Thursday, July 30, 2015

Merapi Jeep Tour di Yogyakarta

Liburan lebaran kemarin saya dan suami memang niat pengin mencoba Merapi Jeep Tour di Yogyakarta. Sebenarnya bapak dan ibu tidak ada rencana ke Yogya karena mereka sudah nyekar saat nyadran (berdoa di makam sebelum puasa). Tapi, demi anak perempuannya, mereka rela ke Yogya lagi. Yeay!! ^-^

Sebelum sampai ke Yogya, kami ke Candi Borobudur dulu. Sebenarnya waktu buat liburan mepet banget karena bapak-ibu harus masuk di hari pertama kerja. Jadi kami putuskan berangkat Senin pagi, pulang Selasa habis subuh, teng!! Kalau enggak habis subuh, waduh bakal terkena macet panjaaang. Kasihan bapak-ibu kalau kecapekan. 

Lokasi wisata Merapi Jeep Tour dekat dengan rumah simbah. Yup, bapak memang berasal dari Dusun Bedoyo, Cangkringan, Sleman, Yogyakarta *komplit banget ya hihihi. Setelah jembatan perbatasan Magelang-Yogya, belok kiri ke arah Pasar Tempel. Jalan saja mengikuti rute alternatif ke Solo. Jalan teruuus sampai ketemu gapura yang ada tulisannya 'Selamat Datang di Bedoyo.' Begitu masuk dusun, kami nyekar dulu ke makam simbah lalu lanjut ke Merapi.

Jalan menuju Merapi sangat bagus karena memang jalan tersebut sudah diaspal dari dulu waktu saya kecil kalau mudik ke Yogya jalannya sudah bagus. Ada yang menarik, ketika mau masuk ke lokasi, mobil berhenti di pemberhentian yang dijaga sekumpulan anak muda. Bapak bilang kalau dari 'Bedoyo' jadi cuma bayar Rp.10.000,-. Kami enggak tahu kalau menyebutkan dari daerah lain apakah bayarnya juga semurah itu?

Setelah melalui pemberhentian tersebut mobil kami pacu lagi sampai ke Base Camp 86 Merapi Jeep Tour Community (MJTC). Begitu kami turun, ada yang menawarkan untuk beli masker. Kalau kalian mau naik jeep, baiknya tidak usah beli masker yang ditawarkan karena nanti kita mendapat masker gratis selama tour. 

Selain ada yang menawarkan masker, ada juga semacam calo yang menawarkan wisata memakai jeep. Semula kami mengira bahwa harga yang ditawarkan bakal dinaikkan, ternyata dugaan ini keliru. Mereka hanya menawarkan dan menunjukkan kami sampai ke loket dengan harga yang sama. 

#Paket MJTC

Berwisata dengan MJTC berarti kita akan berkeliling Merapi melalui medan yang seru dan berhenti di tempat-tempat tertentu yang akan mengingatkan kita akan dahsyatnya letusan pada tahun 2010 lalu. Jeep ini mampu membawa 5-6 pengunjung sekaligus. Kita akan didampingi driver yang merangkap sebagai pemandu wisata juga tukang foto, hihihihi. Mas-mas atau bapak-bapak driver ini baik banget dan ramah. 

Waktu yang enak saat wisata di Merapi sebaiknya jangan pas musim hujan. Enaknya lagi saat pagi hari karena tidak terlalu panas dan bisa melihat puncak Merapi. Kalau siang, panas banget dan banyak debu. Kalau sore tidak terlalu panas tetapi kadang-kadang puncak Merapi tidak terlihat jelas. 

Wisata Merapi Jeep Tour ini banyak sekali peminatnya termasuk artis. Beberapa artis yang pernah datang fotonya dipajang di loket. Saya kaget bukan main ketika mengetahui kalau Nicole Kidman pernah ke sini. Wuih, terkenal banget kan? Selain itu, wisata seru ini juga sering diliput beberapa televisi nasional terutama untuk acara travelling. 

Nicole Kidman Pernah ke Sini

Untuk berwisata ke Merapi menggunakan jeep ada beberapa paket yang ditawarkan seperti yang tertera pada tiket. Yang membedakan masing-masing paket yaitu tempat-tempat pemberhentian, waktu dan lamanya berkeliling. Kalau mau melihat sunrise, perjalanan dimulai pukul 04.15 WIB. Info lengkap tentang paket, rute, dan fasilitasnya bisa klik di sini.  

Sayangnya, saat Lebaran yang dilayani hanya paket 'Short Route' saja. Jadi kami diajak berkeliling dan berhenti ke beberapa tempat selama kurang lebih satu jam. Beberapa tempat yang menjadi pemberhentian dalam short route, antara lain :


Tiket dan Paket yang Ditawarkan

1. Museum di Dusun Petung

Sebenarnya ini hanya rumah yang pernah terkena letusan Merapi. Bangunan dan beberapa benda yang ada di rumah tersebut sengaja dibiarkan begitu saja sebagai bukti dahsyatnya letusan kala itu. Selain itu ada juga dokumentasi yang disertai dengan keterangan sehingga pengunjung tahu proses evakuasi dan berbagai peristiwa selama gunung berapi itu meletus. 

Waktu itu, rombongan keluarga kami mengekor keluarga lain yang berkunjung. Kami mengekor karena keluarga tersebut bersama pemandu yang sepertinya hafal betul dengan keadaan sekitar. Menurut pemandu tersebut, hampir semua barang-barang yang terbuat dari logam terbakar, tapi Al-Quran dan beberapa buku tentang Islam tidak terbakar hangus. Wallahu a'lam.









2. Batu Alien

Semula kami mengira bahwa batu ini merupakan batu yang sudah ada sejak dulu dan bertahan meski ada letusan. Bukan, ternyata bukan itu ceritanya. Jadi batu alien itu batu besar yang turun akibat letusan. Jika dilihat dari samping, maka batu tersebut bentuknya mirip manusia, ada mata, hidung, dan mulutnya. 

Pemandangan di sekitar Batu Alien bagus banget meski banyak pasir dan debu. Di bawah batu tersebut aliran Kali Gendol yang sekarang sudah tidak ada airnya tapi berganti pasir. Pas ke sini, pas saya dan pak suami ingat mau renovasi rumah. Pengiiin banget bawa oleh-oleh pasir bertruk-truk untuk renovasi, hihihihi. Pasir Merapi, euy! 

Batu Alien




3. Puncak dan Bangker

Perjalanan menuju Puncak dan Bangker, seru banget!! Jalanan yang terjal dan berbatu membuat suasana di jeep heboh. Enaknya kalau kita tidak duduk, berdiri di jeep sambil melihat pemandangan sekitar dan saling menyapa dengan jeep yang melintas. Hihihihi, pengin banget mengulang ini. 

Begitu sampai puncak, sayang sekali puncak Merapi tertutup awan jadi kami tidak bisa melihat dengan jelas. Yah, untungnya kami masih bisa melihat sunset yang lumayan. Saya dan pak suami sengaja berlama-lama di puncak Merapi. Kami senang dengan suasananya dan alamnya. Karena kelamaan di puncak dan sudah kesorean, saya dan pak suami tidak berani masuk ke dalam bangker. Sepi, euy! Pengunjung yang lain sudah tidak ada soalnya. Serem, ah!






Mau wisata seru seperti ini? Yuk, datang ke Merapi.


Info 86 MJTC

Email : marketing86mjtc@gmail.com
Fan Page : 86 Merapi Jeep Tour Community
Blog : jeepwisatamerapi86.blogspot.com
Phone : 0274-7198986











Continue Reading…

Monday, July 27, 2015

Cerita Mudik

Cerita mudik itu seru dan tidak ada habisnya, ya. Isinya bisa hal-hal yang kurang menyenangkan dan banyak juga cerita senang dan bahagianya. Biasanya orang akan melakukan apa pun demi bisa mudik. Mulai dari harga tiket naik dan tidak mudah didapatkan sampai rela terkena macet demi bisa pulang ke kampung halaman. Tapi itu semua sangat seru kalau diingat-ingat.^-^.

Budaya mudik atau pulang kampung sebenarnya tidak hanya di Indonesia saja. Negara-negara di Eropa, Amerika, dan Tiongkok juga merayakan mudik saat Natal, Thanks Giving, atau Tahun Baru China. Diperkirakan kegiatan mudik di Indonesia merupakan mobilisasi terbesar karena tidak hanya orangnya saja yang berpindah tapi juga transportasinya. Belum lagi kalau membawa bawaan atau oleh-oleh. 


#Asal Kata Mudik

Menurut Wikipedia, mudik berasal dari Bahasa Jawa ngoko mulih dilik yang artinya pulang sebentar. Namun ada juga yang mengatakan, mudik berasal dari kata udik, yang bisa diartikan sebagai kampung atau desa yang jauh dari kota. Pada intinya, mudik saat ini sudah menjadi tradisi bagi rakyat Indonesia untuk kembali ke kampung halaman, bersilaturahmi dan berkumpul dengan keluarga. Bahkan ada juga yang menjadikan mudik untuk pamer kekayaan dan menunjukkan eksistensinya karena sudah dianggap sukses hidup di perantauan. 

Masyarakat yang tidak pulang kampung biasanya diidentikkan atau dianggap tidak punya ongkos untuk mudik. Padahal tidak semuanya demikian. Mungkin saja mereka yang tidak mudik sedang ada kepentingan atau bisa juga mereka mengganti mudik di lain waktu, tidak saat Lebaran. 


#Cerita Seru Mudik

Banyak sekali cerita seru selama mudik baik yang membuat jengkel atau malah senang. Yakinlah, semua itu akan menjadi pengalaman yang akan terus diingat dan dapat diambil hikmahnya. Cerita seru apa saja selama mudik?

1. Macet

Ini cerita mudik yang sering banget diberitakan. Mudik tanpa macet mungkin kurang seru, ya. Saya dari kecil diajak orangtua mudik ke Yogyakarta, kota kelahiran bapak saya. Sewaktu belum punya mobil sendiri, bapak sering nebeng budhe atau mencari carteran mobil. Bisa dibayangkan dong ya bagaimana sumpeknya mobil. Jumlah anggota keluarga bapak ada lima, belum lagi budhe dan keluarganya. Ditambah lagi barang bawaan dan oleh-oleh. Sumpaaah, pengap banget di mobil apalagi kalau macet!! 

Sekarang, setelah berumah tangga, saya dan pak suami lebih suka mudik pakai kereta karena nyaman dan jarang macet. Tapi tetep ya, barang bawaan saat balik pasti lebih banyak dibanding saat mudik. 

2. Kuliner

Pulang ke kampung halaman itu artinya kembali bernostalgia dengan jajanan khas. Seneeeng banget kalau masih bisa menemukan jajanan sewaktu masih sekolah atau kuliah dulu apalagi kalau makanan tersebut tidak ada di perantauan. Mau tempatnya rame pun, tetap dijabanin asal bisa makan kuliner favorit. Nggih napa nggih? hihihihi. Lupakan diet dan manjakan perut. Pokoknya isinya hanya yummy food and happy tummy, deh.^-^.

Saya pribadi kalau pulang ke rumah orangtua di Semarang, pasti ibu sudah siap dengan makanan favorit yakni tahu bakso, cumi hitam, welut panggang (belut asap), atau ndas manyung. Aaaah, enaknya melahap makanan tersebut apalagi dimasak sama ibu atau saudara yang artinya gratis, tak perlu bayar, hihihihi. 

3. Silaturahmi

Inti mudik sebenarnya kembali ke kampung halaman untuk bersilaturahmi dengan saudara atau teman-teman lama. Dengan mudik, kita bisa tetap tahu keadaan saudara yang lama tak ketemu. Jangan sampai kita dianggap seperti kacang yang lupa kulitnya. Meski sekarang komunikasi dengan teknologi canggih bisa dilakukan lewat jarak jauh, tapi silaturahmi dengan bertatap muka secara langsung tetap lebih nikmat. Kita bisa saling cerita, tertawa, atau berbagi apa pun. Di sini yang saya rasakan yaitu arti kehadiran jauh lebih penting karena itu  merupakan salah satu bentuk perhatian yang mungkin saat ini susah dilakukan. Saya yakin, setelah silaturahmi yang ada hanya perasaan senang dan senang. Nggih napa nggih? hihihihi.

4. Bahasa Daerah

Saya biasanya mudik dalam mudik, artinya saya mudik ke keluarga inti di Semarang tapi bapak dan ibu mengajak saya mudik ke kampung halaman mereka. Biasanya setelah Shalat Ied, saya dan pak suami diajak ke Gunung Pati (kampung halaman ibu) dan Yogyakarta (kampung halaman bapak). Kalau di kampung halaman orangtua kadang saya tersenyum mendengar bahasa daerah yang sudah jarang saya dengar meski di Semarang sehari-hari berbahasa Jawa. 

Misalnya ada keponakan yang tiba-tiba teriak, "Aku pengen mukok!" 
Itu artinya dia mau muntah. 

Terus budhe menawarkan makan dengan kata-kata seperti ini,

"Ayooo do madang (pakai 'dh' apa nggak ya) dhisik." 
Artinya, ayo makan dulu.

Kalau di Yogya, masih sering saya dengar kata-kata "Ngko sikik" yang artinya nanti dulu. 

Semoga kata-kata tersebut tetap digunakan oleh mereka di kehidupan sehari-hari dengan logat khas daerah mereka masing-masing. Meski sama-sama berbahasa Jawa tapi logat daerah yang satu dengan daerah yang lain berbeda. Medoknya beda. Dan, saya juga bangga kalau sampai sekarang ada yang bilang kalau saya masih medok walaupun sudah tinggal di ibu kota coret, hihihi. Bahasa daerah merupakan salah satu kekayaan bangsa juga, kan? 

5. Ziarah Kubur

Ini momen yang membuat saya terharu sampai sekarang. Entah kenapa setiap nyekar atau ziarah kubur saya selalu teringat dengan mereka yang sudah tiada. Ingat dengan semua kenangan dan ingat akan dosa-dosa saya kepada mereka. Sebagai keponakan/cucu pastinya saya pernah berbuat dosa atau menyakiti hati mereka dan saya juga belum membahagiakan mereka dengan baik. Sedih kalau ingat itu.

Dengan ziarah kubur ini, saya kembali diingatkan bahwa sehebat apa pun orang, pasti akan kembali ke asalnya, ke tanah dan ke Pencipta. Nggak ada yang perlu disombongkan, nggak ada yang dibanggakan. Orang mati membawa amal dan orang yang ditinggalkan hanya mengingat nama dan perbuatan mereka. 

6. Cerita Kehidupan

Setiap pulang ke kampung halaman pasti bapak, ibu, teman, atau tetangga saling cerita soal kehidupan dan pengalaman yang banyak banget hikmahnya. Ada cerita soal si A yang sudah sukses, Si B yang sudah sakit-sakitan, atau Si C yang masih berjuang memperbaiki hidupnya. Pokoknya banyak banget, deh. Semua cerita itu sangat berarti bagi saya. Dengan cerita tersebut, saya yakin bahwa hidup itu berputar, butuh proses, dan perjuangan. Tak selamanya enak, tak sepenuhnya mudah. Tinggal bagaimana kita menjalani dan mensyukurinya. *halah kok sok bijak gini, sih. Bagi saya dan pak suami, jalani hidup apa adanya yang penting kita happy dan selalu ingat sesama. Toh, semua yang kita lakukan ujung-ujungnya akan balik ke kita juga. Nggih napa nggih? hihihi.

Mudik meski telah menjadi tradisi yang mungkin tidak hanya dilakukan oleh muslim saja tapi tetap ada efek positif di dalamnya bagi siapa pun yang melakukannya. Mudik mengingatkan bahwa sesungguhnya kita, sebagai manusia untuk tidak lupa akan asal kita, tidak lupa kepada keluarga kita terutama orangtua atau mertua. Saya jadi teringat sebuah kutipan di majalah yang saya baca, kurang lebih seperti ini, "at the end of the day, all you need is your family."

Saya mengiyakan kutipan tersebut karena di saat kita terjatuh, terpuruk atau di saat tua nanti, tak ada yang lebih perhatian dan sayang kepada kita kecuali keluarga. Karena keluarga pula, kita jadi lebih semangat melanjutkan kehidupan. Setelah bertemu mereka kita seakan mendapat energi baru. Maka benar, lirik lagu Keluarga Cemara yang mengatakan bahwa harta yang paling berharga adalah keluarga. Nggih napa nggih?














Continue Reading…

Wednesday, July 15, 2015

KPR Kami Diapprove

Teman-teman masih jadi kontraktor? Mau tinggal di rumah idaman? Untuk mendapatkan rumah idaman pasti dong kita berusaha semaksimal mungkin supaya hal itu terwujud. Yah, mungkin pengalaman berburu rumah memang mengasyikkan sekaligus mengharukan ya. Seringnya sih saat kita sudah cocok dengan rumah yang kita impikan kadang terkendala budget atau approval KPR. Bener kan? hihihi. Dengan sedikit drama, akhirnya KPR kami diapprove oleh bank.

Memang banyak faktor sih kenapa kami memutuskan untuk mencari rumah lagi. Seperti yang pernah saya ceritakan, kami pun melakukan beberapa tahap dalam mencari rumah dengan lokasi masih di Depok.

Kalau bicara budget, jujur saja budget kami hanya cukup untuk bayar booking fee. Otomatis DP yang minimal 20% dari harga rumah nggak ada budgetnya. Nekat nggak sih? Hihihihi, jujur saja kami agak nekat waktu itu. Kondisi ini sempat membuat saya ketar-ketir pengajuan KPR akan ditolak bank. Kalau ajuan KPR ditolak maka booking fee akan hangus. Nah, rugi kan? Herannya, pak suami tenang-tenang saja menghadapi situasi ini. Nggak tahunya beliau sudah melakukan simulasi KPR dengan excel.

Iyaa, excel! Manual banget kan? Nggak canggih banget ya? Padahal sekarang sudah ada simulasi KPR yang gampang banget dipakai. Seperti yang ada di Cermati, simulasi KPR jadi lebih mudah. Kita tinggal memasukkan data-data penyaringan KPR maka muncul list bank penyedia kredit. Enaknya lagi, semua info yang tertera di masing-masing bank komplit banget, meliputi bunga, cicilan bulanan, persyaratan dan biaya-biaya KPR, serta ulasan mengenai bank tersebut. 

Simulasi KPR Cermati.com

Dengan adanya banyak pilihan bank dan informasi yang tersedia membuat kita lebih mudah menganalisa dan nggak perlu repot-repot harus telepon bank satu per satu untuk survey. Tinggal melihat listnya saja kan enak. Yang nggak enak itu bayar cicilannya, hihihihi. 

Sebagai perusahaan start-up yang bergerak di bidang teknologi financial, Cermati menyediakan berbagai kemudahan akses informasi keuangan yang bermanfaat. Saya sudah mencoba menggunakan berbagai fitur yang ada khususnya KPR. Jujur, Cermati sangat membantu karena fitur yang ada sangat mudah digunakan begitu juga dengan informasinya yang lengkap. Bayangin aja, dulu pak suami cari informasi KPR dengan telepon bank satu per satu bahkan ada yang ketemu CS-nya.

Ulasan Salah Satu Bank

Sebagai pengguna fitur layanan KPR, sayangnya masih ada sedikit kekurangan yaitu belum ada list bank syariah. Kebetulan kami pengguna layanan bank syariah. Selain itu, tidak adanya link atau nomor call center ke masing-masing bank membuat saya bingung jika ingin bertanya atau bertransaksi lebih lanjut dengan pihak bank yang bersangkutan. 

Berikut pengalaman saya dan pak suami supaya KPR diapprove oleh bank :

1. Nego Pembayaran DP
Seperti kondisi keuangan di atas, kami melakukan nego pembayaran DP lebih lama dari waktu yang ditawarkan. Misalkan, DP lunas 2 bulan setelah booking fee kami nego menjadi 6 bulan. DP sebaiknya lebih dari 20%.

2. Nego Jadwal Akad
Sebisa mungkin akad kredit setelah DP lunas jadi kami nggak perlu mikir 2 kewajiban (DP dan cicilan). 

3. Kartu Kredit Lancar
Dua bulan sebelum akad kredit pastikan tidak ada cicilan atau hutang di kartu kredit. Jika ada akan mengurangi plafon KPR.

4. Biaya Lain-lain KPR
Pastikan ada budget untuk membayar biaya KPR, provisi, BPHTB, notaris, asuransi dll. Kalau kami, alhamdulillah biaya ini ditanggung oleh developer. 

5. Cicilan dan Tenor
Atur cicilan dan tenor supaya besarnya cicilan maksimum 30%-40% penghasilan bruto atau penghasilan suami-istri jika join income. 

6. Interview dengan Bank
Setelah berkas KPR ada di bank, biasanya 2-3 minggu akan ada interview untuk verifikasi data. Pastikan data yang diverifikasi sama dengan data yang tertulis.  

Alhamdulillah, pengajuan KPR kami sudah diapprove. Tinggal bayar cicilannya nih. Ada yang mau bantu bayar cicilan? hihihi.    

Tinggal Bayar Cicilan :(
    



             






















  


Continue Reading…

Thursday, July 09, 2015

Makan Beton Bikin Sehat

Ada yang suka makan beton? Bukaaan, bukan beton yang bangunan itu. Tapi ini beton, isi buah nangka. Biasanya kalau makan nangka, bijinya dibuang atau diolah? Sebaiknya jangan dibuang bijinya ya, diolah saja karena makan beton bikin sehat.

Sewaktu kecil, saya termasuk beruntung karena waktu itu punya tetangga yang baik dan suka dengan makanan tradisional. Dulu, tetangga depan rumah saya namanya Mbah Yo. Beliau asli Yogyakarta dan merantau di Semarang. Mbah Yo ini suka membuat makanan tradisional dan mengolah biji buah yang ternyata masih enak dimakan. Saya masih ingat beliau sering mengolah biji kluwih dan nangka. Biji-biji tersebut cukup direbus atau dikukus, setelah matang dinikmati rame-rame dengan para tetangga. Suasananya guyub banget. Indahnya kenangan zaman dulu.

Oiya, kalau di Jawa biji nangka disebut beton. Kalau di daerah lain, saya kurang tahu namanya. 

Suami saya termasuk orang yang suka banget sama buah nangka. Kalau ada nangka di pasar, saya biasanya beli karena ingat suami. Buah nangka tersebut kadang dimakan begitu saja atau saya jadikan sebagai campuran membuat kolak. Sebelum dimakan atau diolah, biasanya biji tersebut saya pisahkan dari dagingnya. Esoknya, biji nangka atau beton tersebut saya rebus. Setelah itu dimakan anget-anget, deh. Rasanya enak, lho.

Beton Rebus

Ada yang merasa jijik dengan beton? Atau aneh karena menganggap itu sebagai sampah dan nggak bisa dimakan? Eh, jangan salah lho. Beton ini banyak gizi dan manfaatnya. 

Menurut Direktorat Gizi Depkes tahun 2009, menyebutkan bahwa dalam 100 gr beton mengandung :

*Karbohidrat : 36,7 gr
*Protein 4,2 gr
*Fosfor : 200 mg
*Kalsium : 33 mg
*Besi : 1 mg
*Energi : 165 kkal
*Lemak : 0,1 mg

Selain bisa dimakan secara utuh, beton dapat diolah menjadi tahu, tempe, keripik, susu, dan tepung. Di tangan para siswi sebuah SMA di Tegal, beton diolah menjadi tahu. Menurut sumber yang saya baca, proses membuat tahu dari beton ternyata lebih singkat dibanding pada kedelai. Pembuatahn tahu dengan biji nangka membutuhkan waktu dua jam sedangkan dari kedelai perlu berhari-hari karena proses perendaman kedelai yang cukup lama. 

Selain itu, tahu yang dihasilkan dari beton juga lebih banyak dengan ukuran yang sama dengan tahu kedelai. Hanya dengan bahan sekitar 500 gr, beton mampu menghasilkan 30 potong tahu sedangkan kedelai mampu menghasilkan 25 potong. 

Tak heran, penemuan siswi SMA ini dinobatkan sebagai Juara II dalam Central Java Science Competition yang diselenggrakan oleh Fakultas Biologi Unsoed pada tahun 2012 lalu.

Manfaat beton antara lain :

*Melawan keriput dan penuaan
*Mencegah konstipasi
*Menjaga kesehatan kulit
*Mengurangi stress
*Mencegah kerontokan dan menebalkan rambut
*Mencegah anemia
*Meningkatkan gairah s*ks

Beton ini ternyata kecil-kecil manfaatnya segudang, ya. Masih mau membuang biji nangka?



Sumber :

1.  http://chakyulate.blogspot.com/2013/11/tempe-kripik-dan-susu-dari-biji-nangka.html
2. http://health.kompas.com/read/2014/05/05/1656377/Manfaat.Tak.Terduga.dari.Biji.Nangka













  
Continue Reading…

Belanja di Bulan Puasa

Bulan puasa, bulan penuh diskon. Tak hanya diskon ampunan tapi juga diskon aneka barang, mulai dari fashion sampai makanan. Di bulan ini juga, pusat-pusat perbelanjaan pasti penuh banget kan ya. Banyak orang yang belanja di bulan puasa. Selain untuk memenuhi kebutuhan selama puasa, mereka juga mempersiapkan kebutuhan untuk lebaran nanti.

Terkadang saya dan suami heran kenapa ya mereka rela belanja di tempat yang ramainya minta ampun itu. Belum lagi nanti pas mau bayar ke kasirnya. Antreannya bok, gila banget deh! Apalagi Ramadhan kali ini bertepatan dengan liburan anak sekolah. Biasanya ibu-ibu membawa anak mereka ke pusat perbelanjaan dengan dua alasan. Yang pertama, untuk mengisi waktu liburan biar nggak jenuh di rumah. Alasan kedua, tentu untuk belanja kebutuhan lebaran anak-anak. Dengan membawa anak ke tempat belanja, ibu-ibu bisa mencobakan pakaian anak langsung di tempat tanpa susah mengira-ngira bakal muat apa nggak.  

Pengalaman belanja di bulan puasa yang aduhai ramainya pernah saya alami. Dulu sewaktu belum menikah, ibu saya tipikal seperti orang kebanyakan. Mereka belanja di saat pusat perbelanjaan penuh sesak bahkan mencapai puncaknya, yakni saat weekend terakhir menjelang lebaran. Ibu belanja menunggu THR dari kantor cair, huhuhu.

Belanja di pusat perbelanjaan saat sedang ramai-ramainya tentu butuh keahlian tersendiri. Apalagi jika belanjanya di pasar tradisional, yang masih bisa melakukan tawar-menawar. Panas, sumpek, keringetan, haus, mata berkunang-kunang, pokoknya melebur jadi satu. Berjubel dengan berbagai orang yang peluhnya sama tapi bau yang berbeda, hihihi. Alamaaak!! Apalagi kalau sudah menawar lama tapi barang belum dilepas sama penjual. Ini ibu saya banget nih. Aduuuh, saya capek nungguin dan sakitnya tuh di kepala. Pening pala awak kalau begini.  

Dengan pengalaman tersebut, sejak menikah saya mulai mengubah kebiasaan belanja. Baik belanja bulanan biar nggak capek antre atau belanja di bulan puasa. Saya dan suami termasuk orang yang males banget antre apalagi untuk urusan belanja seperti itu.

Tiap kali lewat pusat perbelanjaan pasti macet. Saya lihat banyak kendaraan yang sudah memenuhi tempat parkir dan masih saja ada yang antre mau masuk. Pernah terbersit pertanyaan, kok kuat ya mereka belanja seperti itu? Saya pernah mau belanja THR untuk asisten padahal waktu itu tempat belanja baru dibuka beberapa jam. Melihat antrean yang ramai banget, saya nyerah!! Waktu itu kami putuskan untuk belanja di mini market dekat rumah saja. Harga memang beda sih tapi kan nggak capek antre. 

Untuk urusan diskon, saya dan suami jujur saja suka dengan barang diskonan. Tapi kalau untuk mendapatkan barang diskonan tersebut harus berjubel dan antre lama, buat apa? Jujur, kami nggak kuat. Biasanya kami memilih belanja beberapa bulan sebelumnya untuk membeli baju. Pun begitu untuk barang-barang keperluan di rumah. Sebelum puasa, kami belanja banyak, sekalian untuk  stok lebaran. 

Dengan cara seperti ini tentu pengeluaran kami di bulan tersebut membengkak tapi kami berpikir bahwa hal ini sama saja. Toh di bulan berikutnya kami nggak belanja karena semua keperluan sudah tersedia. Kalau pun ada beberapa yang kurang, kami tinggal ke warung atau beli di mini market terdekat. 

Pola belanja seperti ini sudah kami terapkan sejak beberapa tahun lalu. Dan, selama itu pula kami nggak pernah pergi ke pusat perbelanjaan di bulan puasa. Aduh, nggak kuat ramai dan antrenya!

Pengalaman belanja teman-teman di bulan puasa bagaimana?














Continue Reading…

Tuesday, July 07, 2015

Data Pribadi di Pengiriman Paket

Saat ini jual beli secara online sudah nggak asing lagi. Banyaknya toko online dan berbagai kemudahannya sangat memanjakan konsumen. Dengan klik sana dan sini, tanpa bersusah payah ke mana-mana konsumen bisa bebas dan bertransaksi dengan mudah. Tapi apakah teman-teman sudah berhati-hati dengan data pribadi yang dicantumkan dalam jual beli online tersebut?

Membeli barang secara online pasti akan diminta alat pengiriman. Biasanya data pengirim dan penerima tertera di selembar kertas yang ditempel di bungkus paket. Selain itu, data mereka juga tertera di resi.

Selama ini jika teman-teman sudah menerima paket lantas data tersebut diapakan?
Sebagian besar pasti jawabannya dibuang. Lah, buat apa menyimpan alamat tersebut? Iya kan?

Nah, sebelum dibuang, apakah teman-teman pernah berpikir kalau data yang dibuang tersebut suatu kali ditemukan oleh orang yang nggak bertanggung jawab dan akan disalahgunakan? Kalau teman-teman hanya membuang begitu saja takutnya hal-hal yang nggak diinginkan bakal terjadi.

Sebaiknya diapakan alamat tersebut?

Saya pribadi tiap kali menerima paket pasti alamat yang tertera baik pengirim atau penerima yang ada di bungkus dan di resi saya sobek-sobek atau saya gunting dulu sebelum dibuang. Saya bikin biar alamat tersebut nggak utuh lagi. Hal ini untuk menghindari hal-hal yang tadi.
Ngeri ya mengingat sekarang zaman sudah seperti ini. Segala informasi yang ada dimanfaatkan oleh orang yang nggak dikenal demi keuntungan mereka semata. Maka dari itu sebaiknya kita lebih waspada terhadap data pribadi kita.

Biasanya kan data yang ada di paket meliputi nama, alamat rumah, dan nomor HP kan? Masak iya mau memberi data palsu ke alamat paketan. Kalau alamat palsu paketnya nggak sampai dong, ya.
Sekali lagi, hati-hati ya teman-teman. Sobek-sobek atau gunting terlebih dulu data pribadi yang akan dibuang.
Continue Reading…

Monday, July 06, 2015

Tempe yang Mendunia

Sewaktu tinggal di Yokohama, yang sering saya kangenin dari Indonesia yaitu kulinernya. Makanan Indonesia itu memang nggak ada duanya dan terkenal sampai ke luar negeri. Hal ini diakui oleh beberapa teman saya yang asli Jepang. Mereka suka dengan makanan Indonesia, oishii katanya. Salah satu yang saya kangenin yaitu tempe. Bahkan sekarang tempe sudah mendunia. 

Saya sempat ngomong ke teman kalau saya kangen tempe. Nggak tahunya, beliau malah mau pesan tempe, lho. Hah, saya malah kaget mendengar ini. Apa jangan-jangan saya GR, gegara saya pengin tempe terus beliau mau beli, hihihi. Ternyata nggak, ibu-ibu di Jepang terutama yang pernah tinggal di Indonesia sering makan tempe. 

Memang ada tempe di Jepang?
Yang membuat siapa?
Rasanya bagaimana ya?
Enak nggak?

Itu pertanyaan yang muncul di kepala saya saat salah satu teman mengatakan mau membeli tempe. Yang lebih mengagetkan lagi, beliau cerita kalau tempe tersebut buatan orang Indonesia yang tinggal di Jepang. Heeee, saya kaget, nggumun, kagum, sekaligus bangga. Campur-campurlah pokoknya. Lah, kok bisa sih? Beneran nggak nih?

Teman saya hanya cerita kalau yang membuat tempe di Jepang namanya Pak Rustono, tinggalnya di Shiga, dekat Kyoto. Kalau mau membeli tempe, biasanya mereka membeli borongan secara online. Jadi, yang mau pesan mendata siapa saja yang beli dan berapa banyak. Kalau tempe sudah datang, baru deh bayar ke ibu yang mendata tadi. Dengan keterangan ini saya baru ngeh. Akhirnya saya pun pesan tempe Jepang tersebut, hihihi.

# Tempe di Jepang

Karena masih penasaran, saya mencoba googling soal tempe di Jepang. Maka muncullah nama Pak Rustono. Menurut sumber yang saya baca, Pak Rustono lahir dan besar di Grobogan, Jawa Tengah. Beliau menikah dengan orang Jepang dan menetap di Jepang sejak puluhan tahun lalu. Semula Pak Rustono bekerja di beberapa perusahaan. Selama menjadi karyawan, beliau menabung dan belajar membuat tempe. 

Kenapa tempe? 

Karena makanan di Jepang banyak banget yang berbahan dasar kedelai tapi belum ada tempe. Beliau ingin menangkap peluang tersebut.

Untuk belajar membuat tempe, beliau harus pulang dulu ke Indonesia dan belajar dari beberapa pengusaha tempe. Nggak mudah untuk mendapat ilmu dari orang lain karena mereka pasti nggak menceritakan rahasia bisnis tempenya secara detail, dong. 

Setelah ilmu dirasa cukup, beliau kembali ke Jepang dan menerapkan ilmu tersebut. Ternyata nggak mudah membuat tempe di Jepang karena kendalanya faktor cuaca. Negara empat musim tentu beda dengan negara tropis baik suhu, kelembaban, panas, dll yang mana hal ini sangat mempengaruhi kualitas dari bakteri tempe tersebut. 

Apalagi untuk membuat pabrik di Jepang, aturannya sangat rumit terutama menyangkut soal higienitasnya. Semua harus dilaporkan dan diuji lab secara detail. Meski sering gagal, akhirnya Pak Rustono mampu membangun bisnisnya. Kini, tempenya tak hanya dijual di Jepang namun sudah sampai ke Korea, Hongaria, Polandia, Meksiko, dan Perancis. Dua negara terakhir tersebut dijadikan sebagai poros ekspornya sehingga dua wanita dari Meksiko dan Perancis sempat training di pabriknya. 

Sewaktu pertama kali melihat tempe Pak Rustono, saya takjub. Tempenya kotak, dikemas plastik dengan berat sekitar 200gr. Harganya 300 Yen, sekitar Rp.30.000,-. Dilihat dari kemasannya saja terlihat lebih eksklusif dibandingkan tempe yang dijual di Indonesia. Bagian depan kemasan tersebut bergambar gubuk gambu dengan aktivitas jual beli zaman dulu khas Indonesia. Sedangkan bagian belakang berisi informasi tentang tempe, lengkap dengan nilai gizinya dan tanggal kadaluarsanya. Tuh kan, detail banget informasinya.  

Gambar Depan Khas Indonesia, ya

Informasi dan Nilai Gizi Tempe Jepang

Saya sempat membawa tempe goreng ke tempat les dan ternyata sensei saya baru pertama kali makan tempe meski beliau pernah ke Bali. Katanya oishii, sampai nambah lho. Hihihihi. Sewaktu saya ceitakan soal tempe, sensei saya takjub lho. Soalnya mereka tahunya natto, makanan dari kedelai juga tapi nggak kayak tempe. Kalau natto baunya khas dan nggak semua orang Jepang suka makan natto. Sedangkan tempe nggak bau. Kalau saya doyan natto, enak-enak aja tuh meski baunya khas, hihihihi. 


# Tempe di Indonesia

Tanpa bermaksud membanding-bandingkan, lho ya. Kebetulan saya menonton acara lokalvora di DAAI TV dan saat itu membahas tempe. Seperti kita ketahui, tempe di Indonesia termasuk makanan favorit dan murah harganya. Meski demikian terkadang beberapa pengusaha kurang memperhatikan masalah kebersihannya meliputi tempat, bahan baku, peralatan, dan hasil tempe itu sendiri saat didiamkan di rak. Ini yang menjadi masalah di Indonesia.

Menurut ahli gizi di acara tersebut, meski tempe termasuk makanan kaya gizi tapi kalau proses pembuatannya kurang higienis maka bukannya menyehatkan malah bisa menyebabkan penyakit. Ada lho orang yang suka makan tempe tapi ketika tahu proses pembuatannya yang kurang bersih, dia nggak mau makan tempe. 

Di acara tersebut juga meliput pembuatan tempe di salah satu koperasi yang ada di Bogor. Koperasi tersebut benar-benar menerapkan SOP dan higienitas dalam pembuatan tempe. Bahkan, air limbahnya juga diolah kembali sehingga nggak mencemari lingkungan. Para pekerja di koperasi tersebut memakai pakaian yang bersih dan alat pelindung yang lengkap. Tempe di koperasi tersebut dibungkus plastik bukan daun pisang. Meski demikian, ketika dilakukan survey rasa tempe bungkus plastik tersebut sama dengan tempe daun pisang. Kelebihannya lagi tentu lebih terjaga kualitasnya. 

Nah, tempe sebagai makanan asli Indonesia yang kaya banget gizinya semoga bisa lebih baik lagi dalam penampilan dan yang utamanya proses pembuatannya. Kalau sudah ada yang bisa membuat tempe yang berkualitas dan terjamin kebersihannya, kenapa yang lain nggak mengikuti? Semoga saja tempe di Indonesia nggak kalah higienitasnya dengan tempe di luar negeri. 



*Sumber tentang Pak Rustono saya ambil dari sana dan sini









Continue Reading…

Friday, July 03, 2015

Ikhtiar Hamil Jalan Terus

Lama nggak ngeblog, saya sempat cek beberapa komentar banyak juga teman-teman yang membaca ikhtiar saya untuk hamil. Beberapa ada yang email ke saya, bertanya soal ikhtiar hamil masih jalan apa nggak. Sampai sekarang, ikhtiar hamil jalan terus. Saya dan suami masih terus berusaha punya momongan. Maklum, usia pernikahan sudah lima tahun dan kami semakin menua. Kata orang, disuruh ingat umur. Iya, saya ingat kok *peace ^.^

Sebagai pengingat saja, kalau tahun lalu saya pernah melakukan inseminasi dan hasilnya saya ceritakan beberapa minggu kemudian. Yo weslah ya, yang lalu biarlah berlalu mari kita menatap hari yang baru *halah lebay. Setelah insem tersebut, saya sempat berhenti ke dokter beberapa bulan lalu dilanjut dengan ikhtiar ke Sukimin Taryono.

Capek nggak melakukan semua ikhtiar tersebut? Hihihi, perlu dijawab nggak niiih. Jujur, saya capek. Hhhhmmm lumayan juga ya kalau harus menghitung biayanya. Tapi demi mendapatkan momongan, saya dan suami tetap berpikir positif dan terus berusaha. 

Saya dan suami termasuk orang yang malas ganti RS. Jadi mulai dari pemeriksaan awal, kami selalu di RS Bunda Depok. Kecuali satu, pemeriksaan HSG saya lakukan di RS Mitra Keluarga Depok karena dokter di RS Bunda yang melakukan HSG waktu itu hanya cowok. Sekarang saya nggak tahu, apakah sudah ada dokter cewek yang melakukan HSG atau belum. 

Pemikiran kami, kalau pindah RS, tentunya kami akan bertemu dengan dokter baru dan harus cerita dari awal. Dokter baru tentunya dia harus tahu kondisi kami, kan? Nah, siapa tahu kami disuruh melakukan pemeriksaan awal lagi untuk mengetahui rekam medisnya. Sepertinya, sih, begitu ya. Sayang juga uangnya untuk periksa lab dan tetek bengeknya. Lagi pula pertimbangan kami memilih RS Bunda selain lokasinya di Depok, pelayanan di situ lumayan komplit karena ada IVF (bayi tabung). Semoga saja kami nggak sampai melakukan IVF *AAMIIN YANG KUENCENG.

Intronya panjang, ya. Hihihihi. Oke, langsung, yuk, ke inti ceritanya.

# Tanggal 18 Juni 2015

Saya ke RS Bunda bertemu dengan dr. Dian Indah Purnama, Sp.OG untuk kesekian kalinya. Ingat, kalau ke dsog jangan lupa tulis jadwal mensnya di buku, kertas, atau HP. Tunjukkan ke dokter biar tahu, jadi kita nggak ditanya-tanya lagi dan nggak pusing untuk mengingat kapan mens. Seperti biasa, jadwal mens saya dari Januari-Juni masih belum teratur, tanggalnya maju mundur. Fyi, bulan Juni saya mens tanggal 15, lalu tanggal 18 Juni periksa ke dokter. 

Lama nggak ketemu dr. Dian, kami langsung ditanya maunya apa? 
Jeder!! Langsung to the point dokter ini. Sukaaa. 
Kami bilang, mau punya anaklah ya. 
Dokter Dian langsung memberi opsi : mau alami, insem lagi, atau IVF? 
Waduh, pening pala awak mendengar ini. 

Pak suami bilang mau insem lagi. Jujur, saya agak kaget dan mulai berpikir. Kalau bulan Juni saya langsung insem, saya takut gagal lagi karena kan mau mudik. Biasanya kalau mudik kan capek ya jadi saya mikirnya ke situ. Pengalaman pernah gagal insem masih agak nyesek. Dengan keluhan saya ini, dokter maklum dan memberi saran. Katanya, kalau mau insem setelah lebaran nggak masalah. Oke, kami semua setuju.

Jadi, intinya sekarang kami alami dulu. Meski demikian, dr. Dian tetap memberi resep obat dan menyarankan tanggal 26 Juni (hari ke-13 mens) ke RS lagi untuk cek sel telur. Kalau ada sel telur yang bagus, kata dokter saya disuntik ovidrel juga untuk mempercepat pemecahan sel telur. 

Karena bapak saya penderita diabetes maka saya beresiko tinggi untuk terkena diabetes. Dokter bilang, nggak dilab nggak papa karena tes gula saya yang lalu hasilnya bagus. Tapi untuk pastinya, boleh dilab lagi. Saya kemudian diberi rujukan tes lab Glukosa N dan Insulin. Untung nggak disuruh tes progesteron. Dokter bilang, paling ya masih rendah karena masih ada PCO-nya. Pengertian banget deh dokter ini.

Di samping itu, dokter menyarankan agar saya menjaga berat badan, olahraga teratur, dan mengurangi gorengan. Hal ini karena setelah dilakukan USG transvagina, si-PCO masih ada. 

Yang saya tangkap dari pembicaraan dengan dr. Dian sebagai berikut :

1. Saya tetap diberi obat seperti resep dokter sebelumnya tapi dengan dosis yang lebih tinggi.
2. Disuruh cek sel telur dan suntik ovidrel.
3. Tes lab Glukosa N dan Insulin.
4. Menjaga pola makan dan hidup sehat. 

Saat itu saya langsung ke bagian lab untuk tanya tes lab yang disarankan dokter. Saya tanya tentang jadwal pengambilan dan biaya. Kata petugas lab, biaya kedua tes lab tadi kalau ditotal hampir mendekati 800ribu. Wah, lumayan mahal juga ya. Saya pernah melakukan tes tersebut setahun lalu di RS yang sama dengan dokter yang berbeda tapi lupa biayanya, hihihi. 

Sewaktu di apotek, saya dan suami berdiskusi. Kalau saya memang mau insem sehabis lebaran maka semua pemeriksaan yang disarankan dokter ditunda. Nanti saja, kalau sudah mau insem. Sayang uangnya. Obat tetap dibeli tapi jangan diminum dulu, nanti saja kalau mens. Yah, ini kesimpulan pasien bandel lho, ya. 

Memang, saya dan suami agak bandel. Kami harus memikirkan biaya pemeriksaan yang nggak sedikit. Tes lab dan ovidrel kalau dijumlah saja sudah 1,5 jutaan. Belum lagi biaya transvagina untuk ngecek sel telur, belum lagi obatnya. Lagi pula tes lab sudah pernah kami lakukan persis setahun lalu. Mungkin hasilnya nggak beda jauh toh tadi dokter bilang nggak tes lab nggak apa-apa. 

Oke, jadi sampai di sini kami memang nggak melakukan saran dokter. Obat tetap dibeli tapi untuk tes lab dan ovidrel, kami tunda. 

Biaya berdasarkan kuitansi yang saya terima :

1. Infertilitas (biaya dokter morula) : 200rb
2. Tindakan USG : 50rb
3. Alat Ultrasonograph : 228rb
4. Kondom sutra : 2.800
5. Biaya umum RS : 30rb

Obat :

1. Metformin 500 Mg 60 tablet : 24rb
2. Dipthen 50 Mg 5 tablet : 83rb


# Tanggal 22 Juni 2015

Memasuki hari ke-8 mens, saya sudah bersih. Kami memutuskan untuk ke Shinse Sukimin. Kalau saya dulu naik bus, sekarang mau mencoba naik kereta. Keuntungan naik kereta yaitu lebih murah dan nggak terkena macet.

Kalau naik kereta, tujuannya dari St. Depok ke St. Kramat. Sebenarnya ada sih kereta yang langsung, yakni Depok-Jatinegara. Tapi keretanya lama. Kami memilih transit saja. Jadi, rutenya :

Depok-Manggarai-Jatinegara-Kramat

Dari St. Kramat kami oper angkot no 04 turun di lampu merah perempatan. Bilang saja mau oper ke arah Jl. H.Ten (Rawasari). Ongkosnya cuma Rp.3.000,-. Turun dari angkot kami menyebrang halte busway lalu oper no.04 jurusan Rawasari, turun di depan Ayam Tulang Lunak. Ongkosnya sekitar Rp.2.000,- (deket kok).  Bingung nggak? Pokoknya Shinse Sukimin ada di Jalan H. Ten, daerah Rawasari, Jakarta Timur.

Nyampai di Shinse jam 12.30, ternyata beliau sedang istirahat. Kalau begini, beliau nggak menerima tamu. Kami putuskan untuk sholat di masjid terdekat. Pas balik, kami langsung dilayani. 

Kalau ke shinse ini, cuma dipijat kakinya saja. Seperti biasa, PCO saya yang kiri bagus, yang kanan masih belum bersih. Suami juga dipijat dan dinyatakan sehat, nggak ada masalah. Karena sedang masa subur, saya nggak diberi jamu dan dilarang mengoleskan arak ke perut. Sarannya cuma berhubungan tanggal 9, 12, 14 (dihitung dari hari pertama mens, ya). Kalau mens, saya disuruh ke situ lagi, mau dipijat dan diberi jamu. Udah, cuma segitu aja di shinse. Nggak cucok sama perjalanannya ya, bok!! Namanya juga ikhtiar. ^.^

Biaya :

Pijat 2 orang @80rb, total 160rb

Nah, itu saja pengalaman dan ikhtiar hamil saya saat ini. Semoga ada berita bagus, ya. AAMIIN. Bagi teman-teman yang sudah memberikan atensi dan support, saya mengucapkan terimakasih. Jangan berhenti berusaha, ya!!

Kalau pengalaman teman-teman bagaimana?

























Continue Reading…

Thursday, July 02, 2015

Bapak Pensiun

Hubungan saya dan bapak cukup dekat meski tak tiap hari kami berkomunikasi lewat HP. Tapi, setiap ada kejadian yang agak penting, pasti bapak SMS atau bahkan telepon. Seperti semalam, tiba-tiba bapak SMS seperti ini : 

SMS dari Bapak
Nggak hanya ini. Suatu kali bapak tiba-tiba telepon dan mengabarkan dengan gembira kalau beliau nggak jadi ketua RT lagi. Semua kejadian pemilihan RT di rumah diceritakan detail karena pemilihan tersebut dilakukan dua kali. Pertemuan pertama nggak ada warga yang datang padahal ibu sudah menyiapkan aneka sajian. Nah, pemilihan kedua akhirnya warga datang tapi ibu nggak menyiapkan apa-apa, karena trauma takut mubazir lagi. Akhirnya ada juga yang mau menggantikan bapak sebagai ketua RT. Hahahaha, plang RT yang selalu disimpan di gudang sudah dioper. Bapak memang nggak pernah mau rumahnya dipasang plang tulisan "Ketua RT...". Kebiasaan itu dari dulu dilakukan jadi plang RT ya ngendon di gudang. 

Bulan ini merupakan bulan terakhir beliau mengabdi di instansinya. Berpuluh-puluh tahun bapak mengabdi. Saya jadi teringat cerita ibu. Dulu, bapak dan ibu pernah mengalami LDM beberapa lama, bapak di Banjarnegara sedangkan ibu di Semarang. Mereka harus berpisah sementara karena demi karier bapak. Setelah bisa mengajukan pindah, bapak dan ibu akhirnya bisa satu atap lagi.

Bapak sangat menikmati hidupnya, sifat ini yang menurun ke saya. Setiap pagi sebelum berangkat ke kantor pasti mendengarkan musik dari radio, pokoknya tiada hari tanpa musik. Padahal suaranya fals banget kalau nyanyi. Plek ketiplek sama anak perempuannya ini. Saya dan bapak hanya penikmat musik. Kalau sedang libur, pasti bapak tiap pagi olah raga. Dulu jogging, sekarang cukup jalan kaki. Hal ini juga yang menurun ke saya. Semua itu dilakukan untuk menikmati hidup, mengisi waktu dengan happy. Hidup nggak usah dibikin susah, itu yang sering diucapkan bapak. 

Bapak juga bukan orang yang ambisius. Saya tahu dari ibu ternyata bapak menolak tawaran sekolah 'cakim'. Bapak nggak mau sekolah tersebut karena tanggung jawabnya berat dan bisa berpindah-pindah dinas. Bapak lebih memilih menjadi staff biasa. Meski demikian, bapak termasuk orang yang bertanggung jawab. 

Sewaktu masih SD, saya ingat betul bapak sering lembur sampai malam di rumah. Mengetik memakai mesin manual dengan banyak kertas dan pita. Suara mesin ketiknya terdengar seperti alunan yang teratur. Bapak seorang panitera yang sangat teliti. Kata demi kata selalu dieja dan diketik dengan rapi. Saking telitinya, berkali-kali kata-kata di undangan pernikahan saya sempat dikoreksi dan bolak-balik masuk percetakan *serius. Sempat terjadi debat dengan saya, akhirnya bapak mengalah, hihihihi.

Diantara anak-anaknya, saya yang paling besar, perempuan sendiri, dan yang paling jauh tinggalnya. Mungkin karena itu pula bapak dekat dengan saya. Kedua adik laki-laki saya dianggap lebih kuat dan mandiri. Sewaktu masih SD, saya ingat betul kebiasaan kami kalau mau tidur. Bapak pasti menggendong saya ke kamar mandi buat pipis. Nggendongnya di belakang sambil goyang-goyang layaknya saya naik kuda. Bapak miring ke kiri dan ke kanan. Saya waktu itu ketawa-ketiwi kalau bapak jalan sambil miring. Sampai sekarang mungkin saya masih anak kecil baginya. 

Sebelum pensiun, ada hal unik yang bapak lakukan. Saya baru tahu setelah membelikan sepatu. Waktu itu niat saya dan suami membelikan sepatu biar untuk gonta-ganti kalau ngantor. Ternyata jawaban bapak saya adalah sepatu akan dipakai setelah pensiun. Kenyataannya, sepatu tersebut akhirnya dipakai ngantor juga meski hanya sesekali, hihihi. Sebelum pensiun, bapak ternyata sudah punya stok baju, kaos, celana jeans, dan sepatu. Semua itu jumlahnya lebih dari satu. 

"Hah? Buat apa?, " tanya saya waktu itu. 
Katanya biar nanti kalau kumpul teman-teman bisa tetap necis. Mumpung masih punya duit sendiri dan bebas beli ini-itu. Oalaaah, ada-ada saja bapakku ini. Maklum, bapak memang selalu rapi kalau ke mana-mana. 

Lah, segitunyaaa. Memang, kedua orangtua saya nggak pernah minta ini itu ke anak-anaknya. Prinsip mereka, kalau masih bisa memberi ke anak, kenapa harus minta? Hhhhmmm, mereka belajar prinsip itu dari kakek-nenek saya. Turun temurun gitu.

Sepertinya bapak sudah siap memasuki masa pensiun. Nggak sedih dan nggak bingung mau ngapain. Saya penginnya bapak tetap beraktivitas di rumah, yang ringan dan yang bikin beliau happy saja. Saya hanya ingin bapak dan ibu saya selalu sehat di usia senjanya. Aamiin.

Selamat pensiun ya, Pak. Tetep sehat. Tetep happy, ya ^.^





Continue Reading…

Wednesday, July 01, 2015

Menonton Film Berkualitas dan Anti Mainstream di Kineforum

Bosan dengan film bioskop yang itu-itu saja? Atau malah sayang ketika mengeluarkan uang yang lumayan ternyata filmnya nggak greget atau nanggung? Tenang, semua itu nggak bakal terjadi kalau menonton film berkualitas dan anti mainstream di Kineforum. Masih ada yang asing dengan Kineforum ya? 

Saya awalnya juga nggak tahu tentang Kineforum ini. Semuanya terjadi begitu saja, mengalir apa adanya *halah. Bulan lalu pas saya merasa bosan banget di rumah, rencana mau mengajak pak suami jalan-jalan ke Cikini. Pengin banget nyobain kuliner dan jalan-jalan di sana yang katanya rugi kalau nggak dicobain. Seperti biasa, saya googling mencari informasi sebanyak-banyaknya soal Cikini. Saat googling tersebut, saya membaca sebuah blog yang komplit banget menceritakan ada apa saja di Cikini termasuk soal menonton film di Kineforum. Untungnya di blog tersebut mencantumkan link Kineforum. Lah, saya memang suka hal-hal anti mainstream akhirnya penasaran sama Kineforum ini. 

Apa itu Kineforum?

Kalau membaca di webnya, Kineforum merupakan bioskop pertama di Jakarta yang memutar aneka film sekaligus tempat untuk diskusi soal film. Campur-campurlah pokoknya film yang diputar di sini. Ada film anti mainstream, ada film panjang atau pendek, film dalam atau luar negeri, dan film klasik atau kontemporer. Kineforum cocok sebagai tempat menonton film non komersial. Jadi, Kineforum itu ruang yang komplit untuk menonton, membahas atau berdiskusi tentang film.

Tempatnya di mana?

Tempatnya di Taman Ismail Marzuki tepatnya di belakang Galeri Cipta 3. Iya, tempatnya cuma di Jakarta. Akses mudahnya naik kereta sampai Stasiun Cikini, lalu jalan kaki ke arah Taman Ismail Marzuki. Masuk sampai pojok pol atau nanya sama bapak-bapak yang jualan di TIM, pasti tahu lokasinya, hihihihi. 

Sistem Menonton

Semua aturan menonton dari pemesanan tiket sampai kewajiban penonton komplit dijelaskan di sini. Silakan dibaca sendiri, ya. 

Harga Tiket

Nah ini, saya kurang tahu pasti soal harganya. Apakah tiap film harganya berbeda atau tergantung pada hari dan jam nontonnya. Yang jelas, nonton di sini nggak bakal menguras kantong kok. Saya pernah membaca tweetnya kalau tiket film yang saya tonton waktu itu harganya Rp.10.000,- di hari kerja dan Rp.20.000,- di weekend. Bahkan Kineforum kadang memberikan tiket gratis, lho. Untuk info lengkapnya bisa cek di twitter atau di web atau bisa tanya lewat email. 

Pengalaman dan Kesan 

Karena waktu itu saya memang bosan banget makanya pas ketemu informasi tentang Kineforum jadi semangat banget buat nonton. Lalu saya follow twitternya dan stalk to the max! 

Dari hasil stalking tadi saya tertarik sama film SITI, karya Eddie Cahyono. Saya lalu mengajak Una untuk nonton. Saya inginnya menonton film siang jadi pulangnya nggak uyel-uyelan di commuter line. Kalau pulang ingat rush hour ya, bok! Nah, Si Una bisanya sore. Yo wes, jadi ada dua pilihan, nih. Mau menonton siang tapi sendiri atau nonton sore tapi mengajak suami. Saya yakin seyakin-yakinnya (mbacanya pakai kol kolah kubro ya ^.^ ) kalau pak suami nggak bakal mau menonton beginian. Beliau mah kurang suka film anti mainstream. Ternyata tebakan saya benar. Saya disuruh berangkat sendiri. Yeay!! Asyiiik, saya pun bebas mengatur waktu buat nonton.

Kebetulan, saat itu di twitter ada info kalau tiket film Siti ada yang bisa dibooking lewat email. Saya pun melakukan itu, takut kehabisan soalnya. Pokoknya niat banget mau nonton, deh! Salut buat adminnya karena email saya dibalas esoknya, meski saya sudah di kereta. Iyaaa, saya tetap berangkat meski belum mendapat kepastian tiketnya. Saya berangkat agak awal dengan asumsi nanti kalau nyampai sana masih bisa pesan tiket. Tuh, kan, niat banget sayanya ^-^.

Karena baru pertama kali menginjakkan kaki di TIM, saya pasti nanya-nanya dong sama penjual siomay di situ. Olalaaa, ternyata Kineforum tempatnya di belakang dan pojok pula. Meski demikian, tempatnya enak banget buat nongkrong dan ngobrol. Di sana banyak banget mahasiswa yang juga mau menonton di sini. Waaa, ternyata minat anak muda untuk menonton film berkualitas masih banyak, termasuk saya. Hihihi, saya IRT yang masih mudalah ya *neguk SK II dulu.

Jadi di Kineforum itu ada teras yang juga berfungsi untuk memesan tiket. Terasnya cukup luas , banyak tempat duduk dan ada colokan untuk ngecharge. Nggak jauh dari teras ada toilet yang bersih. Beneran bersih, lho. Terus pastinya ada tempat nontonnya dong, ya. Tempat nontonnya di dalam seperti bioskop tapi lebih kecil dengan kapasitas 45 tempat duduk.


Waktu itu yang bertugas di bagian tiket dan bagian ruang nonton, semuanya mas-mas. Mereka baik dan ramah. Jadi saat datang pertama, pesan tiket dan mengisi buku tamu terus kita dapat tiket. Pas mau masuk nonton filmnya, tiketnya nanti disobek sama mas-mas yang ada di depan pintu masuk. Terus nonton, deh.

Kesan saya pertama kali menonton di sini, WOW LUAR BIASA!! Nggak nyangka ternyata ada tempat fun yang bermanfaat, menurut saya tentunya. Menghabiskan waktu dengan menonton film yang benar-benar berkualitas dan anti mainstream banget. Dan, saat masuk mau menonton filmnya ternyata ON TIME!! Saya yang awalnya sempat pesimis bakal molor ternyata malah kaget sendiri dengan pelayanan Kineforum.

Saya salut lagi, nih. Setelah film selesai, lampu bioskop akan nyala setelah semua kru yang terlibat di film tersebut ditayangkan. Jadi ya saya tahu siapa yang terlibat. Ini merupakan suatu penghargaan tersendiri untuk para kru film, lho. Kerja keras mereka diperhatikan walau hanya beberapa menit. Pasti bangga ya kalau tahu nama kita muncul dan ikut terlibat dalam suatu kegiatan, apa pun itu. 

Alhamdulillahnya, pas saya menonton, pas ada tiket gratis. Benar-benar nggak keluar duit sama sekali. Salut!! Dan, mereka juga selalu update info soal film yang bakal tayang di web atau di twitter kok. Yup, ikuti saja info dari para admin. 

Buat pengelola dan relawan Kineforum, terimakasih banyak ya. Kalian tim yang hebat!! Terus putar film yang berkualitas, ya ^.^














Continue Reading…
Powered by Blogger.

Recent Posts

    Follow Me

    Page Views

    Copyright © Pipit Widya | Powered by Blogger
    Design by Saeed Salam | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com