Tuesday, December 16, 2014

Sepatu untuk Bapak

Getar HP di sore hari mengagetkan saya karena ada SMS dari bapak. 

'Sepatu sudah sampai. Nanti dicoba di rumah. Tks banget.'

Senyum mengembang karena sepatu yang dipesan online pada hari Sabtu kemarin akhirnya sampai juga. Awalnya saya dan suami memang berniat membelikan sepatu untuk bapak sewaktu lebaran nanti. Idenya suami awalnya ingin memberi surprise tetapi sewaktu keluarga saya menginap di rumah, saya utarakan maksud kami dan menyuruh bapak memilih model yang disuka. Kami takut jika surprise gagal karena bapak kurang suka dengan modelnya. 

Sewaktu ditawari model mana yang disuka, semula bapak keberatan karena takut harganya kemahalan, mengingat nama merk sepatunya adalah nama Wapres. Saya yakinkan bahwa harganya tidak sampai enam digit, akhirnya bapak mau juga. Saya catat kode sepatu yang bapak suka. Setelah keluarga pulang ke Semarang, barulah sepatu tersebut saya pesan.

Baru kali ini saya memesan sepatu secara online. Agar tidak terjadi kesalahpahaman, saya bertanya detail termasuk garansi pengembalian jika sepatu yang dipesan kekecilan atau kebesaran. Alhamdulillah, jangka waktu return sebulan. Jadi, biar tidak ribet dan mengefektifkan waktu, saya kirim langsung ke kantor bapak. Harapan saya dan suami, tentunya agar sepatu tersebut bisa langsung dipakai buat ganti. Apalagi bulan Agustus tahun depan bapak sudah pensiun dan tidak bisa diperpanjang lagi. 

Maghrib tadi bapak mengirim pesan lagi katanya sepatunya sudah dicoba dan pas. Tampaknya bapak senang sekali karena mengirim pesan berulang kali yang menandakan kalau beliau cocok dan suka dengan sepatu tersebut. 

Dari beberapa kali balasan pesan, saya sarankan agar sepatunya besok dipakai ke kantor. Mengingat masa pensiun tinggal beberapa bulan, jadi buat apa sepatunya dieman-eman. Dan sungguh saya terkejut membaca balasan pesan dari bapak seperti ini 

'Kelihatannya akan saya pakai setelah pensiun dan hanya sekali-kali pakainya.'

Gubrak!! Saya pun agak sewot membalas karena berharap sepatunya lekas dipakai dan bisa untuk ganti, inginnya bapak tidak pakai sepatu itu-itu saja. Namun itu terserah bapak karena sepatu tersebut adalah haknya. Mungkin ini karena sifat orang tua saya, baik bapak maupun ibu yang selalu sayang dengan pemberian orang lain, apalagi dari anaknya. Banyak sekali barang-barang pemberian dari sanak saudara atau kerabat yang masih dirawat dengan baik. Bapak dan ibu sangat menghargai pemberian orang lain karena kata mereka, pemberian itu tanda sayang dan bisa menjadi kenang-kenangan. 


10 comments:

  1. Aaaaa.. So sweet, Mbak Piiit.. :D
    Bapak pasti seneng banget dongs dibeliin sepatu sama anak en menantunya. Makanya sampek disayang-sayang gitu. Hihihi.. :P

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau bapak ama ibu memang kayak gitu Beb, suka sayang sama pemberian orang lain.

      Delete
    2. Beda ya. Kalok Mama ku sih saking senengnya dipakek mulu, trus rusak en dibeliin lagi deh.. Bruakakakakkk :D

      Delete
    3. Wah klo gitu yang ngasih jg seneng ya Beb krn barangnya dipake.
      Salam bwt mama ya.

      Delete
  2. Kabar barang sudah sampai itu sangat membanggakan bagi orang pengirim.
    Bapaknya dirayu-rayu sedikit lah biar sepatunya itu segera dipakai

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul banget, Mas Mandor krn beli online.
      Hehehe sudah dirayu, Mas. Terserah beliau saja.

      Delete
  3. Aku mah ngga bakalan beli sepatu buat ayah soalnya ayah aku udah meninggal hiks :')

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aduh, Mba Wida, sy jadi sedih :')

      Delete
  4. Wuih mbakyuuu. Sama kayak bapak sayaaa. Beliau juga begitu kalo dibeliin barang bagus. Hurhehehehe.

    ReplyDelete

Powered by Blogger.

Recent Posts

    Follow Me

    Page Views

    Copyright © Pipit Widya | Powered by Blogger
    Design by Saeed Salam | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com