Wednesday, December 03, 2014

Dibuang Sayang

Belajar itu bisa dari siapa saja, termasuk dari asisten. Jangan remehkan mereka, dari seorang asisten saya banyak belajar menghargai. Menghargai manusia, menghargai waktu, dan menghargai uang. Sebelumnya saya nggak terlalu aware tentang ini terutama soal waktu dan uang. Tapi setelah saya menjadi IRT, luar biasa sekali dampaknya.

Asisten saya itu orangnya nrima, kalau dikasih apa pun mau. Tapi saya kalau ngasih juga lihat-lihat, masih layak nggak barang tersebut dikasih ke orang? Hal-hal kecil sangat dihargai oleh asisten. Misalnya saja sayur dan lauk sisa, meski masih enak, tapi saya urung memberikan ke asisten karena jumlahnya sedikit. Ee..nggak tahunya, dia sendiri yang bilang mau makan sayur/lauk tersebut. Sayang-sayang, katanya.

Saya langsung deg melihat itu. Dia cerita kalau masakan yang ada di rumahnya jarang dibuang karena dia merasa sayang kalau mengingat mencari uang itu susah. Dulu sewaktu masih kecil, dia cerita kalau untuk makan nasi itu jarang banget, seringnya makan singkong. Dan, sejak kecil dia juga sudah mencari uang. Pendidikanannya hanya sampai tingkat dasar. Makanya kalau ada nasi sisa di rumah, biasanya dibawa pulang olehnya, dijadikan pakan ayam.

Saya kan kadang sering bikin susu atau oat yang mana airnya direbus dulu, maklum nggak ada termos di rumah. Setiap ada sisa air di panci, pasti asisten tanya kalau itu air matang atau mentah. Jika saya menjawab air matang, maka air sisa di panci akan dituang olehnya ke dalam gelas lalu diminum. Sayang-sayang mba, air sama gasnya. Gitu kata asisten saya sambil minum. 

Duwenk! Jujur ya, saya nggak menyangka hal sekecil itu akan diperhatikannya. Karena selama ini saya orangnya suka membuang-buang saja, apalagi tinggal sedikit. Nggak kepikiran sama sekali soal sayang gas, sayang uang, sayang air. 

'Hello, aku kan kerja, jadi gak masalah hal-hal kayak gitu.' Keegoisan saya saat itu muncul. Iya, saya menganggap remeh hal-hal kecil tadi. Iya, saya kurang aware soal hal-hal kecil. Karena saat itu saya menganggap saya punya uang. Tapi sekarang berubah. Sejak menjadi IRT otomatis waktu ngobrol saya dengan asisten menjadi lebih banyak dan saya tahu tingkah lakunya selama ini. Meski masih ada kekurangan tapi sifatnya yang sangat menghargai hal-hal kecil membuat saya tersadar. Ternyata untuk mendapatkan hal-hal kecil tersebut itu nggak mudah, karena harus bekerja berangkat pagi dan pulang malam. Hal-hal kecil tersebut hanya sisa dari pengorbanan yang tidak kecil.

6 comments:

  1. iya, sayang2. Masakan yg masih bersisa kadang saya modif lagi jadi masakan lain.

    ReplyDelete
  2. Hueeee. Emang sih banyak juga pelajaran yang bisa diambil dari asisten. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ho oh belajar bisa dari siapa aja Mas..

      Delete
  3. Sypun mikir gitu berhubung tdk punya ART suka semaunya, "Loh aku kan ngerjain semuanya sendiri, ngirit gaji pembantu, jadi boleh dong suka2 utk meringankan bebanku." Tp obrolan2 dg tetangga & kenalan2 lain yg kurang beruntung membuatku berpikir, "Kalau bisa ngirit ya diirit dong. Hasil iritannya bisa utk nambah sedekah." :))

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tos Mak kalau ketemu tetangga yang ngobrolnya negatif mulu pelan2 mlipir menjauh dan baibai..

      Delete

Powered by Blogger.

Recent Posts

    Follow Me

    Page Views

    Copyright © Pipit Widya | Powered by Blogger
    Design by Saeed Salam | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com