup), beralamat di Jl. Suka Damai Raya No.27A, Sarua Indah, Ciputat, Tangerang Selatan. Yup, saya dan Pak MJ memutuskan untuk ke EA setiap Sabtu.

Kala itu, masih di tahun 2012 saya dan Pak MJ setiap Sabtu, habis subuh, langsung pergi ke EA. Berbekal google map, kami menyusuri jalan yang lumayan jauh. Begitu sampai di gang Suka Damai, ada rumah yang tampak berbeda dengan rumah yang lain, itulah rumah EA. Tapi praktiknya nggak di situ, tapi di pendoponya, masih sekitar 200 meter dari rumah EA. 

Saya nggak nyangka kalau pasien EA buanyak buanget, bahkan orangg-orang bermobilpun banyak yang antre. Untuk pasien yang pertama kali berobat cukup membayar uang pendaftaran sekitar lima ribu atau sepuluh ribu ya *lupa* dan mendapatkan sebuah buku semacam absensi. Setelah itu, untuk pengobatan selanjutnya, nggak usah bayar pendaftaran, cukup mengumpulkan buku absensi. 

Alamaaaaak saya saat itu mendapat antrian nomor 300an *dueng*, kapan pulangnya nih, mana macet dan panas lagi nanti kalau pulang. Saya dan Pak MJ ikut mengantre bersama pasien lain. Tempat praktiknya lumayan luas, bisa untuk parkir mobil dan motor. Suasananya asri karena banyak pohon dan yang pasti alunan campur sari yang dinyanyikan sendiri oleh EA. Di situ ada tiga bangunan yakni pendopo, sasono husodo, dan rumah istirahat. Pendopo banyak digunakan pasien untuk beristirahat dan membaca atau makan ketika menunggu antrean. 

Setelah antre beberapa lama ada speaker pemanggil nama-nama pasien untuk masuk ke dalam, kira-kira sekali panggil ada sekitar dua puluh pasien yang masuk dan diterapi oleh EA langsung. Di sasono husodo, pasien antre lagi untuk diterapi. Begitu giliran saya, EA dengan tenaga prananya mendeteksi penyakit setelah saya ceritakan keluhan saya. Pasien yang diterapi cuma dipijit-pijit meski pijitan ringan dan terlihat sepele, tapi sakit juga lho. Dalam menerapi pasien, EA suka bercanda dan bernyanyi campur sari, jauh dari mimik serius. Katanya sih rahim saya bagus cuma banyak gas di lambung dan ginjal. Pantesan, saya sering kentut. Eh beneran lho, saya itu gampang banget kentut *buka aib*. Setelah diterapi, pasien boleh antre pijat atau langsung pulang. Pemijatnya ada dua, karyawan laki-laki EA. Kalau nggak kesiangan, saya dan Pak MJ biasanya minta dipijat kakinya. Setelah itu, pasien boleh membayar atau enggak. Jadi, EA nggak mewajibkan pasiennya bayar. Jika mampu, silakan mengisi kotak yang tersedia toh katanya uang tersebut juga digunakan kembali untuk membantu masyarakat sekitarnya.

Setelah sesi terapi dan pijat, biasanya pasien disarankan untuk membeli 'obat'. Obatnya ini bagi saya aneh yakni berupa bubuk rasa kopi, madu, dan serbuk jahe. Jujur saja, bagi saya harga 'obat'nya mahal. Dan, saya kurang merasakan efeknya. Hanya, Pak MJ yang katanya habis minum bubuk rasa kopi tersebut, merasakan adanya efek 'depan'. Jadi ya kalau minum 'obat' rasanya jadi perkasa *hehe*. Wah, tahu hal ini terjadi malah kami takut ada apa-apa. Akhirnya kami memutuskan istirahat dulu dari EA. Selain efek 'depan', hal lain yang membuat kami istirahat yaitu jauh dan macet. Bayangkan, kami berangkat setelah subuh dan pulang sampai rumah sekitar jam 11. Belum lagi macet di Pamulang dan Sawangan, panas, dan laper. Kami benar-benar nggak kuat. Ya Alloh, usaha kami untuk mendapatkan momongan seru sekali. Meski terkadang lelah, kami menikmati semua proses tersebut. 

Setelah beberapa bulan, kami iseng ke EA lagi. Dari buku absensi, EA tahu kalau kami sudah jarang datang. Sempat mendapat teguran karena itu berarti kami telah mengacaukan aliran yang sudah ditata. Entah itu aliran apa. Sejak itu, saya dan Pak MJ nggak datang lagi ke EA dan memutuskan untuk pasrah sambil terus menjalani proses produksi. Ternyata di tahun 2014 kami memutuskan periksa ke dokter kembali


Continue Reading…

Usaha untuk Hamil

Saya sudah menikah selama empat tahun tapi belum juga dikaruniai momongan. Tahun pertama usia pernikahan, saya masih santai dan selalu ngeles jika suami mengajak ke dokter kandungan. Omongan orang sekitar dan faktor usia sempat membuat saya stress. Akhirnya saya dan suami memulai petualangan agar saya bisa hamil.

#Tahun 2012

Usia pernikahan sudah memasuki tahun kedua. Saya yang saat itu masih bekerja terkadang malas jika diajak suami untuk bertemu dokter kandungan. Capeklah, maleslah, takutlah, lemburlah, pokoknya banyak banget alasan. Sumpah, kalau ketemu dokter saya paling malas dan takut padahal background saya dulunya kesehatan masyarakat. Akhirnya, demi mencari tahu penyebab belum mempunyai keturunan, saya beranikan diri ke RS Bunda.

Mengapa ke RS Bunda? Karena rumah saya di Depok lagipula di RS tersebut ada klinik fertilitas atau morula. Jadi, pertimbangan saat itu jika berbagai cara tidak membuahkan hasil, kami akan mencoba bayi tabung sehingga kronologis kondisi pasutri bisa dirunut dari awal. 

Sebelumnya saya googling mencari informasi dokter kandungan yang recommended. Kebanyakan sih cerita tentang dr. Shinta Utami, Sp.OG. Ihir, praktiknya juga ada di hari Sabtu. Oke, saya dan suami memutuskan bertemu dengan dokter Shinta pas hari Sabtu. Sebab, mengingat saat itu kami off pas weekend saja. 

Olalaaaaaa ternyata pasien dokter Shinta banyak bangeeeet. Dalam hati, hhhmmmm dokternya laris nih, semoga aja kami cocok. 

Pertama kali ketemu dr.Shinta sih orangnya casual ya, nyante, tapi cepet banget kalau ngomong. Pasien yang harus aktif bertanya. Oleh dr. Shinta, saya ditanya kronologisnya. Oia, siklus haid saya memang tidak teratur. Kadang panjang, kadang pendek. Kalau haid, saya juga kesakitan di hari pertama dan kedua. Kalau buat tidur sebentar, sakitnya berkurang. 

Lalu saya di-USG, dicari penyebabnya siapa tahu ada kista di rahim. Alhamdulillah hasilnya baik. Rahim saya bersih tidak ada kista. Terus saya diberi cycloproginova. Ini obat untuk memperlancar siklus haid. Memang sih, haid saya jadi lancar, tapi kalau tidak minum obat tersebut haid saya amburadul lagi. Pada waktu minum obat tersebut, payudara kiri saya kencang dan sakit. Mungkin itu efek samping kali ya, sempat parno kalau obat itu bisa menyebabkan kanker payudara. 

Sedangkan suami disuruh melakukan analisa sperma. Hal ini dilakukan karena infertilitas tidak serta merta faktor ibu yang menjadi biang permasalahan. Kata suami, setelah memasuki ruangan, diberi tontonan film-film biru supaya cepat keluar spermanya *hehe*. Dari hasil pemeriksaan ini, kondisi sperma suami saya bagus.

Konsultasi berikutnya karena belum ada hasil, saya diberi PR oleh dr. Shinta untuk tes yang banyak banget ada estrogen, progesteron, HSG, dll. Dari hasil lab, semuanya bagus kecuali hasil progesteron.Tes pengambilan hormon progesteron untuk mengetahui berapa kadar progesteron saya, karena hormon ini berperan banget buat bisa hamil. Tes progesteron dilakukan saat hari ke-21, dihitung dari hari pertama haid. Biaya tes progesteron di RS Bunda sekitar 350 ribu rupiah.

Saya kaget banget saat mengetahui hasil progesteron yang rendah buanget yakni cuma 0,05. sedangkan kalau mau hamil, kadar progesteron sekitar 9 ke atas. Widiw, lemes banget melihat hasil labnya. Saat itu rasanya pengen banget nagis dan membuang hasil lab. Eits, masih ada tes HSG lho. 

Apa itu tes HSG? 
Dikenal juga dengan histerosalpingografi atau uterosalpingografi *hadeeeehhh abaikan yang ini*, yakni pemeriksaan rontgen memakai cairan kontras yang dimasukkan ke rongga rahim dan saluran telur. 

Apa tujuannya?
Tujuan utama tes HSG untuk mengetahui kondisi saluran telur dan mendeteksi apakah ada sumbatan atau tidak, serta letaknya pada saluran telur yang bisa menyebabkan infertilitas.

Kapan dilakukan?
Karena awam, waktu itu setelah tes progesteron saya tanya ke perawat kalau HSG dimana, dan diberi tau kalau HSG di bagian rontgen. Dengan langkah pasti saya dan suami ke bagian rontgen dan menunjukkan surat rekomendasi. Ternyata kami ditolak!! Karena tes HSG itu ada aturannya yakni dilakukan sesudah haid, antara hari ke-9 sampai ke-14 siklus haid. Tes ini tidak boleh dilakukan saat menstruasi dan beberapa kondisi diantaranya mengalami infeksi di saluran reproduksi atau di daerah panggul (pelvis) yang kronis, penyakit menular seksual, serta bila Anda baru menjalani operasi rahim atau saluran telur.

Kesempatan ini saya gunakan untuk bertanya lebih jauh tentang HSG kepada perawatnya. Dan yang membuat kami terkejut ternyata dokter bagian radiologi itu tidak semua bisa HSG dan dokter di RS Bunda yang bisa HSG (waktu itu lho ya) ternyata cowok. Jujur, saya kurang sreg kalau periksa masalah kandungan ke dokter cowok.

Lalu, saat itu juga kami menelpon RS lain. Pilihan pertama, RS Hermina Depok, dengan alasan faktor biaya siapa tau lebih murah. Ternyata RS Hermina Depok tidak ada alat HSG *kecewa kirain lengkap*. Akhirnya saya menelpon RS Mitra Keluarga Depok. Alhamdulillah RSMK bisa HSG dan ada dokter ceweknya *lega*. Kami lalu ke sana dan membuat perjanjian untuk HSG. Biaya tes HSG di RSMK saat itu sekitar satu juta rupiah.

Kalau teman-teman mengalami hal seperti saya, ada baiknya bertanya lebih banyak kepada perawat, masalah prosesnya, biayanya, dokternya, dan kalau oke, bisa langsung membuat perjanjian.

Bagaimana cara pemeriksaannya?
Tes HSG dilakukan di bagian radiologi. Setelah mengganti baju dengan baju pemeriksaan dan melepaskan perhiasan, saya diberi semacam obat yang dimasukkan ke anus. Beberapa menit kemudian saya dipanggil. Mulailah drama ini dimulai. OMG, suami saya nggak boleh masuk. Saya diminta berbaring dengan kedua paha terbuka (posisi litotomi) lalu dokter radiologi memasukkan semacam cairan ke vagina sehingga mulut rahim terlihat, lalu kateter dimasukkan ke mulut rahim melalui rongga rahim. Cairan kontras disuntikkan ke dalam rahim melalui kateter dan spekulum dikeluarkan. 

Rasanya tuh sakiiit banget waktu cairan tersebut dimasukkan. Karena kesakitan dan takut, saya tegang jadinya dokter nggak bisa ngambil foto bagian dalam rahim. Lamaaaa banget, sekitar satu jam mungkin ada. Nah, berhasilnya itu lucu. Jadi waktu itu ada anak kecil cowok sekitar sepuluh tahunan, anak susternya, ceritanya dia dan papanya menjemput suster tersebut. Karena lepas pengawasan, anak tersebut masuk ke ruang rontgen, tempat saya berdrama dengan dokter dan suster. Kontan saja, mama anak tersebut kaget dan teriak. Hal ini membuat saya kaget dan rileks, eeeee malah bisa masuk tuh cairan dan bisa difoto. 

Karena waktu itu sudah malam, hasil HSG saya ambil keesokan harinya. Alhamdulillah hasil HSG saya baik dan normal *legaaa drama terbayar*.

Setelah PR dr. Shinta dikerjakan semua, saya lanjutkan konsultasi. Melihat hasil yang ada, beliau menyimpulkan kalau hormon progesteron saya terlalu rendah. Dokter bilang kalau semua cara nggak bisa semua ya injeksi. Nah, mendengar kata 'injeksi' di pikiran saya berarti suntik hormon. Haduuuuhhh, saya nggak mau. Kalau bisa, saya menghindari hal itu. Sejak saat itu, saya nggak mau ketemu dokter lagi dan takut banget kalau dokter lain beropini sama. Kemudian saya dan suami pergi ke pengobatan alternatif. Lanjutkan ceritanya di sini ya..



Continue Reading…

Wednesday, September 17, 2014

Bus Depok - Bandara Soetta

Maaf ya teman-teman kalau saya lebih sering memberikan informasi tentang hal-hal yang berhubungan dengan Depok. Lha soalnya kan saya tinggal di daerah tersebut.

Dulu saya sering kesulitan jika mau ke Bandara Soetta karena tidak ada angkutan yang langsung menuju ke bandara. Jadi ya kalau mau ke Soetta naik taksi atau naik DAMRI dari Pasar Minggu.

Tapi sekarang enggak susah lagi sebab mulai 19 Juli kemarin ada bus yang langsung melayani rute Depok-Soetta. Bus tersebut dikelola oleh Hiba Utama. Busnya sih cukup bagus dan pelayanannya cukup memuaskan. Hhhhmmm semoga saja ini enggak hanya di awal-awal saja ya.

Angkutan ini melayani penumpang dari terminal yang ada di Margonda setiap hari mulai jam 02.00 sampai jam 21.00 WIB. Oia, teman-teman juga bisa naik di Hotel Bumi Wiyata karena bus ini akan ke lobby hotel tersebut sebelum belok ke Jalan Juanda. Sedangkan jadwal pemberangkatan dari Terminal 1/2/3 Bandara mulai pukul 04.00 sampai dengan pukul 24.00 WIB. Armada ini melayani pemberangkatan setiap satu jam sekali dengan rute Terminal Depok-Hotel Bumi Wiyata-Juanda-Tol Cijago-Tol Jagorawi-Tol JORR-Tol Bandara-Terminal 1/2/3. Harga tiketnya empat puluh ribu rupiah sekali jalan. 

Time Table Bus Depok-Soetta
Pengalaman saya bulan lalu naik armada ini cukup puas. Penumpang memesan tiket di loket yang terletak di halaman parkir Terminal Depok. Loketnya cukup nyaman karena ruangannya ber-AC dan ada tempat duduk untuk menunggu. Selain itu, tersedia toilet yang lumayan bersih. Penumpang akan diberi tiket dan duduk sesuai nomor yang tertera di tiket. Kalau sepi sih biasanya penumpang bebas mau duduk dimana saja. Bus berangkat sesuai jadwal meski melayani penumpang yang jumlahnya hanya segelintir.

Bus Tampak Luar

Interior Bus Depok-Soetta
Sedangkan dari Bandara Soetta, saya pesan tiket dulu di shelter bus dekat air mancur terminal 2. Keluar terminal 2 ke kiri, jalan terus sampai ketemu air mancur. Nah, pesan tiketnya di situ. Kalau di terminal 1 dan 3, maaf saya belum pernah naik dari situ. 

Saya juga mempunyai kontak pegawainya (kalau dia masih bekerja lho ya!) No Hp-nya 081283436777. Sekiranya teman-teman mau mengetahui informasi tentang armada ini, silakan menghubungi nomor tersebut.

Update : Saat ini di Terminal Depok sedang ada revitalisasi yang mana nantinya terminal terhubung dengan stasiun Depok Baru maka tempat pembelian tiket bus Depok-Bandara dipindah ke Hotel Bumi Wiyata. Saya mengetahui ini dari Kompas. Untuk informasi selengkapnya bisa dibuka di sini ya.


-Semoga bermanfaat-


Continue Reading…

Tuesday, September 16, 2014

Hati-hati Jika BAB di Toilet Umum

Hari Minggu kemarin saya dan Pak MJ pergi ke Monas, melihat Lebaran Betawi. Kami naik KRL dan turun di St. Juanda. Seperti biasa, jika berhenti melakukan perjalanan baik singkat maupun panjang, dapat dipastikan saya akan mencari toilet *tukang beser*. 

Toilet wanita di St. Juanda dijaga oleh satu petugas kebersihan. Mbak tersebut sibuk menyapu air yang ada di lantai. Memang hal ini sudah menjadi kewajibannya untuk selalu menjaga kebersihan dan kenyamanan toilet. 

Toilet wanita ada empat pintu, pintu yang kedua kala itu sedang rusak, jadi yang bisa dipakai tinggal tiga pintu. Hal ini tentu berpengaruh pada banyaknya orang yang mengantre. Ketika itu, saya mengantre di pintu pertama, di depan saya ada dua orang yang sudah antre duluan. Tak lama kemudian datang serombongan ibu-ibu, tentu saja ini menambah saingan. Saya menunggu dengan sabar. Lama-lama ibu-ibu yang datang setelah saya kok sudah buang hajat duluan, sementara saya belum. Ada apa dengan orang yang di dalam pintu pertama?

Semula wanita yang antre di depan pintu mengetok pintu dan menyuruh orang yang didalam keluar karena sudah banyak antrean, tapi jawaban suara di dalam tidak jelas. Selidik punya selidik, ternyata yang di dalam pintu itu temannya. Karena saya sudah kebelet, akhirnya saya pindah di pintu keempat dan menunggu antrean sebanyak empat orang.

Sambil menunggu antrean, ada ibu-ibu yang mengetok pintu pertama sambil teriak,

'Buruan dong, Mbak. Udah banyak yang antre nih. Gantian dooong. Ngapain aja sih di dalem?'

Hal serupa juga dilakukan oleh si mbak petugas kebersihan. Saya hanya tersenyum melihat ibu tersebut. Sedangkan ibu-ibu yang lain juga berkomentar sama seperti ibu tadi. Yah, senasib sepenanggungan lah ya..

Saya lihat wanita yang antre di depan juga ketok-ketok dan menyuruh temannya untuk cepat keluar. Tetap saja suara di dalam tidak jelas, entah mereka ngomong apa. Kegelisahan tampak di muka wanita tersebut. 

Kemudian, keluarlah wanita tersangka di dalam pintu pertama.

'Ngapain aja sih lo, lama banget', sambut temannya di depan pintu.

'Itu..gue bingung', jawab si wanita tersangka.

Si wanita tersangka sekitar dua puluh tahunan dan berjaket merah itu nggak langsung keluar toilet, malah bingung sendiri. Sedangkan temannya langsung keluar toilet lalu si ibu yang tadi teriak langsung nyelonong masuk untuk menuntaskan hajatnya. 

Akhirnya mbak petugas kebersihan bertanya kepada wanita tersangka,

'Kenapa mbak? kok lama banget sih?'

Jawab si wanita tersangka, 'Itu mbak, nggak bisa ilang.'

'Mbak (maaf) pup ya? Emang susah mbak, harus diguyur soalnya alatnya rusak', jawab petugas kebersihan.

Oooo dari pembicaraan tersebut saya dapat menyimpulkan bahwa wanita berjaket merah lama banget di toilet karena BAB dan nggak bisa hanyut, jadi dia bingung. Pantas saja antrean banyak banget karena hanya dua toilet yang bisa dipakai.

Lalu apa yang terjadi?

Si wanita tersangka menyuruh mbak petugas kebersihan untuk membersihkan (maaf) pupnya. Tentu saja hal ini ditolak si mbak dan wanita tersebut harus tanggung jawab sendiri dengan cara mengguyur memakai ember. Mulailah dia mengambil air kran lalu mengguyur ke toilet tadi. Hal ini dilakukannya sebanyak dua kali. Setelah dia pergi, barulah si mbak petugas kebersihan membersihkan toilet tersebut memakai karbol.

Sedangkan ibu yang tadi bagaimana nasibnya ya, masuk untuk pipis ternyata tempatnya masih kotor. Ketika si ibu keluar, dia ditanya temannya dan menjawab kalau dia pipis di lantai jadi nggak membuka kloset. Waduh, saya nggak bisa mbayangin deh. 

Kejadian ini membuat saya lebih berhati-hati kalau mau BAB di toilet umum. Sebaiknya kita periksa dulu klosetnya layak atau tidak. Setelah saya perhatikan, memang kondisi klosetnya kurang layak, tidak ada alat untuk mem-flush kotoran dan hanya ada shower, itu pun airnya mengalir kecil. Seandainya saja klosetnya bisa lebih baik, mungkin kejadian ini tidak terjadi. Mungkin saja pemikiran 'bisa untuk pipis sudah bagus' perlu dievaluasi. Karena fasilitas umum disediakan untuk memudahkan orang yang membutuhkan fasilitas tersebut dengan segala aktivitasnya. Dan, masyarakat seharusnya menjaga fasilitas tersebut agar dapat digunakan sesuai fungsinya.

Seandainya teman-teman dalam kondisi seperti wanita tersangka tadi, apa yang akan dilakukan?


Continue Reading…

Monday, September 15, 2014

Lebaran Betawi di Monas

Hari Minggu kemarin, saya dan suami, Pak MJ (bukan Michael Jackson loh ya!) pergi ke Monas untuk melihat Lebaran Betawi. Kami tau acara ini dari televisi, pemberitaannya kok sepertinya seru. Karena penasaran, akhirnya kami berencana berangkat pagi.

Seperti biasa setiap pagi saya masak sarapan, lalu beberes rumah, kemudian pergi setelah rumah rapi. Tapi berhubung saya lelet dan sering molor, Pak MJ memberi pilihan yang bijak.

'Udah, sarapan seadanya, bikin telur dadar aja. Rumah nggak usah disapu. Kelamaan.'

*suami yang pintar, peluk Pak MJ*

Jadi setelah sarapan dan mandi kami berangkat menuju St. Depok Lama. Tau dong ya, KRL sekarang menjadi primadona baru karena selain harga tiketnya yang murah, stasiunnya juga bersih dan nggak ada PKL sama sekali. Maka nggak heran, jika setiap hari KRL selalu dipenuhi penumpang. Etapi alhamdulillahnya kemarin agak sepi mungkin karena masih jam delapan kali ya.

Saat masuk kereta, meski nggak terlalu rame, kami nggak mendapat tempat duduk dan berdiri di depan sepasang anak kuliahan. Yang membuat saya kaget, anak yang cowok langsung berdiri dan menawarkan tempat duduk begitu melihat saya. Dengan manis saya menolak.

'Nggak mas, makasih. Saya berdiri aja.' 

Lima menit kemudian kereta berangkat. Begitu jalan pelan-pelan, seorang ibu di depan saya geser dan menyuruh temannya melakukan hal serupa seraya mempersilakan saya duduk. Seperti kejadian sebelumnya, saya pun menolak. 

Antara senang dan bingung sih sebenarnya. Senang karena semakin banyak orang Indonesia yang berperilaku baik terutama anak mudanya dan bingung kok tumben-tumbennya saya ditawari tempat duduk dua kali. Setelah berpikir sebentar, mungkin karena pakaian saya yang mirip orang hamil kali ya. Jadi saya memakai atasan yang memang seperti bumil. Hhhhmmm, dalam hati saya berharap semoga saja hamil beneran, aamiin..

Perjalanan selama kurang lebih 45 menit membawa kami di St. Juanda. Sempat bingung juga karena tidak tau arah ke Monas. Maklum, ini kali pertama kami ke Monas turun di St. Juanda karena dulu KRL berhenti di St. Gambir. Akhirnya kami bertanya kepada security yang bertugas. Sssssttt, kalau mengalami kejadian seperti ini, jangan bertanya ke tukang ojek atau bajaj ya, dijamin teman-teman diprovokasi untuk naik kendaraan mereka. Lebih baik bertanya kepada petugas yang berseragam.

Dari informasi yang kami peroleh, kami cukup melewati jembatan penyeberangan lalu berjalan menyusuri kali. Eh, banyak juga lho masyarakat yang berjalan kaki ke arah yang sama. Setelah berjalan beberapa menit ternyata saya baru sadar kalau jarak St. Juanda ke Monas nggak terlalu jauh, mungkin sekitar 10 menit. Bahkan, saya baru tau kalau melewati Es Krim Ragusa yang tersohor itu. Meski sudah pernah makan di sana bersama teman kantor dulu, baru kali ini saya tau kalo Es Krim Ragusa dekat dengan St. Juanda *katrok tenan owk*. 

Sampai di Monas, rameeeee banget. Maklum, tiket masuknya gratis. Lebaran Betawi tahun ini kali keenam dilaksanakan. Meski dulu perayaannya hanya muter di wilayah-wilayah, mulai dua tahun lalu Lebaran Betawi dilaksanakan di Monas. Kegiatan ini dilakukan untuk memelihara dan melestarikan budaya Betawi di Jakarta.



Perayaan ini digelar pada hari Sabtu-Minggu kemarin. Nah, kebetulan banget nih, pas hari Minggu kemarin Pak Ahok datang dan memberi sambutan. Wuih, ramenya warga yang mau melihat dan bersalaman dengan Wakil Gubernur Jakarta itu.

Pak Ahok Memberi Sambutan
Setelah sambutan, berbagai pertunjukan seni dan budaya dipertontonkan di panggung utama. Ada hal yang menarik ketika Dinas Pemuda dan Olahraga Pemrov DKI menampilkan permainan tradisional Betawi, bambu sodok. Permainannya seperti tarik tambang tapi ini menggunakan bambu. Setiap kelompok terdiri dari empat orang lalu berlomba-lomba agar lawan terdorong. Tak lupa, pengunjung diajak untuk berlomba dan ada imbalan bagi yang menang masing-masing lima puluh ribu rupiah. Lumayan kan?

Permainan Bambu Sodok

Selain itu, ada juga enggrang yang boleh dicoba oleh pengunjung. Saya lihat, anak kecil banyak yang tertarik dengan permainan tradisional tersebut. Mereka belajar dan dilatih dengan sabar oleh para instruktur yang masih anak kuliahan. Meski siang itu panas banget, tapi animo masyarakat untuk hadir menyaksikan kegiatan ini sangat besar, buktinya mereka rela berpanas-panasan.

Ada puluhan tenda yang menjual berbagai macam jajanan dan barang-barang lain di sini. Bahkan ada perpustakaan keliling yang memanjakan pengunjung untuk membaca gratis. Menariknya, masing-masing wilayah yang ada di Jakarta membuat stand gapura mirip sebuah kampung, di dalamnya ada panggung serta rumah-rumahan yang menunjukkan kecamatan di wilayah tersebut. Masing-masing wilayah menampilkan ciri khasnya masing-masing. Misalnya saja, wilayah Kepulauan Seribu ada stand yang memberikan informasi wisata di pulau tersebut. Ada juga stand yang menjual cendera mata yang terbuat dari hasil laut. Lalu di wilayah Jakarta Barat menampilkan manusia patung yang biasa mangkal di Kota Tua. 


Etapi ada hal yang membuat saya dan Pak MJ betah dan masuk dari satu wilayah ke wilayah lain. Apa hayo?? Makan gratis, ya nguliner Betawi gratis. Beberapa wilayah menyediakan makanan gratis lho. Saya dan Pak MJ alhamdulillah makan sampai tiga kali yakni makan soto betawi di Jakarta Utara, lalu makan bakso di Jakarta Selatan, terakhir makan soto mie di Jakarta Timur. Sebenarnya sih, saya mengincar dodol betawi yang sedang dibuat, tapi ditungguin lama nggak matang-matang. Hahaha belum rejeki kali ya. 

Belum Rejeki di Sini :)
Keseruan kegiatan tersebut semakin bertambah ketika masing-masing wilayah menampilkan hiburan yang mendatangkan artis-artis ibukota seperti Mpok Nori, Bolot, Bang Madid (kurang tau nama lengkapnya), dan masih banyak lagi. Kebayang dong, bagaimana rame dan serunya acara tersebut.

Sumpah nih ya, baru kali ini kami bisa jalan-jalan hemat. Uang yang kami keluarkan nggak sampai tiga puluh ribu, dengan rincian sebagai berikut :

  • Transport KRL PP 2 orang : 2 x 9ribu = 18ribu
  • Snack di Depok Lama        :                      5ribu
  • Parkir di stasiun                :                      4ribu

         Total                       :                    27ribu

Murah banget kaaaannn? Widiw, saya dan Pak MJ berharap banget semoga di Jakarta dan daerah sekitarnya sering mengadakan acara seperti ini. Kalaupun harus bayar, tak apalah asal jangan mahal-mahal, kalau perlu gratisan *berharap banget*. Bagi kami, dengan adanya acara seperti ini masyarakat dapat terhibur dan mereka bisa melepas penatnya sejenak. Kami senang bisa tertawa bersama pengunjung. Kami senang bisa melihat berbagai pertunjukan seni dan budaya. Kami senang karena mendapat makanan gratis hehehe. Kami senang karena acara ini untuk melestarikan budaya yang ada, khususnya budaya Betawi.




Continue Reading…

[KEB]ersamaan yang Selalu di Hati

Saya yang sudah berbulan-bulan tidak ngeblog dan membuka facebook hanya di saat tertentu saja, ketinggalan berita kalau KEB mengadakan silaturahim dan kopdar serentak di enam kota di Indonesia (bener apa enggak sih?). Untungnya hati ini tiba-tiba pengen banget membuka facebook dan kaget ketika tau KEB Jabodetabek diadakan di Depok. Tanpa pikir panjang, saya langsung mendaftar meski di hari akhir.

Saya memang baru di dunia tulis-menulis maya ini, apalagi ikut KEB. Makanya saya sempat dag dig dug juga kalau kopdar nanti saya hanya celingukan dan bingung karena kenalan sedikit. Jujur saja, ini acara kopdar pertama yang saya ikuti. Hanya bermodal nekat dan pede sedikit, saya masuk ke Mang Kabayan, restoran Sunda yang parkirannya luas dan suasananya nyaman. Ah, tempat ini mengingatkan saya pada perayaan tahun baru setahun lalu bersama suami. 

Sesampainya di tempat yang sudah dipesan, ada Mak Sari, Mak Sumarti Sulaen, Mak Arin, Mak Diah, dan beberapa emak lain yang saya kenal dan enggak (maaf ya mak). Eh, emak-emak KEB ternyata kece-kece, mereka berpakaian sesuai dresscode dan ada pula yang enggak. Hanya saja, mata saya tertuju pada emak yang berbaju bunga-bunga merah. Orangnya kecil tapi sangat enerjik. Belakangan saya tau, beliau Mak Fadlun yang seharusnya membawa cireng ternyata enggak bawa *emak-emak kecewa*. 

Wah, ternyata (lagi) emak-emak KEB itu orangnya baik-baik, mereka tidak membedakan mana anggota lama dan yang baru. Semua dirangkul tanpa ada perbedaan status dan usia. Saya yang semula jiper jadi nyaman dan ngobrol ringan dengan mereka.

KEBersamaan di Mang Kabayan-Depok
Setelah dibuka oleh Mak Board Sary Melati, acara yang dipandu Mak Aulia Gurdi dan Mak Wylvera ini dilanjut dengan games seru. Ada lomba makan kacang pakai sumpit (dari lidi), lomba makan mie pakai satu sumpit, dan menyusun korek api membentuk huruf 'KEB 14'. Acara KEBersamaan ini semakin rusuh karena teriakan emak-emak untuk menyemangati timnya agar menang. Saya enggak menyangka kalau di meja Mak Diah ada banyaaaak sekali hadiah yang tersedia bahkan di akhir acara emak-emak berebutan mengambil hadiah yang diobral. Tetep ya, kalau gratisan dimana-mana rame dan seru. Alhasil, beberapa emak ada yang membawa hadiah lebih dari satu. Asyik banget kan?

Keceriaan dan kesuksesan acara ini tentu tak lepas dari tangan emak-emak panitia yang mau meluangkan waktunya mengurus ini dan itu dengan segala kerempongannya. Ucapan terimakasih dan jempol dua tangan layak diberikan atas kerja kerasnya membuat acara yang seru ini. Jangan kapok ya, emak-emak panitia, hehe.

Berkat acara kopdar ini, saya jadi kenal dengan emak yang sama-sama tinggal di Depok. Semoga saja jalinan silaturahim tidak hanya di dunia maya namun bisa berkontribusi positif di kehidupan nyata. Jujur, saya tidak salah pilih dan senang bergabung di KEB. Ditunggu ya KEB acara-acara seru lainnya.


Continue Reading…

Saturday, September 13, 2014

Mie Ayam 'Choy'

Tinggal di Depok memang anugrah karena banyak sekali kuliner yang enak dan murah. Berhubung rumah saya di daerah Kalimulya, tentu wajib hukumnya mencari kuliner favorit di daerah tersebut, yaitu mie.

Untuk mencari tempat makan yang enak atau digemari masyarakat, saya dan suami biasanya cukup melihat tempatnya dari kejauhan yakni rame atau enggak. Kalau tempatnya rame biasanya ada dua sebab, makanan di tempat itu enak atau bisa jadi karena murah. 

Dulu setiap lewat di Kalimulya tepatnya ke arah Taman Anyelir, saya selalu melihat banyaknya kendaraan yang terparkir di salah satu rumah. Mungkin itu bengkel las yang pekerjanya banyak, pikir saya saat itu. Lama kelamaan dugaan itu meleset. Ternyata tempat tersebut adalah warung mie ayam.

Namanya mie ayam 'Choy'. Bangunannya sederhana karena menempati teras rumah yang disulap menjadi tempat makan beratap asbes. Menurut saya, mie ayam ini terus berkembang. Dari parkiran yang semula gratis, sekarang ada yang menjaga dan harus bayar. Dulu hanya berlantai semen, sekarang sudah ada ubinnya. 

#Lokasi
Mie ayam 'Choy' letaknya di Jalan Raya Kalimulya, tidak jauh dari perempatan GDC KSU- Kalimulya ke arah Taman Anyelir, sekitar 500m di kiri jalan. 

Lokasi Mie Ayam 'Choy'
#Menu
Seperti pada umumnya warung mie ayam, pastinya ada mie ayam pangsit, bakso, dan mie ayam jamur beserta aneka minuman dan kerupuk.
Mie Ayam Jamur-Pangsit

#Rasa
Saya cocok makan di sini karena rasanya pas di lidah. Mienya setau saya sih enggak dibuat sendiri begitu pula dengan baksonya. Tetapi bumbu ayam dan jamurnya yang tidak terlalu manis, cocok di lidah saya. Mungkin ini yang membuat ketagihan.

#Harga 
Seperti yang sudah saya bilang tadi, saya mengalami fluktuasi  harga yang berbeda *halah bahasanya*. Dari harga sembilan ribu dan sekarang berkisar sebelas ribuan. Untuk minumnya sekitar dua ribu sampai empat ribuan. Cukup terjangkaulah.

Oia, kalau saya lewat mie ayam ini kadang tutup sewaktu-waktu tanpa pemberitauan, seringnya saat Jumatan. Mungkin karena pegawainya laki-laki jadi mereka sholat Jumat dulu, setelah itu biasanya buka lagi.

Kalau weekend, mie ayam ini buka sekitar jam 10 pagi dan jam 4 sore biasanya sudah habis. Hindari makan pada jam makan siang pas weekend karena rame banget.

Setelah teman-teman mengurus keperluan di komplek Pemda GDC atau setelah capek belanja di pasar pagi GDC, silakan mampir biar enggak penasaran sama rasanya ^_^
Continue Reading…

Cara Simple Menggoreng Mete

Haduuuuhh, blogku kotor bangeeeettt *bersih-bersih dulu*. Dua bulan saya tidak aktif di dunia perbloggeran, ternyata banyak sekali info dan GA yang terlewatkan. Tak apalah, sekarang dengan kekuatan bulan saya akan ngeblog lagi *ala Sailormoon*.

#Bismillah..

Seperti biasa, setiap pulang mudik lebaran ibu selalu memberi mete satu plastik kira-kira beratnya setengah kilogram. Jika tidak diingatkan suami, saya hampir lupa kalau masih mempunyai stok mete mentah. Daripada bulukan, akhirnya hari Rabu kemarin saya goreng.

Kalau menggoreng mete, saya tidak pernah memberi bumbu apa-apa karena kata ibuku biar manis dan gurih dari metenya terasa. Jadi begini menggoreng mete ala saya :

1. Panaskan air (kira-kira cukup untuk merendam mete).
2. Setelah mendidih, tuang air ke dalam baskom dan masukkan mete.
3. Tunggu kira-kira 10-15 menit sampai air agak dingin.
4. Buang air dalam baskom.
5. Cuci mete dengan air dingin.
6. Panaskan minyak goreng dan masukkan mentega secukupnya (saya masukkan 3 sdm).
7. Goreng mete dengan api sedang.
8. Jika sudah kekuningan, angkat dan tiriskan.

Yup, setelah digoreng, rasa asin dan gurih mete berasal dari mentega yang dimasukkan ke dalam minyak goreng. Mudah kan?

Kalau teman-teman cara menggoreng metenya bagaimana?

Mete Ala Saya


Continue Reading…
Powered by Blogger.

Recent Posts

    Follow Me

    Page Views

    Copyright © Pipit Widya | Powered by Blogger
    Design by Saeed Salam | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com