Tuesday, December 22, 2015

Sosialisasi dengan Tetangga

Sejak pindah rumah pada September lalu saya merasakan kehidupan sosial yang lebih baik. Artinya, sosialisasi dengan tetangga lebih baik dibanding dulu. Di rumah lama memang kehidupan sosialnya kurang baik padahal itu di kampung, loh. Kata orang, tinggal di kampung lebih guyub dan terasa persaudaraannya. 

Tapi ini nggak saya alami. Jadi, kondisi lingkungan di tempat lama masih sepi. Tetangga cuma ada dua di sebelah kiri. Bagian depan dan samping kanan masih kebun. Ada juga beberapa kontrakan tapi sepi. 

Bukannya nggak mau bersosialisasi dengan tetangga tapi perbedaan umur dan (maaf) pemikiran yang sangat berbeda membuat saya kurang nyaman dalam mengobrol. Pernah satu kali saya senyum dan ramah kepada beliau, ujung-ujungnya malah minta diutangin. Sebel nggak sih kalau diginiin? Saya termasuk orang yang cukup tegas, sekali ngutangin beliaunya bakal ketagihan. Jadi say NO ketika ada yang minta utangan. 

Untuk beberapa orang yang saya anggap kurang nyaman kadang saya menjaga jarak dan bicara seperlunya saja. Toh bagi saya bersosialisasi nggak cuma sekedar itu. Dengan ikut pengajian dan arisan di kampung membuat saya kenal beberapa dari mereka. Melalui kegiatan tersebut saya juga tahu perkembangan di kampung meski saya kurang aktif. Ya, ini adalah salah satu hal yang nggak enak ketika tinggal di perantauan, di kampung pula, dan nggak ada saudara sama sekali. 

Tapi kini ada kabar gembira sejak tinggal di lingkungan baru, hal-hal yang dulu nggak enak sekarang berubah 180 derajat. Sampai saat ini (berarti sudah 3 bulan) kehidupan komplek yang biasanya lu-lu-gue-gue masih dalam batas wajar. Maksudnya masyarakat di komplek yang saya tinggali masih guyub dan kompak. Dengan adanya smartphone, kegiatan komunikasi juga berlanjut di dunia maya melalui aplikasi chatting. Hal-hal yang dibahas juga seputar perbaikan kehidupan komplek. Semua dari warga dan untuk warga.

Mungkin hal inilah yang membuat saya dan pak suami mulai betah dengan kehidupan di lingkungan baru. Tetangga umurnya juga nggak jauh beda membuat pembicaraan jadi seru karena nggak terlalu njeglek roamingnya, hahaha. Ada saja yang jadi bahasan di grup whatsapp baik bapak-bapak maupun ibu-ibu. Mulai masalah security, futsal, sampah, fasos dan fasum komplek, kumpul-kumpul, makan bareng, senam, dan tentunya pengasuhan anak. Sejauh ini saya masih enjoy dengan pembahasan tersebut. 

Yup, komplek saya terbilang baru. Dari total seratusan unit baru separuh yang laku itu pun nggak ditempati semua karena ada rumah yang digunakan untuk investasi. Meski demikian, jumlah warga yang sudah hampir 50-an sangat kompak dan guyub. Masing-masing grup baik bapak maupun ibu mempunyai kegiatan yang tujuannya untuk menambah keakraban. Kalau bapak-bapak seringnya sih futsal tiap hari Minggu dan kumpul sambil bakaran kalau weekend atau menjelang libur. Sedangkan ibu-ibunya seringnya kumpul untuk makan bersama. Semua itu dilakukan secara gotong royong atau saweran sukarela. Apa yang ada di rumah dikeluarkan. Seru deh kalau gini. 

Salah Satu Keakraban di Komplek

Meski demikian, saya juga tetap menjaga diri ketika berkomunikasi dengan mereka baik secara offline maupun online. Sebisa mungkin saya menghindari pembicaraan yang menyangkut privasi seseorang atau kehidupan tetangga. Kenapa? Gini, lingkungan yang kita pilih sekarang biasanya akan menjadi lingkungan yang nggak cuma ditempati setahun atau dua tahun aja kan? Kalau bisa hidup aman, nyaman, dan tentram di situ sampai tua. Nah, kalau semisal pembicaraan kita menyinggung atau menyakiti tetangga dan ada yang jutek sama kita, lah kitanya kan yang nggak enak dan nggak nyaman. Apalagi saya termasuk newbie di komplek jadi masih perlu adaptasi. Sebisa mungkin bicara seperlunya saja. Kalau nggak nyaman biasanya saya nggak keluar rumah atau nggak ikut nimbrung. 

Beberapa hal yang saya dan pak suami terapkan dalam bersosialisasi dengan tetangga yaitu :

1. Salam, Senyum, Sapa

Yup, ilmu dari Aa Gym ini memang tokcer diterapkan nggak cuma untuk tetangga tapi juga untuk security. Setiap ketemu mereka usahakan untuk menyapa dan tersenyum. Meski terlihat sepele tapi dampak bagi yang disenyumin besar loh. Mereka berasa diperhatikan dan dihargai sebagai sesama. Rasanya nyess kalau ada tetangga yang menegur dan menyapa meski cuma sapaan "mari, Pak." Betul?

2. Bicara Seperlunya

Seperti yang saya tulis tadi, kalau bisa bicara seperlunya saja baik offline maupun online. Kalau ada ibu-ibu sedang nimbrung, dilihat dulu kira-kira mereka ngobrol hal-hal umum atau privasi. Kelihatan dari keras nggaknya mereka ngobrol kok. Kalau pelan berarti agak privasi, hindari saja kalau kita nggak tahu topiknya. Dan, jangan sampai kita cerita masalah pribadi atau masalah rumah tangga ke tetangga. Usahakan untuk nggak melakukan hal ini karena tetangga adalah orang yang setiap hari kita ketemu. Kalau mereka tahu urusan dapur kita kan nggak sopan dan gawat juga. Kalau misal mereka cerita ke tetangga yang lain, bisa berabe tuh urusannya. Betul kan?

Sedangkan kalau di grup whatsapp, saya dan pak suami tetap bicara seperlunya. Kalau ada hal-hal yang memang perlu dikomentari ya berikan komentar sewajarnya. Kalau pembicaraan grup agak sensitif ya jadi pembaca saja. Dan, jangan lupa beri apresiasi emoticon senyum atau ucapan 'terima kasih' jika ada yang memberikan info bermanfaat. Jadi, orang yang memberi info merasa dihargai. 

3. Ikut Aturan

Sebagai warga baru, saya dan pak suami berusaha untuk bisa membaur dengan warga lama. Salah satunya dengan ikut aturan, misal ikut iuran bulanan atau ikut arisan. Dengan cara ini, sosialisasi lebih mudah karena kalau bertemu atau gabung dengan mereka nggak ada rasa kikuk karena kita sama. Kalau misal kita sendiri yang nggak ikut iuran kan nggak enak juga kan? Malah jadi bahan omongan tetangga loh nantinya. 

4. Berbagi

Suka berbagi dengan tetangga itu ada enaknya, loh. Berbagi di sini bisa apa saja, misal makanan, peralatan rumah tangga, atau tenaga. Biasanya sih acara yang digawangi secara bersama-sama akan terasa guyub dan rame kalau banyak donaturnya. Dijamin bakalan berkesan dan biasanya sisa makanannya banyak. Kalau sisa, pasti kembali ke kita kok karena akan dibagi rata. 

Jadi, jangan pelit kalau punya sesuatu atau barang yang dibutuhkan warga. Pikirkan juga, kalau suatu saat nanti kita yang butuh, pasti mereka akan balik menolong kita kok. Pasti itu. 

Tetangga katanya saudara kita yang terdekat. Dan, saya merasakannya sekarang karena nggak punya saudara di Depok. Alhamdulillah, punya tetangga yang baik dan peduli membuat hidup saya dan pak suami lebih bermakna. Jadi, sayangi tetangga kita dan berikan yang terbaik untuk mereka karena suatu saat kita pasti butuh mereka.  













Continue Reading…

Monday, December 21, 2015

Kursus Bahasa Asing di Universitas Indonesia

Awalnya sih iseng dan tanya ke pak suami kalau saya pengen melanjutkan les Bahasa Jepang di Depok. Mengingat saya pernah belajar sedikit Bahasa Jepang di Yokohama dan sayang kalau nggak dilanjutkan. Di luar dugaan, ternyata pak suami memberikan lampu hijau dan saya pun mulai mencari info kursus Bahasa Jepang di Depok. Sempat searching sana-sini dan akhirnya dapat info kursus bahasa asing di Universitas Indonesia.

Dalam hati, nggak salah tuh di UI ada kursus bahasa asing? Bagi orang awam atau yang nggak kuliah di UI, sebagian besar mereka mengira UI cuma untuk kuliah saja. Dan, pemikiran saya saat itu adalah web yang dikelola oleh perguruan tinggi apalagi milik pemerintah, biasanya infonya kurang update. Tapi di sisi lain, ini UI loh, sebuah nama besar yang nggak bisa dipandang sebelah mata. Masak iya UI nggak update? Hahahaha, maklum saya kurang gaul dan bukan anak asli Depok jadi saat menemukan sebuah situs yang mengarahkan ke lembaga milik pemerintah kadang kurang greget saja. Tapi kalau info tersebut memang benar, saya senang banget karena kalau ke UI cuma melewati tiga stasiun. Setelah benar-benar mengecek situsnya dan bertanya ke teman yang bekerja di UI, saya jadi yakin akan kevalidan situs tersebut. 

Ternyata Universitas Indonesia mempunyai wadah untuk belajar bahasa asing bernama Lembaga Bahasa Internasional FIB UI, singkatnya LBI. 

#Apa itu LBI (Lembaga Bahasa Internasional) UI?

Sebuah lembaga di bawah Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya UI yang membuka kursus berbagai bahasa untuk masyarakat umum. Iya, siapa saja boleh belajar di sana. Tempat belajarnya ada di 2 tempat yakni di Salemba dan di Depok. 

#Di mana tempatnya?

Karena rumah saya di Depok, saya cerita LBI yang di Kampus Depok saja ya. LBI ada di Gedung X, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (FIB). Kalau teman-teman naik kereta, aksesnya gampang banget kok. Dari stasiun UI, tinggal nyebrang lampu merah dan jalan lurus kira-kira 10 menit. FIB letaknya setelah FISIP atau setelah gedung Pusat Studi Jepang (PSJ).

#Kursus bahasa apa saja?

Yah, namanya juga lembaga bahasa internasional milik UI pula jadi yang dipelajari macem-macem. Ada Bahasa Inggris, Arab, Belanda, Jerman, Jepang, Korea, Mandarin, Perancis, Rusia, dan Spanyol. Komplit banget kan? 

Selain itu, LBI juga ada TOEFL dan program-program lain yang membutuhkan ijazah internasional.

#Kapan waktunya?

Waktu belajar untuk Salemba dan Depok berbeda. Semua ada dan dijelaskan secara komplit di webnya. 

#Pengalaman belajar di LBI

Saya mengambil kelas Jepang di Depok. Saat pertama kali masuk kursus, teman-teman bisa saja ikut placement test. Kalau memang sudah casciscus bisa saja langsung ke kelas sesuai penempatan dan nggak harus mulai dari awal. Sedangkan saya karena memang ingin belajar dari dasar dan belum lancar ya nggak ikut placement test, langsung daftar kelas Jepang 1. 

Untuk daftar ke kelas Jepang ternyata siapa cepat dia dapat karena kelas ini peminatnya banyak. Kalau nggak buru-buru daftar bisa kehabisan jatah karena jumlah siswa per kelas dibatasi maksimal 20 orang. Kalau nggak dapat jatah kursi ya teman-teman ikut term selanjutnya. Meski demikian, kenyataannya di tengah perjalanan banyak juga yang siswa yang nggak ada kabar. Kalau gini, sayang uangnya kan? Padahal yang antre mau ikut kursus juga banyak loh. 

Oiya, aturan belajar di LBI cukup ketat. Jumlah absensi dan tugas juga mempengaruhi penilaian loh jadi nggak asal aja. Kalau saya pribadi, saya senang dengan aturan ini karena ini serasa oase bagi saya yang sehari-harinya IRT di rumah *halah lebay. Menjadi ibu rumah tangga kadang membuat saya agak telat mikir. Lah, gimana nggak, soalnya otak jarang dipakai untuk mikir yang berat. Dan hal-hal yang dihadapi sehari-hari di rumah ya itu-itu saja mulai masakan, cucian, dan gosokan. Tapi sejak ikut les, saya senang karena mendapat teman dan lingkungan baru. Yang pasti, ini bisa menambah kewarasan otak saya, hahahaha.  

Bertemu dengan orang-orang dan lingkungan baru selalu membuat saya senang. Oiya, teman sekelas saya banyak yang bekerja dibanding yang berstatus mahasiswa. Alasan mereka ambil kursus macam-macam. Ada yang pengen bekerja di Jepang, ada yang pengen melanjutkan studi ke Jepang, ada yang bekerja di perusahaan Jepang jadi mereka pengen upgrade Bahasa Jepang untuk komunikasi. Sedangkan alasan saya apa secara di kelas hanya satu yang sebagai IRT, hahahaha. Alasan saya belajar Bahasa Jepang selain untuk mengisi waktu dan menambah kewarasan otak, sudah saya sebutkan di awal tulisan ini. Coba deh scroll ke atas, ya.  

Untuk pengajar atau senseinya, so pasti enak banget. Sensei yang mengajar masih muda banget. Kebanyakan sih alumni UI tapi ada juga yang masih mahasiswa. Perbedaan umur ini juga nggak masalah karena sensei-sensei tersebut sangat humble dan enak banget diajak diskusi jadi suasana kelas nggak kaku. Mau tanya soal Bahasa Jepang, manga, budaya Jepang, hayuk aja. Selain sensei yang masih muda, pernah juga kelas diajar oleh dosen asli yang senior. Wow, meski senior, beliau ngajarnya enak banget karena membuat kelas hidup dan aktif jadi siswanya gampang mudeng. 

Sensei dan Siswa ^-^

Untuk Jepang 1, siswa akan mendapat buku Hiragana-Katakana. Buku ini berisi tata cara menulis Hiragana dan Katakana berikut artinya. Selain itu, siswa mendapat buku Minna no Nihongo, buku wajib ya kalau ini. Buku ini ada 2 yaitu yang berisi full Jepang dan satunya berisi petunjuk atau kosakata dalam Bahasa Inggris. 

Jadi, untuk Jepang1 mendapat 3 buku yaitu Hiragana-Katakana (1 buku) serta Minna no Nihongo versi Jepang dan Inggris. Dengan buku-buku ini dijamin siswa akan mudah belajar Nihongo utamanya untuk percakapan dasar dan menulis Hiragana-Katakana.

Buku Jepng-1

Untuk melanjutkan ke tingkat selanjutnya, ada beberapa aturan yang akan dibagikan kalau teman-teman sudah mulai kursus. Aturan-aturan tersebut berlaku selama kursus dan infonya sangat komplit. Kalau teman-teman masih bingung dengan aturan tersebut, bisa kok tanya ke sensei atau guru yang mengajar. 

Yuk, belajar bahasa asing! Seru loh ^-^



Info LBI

LBI UI Salemba : Jl. Salemba Raya 4 Jakarta 10430
Telp (021) 31930335, 31902112
Fax (021) 3155941, 3156341

LBI UI Depok : Gedung X Lt.1 Kampus FIB UI Depok
Telp. (021) 7864075, 78849082
Fax (021) 78849085

Web : www.lbifib.ui.ac.id

Twitter : @lbi_fibui














Continue Reading…

Tuesday, December 01, 2015

Sifat Baik Ibu-ibu Jepang

Saya suka banget melihat kebiasaan orang-orang di sekitar atau yang saya kenal tak terkecuali dengan kebiasaan ibu-ibu Jepang yang ada di Indonesia. Ya ya ya berteman dengan orang asing membuat saya sangat menjaga sikap biar enggak terjadi salah paham. Takut juga kalau tiba-tiba ada miskom antara kami. Meski baru beberapa bulan kenal dan berkumpul tapi saya bisa belajar beberapa sifat baik dari ibu-ibu Jepang.

Ibu-ibu Jepang yang ada di Indonesia sebagian besar ikut suaminya yang sedang dinas. Mereka umumnya tinggal di apartemen. Mereka ada yang sudah tinggal di sini selama puluhan tahun atau baru beberapa bulan. Beberapa dari mereka ada yang sudah pulang ke Jepang karena masa dinasnya sudah habis. Namun, ada juga ibu Jepang yang menikah dengan orang Indonesia. Kalau statusnya begini, biasanya mereka tinggal di rumah pribadi bukan di apartemen. 

Lain negara lain juga kebiasaannya. Meski tinggal di Indonesia tapi budaya Jepang mereka masih kuat banget. Ya iyalah ya, secara mereka orang Jepang gitu loh hahahaha. Nah, apa saja hal-hal menarik yang bisa dipelajari dari ibu-ibu Jepang? 

#Privasi

Berteman atau berbicara dengan orang asing membuat saya lebih hati-hati. Sebisa mungkin saya menghindari pembicaraan yang menyangkut masalah pribadi. Misalnya sudah punya anak belum, pertanyaan tentang suaminya atau kebiasaan selama di Indonesia. Saya sangat menjaga privasi mereka karena takut nggak sopan atau menyinggung. Kebetulan juga, ibu-ibu Jepang kalau bertanya juga enggak soal privasi banget. Kalau mereka tanya umur, mereka aja bilang 'maaf, saya boleh tanya umur'. 

Lain cerita kalau misalnya kami sedang ngobrol sesuatu dan ada pertanyaan dengan hal tersebut, saya akan bertanya sesuai tema. Misalkan, kami sedang ngobrol soal Bahasa Jepang dan ada yang cerita kalau di rumah ngobrol dengan suami (kebetulan suaminya orang Indonesia) pakai Bahasa Jepang. Setiap hari mereka ngobrol memakai Bahasa Jepang kecuali dengan asisten dan sopirnya. Nah, saya lalu tanya, kalau ngobrol dengan anak apakah pakai Bahasa Jepang juga? 
Si Ibu menjawab kalau dia nggak punya anak. Sampai di sini saya stop dan nggak tanya lebih jauh, misalnya, kenapa nggak punya anak? Apakah sudah promil? Ya kali siapa tahu saya juga pengin promilnya, hahahahaha. 

#Selamat Siang, Maaf, Permisi, dan Terima kasih

Yup, kata-kata tersebut enggak berhenti terdengar dari bibir mereka. Sedikit-sedikit mereka bilang maaf. Kalau lewat di depan orang pasti bilang permisi atau selamat siang. Ketemu sopir pribadinya yang sedang membawa buku pun ngucapin terima kasih, lho. Saya melakukan hal kecil untuk mereka, pasti dibalas dengan 'terima kasih.' 

Ya ya ya orang asing memang nggak sungkan untuk mengucapkan kata-kata tersebut. Beda banget sama orang Indonesia, ya. Padahal kata-kata tersebut terdengar sederhana dan sepele tapi bagi yang mendengar rasanya diperhatikan dan dihargai. Bener enggak sih? 

Pengalaman saya pribadi sewaktu di Jepang, sering banget ketemu orang yang enggak kenal di jalan dan mereka bilang 'Konnichiwa.' Mereka menyapa sambil tersenyum lho. Kaget juga sih dengan keramahan mereka. Apalagi kalau di tempat les. Begitu sampai di sana dan ketemu tukang kebun, sensei, staf atau sesama murid pasti mereka memberi salam, 'Ohayou gozaimasu.' 

#Bayar Sendiri atau Saweran

Orang Jepang suka minum atau makan-makan, bahasa kerennya nomication (nomimasu+communication). Intinya sih makan bareng sambil ngobrol gitu. Kantornya pak suami di Jepang, hampir tiap bulan pasti ada acara makan-makan. Pak suami sih seneng aja diajak makan bareng tapi senep ketika harus membayar iuran, hahahahaha. Makanannya sih sedikit tapi yang banyak sakenya padahal pak suami enggak minum sake. Di situ sedihnya. Tapi sejauh ini iurannya masih wajarlah. 

Nah, seperti yang saya ceritakan sebelumnya kalau setiap Jumat keempat biasanya saya diajak makan-makan oleh ibu-ibu Jepang. Berdasarkan pengalaman pak suami, untuk acara seperti ini saya harus siap uang karena mereka jarang nraktir. 

Benar, kalau makan dengan mereka, saya harus bayar apa yang saya makan. Kalau makanannya barengan misal makan sushi rame-rame, total bill dibagi rata alias saweran. Dengan cara ini sih saya bilang wajar karena memang begitu seharusnya, kita keluarkan sesuai apa yang kita makan. Ketika makan-makan di restoran di Indonesia hal ini juga berlaku loh. Padahal saya pengin banget ditraktir sama mereka *hahahaha ngarep.

#Sederhana dan Hemat

Menurut saya ibu-ibu Jepang itu kok sederhana dan hemat ya. Penampilan mereka biasa banget. Bahkan ada yang istri seorang presdir tapi penampilannya sangat biasa dan nggak branded atau pamer kekayaan. Yup, sepertinya mereka nggak suka menghamburkan uang. Hhhhmmm, mungkin nggak ya ini berhubungan sama sifat orangnya juga. Atau memang sudah budaya mereka ya.  

#No Tip

Saya sering menumpang mobil salah satu rekan yang kebetulan les BIPA (les Bahasa Indonesia) di UI. Saya juga pernah melihat sendiri kebiasaan sopir setelah parkir. Mereka akan memberikan slip parkir berikut uang kembalian ke majikan, utuh dan saat itu juga. 

Kalau pengalaman teman Indonesia yang tinggal di Jepang, saat itu teman pesan barang secara online dan dibayar COD (cash on delivery). Sewaktu barang sampai ternyata ada kembalian 500Yen. Teman tersebut sudah ikhlas dan bilang, "Kembaliannya buat kamu aja."
Eh, petugas tersebut tetep kekeh nggak mau dan berusaha nyari uang receh 500Yen. Meski lama nyarinya, tapi akhirnya ada kembalian juga. Padahal teman tersebut enggak masalah kalau nggak ada kembalian toh cuma 500Yen, pikirnya. 

#Disiplin dan Bersih

Kalau ini sih sudah menjadi rahasia umum budaya orang Jepang ya. Mereka memang disiplin, kalau acara jam 2 teng ya jam 2 sudah ada di lokasi. Uniknya, kalau masuk ke ruangan PAUD yang saya ceritakan di sini, mereka akan melepas alas kaki dan memakai alas kaki khusus dalam ruangan. Yup, mereka masih menerapkan hal tersebut di Indonesia. Apa mungkin ruangan PAUD-nya yang kotor ya? hahahahahaha.

Yang jelas sewaktu saya ke rumah salah satu ibu Jepang, rumahnya bersih dan rapi. Yang unik, di ruang tamunya ada rak khusus untuk alas kaki dan disediakan sandal khusus untuk dipakai di dalam rumah. Enggak cuma itu saja. Karena si ibu tersebut hobi memelihara kucing dan punya beberapa kucing (kucingnya bukan kucing pesek lho tapi yang kampung), kucing tersebut juga punya wilayah sendiri-sendiri. Kalau ada kucing yang berada di wilayah kucing lain, si ibu akan menggendong dan mengembalikan ke wilayahnya semula sambil bilang gini, "Kamu tidak boleh di sini. Nanti kamu bertengkar. Ayo kembali." Sumpah, ini seriusan dan saya melihat sendiri. Sebegitunya ya, bahkan kucing juga diajak disiplin, hahahahaha.


#Perhatian dan Baik

Meski terdengar sangat keras dan disiplin tapi mereka baik banget dan perhatian. Contohnya banyak, yaitu mereka itu akan membalas budi kalau kita berbuat baik atau memberi sesuatu. Pasti. Saya teringat sewaktu di Yokohama ketemu sensei yang mengajar tahun sebelumnya. Beliau membawakan saya oleh-oleh dari negara yang sedang dikunjungi. Jadi sewaktu beliau jalan-jalan ke Vietnam dan tahu kami akan bertemu, saya diberi oleh-oleh negara tersebut bukan barang Jepang. Tuh, jalan-jalan aja masih ingat sama saya, perhatian banget kan.

Sewaktu di Yokohama, saya juga pernah dikasih tempe padahal saya sebelumnya pesan 1 biji tapi malah diberi 2 biji dan gratis. Si ibu tersebut enggak mau dibayar sama sekali padahal saya sudah siap uang. Alhamdulillah, rejeki anak soleh hahahahaha. 

Kalau di Jakarta, saya juga diajak berangkat bareng naik mobil ke perpustakaan keliling di Matraman. Bahkan kalau pulang, mereka pasti memikirkan cara saya agar pulang bisa cepat dan gampang dapat kereta. Maklum, saya kan anak kereta dan nggak naik mobil. Saya sampai kagum sama perhatian mereka. Mereka dengan senang hati memberikan tebengan sampai ke stasiun. 

Kalau mereka tahu saya akan datang ke perpus keliling dan saat itu mendung atau hujan, mereka langsung menawarkan sopirnya untuk menjemput saya di stasiun. Intinya sih mereka enggak mau rekannya kesulitan karena acara bersama. Baik banget kan?

Semua yang saya ceritakan ini berdasarkan pengalaman saya loh ya. Mungkin ada yang lebih lama berteman dengan mereka atau tinggal di Jepang jadi lebih paham. Mungkin ada juga orang Jepang yang mempunyai kebiasaan buruk, namanya juga manusia pasti ada yang baik dan buruk. Tapi saya di sini cerita yang bagusnya saja. Kita ambil sisi positif dari orang asing untuk diterapkan bagi diri sendiri. Ini bukan menggurui lho ya, saya hanya sekedar sharing pengalaman.



















Continue Reading…

Kegiatan Sosial Bersama Ibu Jepang

Dua minggu sejak kepulangan saya ke Indonesia, tepatnya pertengahan Juni lalu, saya memutuskan untuk melanjutkan kegiatan sosial bersama ibu-ibu Jepang yang tinggal di Indonesia. Sebenarnya kegiatan ini sudah saya ikuti sejak saya tinggal di Yokohama. Saya tahu tentang kegiatan tersebut dari seorang sensei yang mengajar di tempat kursus dan kebetulan beliau pernah tinggal di Indonesia selama tiga tahun. 

Sensei tersebut bernama Watanabe-san. Perkenalan saya dengan beliau sebenarnya nggak sengaja sih. Jadi sewaktu hari pertama kursus kelas kaiwa (percakapan) materinya tentang perkenalan. Mungkin beliau mendengar "Indonesia kara kimashita" (saya dari Indonesia) langsung deh saya dijawil. Kebetulan juga waktu itu kami duduknya saling membelakangi. Reaksi saya pertama kali antara kaget dan senang ketika tahu ada orang Jepang yang mengajak ngobrol Bahasa Indonesia. Nggak nyangka ada orang Jepang yang bisa bicara Bahasa Indonesia dengan baik.

Watanabe-san tinggal di Indonesia dari tahun 1997-2000 ikut suaminya yang saat itu ditugaskan di Jakarta. Jadi selama rentang waktu tersebut, beliau tahu soal reformasi di Indonesia dan hebohnya Jakarta selama era reformasi. Selama tinggal di Jakarta, beliau juga belajar Bahasa Indonesia di UI. Jujur sih, Bahasa Indonesianya masih bagus meski sudah lama nggak ke Indonesia. Salut, deh!

Sewaktu di Yokohama

Dari beliau juga, saya tahu kalau ibu-ibu Jepang yang ada di Jakarta punya kegiatan sosial untuk orang Indonesia. Dan, kegiatan tersebut tetap dilanjutkan meski mereka balik ke Jepang. Bingung ya? Gini ceritanya..

Ibu-ibu Jepang yang tinggal di Jakarta punya komunitas sosial untuk membantu orang Indonesia. Kegiatan yang ditangani macam-macam, salah satunya perpustakaan keliling. Yup, saya hanya ikut kegiatan perpustakaan keliling. Sedangkan kegiatan yang lain saya kurang begitu paham.

#Perpustakaan Keliling di Jepang

Kegiatan utama perpustakaan keliling pastinya menyediakan buku baik untuk anak-anak maupun untuk ibu-ibu. Mereka ingin supaya anak Indonesia suka membaca karena mereka tahu minat baca di Indonesia sangat rendah. Buku-buku yang disediakan ada buku cerita dan pengetahuan, ada buku Indonesia dan terjemahan. Untuk buku terjemahan, tentunya ada juga buku cerita Jepang. Jadi buku-buku terjemahan Jepang ini dikirim melalui KBRI. Nah, yang menerjemahkan buku cerita Jepang yaitu ibu-ibu Jepang yang pernah tinggal di Indonesia dan ibu-ibu Indonesia yang tinggal di Jepang.

Karena saya tinggal di Yokohama, jadi saya tahunya perkumpulan ibu-ibu yang tinggal di kota tersebut. Mereka berkumpul setiap Jumat kedua dan keempat di gedung rakyat (istilah saya sendiri). Gedung tersebut dekat dengan Stasiun Yokohama dan ada 10 lantai. Ibu-ibu tersebut berkumpul di lantai 10. Menariknya, gedung tersebut bisa dipakai siapa saja lho dan gratis. Rame bener gedungnya dan mereka sibuk dengan kegiatan masing-masing tanpa saling mengganggu. Takjub saya, hahahaha. 

Selama ngumpul, ibu Jepang ada yang setor bacaan. Maksudnya, ibu-ibu Jepang sudah menerjemahkan satu buku lalu diserahkan ke ibu-ibu Indonesia. Yup, ibu Indonesia kebanyakan sih hanya mengoreksi susunan kalimat dan kosa katanya saja. Maklum, mereka menerjemahkan memakai kamus dan ada beberapa kata yang asing bagi anak-anak jadi harus disesuaikan penggunaan katanya. 

Ini pengalaman baru bagi saya menjadi editor ala-ala, hahahaha. Bekerja dengan mereka ternyata nggak sembarangan lho. Mereka tuh mengerjakan terjemahan dengan sungguh-sungguh. Saya juga takut karena nggak mudeng Bahasa Jepang tapi untungnya saya masih bisa mengoreksi sedikiiit meski banyak tanya ke ibu-ibu Indonesia yang sudah lama tinggal di sana. Salutnya lagi, mereka bekerja serius tapi santai. Kalau minggu keempat, biasanya sih kami makan-makan. Soal kebiasaan ini, saya ceritain terpisah ya *sok misterius, hahahahaha.

Buku-buku yang sudah diterjemahkan tersebut dikumpulkan di Tokyo, kalau jumlahnya sudah banyak baru dikirim ke KBRI. Kenapa KBRI? biar urusannya gampang, ciiin. Soalnya dulu pernah dikirim langsung ke ekspatriat Jepang yang tinggal di Jakarta, urusannya ribet sama petugas imigrasi, hahahahaha. Jadi, sejak kejadian tersebut mereka mengirim lewat KBRI aja biar gampang. 

#Perpustakaan Keliling di Jakarta

Lokasi kegiatan sosial di Jakarta ada di dua tempat yakni hari Sabtu di Cikini dan Selasa di Matraman. Pertama kali saya ikut yang di Cikini dan membuat saya bengong dengan lokasinya. Perpustakaan kelilingnya ada di semacam rumah singgah yang kecil.

Sumpah, sebagai orang Indonesia, saya nggak nyangka kalau ternyata ada kehidupan di dalam Pasar Cikini. Maksud saya, di dalam pasar ada gang-gang sempit dan kampung bahkan motor bisa lewat. Omaigaaaaatttt!!! Bahkan ada beberapa toko yang ditingkat, lantai bawah untuk jualan sedangkan lantai dua untuk tempat tinggal. Kenapa saya tahu? Karena di lantai 2 banyak banget cucian yang gelantungan dijemur. Wow, lokasi ini benar-benar membuka mata saya tentang kondisi di Indonesia terutama Jakarta. 

Lokasi kedua yaitu di daerah Matraman, sekitar Stasiun Pondok Jati. Tempat untuk membaca lebih luas dan lebih bagus karena ada di PAUD. Jadi lebih enak dan nyaman untuk membaca. Makanya, di Matraman pula jumlah ibu-ibu Jepangnya yang ikut lebih banyak karena kalau di Cikini sempit banget baik tempat membacanya ataupun gangnya. 

Di Dalam PAUD-Matraman
Buku-buku bacaan disusun dengan rapi, diberi sampul dan kode. Begitu juga dengan tempat bukunya. Misal buku yang berkode merah untuk anak usia 2-4 tahun, warna oranye untuk anak 5-8 tahun, buku warna hijau untuk orang dewasa atau ibu-ibu. Semua yang datang membaca tidak boleh makan/minum dan bukunya juga wajib dibaca di tempat, nggak boleh dibawa pulang. Hhhhmmm, aturan sama orang Jepang kudu ketat, euy! Bagus juga, sih.

Karakter masyarakat dan anak-anak di kedua daerah tersebut beda banget. Yang saya rasakan, sambutan dan antusias warga untuk membaca bagus yang di Matraman. Di daerah tersebut, masih banyak anak-anak yang membaca sedangkan ibu-ibunya ada juga yang membaca atau menulis resep. Kalau di Cikini, ibu-ibunya lebih cuek bahkan jarang banget ada yang mampir membaca. Menyedihkan :(

Ibu di Matraman Menulis Resep

Yang namanya kegiatan pasti ada naik turunnya. Kadang rameee banget kadang sepi. Lucunya lagi, kegiatan membaca gratis ini kalah sama odong-odong, hahahahaha. Beneran, kalau ada odong-odong, anak-anak pasti memilih naik kereta-keretaan tersebut. Bahkan ibu-ibu Jepang juga kepengin naik odong-odong, lho. Entah kapan mereka mau naik tapi yang jelas mereka penasaran banget naik odong-odong. Saya cuma tertawa dan mengiyakan saja. Nggak kuat mbayangin ibu-ibu Jepang naik odong-odong diiringi lagu anak-anak. Hahahahahahaha. 

Saat ini, saya lebih banyak ikut kegiatan hari Selasa yang berlokasi di Matraman karena Sabtu saya sudah ada kegiatan baru yang juga menyenangkan. Nanti juga akan saya ceritakan terpisah *sok misterius lagi, hahahahaha. 

Hampir 6 bulan ikut kegiatan tersebut tapi saya sudah mendapat pengalaman yang unik. Salah satunya dari yang nggak tahu soal Frozen sekarang jadi tahu gegara pernah satu hari membacakan buku Frozen 2 kali. Hiyaaaa, anak-anak suka banget sama Frozen, saya sampai bosen membacakan, hahahahaha. Tapi demi mereka, saya ceritakan lagi. 

Dengan mengikuti kegiatan sosial tersebut, mata hati saya juga terbuka. Kegiatan yang saya lakukan hanya secuil dan nggak ada apa-apanya tapi begitu melihat anak-anak membaca atau meminta untuk dibacakan buku, ada kebahagiaan yang saya rasakan. Melihat tawa mereka, melihat keingintahuan mereka, melihat keasyikan mereka sungguh membuat saya terharu dan bersyukur. 

Ada satu anak yang nggak akan saya lupa. Anak tersebut tinggal di Cikini bersama budhe dan kakeknya, bukan bersama orangtuanya. Dia anak berkebutuhan khusus. Dia suka sekali dengan kereta. Ketika saya memperlihatkan buku tentang kereta, pesawat atau mobil, senyumnya lebar sekali. Saya mau menangis tapi saya tahan. Saya hanya ingin melihat dia tertawa dan bahagia, nggak mau membuat yang lain bingung dengan keadaan saya. Bersikap senetral mungkin demi senyumnya. Begini ya rasanya menjadi relawan. Begini ya rasanya meluangkan waktu sebentar untuk anak Indonesia, untuk senyum mereka.

Bahagia Melihat Senyummu, Dek ^-^



Memang, ini hanya kegiatan kecil tapi berkat kegiatan yang kecil ini saya jadi tahu perjuangan mereka bertahan di Jakarta. Kehidupan keras di dalam pasar. Kehidupan di pinggir kali. Melihat kehidupan lain yang ada di Jakarta. Ternyata Jakarta nggak hanya ada cerita kehidupan mewah ala sinetron yang nggak bermutu namun ada juga usaha yang nggak pernah lelah. Yang membuat saya salut, mereka tetap bahagia dengan kesederhanaannya. Jangan lupa, ada senyum anak-anak di sana. Ada harapan anak-anak di sana. Ada masa depan Indonesia bersama anak-anak di sana. 






















Continue Reading…

Monday, October 05, 2015

Pindah Rumah


Sudah 16 hari saya tinggal di rumah baru. Yup, saya pindah dari rumah yang lama dengan berbagai alasan. Salah satunya ingin suasana baru yang semula tinggal di kampung sekarang di komplek. Pindah rumah ini sudah saya rencanakan sejak bulan puasa lalu. Segala sesuatunya sudah kami rencanakan mulai sebelum pindahan sampai setelahnya. 

Banyak banget ya cerita pindahan dari renovasi rumah, packing, dan pindahan tanpa saudara sama sekali. Hahahahaha gegara ini tetangga baru sampai nanya ke saya lho apa saya nggak ada saudara di Jakarta. Lah memang saya dan suami nggak ada saudara. Hanya ada satu sepupu yang tinggal di Bekasi itu pun dia ada acara sehingga nggak bisa membantu pindahan. Hahahaha sudah biasa apa-apa dilakukan berdua antara saya dan pak suami, jadi dinikmati saja. Oh ya karena pindah rumah pula, jadwal ngeblog dan blogwalking jadi nggak karuan. Maaf ya teman-teman. 

Ngomongin pindah rumah, pasti yang ada cerita capek, capaek, dan capek ya. Hahaha memang bener sih capek banget. Sampai sekarang rumah masih agak berantakan. Belum rapi banget karena masih ada beberapa hal yang perlu dicicil. 

Barang yang Masih Berantakan :(

Kalau pindahan memakai jasa pindah rumah enak banget, tuh. Tuan rumah tinggal leyeh-leyeh dan nunjuk sana-sini maka dalam sekejap rumah sudah rapi. Berhubung keuangan mepet banget jadi pindahan ini semua dilakukan sendiri. Secara saya pindahnya nggak jauh-jauh banget dari rumah lama jadi agak santai. Meski demikian tetep loh kudu merencanakan pindahan dengan baik supaya pindahannya lancar. Apa saja sih yang dilakukan sebelum dan sesudah pindahan?

*Sebelum pindahan

1. Packing

Packing ini kadang butuh keahlian khusus biar barang-barang bisa tertata dengan baik dan muat masuk ke dalam koper atau kardus. Tapi kalau waktunya sudah mepet biasanya ya asal masuk aja, hahahaha. Hal-hal yang diperhatikan saat packing :

- Packing sebaiknya dilakukan paling mepet seminggu sebelum pindahan.
- Tata barang dan pakaian mulai dari yang jarang dipakai.
- Masukkan ke dalam kardus atau koper.
- Jangan lupa memberi nama pada kardus, misal kadus baju, peralatan dapur, buku, dll.
- Buang/tinggal barang-barang yang sudah tidak diperlukan.

2. Transportasi

Mencari transportasi selain untuk memindahkan barang perhatikan juga transportasi untuk mobile tuan rumah. Berhubung saya pindahannya dekat, saya dan pak suami pesan truk ke pemilik toko bahan bangunan langganan agak mepet sih. Kalau pesan truk, perhatikan kira-kira truk tersebut mau berapa kali bolak-balik mengangkut barang. Hal ini mempengaruhi harga sewa truk tersebut. 

Sedangkan transportasi untuk tuan rumah, saya dan pak suami tinggal naik motor. Hal ini berbeda kalau pindahannya jarak jauh bisa antar kota atau antar provinsi. Nah, kalau pindahan jarak jauh transportasi perlu diperhatikan secara detail. 

3. Pamit

Sebelum pindah sebaiknya pamit ke Pak RT dan tetangga terdekat. Pamitan ke Pak RT perlu untuk memberi tahu soal keberadaan kita karena pasti berdampak pada data RT misal untuk pilkada, sensus penduduk, iuran RT, dll. 

Berhubung kami pindahnya sore sampai malam, yang pamitan sementara yaitu pak suami. Sedangkan esoknya baru kami berdua keliling ke tetangga untuk pamitan satu per satu 

*Setelah pindahan

Setelah di tempat baru, mau nggak mau ya harus menata barang. Nggak usah dilakukan sekaligus karena malah bikin capek. Sebaiknya dicicil sesuai peruntukannya. Kalau kardus sudah diberi label maka hal ini akan memudahkan kita dalam mencari barang yang dibutuhkan. 

Saya mulai menata baju yang sering dipakai misal baju sehari-hari di rumah atau untuk ke kantor. Lalu menata peralatan dapur karena kita kan butuh makan. Kalau jajan terus ya boros kan? Peralatan dapur ini saya tata ketika dibutuhkan jadi kalau butuh tinggal mencari kardusnya, mencuci barang lalu taruh di tempatnya. Dengan cara seperti ini, pasti dapur tertata dengan sendirinya. 

Oiya, setelah pindahan usahakan untuk sesekali ngobrol dengan tetangga. Kalau ada tetangga di luar rumah, natanya bisa dihentikan sebentar untuk ngobrol. Yah, itung-itung silaturahmi awal lah ya. 

*Nengok Rumah Lama

Rumah lama meski sudah nggak ada penghuninya sebaiknya tetap ditengokin. Ini jaraaaang banget saya lakukan karena saya fokus mengurus tempat baru *alesan hahahaha. Pak suami sih yang sering ke rumah lama karena ada beberapa hal yang harus dicek. Maklum ikatan batin pak suami dengan rumah lama sangat kuat karena rumah itu merupakan rumah pertama yang dibangun sendiri. Pak suami juga yang pontang-panting mencari beberapa bahan bangunan. Ah, rumah itu banyak ceritanya bagi kami tapi kan kami nggak boleh terpaku ke masa lalu. Hidup jalan terus, euy. 

Etapi meski sudah ditengokin tapi tetep aja rumah acak adut. Taman yang dulu rapi sekarang pada kering dan nggak terawat sama sekali. Saya jadi kangen sama taman yang rapi dan terawat sepeti dulu. 
Kangen Kebun Belakang
Rumah Kenangan
Pindah rumah memang capek banget tapi lakukan itu pelan-pelan sesuai kemampuan kita dan nggak usah ngoyo. Kalau capek ya berhenti dulu, istirahat sebentar. Kalau memang butuh cuti untuk menata tempat baru sebaiknya ambil cuti. Hal ini selain bisa memaksimalkan menata rumah, cuti juga bisa dipakai untuk istirahat. 






















Continue Reading…

Wednesday, September 16, 2015

Serba-serbi Semarang

Sebagai cah Semarang yang lahir dan besar di kota ini membuat saya ingin menulis tentang serba-serbi Semarang. Ibu kota Jawa Tengah yang juga sebagai kota terbesar kelima ini memang unik yang terbagi menjadi Semarang bawah dan atas. Daerah tersebut ada yang perkembangannya jalan di tempat namun ada juga yang pesat. Sewaktu mudik kemarin saya sempat kaget dengan perkembangan beberapa daerah di Semarang terutama di daerah atas. Yah, Semarang memang unik dengan segala serba-serbinya.

#Simpang Lima

Bagi saya, Semarang itu unik karena pusat keramaiannya hanya di situ saja. Kawasan yang paling rame dari dulu sampai sekarang yaitu Simpang Lima. Kawasan tersebut rame karena semua yang dibutuhkan masyarakat seakan ada di situ semua. Di Simpang Lima ada kantor Gubernuran, sekolah, kampus, bank, mall, hotel, masjid, lapangan, kuliner, dan rumah sakit. 

Dulu saya bersekolah di daerah Kampung Kali, dekat dengan kawasan tersebut. Kalau pulang gasik atau lebih awal biasanya langsung main ke mall karena adanya cuma itu. Kalau ngemall, biasanya jalan kaki sekitar 15 menit dan selalu rame-rame bareng teman. 

Kawasan Simpang Lima memang favorit dari dulu sampai sekarang karena adanya mall, lapangan, dan masjid. Jadi kalau masyarakat mau refreshing biasanya ngemall, beribadah di Masjid Baiturrahman lalu nongkrong atau makan malam sekalian di kawasan tersebut. Ya, Simpang Lima kalau malam hari ada banyak kuliner yang bisa dipilih dan bikin bingung. Sedangkan kalau Minggu pagi ada Car Free Day dan pedagang tumplek blek di sana. Habis olahraga di Tri Lomba Juang, coba deh mampir ke Simpang Lima, beli sarapan sekaligus menikmati ramenya Simpang Lima. 

Karakter orang Semarang yang ingin praktis, sekali jalan tapi bisa ke mana-mana ya ada di Simpang Lima ini. Meski saat ini sudah ada mall Paragon di Pemuda tapi kawasan ini tetap saja menjadi favorit masyarakat. 

#Semarang Bawah

Lirik lagu Jangkrik Genggong yang menyebut Semarang kaline banjir sangat lekat pada kota ini. Memang nggak sepenuhnya salah sih karena di beberapa kawasan tertentu memang sering banjir. Saya pernah tinggal di daerah Semarang bawah yang terkenal banjir. Hampir tiap tahun bahkan tiap bulan bisa saja daerah ini banjir yang nggak hanya disebabkan hujan tapi juga karena rob (air laut pasang). 

Banjir di kawasan ini sangat merugikan warga secara ekonomi karena selain bisa mengganggu aktivitas sehari-hari, mengorosi ban motor/sepeda, pastinya banyak rumah warga yang pendek karena kalah tinggi dengan jalan. Solusi banjir di masing-masing RT biasanya hanya meninggikan jalan agar areanya lebih tinggi sehingga air mengalir ke area yang rendah. Kalau jalan tinggi maka rumah warga kalah dengan jalan. Nah, air malah masuk ke rumah-rumah tersebut. Keadaan seperti ini membuat warga mau nggak mau ikut meninggikan rumah juga jadi rumah mereka makin lama makin pendek. 

Mirisnya lagi, sebagian besar warga di sana bekerja sebagai buruh pabrik dan berpenghasilan pas-pasan. Seringnya saya menjumpai rumah yang nggak diplester jadi batu bata dibiarkan begitu saja. Bagi mereka, mlester buang-buang duit toh rumahnya nanti bakal diurug dan banjir juga. 

Saya paham dengan kondisi mereka karena bapak dulu juga begitu. Rumah yang jaraknya tinggi banget dari jalan makin lama makin pendek sebab sering diurug. Kalau teman main ke rumah, katanya rumah saya keren karena sering gonta-ganti ubin dan cat. Hahahahaha padahal yang punya rumah mumet sama hutang buat ngurug rumah biar nggak banjir atau rembes. 

Sebenarnya potensi di kawasan ini sangat besar untuk dijadikan tempat wisata. Kawasan bawah dekat dengan pelabuhan jadi banyak pabrik di sana. Nggak heran banyak warga yang menggantungkan hidupnya menjadi buruh. Selain pabrik, di kawasan ini sebenarnya ada pusat pembuatan ikan asap yang terkenal di Semarang. Masyarakat Semarang menyebutnya iwak panggang. Saya yang saat ini tinggal di Depok merasakan ikan asap Semarang jauh lebih enak dari ikan asap di Jakarta. Ikan asap made in Semarang lebih kering dan baunya harum. 

Saya tahu tempat pengolahan ikan tersebut karena sewaktu kuliah dulu teman saya ada yang melakukan penelitian hubungan ISPA dan para pekerja pembuat ikan asap. Duh ya ampun ciiiin, ternyata mereka harus berjuang melawan asap demi ikan yang enak. Prosesnya masih sederhana. Setelah ikan dicuci lalu dipanggang menggunakan batok kelapa untuk memanggang ikan pari, lele, dan manyung. Kadang untuk membalik ikan-ikan tersebut mereka memakai tangan kosong dengan cepat tanpa menggunakan alat pelindung. Wuih, orang Indonesia memang sakti. 

Selain itu, kawasan bawah terkenal dengan bangunan lamanya seperti Stasiun Tawang, Gereja Blenduk, Kantor Pos, Pasar Johar, Pabrik Rokok Praoe Lajar, dll. Sebagian besar bangunan di kawasan tersebut memang peninggalan Belanda yang masih kokoh. Tapi sayangnya kurang dirawat dengan baik sehingga kurang menarik wisatawan dan banyak bangunan yang terbengkalai. 

Saya dulu bersekolah di SD Katolik yang ada di kawasan tersebut jadi tahu kondisi kawasan kota lama. Lah, SD saya saja sekarang sepertinya sudah nggak ada atau mungkin dijadikan satu dengan SD Katolik yang lain di tempat yang sama. Hal ini mungkin dikarenakan semakin sedikitnya orang yang bersekolah di sana sebab mereka nggak mau terkena banjir. 

Oia, di Semarang bawah ada perumahan yang dulu terkenal elit loh, namanya Tanah Mas. Banyak warga Tionghoa yang tinggal di sini karena lokasinya yang strategis. Mau ke bandara dekat. Mau ke pasar ada. Mau bisnis di pelabuhan apalagi. Mau ikan segar, hayuk. Mau ke Marina tinggal nyeberang.  Tapi banyak rumah yang ditinggalkan pemiliknya karena mereka nggak tahan banjir. Meski demikian masih ada yang bertahan dan betah tinggal. Teman ibu saya yang seorang dokter mengaku betah tinggal di Tanah Mas meski sering dilanda banjir karena kalau ke mana-mana dekat dan beliau sudah kenal baik dengan pedagang yang ada di kawasan itu jadi kalau pengin ini-itu tinggal telepon saja. 

Andai saja Semarang bawah diperbaiki, dipercantik, dan kalinya dibersihkan saya membayangkan wisatawan dapat naik perahu melihat bangunan tua menyusuri Kali Semarang dari Jembatan Mberok sampai Bandarharjo. Kalau mereka lapar, mampir beli jajan pasar yang dijual di sekitar situ atau makan sego mangut ndas manyung. Wuih, ngayaldotcom nih, hahahahaha. Mimpi nggak dilarang kan? ^-^

#Semarang Atas

Berbeda dengan uraian sebelumnya, kawasan ini disebut daerah atas karena memang terletak di dataran tinggi yang kemungkinan kecil dilanda banjir. Kawasan atas ada di bagian Selatan dan Barat. Bagian Selatan mulai dari Siranda sampai Banyumanik. Sedangkan di Barat merupakan area baru yaitu di daerah Ngaliyan sampai Mijen.

Semarang Selatan dan Barat dulu merupakan daerah yang sepi dan jarang dilirik. Tapi sekarang berubah drastis. Untuk wilayah selatan terutama Tembalang perkembangannya sangat pesat karena ada kampus UNDIP di daerah itu. Sewaktu saya kuliah sekitar tahun 2002, daerah ini sudah rame tapi sekarang lebih rame lagi.

Awal-awal kuliah, beberapa teman saya ada yang nggak betah karena suasana kampusnya yang ndeso dan jauh dari mana-mana. Dulu saya masih bisa melihat sapi merumput di sekitar kampus. Sekarang saya kurang tahu, masih ada sapi apa nggak ya. Kebijakan UNDIP yang memindahkan semua kampus S1 dari Pleburan ke Tembalang tentu membawa dampak bagi keduanya. Kawasan Pleburan katanya sekarang sepi, tentu saja hal ini berbeda dengan Tembalang. 

Sewaktu mudik kemarin, saya dan pak suami iseng lewat Tembalang tapi nggak ke area kampus sih. Kami cuma lewat di daerah Tirto Agung ke Banjarsari. Wuih, di sana-sini full bangunan, padet dan panas banget. Toko Totem, toko yang dulu menjadi dambaan para mahasiswa, sekarang sudah nggak ada. Kawasan Banjarsari dan Bulusan yang dulu sepi sekarang banyak kos-kosan, salon, bengkel, dan toko. Kagetnya lagi, pengembang properti sebesar Ciputra membangun komplek di situ bernama Citra Grand Semarang. Bisa dibayangkan dong ya harga tanah yang dulunya murah sekarang mahal banget. Perkembangan kawasan Tembalang benar-benar pesat. 

Semarang Barat juga hampir sama nih. Kebetulan orangtua saya sudah pindah ke daerah Ngaliyan sejak 7 tahun lalu. Iyaaa, bapak-ibu pindah karena nggak kuat sama banjir di bawah, hahahaha. Daripada uang habis untuk meninggikan rumah lebih baik beli rumah di daerah atas. 

Kawasan Barat terkenal dengan alaska (alas karet). Alas berarti hutan. Jadi alaska artinya hutan karet. Nggak salah kalau masyarakat memberi nama ini karena di sepanjang jalan menju Mijen banyak pohon karet. Menurut asisten ibu yang asli situ, dulu daerah sekitar alaska dingin banget kalau pagi dan masih ada kabut. Bila sudah maghrib, mau lewat di jalan sekitar alaska orang-orang takut karena sepi dan jalannya kecil.

Kondisi sekarang berubah drastis. Saat ini sudah dibangun perumahan elit BSB (Bukit Semarang Baru) yang sekarang bermitra dengan Grup Ciputra. Adanya komplek elit ini membuat infrastruktur juga makin bagus. Jalan yang dulunya sempit sekarang lebar. Tapi sayangnya, banyak pohon karet yang dikorbankan yang membuat udara di daerah Ngaliyan tambah panas. 

#Tempat Wisata

Kalau ngomongin tempat wisata, jujur Semarang masih kalah jauh dengan Solo atau Yogyakarta. Meski menjadi ibu kota Jawa Tengah, biasanya kota ini hanya menjadi persinggahan atau hanya untuk dilewati saja. Ya gimana lagi, Semarang sedikit banget tempat wisatanya jika dibandingkan dengan dua kota budaya tersebut. Namun, Semarang punya beberapa tempat yang layak dikunjungi seperti Lawang Sewu, Gereja Blenduk, Vihara Buddhagaya, dan Kuil Sam Poo Kong. 

Ada tempat wisata baru nih tapi saya belum pernah ke sana sih. Saudara sepupu sering ngajak tapi saya masih belum sempat main ke sana. Katanya sih lagi ngehits karena pemandangannya yang bagus. Nama tempat wisatanya Waduk Jati Barang. Waduk ini diresmikan pada bulan Mei 2014. Konon kabarnya waduk ini dibuat untuk mengendalikan banjir di Semarang dan untuk menghasilkan listrik. 

Sumber Gambar 

#Kuliner

Semarang punya kuliner yang terkenal enak seperti wingko babat, lumpia, mie kopyok, tahu pong, tahu gimbal, soto, tahu petis, bolang-baling, mangut, dll.

Kalau pulkam, saya pasti mampir jajan ke tempat makan langganan antara lain :

*Soto Pak Man

Saya seringnya beli soto di Pak Man Pamularsih karena lebih dekat dengan rumah. Tempat makan ini buka mulai jam 07.00 sampai sore. Lebih enak kalau beli pagi karena kuahnya lebih seger. Saya suka soto ini karena kuahnya bening. Soto ini disajikan di mangkok kecil dengan taburan ayam, bawang goreng, dan irisan tomat. Pelengkap makan soto biasanya ada sate ayam, puritan, atau kerang. pastinya ada tempe yang digoreng kering dan perkedel. Tempenya lihat deh, tipis dan kering banget seperti keripik tapi agak tebal. Rasanya enak banget tempenya. Makan soto pagi hari dengan sambal wuih bikin semangat deh! Haduh, jadi kangen soto Pak Man, hahahaha. 

Soto Pak Man

*Tahu Gimbal

Saya kurang suka tahu gimbal di Taman KB atau kawasan SMA 1. Sejak pindah di Ngaliyan, saya menemukan tahu gimbal yang enak banget. Lokasinya di dekat Toko Idjo, seberangnya Kantor Kecamatan Ngaliyan. Namanya Tahu Gimbal Bu Siti, buka mulai jam 10 pagi. Tempatnya sederhana tapi rame banget kalau pas jam makan siang. Selain tahu gimbal, kita bisa pesan gado-gado atau tahu campur. Asli, bumbunya enak banget. Recommended banget deh. 

Tahu Gimbal Bu Siti

*Mangut

Ikan mangut yaitu ikan asap yang diolah dengan bumbu pedas bersantan. Ikan yang diasap macam-macam, bisa ikan pari, lele, ikan sembilan, ikan manyung, atau belut. Ikan ini biasanya diolah dengan bumbu mirip tumis ditambah kemiri, kencur, daun jeruk, dan santan. Biar sedap dan mantap ditambah pete atau ditambah gembus. Widiw, jadi laper nih. Hahahaha. 

Nah, yang sering saya pesan ke ibu kalau pulang ke Semarang yaitu mangut welut (belut asap). Kalau ibu saya masaknya nggak terlalu pedes karena pak suami nggak bisa makan pedes. Pas mudik kemarin saya mampir ke rumah budhe dan lucky me, budhe masak mangut ndas manyung. Ikannya gedheee banget. Mantep, deh!



*Tahu Bakso

Kalau pulkam saya biasanya beli tahu bakso TAHUCAHUNGARAN. Lokasinya ada dua, yaitu di Simpang Lima (pojokan oleh-oleh Istana Brilliant) dan pojok Toko Siranda. Kalau hari biasa bisa beli langsung tapi kalau liburan baiknya pesan dulu. Pengalaman saya, lebaran tahun lalu saya hampir nggak dapat tahu bakso karena nggak tahu kalau harus pesan dulu. Mau nggak mau kami menunggu berjam-jam demi mendapat tahu bakso. Nomor teleponnya 081325212600 atau 024-70229148. 

Sekarang karena ibu saya nyambi jualan tahu bakso ya saya dapat jatah dari ibu. Lumayan ngirit, hahahaha. Bukan, ibu nggak bikin tahu bakso tapi cuma pesan dan dijual di kantor atau ke tetangga. Alhamdulillah, tahu baksonya enak dan ukurannya besar-besar. 

Tahu Bakso Dagangan Ibu


*Serabi Notosuman

Meski ini makanan asli Solo tapi tiap pulkam saya pasti beli ini karena serabinya enak banget. Langganan saya yang ada di Jalan Thamrin nomor teleponnya 024-3548816. Tempat ini buka dari pagi sampai serabinya habis, hahahaha. Serabinya ada yang rasa original dan coklat. Saya lebih suka yang rasa original. Eh, serabi ini sepertinya ada di Tangerang loh, tepatnya di mana saya kurang tahu. 

Serabi Notosuman di Jalan Thamrin 

*Singkong Presto dan Sirup Fres

Kalau ke Semarang, saya punya toko langganan yang menjaul aneka snack kiloan. Saya sudah langganan dari sejak zaman kerja. Kalau pulkam, biasanya ibu sudah pesan makanan kesukaan saya yaitu singkong presto. Makanan ini terbuat dari singkong yang digoreng atau dipresto, entah saya kurang tahu. Singkongnya gurih dan empuk, enaaaak banget!! Saya biasanya pesan 2 bal lalu dibagi-bagi ke sahabat, tetangga, dan dibawa ke kantor pak suami. Alhsmdulillah, semua suka. Kata pak suami, yang dinantikan temannya kalau pulkam ya singkong presto ini. 

Kalau sirup, saya dan pak suami kurang suka tapi ini favorit sahabat jadi saya sering bawa sirup ini untuk dia. Kata dia sih sirupnya enak dan nggak ada di Jakarta. Memang sih sirup Fress ini asli buatan Semarang.  




*Wingko 

Saya jarang beli wingko yang dijual di toko oleh-oleh sepanjang Jalan Pandanaran. Pak suami kurang sreg dengan ukurannya yang kecil jadi makannya kurang mantep, hahahaha. Seringnya saya pesan di penjual wingko, namanya Wingko Eco buatan Pak Hardi.

Wingko ini bentuknya kotak dan ukurannya nggak kecil-kecil. Makan satu biji sudah cukup. Kalau pesan, biasanya saya janjian pagi jam 06.30 di Pasar Bulu. Iyap, Pak Hardi biasa mangkal di bawah jembatan penyeberangan Pasar Bulu. Wingkonya enak juga kok. Murah meriah dan fresh karena dibuat sesuai pesanan. 

Itu saja cerita saya tentang Semarang. Kalau ada yang mau main ke Semarang silakan loh ya. Meski saat ini saya nggak tinggal di kota itu tapi medok dan bahasa saya jek koyok cah Semarang lho ndaaaaa.^,^.












Continue Reading…

Monday, September 07, 2015

Sereh dan Sirih

Setiap Sabtu saya dan pak suami pasti belanja ke pasar untuk membeli stok sayuran dan lauk. Sebelum pergi, pak suami mengingatkan saya untuk membeli "sereh." Rencananya daun yang dimaksud pak suami akan digunakan untuk mengobati matanya yang sakit. Ya sudah, saya manut toh harganya juga murah.

Ketika sampai di budhe langganan di pasar, pak suami mengingatkan lagi sudah beli sereh apa belum. Oiya, saya baru ingat langsung buru-buru membeli "sereh" yang dipesan. Setelah membeli yang dipesan tersebut, saya melanjutkan belanja ke penjual ayam langganan. Di depan penjual ayam, terjadilah keributan antara saya dan pak suami :

Suami (S) : "Mana daun serehnya?"
Saya (M) : "Nih." (Sambil menunjukkan yang dipesan)
S : "Kok ini sih? Mana daunnya?"
M : (Agak bingung) "Maksudnya?? Ini kan sereh yang kau maksud. Daunnya ya ini." (sambil menunjuk batang yang hijau)
S : "Bukan ini!! (Pak suami agak emosi dan mulai ngotot). Coba kamu tanya yang jual, ini bisa untuk mengobatai mata atau enggak."
M : "Lhoh? Lha mana tahu penjualnya soal begituan."

Situasi agak panas karena beberapa pedagang dan pembeli mulai melihat kami.

M : (Tanya ke penjual ayam) "Bang, ini namanya sereh kan? Daunnya ini kan ya?" (Sambil menunjuk batang yang hijau)

Si abang penjual ayam mengangguk dan menjawab iya. Tuh kaaan..Sementara itu pak suami masih dengan pendapatnya dan mulai browsing, tanya kepada ahlinya yaitu mbah google. Sementara itu saya melihat jawaban mbah google dan ternyata yang dimaksud DAUN SIRIH BUKAN SEREH!!

Sereh dan Sirih

Langsung saja saya spontan menjawab, "Kalau itu mah SIRIH (pakai I) bukan SEREH. Beda keles."
Pak suami masih dengan ngototnya bilang, "Kan beda pengucapan doang, kupikir sama."

M : "Ya Elah..beda pengucapan tapi artinya beda banget, ciiiinnn.."
Saya menjawab antara jengkel dan geli. Sementara itu abang penjual ayam ikut tersenyum.

Pak suami dongkol dan meninggalkan saya sendirian beserta belanjaan yang nggak sedikit di depan abang penjual ayam. *7$%#@*^%$* 
Oalah to bojoooo...bojoooo...antara daun sereh dan daun sirih kok ya nggak tahu bedanya. Dikira dengan beda bunyi antara "E" dan "I", daun sereh dan sirih artinya sama. Saya masih tertawa cekikian sendiri sambil melanjutkan belanja. Iya, sepanjang saya belanja dan tertawa sendiri dilihatin pedagang. Hahahahaha. 

Pak suami salah satu matanya bintitan. Sebenarnya sakit ini sudah diderita sejak di Jepang. Waktu itu matanya merah dan ketika periksa di dokter setempat, kata dokter penyebabnya bakteri. Kalau masih sakit dan membesar kemungkinan harus dioperasi. Dokter tersebut memberi beberapa obat mata. 

Setelah kembali ke Indonesia, mata tersebut kadang bintitannya muncul kadang enggak. Sewaktu mudik kemarin, matanya pernah kumat karena sewaktu bangun tidur matanya merah dan bengkak. Pak suami periksa ke rumah sakit, lagi-lagi mendapat beberapa resep obat. Beberapa minggu kemudian, bintitannya kalau pagi kempes tapi kalau sore kelihatan besar. Sewaktu konsultasi ke dokter, memang kalau mau sembuh baiknya dilakukan operasi minor. 

Sambil memakai obat dokter, pak suami juga browsing dan mencari obat herbal untuk sakit mata. Dari hasil browsing, pak suami mendapat info tentang manfaat daun sirih untuk sakit mata. Tapi ada juga info yang mengatakan kalau daun sirih bisa menyebabkan kebutaan. Nah lo. Info lengkapnya silakan dibaca sendiri ya.  

Karena pak suami sudah merasa terganggu dengan bintitan ini, rencana mau ketemu dokter lagi dan kemungkinan akan dilakukan operasi kecil. Gara-gara ini akhirnya suami saya tahu bedanya daun sereh dan sirih, hahahahaha. Sepertinya pak suami kurang piknik, tuh. ^,^.



















Continue Reading…

Thursday, September 03, 2015

Nama Unik

Saat ini mungkin lagi heboh dengan nama "Tuhan" yang ramai dibicarakan hingga banyak menuai kontroversi untuk mengubah nama tersebut. Nggak, saya nggak akan membahas nama tersebut. Cuma herannya dari kemarin hingga tadi pagi berita soal unik masih saja saya dengar meski bukan tentang nama "Tuhan." Kemarin, di salah satu tivi memberitakan keluarga yang namanya unik sedang tadi pagi di Radio Delta FM juga membahas nama unik. Sesuai dengan namanya, nama mereka memang unik sampai saya tertawa sendiri kalau mengingatnya. 

Nama yang merupakan pemberian orangtua pasti memiliki arti dan harapan. Tapi saya masih nggak tahu kenapa ada orang yang namanya "Syaiton." Masak iya orangtuanya ingin anaknya seperti syaiton atau setan? Hiiii, takut ah! Hahahaha, memang sih itu urusan mereka tapi ya apa nggak ada nama yang lain to pak..buk..?

Di salah satu stasiun tivi kemarin siang memberitakan sebuah keluarga yang nama anaknya unik-unik. Salah satunya bernama Andi Go To School, artinya Andi pergi ke sekolah. See? Unik kan? Pak Andi ini anggota kepolisian di Magelang (kalau nggak salah ingat). Hahahaha, lucu ya namanya. Tapi kan ini singular kan, kenapa namanya nggak Andi Goes To School ya? *penting dibahas, hahahaha. Kakaknya Pak Andi namanya Happy New Year karena lahir pada tanggal 1 Januari. 

Menurut berita tersebut (maaf kalau salah karena sudah agak lupa), kakaknya Pak Andi dulunya kalau disuruh sekolah susah dan sering nangis. Kalau nanti punya anak lagi, orangtuanya pengin si adik kalau berangkat sekolah rajin dan nggak nangis seperti kakaknya. Akhirnya adik Happy New Year diberi nama Andi Go To School. Karena Pak Andi waktu kecil nakal, kalau nanti punya anak lagi orangtuanya nggak pengin anaknya nakal seperti Pak Andi, makanya adiknya Pak Andi namanya Rudi A Good Boy. Sedangkan anaknya Pak Andi namanya Virgineo Silvero Go To Paradise. Dengan nama tersebut, Pak Doni ingin anaknya kelak bisa membawa keluarga ke surga. Aamiin. Sumpah, saya melihat berita ini cekikikan sendiri di rumah. Lucu, kreatif, dan unik. 

Kalau tadi pagi di acara Asri-Steny In The Morning juga membahas nama unik. Wah..wah..ternyata banyak juga ya yang namanya unik-unik. Pagi-pagi yang menelepon atau kirim tweet ke acara tersebut banyak banget. Saya kurang ingat nama-namanya karena ndengrin radio sambil memasak. Dari hasil stalking twitternya Delta FM, saya menemukan nama-nama unik yang diretweet. Nama-nama tersebut antara lain : Mentari Cinta Kasih, Tahan Benget, Honda Suzuki Implawati, Lebar bin Buntu, Juliasta Senang Akur, Sempat Ginting. Hahahaha, unik kan?

Oiya, saya ingat satu nama yang unik banget dari penelepon tadi pagi. Temannya melahirkan anak sewaktu pergantian Presiden dari Pak Harto ke Pak Habibie. Untuk mengenang momen tersebut, temannya memberi nama Presto Habib yang merupakan gabungan dari Presiden Soeharto dan Habibie. Hahahaha, ada-ada saja ya.

Soal nama unik ini, saya punya cerita nih. Teman SMA saya yang juga teman kuliahnya pak suami , namanya merupakan singkatan dari bulan, hari lahir, dan weton. Misalkan, namanya Saklitunov (Sabtu Kliwon Tujuh November). Ini misal loh ya. Sewaktu SMA dan kuliah, teman-teman banyak yang memanggil "Tutu." Saya dan pak suami juga ikut-ikutan memanggil "Tutu" dan anaknya juga nggak marah dipanggil dengan nama tersebut.

Lebaran kemarin, saya dan pak suami silaturahmi sekaligus nengok anak bayinya Tutu. Mumpung kami sama-sama sedang mudik di Semarang. Mulanya hanya kami bertiga yang ngobrol tapi nggak lama kemudian ibunya Tutu ikut ngobrol. Saking asyiknya, saya bertanya ke Tutu,

"Eh, Tu, masih inget nggak sama...."

Belum selesai saya bertanya, ibunya Tutu langsung memotong pembicaraan,

"Maaf Mba, bukannya apa-apa ya. Saya itu memberi nama ada artinya, nggak sembarangan loh Mba. Kalau anak saya dipanggil "Tutu" itu rasanya kok saya sakit ya. Soalnya saya pernah lihat di tivi ada orang bernama Tutu kok tabiatnya jelek banget."

Deg...

Saya nggak bisa ngomong lagi, cuma berpandangan sama pak suami. Sedang teman saya menanggapi ini dengan santai. Sumpah, saya nggak enak sama Si Ibu. Bukan saya bermaksud begitu soalnya ini sudah kebiasaan sejak SMA. Saya pun minta maaf, sungguh-sungguh minta maaf karena benar-benar nggak tahu soal itu dan saya juga nggak bermaksud seperti yang dipikirkan ibunya Tutu. Pembicaraan yang tadinya santai lalu berubah jadi kikuk. Tapi untungnya keadaan cair lagi ketika kami berbagi cerita dan saling belajar satu sama lain. Huhft, lega.

Tapi, ketika saya kesrimpet manggil dengan "Tutu" lagi, saya langsung sadar dan buru-buru minta maaf. Untungnya Si Ibu memaafkan dan menyadari kalau saya mengucapkan itu nggak sengaja, bukan meledek. Kata Si Ibu, ada temannya Tutu yang sengaja meledek memanggil dengan sebutan tersebut. Oh, saya baru tahu. Sejak kejadian tersebut, saya membiasakan diri memanggil dengan nama "Sakli" bukan "Tutu" lagi. Hahahahaha, saya ingin membiasakan diri supaya lidah nggak kesrimpet kalau nanti ketemu ibunya lagi.  

Teman-teman ada yang punya pengalaman dengan nama-nama unik?    



*Terimakasih Mak Wilis Idrati yang sudah merevisi nama Pak Andi dan keluarga, hehehe.














Continue Reading…

Seperti Anak Sendiri

Budhe dan ibu saya mempunyai beberapa persamaan. Mereka sama-sama seorang ibu dengan beberapa anak. Mereka juga punya "anak" lain yang bukan dari darah daging sendiri. Bertahun-tahun mereka tinggal di rumah yang sama jadi budhe dan ibu menganggap seperti anak sendiri. Kisah mereka berbeda tapi hampir mirip.

#Asisten Jadi Anak Ragil

Beberapa tahun lalu budhe punya asisten yang umurnya masih ABG, sebut saja namanya Si A. Usia A sekarang mungkin hampir sama dengan adik bontot saya, sekitar 22 tahun. Si A berasal dari desa yang dekat dengan Semarang. Sebagai asisten, tugas A hanya mengurus rumah. Pekerjaan A cukup bagus dan anaknya jujur jadi keluarga budhe senang sama dia. Setiap anaknya budhe jalan-jalan biasanya A selalu ikut. Karena keluwesannya dan terkenal sebagai anak yang rajin maka keluarga besar juga kenal baik dengan A. 

Kebetulan salah satu anak budhe ada yang bekerja sebagai guru SMP. Singkat cerita Si A bersekolah di tempat kerja sepupu saya. Sambil sekolah, A juga masih mengurus rumah. Setelah lulus SMP, A melanjutkan ke SMK jurusan akuntansi. Karena semangat belajarnya yang tinggi, A melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.

Hebatnya, saat ini Si A kuliah sambil bekerja sehingga dia bisa membiayai pendidikannya sendiri. Jadwal kerja yang membutuhkan fisik yang kuat tak lantas membuat A menyerah. Berbagai pekerjaan kerap dilakoni hingga sekarang sudah nyaman dengan pekerjaannya. Sejak A kuliah, budhe punya asisten baru untuk mengurus rumah. Bukan anak ABG lagi tapi seorang ibu yang merupakan tetangga dekatnya. Kalau terus-menerus mengandalkan A, budhe kasihan juga mengingat tenaga A sudah habis untuk bekerja dan kuliah. Meski demikian, A tetap tidur dan beraktivitas seperti biasa di rumah budhe. Iya, budhe sudah menganggap A bagian dari keluarganya bahkan sudah seperti anak ragilnya. 

Meski bukan anak kandung, budhe juga tidak memberi batasan kepada A. Terserah mau melakukan apa pun di rumah asal tidak membuat onar. Lucunya lagi kalau semisal ada keluarga yang punya hajat dan A tidak mendapat jatah seragam maka budhe akan marah-marah, hahahaha. Ini terjadi saat saya menikah dan ibu tidak memberi jatah seragam kepada A. Karena budhe mengomel akhirnya ibu membeli tambahan seragam. 

Dulu, kalau A memanggil ibu saya dengan sebutan 'buk' sekarang sudah memanggil 'tante', hahahahaha. Si A sudah tidak sungkan memanggil seperti sepupu saya. Bahkan A kalau pulang kampung cuma sebentar, katanya lebih betah tinggal di rumah budhe daripada di rumahnya sendiri. Hahahaha, ada-ada saja nih Si A. Dan, keluarga besar juga tidak masalah dengan semua perubahan tersebut. Malah semua salut dengan usahanya untuk maju. 

#Betah di Rumah Ibu

Kalau ini cerita di rumah ibu saya. Selama mudik kemarin di rumah ibu ketambahan satu anggota lagi. Bukan kali ini saja kejadiannya tapi sering banget. Sebut saja B, teman dari adik saya. Pertemanan B dan adik saya cukup lama. Si B sering menginap di rumah ibu karena di lantai dua memang ada kamar yang kosong. Adik saya sering meminta B untuk membantu memasukkan data di komputer atau otak-atik progam baru. Begitu juga dengan ibu, kalau pas lembur dan harus memasukkan data keuangan, biasanya ibu menyuruh B. Waktu itu B belum bekerja, masih luntang-luntung mencari pekerjaan.

Sekarang B sudah bekerja di Lampung tapi setiap pulang ke Semarang yang menjadi jujugan itu bukan rumah orang tuanya tapi rumah ibu saya. Jadi seringnya adik saya janjian dengan B di kantornya. Setiap hari B makan dan tidur di rumah ibu. Mau ngapain aja di rumah ibu tidak ada yang melarang asal tidak mengganggu tetangga. Mau makan apa saja yang ada di meja makan, silakan, tidak ada yang melarang. 

Hhhhmm, tindakan B agak aneh sih bagi saya. Kenapa dia tidak ketemu orangtuanya dulu? Kenapa dia betah di rumah ibu? Padahal dulu sering saya jutekin loh, hahahahaha. Ketika hal ini saya tanyakan ke ibu, alasan B betah tinggal karena dia sebal sama orangtuanya sendiri. Tiap pulang ke sana pasti orangtuanya meminta uang yang tidak sedikit dan dia disuruh membayar hutang. Kalau tidak memberi mereka uang, orangtuanya marah. Bukan karena dia pelit dan tidak sayang kepada orangtuanya tapi hutang orangtuanya yang dibebankan kepadanya membuat dia eneg dan tidak bisa menabung untuk dirinya sendiri. Makanya dia kurang betah. Mengetahui hal ini, lambat laun sikap saya sama dia berubah, yang dulunya jutek sekarang malah kasihan. Anaknya juga ringan tangan, mau disuruh apa saja kalau kami minta bantuan. 

Dua kisah tersebut memang berbeda. Meski berbeda tapi keduanya hampir sama, ya. Si A dan B lebih suka tinggal di rumah orang lain, bukan di rumah orangtuanya sendiri. Jujur, saya merasa beruntung karena mempunyai keluarga yang cukup dan bahagia. Hhhhmmm, kadang ya nggak bahagia sih kalau lagi berantem sama adik atau ibu, hahahahahaha. Tapi saya sangat beruntung memiliki mereka semua. 

Kisah A dan B membuat saya untuk lebih bersyukur dan menghargai orang lain. Bagaimanapun, mereka seorang anak yang butuh kasih sayang. Mereka juga manusia yang sama seperti kita, ingin mempunyai kehidupan yang lebih baik minimal untuk diri mereka sendiri atau untuk keluarga kecilnya jika mereka nanti sudah menikah. 














Continue Reading…
Powered by Blogger.

Recent Posts

    Follow Me

    Page Views

    Copyright © Pipit Widya | Powered by Blogger
    Design by Saeed Salam | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com