Monday, December 22, 2014

Sosok Ibu di Kantor

Pengalaman bekerja pertama kali pasti menorehkan cerita tersendiri bagi siapa pun. Saya juga mengalami hal itu. Banyak sekali cerita tapi satu yang masih berkesan yakni menjadi staf seorang pimpinan yang disegani. 

Mempunyai pimpinan yang kondang seantero kantor membuat saya tertarik mengetahui apa saja yang membuatnya disegani padahal beliau seorang perempuan. Ketenarannya sampai ke instansi sejawat bahkan instansi yang mempunyai wewenang lebih tinggi. 

Penampilan pimpinan saya selalu matching dari atas sampai bawah, kecuali sepatu. Misalkan PDH (Pakaian Dinas Harian) berwarna hijau, mulai dari frame kacamata, aksesoris, dan tas semua berwarna hijau. Andai tidak ada larangan memakai sepatu berwarna-warni, pasti deh sepatunya juga hijau. Pun begitu kalau sedang dinas ke luar kota. Karena pernah menjadi asisten kepercayaannya, saya tahu dan hapal. Kalau keluar kota, di dalam koper pink pasti ada beberapa set  pakaian dan aksesoris yang matching. 

Sebagian orang menganggap bahwa ibu tersebut galak tetapi saya mengartikannya lain. Beliau orangnya tegas, serba cepat serta lumayan perfeksionis. Ada lho staf yang tidak bisa mengikuti ritme kerjanya lalu minta dirolling ke bagian lain.

Bagi saya, justru inilah sifat yang membuat saya bisa menjadi lebih baik. Serasa masuk ke dalam camp yang dilatih tentara. Saya meyakini, hal ini pasti berguna untuk saya nanti.

Jika beliau meminta data atau laporan maka stafnya harus tahu data dimaksud dan dimana letak data tersebut. Staf yang bertanggung jawab harus bergerak cepat agar laporan tersebut segera tersaji di meja beliau. Setelah itu, kami, stafnya, menunggu beberapa menit jika ada panggilan. Setiap laporan di meja pasti akan dibaca dan dipelajari. Jika ada kekurangan baik soal data atau penampilan data yang kurang rapi pasti beliau minta diperbaiki segera. Sifat inilah yang membuat saya harus bekerja cepat, tepat, dan rapi.

Meski begitu beliau tidak pelit ilmu. Setiap keluar kota atau ke instansi terkait untuk membahas masalah kantor, beliau pasti membawa staf dengan harapan agar si staf dapat kenal dengan dunia luar dan memperoleh ilmu serta pengalaman. Beliau ingin agar bawahannya selalu berkembang. Ini yang saya suka, keluar kantor tapi mendapat ilmu.

Saya jadi tahu berbagai ilmu terutama soft skill menghadapi orang lain. Gampang-gampang susah untuk meyakinkan orang atas laporan yang kami buat. Butuh ilmu khusus yakni melobi. Ini bukan berarti suap- menyuap tetapi lebih meningkatkan komunikasi agar tidak terjadi kesalahpahaman.

Selain tidak pelit ilmu, beliau juga sering mengeluarkan uang pribadi untuk menyenangkan anak buahnya. Entah makan bersama atau piknik keluar kota bersama. Jalan-jalan di seputar Jawa Tengah beserta kulinernya sudah pernah saya cicipi. Jelajah kuliner ibu tersebut memang lumayan luas untuk area Jawa Tengah. Dari situ saya mengenal Getuk Kethek yang enak di Salatiga, soto rumput di Boyolali, roti mandarin di Solo, bakso balungan di Demak, dll. 

Pimpinan saya tidak suka memasak tapi beliau pernah cerita kalau suka sekali tumis selada air. Jadi jika ibu kandung saya memasak tumis tersebut, pasti saya juga menyiapkan seporsi makan siang di meja beliau. Bekal makan siang kala itu agak banyak karena membawa dua porsi.

Ah, itulah pengalaman saya mengenai sosok perempuan dan seorang ibu yang berjasa bagi saya. Dengan beliau saya tahu arti kerja keras dan menghargai pekerjaan orang lain. Dengan beliau saya juga mengerti arti kebersamaan di tempat kerja. Saya tidak akan melupakannya karena sudah saya anggap sebagai ibu di kantor. Saat mau menikah, saya menyerahkan undangan sendiri sambil pamitan karena harus resign setelah menikah. Saat itu, tak kuasa saya menangis di depan beliau. Sampai sekarang, secuil kata di balik kartu namanya masih saya simpan ketika harus meninggalkan kantor tersebut. 





22 comments:

  1. Wah saya kebayang seperti apa sosok si Ibu. Pernah punya bos yang mirip-mirip deh.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehe asyik ya Mas punya bos yg baik.

      Delete
  2. Sosok yang keren ... inspiratif

    Ibu itu sudah punya anakkah?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sudah, Mak.
      Anaknya dua, cowok dan cewek.

      Delete
  3. tentu senang ya memiliki pimpinan dimana kita bisa belajar padanya

    ReplyDelete
  4. Aku sukak dengan pemikiran Mbak. Ngga banyak loh orang yang open minded gitu. Biasanya kalok ditegasin sukak banyak yang ngartiin sebagai bentuk kekangan dan tekanan. Heheh.. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih loh Beb bwt pengertianmu :)

      Delete
  5. Asik banget ya ibu atasannya. Beliau tak akan menjadi pimpinan jika lebay. Beruntunglah anak buah yg bisa melihat sisi baiknya. :))

    ReplyDelete
  6. Mbayangin sosok ibu bos ituh, ternyata masih ada sisi baiknya yang melihat.

    Selamat hari Ibu !

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mba, dilihat sisi baiknya saja :)

      Delete
  7. Aku entah kenapa selalu terharu sendiri kalau dengar atau baca cerita ttg atasan yg menyenangkan dan baik hati. Nice share mak :*

    ReplyDelete
  8. Tak pelit ilmunya itu yang kita bisa ukur, tulus atau nggak yaa... Org klw tdk ihlas nggak mungkin mau begitu...Seneng ketemu ibu spt itu...:)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mba beliau baik dan ga pelit.

      Delete
  9. Jadi pimpinan emang harus tegas ya mak, yang penting ngga galak membabi buta, ngga ada apa2 marah mulu kerjanya hehe

    ReplyDelete
  10. kita memang harus bisa mengambil teladan dari orang lain ya Mbak, banyak belajar untuk menjadi lebih baik.
    selamat hari ibu :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul Mbak, belajar dari siapa aja yg baik..

      Delete
  11. Itu artinya, Pipit orang yang mau terus belajar.
    Hebat Pit, jaman sekarang jarang banget orang yang senang punya atasan tegas dan pekerja keras...
    :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bu Irma tahu maksud tulisan saya ini :)

      Delete

Powered by Blogger.

Recent Posts

    Follow Me

    Page Views

    Copyright © Pipit Widya | Powered by Blogger
    Design by Saeed Salam | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com