Tuesday, October 28, 2014

Menteri Perempuan Merokok, Yay or Nay?

Lagi anget-angetnya membicarakan Kabinet yang baru, dong. Kabinet Kerja, itu namanya. Nama yang sesuai dengan harapan Pak Presiden biar bapak dan ibu menteri banyak kerjanya. Hari Minggu diumumkan dan esoknya langsung dilantik. Saya nggak mempersoalkan siapa-siapanya yang menjabat menteri, karena saya nggak terlalu suka politik. Bagi saya, para menteri kerja untuk Indonesia yang lebih baik itu sudah cukup.

Oia pasti kenal dong sama ibu menteri yang kayaknya jadi hits. Namanya Ibu Susi Pudjiastuti. Saya nggak tahu itu siapa kalau nggak baca berita yang menyebut beliau pemilik maskapai 'Susi Air'. Bu Susi menjadi hits karena pendidikannya yang nggak lulus SMA. Beliau dikeluarkan pas kelas 2 SMA karena waktu itu mengajak golput. Jiaaaahh, zaman segitu kan zamannya orde baru yang main stream ya. Berani bener! Meski nggak lulus SMA, pengalaman beliau di bidang perikanan sudah 33 tahun dan seorang pekerja keras. 

Daaaan sudah dua hari ini di halaman facebook saya banyak komentar tentang ibu tersebut gegara foto ini 



Ya, Ibu Menteri merokok di depan jurnalis usai pengumuman kabinet baru. Bu Susi yang casual dan kayaknya nggak betah dengan baju dan forum resmi langsung duduk dan mengeluarkan rokok saat wartawan sedang wawancara usai acara tersebut. Beliau dengan santainya merokok. Mungkin juga ini menandakan beliau yang apa adanya, sih. Kabar yang saya baca menyebutkan juga kalau ibu ini juga punya tato. Nah, lo. Nyentrik banget kan? 

Saya tidak suka rokok tapi bapak dan adik-adik saya perokok. Alhamdulillah sih Pak MJ, suami saya, nggak merokok. Masalah merokok, bagi saya sah-sah saja tapi sayang banget kesehatan dan duitnya. Sayang aja gitu melihatnya. Ibaratnya tuh kayak kita mencari uang susah payah terus dibakar. Yah, sayang banget kan? Padahal kalau dikalkulasi saat skripsi saya doeloe, uang merokok sebulan itu bisa untuk beli susu anak. Lumayan kan? Nah, kalau harga rokoknya yang mahal, bisa untuk membeli sesuatu yang lebih daripada susu anak kan?

Dalam kasus ibu menteri tadi, menurut saya sah-sah saja beliau merokok tapi mbok yao jangan pas wawancara atau di tempat umum. Sekarang kan beliau menteri, otomatis sekarang beliau menjadi panutan staf-stafnya dan masyarakat pasti banyak banget yang melihat itu dan komentarnya beragam. Sebaiknya kalau merokok sesuaikan dengan waktu dan tempat. Apalagi sekarang, Pak Presiden sedang melakukan revolusi mental. Lha apa kata dunia nanti? 

Pandangan dan komentar dari masyarakat pasti beragam. Ada yang bilang 'lebih baik perokok daripada korupsi' atau 'yang penting kerjanya, bukan penampilannya' atau 'Nggak panteslah jadi menteri. Lulus SMA aja enggak, perokok, tatoan lagi.' Macem-macemlah komentar mereka. Kalau menurut saya sih, lebih baik nggak merokok dan nggak korupsi *ambil enaknya saja haahaha*. Memang sih, manusia nggak ada yang sempurna. Meski di luar sana juga banyak perempuan yang merokok seperti Ibu, tapi alangkah baiknya jika Ibu Menteri dapat bersikap dan bertingkah laku sesuai tempatnya. Selamat bekerja ya, Bu. Semoga bisa membawa bahari Indonesia seperti di Jepang syukur-syukur bisa lebih baik *aamiin*. 

Kalau menurut teman-teman, menteri perempuan merokok, yay or nay?









18 comments:

  1. saya nggak baca kabar, baru tau di sini, sungguh mengenaskan. Memang bahas rokok ini kontroversial, tapi nggak gitu juga dilakukan menteri di depan kamera :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Setuju mba, jangan di depan kamera ya..

      Delete
  2. Mengapa seorang menteri perokok menjadi sebuah masalah . Apakah kinerja seorang menteri diukur dari merokok atau tidaknya dia? ..Seorang gubernur wanita yang santun dan Islami ternyata sekarang menjadi seorang tahanan KPK karena kasus korupsi dan mendorong keluarganya untuk korupsi.. Lalu bisakah lahiriah seseorang dipakai menilai isinya.. Jangan terjebak dalam situasi politik yang sedang panas dan menjatuhkan... Biarkan mereka bekerja baru dinilai

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betu banget Pak, saya setuju. Jangan melihat orang dari luarnya saja ya, Pak..

      Delete
  3. iya di sosmed lagi sibuku tentang menteri ini yang merorokok dan punya tatto, kalau aku pribadi nay dooong, kenapa nay? ya ampun itu dilakukan di depan kamera/di depan publik :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Merokok boleh, asal nggak di depan kamera ya..

      Delete
  4. Kalo saya sih, santai aja nanggepinnya. Mending ditunjukan ditempat umum daripada sembunyi2. Kalo ketahuan media nerokok sembunyi2 pasti bakal berkembang lagi beritanya, si ibu menteri stress lah, depresi la krna tugas dari pak presiden. , presiden lg tuh yg kenah. Kalo mau jd panutan untuk bawahannya ya kerja keras itu baru bisa diconoh anak buahnya, kalo soal ngerokok mah anak buahnyabjuga tau buruknya ngerokok. Ya gak bakal dicontoh lah. Hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha mungkin si ibu ingin memberikan pesan seperti itu kali ya..

      Delete
    2. Tapi saya mengerti kalo banyak wanita yg gak setuju dgn gayanya ibu susi, solusinya kita hanya harus mulai terbiasa aja. Mulai menerima. Ibu susi tidak akan bisa memuaskan smua orang kan. :D

      Delete
  5. Susi yang sekarang bukan Susi yang dulu lagi. Menurutku dia harus segera hapus tatto dan mulai brenti merokok. Manteri lohhh ini, jadi panutan orang sebangsa dan setanah air.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Oh, gitu ya mba..
      Meski itu merupakan hak seseorang ya?

      Delete
  6. Menurutku perempuan merokok jelas-jelas NAY! Tapi utk Bu Susi mungkin perlu waktu utk adaptasi.
    Yg namanya merokok itu kan kebiasaan, org yg gemar merokok itu pecandu, jadi ga bisa habis dilantik jd menteri langsung diminta berhenti. Waktu diwawancara itu mungkin beliau juga belum terbiasa, masih belum sadar kalo dirinya udah jadi menteri. Lha wong beberapa jam sebelumnya statusnya masih pengusaha.
    Jadi menurutku sih tunggu aja dulu perubahan sikapnya sampai beberapa hari/minggu. Kalo beliau masih berani ngerokok pas diwawancara/di depan publik, ya diprotes aja.

    ReplyDelete
    Replies
    1. This comment has been removed by the author.

      Delete
    2. Hehehe sepertinya belum terbiasa ya, Mba..

      Delete
  7. Kalo saya sih ga masalah sama ibu menteri yang merokok toh rokok bukan kejahatan juga. Yang penting beliau kerjanya beneran bagus aja nantinya.

    ReplyDelete
  8. menurut saya, jangan menilai seseorang hanya dari luarnya saja.
    beliau ini hanya seseorang lulusan SMP tapi bisa ditunjuk sebagai Menteri. Dalam hal ini mungkin, pak jokowi sudah tahu kalau bu susi ini merokok tapi pak jokowi lebih memprioritaskan bu susi yang pekerja keras :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Setuju, Kang.
      Jangan menilai orang dari luarnya saja..

      Delete

Powered by Blogger.

Recent Posts

    Follow Me

    Page Views

    Copyright © Pipit Widya | Powered by Blogger
    Design by Saeed Salam | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com