Tuesday, June 30, 2015

Kangen Jepang

Kejadian sebulan lalu...

Sabtu yang cerah, waktu itu saya bangun pagi sekali. Mata masih ngantuk banget karena semalaman nglembur packing. Gimana nggak nglembur, pak suami saja pulangnya malam, di luar dugaan. Aturan pulang on time malah kulakan kamera dulu di Tokyo, hihihihi. Yah, akhirnya ditemani Radio Delta, kami mau nggak mau nglembur.

Semalaman menata pakaian dan barang yang banyaknya tak terduga. Sempat dag dig dug kalau bawaan melebihi bagasi. Kalau nanti di bandara kami disuruh mengurangi barang, tas karung IKEA sudah kami siapkan. Setidaknya itu buat ngayem-ayemi. Lah, gimana nggak dag dig dug, kami kan naik maskapai ANA. Aturan pesawat asing dan milik Indonesia beda banget, lebih ketat milik asing. Kata teman, kelebihan setengah kilo saja tetap nggak boleh dan maksimal tas di kabin cuma dua tas. Padahal sewaktu saya berangkat sendirian, kelebihan bagasi dua kilo sama mbak-mbak GA lolos, padahal saya sudah siap membayar kelebihannya, lho. 

Demi bisa muat dan nggak kelebihan bagasi, ada beberapa barang yang harus dibuang. Sepatu dan baju yang sudah nggak bagus, dibuang saja lah. Sayang? Nggak, soalnya memang sudah nggak bagus dan sudah ada gantinya, hihihi. 

Setelah masalah bagasi beres, kami lumayan tenang sedikit lah. Ditimbanglah itu koper yang gedhe banget. Kasihan pak suami, sampai naik meja biar bisa ngangkat kopernya. Ini salah satu antisipasi yang kami lakukan. Perkiraan berat bagasi diusahakan pas atau kurang dari ketentuan. Setelah dihitung, kami membawa 2 koper besar, 2 ransel yang njemblung saking banyak isinya, 2 tas travelling yang full juga, tas kamera dan tas karung IKEA. Demi menaati aturan maskapai, tas cangklong saya masukkan ke tas IKEA. Total 8 tas. Wuih, banyak bener!!

Masalahnya adalah kami ke terminal bus jalan kaki, nggak naik taksi. Sebenarnya sudah ditawari naik taksi sama kantornya pak suami, tapi kan jaraknya lumayan dekat, sekitar 10 menit jalan kaki. Tapi ternyata jalan segitu membawa barang buanyak nggak gampang ya bok!! Sepanjang jalan kenangan, saya dan suami harus nggledeg koper yang ditumpukin tas, belum lagi nggendong ransel. Belum lagi harus mengejar waktu biar nggak ketinggalan bus. 

Dilihatin banyak orang, sudah biasa, cuek abis!!
Istirahat bolak-balik karena kecapean, sering banget!! 
Tangan pegel buanget, biarin, ntar dipijat pas sudah di rumah!!
Mau gimana lagi coba??

Pastinya dong, waktu sampai terminal molor. Untungnya kami nggak telat. Cuma nunggu sebentar, bus bandara datang. Waktu masuk bus, saya lebay, beneran lebay. Mulai mewek sendiri padahal nggak ada yang dadah-dadahin. Saya cuma menatap nanar sepanjang jalan, mengingat pas pertama kali datang, ketemu teman-teman baru, main ke tempat-tempat asyik, jalan kaki yang nyaman dan bebas polusi, dan banyak lagi. Setiap menatap gedung yang pernah saya datengin, saya pamitin dalam hati. Semua kejadian yang menyenangkan dan absurd kayak diputar di kepala. Halah, lebay kan? Biarin :p

Nah, sampai Haneda kami lumayan bingung. Ternyata Haneda itu ada penerbangan domestik dan internasional. Ampuun, saya baru tahu, kirain cuma internasional doang. Jadi bus akan berhenti di terminal domestik lalu ke terminal internasional. Yah, mau nggak mau harus tanya ke pak sopir lah ya soal ini. 

Hhhhmmm, pagi itu Bandara Haneda lumayan rame. Mbak-mbak bagian tiket sempat membuat shock, katanya bagasi kami kelebihan, dan kami sudah siap-siap disuruh ngeluarin barang. Begitu mau dibuka, ternyata kopernya nyangkut apa gitu yang menyebabkan beratnya nambah. Setelah ditimbang lagi, ternyata pas, sesuai aturan. Alhamdulillah. 

Dari awal, saya dan suami sudah niat nggak bakal beli-beli lagi di bandara, meski ada tulisan 'duty free' gedhe banget. Lah, mau dimasukin ke mana kalau mau beli lagi? Yah, sepanjang karpet menuju gate keberangkatan cuma tengak-tengok saja, mana gatenya ampuuun jauhnyaaaa. Untung nyampe gate, suasana masih sepi. Enaknya lagi, wifinya kenceng banget. Alhamdulillah, lagi. 

Satu hal yang membuat saya kagum sama ANA yaitu adanya pelayanan makanan khusus untuk muslim. Jadi pas pesan tiket, kami memang sudah pesan makanan muslim. Di dalam pesawat, kursi kami diberi tanda khusus yang artinya bahwa kami muslim. Jadi makan dan minum di pesawat aman. Alhamdulillah, berkah lagi. 

Begitu sampai di bandara Soetta, saya lihat ada pesan di facebook yang menanyakan apakah saya terkena gempa atau nggak. Bahkan bos suami saya tanya apakah pesawatnya delay karena gempa atau enggak. Lah, saya malah bingung. Perasaan semua lancar dan aman-aman saja, nggak ada delay yang lama dan nggak ada gempa. Setelah saya cek fb, ternyata ada status teman yang membuat saya kaget. Sabtu petang waktu setempat, ternyata Yokohama sedang ada gempa yang lumayan kenceng. Teman saya dan keluarganya serasa pengin lari keluar rumah. Untungnya mereka aman, nggak ada kerusakan yang berarti. Saya membayangkan, pasti gempanya kenceng banget karena saya sempat mengalami gempa yang lumayan lama pada hari Senin, seminggu sebelum saya balik ke Indonesia. 

Saat itu Senin siang, di apartemen, semua goyang. Saya santai karena sudah biasa dengan gempa di Jepang. Mau teriak, takut mengganggu tetangga dan dibilang norak. Saya cek di luar, tetangga apartemen juga nggak ada yang keluar. Gempa itu lumayan lama bahkan sepulang kerja suami saya cerita kalau alarm di kantornya sampai berbunyi. Kata teman kantor suami, baru kali ini alarm gempa bunyi setelah gempa dahsyat 2011 lalu. Nah, saya membayangkan pasti gempa pada Sabtu petang tersebut lebih dari gempa yang saya rasakan. Sedih sih, mendengar kabar tersebut.  

Setelah sampai rumah, ada saja kejadian yang nggak enak. AC dan pompa rusak. Untungnya ibu asisten sudah laporan dan siap sedia dengan air yang minta sama tetangga. Lumayan membantu aktivitas sehari-hari di rumah, meski seadanya. Alhamdulillah untuk kesekian kalinya.

Sampai saat ini saya masih kangen banget dengan Jepang. Kangen sama teman-teman dan aktivitas di sana. Kangen dengan suasana nyaman di sana. Tapi, bagaimana pun juga, waktu terus berjalan maju ya, nggak mundur. Saling kirim kabar melalui email, salah satu obat rindu bagi saya. Dan, saya punya aktivitas baru, lho. Melalui aktivitas ini, saya bisa bertemu ibu-ibu Jepang yang tinggal di Jakarta. Ah, serasa berada di Yokohama. Nanti deh, saya ceritakan aktivitas tersebut, ya. 

I miss you, Japan ^.^

Harapan untuk bisa kembali lagi ke sana semoga bisa terwujud. Aamiin. 
















Continue Reading…

Monday, June 29, 2015

Klinik Rumah Gigi : Perawatan Gigi Murah di Depok

Kesehatan gigi kerap kali dianggap sepele oleh beberapa orang. Padahal menjaga kesehatan gigi itu penting karena kalau gigi sakit, mau ngapain juga nggak enak. Mau makan saja malas. Boro-boro makan, kadang senut-senutnya bikin kepala pusing dan nggak mau ngapa-ngapain kan?

Kalau sakit gigi, jangan sembarangan periksa, ya. Sekarang banyak ya tempat praktik gigi yang muncul tapi nggak jelas izin praktiknya. Jangan tergiur dengan harganya yang murah tapi kalau tempat praktiknya nggak jelas. Nah, untungnya di Depok ada tempat perawatan gigi yang terjangkau tapi jelas izin praktiknya. Namanya Klinik Rumah Gigi.

Klinik Rumah Gigi merupakan grup dari Menteng Dental Clinic ( MDC ). Jadi, semua peralatan dan bahan-bahan yang digunakan semua berasal dari MDC. Lokasi Klinik Rumah Gigi di Depok ada tiga tempat, yakni :

1. MDC Juanda
Bertempat di Jl. Ir. H. Juanda, Kelurahan Baktijaya, Sukmajaya, Depok.
Telp : (021) 77840300

2. Klinik Rumah Gigi Cilangkap
Lokasinya di Area SPBU Jl. Raya Bogor km 39,5 Cilangkap, Depok.
Telp : (021) 87919183

3. Klinik Rumah Gigi Kota Kembang
Tempatnya di Kampung Sawah Rt.001 Rw.004, Jatimulya, Cilodong, Depok.
Telp : (021) 8757035

Saya berkesempatan mencoba perawatan gigi di klinik yang ada di Kota Kembang. Alasannya satu, karena dekat dengan rumah, hihihi. Lokasi klinik ini sangat strategis karena di depan Pasar Pucung. Kalau mau ngangkot, bisa kok. Naik aja D10, turun di Pasar Pucung, udah deh nyampai. 


Masuk ke klinik ini, pasien akan disambut oleh customer service yang merangkap sebagai tempat pendaftaran. Yang membuat saya salut dari klinik ini yaitu adanya ruang menyusui. Hal ini sangat menguntungkan bagi ibu-ibu karena mereka bisa memanfaatkan ruangan tersebut untuk menyusi anaknya yang rewel karena menunggu antrian. Maklum, kalau di dokter gigi perawatannya kan lama ya, jadi anak kadang rewel dan bosan. 




Dokter gigi di klinik ini cantik-cantik, lho. Mereka nggak hanya cantik tapi juga ramah dan sabar menangani pasien. Saya yang sudah mencoba scalling di klinik ini, terkesan dengan dokternya yang komunikatif dan sabar. Oia, kalau membawa anak kecil ke dokter gigi biasanya susah, ya? Tenang, dokter di sini sudah berpengalaman kok dan biasanya mereka akan memberi reward kepada si anak karena sudah berani ke dokter gigi. 


Klinik Rumah Gigi melayani perawatan gigi berupa :

1. Pemasangan kawat gigi
2. Pembuatan gigi tiruan
3. Pencabutan gigi
4. Penambalan gigi
5. Perawatan saluran akar
6. Pembersihan karang gigi



Klinik Rumah Gigi Kota Kembang buka tiap Selasa-Minggu, jam 10.00-20.00. Untuk info lebih lanjut bisa menghubungi nomor 0812-3866-3830. 








Continue Reading…
Powered by Blogger.

Recent Posts

    Follow Me

    Page Views

    Copyright © Pipit Widya | Powered by Blogger
    Design by Saeed Salam | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com