Sunday, November 30, 2014

Mencintaimu dengan Sederhana

M.e.n.i.k.a.h

Hal yang dianggap sakral oleh semua orang tak terkecuali keluarga besarku. Mereka awalnya sempat bingung dengan diriku saat itu yang jauh dari kata dekat dengan lelaki. Aku memang tidak suka pacaran. Tak ada lelaki yang main ke rumah kala aku remaja. Mungkin hal ini akibat dari banyaknya teman-teman cantikku saat SMP yang cepat sekali punya pacar. Mereka yang terlihat cantik apalagi orang berada dapat dipastikan punya gandengan entah teman sebaya, kakak kelas atau kakak alumni. Jika mereka putus dari pacarnya tak berselang lama mereka pasti dapat gantinya, biasanya kakak kelas atau teman sebaya. Aku melihatnya kok aneh. Apa benar dia bisa secepat itu melupakan mantannya? Apa arti cinta bagi mereka? Kok seperti (maaf) piala bergilir saja, pikirku kala itu. Mungkin karena kejadian itu, aku bertekad untuk pacaran sekali seumur hidup, pacaran dengan laki-laki yang serius sampai menikah nanti. Alhamdulillah Tuhan mengabulkan permohonanku.

Saat ini aku sudah menikah dengan laki-laki yang kucintai. Hampir lima tahun usia pernikahanku. Kami memulai semua dari NOL, berpisah dengan keluarga besar karena harus ikut suamiku yang bekerja di Jakarta. Aku harus melepaskan pekerjaanku dan mencari pekerjaan baru di ibukota. Menyesuaikan diri dengan lingkungan yang baru dan sama sekali tak kukenal awalnya berat. Untungnya suamiku sangat sabar dan selalu menyemangatiku. Masa-masa rumah kontrakan mungil dan panas sempat aku lalui sampai akhirnya kami bisa mempunyai rumah sendiri. Rumah yang lapang tapi masih berdua. Asisten ada memang tapi part time, tidak menginap. Dia sudah ikut dengan kami sejak aku masih bekerja. Untung dia betah. Mau dilepas kadang aku merasa kasihan. 

Setelah menikah banyak sekali hal-hal baru yang kudapat. Bukan hanya soal kehidupan 'pemuas' lawan jenis tapi lebih dari itu. Aku merasakan bahwa ternyata ada makhluk yang benar-benar bisa bahagia tanpa dihitung dari materi. Pergi berbelanja ke pasar berdua, bersih-bersih rumah berdua, tertawa bersama, menangis bersama, bahkan dengan cerita hal-hal kecil pun membuatku bahagia. Aku merasakan bahwa kehadiranku ada.

Meski aku belum menjadi wanita yang sempurna, tapi aku yakin aku akan segera menjadi sempurna. Karena inilah kadang kami merasa sepi. Apalah arti berdua kalau tidak bisa menjadi bertiga, berempat, berlima, atau mungkin selusin? Hahahaha yang benar saja, apa mau rumah ini menjadi anggota tim sepak bola yang penuh?   Eh, tapi apakah menikah hanya itu tujuannya? Mengharap tambahan pahala bisa dilakukan dengan melakukan apa saja dan kapan saja kan? Tak melulu dengan suami tapi juga dengan keluarga besarnya. Selalu memberi kabar yang enak didengar itu janjiku dansuami. Jangan sampai orang tua masing-masing menjadi sedih karena kami bertengkar meski pertengkaran pasti ada tapi itu semua bisa diatasi.

Menjadikan rutinitas sehari-hari suamiku menjadi tempatku untuk mengabdi kepadanya. Menyiapkan sarapan dan bekal ke kantor dan mengurus rumah meski ada asisten itu yang kulakukan. Dari dulu aku memang tak sepenuhnya menyerahkan semua pekerjaan kepada asisten. Jika aku bisa, akan lakukan sendiri. Apalagi saat ini setelah aku memutuskan untuk beristirahat dari kesibukan kantor. Aku lebih banyak menyapa tanaman di rumah, menyapa barang-barang lucu yang kupajang di rumah. Setiap kali melihat mereka, yang kuingat adalah kebersamaanku dengan suami saat membeli. Pergi berdua dan mencari barang-barang tersebut membuatku tersenyum sendiri. Apalagi jika ada proses tawar menawar yang alot. Hahahaha itu menjadi bumbu penyedap untuk mendapatkannya. Puas jika barang tersebut jatuh ke tangan kami. 

Sampai sekarang aku berusaha menjadi pendengar setia suami setelah beliau pulang kerja. Adaaa saja hal-hal yang diceritakannya. Dari temannya yang suka berbisnis, kabar temannya yang kukenal, atau jika bosnya sedang marah. Semua kudengar sambil imajinasiku melayang membayangkan apa yang diceritakannya. Sosok temannya yang diceritakannya punya bisnis adalah sosok yang berkacamata dan kumisan. Kabar teman yang kukenal pasti sekarang tambah gendut karena dia suka makan. Dan kenapa temannya yang lain belum menikah juga padahal dia perempuan yang matang, mapan, dan sangat mengerti agama. Ah, itu semua  hanya dalam khayalanku. 

Menghadapi semua yang telah kami lalui dengan sabar, senyum, dan saling mengerti itulah yang kurasakan. Aku sangat bersyukur kepada Tuhan atas karuniaNya kepadaku. Memberikan pendamping yang sangat sabar dan pengertian akan kondisi kami saat ini. Meski suamiku tak sempurna tapi dia membuatku mengerti akan hadirku untuknya. Aku juga merasa belum menjadi istri yang baik. Aku hanya ingin membahagiakan suamiku dan keluarga besarku. Aku hanya ingin mencintai suamiku dengan cara yang sederhana. 









1 comment:

  1. Terima kasih sudah ikutan ya Mak. Mohon bersabar menunggu pengumumannya :)

    ReplyDelete

Powered by Blogger.

Recent Posts

    Follow Me

    Page Views

    Copyright © Pipit Widya | Powered by Blogger
    Design by Saeed Salam | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com