Sunday, November 30, 2014

Kangen Pak Bei

Setiap hari bapak berlangganan korannya orang Jawa Tengah di kantor. Jadi setiap pulang kantor bapak selalu membawa koran. Untuk koran weekend, yakni hari Sabtu dan Minggu nggak didapat dari kantor. Seringnya bapak membeli di loper koran langganan dekat Kantor Pos Semarang. Bapak hanya membeli koran hari Sabtu sedang hari Minggu selalu tak ada koran di rumah. Padahal di hari tersebut ada rubrik yang kutunggu. Rubrik yang membuatku tersenyum sendiri dan mengiyakan cerita di dalamnya.

Rubrik tersebut bernama Pak Bei, merupakan tokoh komik kartun karangan Masdi Soenardi. Tokoh ini sangat terkenal di kalangan orang Jawa Tengah kala itu. Pak Bei tokoh yang sok tahu, nggak mau rugi, berpeci hitam, dan sering bernasib buntung. Kasihan sekali. Sedangkan tokoh 'Bu Bei' diceritakan sebagai istri yang polos. Cerita kehidupan Pak Bei sangat lucu. Mengupas topik-topik yang hangat dengan gaya humor khas. Topik kenaikan BBM, harga sayur mayur, pemilihan capres, atau tentang kehidupan bertetangga semua dikemas dengan apik. Setiap yang membaca kisahnya pasti akan ketagihan cerita selanjutnya, menanti seminggu lagi. Ada pesan moral yang disampaikan lewat cerita Pak Bei. Sungguh, Pak Bei bagai candu. Dan, aku terkena candu tersebut.



Sekarang aku nggak tahu apakah komik Pak Bei masih muncul di harian tersebut atau nggak. Mengingat saat ini aku menetap di kota lain. Yang kutahu ternyata pencipta tokoh kartun tersebut sudah meninggal dunia. Sewaktu tanya mbah google, aku baru tahu kalau komik Pak Bei pernah dibukukan. Sayang, aku belum memiliki komik tersebut.  Ah, Pak Bei.. Pak Bei..aku padamuuuu... 



*sumber gambar diambil dari sini 
Continue Reading…

Bersyukur

Alhamdulillah, saya hari ini dapat membuat beberapa postingan. Hal ini nggak saya sangka sebelumnya karena mengawali agak telat. Bangun untuk bertemu Tuhan agak kesiangan. Tapi saya masih bisa bersyukur merasakan nikmat-Nya yang luar biasa, nikmat yang tak hentinya diberikan kepada saya. Awalnya saya merasakan bahwa hari ini akan mendung. Tiupan angin yang kencang membuat pohon-pohon di sekitar rumah memberikan suara yang indah. Angin semilir dari pagi sampai detik ini mengetik pun masih saya rasakan. Hari ini cerah dan hawanya adem banget. Masakan lezat yang dari kemarin saya masak masih bisa disantap. Ah, terlalu banyak nikmat-Nya jika harus dijembrengkan di sini.

Bersyukurnya lagi, dengan membuka grup yang saya ikuti ternyata ada beberapa lomba. Meski mepet deadline, alhamdulillah saya masih bisa mendaftar menjadi peserta. Sebenarnya saya ikut lomba itu karena ingin menambah postingan. Yang semula nggak ada ide malah lancar sekali menuliskan kata per katanya. Sesuatu yang kalau dipaksa maka akan bisa. Apa iya, otak saya harus dipaksa terus seperti ini? *hehe*. Saya hanya mengambil sisi positifnya saja. Jika layak mendapat hadiah maka akan saya syukuri tapi jika nggak dapat pun tetap saya syukuri karena dengan adanya lomba-lomba tersebut saya bisa menambah postingan. Maklum, bulan ini saya banyak absen ngeblog. Apalagi kalau bukan si malas sedang menemaniku sepanjang hari itu. Ah, jangan salahkan si malas. Coba berkaca pada diri sendiri saja dan memaknai hari ini dengan bijak atas semua kejadian membuat lebih bahagia. 




-Selamat Hari Minggu, Kawan-


Continue Reading…

Mencintaimu dengan Sederhana

M.e.n.i.k.a.h

Hal yang dianggap sakral oleh semua orang tak terkecuali keluarga besarku. Mereka awalnya sempat bingung dengan diriku saat itu yang jauh dari kata dekat dengan lelaki. Aku memang tidak suka pacaran. Tak ada lelaki yang main ke rumah kala aku remaja. Mungkin hal ini akibat dari banyaknya teman-teman cantikku saat SMP yang cepat sekali punya pacar. Mereka yang terlihat cantik apalagi orang berada dapat dipastikan punya gandengan entah teman sebaya, kakak kelas atau kakak alumni. Jika mereka putus dari pacarnya tak berselang lama mereka pasti dapat gantinya, biasanya kakak kelas atau teman sebaya. Aku melihatnya kok aneh. Apa benar dia bisa secepat itu melupakan mantannya? Apa arti cinta bagi mereka? Kok seperti (maaf) piala bergilir saja, pikirku kala itu. Mungkin karena kejadian itu, aku bertekad untuk pacaran sekali seumur hidup, pacaran dengan laki-laki yang serius sampai menikah nanti. Alhamdulillah Tuhan mengabulkan permohonanku.

Saat ini aku sudah menikah dengan laki-laki yang kucintai. Hampir lima tahun usia pernikahanku. Kami memulai semua dari NOL, berpisah dengan keluarga besar karena harus ikut suamiku yang bekerja di Jakarta. Aku harus melepaskan pekerjaanku dan mencari pekerjaan baru di ibukota. Menyesuaikan diri dengan lingkungan yang baru dan sama sekali tak kukenal awalnya berat. Untungnya suamiku sangat sabar dan selalu menyemangatiku. Masa-masa rumah kontrakan mungil dan panas sempat aku lalui sampai akhirnya kami bisa mempunyai rumah sendiri. Rumah yang lapang tapi masih berdua. Asisten ada memang tapi part time, tidak menginap. Dia sudah ikut dengan kami sejak aku masih bekerja. Untung dia betah. Mau dilepas kadang aku merasa kasihan. 

Setelah menikah banyak sekali hal-hal baru yang kudapat. Bukan hanya soal kehidupan 'pemuas' lawan jenis tapi lebih dari itu. Aku merasakan bahwa ternyata ada makhluk yang benar-benar bisa bahagia tanpa dihitung dari materi. Pergi berbelanja ke pasar berdua, bersih-bersih rumah berdua, tertawa bersama, menangis bersama, bahkan dengan cerita hal-hal kecil pun membuatku bahagia. Aku merasakan bahwa kehadiranku ada.

Meski aku belum menjadi wanita yang sempurna, tapi aku yakin aku akan segera menjadi sempurna. Karena inilah kadang kami merasa sepi. Apalah arti berdua kalau tidak bisa menjadi bertiga, berempat, berlima, atau mungkin selusin? Hahahaha yang benar saja, apa mau rumah ini menjadi anggota tim sepak bola yang penuh?   Eh, tapi apakah menikah hanya itu tujuannya? Mengharap tambahan pahala bisa dilakukan dengan melakukan apa saja dan kapan saja kan? Tak melulu dengan suami tapi juga dengan keluarga besarnya. Selalu memberi kabar yang enak didengar itu janjiku dansuami. Jangan sampai orang tua masing-masing menjadi sedih karena kami bertengkar meski pertengkaran pasti ada tapi itu semua bisa diatasi.

Menjadikan rutinitas sehari-hari suamiku menjadi tempatku untuk mengabdi kepadanya. Menyiapkan sarapan dan bekal ke kantor dan mengurus rumah meski ada asisten itu yang kulakukan. Dari dulu aku memang tak sepenuhnya menyerahkan semua pekerjaan kepada asisten. Jika aku bisa, akan lakukan sendiri. Apalagi saat ini setelah aku memutuskan untuk beristirahat dari kesibukan kantor. Aku lebih banyak menyapa tanaman di rumah, menyapa barang-barang lucu yang kupajang di rumah. Setiap kali melihat mereka, yang kuingat adalah kebersamaanku dengan suami saat membeli. Pergi berdua dan mencari barang-barang tersebut membuatku tersenyum sendiri. Apalagi jika ada proses tawar menawar yang alot. Hahahaha itu menjadi bumbu penyedap untuk mendapatkannya. Puas jika barang tersebut jatuh ke tangan kami. 

Sampai sekarang aku berusaha menjadi pendengar setia suami setelah beliau pulang kerja. Adaaa saja hal-hal yang diceritakannya. Dari temannya yang suka berbisnis, kabar temannya yang kukenal, atau jika bosnya sedang marah. Semua kudengar sambil imajinasiku melayang membayangkan apa yang diceritakannya. Sosok temannya yang diceritakannya punya bisnis adalah sosok yang berkacamata dan kumisan. Kabar teman yang kukenal pasti sekarang tambah gendut karena dia suka makan. Dan kenapa temannya yang lain belum menikah juga padahal dia perempuan yang matang, mapan, dan sangat mengerti agama. Ah, itu semua  hanya dalam khayalanku. 

Menghadapi semua yang telah kami lalui dengan sabar, senyum, dan saling mengerti itulah yang kurasakan. Aku sangat bersyukur kepada Tuhan atas karuniaNya kepadaku. Memberikan pendamping yang sangat sabar dan pengertian akan kondisi kami saat ini. Meski suamiku tak sempurna tapi dia membuatku mengerti akan hadirku untuknya. Aku juga merasa belum menjadi istri yang baik. Aku hanya ingin membahagiakan suamiku dan keluarga besarku. Aku hanya ingin mencintai suamiku dengan cara yang sederhana. 









Continue Reading…

Serba-serbi Online Shop

Saat ini bisnis online sudah nggak asing lagi di masyarakat apalagi online shopping. Banyak banget olshop yang menawarkan aneka dagangan di situs-situs belanja. Bahkan ada juga yang serius menerjuni bisnis ini dengan membuka website.  Banyak juga mereka yang sukses dengan berbisnis online. Bisnis olshop itu enak-enak nggak. Saya di sini berperan sebagai konsumen dan penjual. Enaknya sebagai pembeli itu lebih efisien waktu karena nggak perlu capek harus membeli ke tempatnya langsung. Kalau saya sedang pengen sesuatu tinggal searching dan aktivitas ini membuat lupa waktu karena asyik mencari barang di olshop. Saya juga pernah kecewa loh saat membeli baju yang ternyata nggak sesuai dengan tubuh saya atau nggak sesuai dengan gambar. Sebagai penjual online ada enak dan nggak enaknya juga. Yang paling enak menjalankan bisnis online ini adalah fleksibilitas waktu dan nggak butuh ruang yang besar. Bisnis ini bisa dilakukan dimana saja sambil jalan-jalan atau mengurus keluarga di rumah. Enak kan kemudahan di bisnis online?

Tapi hal ini beda banget dengan apa yang saya jalani sebagai penjual. Kalau diingat lagi, saya mulai berjualan di olshop tahun 2011. Saat itu saya menggunakan facebook sebagai media untuk berdagang. Saya membeli kerudung pasmina dari agen lalu dijual. Lumayan juga sih sebenarnya karena kerudung hanya sisa satu dari beberapa lusin yang saya pesan. Setelah itu saya lanjut berjualan mie sayuran dan bumbu penyedap non MSG. Sempat laris karena yang beli teman-teman kantor dan tetangga. Yah, ternyata koneksi di kantor sangat manjur atau mungkin mereka kasihan sama saya *hiks*. Semakin ke sini semangat saya untuk berjualan naik turun. Karena kesibukan kantor saat itu maka olshop saya terbengkalai. Bumbu penyedap yang menjadi stok di rumah menjadi terbuang sia-sia. Sejak itu saya agak sedikit trauma dan menutup olshop.

Setelah resign setahun lalu saya sempat membuka olshop lagi. Saya berjualan aneka baju dan jilbab. Karena kejadian yang dulu nggak mau terulang maka saya menerapkan sistem dropship. Ada sih satu dua reseller yang pesan tapi untung dari penjualan tersebut belum bisa menutup biaya pulsa internet sebulan *hiks*. Saya berjualan karena hobby dan mengambil untung hanya sedikit. Jeleknya saya yang pertama, kalau jualan tuh sering ngepoin toko sebelah dan membandingkan harganya. Sebisa mungkin harga di olshop saya sama atau malah lebih murah dibanding olshop tetangga. Tetapi kadang hal ini menohok hati saya karena untung benar-benar mepet. Parahnya lagi, ketika membuka olshop reseller yang beli di saya eh nggak tahunya reseller tersebut menaikkan harganya gila-gilaan. Dia ambil untungnya gedhe banget. Sempat sedih dan merasa bingung, apa yang harus saya lakukan saat itu. Menaikkan harga dengan untung sedikit nambah, tapi harga lebih mahal dibanding toko tetangga atau menyamakan harga dengan toko tetangga tapi untung mepet. Saya benar-benar bingung saat itu.

Kejelekan saya yang kedua, saya itu moody banget kalau jualan. Misalnya pas saya sedang ada masalah atau sedang menghadapi suatu kejadian maka saya sering nggak jualan. Tapi kalau tertarik suatu hal atau insting jualan saya lagi oke, maka saya buka olshop. Olshop buka tutup mungkin itu yang pas buat saya *hehe*. Lha saya nggak konsisten jualan soalnya. Dari Oktober kemarin sampai sekarang saya menutup olshop lagi. Padahal beberapa reseller banyak yang nanyain. 

Dari beberapa pengalaman tersebut maka saya akan sharing hal-hal yang berhubungan dengan olshop baik sebagai pembeli atau penjual.

#Telaten
Peran sebagai pembeli atau penjual, ini penting banget. Sebagai pembeli telatenlah mencari penjual yang memberikan harga yang lebih murah. Di olshop itu penjual bisa dikategorikan penjual tangan pertama, kedua, dst sampai tangan seribu *lebay*. Nah, usahakan mencari penjual yang tangan pertama karena harganya pasti lebih murah. Kalo sebagai penjual hampir mirip dengan pembeli, wajib telaten mencari supplier yang lebih murah agar harga barang yang dijual nanti dapat bersaing. 

#Terpercaya
Bisnis olshop itu pada dasarnya bisnis kepercayaan. Sekali konsumen dibohongi maka efeknya toko kita akan sepi atau malah disebarluaskan di dunia maya kalau olshop kita pembohong. Nah sebagai penjual atau pembeli carilah toko yang benar-benar dapat dipercaya agar teman-teman nggak rugi baik rugi uang atau rugi waktu dan yang penting biar nggak sakit hati. Salah satu olshop yang dapat dipercaya cirinya mereka biasanya akan memasang foto aktivitas yang terjadi di toko tersebut.

#Konsisten
Nah, ini wajib dimiliki oleh penjual. Olshop yang konsisten memposting akan ramai dibanding yang jarang posting. Jangan seperti saya yang belum konsisten jualan di olshop *hehe*. Kalau pembeli mau konsisten belanja juga nggak papa kok asal kantongnya nggak jebol. :)

#Sistem 
Kalau teman-teman sudah mendapatkan olshop yang sreg, tanyakan bagaimana sistem pembelian di olshop tersebut. Apakah harus transfer dp dulu atau harus cash atau malah bisa COD. Sedangkan untuk penjual juga demikian. Tanyakan dulu sistemnya dan pelajari dengan baik agar nggak rugi-rugi amat seperti saya *curcol*. Bagi pemula sebaiknya mencari supplier yang bisa melayani sistem dropship jadi kita nggak perlu menyetok barang dirumah sehingga efek ruginya bisa diminimalkan. Kalau sudah punya pelanggan yang banyak, bisa membeli secara grosiran atau malah menjadi agen.

#Jenis Barang
Khusus untuk penjual dan berkaitan dengan 'sistem' di atas. Ada loh supplier yang nggak mau ngecer dan harus beli seperti agen. Nah, sebelumnya pikirkan dulu apakah jenis barang tersebut akan cepat laku dijual atau jika lakunya lama apakah barang tersebut awet atau cepat kadaluwarsa. Pikirkan lagi tentang hal ini. Sedangkan untuk pembeli sebaiknya lebih teliti lagi terhadap barang yang mau dibeli secara online. Nggak semua barang bisa diberi online. Kalau saya pernah nggak cocok beli baju di olshop karena ternyata tubuh saya nggak cocok dengan model bajunya. Padahal model baju di gambar tersebut cantik banget *ya iyalah artis bo'*. Jangan cepat tergoda dengan foto yang ada di olshop. Ada beberapa barang yang saya nggak mau beli di olshop diantaranya kosmetik, sepatu, sandal, dan barang elektronik. Saya mau yang aman dan nyaman untuk diri saya sendiri.

#Rekening
Nah, ini penting nih. Sebagai pembeli atau penjual sebaiknya mencari supplier yang banknya sama dengan kita. Kenapa? supaya kita nggak kena cas tambahan waktu transfer. Ini termasuk prinsip ekonomi kan? Mengeluarkan biaya seminim mungkin *hehe*.

#Ekspedisi
Ekspedisi itu juga berpengaruh loh dengan olshop kita. Carilah ekspedisi yang biayanya minim. Meskipun demikian ada pula yang ekspedisinya sesuai keinginan pembeli. Ekspedisi ini ada yang bisa menjangkau daerah terpencil dan ada yang nggak. Saya juga pernah mengalami hal ini. Pulsa lumayan berkurang karena untuk bolak-balik telepon menanyakan barang sudah dimana karena pembelinya bawel. 

#Nomor Resi
Sebagai pembeli dan penjual yang baik jangan lupakan nomor resi. Kalau kita sebagai pembeli, kita bisa melacak barang kita lewat web yang tersedia dan kita tahu apakah barang sudah dikirim atau belum. Sebagai penjual, pelayanan untuk memberi nomor resi ini penting karena pembeli akan lega bila sudah diberi resi dan tentunya akan menambah kepercayaan konsumen untuk berbelanja di olshop kita. Meski pembeli nggak minta resi, beritahukan no resi mereka. Paling sebel kalau dapat supplier yang lamaaa banget ngasih nomer resi. Sebagai penjual dropship kita sudah diomelin pembeli karena resi nggak turun-turun. Padahal maunya kita juga cepet tapi apalah daya supplier lelet *curcol lagi*.

#Promosi
Jangan lupa untuk promosi di medsos yang lagi in. Dengan rajin berpromosi maka olshop semakin dikenal dan siapa tahu akan banyak konsumen yang beli.

#Networking
Jalinlah networking yang baik antara kita dengan supplier agar tercipta komunikasi dua arah. Pertahankan terus networking ini. Menjalin silaturahim dengan banyak orang nggak ada salahnya kan?

#Tahan Banting
Nah, ini yang belum ada pada diri saya. Saya itu gampang stress kalau ketemu pembeli yang bawelnya minta ampun. Padahal bisnis online sangat membutuhkan sifat ini. Huhuhu mungkin karena saya nggak tahan banting, maka sering buka tutup olshop. Ssssttt, jangan ditiru ya.


Eeeemmmmhh, itulah pengalaman saya yang berhubungan dengan olshop atau lebih tepatnya curcol. Hehehe gerakan maju mundur cantik saya untuk jualan atau berbisnis semoga bisa menemukan jalan yang tepat biar  menghasilkan seperti mereka yang sudah sukses. 


-Postingan ini diikutkan dalam GA Toko Online-











Continue Reading…

Saturday, November 29, 2014

Sambal Tumpang : Olahan Mantap dari Tempe Busuk

Saya suka banget sama sambal tumpang. Masakan ini terbuat dari tempe busuk. Iya, tempe busuk. Ih, enak banget loh tempe ini diolah. Baunya khas, nggak bau busuk. Nah, Senin kemarin saya membeli tempe dan sengaja dibusukkan. Membusukkannya di taruh di tempat terbuka saja, jangan dimasukkan di kulkas. Saya taruh di piring dan ditutup sama wakul kecil yang bolong-bolong. Alhamdulillah, hari ini tempenya sudah bisa diolah. 

Makan sambal tumpang enaknya tuh anget-anget, yang pedes, dan ditambah lalapan. Ces, pada ngiler kan? Langsung saja ya, saya tuliskan resepnya.

Bahan :
Tempe busuk 1 potong, hancurkan setengah halus
Santan dari 1/2 butir kelapa, dipisah antara yang kental dan yang encer
Tahu coklat 10 buah
Minyak goreng secukupnya untuk menumis

Bumbu :
Cabe merah kriting 8
Cabe rawit setan 10
Bawang merah 6
Bawang putih 3
Daun salam 3 lembar
Lengkuas
Kencur kira-kira 2 cm
Daun jeruk 5 lembar
Garam secukupnya
Gula pasir secukupnya

Lalapan (Sesuai Selera) :
Bisa mentah seperti kenikir atau daun poh-pohan
Atau yang direbus seperti daun singkong atau daun ginseng
Kebetulan saya punya tanaman singkong dan daun ginseng di rumah, jadi saya pake untuk lalapan.

Cara membuat :
1. Haluskan bumbu
2. Tumis bumbu sampai harum
3. Masukkan tahu, tumis sebentar agar bumbu meresap
4. Masukkan santan encer
5. Biarkan tahu menjadi matang
6. Masukkan tempe yang telah dihancurkan
7. Biarkan kurleb 3 menit
8. Masukkan santal kental
9. Tunggu sampai mendidih.
10. Sajikan bersama lalapan

Suasana mendung seperti ini cocok banget makan sambal tumpang sama lalapan. Apalagi makannya pake tangan, bikin tambah dan tambah lagi :)

Sambal Tumpang dan Lalapan


Continue Reading…

Yuk, Bikin Daftar Syukur!

Ini ceritanya saya dapat pas ketemu salah satu besties. Kami memang janjian untuk ketemu makan siang sekaligus melepas kangen dan ngobrol ngalor-ngidul. Seperti biasa yang namanya emak-emak pasti curhat sana dan sini sampai besties tersebut cerita kalau dia sedang dirundung masalah dan membuatnya bete berhari-hari. Hal ini malah menjadikan dia membuat daftar syukur setiap hari. Kegiatan ini sudah rutin dilakukan selama sebulan.

Saya kaget juga sih karena saya memang sudah membuat daftar syukur tapi nggak rutin. Pertama kali saya membuat daftar syukur itu awal November kemarin. Saya hanya mencatat 10 hal-hal yang saya syukuri pada hari itu. Kegiatan ini saya lakukan tapi nggak rutin dan sering banyak bolongnya. Malah sering bikinnya pagi hari untuk nulis rasa syukur hari kemarin. Hal ini malah membuat saya lupa tentang hari kemarin dan cenderung malas untuk menuliskannya. :(

Kalau orang bikin wishing list itu sudah biasa kan ya tapi jarang banget orang bikin daftar ucapan syukur *em bener nggak sih pendapat saya ini*. Apa karena saya yang kuper ya, jadi baru tahu akhir-akhir ini saja. 

Awal saya membuat daftar syukur ini karena nonton Dian Sastro di acara Just Alvin. Waktu itu ada foto wishing list-nya Disas yang berjudul 'Repelita' jadi semacam target yang mau dicapai Disas selama lima tahun ke depan. Nah, si Disas ini malah komen balik kalau dia itu juga bikin 'daftar syukur'. Lupa deh dia sudah bikin berapa lama. Sayangnya, akhir-akhir ini Disas jarang bikin lagi. Kata Disas, dengan membuat daftar syukur tersebut hidup lebih enak dan nikmat yang didapat semakin banyak. Beneran loh ini ceritanya. Nah, waktu nonton tersebut saya jadi ingat salah satu firman yang bunyinya kurang lebih seperti ini, jika kita semakin banyak bersyukur maka Tuhan akan menambah nikmat kepada kitaDeg, mendengar ucapan Disas saya jadi mak ser ternyata LOA berjalan. 

Kejadian serupa juga saya alami ketika ngobrol dengan besties di tempat makan sambil menunggu hujan reda. Saya nggak nyangka besties tersebut membuat daftar syukur padahal dia bikin daftar tersebut juga nggak membaca atau tahu dari siapa-siapa. Dia hanya ingin melampiaskan kebeteannya karena masalah yang dihadapi dengan sudut pandang yang positif. Setiap hari besties tersebut membuat daftar hal-hal yang disyukurinya pada hari itu sebanyak-banyaknya. Dia menulis daftar tersebut di komputer kantor. Sebelum menulis daftar yang baru, dia akan membaca kembali daftar syukur hari sebelumnya. Sungguh, kata besties, hidupnya menjadi lebih tenang meski sedang ada masalah malah dia bisa melupakan sejenak masalahnya. Dia menjadi lebih bahagia. Dia menjadi lebih bijak menyikapi permasalahan. Daaaann, rejeki yang mengalir ke dia terus-terusan, bertambah setiap hari. Dia kadang nggak menyangka dapat rejeki yang datangnya tak terduga bisa lewat suami, teman, atasan, atau orang yang tak dikenal. Sungguh, mata saya terbuka lebar akan hal ini. 

Berkat kejadian tersebut saya berjanji akan merutinkan membuat daftar syukur setiap hari sebelum tidur. Saya akan menulis nikmat yang telah saya dapat pada hari itu sebanyak-banyaknya dan seingat saya. Dan, baru sehari hal tersebut saya praktikkan, pagi hari setelah bangun tidur rasanya seneeeeng banget. Ada rasa bahagia dan optimis menjalani hari baru. Saya menjadi bersemangat menjalani aktivitas di hari baru. 

Teman-teman, tanpa bermaksud menggurui mulai sekarang yuk menulis daftar yang membuatmu bersyukur setiap hari dan rasakan efeknya dalam kehidupan kita. Postingan ini saya buat untuk sekedar sharing terhadap apa yang saya alami. 


Continue Reading…

Thursday, November 27, 2014

Garuda Indonesia, Ajib!

Pengalaman pertama kali terbang dengan Garuda Indonesia bulan Februari kemarin saat ikut suami dinas ke Jepang. Campur aduk deh suasana hati saat itu. Seneng, pasti. Deg-degan, iya. Nggak sabar, tentu. Penasaran, banget! Gimana enggak penasaran, tiap suami pulang dinas pakai Garuda pasti ceritanya bikin mupeng. Saya yang menjadi pendengar kala itu hanya bisa berdoa dalam hati, semoga saya bisa terbang dengan Garuda Indonesia. Alhamdulillah, Tuhan mendengar doa saya :)

Suami mendapat tugas bersama satu orang temannya. Teman suami sudah terbang duluan memakai maskapai asing dengan rute yang sama dengan kami, yakni Jakarta-Narita. Kalau acara dinas pastinya semua akomodasi suami ditanggung kantor tetapi hal ini nggak berlaku untuk keluarga yang ikut. Jadi semua akomodasi milik saya praktis harus merogoh uang pribadi. Semula pihak kantor akan memesankan tiket maskapai asing yang sama dengan teman suami saya. Dasar kami pasangan yang ekonomis, ceki-ceki dulu dong ya tiket maskapai tersebut. Duwenk, mahal bo'. Setelah browsing sana-sini, akhirnya suami sreg dengan tiket Garuda Indonesia. Bisa dibandingkan tiket pesawat murah milik Garuda dengan maskapai lain dengan rute yang sama. Selisihnya lumayan banget. Bisa buat biaya hidup sebulan di sana loh. 

Kenangan Milik Suami

Pengalaman terbang dengan Garuda Indonesia tak kan saya lupakan. Saya masih ingat saat tas ransel diperiksa di bagian bea cukai. Sempat ditahan karena ada barang yang katanya nggak boleh dibawa. Lah, terus terang saya dan suami bingung karena merasa barang yang dibawa sesuai aturan. Dikeluarinlah barang kami satu per satu dari tas. Ternyata eh ternyata dua buah bumbu inti bergelaslah penyebabnya. Kami mempertahankan bawaan kami karena bagi kami itu bukan liquid tapi padatan. Teteeeep saja nggak boleh dibawa sama petugas bea cukai. Akhirnya petugas tersebut menyuruh suami untuk bertanya kepada staf Garuda. Setelah menunggu beberapa menit, suami datang bersama staf Garuda yang sayang saya lupa namanya. Staf yang masih muda tersebut bertanya ke kami dengan sopan,

 'Maaf, bapak, ibu, apakah nanti di Jepang lama?' 

Spontan kami menjawab, 'Lumayan, Mas, minimal tiga bulan.' 

Seketika itu pula staf yang tinggi tersebut memperbolehkan bumbu tersebut kami bawa. Yeay, baik banget staf Garuda. Daaaaan selama menuju ke lounge-nya Garuda, barang kami dibawakan loh sama mas tersebut. Ccccckkk, belum naik pesawatnya saja petugasnya sudah baik banget, yak. Pasti deh, petugas yang lain nggak kalah baiknya.

Benar saja, saat kami naik ke pesawat, sejumlah petugas yang kece-kece sudah menyambut kami dengan ramah. Mereka berpakaian rapi jali. Yang laki-laki berjas dan berdasi sedang yang perempuan memakai baju mirip kebaya dengan bawahan rok batik panjang. Wah, Indonesia banget. Mereka dengan sopan menanyakan kami seat nomor berapa dan langsung menunjukkan arah kemana kami harus menuju. Kami duduk di kelas ekonomi. Yang namanya ekonomi, beuh nggak kayak ekonomi maskapai lain. Sumpah nih, tempatnya lumayan luas dan penumpang dijamin nggak bakalan bosan karena ada banyak hiburan di Garuda. Mau ndengerin musik, oke. Mau nonton film, bisa banget. Mau ngegame, apalagi. Komplit banget deh hiburannya. Mau ndengerin lagu sampai diulang-ulang berapa kali pun, penyanyinya oke-oke saja tuh :)

Saya salut dengan pramugarinya. Mereka cantik-cantik. Yang patut diapresiasi, selain menugaskan pramugari Indonesia, pihak Garuda Indonesia juga menugaskan pramugari sesuai negara tujuan. Perpaduan yang pas. Pramugari asingnya tetap cantik kok memakai rok batik. Tak henti-hentinya mereka menawarkan minuman kepada kami. Saya juga melihat sendiri dengan sopan dan pelan mereka merapikan selimut penumpang lain agar nggak kedinginan. Di dalam pesawat tersebut saya dan suami duduk bersama satu orang Jepang. Sepanjang perjalanan, orang tersebut duduk tegak, tangan dilipat di dada, dan kepala menunduk. Tenang sekali orang tersebut. Saat pramugari mengambil sisa makanan di orang tersebut, gerakannya pelan dan hati-hatiii banget jadi nggak mengganggu aktivitas penumpang tersebut. Saat itu, saya sempat mikir pasti training pegawainya keren banget nih.

Kata suami saya yang sudah beberapa kali naik Garuda bilang kalau di Garuda jangan khawatir kelaparan. Makanan dan minumannya banyak kok. Mau minta tambah juga boleh. Bener loh, suami ternyata nggak bohong. Mau nambah minum, permen atau snack, boleh banget! Yang bikin saya takjub ternyata permen yang kondang di pasaran saja bungkusnya khusus untuk Garuda. Olalaaaaa, keren kan?

Sumber dari sini

Garuda Indonesia memang Indonesia banget, deh. Selain pramugarinya yang memakai batik, lagu-lagu yang diputar di pesawat juga lagu daerah Indonesia loh. Bahkan makanannya juga. Khusus untuk makanan Indonesia ternyata banyak disukai penumpang. Buktinya saya yang duduk di belakang nggak kebagian makanan Indonesia. Antara senang dan sedih sih. Senang karena makanan Indonesia sangat diminati baik penumpang lokal ataupun penumpang asing. Sedih karena saya sangat suka dengan makanan Indonesia dan nggak terbiasa dengan makanan asing. Sumpah ya, saya nggak henti-hentinya mengagumi maskapai terbaik Indonesia ini. Dari awal memang maskapai ini ingin memberikan kesan kepada penumpang bahwa kalau naik Garuda itu ya serasa di Indonesia. 

Pengalaman yang sama saya rasakan sewaktu kembali ke Indonesia. Jujur, ketika di Bandara Narita dan mengantri di bagian loket Garuda ada perasaan bangga dalam diri saya. Bangga karena saya naik maskapai negeri sendiri. Bangga karena banyak turis asing yang naik Garuda juga. Apalagi ada tulisan 'Indonesia'-nya, semakin melambungkan nama negeri ini di mata internasional. 

Beruntungnya kami naik Garuda Indonesia dari Narita ke Jakarta. Kenapa? karena pengurusan imigrasi dilakukan di pesawat, ciiiinnn. Jadi nggak usah capek antri ketika turun nanti. Petugas imigrasi akan keliling dan menghampiri kita. Prosesnya juga cepet banget. Pelayanan ini sangat memudahkan dan menguntungkan penumpang karena membuat waktu lebih efisien. Hal ini berbeda dengan yang dialami teman suami saya. Dia yang naik maskapai asing harus ngantri dulu di imigrasi setibanya di Jakarta. Top banget deh, maskapai terbaik Indonesia ini. 



Lah, kok saya cerita tentang penerbangan ke luar negeri ya? Emang penerbangan domestik gimana ya? Duh, jangan ditanya ya. Semua penerbangan baik dalam maupun luar negeri sama enaknya kok. Bapak saya saja dengan bangga cerita kalau sudah pernah naik pesawat meski sekali, sewaktu Bapak dinas ke Jakarta  dari Semarang. Beliau tuh ya kalau cerita terdengar ada rasa senang, kagum, dan bangga bisa naik Garuda. Ih, ini beneran loh, nggak lebay. Coba deh, sampai sekarang kalau kita terbang dan ditanya 'naik apa' lalu kita menjawab 'Garuda' pasti deh ada perasaan bangga dan si penanya juga bilang 'oooohh Garuda' dengan maksud 'wah'. 

Bener nggak?

Diiyain aja ya *maksa*

Nah, untuk meramaikan penerbangan domestik kini Garuda Indonesia membuka penerbangan rute baru di kota Kalimantan diantaranya ke Balikpapan dengan Garuda Balikpapan. Pembukaan rute baru ini merupakan komitmen Garuda Indonesia untuk meningkatkan penerbangan dalam negeri dan mempercepat konektifitas antar kota di Indonesia. Wow, komitmennya tinggi untuk kemajuan Indonesia. Salut!! Eh ada berita bagus nih, harga tiket Garuda Balikpapan diskon 25% sampai 15 Desember 2014. So, buruan dapetin tiketnya!!

Terbanglah terus Garudaku, terbanglah tinggi. Tunjukkan kepada dunia kegagahanmu itu. Garudaku, Engkau memang kebanggaan Indonesia. Aku bangga terbang bersamamu. 



Postingan ini diikutkan dalam Lomba Blog Garuda Indonesia
Continue Reading…

Wednesday, November 26, 2014

TTM : Temanku Tukang Mbatik

Saya selalu terkesima dengan kelebihan seseorang. Bukannya membandingkan dengan diri sendiri atau malah bikin iri. Enggak, enggak sama sekali. Tapi lebih pada kagum dan mensyukuri karunia-Nya karena ada beraneka ragam insan yang mewarnai kehidupan. Ceilah, bahasanya :)

Seperti salah satu sahabat terbaik saya, yang mempunyai banyak kelebihan salah satunya membatik. Orang seumuran saya yang generasi 90-an ini ketika tahu ada yang bisa mbatik pasti 'WOW' rasanya. Karena apa? karena membatik itu katanya nggak gampang. Membatik itu kalau pas menorehkan canting di kain mbleber, ya hasilnya nggak bagus. Butuh ketelatenan dan kesabaran. Belum lagi menggambar polanya yang mlungker-mlungker. Sahabat saya ini mempunyai bakat membatik mungkin turunan dari moyangnya. Neneknya bisa mbatik, ibunya juga, apalagi budhenya.

Ketika kecil, sahabat saya senang membantu neneknya membatik. Namanya membantu lama-lama menjadi kebiasaan dan secara nggak sengaja malah terlatih alami. Saat dia hijrah ke Jakarta dia lumayan banyak job untuk mbatik. Tau dong ya di kota besar yang namanya keahlian khusus itu sangat dihargai dibanding di kota kecil. Makanya dengan keahliannya itu, sahabat saya sering mendapat job di acara yang bergengsi. Misalnya saja di acara nikahan di gedung mewah yang nggak sembarang orang bisa masuk. Pernah juga dia dapat job di acara pembukaan mall elit yang tamunya 'wah'. Yang paling berkesan, dia mendapat job di acara nikahannya Raffi-Gigi. Langsung dong ya, dia kasih lihat kartu pass-nya ke saya. Jujur, saya malah bingung kenapa kok saya dikirimi foto itu. Sebaliknya, saya sarankan untuk menjadikan foto tersebut sebagai dp di BB.

Card Pass Raffi-Gigi dari Dok. Sahabat

Sontak saja, teman-temannya pada nggak percaya dan tanya ina-ini-inu. Kok bisa sih masuk ke sana? Apa benar itu foto asli miliknya? atau malah yang paling mainstream, kamu nggak ngambil di google kaaaann? Oemjiiiii hare gene masih ada ya orang yang berpikiran seperti itu *eh ini eranya mbah google ding*. Padahal dia itu beneran di sana loh, ngetem dari siang sampai malam.

Hampir semua temannya nggak percaya soalnya sahabat saya dianggap sebelah mata. Padahal kan kalau disadari semua itu jangan dinilai karena materi. Setiap orang itu berbeda, nggak ada yang sama. Dan kita nggak bakalan tahu soal rejeki. Bisa saja saat ini kita di atas, siapa tahu besok kita di bawah. Jangan menyepelekan orang lain loh.

Jujur, katanya sejak saat itu dia bangga dengan dirinya. Dia bangga karena dia mempunyai pengalaman yang nggak setiap orang bisa. Dia punya pengalaman untuk masuk ke acara-acara yang nggak semua orang diundang. Dia bangga karena dia mampu berjuang dengan keahliannya tanpa embel-embel pangkat atau jabatan orang lain. Dia sangat mandiri.

Peralatan Mbatik-Dok Sahabat

Oia, teman saya juga pernah cerita. Kalau dapat job, seringnya dia pakai kebaya kan. Nah, suatu saat dia pernah tuh pakai kebaya dan bawahannya kain jarik. Jariknya berupa batik tulis bikinan almarhumah neneknya. Waktu membatik di suatu acara, dia didatangi tamu, dan jariknya ditawar sekian juta. Dia menolak dan bilang kalau itu peninggalannya neneknya, nggak bakal dijual. Tak berapa lama, tamu tersebut balik lagi dan menaikkan tawaran sekian puluh juta. Gilak ya, tamu ini ngebet banget. Tetep dong ya, teman saya nggak goyah.

Hasil Karya Sahabat

Dengan bakatnya tersebut dia punya mimpi bisa keliling dunia lewat mbatik. Bulan ini saja dia udah dapat beberapa job di acara pernikahan yang cukup berkelas.

Jangan takut bermimpi, kawan. Raihlah dan yakinlah akan mimpimu dan semoga Tuhan memeluk semua mimpi-mimpimu.



-Untukmu-







Continue Reading…

Jelajah Komplek di Depok

Baiklah, saya lanjutkan cerita sebelumnya ya. Jadi, ceritanya waktu puasa kemarin kami keliling komplek yang ada di Depok. Antara niat nggak niat sih mencari rumah. Ini ya beberapa komplek yang kami datangi :

1. Permata Depok Regency
Ini sih lokasinya lumayan ya soalnya dari stasiun Depok nggak jauh-jauh amat, kurang lebih 1 km. Kalau dari St. Depok bisa ngangkot D05 turun depan komplek terus ngojek. Grup Permata termasuk pengembang yang lumayan bagus. Pelayanannya ramah dan kualitas bangunannya lumayan. Komplek di sini sudah sold out tapi kayaknya masih melakukan pengembangan di area belakang.

2. Grand Depok City (GDC)
GDC rencananya mau jadi kota mandiri tapi kok sampai sekarang belum terealisasi ya. GDC ini kalau nggak salah sudah bolak-balik ganti developer. GDC terdiri dari banyak cluster. Lokasi kalau angkot agak susah karena harus oper ojek. Fasilitas yang ada di sekitar GDC ada Al-Azhar, Global Islamic School, Depok Fantasi Water Park. Harga mahal gilak relatif ya. Waktu jalan di sana, saya lihat GDC terus membangun cluster dan ruko baru tapi sayang banyak ruko yang mangkrak jadi nggak enak dilihatnya.

3. Jatimulya Eco Townhouse (JET 2)
Lokasi di daerah Jatimulya, dekat pasar Pucung. Ini merupakan proyek kedua setelah Juanda Eco Townhouse (JET 1). Hunian ini berkonsep 'green living'. Lokasinya dekat perkampungan. Rencananya kalau nggak salah bakalan dibangun sekitar 100-an unit tapi saat ini masih belum dibangun semua karena ada perizinan dari BPN yang belum turun.

4. Griya Pondok Rajeg
Lumayan bagus karena ini kompleknya besar dan udaranya masih adem. Saat ini masih melakukan pengembangan di area belakang. Apakah sudah sold out atau belum, saya kurang tahu.

5. Green Hill
Menurut kami, lokasinya jauuuh, di pucuk dan masuk wilayah Cibinong, Bogor. Areanya perbukitan, hawanya enak sih masih adem banget dan di pinggir kali. Ada fasilitas feeder bus.

6. Permata Green Cinere
Satu grup sama komplek nomer 1. Laris banget nih komplek karena lokasinya memang strategis. Pinggir jalan, dekat Kubah Emas, kalau mau ke Fatmawati juga dekat. Kayaknya sih sudah sold out. Tapi nggak ada salahnya googling dan telepon marketingnya.

7. Villa Casablanca
Lokasinya di pertigaan gitu antara ke Bedahan sama ke Limo. Kompleknya besar sih tapi herannya kok masih sedikit ya yang dihuni padahal pembangunannya dari 2012. Waktu ke sana, CS-nya cuek dan nggak ramah. Kami sempat keliling melihat rumah contoh. Dari segi harga, ini lumayan murah karena dengan luas sekian dan harga sekian di tempat lain nggak dapet.

8. Griya Sawangan Indah
Komplek ini di daerah Bedahan, Sawangan. Aselik, kami mupeng banget sama bangunannya karena bernuansa cottage Bali. Pengerjaannya bagus dan rapi. Sayang, fasum dan fasosnya dikit banget cuman GSG kalau nggak salah, ya. Daerah Bedahan masih sepi, tapi banyak banget komplek di sana. Tersedia hanya beberapa puluh unit saja selebihnya ruko. 

9. Widya Residence
Lokasinya dekat Griya Sawangan Indah. Kami nggak mampir karena teman kami tinggal di Widya Residence tapi yang di dekat Sawangan Permai. So, kami sudah tahu kualitas bangunannya. 

10. Pearl Garden Sawangan
Lokasinya di Bedahan, suami saya suka dengan fasum dan fasosnya karena bakalan ada kolam renangnya dan kebun buah. Tapi karena daerahnya masih sepi dan pasarnya cuma ada di hari Rabu, maka kami pikir-pikir lagi deh. Tapi kalau untuk investasi, oke banget daerah ini.

11. Bukit Mampang Residence
Lokasinya di Mampang, Depok. Masuk Gang Cemara yang ada di Jl. Pramuka. Sewaktu ke sana, masih belum dibangun, masih tanah kosong. Mungkin sampai tulisan ini dibuat masih banyak unit yang kosong.

12. Alam Persada Cemara
Sewaktu kesana, hampir sold out, tinggal beberapa yang kosong. Lumayan bagus bangunannnya, rapi dan tinggi dari jalan serta sudah cakar ayam. Kalau mau nambah tingkat, tinggal bangun atasnya saja.

13. Orchid Green Park
Komplek perumahan muslim, lokasinya di Sawangan, jauh banget dari mana-mana. Cuma lokasinya dekat sama wisata air Pasir Putih. Lokasinya masih sepi, harganya murah. Dindingnya batako plester. 

Nah, ternyata lumayan banyak ya jelajahnya. Itu pandangan saya dan suami terhadap komplek-komplek tersebut. Nggak ada maksud melebihkan atau mengurangkan karena saya hanya ingin sharing. Semoga ini bisa membantu teman-teman mencari rumah di Depok.


Continue Reading…

Pertimbangan Mencari Rumah

Ceritanya itu saya dan suami ingin merasakan tinggal di komplek secara saat ini kami tinggal di kampung. Memang sih, sewaktu mencari rumah dulu, saya ingin rumah yang lapang dengan taman depan dan belakang. Alhamdulillah sudah dipenuhi sama suami saya. Eeee yang namanya manusia kan kadang pengen mencoba hal-hal yang baru kan ya. 

Awalnya kami niat nggak niat ya secara keuangan berat karena menurut aturan BI, DP rumah kedua itu tak sama dengan rumah pertama. Lebih mahal rumah kedua. Lebih lengkapnya silakan baca di sini. Saat itu kami berat di DP-nya. Tapi itu nggak menghalangi niat kami menjelajah komplek. Akhirnya petualangan mencari komplek di seputaran Depok kami jalani tepatnya waktu bulan puasa kemarin. 

Awalnya kami wa teman kami yang tinggal di Sawangan, kami mencari tahu dan penasaran karena banyak banget komplek baru di daerah Sawangan. Secara grup Ciputra juga membangun komplek elit di sana. Banyak sih komplek di daerah sana yang menawarkan 'hanya sekian menit dari tol DeSari'. Itu tuh tol baru yang rencananya dibangun menghubungkan Depok-Antasari. Siapa yang nggak tertarik coba??

Selain itu, kami juga sering loh membaca spanduk-spanduk yang ada di jalan. Lalu kami googling, kalau penasaran suami teleponin tuh nomer yang tertera. Hahahaha fun sih..

Setelah kami tinggal di sini kurang lebih 3 tahunan banyak hal yang kami lalui. Banyak banget ya suka dan duka tinggal di sini. Yang penting, hal ini memberikan pengalaman dan pembelajaran yang sangat baik bagi kami. Nah, berdasarkan pengalaman pribadi, ada hal-hal yang dipertimbangkan dalam mencari rumah. Di antaranya (ini menurut kami loh ya) :

1. Lokasi
Ini penting banget! Soalnya kan yang namanya rumah pasti pengennya yang strategis ya, nggak jauh dari mana-mana. Syukur-syukur rumah tersebut dekat dengan berbagai fasilitas yang memudahkan aktivitas kita sehingga jadi lebih efisien.

2. Track Record Pengembang
Sebelum membeli rumah di lokasi yang kita pengenin, cek dulu gimana pengembangnya. Apakah bermasalah atau nggak. Apakah kualitas bangunan bagus atau enggak. Jangan sampai teman-teman sudah kadung membeli terus susah dapetin SHM-nya. Banyak loh yang ngalamin ini. Kalau masalah kualitas bangunan, teman-teman bisa keliling komplek tersebut dan lihat gimana bangunannya yang belum jadi. Apakah rapi atau acak kadut, apakah sudah sesuai SOP apa belum.

3. Harga
Ada harga ada rupa. Semakin bagus dan lengkap fasilitasnya, harganya pasti semakin mahal. Sebaiknya kita hitung berapa kemampuan kita dalam membayar DP dan mencicil rumahnya. Oia jangan ragu untuk bernego agar kita dipermudah dalam KPR-nya. Apalagi kalau ambil di hook, jangan ragu untuk menawar harga tanah hook-nya. Kalau beruntung, bisa loh diturunin harganya *pengalaman pibadi hehehe*.

4. Fasos dan Fasum
Bagi kami, fasos dan fasum itu penting. Kenapa? karena biar kita nggak monoton selama tinggal di komplek dan bisa bersosialisasi dengan tetangga. Lebih enak kalau rumah tersebut dekat dengan tempat ibadah karena hal ini bisa mengajarkan anak untuk rajin beribadah. Nah, jika harga rumah tersebut tinggi tapi minim fasos dan fasum atau malah nggak ada sama sekali, kurang kurang gurih-gurih nyoi kan? *halah*

5. Perbanyak Survey
Jangan terpaku pada satu lokasi atau pengembang saja. Memperbanyak survey akan menambah pengalaman kita dalam mengetahui berbagai lokasi dan harga rumah.

6. Simpan Brosur Rumah
Ketika kita survey rumah, mampirlah ke bagian marketingnya. Tanyalah sebanyak-banyaknya. Negolah sesuai kemampuan kita. Mintalah brosur di komplek tersebut. Jangan buang brosur-brosur tersebut. Jika sudah sampai di rumah, pelajari lagi brosur-brosur tersebut. Pertimbangkan ples minesnya.

Nah, itu berbagai pertimbangan yang kami lakukan selama mencari rumah. Komplek mana saja yang telah kami jelajahi? Silakan di lanjut di sini ya, siapa tahu bisa menambah informasi bagi teman-teman. 


Continue Reading…

Tuesday, November 04, 2014

Tahap Pelunasan KPR dan Mengurus Roya


Teman-teman masih punya KPR? Hehehe gemes sama bunga atau marginnya gak? Sepertinya itu dialami semua yang pinjam ke bank, ya. Karena gemes ini maka saya dan Pak MJ memutuskan untuk menutup KPR. Ini termasuk nekat sih, karena diluar rencana tahun ini. Meski awalnya ngos-ngosan, tapi endingnya enak, nggak mikir hutang *masak sih. Kalau keuangannya berlebih sih nggak papa ya. Lha ini, cuma bisa untuk menutup hutang dan selanjutnya menyederhanakan hidup selama sebulan. Tapi seruuu banget kalau hidup itu ada hutang dan tantangannya. Betul?

Saya pikir mau menutup KPR itu ribet lho. Ternyata nggak ribet-ribet amat. Di sini, aktor utamanya tentu suami saya. Sedang saya ngapain? Yang pasti ngomporin kalau ada masalah terus berdoa biar cepet kelar *hehe. Saya mau sharing langkah-langkah untuk menutup KPR, yakni :

1. Cek Keuangan
Kalau mempunyai uang yang dirasa cukup untuk melunasi KPR, maka niatkan uang tersebut untuk membayar dan jangan ditunda. Bagaimana cara mengetahui kalau keuangan kita cukup? Kalau saya dan Pak MJ menyimpan kertas yang judulnya 'Jadwal dan Perhitungan Angsuran (Efektif)'. Kata suami, itu merupakan cicilan jalan untuk mengetahui sisa hutang pokok dan berlaku hanya untuk bank syariah yang cicilannya bersifat tetap. Iya, saya dan suami KPR di bank syariah dan cicilannya tetap. Kalau bank konvensional, maaf saya kurang tahu. Mungkin bisa bertanya ke banknya langsung. 

2. Konfirmasi ke Bank
Jika teman-teman sudah yakin bahwa uangnya cukup untuk melunasi, selanjutnya konfirmasi ke bank, kalau kita mau melunasi bulan xxx. Tanyakan berapa besarnya sisa cicilan. Lalu tanya syarat apa saja untuk melunasi cicilan.

3. Melakukan Pelunasan
Setelah tahu besarnya cicilan yang harus ditutup, teman-teman melakukan pelunasan. Bisa tunai atau via ATM. Kalau suami saya, lewat RTGS. 

4. Konfirmasi (lagi) ke Bank
Setelah dirasa lunas, konfirmasi lagi ke bank dan teman-teman akan diberi surat keterangan lunas dan penghapusan roya. 

5. Ambil Surat-surat ke Bank
Setelah semuanya beres, teman-teman bisa ke bank untuk mengambil surat-surat dari bank dan sertifikat tanah yang diagunkan. Jangan lupa, tanyakan lagi untuk memastikan dokumen apa saja yang harus dibawa agar nggak bolak-balik ke bank. 





Pyuh, lega ya kalau sudah lunas. Etapiii masih ada yang harus diurus loh. Masih ada kepengurusan surat roya. Apan tu?
Roya itu pencoretan pada buku atau sertifikat tanah hak tanggungan karena hak tanggungan telah dihapus. Roya diurus di kantor BPN. 

Lebih baik sih mengurus sendiri karena prosesnya nggak lama kok dan biayanya jauh lebih murah dibanding kalau teman-teman mengurus lewat notaris atau calo. Biayanya nggak sampai seratus ribu loh..Gini ni cara mengurusnya :

1. Siapkan Berkas
Sebelum ke BPN, teman-teman sebaiknya menyiapkan berkas-berkas antara lain : sertifikat tanah asli, sertifikat hak tanggungan asli (yang menjadi hak tanggungan), KTP asli dan fotocopy, surat keterangan lunas dan pengantar roya dari bank pemberi kredit, materai. 

2. Datang ke BPN
Teman-teman menuju ke koperasi, bilang aja mau mengurus roya. Harga amplop untuk roya sekitar sepuluh ribu. Di dalam amplop tersebut sudah ada beberapa dokumen yang harus dilengkapi. 

3. Menyerahkan Dokumen 
Serahkan semua dokumen tersebut ke loket. Tunggu sampai nama yang ada dalam sertifikat dipanggil. Nah, disini ada yang harus dicermati. Kalau kita mengurus sendiri sesuai nama yang ada di sertifikat maka nggak masalah. Tapi kalau kita mengurus nggak sesuai nama dengan sertifikat maka harus membuat surat kuasa. Misal sertifikat atas nama A, yang mengurus B (istrinya) maka B membuat surat kuasa yang terlampir dalam map yang dibeli tadi.

4. Loket Pembayaran
Setelah dipanggil, menuju ke loket pembayaran. Bayarnya cuma lima puluh ribu doang. Murah banget kan? Dari loket pembayaran, kita akan mendapat bukti pembayaran.

5. Ambil Sertifikat
Dengan bukti pembayaran tadi, kita bisa mengambil sertifikat. Pengambilan ini bisa saat itu juga atau beberapa hari kemudian. Lebih baik tanyakan kepada petugas. 

Nah, selesai deh! Gampang kan? Murah kan? Tandanya kalau sertifikat sudah bebas roya yaitu adanya garis coret warna merah dari BPN seperti ini 




Alhamdulillah, aksi nekat ini membuat salah satu impian saya dan suami terkabul tak seperti yang direncanakan meski dengan ngos-ngosan. Kata orang tua sih, hidup tanpa hutang itu nggak seru. Daaan, kami nggak kapok sama KPR loh. Benci sih tapi rinduuuu hehehe...



Continue Reading…
Powered by Blogger.

Recent Posts

    Follow Me

    Page Views

    Copyright © Pipit Widya | Powered by Blogger
    Design by Saeed Salam | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com