Tuesday, April 14, 2015

Silaturahmi ke Blog Mak Ophi Ziadah




Hhhmm, saya tahu blog-nya Mak Ophi Ziadah karena sama-sama member KEB. Meski tergabung dalam satu komunitas, namun saya belum pernah ketemu, hihihi. Silaturahmi ke blog Mak Ophi Ziadah sudah saya lakukan sejak blognya masih memakai blogspot sampai blognya sudah ganti dotcom. Kereen!

Waktu pertama kali main ke blognya Mak Ophi saya melongo. Kagum dan ngiri, tepatnya, hihihi. Kenapa? Soalnya Mak Ophi ini blogger yang aktif. Ya aktif bekerja, menulis, dan jalan-jalan, hihihii. Banyak banget pengalaman jalan-jalannya, apalagi yang ke luar negeri. Asli keren dan bikin mupeng! Meski ada yang ke luar negeri karena dinas, tapi beliau juga nggak pelit cerita tentang perjalanannya itu. Jadi seakan-akan saya juga berada di sana, membayangkan seperti yang Mak Ophi ceritakan. Postingannya sering ditambah dengan foto-foto yang keren. Sumpah, jadi tambah pengin. Saya salah satu penikmat foto-fotonya yang sering dishare di facebook. Maklum ya, saya nggak punya IG, nggak bisa foto soalnya. Hihihi, jadi penikmat sajalah. Meskipun sering ke luar negeri, tapi emak yang satu ini masih suka naik transportasi umum, lho, terutama commuter line. 

Saya ingat cerita beliau yang hampir kecopetan di kereta. Tapi, yang paling saya suka yaitu tulisan Khayalan Pengguna Commuter Line. Saya suka postingan tersebut karena saya juga punya pemikiran yang sama soal transportasi umum di Indonesia. Sepertinya itu tulisan dari hati banget, ya. Soalnya Mak Ophi kan tiap hari naik commuter line jadi tahu betul bagaimana idealnya transportasi umum yang nyaman biar banyak peminatnya. Meski sekarang commuter line sudah ditambah gerbong dan jadwal keberangkatannya, tapi masih saja uyel-uyelan di rush hour. Saya pernah, lho, ngalami hal yang sama dengan Mak Ophi. Makanya kalau pulang dari acara blogger atau jalan-jalan saat hari kerja, saya menghindari rush hour. Duh, udah kayak ikan dipepes, nggak bisa gerak sama sekali di dalam kereta. Khayalan Mak Ophi, sih, enggak muluk-muluk, tapi memang sudah seharusnya karena macet di Jakarta sudah parah. Apalagi daerah lain sudah menunjukkan fenomena yang mirip dengan Jakarta. Andai banyak orang yang naik commuter line atau transportasi umum, pasti deh, kemacetan bisa berkurang dan yang terpenting bakal HEMAT ENERGI. Nah, sekarang kan lagi gencar-gencarnya kampanye soal bumi hijau kan? 

Oia, meski beberapa kali silaturahmi ke blognya Mak Ophi, saya mau kasih saran, nih : 

1. Baiknya Mak Ophi memperkenalkan diri di blognya biar pengunjung yang datang pertama kali bisa tahu dan kenal dengan Mak Ophi.

2. Label blog jangan diletakkan di bawah karena orang kadang bingung dan nggak sempat scroll sampai bawah. Sebaiknya diletakkan di sisi kanan dengan berbagai widget yang sudah ada.

3. Kalau ada menu 'recent post' enak, tuh. Jadi pengunjung tahu postingan terbaru.

4. Di bagian atas kok ada 'Next blog' ya? Itu blognya Mak Ophi yang lain-kah? Atau blog yang difollow? Soalnya kalau diklik, macem-macem blognya. Hhhmm, saya bingung, Mak. 

Ya udah, deh, segitu aja, ya. Buat teman-teman yang mau tahu lebih jauh tentang Mak Ophi, silakan blogwalking. Nambah teman, nambah saudara, siapa tahu bisa nambah rezeki. Aamiin :)



Total kata : 481.



''Tulisan ini diikutsertakan dalam Mom of Trio 1st Giveaway''







Continue Reading…

Saturday, April 11, 2015

Sakura Malam

Setelah berhanami di Shinjuku Gyoen, perjalanan kami lanjutkan. Berhubung dari Shinjuku Gyoen jam lima sore, jadi saya dan suami agak santai jalannya. Toh, kami punya tiket Tokunai Pass, jadi agak tenang karena nggak perlu antre beli tiket. Kalau tahun lalu kami nggak melihat sakura malam, maka tahun ini, saya sudah bertekad mau melihat sakura night. Sebenarnya yang pengin banget melihat sakura malam sih saya. Biasalah, suami bertugas mengurus transportasi, hihihi. 

Meski sudah masuk musim semi, cuaca tahun ini berbeda dengan tahun kemarin. Menurut teman saya yang asli Jepang pun demikian. Tahun kemarin, saat sakura mekar udaranya sudah agak panas dan jarang hujan. Nah, hanami tahun ini cuaca agak mendung. Sempat takut juga kalau hujan karena rencana bisa agak terganggu.

Seperti biasa, sebelum pergi, beberapa hari sebelumnya saya googling dulu. Nah, dari hasil googling, sebenarnya ada beberapa tempat yang bagus di Tokyo untuk sakura night viewing. Kalau mau ke sana semua, nggak sanggup lah, kakaaak. Butuh koyo berapa itu? Lagi pula, meski sudah musim semi, tapi udara malam masih dingin banget. Nggak kuat kalau malam harus jalan kedinginan. Nah, kami putuskan untuk sakura night viewing ini cuma dua tempat saja. Pertimbangannya, kedua tempat tersebut memang yang ngehits bagi wisatawan. Mana saja tempatnya?

1. Sakura Night di Chidorigafuchi

Dari Shinjuku, kami turun di Iidabashi. Saya dan suami bingung juga waktu mau naik kereta karena St. Shinjuku sangat besar dan rame. Kami naik kereta Chuo Line lokal dan turun di St. Idabashi. Nah, setelah itu jalan kaki. Sempat kesasar juga, sih. Tapi nggak parah, kok, kan ada suami, hihihi. Saya sempat takut dan bingung karena sepanjang jalan sepi banget. Takut kalau kesasar lagi. Setelah jalan kaki 15 menit, kami sampai di Chidorigafuchi. Di sini ternyata suasananya beda dari jalan yang kami lalui, rame buanget. Banyak tenda makanan dan orang-orang makan malam. Lokasi ini ternyata bersebelahan dengan Tokyo Impereal Palace

Sebelum melihat sakura, saya dan suami jalan-jalan sebentar menikmati keramaian malam di area tersebut. Kami juga beristirahat sambil makan bekal roti dari rumah. Setelah itu lanjut melihat sakura malam. Cuma nyebrang saja ternyata. Nah, begitu sampai, olalaaaa ruamenyaaaa. Buanyak banget orang yang antre mau foto. Untungnya ada polisi yang mengatur pengunjung dan selalu woro-woro untuk waspada. Pastinya pagar pembatas untuk keamanan pengunjung sudah tersedia. 

Hasil fotonya kurang bagus karena susah mau pakai tripod

Kalau ke Chidorigafuchi, selain bisa foto sakura baik siang maupun malam, pengunjung juga bisa naik perahu. Saya kurang tahu kalau mau naik perahu bayar berapa. Yah, karena sudah malam dan tujuan kami sakura night viewing jadi kami nggak pengin naik perahu. Secara biar ngirit juga, sih, hihihi. Kalau malam, saking banyaknya orang yang mau ambil foto sakura, susah juga untuk mendapatkan tempat yang ciamik buat foto. Banyaknya orang yang mau foto membuat pengambilan gambar kurang bagus, nih. Maklum ya, saya dan suami nggak fasih kalau soal foto-memfoto. masih banyak belajar. Kami sempat jalan-jalan di sekitar sungai tersebut dan untungnya dapat tempat yang agak tenang, jadi bisa foto pakai tripod.

Lumayan lah ya hasilnya daripada lumanyun :)





Kami di Chidorigafuchi hampir satu jam karena antre foto dan jalan-jalan melihat sakura. Ruamenya minta ampun. Banyak banget wisatawan yang ke sini karena sakura memang cuma sebentar masa bunganya. Setelah itu, kami lanjut ke Naka Meguro. 

2. Sakura Night di Naka Meguro 

Dari Chidorigafuchi, dengan jalan yang sama kami balik ke St. Iidabashi. Dari St. Iidabashi kami menuju ke St. Ebisu. Jalan kaki dari St. Ebisu ke Naka Meguro sekitar 15 menit. Sebenarnya kami sudah capek banget tapi demi sakura night, kami rela berjalan kaki mana dingin pula. Berhubung kami menggunakan Tokunai Pass, terpaksa deh jalan kaki. Sebenarnya ada stasiun yang lebih dekat, yakni St. Naka Meguro, tapi stasiun ini tidak masuk cakupan Tokunai Pass karena bukan lingkup JR East.

Akhirnya sampai juga di Naka Meguro jam 20.30. Suasana di Naka Meguro rame sih, tapi nggak serame di Chidorigafuchi. Apa karena kami kemalaman ya? Ternyata tepat jam 21.00 ada beberapa lampu yang sudah dimatikan jadi nggak terlalu terang. Meski demikian, polisi masih berjaga dan mengatur jalanan, kok. Jadi aman, deh. Jujur, sih, saya lebih suka melihat sakura night di Chidorigafuchi. 

Sakura Night di Naka Meguro 





Setelah puas melihat sakura malam di kedua tempat tersebut kami pulang. Meski capek, tapi kami seneng banget. Akhirnya kesampaian juga melihat bunga sakura di malam hari. Ah, sakura memang selalu cantik dilihat. 
















Continue Reading…

Hanami di Shinjuku Gyoen

Sabtu awal April, saya dan suami memang berencana melihat hanami di Shinjuku Gyoen. Kami penasaran aja, sih, dengan tempatnya. Lagian tahun lalu kami sudah berhanami di Taman Ueno.  Jadi, pengin suasana lain aja. Seperti biasa, kami googling dulu tempatnya. Karena berada di daerah Tokyo, kami berencana sekalian melihat sakura malam. Yup, wisata sakura night view juga menjadi hits di Jepang. Jadi, kalau jalan-jalan di Jepang itu biasanya kami mencari beberapa acara lalu kami susun untuk sekali jalan. Maklum, ongkos transport menjadi perhitungan juga, jadi sekali jalan bisa beberapa tempat terlampaui.

Berhubung kami akan hanami dan sakura night view di beberapa tempat di Tokyo, maka kami membeli tiket one day pass agar lebih ekonomis. Tiket one day pass yang kami pilih Tokyo Metropolitan District Pass (Tokunai Pass) seharga 750 Yen. Dengan tiket ini, kami mau naik kereta JR East keliling Tokyo, free. Untuk info cakupan areanya bisa dilihat di sini.  

Dari Shin Yokohama, saya dan suami turun di Kamata untuk membeli tiket Tokunai Pass, yang dijual hanya di ticket vending machine area Tokyo. Untuk pemakaian pertama kali, kami memasukkan tiket tersebut ke ticket gate seperti biasanya. Sedangkan pemakaian selanjutnya kami tidak perlu memasukkan ke ticket gate, cukup dilihatkan pada petugas yang berjaga. Jadi kalau masuk atau keluar stasiun lewat jalur khusus dekat dengan penjaga tiket.  

Dari Kamata kami menuju St. Shinjuku. Setelah sampai Shinjuku lalu jalan kaki sekitar 10 menit sampai lah di tempat hanami, Shinjuku Gyoen. Karena hanami, pengunjung di taman ini sangat ramai. Untuk masuknya saja harus antre. Untungnya petugas yang berjaga sudah siap dan membuat pagar batas, jadi pengunjung tertib. Tiket masuk ke Shinjuku Gyoen sebesar 200 Yen. Iya, masuk ke taman ini nggak gratis, nggak seperti di Ueno. Dan, di taman ini pengunjung dilarang membawa minuman beralkohol.

Antre Masuk ke Shinjuku Gyoen

Tiket Masuk Shinjuku Gyoen
Menikmati hanami di Ueno dan Shinjuku Gyoen sangat berbeda. Kalau di Ueno mungkin karena gratis, pengunjungnya lebih banyak. Dengan banyaknya pengunjung, otomatis tempatnya ramai buanget. Hal ini belum ditambah banyaknya orang yang merayakan hanami di bawah sakura serta banyaknya penjual dan musisi yang ngamen. Padat merayap, deh, pokoknya kalau di Ueno. Jalan aja harus antri, hihihi. 

Hanami Tahun Lalu di Ueno

Hanami di Shinjuku Gyoen
Shinjuku Gyoen
Hal ini berkebalikan dengan hanami di Shinjuku Gyoen. Meski harus bayar, jumlah pengunjungnya juga banyak tapi nggak sebanyak di Ueno. Hanami di sini lebih tertib dan rapi karena nggak banyak penjual makanan. Ada, sih, tapi cuma sedikit. Itu pun dari pihak taman yang berjualan. Kalau di Shinjuku Gyoen, tempatnya seperti Kebun Raya Bogor. Taman ini banyak pohon bahkan beberapa area nampak seperti hutan. Udara di sini juga sejuk. Pemandangan di Shinjuku Gyoen lebih bagus daripada Ueno karena lebih banyak danau dan tempatnya berbukit. Di Shinjuku Gyoen pengunjung juga bisa melihat bangunan tua yang bagus banget. Namanya lupa, hihihi. Saran saya, mengambil foto di tempat ini, keren banget. Asyik, deh, pokoknya! 




Oia, di Shinjuku Gyoen banyak petugas taman yang berjaga. Mereka mengamati aktivitas pengunjung agar nggak merusak taman. Kalau sudah jam setengah lima sore, pengunjung akan 'diusir' karena taman mau tutup. Saat-saat 'pengusiran' tersebut, mereka akan berpatroli dari ujung ke ujung. Relawan sampah juga nggak ketinggalan memungut sampah yang berkeliaran. Meski demikian, mereka juga menyediakan tempat sampah di pintu keluar. Jadi, kebersihan dan kerapian taman tetap terjaga. Hebat, ya! Perjalanan lanjut ke Chidorigafuchi melihat sakura night.



Pengumpulan Sampah di Pintu Keluar













Continue Reading…

Wednesday, April 08, 2015

Belajar Bahasa Jepang

Kemarin hari pertama saya belajar Bahasa Jepang di Shin Yokohama, tepatnya di Kohoku International Lounge (KIL). Saya tahu informasinya dari google, tepatnya suami, sih, yang mencari infonya. Setelah tahu tempatnya, bulan Maret kemarin saya dan suami datang dan mendaftar. Tempatnya lumayan besar dan banyak banget eventnya karena tempat ini memang menyediakan berbagai informasi bagi foreigner yang tinggal di Shin Yokohama. 

Berdasarkan informasi yang ada di web KIL, selain menyediakan kelas Bahasa Jepang, Kohoku International Lounge juga memberikan pelayanan ibu dan anak, dari masalah kehamilan sampai perawatan anak. Nah, kemarin saya juga melihat sendiri bagaimana staf di KIL bermain boneka untuk anak-anak dan orang tuanya. Mereka bernyanyi sambil bermain boneka. Lucu dan seru, hihii. Selain itu, tempat ini juga menyelenggarakan hal-hal soal budaya Jepang, seperti upacara minum teh, ikebana, dll. Jujur, saya belum pernah ikut acara tersebut karena kemarin baru hari pertama les. Kebayang ya, bagaimana satu tempat menyediakan berbagai informasi untuk memudahkan foreigner yang ingin tahu soal Jepang. 

Kembali soal belajar Bahasa Jepang, sebenarnya ini kali kedua saya belajar. Sepertinya setiap daerah menyediakan tempat belajar soal Jepang. Tahun lalu, saya sempat belajar meski cuma sebentar. Dulu sewaktu tinggal di Kannai (Yokohama), saya belajar setiap Selasa di Certe Building. Tempat tersebut menyediakan les yang gratis dan berbayar. Sudah tahu dong, ya saya memilih yang mana. Yup, saya memilih yang gratis, hihihihi. 

Dulu, sensei saya bernama Nakamura. Karena muridnya cuma saya, jadi hubungan kami dekat. Kami sering mengobrol soal kebudayaan dan soal Islam. Maklum, mungkin informasi tentang Islam di Jepang masih sedikit, ya, jadi Nakamura-san penasaran, hihihi. Meski sudah balik ke Indonesia, hubungan pertemanan saya dan Nakamura-san masih baik. Kami sering memberi kabar lewat email. Menurut sensei tersebut, sekarang tempat belajarnya pindah. Enggak di Certe Building lagi tapi di Naka Ward. 

Jadwal yang Sudah Lecek

Sedangkan belajar di Kohoku International Lounge harus bayar 100 Yen per lesson. Kalau dirupiahkan, sekitar Rp.10.000,-. Mahal? Menurut saya, enggak. Di KIL, ketika mau les, saya dites kecil-kecilan untuk mengetahui sejauh mana saya tahu soal Bahasa Jepang. Tiap kelas ada beberapa meja untuk belajar. Satu meja untuk satu guru dan maksimal tiga murid. Di sini, para murid dibebaskan mau ambil les hari apa. Terseraah. Jadwal belajarnya selama dua jam per hari. Setelah satu jam belajar, ada break beberapa menit. Saat break, siapa pun boleh mengambil minuman yang disediakan. Ada kopi, teh, dan green tea. Selain itu, para murid diberi fotocoy materi. Banyak, lho, foto copynya. Komplit kan? Saya rasa ini sangat murah dan worth it banget lah. Dapat ilmu, nambah teman, dapat fotocopyan, dan minum sesukanya. 

Tempat Membuat Minum

Materi Fotocopy

KIL sudah punya jadwal les selama satu termin. Saya ikut yang termin April-Juli tapi nggak bisa ikut full karena harus balik ke Indonesia Bulan Mei. Saya ambil les seminggu dua kali. Nah, mbayarnya itu waktu pertemuan pertama karena setiap hari gurunya berbeda. Kemarin, saya langsung membayar biaya les untuk hari Selasa (April-Mei) dengan guru tersebut. Kalau absen, uang ini nggak bisa direfund. Jadi, ini bikin semangat les, ya. Sayang kalau absen soalnya sudah mbayar, kan? hihihi.

Sensei saya kemarin bernama Kasihara, jadi tiap Selasa saya diajar oleh beliau. Satu meja ada tiga murid, yakni saya dan dua orang dari China. Nah, murid China ini nggak bisa Bahasa Inggris sama sekali. Meski demikian, Kasihara-san tetap sabar, lho. Cara berkomunikasinya pakai apa biar muridnya paham? Pakai gambar, bahasa tubuh, dan kamus. Serius! Jadi, kalau orang China tersebut nggak mudeng, sensei akan membuka kamus Jepang-China. Saya salut dengan kesabaran dan semangat sensei di sini. Maksimal banget ya ngajarnya padahal kalau dipikir bayaran lesnya murah. Sensei-sensei di sini banyak juga yang sudah sepuh. Rata-rata mereka bisa berbahasa Inggris. Ya iyalah, namanya juga mengajar murid dari berbagai negara. 

Kasihara-san (Berkacamata) Sedang Menerangkan Lewat Kamus

Saat les kemarin, saya bisa mengambil kesimpulan soal pengajaran di sini karena ada hal-hal yang hampir sama dengan pengajaran tahun lalu. Tiap sensei pasti membawa spidol, papan tulis kecil, kamus, dan gambar. Untuk pemula seperti saya, biasanya belajar Hiragana. Satu-satu Huruf Hiragana disebutkan sensei lalu diulang oleh murid. Kalau yang gratisan, jarang mendapat fotocopy. Nah, kemarin saya mendapat berbagai lembar Hiragana berikut cara menulisnya. Di tempat les, setelah menyebut Hiragana, sensei akan memberikan vocab Hiragana yang gampang, misalnya :

me : mata
mimi : telinga
kuchi : mulut
te : tangan
kuruma : mobil

Jadi kemarin saya belajar Hiragana, vocab Hiragana, dan greetings yang sering dipakai. Lumayanlah bisa menambah ilmu baru meski masih dasar banget.

Sewaktu mau pulang, saya disamperin murid yang mukanya agak bule. Pria tersebut mengajak saya ngobrol sebentar. Mungkin dia melihat saya pakai jilbab, jadi tanya apa saya muslim dari China? Saya mengiyakan kalau muslim dan bilang dari Indonesia *bangga. Sempat ngekek sih, dari mana Chinanya coba? Ternyata dia melihat teman semeja saya semua China, jadi dikira saya China juga. Setelah kenalan, ternyata dia dari Iran yang sudah 27 tahun di Jepang. Wow, lama banget ya. Dia ingin belajar lebih banyak soal Jepang. Padahal sudah selama itu tinggal tapi masih mau belajar, ya. Dia sih ambil kelas bahasa yang sudah advance karena bicara Jepangnya lumayan lancar. Tahu nggak dia ngapain? Dia ngasih kartu nama dan cerita kalau mengurus web tentang hal-hal di Jepang, terutama yang halal. Saya mengucapkan terimakasih karena info ini sangat bermanfaat bagi muslim. Iya, dia cuma memberi info soal ini. Baik banget, ya. Semoga kebaikannya dibalas sama Tuhan, ya. Setelah sampai rumah, saya cek web-nya dan lengkap banget infonya. Kalau teman-teman mau info tentang Jepang dan halal shopnya, bisa buka di sini

Saya mengambil les Bahasa Jepang murni untuk menghabiskan waktu biar nggak bosan. Tentunya senang, dong, bisa belajar langsung dengan sensei asli sini serta bertemu orang-orang baru. Menambah pengalaman sedikit lah, ya. 






















Continue Reading…

Tuesday, April 07, 2015

Bukan Darah Biru

Saya memang bukan keturunan priyayi. Sampai tulisan ini dibuat, orang tua saya masih aktif mengabdi. Meski bukan darah biru, kehidupan keluarga bisa dibilang cukup, nggak kurang dan nggak lebih. Orang tua saya selalu mengajarkan untuk hidup sederhana. Nah, jadilah saya sehari-hari berpenampilan sederhana. Kadang saya cuek dengan penampilan. Meski nyaman dengan penampilan  sederhana tapi saya kok kadang merasa penampilan tersebut menjadi bumerang, ya.

Saya teringat waktu mau masuk SMP negeri, yang mana sekolah tersebut merupakan salah satu sekolah favorit di tempat kelahiran saya. Sekolah tersebut terkenal dengan prestasi dan siswanya dari golongan the have. Saat mau masuk sekolah, bapak dan ibu memanggil saya dan menasihati selama bersekolah di sana, mereka nggak sanggup kalau saya minta ini itu seperti anak-anak lain. Namanya sekolah ya belajar, nggak usah minta yang aneh-aneh. Itu nasihat yang masih saya ingat sampai sekarang.

Di sekolah tersebut, saya jadi tahu kehidupan anak-anak yang diberikan rezeki berlebih. Saya juga tahu kalau yang namanya ngegeng itu biasa. Bukan masalah gengnya tapi karena dengan itu jadi ada gap kalau mau berteman baik di kelas atau di luar kelas. Meski nggak semua ya, tapi pasti ada aja siswa yang begitu. Salah satunya sahabat saya termasuk golongan the have tapi dia nggak suka ngegeng, dia suka berteman dengan siapa saja tapi penampilan tetep ya, semua branded. Meski sekarang jarang berkomunikasi intens tapi persahabatan kami masih awet. 

Karena penampilan yang sederhana, saya pernah lho mendapat perlakuan yang menyakitkan dari seorang teman. Hal ini ditambah wajah saya yang ndeso dan nggak memakai barang branded jadilah saya diremehkan. Sedih? Pasti. Nangis? Iya, hihihihi. Lambat laun saya menjaga jarak dengan orang tersebut. 

Parahnya lagi, hal ini terjadi juga di dunia kerja. Saat saya masuk kantor dulu betapa kagetnya saya diperlakukan sangat berbeda dengan orang baru, yang masuk setelah saya. Pihak kantor nggak melihat bagaimana kinerja, pengabdian, dan loyalitas saya tapi malah melihat siapa saya, bawaan siapa, dan mungkin penampilan. Iya, saya memang bukan siapa-siapa, berpenampilan sederhana, nggak bawa mobil ke kantor, dan bawaan orang biasa. Hal ini sangat berbeda dengan orang baru tersebut. Tapi saya punya kinerja dan loyalitas yang boleh diadu dengan pegawai lama. Saya pernah nggak dibayar sewaktu dinas ke luar kota. Hanya dibiayai kereta bisnis. Padahal waktu itu saya benar-benar bekerja mengolah data sampai sore. Untungnya saya masih punya orang tua yang bisa ditumpangi tidur dan makan. Kalau mengingat itu, sakitnya tuh di sini. Nggak cuma itu saja, bahkan ada juga yang mengatakan bahwa dia 'balungan gajah'. Tahu artinya? Itu berarti dia keturunan orang besar dan ingin menunjukkan powernya.

Beberapa minggu lalu, teman saya pun mengalami hal yang sama. Meski ada orang yang bilang secara halus tapi perkataan tersebut sifatnya menyindir. Jadi ceritanya teman saya memakai kebaya. Nah, Si A bilang kalau pengin membeli kebaya murah seperti yang dipakai teman saya. Bilangnya kebaya murah, lho. Ada Si B yang mendengar celetukan itu lalu menimpali kalau kebaya yang dipakai teman saya nggak murah. Terus Si A yang pengin tadi bilang gini,

'Lho, bukannya kebaya ini harganya lima puluh ribu, ya?'

Duwenk!

Teman saya emosi. Lalu dia bilang ke A kalau membeli kebaya atasan secara grosiran aja harganya di atas seratus ribu per potong. Dan saya tahu harganya karena waktu itu ikut menemani membeli kebaya. Ya nasib, saya bisa merasakan kejengkelan teman tersebut karena sering mengalami kejadian yang hampir sama. 

Ketika diberi tahu masalah ini, saya agak jengkel dan tertawa, sih. Bukan menertawakan teman saya, tapi menertawakan diri sendiri. Sepertinya kalau saya memakai barang mahal pun pasti dikira murah. Sedangkan Si A karena berasal dari keluarga terpandang, mau pakai barang murah pun pasti terlihat mahal. Benar nggak ya teori saya ini, hihihihi. 

Well, saya dan suami punya prinsip kalau bisa hidup sederhana, kenapa enggak? Tapi ini relatif, ya, karena pandangan tiap orang itu berbeda. Bisa jadi barang yang saya anggap mahal bagi teman-teman barang tersebut murah. Begitu pula sebaliknya. Ndilalahnya, kami juga bukan pasangan yang branded oriented. Jadi kalau nemu barang murah, nyaman, dan enak dipakai, ya beli. Entah itu beli di pasar pagi, di ITC, atau di pasar tradisional. Saya pernah memakai sepatu karet yang murah, harganya cuma dua puluh lima ribu. Sepatu tersebut saya pakai tiap hari ke kantor. Saya nyaman dengan sepatu tersebut karena anti badai, bisa dipakai kapan saja dan cepat kering kalau kehujanan. Maklum, dulu kan saya naiknya kopaja, Bus Deborah, dan angkot. Sampai sekarang masih suka berangkot ria, ding. Sepatu tersebut awet banget karena hampir tiga tahun saya pakai. Saking lamanya bahkan ada teman yang hapal kalau sepatu tersebut milik saya.  

Dalam berpenampilan kadang saya dan suami teringat dengan kawan yang kami jadikan contoh karena kami kenal satu sama lain. Mereka sepasang suami istri, yang tinggal di luar negeri. Kami pernah bertemu dan ngobrol bareng. Saya dan suami salut dengan kehidupan mereka yang sederhana. Meski berasal dari keluarga yang sangat berada dan kehidupan mereka makmur sentosa, mereka nggak pakai baju branded, lho. Bahkan si istri yang juga teman SMA saya bilang sewaktu mudik kemarin mborong jilbab dua puluh ribuan di Solo. Jilbab tersebut dipakai di negeri yang mereka tinggali. Mereka nggak malu, tuh, dan enjoy dengan kehidupan mereka. Saya juga melihat sendiri tas yang dipakai merk lokal dari Indonesia, bukan merk luar yang harganya jutaan. Mereka punya tujuan sendiri dalam hidup, lebih banyak berinvestasi dan membantu sesama. Ah, kesederhanaan mereka memang patut ditiru. 

Mereka juga bingung dengan sikap orang yang hanya menilai dari penampilan. Misalnya kalau ngemall, saya sukanya pakai baju seadanya dan sandal japit bermerk murah. Nggak tahunya, saya dan suami dilihatin lho dari atas sampai bawah sama SPG-nya. Dikira kami nggak mampu beli kali ya? Apa perlu kami woro-woro kalau kami mampu membeli barang yang dijual? Sebel banget sama kelakuan SPG yang seperti itu. Padahal setiap orang mempunyai gaya dan selera berbeda-beda, yang nggak bisa disamaratakan. Dan, kalau pun ngemall hanya window shopping apakah salah? Bisa jadi kami mencari model dan harga yang cocok, lho. Bisa jadi kami sudah survey di tempat lain dan mau beli barang di situ, lho. Bisa jadi kami pelanggan di situ, lho. Secara saya dan suami kalau melihat-lihat barang pasti butuh barang tersebut. Saya juga sadar kok kalau cuma window shopping dan nggak niat membeli, nggak bakalan mencoba produk yang dijual. 

Kalau mendapat pelayanan yang nggak mengenakkan, males juga mau beli di tempat yang pelayanannya kurang memuaskan. Biasanya kalau pelayanan memuaskan, tak segan kami akan membeli lagi di situ atau mempromosikan ke teman. Selain membantu teman, hal ini bisa membantu promosi toko tersebut secara gratis kan?

Dalam berpenampilan, saya pun melihat situasi dan kondisi kapan dan di mana acara tersebut diselenggarakan. Nggak mau juga kalau nanti saya salah kostum, kikuk rasanya kalau jadi pusat perhatian. Tapi, untuk penampilan sehari-hari, ke bank, ngemall atau belanja bulanan saya lebih suka memakai pakaian sederhana yang nyaman. Apalagi kalau naik angkot, sudah pasti penampilan diperhatikan agar nggak merugikan diri sendiri. 

Saya membuat postingan ini dibuat karena sudah lama pengin menulis tentang ini apalagi setelah postingan metromininya Mba Shinta dishare di grup, nggak tahunya komen merembet soal penampilan, hihihi. Dari beberapa komentar tersebut ternyata ada juga teman yang mengalami kejadian yang hampir sama, diremehkan karena penampilan. Sekali lagi, saya bukan golongan darah biru tapi berdarah merah, hihihihi.























Continue Reading…

Monday, April 06, 2015

Melapor ke Distrik Setempat di Jepang

Ketika suami menjemput di shuttle bus, saya sudah diberi tahu kalau saya harus melapor ke distrik Kohoku (semacam kelurahan di daerah tempat tinggal), paling lambat dua minggu setelah saya sampai. Saya mengiyakan saja toh nggak sendirian, tetap ditemani suami. Ini pun atas saran teman kantornya yang mengurus berkas-berkas saya. Nah, tepat seminggu tinggal atau tanggal 14 Maret lalu, saya dan suami berangkat ke Kohoku-ku. Meski hari Sabtu, pelayanan tetap dibuka meski pegawainya sedikit, mungkin digilir, mungkin lho, ya.

Banyak juga warga Jepang dan warga negara asing yang datang untuk mengurus keperluannya masing-masing. Meski banyak yang datang, tapi nggak terlalu capek karena tempatnya nyaman dan pelayanannya lumayan cepat. Pegawainya banyak yang memakai masker karena mungkin mereka sedang flu atau mungkin mereka tidak mau menularkan virus ke orang lain. Maaf, tidak ada foto karena saya sungkan, takut mengganggu.

Saya di sini statusnya dependent dengan masa berlaku visa setahun. Ada sedikit perbedaan ketika mengurus di Kohoku-ku dan Naka-ku. Tahun lalu, saya dan suami tinggal di daerah Kannai, Yokohama dan mengurus berkas di Naka-ku. Saat ini tinggal di Shin Yokohama. Tahun lalu saya juga mendapat residence card tapi berbeda mekanismenya. Kalau dulu kan visa saya cuma beberapa minggu jadi waktu di imigrasi bandara tidak diberi residence card. Lalu oleh kantornya suami, kami mendapat surat (semacam izin tinggal lebih lama) dan karena lebih dari sebulan maka kami mendapat residence card sewaktu mengurus di daerah Naka-ku. Selama proses pengurusan tersebut, bisa dibilang lancar dan tidak ada masalah sama sekali. Saya, suami, dan teman kerja suami waktu itu tidak ditanya macam-macam.

Hal ini berbeda ketika saya mengurus bulan lalu di Kohoku-ku. Karena masa berlaku visa yang setahun maka pihak imigrasi bandara (Haneda) memberi saya residence card saat itu juga. Dan, saya diberi lembaran semacam peraturan yang harus dipatuhi oleh warga asing. Nah, seminggu kemudian saya dan suami melapor ke Kohoku-ku. Oia, saya membawa lembaran yang sudah diisi oleh kantornya suami. Lembaran tersebut hurufnya Jepang semua yang mene ketehe artinya. Istilahnya, saya ke kelurahan tinggal lapor saja. 

Terkendala bahasa, pegawai di Kohoku-ku sepertinya sedikit yang bisa berbahasa Inggris, meski saya juga nggak jago-jago amat. Saya termasuk warga asing yang mendapat pelayanan agak lama karena beberapa hal. Pertama, buku nikah saya diminta diterjemahkan ke dalam bahasa Jepang. Duwenk! Berarti, seminggu lagi saya harus balik cuman nyerahin itu saja. Padahal jalan kaki dari apartemen ke Kohoku-ku sekitar 45 menit, lho. Secara kami juga pengin jalan-jalan ke tempat lain kan, ya. Makanya kami ngotot toh buku nikah Indonesia juga sudah ada Bahasa Inggrisnya, apa itu tidak cukup? Ternyata tetep lho, pegawai tersebut menyuruh saya untuk menerjemahkan ke Bahasa Jepang. Kalau masalah menerjemahkan, tinggal minta tolong teman kantor suami, beres. Tapi kan ini menurut kami kurang efektif. Saya mah apa atuh, ya sudah saya dan suami manut saja. Gak mempan, euy, meski kami sudah menjelaskan kalau tahun lalu nggak masalah soal ini.

Setelah itu saya masih antri mengambil residence card yang sebelumnya diminta. Tiba giliran saya, mereka bilang saya disuruh ikut asuransi kesehatan. Oke, ini memang perlu, ya. Tapi secara kami kan agak ngirit, jadi mulai mikir deh anggaran untuk asuransi dan jalan-jalan, hihhihi. Suami sudah ngasih kode, kalau disuruh ikut asuransi, ga usah, sudah punya. Saya manut, kan, ya. Terus saya pun digiring ke bagian asuransi kesehatan.

Asuransi kesehatan di Jepang sepertinya agak mahal dan sewaktu suami sakit mata kemarin, memakai sistem reimburse. Iya, bulan Februari lalu, suami saya sakit mata, nggak parah, sih, cuma bengkak sedikit. Keadaan ini membuat suami merogoh kocek dulu untuk berobat baru lapor ke kantor. 

Kembali ke kasus saya, akhirnya saya dan suami dihadapkan dengan petugas yang bisa berbahasa Inggris. Lumayan lama, lho ini. Sekitar 15 menit kami membahas ini. Jadi, saya dan suami ditanya tinggal di mana, kerja di mana, dan bagaimana asuransinya. Saya menunjukkan asuransi kesehatan saya. Dan memang, tidak bisa dipakai di Jepang. Pegawai tersebut meminta saya untuk ikut asuransi kesehatan meski masa tinggalnya sebentar. Nah, kami agak ngeyel, dong, demi jalan-jalan, hihihihi. Jadi, kami bilang kalau tahun lalu di Naka-ku kenapa kami nggak ditanya untuk ikut asuransi? Dan selama itu nggak masalah. Pegawai tersebut mulai bingung dan saya disuruh menunggu. Sepertinya dia mulai bimbang karena pengurusan di Naka-ku tidak ada masalah tapi di Kohoku-ku kok berbeda. Entah apa yang dilakukan para pegawai tersebut di ruangan, kami nggak tahu. Tapi, mereka tetap melayani dengan ramah kok, tidak emosi dan bicaranya sangat halus.

Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya pegawai tersebut menyamakan sistem dengan tahun lalu. Dengan catatan kalau saya mau ikut asuransi kesehatan, silakan daftar kapan saja, nggak masalah. Sudah tahu dong, jawaban kami apa, hihihihi. Untuk saat ini, tidak dulu. Kemudian saya tanya soal buku nikah yang harus diterjemahkan ke bahasa Jepang padahal buku nikah Indonesia sudah berbahasa Inggris, kok hal ini berbeda ya, sistemnya dengan tahun lalu di Naka-ku. Kami terpaksa menyamakan lagi dengan pelayanan tahun lalu. Lalu pegawai tersebut malah tanya, siapa yang menyuruh? Saya bilang ibu-ibu yang pakai kaca mata. Akhirnya pegawai tersebut membawa berkas saya ke bagian tadi dan saya diminta menunggu. Setelah menunggu beberapa menit, dia bilang kalau saya tidak perlu menerjemahkan. Pengurusan hari itu dan saat itu juga dianggap BERES, nggak perlu balik lagi kecuali kalau mau mendaftar asuransi kesehatan. Yeay, akhirnya kewajiban saya tunai. Lega kalau sudah melapor meski agak lama tapi mereka baik kok, akan melayani dengan maksimal. Saya dan suami berharap agar kami berdua selalu sehat sampai kapan pun.

Residence Card Saat Ini

Pengalaman tahun lalu, sewaktu mau balik ke Indonesia, saya menunjukkan residence card dan diarahkan ke imigrasi khusus saat mau boarding. Di bagian ini, kartu tersebut akan dilubangi yang berarti bahwa kartu tersebut sudah tidak bisa dimanfaatkan lagi. Residence card tahun lalu masih saya simpan sebagai kenang-kenangan. Kalau hal ini nanti terjadi lagi, berarti saya bakal punya dua residence card. Ah, tentunya ini akan saya simpan berikut semua kenangan selama di sini. 





















Continue Reading…

Wednesday, April 01, 2015

Tetap Produktif Meski Terkena Penyakit Jantung

Sampai sekarang penyakit jantung masih menjadi penyebab nomor satu di dunia. Hal ini bukan berarti orang yang menderita penyakit jantung atau berisiko mengalaminya tidak memiliki harapan untuk hidup. Sebab, banyak penderita serangan jantung yang tetap produktif. Mereka tetap bisa melakukan aktivitas sehari-hari dengan baik.

Bulan Februari lalu, saya berkesempatan mengikuti seminar 'Living With Heart Disease' yang diadakan oleh Bunda Heart Care, salah satu bagian yang ada di RS Bunda. Perlu diketahui bahwa Bunda Heart Care merupakan layanan khusus jantung yang menyediakan layanan terpadu berupa skrinning, diagnosis, dan terapi konvensional serta intervensi dengan peralatan diagnostik terkini yang canggih. 

Foto : Id Satto

Seminar tersebut diselenggarakan di Hotel Hermitage, Jakarta. Saat memasuki hotel ini, suasana vintage nan elegan sangat terasa. Bagaimana tidak, hotel ini merupakan satu-satunya hotel bintang lima bersejarah di Jakarta. Bangunan hotel ini pada tahun 1923 digunakan untuk Kantor Pusat Telekomunikasi Belanda, lalu beralih fungsi menjadi Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia kemudain menjadi Universitas Bung Karno. Setelah itu digunakan sebagai hotel dengan tidak meninggalkan unsur sejarahnya.

Salah Satu Sudut Hotel - Foto by Id Satto

Dalam seminar tersebut, dr. Hariadi Hadibrata, SpBTKV menjelaskan bahwa pembedahan jantung ada tiga pengertian, yaitu :

* Operasi pintas pembuluh darah
*Operasi perbaikan atau ganti katup jantung
*Operasi kelainan jantung bawaan

Semakin lama perkembangan bedah jantung di Indonesia semakin baik. Dari perbaikan katup mekanik, minimal invasif sampai memakai alat dengan kamera. Dulu bekas operasi jantung kelihatan besar di bagian dada sekarang bekas operasi bisa diminimalkan bahkan bisa tidak terlihat. Dengan berbagai macam alat yang modern, operasi-operasi pembedahan tersebut dilakukan tergantung pada kondisi pasien dan kompleksitas penyakitnya.

Pada sesi yang lain, menurut dr. Dicky A. Hanafy, SpJP (K), paska melakukan operasi jantung, pemulihan kondisi pasien diawali dari rumah sakit. Beliau menyebutkan setelah proses operasi, pada hari pertama dan kedua pasien berada di ICU, lalu hari ke-3 dan ke-4 masuk ke ruang perawatan. Sehingga di hari ke-5 atau ke-6 pasien diharapkan bisa pulang. Sekali lagi, itu tidak bersifat mutlak, tergantung pada kondisi pasien. Bisa jadi lebih cepat atau malah lebih lama berada di rumah sakit.

Proses rehabilitasi bagi penderita jantung sangat penting. Dalam program ini, pasien dikenalkan dengan program khusus antara lain olahraga yang aman untuk penderita dan gaya hidup sehat. Program ini tidak sama untuk semua penderita, disesuaikan dengan kondisi pasien. Dengan rehabilitasi, diharapkan pasien mampu memaksimalkan aktivitas sehari-hari dan mengurangi resiko yang dapat memperparah penyakit jantung sehingga kualitas hidup meningkat.

Penderita penyakit jantung yang berhasil survive harus merubah gaya hidup supaya lebih sehat sehingga tidak memperparah penyakit tersebut. Selama proses rehabilitasi, mau tidak mau penderita jantung harus melakukan gaya hidup sehat dan diet yang tepat. Gaya hidup sehat antara lain tidak merokok, memperbanyak aktivitas fisik, dan menghindari alkohol. Sedangkan diet yang dianjurkan bagi penderita penyakit jantung tidak hanya diet rendah kolesterol melainkan juga diet untuk mengendalikan tekanan darah, gula darah, serta mempertahankan atau menurunkan berat badan.

Salah satu diet yang baik untuk penderita jantung yaitu dengan oat. Meski oat masih satu famili dengan gandum tapi ada perbedaannya, lho. Oat bisa langsung dimakan dan seratnya larut. Sedangkan gandum sebaliknya yakni harus diolah dulu dan memiliki serat yang tidak larut. Oat mengandung karbohidrat kompleks, seratnya larut, dan memiliki protein tinggi sehingga mampu memasok tenaga yang lebih lama. Oat juga dapat diolah menjadi beragam makanan, misalnya dicampur pisang dan gula jawa, maka dalam sekejap jadi bubur yang sehat untuk sarapan.

Acara yang dipandu oleh Melanie Putria tersebut berlangsung seru. Namanya acara untuk kesehatan, setiap peserta boleh melakukan check up gratis, lho. Tim dari RS Bunda yang menangani ini langsung. Alhamdulillah, hasil check up saya masih normal semua ketika dikonsultasikan ke dokter yang bertugas saat itu. 

Hasil Check Up

Menurut ketua Yayasan Jantung Indonesia, tetaplah untuk melakukan hidup sehat agar terhindar dari penyakit, terutama penyakit jantung. 'SEHAT' di sini artinya :  

*S : Seimbangkan Gizi
*E : Enyahkan rokok
*H : Hindari stress
*A : Ambil tensi secara rutin atau berkala
*T : Teratur olahraga

Jadi, tetap hidup sehat, ya, teman-teman. ^-^




























Continue Reading…

Halo, April!

Waaa, waktu kok cepat banget, ya, rasanya. Nggak terasa sudah tiga bulan berlalu di tahun ini, ya. Oh ya, dulu kalau awal April sewaktu zaman sekolah saya pernah terkena April Mop. Acara bohong-bohongan untuk seseruan anak remaja saat itu. Sampai sekarang, teman-teman ada yang masih terkena April Mop? Hihihi, sekarang saya jarang banget terkena April Mop. Etapi, saya selalu semangat kalau sudah bulan April. Halo, April! Selamat datang. Semoga saja ada cerita yang lebih indah, ya.

Maklumlah, saya lahir di bulannya Aries ini. Beberapa hari lagi, usia saya juga akan bertambah. Tambah tua dalam artian sebenarnya. Tapi saya juga tidak berharap tambah tua wajahnya, penginnya masih dianggap anak kuliahan kalau ada yang mengajak ngobrol di angkot, hihihi. 

Semakin tambah umurnya, saya merasa kok belum banyak yang saya lakukan. Saya ingin selalu belajar dan berkembang meski hanya sebagai IRT. Makin lama makin banyak mikir tentang banyak hal yang terjadi di sekitar saya atau berbagai hal yang diceritakan oleh ibu atau sahabat. Saya selalu mendiskusikan hal ini dengan suami dan kami juga belajar bareng. Ah, pengalaman mereka menjadi bekal buat saya khususnya untuk lebih baik. Iya, menjadi orang yang lebih baik, minimal untuk keluarga saya sendiri. 

Alhamdulillah, pengalaman tahun ini persis seperti tahun kemarin. Menjalani pergantian umur di negeri yang menjadi impian saya. Dulu, ini hanya mimpi yang sangat saya inginkan ketika teman-teman SMA ada yang lolos AFS dan tinggal di negeri ini. Yang saya ingat, teman sebelah saya waktu itu menunjukkan pensil warna-warni, oleh-oleh dari mereka yang lolos pertukaran pelajar. Pensil warna tersebut sangat dieman-eman karena di Indonesia waktu itu belum ada pensil warna yang satu batang berisi aneka warna. Waktu itu, entah kenapa, saya hanya membalas dengan ucapan dalam hati bahwa saya juga igin sekali merasakan kehidupan di negeri orang. Dan, benar, Tuhan mendengar keinginan saya. Meski lewat suami, tak apalah, saya bisa merasakan hidup di negeri orang yang mengajarkan saya banyak hal.

Di negeri yang mana saya menjadi minoritas, membuat saya lebih menghargai perbedaan. Mereka dengan budaya dan keyakinan mereka. Tak peduli orang mau apa, asal tidak mengganggu satu sama lain, maka nikmatilah harimu, nikmatilah perjalananmu, dan nikmatilah hidupmu. Keramahtamahan dan menghormati satu sama lain di sini terasa indah. Meski kata 'cuek' juga pernah saya lihat di sini.

Terimakasih buat berbagai pengalaman selama ini yang mengajarkan saya banyak hal. Ada pengalaman yang menggembirakan namun tak sedikit yang membuat saya sedih. Semua itu saya nikmati sebagai proses dalam hidup menuju kedewasaan. Ah, saya hanya berharap di sisa umur ini, semoga saya menjadi orang yang lebih baik. Nggak muluk-muluk pengin ini-itu, karena saya yakin Tuhan pasti akan memberi selama saya terus berdoa dan berusaha. Halo, April! Semoga ini awal yang menyenangkan, ya. 




















Continue Reading…
Powered by Blogger.

Recent Posts

    Follow Me

    Page Views

    Copyright © Pipit Widya | Powered by Blogger
    Design by Saeed Salam | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com