Friday, February 06, 2015

Tiwul di Perkotaan


'Bubur, bubuuuur, bubur mbaaaaak'

Hampir setiap hari teriakan mbah penjual bubur selalu terdengar. Penjual yang sudah tidak muda membawa dunak ( tempat dari bambu seperti yang digendong mbok jamu ) berisi panci bubur dan tiwul. Saya yang semula kasihan melihat perjuangannya mencari rupiah di perantauan, berubah menjadi kagum. Mbah yang sudah berumur masih kuat berjalan kaki membawa dagangan tak lelah mencari rezeki. Menjual aneka jajanan tradisonal, terutama tiwul di perkotaan.

Barang dagangannya hanya itu-itu saja, makanan tradisional yang khas dari Jawa. Mbah menjual bubur sumsum, bubur candil, bubur sagu, dan tiwul. Yang saya suka bubur sumsum dan tiwulnya, apalagi kalau masih hangat, rasanya enak sekali.

Saya memang orang yang suka dengan makanan tradisional, apapun itu. Dulu sewaktu masih SD, saya merasa beruntung karena masih bisa merasakan serabi, gethuk mawur, gendar, cetot, putu mayang, oyek, dll. Hampir mirip dengan mbah yang sekarang, mbah yang dulu jualannya lebih komplit. Mereka sama-sama berjalan kaki dari satu gang ke gang lain menawarkan jajanan pasar. Ah, lidah ingin sekali bernostalgia dengan makanan ndeso tersebut. Biarpun ndeso, tapi enak dan kaya gizi, lho. Saya nggak malu dengan makanan tradisional. Kalau makanan tersebut masuk restoran atau hotel, harganya selangit lho, jauh banget dengan harga bahan bakunya.

Untungnya di tempat tinggal ini, saya masih bisa merasakan jajanan tradisional. Meski jumlahnya tidak banyak, tapi cukup mengobati rasa pengin terhadap makanan tradisional. Seperti siang ini, saya makan tiwul. Dengan harga Rp.3000,- saja saya sudah mendapat tiwul yang enak dengan porsi yang cukup. Murah kan? Kata penjualnya, mungkin ini tiwul terakhir karena tepung tiwulnya sudah habis. Mbah penjual biasa membawa tepung tiwul dari desanya karena di sini tidak ada gaplek. Ya, beberapa hari ke depan, mbah hanya berjualan bubur tanpa tiwul. Kalau nanti pulang kampung, biasanya membawa tiwul lagi.

Tiwul Murah Meriah

Tiwul setahu saya merupakan makanan pengganti beras di daerah Gunung Kidul, Yogyakarta. Saya pernah berkunjung ke sana dan memang daerahnya berupa perbukitan tanah kapur. Warga di sana sudah biasa makan tiwul dengan lauk, tiwul menjadi pengganti nasi di daerah Gunung Kidul. Tiwul terbuat dari gaplek, yaitu singkong yang dikupas dan dikeringkan. Persediaan gaplek warga Gunung Kidul sangat banyak. Saking banyaknya, biasanya gaplek dijadikan oleh-oleh, lho. Gaplek bisa diolah menjadi tiwul atau gatot. Lumayan banget kalau mendapat oleh-oleh tersebut karena di kota besar jarang atau bahkan tidak ada gaplek, hihihi.

Sebagai makanan pokok, kalori yang ada pada tiwul lebih rendah dibanding nasi. Nasi tiwul juga baik untuk kesehatan apalagi bagi penderita diabetes mengingat kandungan gulanya juga rendah. Dulu tiwul dikenal sebagai makanan orang miskin karena sebagian penduduk Indonesia makan tiwul saat zaman penjajahan. 

Kalau saya pribadi jarang sekali makan tiwul dengan lauk. Seringnya saya makan sebagai kudapan yang dicampur dengan kelapa dan gula merah. Perpaduan rasa gurih dari tiwul dan kelapa serta manis dari gula jawa, hhhhmm nikmat. 

Saat ini, masyarakat perkotaan bisa menikmati tiwul yang dikemas instan. Cara memasaknya tinggal mengikuti petunjuk yang ada di kemasan, maka tiwul siap disantap dalam sekejap. Beberapa tahun lalu saya pernah membeli tiwul instan. Cara memasaknya kalau nggak salah, direndam dulu beberapa menit lalu dikukus. Adanya inovasi tiwul instan sangat memudahkan orang untuk mengonsumsinya bahkan bisa mengenalkan makanan tersebut secara luas ke masyarakat. 









28 comments:

  1. Waah. Aku jadi bersyukur tinggal di Purwokerto, walaupun kota kecil, tapi setiap sore banyak ibu-ibu jajan yang lewat depan rumah. Di sini semuanya disebut ibu jajan. Ya begitu, jual aneka makanan tradisional dari lupis, serabi, putu mayang, sampai yang paling fenomenal: mendoan. hihihihi ^_^

    ReplyDelete
  2. Aku suka dibawain suami lho klo suami lg ke manggala, di manggala ada yg jualan tiwul :)

    ReplyDelete
  3. Saya juga kangen makan bubur sama lupis dan ketan. Euy. Dulu ada mbob madura yang jualan dan kami panggil nya bubur madura

    ReplyDelete
    Replies
    1. Enak ya Mas maem jajanan tradisional.
      Hehehe bubur madura :)

      Delete
  4. Bersyukur tiap pagi ada yg ngider gatot tiwul sawut, hehehehehe.. Salam kenal ^_^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waaa ada gatot dan sawut juga :)
      Salam kenal juga ya.

      Delete
  5. saya belum pernah ngerasain tiwul :D

    ReplyDelete
  6. kangen ngerasaain tiwul deh, dah lama banget lagi waktu masih sekolah kalau berlibur ke rumah nenek

    ReplyDelete
  7. Sego tiwul mengingatkan indahnya masa kecil di kampung bersama keluarga... Mesti di kota ada tetapi sangat sulit ditemukan dan rasanya tidak se-natural di desa hehe... minta dikirim y mbak satu bakul saja tiwul kotanya hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Eh iya bener bgt, Mas.
      Hahaha si mbah kayaknya ga bw tiwul.

      Delete
  8. kalo di desa makanan ini mudah didapat mak, biasanya kalo aku pulang kampung harus makan ini hehehe

    ReplyDelete
  9. aku suka sekali tiwul sama gatot Mbak...cuma kalo tiwul kadang dikasih pewarna ijo, enakan yg alami tanpa pewarna

    ReplyDelete
    Replies
    1. Baru tahu sy mba klo ada tiwul hijau :)

      Delete
  10. disini ada yang jual juga mbak tai gak tiap hari

    ReplyDelete
  11. saya juga sering makan mba... kalo lgi di kampung saya di Indramayu. suka ada yang jualjuga jadi pengen lagi hehhehe

    salam kenalmba...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe kampung halaman memang enak dan ngangenin ya.

      Delete
  12. Tiwul instant rasanya sama dgn yg tradisional nggak mbak?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Enak yg tradisional.
      Yg instan rasanya malah mirip oyek.

      Delete
  13. di malang udah gak ada sist :( sedih deh

    ReplyDelete
  14. Mbak mau tanya itu si mbah penjual tiwulnya apakah masih ada, kebetulan saya sedang cari untuk isi jajanan tradisional di warung saya, terimakasih

    ReplyDelete

Powered by Blogger.

Recent Posts

    Follow Me

    Page Views

    Copyright © Pipit Widya | Powered by Blogger
    Design by Saeed Salam | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com