Friday, March 27, 2015

Hidup Lebih Mudah

Selama tinggal di Jepang, hal yang paling saya sukai adalah hidup lebih mudah. Beda banget sewaktu kami bandingkan hidup di Indonesia. Entah karena saya yang nggak kekinian atau kudet atau kantong mepet. Hihihi sepertinya bener semua jawabannya.

Jadi, saat ini saya dan suami tinggal di apartemen. Luasnya pasti kecil lah ya dibanding rumah kami. Tapi kok ya kami merasa enjoy dan happy ya meski di apartemen yang nggak luas dan tinggal di lantai paling atas, hihihihi.

Tinggal di apartemen bagi kami lebih simpel dan nggak butuh banyak barang *ingat barang di gudang rumah yang numpuk hihihi. Sepertinya semua yang ada di sini itu bisa dimanfaatkan dan berguna, serta lebih efisien memanfaatkan ruang. Peralatan yang ada di apartemen meski sedikit tapi cukup membantu dan memenuhi kebutuhan sehari-hari. Beda banget sama yang ada di rumah. Kalau di rumah banyak peralatan dan berasa kurang tiap ada barang yang lucu atau promo.

Di apartemen kompornya pakai gas pipanisasi sedangkan di rumah pakai gas biasa. Lalu air kran yang bisa langsung diminum sedang di rumah kudu dimasak dulu beberapa lama. Untuk urusan minum, saya lebih suka air yang dimasak di teko listrik. Cuma lima menit saja masaknya. Terus ada pula microwave yang multifungsi. Sedang di rumah nggak ada karena listriknya pasti mahal, hihihi. Maklumlah di sini kami hanya tinggal saja, nggak mikirin bayar ini-itu karena sudah ditanggung kantor.

Kalau dipikir, hidup di apartemen itu lebih banyak dilakukan di ruang keluarga dan dapur. Di sini, ruang keluarga ya ruang tamu, ruang buat tidur, dan ruang makan. Jadi cuma satu ruang yang ada kasur, televisi, sofa, dan meja kerja. Meski sedikit tapi saya dan suami merasa cukup lho dengan keadaan seperti ini. Hhhmm mungkin karena nggak tinggal lama ya. Eh, tapi kan kegiatan di rumah juga hampir sama karena lebih banyak dilakukan di ruang keluarga dan dapur. Kegiatan di taman sesekali kalau rumput sudah tinggi. Kursi di ruang tamu jarang diduduki karena jarang banget ada tamu. Tamunya cuma sahabat atau teman yang langsung ke ruang tengah biar lebih santai hihihi.

Nah, kemudahan hidup memang banyak faktornya darimana kita melihatnya. Cuma di sini saya dan suami lebih suka melihat ke alat-alatnya yang modern dan sangat membantu banget. Ya seperti yang telah saya sebutkan di atas tadi. Bukannya kami kurang bersyukur lho ya.

Dan, setelah dipikir aktivitas di rumahpun juga di ruang itu-itu saja maka kami sempat kepikiran untuk mencari rumah yang lebih kecil atau minimalis. Furniture minimalispun sekarang banyak yang lucu ya. Pastinya juga multi fungsi. Beberapa kali saya dan suami masuk ke toko furniture dan sangat suka dengan furniture minimalis di sini yang multi fungsi dan bahannya bagus. Sepertinya peralatan di sini pada awet kalau digunakan sesuai fungsinya.

Kalau bangun kesiangan di sini saya masih bisa santai, nggak seperti di rumah. Tinggal masak nasi yang cuma beberapa menit terus defrozz ikan dan masak tumis atau sayur bening. Mungkin karena di sini saya lebih banyak memakai bumbu instan dan memang masakan Jepang itu sederhana. Tinggal masuk-masukin bumbu, jadi deh. Kalau di rumah, saya jarang pakai bumbu instan jadi harus nguleg dulu hihihi.

Iyaaa, mungkin ya itu saya yang kudet dan nggak kekinian dengan peralatan magic yang ada di negeri sendiri. Yah, kalau melihat harga peralatan magic suka mikir cicilan jadi ya jarang beli, hihi. Hhhmmm, kadang saya suka eman-eman kalau membeli peralatan yang masih mahal, hihihihi. Takut nggak tega buat masaknya kan mahal.

Palingan di rumah cuma ada blender, presto, hand mixer, toaster yang semuanya nggak beli alias dikasih, hihihi. Dan, prestonya masih baru lho selama hampir 5 tahun karena saya trauma. Dulu, budhe pernah pakai presto untuk bandeng malah mbledos jadi saya takut banget pakai presto, huhuhu. Saya masih ingat sama bunyinya yang keras seperti bom sampai tutup panci prestonya lepas.

Ah, pola pikir saya harus diubah nih agar lebih kekinian *lalu nengokin uang di dompet. Eh, ini masih posting mobile lho seperti postingan sebelumnya biar kekinian. :)
Continue Reading…

Aplikasi Blogspot

Tahun lalu saya pernah install aplikasi blogspot di HP, maklum karena waktu itu pengin banget bisa ngeblog mobile. Saat mencoba untuk blogpost kok nggak bisa, jadi ya sempat saya delete.

Nah, karena nggak ada kerjaan, saya mencoba untuk install aplikasi blogspot lagi. Iseng sih awalnya dan nyoba untuk ngepost meski cuma sebaris malah bisa, akhirnya saya mencoba menulis ini lewat HP. Norak? Kudet? Ah, biarin, yang penting saya enjoy hihihihi.

Ngeblog lewat HP ada enak dan nggak enak, ya. Kalau di rumah saya malah pakai PC, karena laptop batrainya ngedrop dan masih nyampah di gudang. Enaknya ngeblog lewat HP karena lebih simple dan efektif, nggak perlu bawa laptop dan bisa kapan saja, di mana saja. Apalagi kalau HPnya lebih mobile friendly ya. Makanya saya pengin banget punya HP yang bisa enak buat ngeblog dan bagus untuk ambil foto. Yah, kalau suami membaca ini semoga tahu keinginan istrinya yang terpendam ini hihihi.

Nggak enaknya kalau mau memberi link, foto, atau mengatur biar rapi agak susah. Mungkin teman-teman ada yang suka ngeblog mobile pakai blogspot? Pengin tahu pengalamannya. Saat ini saya masih belajar menggunakan fitur-fitur di aplikasi blogspot. Maaf kalau postingan ini berantakan dan seadanya. ^_^
Continue Reading…

Friday, March 20, 2015

Berpikir Positif

Ada beberapa kejadian di minggu ini yang membuat saya untuk tidak menyepelekan pikiran. Iya, berpikir positif. Padahal banyak banget ya yang sudah cerita tentang efek kekuatan pikiran. Namanya juga manusia kadang lepas kontrol dari berpikir positif malah negatif.

Jadi ceritanya minggu ini saya mendapat balasan pesan dari teman yang sebelumnya sudah hopeless duluan. Padahal pesan saya terkirim sudah seminggu lebih. Tiap cek HP, nggak ada balasan. Mungkin dia sibuk tapi HPnya aktif kenapa pesan nggak dibalas-balas. Mulai deh curiga. Jangan-jangan diaaa...Kata suami, berpikir positif saja toh saya termasuk orang yang baru dikenalnya. Akhirnya pesan tersebut saya delete biar saya lupa dan biar berpikiran negatif. Eee tadi pagi sewaktu HP on, kaget juga ketika mendapat balasan dari si dia. Iya, dia memang sibuk tapi dia sudah memberikan informasi yang saya butuhkan.

Kejadian lain, seminggu pertama di sini, saya belum dapat tiket balik ke Indonesia untuk akhir Mei. Rencana suami, saya disuruh pulang akhir Mei. Di Jepang, bulan April-Mei sepertinya masih peak season jadi sempat hunting tiket, dan memang harganya agak mahal. Apalagi melihat berita yang Dollar naik nggak ketulungan, saya dan suami ketar-ketir dan mengatur keuangan lagi untuk beli tiket balik. Padahal waktu itu suami bilang, kalau bisa saya balik sendiri pas weekdays biar dapat tiket murah. Saya oke-in saja saran tersebut. Saya dan suami tetap berharap bisa dapat tiket murah dan bisa pulang bareng. Tapi sepertinya itu nggak mungkin. Secara tiket suami sudah diatur kantor dan pengalaman tahun lalu pulangnya weekend pakai pesawat ANA pula. Lah, kalau saya membeli tiket ANA kan nggak mungkin, mahal bok. Pernah bikin solusi, saya beli Garuda dan suami naik airbus GA karena ANA dan GA kerja sama bisa tukar pesawat. Tapi kalau pulang bareng nggak mungkin secara GA weekend mahal. Oke, sampai tahap ini saya pasrah meski masih berharap dapat tiket murah, weekdays nggak papa, pulang sendiri nggak papa toh berangkat juga sendiri.

Ternyata beberapa hari sesudah rencana tersebut, suami ngecek situs GA dan lagi ada promo. Alhamdulillah, nggak pakai lama langsung booking dan pilih airbus ANA. Harga tiket promonya lebih murah dari tiket berangkat. Temannya yang orang Indo saja sampai nggak percaya soalnya dia sudah booking tiket untuk keluarganya yang berkunjung dan harganya jauh di atas harga tiket promo tersebut. Namanya rejeki memang nggak ke mana. Dengan tiket promo ini semoga saya dan suami nanti bisa pulang bareng dan duduk sebelahan di pesawat yang sama. 

Dari beberapa kejadian tersebut, saya tambah yakin akan kekuatan pikiran. Selama masih punya harapan dan doa tanpa putus pasti ada jalan terbaik. Jangan anggap enteng pikiran kita ya, teman-teman. Terus berpikiran positif. 




Continue Reading…

Thursday, March 19, 2015

Lagu 'Terlatih Patah Hati'


Saya memang kudet. Tahu lagunya The Rain feat Endank Soekamti yang ini nggak? Saya tahu lagunya memang tahun kemarin tapi baru ngeh sama penyanyinya baru-baru aja. Padahal lagu'Terlatih Patah Hati' ini ngehits kan ya?

Jadi kan selama di apartemen, saya malas banget keluar. Kalau keluar paling ya ke Nissan Stadium buat jogging sore, itupun kalau nggak males, nggak hujan, dan nggak dingin banget. Yup, saya betah banget ngendon di apartemen. Seperti saat ini, di luar hujan padahal tadi sudah niat mau jogging lho, hihihihi. Makanya saya puas-puasin membuka youtube, melihat video-vidoe yang lucu dan aneka tutorial. Seringnya sih saya dan suami nyari lagu Indonesia yang disuka aja. Kebetulan yang lagi disenengi ya lagu itu tadi, Terlatih Patah Hati.

Kenapa suka?

Karena lirik lagunya simple banget dan videonya lucu. Lirik lagunya sepertinya mewakili mereka yang sering patah hati, yang akhirnya membuat terlatih *halah. Meski sedih tapi mereka masih bisa bernyanyi *tsaaah. Videonya sendiri memang simple dan banyak disuka orang karena yang menonton sudah lima juta lebih. Model videonya berbagai cowok yang mungkin sering patah hati *sudah biasaaaa. Mereka bukan selebritis tapi orang-orang biasa yang menyayikan lagu ini secara lip sync. Justru ini yang bikin lucu, hihihi. Mas-masnya lucu-lucu, tampil apa adanya, dan ada yang menghayati banget lagu ini. Daripada penasaran, dilihat sendiri aja ya videonya. Oia di akhir video simak juga ya sepatah dua kata mereka untuk mantan, hihihi. Buat yang suka patah hati, semoga bisa terlatih ya ^-^.




Continue Reading…

Radio Mania

Pertama kali saya kenal radio sewaktu SMP. Kalau liburan sekolah biasanya saya suka menginap ke rumah budhe. Kebetulan waktu itu kakak sepupu suka banget mendengarkan radio. Kalau malam pasti radio menyala sampai nggak ada suaranya. Nah, dari situ saya mulai suka dengan radio dan menjadi radio mania.

Balik ke rumah setelah liburan sempat merasa ada yang hilang karena nggak ada radio di rumah. Saya sudah minta dibeliin tapi orang tua cuma diam. Sampai ada tetangga yang menawarkan radionya ke bapak. Saya masih ingat sama bentuknya. Radio tape merk Polytron. Meski bukan barang baru tapi kondisinya masih bagus. Karena saya pengin banget punya radio, akhirnya bapak membeli radio tersebut. Radio tersebut diletakkan di kamar dan menemani saya kalau belajar sampai tertidur.

Radio Jadul Saat SMP - Sumber dari Sini

Setiap pagi sebelum sekolah saya pasti mendengarkan lagu-lagu dari radio. Rasanya senang ya kalau tiap pagi semangat karena lagu-lagu favorit yang diputar. Zaman dulu lagu yang sering diputar eranya Bakcstreet Boys, Boyzone, Code Red, The Calling, The Moffats, Kahitna, Sheila on 7, dll. Iya, saya termasuk generasi 90-an. Hihihi, tua ya. Eh tapi lagu-lagu di tahun 90-an masih enak didengar sampai sekarang lho. Bener kan? Hayoo yang merasa seangkatan ngacuuung!

Karena keseringan mendengarkan radio, saya sampai hapal nama dan suara penyiarnya. Kadang nih penyiar juga cocok-cocokan kalau membawakan acara. Maklum ya karena waktu itu saya radio mania jadi hapal banget sama pembawaan penyiar apalagi yang punya acara malam. Misalnya ada penyiar yang terbiasa siaran malam, kalau membawakan siaran pagi kurang dapat feelnya. Ada penyiar yang cocok menerima curhat dan memberi saran atau malah cocok membawakan acara misteri. Iya, dulu kalau malam Jumat di salah satu radio pasti ada acara night mare. Penggemar acara tersebut banyak banget, kalau hari Jumat kadang ada teman sekolah yang membahas acara tersebut. Aduh, ngeri deh. 

Kadang saya suka banget kirim salam lewat radio. Kirim salamnya ke gebetan pula, hihihi. Tentunya saya memakai nama samaran dong. Ada hal-hal yang sering saya lakuin sebagai secret admirer. Jadi kan dulu belum banyak HP jadi kalau kirim salam lewat telepon. Kebayang dong ya, penyiar atau operator telepon yang mengangkat telepon dan menulis salam dari pendengar. Tangan mereka apa nggak pegel, tuh. Biasanya begini bunyi salamnya,

"Buat someone di 3-C SMP X, belajar yang rajin ya kan besok mau UUC. Dari someone yang care ama kamu di 3-F." 

Hihihi, jijay banget nggak sih kalau baca itu? Sumpah saya juga suka menertawakan kelakuan norak masa lalu. Bayangin ya, memakai istilah someone, siapa yang merasa coba. Dan belum tentu juga kan si dia mendengarkan radio. Aduuuh, andai waktu dapat diputar lagi ya *halah.

Berhubung waktu SMP belum punya HP dan saya hapal banget sama acaranya, pernah nih ada waktu kirim salam live. Beneran, saya mantengin jam karena saking hapalnya habis ini pasti bisa online. Dan benar, saya bisa ngobrol sama penyiar, nitip salam, dan rikues lagu live. Gimana nggak seneng ya, karena lagu saya langsung diputar. Kalau rikues lagu lewat telepon kan kadang lama nungguin lagu diputar, hihihi. Lewat radio pula, saya pernah menang kuis dapat mendapat hadiah uang atau barang serta ketemu penyiar. 

Saya dan teman-teman waktu itu suka banget membahas atau menirukan iklan di radio. Dulu kan saya tinggal di Semarang kan ya, iklan di radio ada yang lucu dan norak. Sumpah. Dan karena itu pula bisa dijadikan bahan guyonan karena ada teman yang mempraktikkan persis plek di sekolah. Hebatnya, orang-orang radio bisa mengemas iklan secara lucu atau menggunakan bahasa daerah setempat tanpa mengurangi tujuan komersialnya. 

Sampai sekarang bapak masih suka nyetel radio sehabis subuh, sebelum kerja. Radio milik bapak lebih bagus dan modern dan ditaruh di ruang keluarga. Jadi kalau pagi nggak ada suara radio di rumah, berasa sepi. Sedangkan radio tape jadul masih ada di rumah bapak, diletakkan di gudang dan sudah nggak dipakai lagi. 

Nah, sejak menikah dan nggak tinggal di Semarang, saya beberapa tahun nggak mendengarkan radio jadi kudet sama lagu-lagu baru. Dulu cuma mendengarkan radio di kantor tapi kan nggak bisa lama ya. Akhir-akhir ini saja saya mulai mendengarkan radio lagi. Tapi kalau keseringan mendengarkan radio tertentu saya sampai hapal lagu-lagunya, jadi kadang bosen juga. Makanya saya suka ganti channel radio kalau sudah bosan. Karena umur sudah tambah ya, dulu suka radio yang gaul banget sekarang suka sama radio yang segmennya dewasa. Nggak tahu kenapa. Mungkin cocok sama pembawaan penyiarnya atau topik yang sedang dibahas dan cocok dengan lagu-lagunya yang nggak jedag-jedug banget. Memang bener ya, radio itu segmennya beda-beda, ada yang untuk ABG atau dewasa seperti saya ini *tsaah. Enaknya lagi saat ini mau mendengarkan radio bisa streaming lewat internet. Dan sepertinya acara nitip salam seperti dulu sudah nggak ada, kebanyakan curhat atau cerita pengalaman lewat SMS, telepon atau malah twitter. Seperti saat ngeblog ini, saya mengetik sambil mendengarkan radio streaming. ^-^

Terimakasih ya buat orang-orang yang bekerja di radio karena sudah menemani setiap hari dari pagi sampai malam dengan ocehan kalian dan lagu-lagu yang sangat menghibur. Aaah, jadi kangen sama penyiar radio dulu semasa masih sekolah. Apa kabarnya ya Erman Cahyadi, Victor Sandy, Beta Lovinska, Samuel, dan kawan-kawan?

















Continue Reading…

Tuesday, March 17, 2015

Alexa Ramping Meski Jarang Update

Bagi blogger, siapa coba yang tidak suka kalau alexanya ramping? Alexa itu semacam indikator untuk blog, seberapa banyak traffic atau pengunjung yang mampir ke blog kita. Cara memeriksa alexa bisa masuk ke web alexa.com, lalu masukkan alamat blog kita. Atau bisa saja memasang alexa di blog, dengan cara ini alexa bisa terlihat tanpa membuka web alexa. Dengan begitu, kita tahu traffic blog kita. Kalau jumlah angka di alexa semakin kecil atau makin ramping, malah makin bagus. Itu tandanya blog kita banyak pengunjung. Ada blogger yang jarang update tapi alexanya selalu ramping. Kalau saya sebaliknya, kudu rajin update supaya tetap ramping, hihihi. Eh tapi saya sempat kaget dengan alexa yang ramping meski jarang update blog, lho. Sampai tulisan ini dibuat, bisa dilihat kan perbedaan postingan per bulan di blog saya. Bulan Januari kenceng malah melebihi tanggal di bulan itu, Februari sedikit menurun, Maret malah memplem banget, hihihi. Meski demikian, alexa saya ramping meski jarang update.

Maklum ya saya ngeblog masih tergantung mood banget, kalau pengin ya ngeblog, kalau nggak ya malas ngeblog. Apalagi kalau sedang capek. Nah, saya sempat iseng ngecek alexa pada tanggal 4 Maret lalu dan saya kaget banget. Sudah yakin kalau bakalan anjlok, eh ternyata alexa malah ramping. Yah meski belum seramping milik teman-teman tapi sempat membuat saya kaget, yang semula sejuta sekian malah jadi kurang dari sejuta. Lah, kok bisa sih? Padahal saya waktu itu sedang malas-malasnya ngeblog karena capek. 

Akhirnya saya sharing ke grup dan bertanya ke ahlinya kenapa ini bisa terjadi? Katanya postingan yang berjumlah seribu kata dan sering muncul di google dan sering dikunjungi orang maka alexa akan ramping tanpa rajin diupdate. Hah? Padahal kalau dipikir, kadang saya posting nggak panjang-panjang amat, ya hihihi. Tapi beberapa mungkin ada yang sering dikunjungi pembaca terutama berbagai ikhtiar saya untuk hamil

Ada resepnya ngga biar alexa ramping?

Kalau saya menjawab, ya rajin posting aja dan posting sesuai yang teman-teman kuasai. Yakin deh, kalau posting dari hati *halah, maka hasilnya akan beda. Saya saja pernah posting yang menurut saya biasa banget eee malah mendapat respon yang banyak. Biasanya saya posting pengalaman karena saya ingin berbagi kalau baik ya syukur kalau enggak, semoga saja ada yang dapat mengambil pelajaran dari pengalaman yang saya alami.

Apa pengaruhnya alexa bagi blog?

Menurut beberapa tulisan yang saya baca, beberapa agency yang akan memberikan job ke blogger kadang minta data peringkat alexa, page rank, kunjungan per hari, klout, dll. Jujur, saya belum pernah mendapat job jadi belum bisa cerita banyak dan saya juga kurang paham dengan hal-hal yang disyaratkan tersebut. Kalau belajar dan mengetahui agar saya tahu, sering banget saya lakukan. Bukan apa-apa, soalnya saya masih baru banget ngeblog dan pengin banget belajar agar ngeblog lebih baik lagi. Saya dapat menyimpulkan kalau alexa ramping, harga kita bisa tinggi untuk tawaran job. Dan, kalau punya alexa ramping, kita bisa lebih pede dong melakukan bargaining sama agency. Betul kan?

Saya nggak berorientasi pada materi karena merasa bahwa ngeblog itu asyik banget. Saya senang kalau bisa berbagi. Saya senang kalau sudah posting. Saya senang terhadap apa yang saya lakukan. Saya yakin, kalau kita melakukan apa yang kita sukai, maka kita akan bahagia *halah. Maklum ya, saya IRT yang suka galau kalau nggak ada kerjaan atau malah banyak kerjaan. Hihihi, makanya biar nggak galau saya memilih blog sebagai pelampiasan meski setelah buka dashboard sering bingung sendiri mau menulis apa, hihihi.

Kalau postingan singkat, apa bisa alexa ramping?

Menurut saya bisa saja, ada kok blog yang postingannya singkat, banyak pengunjungnya karena rajin update dan rajin blogwalking. Yup, hal itu seperti dua sisi yang tidak bisa dipisahkan *halah. Rajin update, rajin blogwalking bisa banget menaikkan traffic blog. 

Penampilan blog saya sebelumnya yang masih agak alay dan amburadul pelan-pelan saya perbaiki dan saya tambah berbagai macam widget, seperti postingan populer dan postingan terkini. Pengaturan blog yang memudahkan pembaca mencari apa yang dibutuhkan, sepertinya bisa menambah pengunjung. Buktinya, di postingan populer sering terjadi naik turun posisi. Ada postingan yang dulu masuk posisi agak bawah sekarang malah meningkat drastis. Sebaliknya, ada pula postingan yang dulu masuk postingan populer malah terdepak dari tangga kepopuleran, hihihi. Dengan kemudahan widget yang disediakan, pengunjung akan bertambah, dan alexa bisa ramping.

Oia, sewaktu saya pindah domain dari blogspot ke domain sendiri, alexa sempat blank beberapa minggu. Mungkin alexa sedang melacak alamat blog yang baru. Nggak papa, tenang saja. Setelah itu, alexa akan muncul meski agak gendut sedikit. Nah, biar ramping lagi bagaimana? Ya mau nggak mau kudu rajin posting. Kalau saya pribadi, kadang merasa sayang melihat alexa anjlok, secara sudah memakai domain sendiri ya. Kudu dirawat nih dan perlu konsistensi biar rajin ngeblognya. Aaaah, semoga saya bisa rajin ya. 

Saya sekedar sharing, ya. Bukan berarti saya ahli. Bukaaan. Saya hanya ingin berbagi. Halah, saya mah apa atuh. ^-^




















Continue Reading…

Membisniskan Oleh-oleh

Hihihi judulnya gaya banget ya? Yah, mungkin banyak tulisan yang membahas kebiasaan nitip oleh-oleh. Saya mengiyakan beberapa tulisan tersebut karena berdasarkan pengalaman pribadi kadang malah nggak enjoy menikmati jalan-jalan. Apalagi nanti kalau mikir soal over bagasi. Mahal ya bok ternyata kalau over, hihihi. Tujuan jalan-jalan memang untuk refreshing dan santai tapi kalau ada yang nitip dan barangnya susah, kadang malah kepikiran terus, euy. Orang yang bepergian pasti membawa oleh-oleh untuk keluarga, sahabat, dan kolega terdekat. Nah, bagi suami saya, hal ini malah bisa dijadikan peluang dengan membiniskan oleh-oleh. Ini ya saya ceritakan pengalaman suami dan temannya.

#Pengalaman Suami

Jadi beberapa minggu setelah sampai di tempat dinas, suami meminta saya memfoto oleh-oleh Jepang yang menjadi hiasan di rumah. Meski bingung tapi saya manut saja. Foto ini mau diupload sebagai contoh di lapak onlinenya. Jadi suami menawarkan jasa titip oleh-oleh. Ada sih beberapa orang yang nitip. Waktu itu dikiranya akhir Januari akan balik jadi ya oleh-oleh bisa sampai ke customer mungkin Februari. Nggak terlalu lama lah ya. 

Suami membuat sistem kalau mau nitip DP dulu 50%. Masalah harga suami nggak ambil untung banyak karena kasihan juga kalau kemahalan toh ada customer yang tahu harganya berapa. Setelah barang didapat, difoto dan dikirim via WA lalu customer diminta untuk melakukan pelunasan dan barang dikirim nanti setelah pulang ke Indonesia.

Untuk mendapatkan barang ini nggak gampang lho karena apartemen ini jauh dari mana-mana dan suami hanya dicover tiket sub way dari apartemen sampai kantornya doang. Lebih dari itu ya bayar sendiri. Mau naik JR, bayar sendiri. Kalau apartemen dulu, dekat dengan beberapa keramaian dan dekat stasiun JR serta dicover tiket JR. Nah, harga ini mahal karena transportasi mencari oleh-oleh yang mahal. Kalau mau nyari harus ke St. Yokohama atau malah ke Tokyo sedangkan saat ini tinggal di Shin Yokohama. 

Teman kuliah suami yang pernah ke Jepang nitip pulpen, entah seperti apa saya nggak tahu. Dia nitipnya banyak banget. Suami saya sampai hunting lho ke beberapa toko yang harga alat tulisnya murah. Ada juga temannya yang kloter pertama nitip miniatur Tokyo Camii. Si teman tahu harganya berapa karena dia sudah beli dan ingin beli lagi. Awalnya suami saya nggak mau karena kalau ke sana jauh, mau naikin harga nggak enak secara dia tahu harganya. Nah, si teman itu tahu kalau mau ke Tokyo Camii transportnya lumayan dan dia pengiin banget. Akhirnya suami bilang aja harganya sekian (dinaikkan dari harga semula karena dihitung dengan transportnya). Eh si teman tersebut tetep mau lho. Yo wes, karena sudah bilang, mau nggak mau ya kudu beli. Tapi ada lho teman saya yang mau nitip Macbook karena katanya harga di sini lebih murah dibanding di Jakarta. Lah, suami saya nggak mau kalau barangnya gedhe apalagi alat elektronik. Resikonya lebih besar lagipula lebih baik beli di Indonesia agar prosesnya lebih mudah kalau terjadi masalah. Ada juga yang nitip komik One Piece edisi pertama yang pakai bahasa Jepang. Alamak, susah nyarinya dan ditolak sama suami, hihihihi. Jadi, kalau mau menerima tawaran oleh-oleh, dipikir dulu, susah nggak, berat nggak, makan tempat nggak, resikonya gimana. Hihihi, banyak ya pertimbangannya. Maklum, suami kan kerja ya jadi nggak mau pusing mikirin titipan oleh-oleh. 

Karena suami saya diperpanjang masa dinasnya dan untungnya ada temannya yang mau balik ke Indonesia akhir Januari lalu, maka oleh-oleh yang sudah lunas tersebut dititipkan ke temannya. Nggak enak juga sama customer kalau dianggap nggak sesuai janji. Suami saya pun juga merasa nggak enak karena nitip barang ke temannya dan memberi fee ke temannya tersebut. Tapi temannya menolak dititipi miniatur Tokyo Camii karena memakan tempat, kalau barang yang lain ringan dan kecil jadi nggak memakan tempat. Ya sudah, nggak papa, miniaturnya ditinggal. Oleh suami, beberapa barang yang mau dipaketkan ditambah oleh-oleh sendiri yang sudah dibeli. Kalau teman kuliahnya yang nitip pulpen, disuruh milih mau dikasih apa. Kalau customer yang belum kenal, dikasih koin Jepang sama suami saya, katanya orangnya seneng banget dikasih koin hihihi.

#Pengalaman Teman Suami

Sewaktu pertama kali nyampai Jepang karena lama nggak ketemu, akhirnya semalaman kami ngobrol ngalor-ngidul. Menceritakan keadaan satu sama lain ketika berjauhan. Sampai suami cerita soal oleh-oleh. Dalam dinas ini, suami saya kloter terakhir dan menjadi orang terakhir dari perusahaannya. Jadi, di apartemen ada beberapa barang yang diwariskan teman-temannya karena ada yang over bagasi. 

Sebut saja namanya Bunga (nama samaran). Bunga itu bergabung di komunitas yang menjadi hobinya juga. Dia banyak dititipi oleh-oleh sama teman kantornya atau sama teman di komunitasnya. Yang membuat suami saya heran, kok mau-maunya bolak-balik ke tempat yang sama hanya untuk beli barang yang menjadi titipan. Jadi, waktu itu suami dan beberapa temannya jalan ke suatu tempat. Di sana Bunga bilang ke A kalau ada barang yang dicari. Beruntungnya, waktu itu ada teman yang membawa modem jadi mereka bisa nebeng internet gratis. Karena pesan nggak dibalas, akhirnya Bunga urung membeli barang tersebut. Eee nggak tahunya beberapa hari kemudian A bilang mau. Karena nggak enak, Bunga balik lagi ke tempat wisata tersebut dan beli barang itu. Padahal tempat tersebut lumayan jauh dari apartemen, harus melewati beberapa subway dan mungkin JR stasiun. Waduh, kebayang dong ya pengorbanan Bunga.

Nah, ada lagi yang nitip ke Bunga, kali ini teman kantor. Mungkin suami baliknya masih beberapa bulan lagi dan suami saya orangnya tegas di awal jadi sedikit yang nitip. Ada beberapa teman yang nitip dan membuat Bunga bolak-balik mencari barang tersebut. Bunga bingung, mau dibeli harganya mahal, nggak dibeli nggak enak. Bunga juga bingung beberapa barang yang menjadi titipan nanti diganti apa enggak karena Bunga bilang 'ya' saja ketika dititipi. Akhirnya Bunga curhat ke suami. Saran suami, bilang aja, barangnya ada dan harganya sekian. Bunga manut dan bilang ke si penitip, akhirnya si penitip nggak jadi hihihi. 

Karena oleh-oleh Bunga banyak dan berat, maklum ada keramik beberapa set dan buku-buku yang tebal, dia memutuskan akan memaketkan barang tersebut dari Jepang. Alamaaak. Ketika dia tanya sama teman kantor yang orang Jepang asli bagaimana cara memaketkan dari Jepang, akhirnya Bunga dibantu kantor Jepang. Baik banget ya kantornya. Ternyata berat kardus yang harusnya 20 kg masih over jadi 25 kg. Yang membayar kelebihannya siapa? Ya kantorlah, hihihi. Kelebihan 5 kg itu kalau dirupiahkan jumlahnya enam digit lho. Karena Bunga mendapat fasilitas tersebut, akhirnya titipan miniatur Tokyo Camii sekalian dibawa toh yang nitip juga teman sekantor jadi nggak perlu pakai ekspedisi lagi. Untuk hal ini, alhamdulillah saya dan suami belum pernah mengalami. Jangan sampai kami merepotkan orang kantor soal oleh-oleh. Wong saya sudah dibantu mengurus COE dan dokumen saja bersyukur dan terimakasih banget. 

Jujur ya saya tercengang melihat perjuangan suami dan temannya. Kalau suami kan karena sudah niat mau ambil untung meski sedikit jadi ya sudah resiko. Kalau pengalaman temannya, saya geleng-geleng dan tertawa deh.

Tulisan ini sekedar share apa yang dialami suami dan temannya. Di satu sisi, mungkin ada anggapan oleh-oleh kok dibisniskan. Toh menurut saya, suami membiniskan ini dengan sukarela, tidak ada unsur paksaan harus beli dan secara Islam jual beli ini sah. Sedangkan temannya Bunga mungkin bisa jadi ladang amal baginya. Btw, hidup butuh keseimbangan, tidak berat di satu sisi, hihihi. 

















Continue Reading…

Menyusul Suami ke Jepang

Alhamdulillah, saya diberi kesempatan lagi berkunjung ke Jepang. Setahun lalu, dengan urusan yang sama, saya dan suami tinggal di Jepang selama beberapa bulan. Kalau dulu, saya dan suami bisa berangkat dan pulang bareng, sekarang saya menyusul suami yang sudah tinggal lebih dulu beberapa bulan. Awalnya juga tidak sengaja hingga saya bisa menyusul suami ke Jepang.

November lalu, suami berangkat dinas ke Jepang dengan visa kerja hanya tiga bulan. Rencananya, akhir Januari suami akan balik ke Indonesia. Nah, berhubung kami memang sedang BU (butuh uang) jadi saya terpaksa tidak ikut. Yup, kami memutuskan untuk LDR beberapa bulan. Eh, nggak tahunya, sewaktu Natal kemarin, masa kerja suami saya diperpanjang sampai Mei. Kaget dan senang juga sebenarnya. Kami tidak menyangka kalau dengan begitu salah satu rencana kami dimudahkan Tuhan. Dan, suami dapat bonus pula, bisa import istri, hihihi. Iya, itu bahasa suami ke saya, istri import. Makanya saya disuruh menyusul ke Jepang. Jujur sih, saya senang banget.

Beruntungnya, semua dokumen diurus kantor suami. Jadi saya hanya mengirim paspor ke kantor suami via ekspedisi. Saya pikir mengirim paspor atau dokumen penting seperti mengirim paket biasa. Paspor saya masukkan ke amplop putih yang biasa buat kondangan dan saya tulis alamat tujuan. Eh, setelah sampai di ekspedisi, saya ditanya barang apa yang dikirimkan. Saya jawab saja 'paspor.' Ternyata kalau mengirim dokumen penting berbeda dengan paket biasa. Saya diwajibkan membayar asuransi, takut terjadi apa-apa dengan dokumen tersebut. Saya hanya manut saja dengan petugasnya. Alhamdulillah, paspor sampai ke kantor suami tepat waktu. Sedangkan foto, cuma memakai HP dan kirim via email ke suami, hihihi. 

Nah, suami sempat menawarkan ke saya, mau pakai COE apa enggak? Dengan harapan siapa tahu nanti diperpanjang lagi dinasnya, maka saya minta memakai COE. Apa itu COE? COE atau Certificate of Eligibility adalah surat yang diterbitkan pihak imigrasi Jepang yang menyatakan bahwa pihak yang nama dan fotonya ada di surat tersebut mendapat rekomendasi untuk tinggal dalam jangka waktu tertentu. Dengan COE ini, kalau misalnya masa kerja suami diperpanjang lagi maka saya masih bisa tinggal bareng. Kalau nggak pakai COE, masa tinggal sesuai dengan yang tertera di visa.

Seperti yang sudah saya ceritakan di atas, semua dokumen diurus oleh kantor melalui agen. Jadi saya hanya nyantai aja di rumah menunggu kabar. Pembuatan COE lumayan lama sekitar 1-2 bulan. Nah, saya juga ketar-ketir mengingat belum memesan tiket berangkat dan kenaikan Dollar yang gila-gilaan, membuat saya dan suami pusing karena harus menyiapkan dana lebih. Aduh, nggak enak banget deh kalau mengingat masa-masa itu.

Setelah COE jadi saya disuruh datang di Kedubes Jepang untuk membuat visa. Yup, saya cuma ketemu agen dan duduk manis, hihihi. Meski membawa dokumen asli lengkap, saya hanya ditanya sebentar saja dan dicocokkan fotonya. Saya membuat visa hari Kamis tanggal 26 Februari dan dijadwalkan hari Selasa tanggal 3 Maret bisa diambil. Setelah itu, saya dan suami hunting tiket untuk keberangkatan tanggal 5 Maret. Saya sampai hunting ke pameran Travel Fair Garuda di Gancit lho demi tiket murah. Setelah sampai di Gancit, ternyata tiket murahnya hanya berlaku seminggu, berarti hanya untuk wisata sedangkan kalau tiket yang biasa harganya lumayan mahal karena saya memilih tiket direct Garuda. Jadi informasi apapun yang saya dapat di situ langsung dikomunikasikan ke suami via WA. Alhamdulillah, akhirnya suami dapat tiket promo melalui CC-nya. Lumayanlah dibanding tiket yang ada di pameran tersebut. Meski dapatnya hanya tiket berangkat saja, nggak papa, tiket pulang bisa dicari nanti.

Saya agak lega waktu itu karena sudah mendapat tiket berangkat dan visapun tinggal menunggu dikirim dari kantor. Ternyata drama terjadi. Hari Selasa siang, saya mendapat telepon dari agen yang menyebutkan bahwa visa belum bisa diambil, katanya ada proses yang belum selesai. Duh, saya deg-degan banget. Sore itu juga saya telepon Kedubes dan ternyata bagian visa sudah tutup. Oleh pihak agen dan kantor, saya diminta telepon Kedubes hari Rabu untuk tanya kenapa. Saya ambil nafas dalam-dalam dan berusaha tenang. Esoknya, saya telepon Kedubes Jepang dan petugasnya kurang merespon dengan baik. Saya infokan secara paralel dengan agen dan kantor suami. Gimana nggak bingung, Kamis harus berangkat tapi Rabu visa belum jadi. Mumet ndaaa. Entahlah bagaimana caranya pihak kantor dan agen berjuang agar visa jadi hari Rabu. Saya hanya pasrah. 

Makanya hari Rabu itu saya berusaha tenang tapi nggak bisa tenang banget sebenarnya. Mau ngapa-ngapain juga nggak enak. Mau pergi jajan juga kayaknya nggak bisa. Sampai akhirnya jam 15.15 saya mendapat SMS dari agen yang mengabarkan kalau visa sudah beres. Alhamdulillah Gustiii, matur nuwun. Saya terharu. Dan, hari Kamis siang paspor dan visa diantar ke rumah. Setelah itu, saya pijat di klinik langganan dan makan mie ayam favorit yang dekat rumah. Saya ingin merayakan kebahagiaan meski sendiri, hihihi. Yup, saya sering melakukan hal-hal kecil untuk merayakan kebahagiaan meski sendirian. Rasanya happy banget karena stress berkurang dan yang penting, saya bahagia dengan apa yang saya lakukan saat itu. Saat balik ke rumah, saya masih beberes lagi lalu berangkat ke bandara.

Dari awal suami sudah bilang kalau kali ini turun di Haneda dan saya nggak dijemput di bandara. Asal tahu, itu pertama kalinya saya di Haneda. Pengalaman tahun lalu, saya turun di Narita dan dijemput  oleh petugas apartemen di YCAT (Yokohama City Air Terminal). Sekarang saya sih santai saja dan sangat menikmati perjalanan. Mungkin ini kali kedua saya ke Jepang, meski sendirian tapi santai banget. Kalau nggak tahu ya saya tinggal tanya ke bagian informasi bagaimana cara naik bus ke Shin-Yokohama. Saya diminta beli tiket dan menunggu bus di platform 8. Harga tiketnya 840 Yen sedangkan untuk anak-anak separuh harga. Untuk lebih jelasnya bisa dicek di sini. Saat membeli tiket, saya mendapat 2 lembar. Setelah menunggu sebentar, akhirnya bus datang sesuai jadwal. Begitu masuk bus, tiket yang satu diserahkan ke sopir sedangkan satunya lagi untuk penumpang. Seperti biasa, mau penumpangnya banyak atau sedikit, kalau waktunya berangkat ya berangkat. Dan, petugas yang ada di platform akan membungkuk seakan memberi ucapan selamat jalan dan hati-hati. Ah, saya tersenyum melihat itu. Hal-hal inilah yang saya sukai di Jepang. Setelah sampai di Shin-Yokohama, suami sudah menjemput. Alhamdulillah, akhirnya bisa bareng suami lagi. 



























Continue Reading…

Friday, March 13, 2015

Ikhtiar Hamil ke Sukimin Taryono

Ini salah satu ikhtiar hamil saya ke pengobatan alternatif, khususnya pengobatan China. Mulanya saya tahu soal pengobatan ini dari sepupu yang juga berobat ke sana. Kalau di internet terkenal dengan sebutan Shinse Sukimin. Namanya juga ikhtiar ya, makanya saya bela-belain datang untuk ikhtiar hamil ke Sukimin Taryono.

Pertama kali datang ke Shinse Sukimin pada bulan Januari lalu, saya bela-belain menginap di rumah sepupu yang ada di Bekasi. Maklum, saya tidak tahu sama sekali tentang Sukimin. Boro-boro tahu, daerah Rawamangun saja saya belum pernah ke sana. Waktu itu, rencananya, saya, sepupu, dan suaminya berobat ke Sukimin bersama. Kami berangkat Jumat pagi. Kami memilih hari kerja biar tidak rame. Kata sepupu, kalau weekend, pengobatan di sini rame banget. Ternyata, jalan tol macet parah ditambah hujan pula. Perjalanan yang biasanya hanya satu jam, saat itu menghabiskan waktu empat jam. Jenuh banget deh di mobil.

Pengobatan Sukimin berada di Jalan H.Ten, Rawasari, Jakarta Timur. Letaknya persis di depan Ayam Bakar 'AGTL'. Kalau membaca plangnya, Sukimin Taryono termasuk pengobatan urut (accupressure). Pengobatan ini ada nomor praktiknya. Tempatnya kecil dan sempit. Ruangannya terdiri dari ruang tunggu, ruang praktik, dan toilet. Saya kira bakalan ada tempat pendaftaran, ternyata tidak ada sama sekali. Pasien antri sesuai kedatangan. Pengobatan Sukimin Taryono buka setiap hari kecuali hari Minggu dan libur, mulai pukul 08.00-17.00. 

Awalnya saya mengira kalau Sukimin itu penampilannya seperti shinse China pada umumnya yang berjenggot, tua, dan sipit. Ternyata penampilannya sangat casual. Kadang-kadang memakai kemeja bahkan kaos oblong. Dan, gaya bicaranya ceplas-ceplos, pakai lu-lu-gue-gue. Beneran! Jauh dari kesan seorang terapis China. Sedangkan pasien yang datang ke Sukimin tidak hanya mereka yang ingin hamil namun juga ada pasien yang terkilir, asam urat, stroke, dll. Namanya pengobatan alternatif, pasti pasiennya beragam, ya. Yang membuat saya tertarik berobat di sini selain karena ikhtiar juga karena (katanya) Sukimin bisa memprediksi penyakit tanpa kita cerita sakitnya. Ketika saya mempraktikan, betul lho. Beliau bisa tahu kalau saya PCO tanpa saya cerita terlebih dulu. 

Berobat di sini cuma dipijat di bagian kaki. Iya, cuma itu. Kalau kita memang sakit, ya akan terasa sakit kalau dipijat. Jadi kaki akan diberi krim lalu dipijat. Nah, di situ Sukimin akan 'mendeteksi' penyakit kita. 

Sewaktu berobat pertama kali, saya belum mens bahkan telat beberapa minggu dari bulan sebelumnya. Saya hanya membayar biaya pijat Rp.80.000,- dan membeli arak seharga 1,5jt. Hiks, araknya mahal banget. Araknya sebotol sirup, berwarna hitam, dan berisi seperti aneka tanaman, utamanya akar-akaran. Arak ini tidak untuk diminum, tapi dioles ke perut. Kalau mens, dioles setiap hari dengan jumlah yang agak banyak. Kalau nggak mens, bisa dioles dua hari sekali. Kata Sukimin, arak ini tidak ada kadaluarsanya, makin lama katanya makin bagus. Arak ini bisa untuk macem-macem, bisa untuk obat jerawat atau lutut nyeri. Singkatnya mungkin arak serbaguna, hihihi. Oia, biasanya pasien yang mau hamil disuruh datang lagi pas hari kedua atau ketiga mens.

Arak dari Sukimin Taryono
Setelah berobat ke sana, besoknya saya mens. Wah, tokcer nih, pikir saya waktu itu. Sesuai dengan janji, maka hari ketiga mens, saya kembali ke sana tapi sendirian, tidak bareng sepupu lagi. Jujur, saya nggak tahu sama sekali daerah Rawamangun. Mulailah bertanya ke beberapa teman soal angkutan ke sana. Berkat bantuan teman dan penumpang yang duduk di sebelah saya, dari Depok cukup naik AC-84 turun di Mega lalu oper angkutan 04 jurusan Rawasari-Cililitan, bilang saja turun di H.Ten, depan ayam bakar. Oia kalau oper angkutan yang ke arah Rawasari atau bilang ke arah H.Ten, jangan sampai keliru ya arah angkutannya. Turun tepat di depan praktik 'Sukimin Taryono.' 

Pengobatan kedua, saya hanya dipijat. Pijatnya cuma sebentar, mungkin paling lama 10 menit. Setelah itu pulang. Iya, nggak cucok sama perjalanan dari Depok-Rawasari yang berjam-jam, hihihi. Kemudian hari ke-9 (sepertinya, agak lupa soalnya) saya disuruh ke sana lagi untuk dilihat apakah sel telurnya baik apa engga. Oke, seperti biasa, saya ke sana. Dari Depok biasanya bus AC-84 berangkat jam 8 pagi dan sampai di Sukimin sekitar jam 10. Karena waktu itu saya LDM sama suami, jadi saya nggak disuruh membeli jamu. Proses pijat ini saya lakukan tiap telat mens, waktu mens, dan untuk mengetahui masa subur. Begitu siklusnya. Sampai suatu hari saya mau ketemu suami, akhirnya membeli jamu. 

Jamunya kalau nggak salah berjumlah enam plastik, berisi berbagai macam tanaman. Baunya harum sih kalau belum dimasak. Rasanya pahit banget, ampun dah. Saya kalau minum harus tutup mata dan hidung, saking nggak kuat sama bau dan rasanya. Tapi kalau habis minum jamu lalu minum air putih atau makan camilan, pahitnya cepat hilang kok. 

Aturan minum jamu yaitu diminum pada hari ke-7 mens, diminum pagi dan sore hari. Satu bungkus untuk dua kali minum. Pagi hari, jamu direbus dengan air mendidih sebanyak 2 mangkok (mangkok ayam jago) dan sisakan air sebanyak satu mangkok lalu diminum. Sore hari, jamu yang ada di panci diberi air dua mangkok (kira-kira 80% dari volume). Karena ini rebusan kedua, airnya jangan full tapi 80% dari volume mangkok dan nggak perlu air mendidih, sisa jamu dan air boleh direbus bersama. Kemudian sisakan air satu mangkok lalu diminum. Setelah itu jamu dibuang dan diganti dengan yang baru. Begitu terus sampai jamunya habis. Sampai dengan tulisan ini dibuat, sisa jamu yang harus saya minum tinggal satu plastik. Alhamdulillah, saya akan mengakhiri berjibaku dengan jamu tersebut, hihihi. Harga jamu keseluruhan Rp.700.000,- atau Rp.800.00,- ya (maaf saya lupa, hihihi). Antara itu angkanya.

Efeknya bagaimana?

Sejauh ini, saya merasa biasa-biasa saja. Kalau telat mens dan pijat di Sukimin, selang sehari atau dua hari langsung mens. Kalau masalah jamu dan arak biasa saja. Yang saya rasakan, bagian perut yang diberi arak memang agak panas. Sewaktu pemijatan masa subur, kata Sukimin sel telur di sebelah kiri besar dan bagus. Sedangkan yang di sebelah kanan kecil. Kata Sukimin, masalah PCO saya ada di sebelah kanan. Jujur, saya sempat kaget karena sewaktu periksa di Bunda, dokter yang memeriksa saya sempat bilang persis dengan Sukimin. PCO yang di sebelah kiri sudah bersih, tinggal yang kanan. Ya, ternyata PR saya masih banyak untuk bisa hamil dan mendapatkan keturunan. Ayo, semangat!














Continue Reading…

Wednesday, March 04, 2015

Peduli Pajak

Buat apa bayar pajak kalau dikorupsi? Ungkapan tersebut sering banget terdengar. Ya, pandangan masyarakat yang negatif mengenai pajak sepertinya sudah lazim apalagi mencuatnya kasus soal pajak yang menghebohkan beberapa tahun lalu. Padahal kalau dipikir, anggaran pembangunan terbesar itu dari pajak makanya sebagian besar barang yang kita beli pasti kena pajak. Bahkan, penghasilan juga kena pajak lho, hihihi.

Bulan Februari lalu, bertempat di Kanwil DJP Wajib Pajak Besar yang berlokasi di Jalan Medan Merdeka Timur, blogger diundang dalam acara 'Ngobrol Pajak Bareng Blogger'. Lagi-lagi blogger mendapat undangan istimewa. Kenapa istimewa? karena yang mengundang instansi pemerintah yang mana mereka sangat percaya akan tulisan blogger yang bisa membawa dampak bagi masyarakat. 



Secara garis besar, pajak ada dua yakni pajak pusat dan pajak daerah. Masing-masing sudah dirinci berdasarkan jenisnya. Pajak tersebut akan masuk ke kas negara kemudian digunakan sebagai APBN guna membiayai kegiatan-kegiatan untuk melayani masyarakat melalui kantor pemerintah. Dalam beraktivitas, masyarakat tak lepas dari pajak yang digunakan untuk membiayai kegiatan pelayanan masyarakat. Begitu terus siklusnya dari masyarakat-pajak-APBN-pelayanan. Jadi bisa dikatakan kalau pajak itu dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Dasar inilah yang digunakan oleh kantor pajak menggunakan logo lebah. Diharapkan, pajak seperti lebah yang menghasilkan madu dan bermanfaat untuk orang banyak.

Nah, selama ini ke mana pajak disalurkan? Jadi, pajak yang terkumpul akan digunakan untuk kemakmuran rakyat. Misalnya saja pembangunan infrastruktur, layanan pendidikan dan kesehatan, subsidi, dll. Ehem, mungkin masih banyak yang kurang percaya akan pengelolaan pajak ini yang terlihat dari beberapa fasilitas publik yang kurang layak, sekolah yang masih memprihatinkan, banyaknya jalan berlubang, dll. Well, janganlah berpikiran negatif, sebagai warga yang bijak, taatlah pada pajak. Semisal banyak orang yang tidak taat pajak, lah dana pembangunan ini dari mana? 

Melihat aktivitas di KPP

Beberapa poin yang saya tangkap dari acara tersebut antara lain : 

1. Untuk IRT, tidak wajib punya NPWP jika tidak mempunyai penghasilan tetap. Kalau mendapat penghasilan yang terkena pajak, bisa diikutkan ke suami. Atau bisa saja IRT mempunyai NPWP jika mau pisah harta. Aduh, semoga hal ini tidak terjadi ya. Tapi kalau sudah mempunyai NPWP dari masa kerja dulu, bisa saja dilanjutkan atau dilaporkan penghasilannya 'NIHIL'. 

2. Kantor pajak tidak menerima pembayaran tunai dari masyarakat. Kantor pajak hanya melayani penerimaan berkas pajak atau pembuatan NPWP baru. Sedangkan pembayaran dilakukan di bank atau kantor pos.

3. KPP melayani pembuatan EFIN (Electronic Filling Identification Number) yang berguna untuk melakukan pelaporan secara online.

Ayo, peduli pajak karena kalau bukan kita, siapa lagi? ^-^









Continue Reading…

Mengenal Icity dari Indosat

Sewaktu ada notifikasi di grup tentang Icity dari Indosat, saya tertarik karena saya pelanggan Indosat puluhan tahun. Meski kadang kalau pulsa internet memakai provider lain, tapi nomer utama saya Indosat. Bahkan keluarga semua memakai Indosat dari orang tua dan adik-adik saya *beneran lho ini.

Bulan lalu di Auditorium Lt. 4 Kantor Pusat Indosat saya ikut acara Digital Community Hangout with Forum Icity. Pesertanya sebagian besar blogger. WOW! Ternyata saat ini blogger lagi happening banget. Karena apa? Tulisan blogger dianggap lebih personal dan dijadikan referensi bagi mereka yang membutuhkan informasi. Apalagi sekarang tinggal sekali klik ke mbah google. Iya kan?

Pilihan Menu di Icity

Jujur, saya nggak tahu apa itu Icity. Dan, baru buka web icity setelah acara tersebut, hihihi. Pada tahun 2012 forum ini semula bernama 'Forum Ngobrol Bareng', makin lama semakin berkembang dan menjadi 'Icity'. Forum ini lebih menekankan pada forum berbasis solusi. Jadi kalau teman-teman butuh solusi atau informasi mengenai gadget, layanan Indosat, minat, serta aktivitas komunitas bisa banget join di sana. Enaknya lagi, forum ini terbuka juga bagi teman-teman yang tidak memakai Indosat. 

Icity mengutamakan solusi dan manfaat bagi penggunanya. Forum Icity mempunyai lima kategori utama dengan bank solusi komunitas sebagai fitur unggulan. Fitur ini memudahkan user menemukan cara yang langsung, cepat, dan mudah mengatasi permasalahan, utamanya seputar gadget. Atas dasar ini pula, forum Icity meraih Telecom Asia Award 2014 untuk kategori Most Advance Approached to CEM ( Customer Experience Management). 

Sumber Gambar dari Icity

Di Icity, setiap anggota bisa masuk ke grup yang diminati. Ada grup Football Fans, Music and Movies, Travel and Culinary, Smartphone Photography, dan Automotive. Dengan berkenalan dan memposting pertanyaan atau informasi apa pun, kita bisa mendapat solusi, ilmu, dan komunitas yang baru.

Apa saja yang didapat selama menjadi user icity? Banyak, sih. Saya baru saja menjadi user tapi belum aktif banget dan masih belajar menggunakan fitur-fiturnya. Dengan membuka web icity, info mengenai lomba dan hadiah dari Indosat bertebaran. Yang paling sering dibagikan tentu saja voucher pulsa Indosat gratis. Sampai postingan ini dibuat, yang sedang hits yaitu lomba video for fun yang diadakan Cipika dengan total hadiah ratusan juta rupiah. Dengan icity pula, bila user beruntung, bisa saja mendapat privilege di acara yang disponsori Indosat.

Mas Fandi dan Om Dok Sharing Pengalaman 

Pada acara yang lalu, user Icity dari Semarang dan Surabaya datang membagikan pengalaman mereka. Mas Fandi dan Om Dok menceritakan manfaat mereka bergabung di Icity. Menurut mereka, sesama user saling kenal satu sama lain jadi saat ada masalah, mereka yang tinggal di satu kota bisa langsung bertemu dan memberikan solusi. Terlepas dari tujuan komersialnya, jika ada forum yang memberikan manfaat, kenapa nggak dicoba?












Continue Reading…
Powered by Blogger.

Recent Posts

    Follow Me

    Page Views

    Copyright © Pipit Widya | Powered by Blogger
    Design by Saeed Salam | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com