Monday, August 31, 2015

Jangan Sampai Keuangan Bocor

Sadar atau tidak saat ini banyak orang yang berpikiran bahwa makin besar gaji maka makin sejahtera hidupnya. Dengan gaji yang besar tersebut maka orang akan mudah mewujudkan mimpi-mimpi mereka, seperti punya rumah impian, mobil baru, pendidikan anak yang oke, sampai jalan-jalan ke negeri impian. Namun, kadang semua itu tinggal rencana. Sebesar apa pun gaji seseorang jika tidak diatur dengan baik, maka tetap saja kurang bahkan kebutuhan dan keinginan tidak terpenuhi. Jadi bukan tentang berapa besar gajinya tapi perilaku orang tersebut dalam mengatur keuangan yang menjadi masalahnya. Jangan sampai keuangan bocor karena pengeluaran yang tidak terkontrol.

Hari Sabtu, tanggal 1 Agustus lalu, saya beruntung karena mendapat kesempatan untuk mengikuti acara keuangan yang diselenggrakan oleh Sun Life, dengan bintang tamu Safir Senduk. Pakar Keuangan yang sudah terkenal seantero Indonesia ini memberikan ilmu yang menarik, yaitu bagaimana cara mengelola keuangan dengan bijak.



Seperti yang telah saya uraikan di paragraf pertama tadi, sebenarnya penyusunan anggaran rumah tangga sangat diperlukan. Saya sendiri merasakan sekali pentingnya penyusunan ini mengingat saat ini saya sudah tidak bekerja, jadi hanya ada satu sumber keuangan di rumah. Lalu, bagaimana caranya mengatur keuangan agar tidak bocor?

1. Membuat Pos Anggaran

Pembuatan pos-pos anggaran ini merupakan alat untuk mengontrol pengeluaran setiap bulan. Tujuannya tentu saja agar penghasilan yang ada dapat digunakan sesuai kebutuhan dan keinginan. Dengan membuat pos-pos pengeluaran diharapkan kita bisa mengetahui pos mana yang mengalami kebocoran. Pada akhirnya, kita bisa mengetahui di mana letak borosnya lalu dapat mengurangi pelan-pelan atau mungkin kita bisa mengendalikan agar menutup kebocoran tersebut.

Kalau sudah mendapat uang bulanan dari pak suami, langsung saya pisah-pisah. Tidak perlu ribet kok mengaturnya. Di rumah saya punya dompet cukup besar dengan beberapa bukaan. Nah, masing-masing bukaan saya isi uang untuk biaya sebulan. Misal bukaan pertama untuk membayar ART, uang belanja di pasar, dan uang sampah. Bukaan kedua untuk dana refreshing, uang ke salon atau untuk gaya hidup-lah bahasanya. Sedang bukaan ketiga untuk bensin dan uang parkirnya pak suami serta ada dana cadangan. Semua itu sudah saya pisah-pisah jadi gampang kalau mau mengambil. Tidak usah pakai amplop, tinggal dilipat saja sesuai peruntukannya.

2. Mengendalikan Keinginan

Kebutuhan dan keinginan itu beda loh. Kalau kebutuhan, sesuatu yang memang kita butuhkan. Tanpa kebutuhan tersebut, kita tidak dapat hidup dengan baik. Contohnya kebutuhan akan makanan, pendidikan, dan kebutuhan akan tempat tinggal. Sedangkan keinginan itu, tanpanya kita masih bisa melakukan aktivitas dengan baik. Misalnya kalau ada HP baru pasti kita pengin beli kan? Bukan butuh loh. Kalau HP-nya rusak sih bisa jadi butuh. Tapi di sini, saya ingin mengatakan bahwa sebenarnya tanpa HP baru tersebut kita masih bisa beraktivitas memakai HP yang lama kan? Tidak harus selalu beli HP kalau ada keluaran terbaru kan?

Keinginan-keinginan inilah yang kadang merusak pos-pos pengeluaran yang sudah disusun. Kalau kita sendiri tidak bisa mengendalikan keinginan tersebut, bisa jadi anggaran keuangan bocor di sana-sini. Kenapa? Karena untuk memenuhi keinginan tersebut harus diambil dari beberapa sumber sehingga comot sana-sini.

3. Prioritas

Alokasi pos-pos pengeluaran sebaiknya sesuai prioritas. Anggaran yang dikelola sesuai prioritasnya bukan tak mungkin akan membuat impian-impian yang sudah terencana dapat terwujud di masa mendatang. Apa saja prioritas tersebut?

*Cicilan/hutang
Kalau punya cicilan atau hutang maksimal besarnya 30% dari total pendapatan per bulan. Sedangkan kalau ada cicilan rumah boleh sampai 40%. Jangan sampai pendapatan habis hanya untuk membayar segala macam cicilan. Makanya, sebelum mengajukan berbagai kredit atau pinjaman harus dipertimbangkan dengan baik cara membayar cicilannya.

Banyak kan ya keluarga yang salah mengelola pos cicilan ini. Mereka berhutang tanpa mempertimbangkan kondisi keuangan yang sebenarnya. Parahnya lagi, kadang cicilan tersebut banyak untuk memenuhi keperluan konsumtif, misalnya membeli pakaian, tas atau makan di restoran yang dengan gampangnya tinggal gesek kartu kredit. Pas jatuh tempo cicilan, mereka tidak bisa membayar atau telat. Kalau begini malah beban hutang semakin besar karena harus membayar bunganya kan? Lalu gali lubang tutup lubang deh. 

*Tabungan/Investasi
Prioritas yang cukup penting karena ini memperhatikan rencana jangka panjang. Besarnya tabungan/investasi minimal 10% dari total pendapatan per bulan. Paksakan diri untuk punya tabungan karena tabungan merupakan dana cadangan atau untuk keperluan di masa datang. Sebaiknya pisahkan dana tabungan dengan anggaran pengeluaran rutin.

Selain tabungan, kita bisa melakukan investasi. Tujuan dari investasi yaitu untuk menyimpan dan mengembangkan dana lebih yang kita miliki. Tapi, jangan sampai kita salah pilih tempat berinvestasi atau tertipu dengan investasi bodong yang saat ini sering terjadi.

*Premi Asuransi
Besarnya premi asuransi 10% dari pendapatan. Seperti penjelasan sebelumnya, premi asuransi ini sifatnya seperti investasi yang saat ini banyak dibutuhkan untuk kebutuhan yang tidak terduga atau kebutuhan di masa datang. 

*Biaya Hidup
Besarnya biaya hidup maksimal 50% dari pendapatan. Jika biaya hidup melebihi dari batas tersebut, kita bisa saja mengurangi pengeluaran yang lain. Misalnya mungkin ada beberapa anggaran kebutuhan pokok yang bisa dikurangi sehingga anggaran tersebut bisa dialihkan untuk memenuhi kebutuhan yang lain. 

4. Memiliki Asuransi

Kata Safir Senduk, memiliki asuransi ibarat kita memakai payung di musim hujan. Dengan payung tersebut, kita tidak bisa menolak hujan tapi kita bisa melindungi diri dari basahnya air hujan. Meski bisa terkena air cipratannya, tapi sedikit sih. Setidaknya kita masih aman kalau punya payung. Artinya, asuransi membantu kita di saat yang tak terduga. Bisa saja kita harus memenuhi kebutuhan yang sangat darurat dan memerlukan dana yang besar, maka dengan asuransi kita bisa sedikit lega. Asuransi membantu kita dalam menangani keadaan darurat tersebut. 

Saat ini, banyak sekali perusahaan asuransi yang ada di Indonesia, salah satunya adalah Sun Life. Perusahaan yang telah melayani jasa keuangan selama 150 tahun tersebut mampu menjadi perusahaan yang membantu menyejahterakan nasabah dengan kemapanan financial. Melalui acara financial illiteracy kepada mahasiswa, Ibu Rumah Tangga, serta siswa SMK, Sun Life ingin agar masyarakat Indonesia lebih melek terhadap masalah keuangan. Sun Life ingin agar kita, masyarakat Indonesia lebih kuat dan mapan kondisi keuangannya. 

5. Hati-hati Sale

Hampir setiap bulan pasti ada sale di Indonesia. Adanya sale besar-besaran dan di mana-mana mungkin sulit ditolak. Tapi hal ini bukan berarti tidak bisa ditolak kan? Ingat, hindari gaya hidup yang konsumtif karena akan menjerumuskan kita ke dalam keuangan yang buruk. Kalau ada sale, belilah barang yang memang kita butuhkan bukan yang hanya menjadi keinginan kita. Bagaimanapun, kalau menuruti keinginan itu tidak akan ada habisnya. 

6. Disiplin

Hal-hal di atas tidak akan tercapai kalau kita tidak bisa mendisiplinkan diri. Meski anggaran sudah disusun apik, tanpa kedisplinan dari penggunanya akan sia-sia. Sekali lagi, perilaku yang tidak disiplin bisa membuat anggaran keuangan bocor di sana-sini. Jangan hanya fokus mencari penghasilan yang tinggi, tapi sebaiknya kita juga fokus dalam membelanjakan uang kita. 














Continue Reading…

Friday, August 28, 2015

Jangan Sepelekan Sakit Maag

Suami saya punya sakit maag sejak belum menikah. Kalau telat makan yang sakit bukan hanya perut tapi juga kepala. Repotnya kalau pas weekend. Biasanya kalau weekend saya pengin agak santai masaknya tapi justru inilah yang membuat sakit maagnya bertambah parah karena makan kurang teratur. Duh, kalau sudah begini sakit maag jangan disepelekan nih.

Sebetulnya gejala perut terasa aneh sudah dirasakan setahun lalu. Kalau diajak olahraga terutama lari, sekitar 10 menit perut pasti sakit seperti suduken. Biar reda, pak suami jalan kaki sebentar kemudian lari lagi, perut sakit lagi. Gituu terus. 

Bulan kemarin, sakit maagnya sering kambuh. Perut terasa melilit banget padahal baru jam 11.30. Rasanya perut seperti nggak boleh kosong, harus diisi terus. Kalau diberi makan seporsi malah tambah sakit. Selama ini kalau perutnya sakit, pak suami hanya minum obat maag. Dilihat dari penampilan secara fisik, gejala penyakit tersebut biasa saja. Pak suami seperti orang sehat tapi perut melilit.

Karena sudah nggak tahan dengan sakitnya, pak suami memutuskan periksa ke rumah sakit. Oleh dokter SpPD, beliau di-USG dan dirujuk endoskopi untuk mengetahui secara pasti penyebab sakitnya. Endoskopi kurang lebihnya yaitu tindakan untuk mengetahui bagian dalam atau lambung memakai kamera agar kondisi lambung dapat diketahui secara detail. Gampangnya, memfoto bagian dalam. Jadwal antara pemeriksaan pertama dan endoskopi menyesuaikan jadwal dokter tersebut.

Saat pemeriksaan endoskopi, saya ikut menemani. Agak tegang juga sih sebenarnya. Kalau dulu pas kerja di RS tahunya hanya pesan alatnya saja, sekarang tahu prosesnya meski nggak semua sih. Masuk ruang endoskopi, pak suami diberi tahu susternya ini dan itu. Ditanya punya gigi palsu apa nggak. Nanti akan dibius dan mulutnya disemprot cairan yang bikin baal. Macem-macem deh informasi yang diberikan oleh suster. Setelah dibius dan mau diambil tindakan, saya disuruh keluar dari ruang endoskopi. Jadi saya hanya tahu sampai proses bius. Setelah kurang lebih 15 menit, saya dipanggil lagi ke ruang endoskopi. Saat itu pak suami masih teler, antara sadar dan enggak.

Dari hasil pemeriksaan endoskopi, saya diberi tahu kalau penyakit pak suami tergolong parah. Padahal gejalanya cuma sakit perut dan nggak begitu parah ya. Yang namanya gejala itu kadang tidak sama dengan penyakit yang diderita. Gejala ringan bisa saja penyakitnya parah begitu juga sebaliknya. Penyebab penyakit ini bisa telat makan, stress, kebanyakan makanan yang mengandung gas atau pedas. Deg, saya mendengar semua informasi dan nasihat dokter sambil mbrambang, pengin nangis. Saya orangnya gampang mewek nih. 

Hasil Endoskopi

Kata pak dokter, lambungnya mengalami peradangan. Beberapa foto menunjukkan warnanya merah sekali. Ada bagian lambung yang luka atau terjadi ulkus. Kalau digambarkan, lambungnya pak suami seperti terkena sariawan. Peradangan dan luka inilah yang menyebabkan perutnya sering sakit dan melilit. Selain difoto, beberapa jaringan di lambung juga diambil (dilakukan biopsi) untuk kemudian dicek secara patologi, apakah lambung tersebut terinfeksi bakteri atau tidak. Apabila hasil lab menunjukkan ada bakteri Helicobacter pylori maka akan diberi antibiotik. Jika tidak ada ya nggak dikasih antibiotik. Hasil lab patologi dapat diketahui seminggu kemudian.

Saran dokter, untuk sementara pak suami disuruh makan bubur selama tiga hari kemudian dilanjut dengan nasi tim. Pantangannya yaitu bahan makanan yang mengandung gas, seperti : kol, sawi, makanan/buah yang asam, taoge, dairy product termasuk susu kaleng putih yang terkenal itu, makanan kaleng, mie, roti, nangka, dan makanan pedas. Haduuuh, njuk maem apa kiiii? Tamparan buat saya, sebagai istri yang katanya lulusan kesmas jadi tertantang untuk membuat menu yang sehat. Padahal saya kalau masak ya itu-itu saja. Sayur bening, sop, tumis, ca, bobor, lodeh. Ituuu aja.

Demi kesembuhan pak suami, saya googling sana-sini untuk mencari info tentang cara bikin bubur dan menu yang gampang. Ini pertama kalinya saya bikin bubur dan komentarnya pak suami adalah buburnya atos atau keras!! 
Gubrak, padahal bikinnya lama loh. Kalau rasa sih katanya lumayan. Lah, ini sih dodolnya saya juga karena bikin bubur satu gelas di panci mini jadi kurang leluasa ngaduknya. Ketika ganti panci yang lebih besar, hasilnya agak lumayan tapi masih belum halus banget. Gimana caranya ya biar berasnya cepat empuk dan buburnya halus. Itu!!

Akhirnya saya punya ide nih. Beras kalau direndam akan cepat empuk kan? Karena takut bangun kesiangan, sebelum tidur malam, beras yang mau dibikin bubur saya rendam dulu. Sebenarnya ya nggak selama itu sih merendamnya. Pertimbangan saya, membuat bubur itu lama dan sarapan nggak boleh telat jadi butuh persiapan dulu. Setelah itu, beras dan air dimasukkan ke panci yang agak longgar agar leluasa ngaduknya. Perbandingan beras dan air yaitu 1:5, artinya 1 gelas beras dimasak dengan 5 gelas air. Biar enak dan harum, tambahkan garam, daun pandan serta daun salam. Alhamdulillah akhirnya saya bisa membuat bubur yang halus.

Ya ampun ciiiin, ternyata bikin bubur itu lama banget ya. Harus sabar karena tangan pegel ngaduk terus biar buburnya nggak ngerak. Itu baru bikin segelas lho. Apa kabarnya abang bubur ayam ya? Bikin bubur sak dandang berapa lama ngaduknya coba? Salut, deh!

Lah, ini kenapa postingan jadi melebar ke tukang bubur yang sudah naik haji sih. Hahahaha.

Balik lagi ke pak suami, setelah seminggu dari hasil yang dijadwalkan untuk pengambilan hasil lab PA, syukur alhamdulillah hasilnya negatif. Tidak ditemukan bakteri H. pylori. Dengan demikian, pak suami cuma diberi resep obat biasa.

Oia, saya juga googling mencari info penyembuhan penyakit lambung secara alami. Saya menemukan banyak artikel yang menyebutkan kunir atau kunyit baik untuk pengobatan lambung. Beberapa artikel menyebut menggunakan kunyit putih. Karena nggak ada kunyit putih maka saya beli kunyit yang kuning. 

Kunyit dan Madu

Kunyit yang saya beli berbentuk empu (rimpang), bukan yang kecil-kecil untuk bumbu dapur. Kalau empu ini bentuknya agak besar. Harganya murah meriah di pasar, seperempat kilo cuma tiga ribu. Satu empu kunyit saya parut lalu diperas di dalam gelas kecil kemudian dicampur madu. Diminumkan pada pagi dan sore hari. Dokter juga mendukung ketika hal ini dikonsultasikan. Kata pak suami, kalau minum kunyit perutnya terasa adem dan enak. Semoga sariawan (ulkus) di lambung cepat sembuh ya. 

Teman-teman, jangan sepelekan sakit maag ya. Jangan sampai kronis seperti suami saya. Kesehatan itu mahal banget. Untung ini semua ditanggung asuransi. 























Continue Reading…

Thursday, August 27, 2015

Anak Teknik

Kemarin habis baca postingannya Mas Dani tentang warnet jadi kepikiran sama mas-masnya yang jaga. Hahahaha, nggak tahu kenapa saya malah ingat sama gebetan yang anak teknik. Padahal kenal juga nggak kenal banget. 

Sewaktu SMA, saya les di LIA Imam Bonjol, Semarang. Lesnya bareng-bareng sama sahabat, lokasinya dekat dengan sekolah jadi enaklah ya. Pulang sekolah berangkat les jalan kaki sambil nggosip. Senengnya lagi kalau les sore karena banyak orang kantoran dan mahasiswa yang ikut jadi gebetan. Zaman dulu kalau bisa kenal orang kantoran atau mahasiswa kayaknya gimana gitu ya. 

Saya masih inget banget waktu itu pernah sekelas sama mahasiswa, cowok, anak elektro Undip angkatan 2000. Hhhhhmm, saya nggak pernah ngobrol sih tapi suka sama dia. Iya, saya kalau suka sama orang sering diam-diam. Kayak lagunya Cherrybelle, aku diam-diam suka kamu. Mencoba mendekat, mencoba mendekati hatimu. Tapi nggak berani ding, hahahahaha. Saya ngikut apa kata Warna aja deh, indahnya cinta dalam hati saja. 

Saat itu cuma tahu nama, fakultas, dan asalnya dari Jakarta. Udah itu tok!

Masuk ke FKM Undip 13 tahun lalu, kampus saya terkenal dengan kampus yang mewah (mepet sawah). Hahahaha, beneran FKM dulu itu terkenal kampus paling pojok, sepi, segrup sama psikologi dan MIPA. Sekarang jangan ditanya, konon menurut berita sekarang FKM menjadi salah satu kampus favorit. Syukur deh kalau begitu. Sebagai mantan alumni, saya turut senang hahahaha. Tapi kalau masalah cowok, nggak tahu masih banyak peminatnya apa enggak. FKM dulu terkenal sebagai fakultas yang minim cowok nggak kayak teknik. 

Entah kenapa, dulu kalau ada teman saya cewek sedang dekat atau punya cowok anak teknik itu terkesan keren banget. Gimana enggak coba, secara mau masuk teknik aja susah, passing gradenya tinggi, banyak saingan dan ospeknya itu loh kok kayaknya susah banget. Bener nggak sih wahai anak teknik? hahaha. 

Zaman rajin ngenet karena tugas kuliah saya diajak teman (nggak segeng) ke warnet yang dekat sama kosnya. Warnetnya di daerah Tirto Agung, Tembalang. Dulu sih warnet itu ramai karena nyaman dan lumayan cepat. Sewaktu masuk warnet saya kaget setengah mati. Nggak nyangka kalau yang menjaga itu si mas gebetan, anak teknik elektro yang pernah menjadi teman les LIA dulu. Mau nanya malu palingan dia juga nggak ingat. Dag dig dug nggak karuan waktu itu. Kok bisa ya? Sempat ge-er sih jangan-jangan ini jodoh. Huwaaaaaa, pikiran langsung melayang. Tapi waktu itu kok ya agak berat di ongkos kalau ke sana, sejam sekitar 10ribu apa ya? Kalau ngenet sejam kok rasanya kurang, apalagi kalau yang menjaga mas-mas gebetan, hahaha. Kalau kelamaan kok ya nggak punya duit. Duh, balik lagi deh ke judul lagunya Cherrybelle 'dilema.' 

Saya pengin jadi pelanggan di warnet itu. Tapi sayang teman segeng dulu kalau diajak ke warnet itu nggak ada yang mau karena jauh dari kos mereka dan masih jalan kalau ngangkot. Duh, kok ya punya geng nggak support gini ya. Hahahaha. Karena ini pula, saya jadi jarang banget ke sana dan nggak tahu kabarnya si mas itu sampai sekarang. 

Waktu terus berjalan hingga saya dicomblangin sama teman KKN. Saya cuma ditawari aja dia punya teman cowok, blablabla. Begitu kenalan dan memang niatnya mau cari suami/istri jadinya saya menjalani hubungan yang serius sampai sekarang. Alhamdulillah, waktu itu rasanya semua dimudahkan oleh Tuhan. Nggak nyangka juga kalau suami saya ternyata anak teknik! Hahahaha. Padahal ya biasa aja setelah dapat anak teknik, njuk nggak mak bedunduk saya jadi gimana gitu. Nggak mak bedunduk pak suami langsung tampak hebat. Semuanya biasa saja. 

Saya dan Anak Teknik ^-^

Tapi kalau bicara masalah teknis saat membangun rumah ya pak suami terlihat pintarnya. Aura anak tekniknya keluar *halah. Pemikirannya yang sistematis dan analisisnya mampu menerjemahkan apa yang saya maksud. Tapi begitu dikembalikan ke saya dengan pertanyaan sederhana, 

"mudeng nggak?" 

Hanya jawaban berupa gelengan dan muka polos yang nggak paham apa-apa. Semua itu harus diterangin lagi dengan gambar 3D, baru saya mudeng. Ah, apalah arti diriku tanpa dirimu :p Bukan hanya kelebihanmu yang kusuka tapi sikapmu ketika menghadapi semua kekuranganku selama ini. Bahwa saya sadar, bukan jurusan, gelar atau apa pun yang diperlukan ketika sudah hidup bersama. Rasa pengertian dan saling memahami satu sama lain, itu yang penting. 

Terimakasih anak teknik yang sudah membantu bikin jus tiap pagi. Terimakasih buat waktu ngobrolnya di dapur saat masak. Terimakasih buat rasa lelahmu ketika mewujudkan mimpi kita. Terimakasih buat kebebasan yang kau berikan. Terimakasih sudah menjadi pembaca setia blog ini *jangan nongol di kolom komentar loh ya.



*Postingan 100% curcol di sore hari yang panas pol.^,^.











Continue Reading…

Kontrakan

Lagi pengin ngomongin kontrakan, nih. Kalau mau ngomongin kontrakan pastinya dulu saya pernah dong jadi kontraktor atau orang yang pernah ngontrak. Saya dan pak suami sempat ngontrak setahun di daerah Tanjung Barat. Lumayan betah tinggal di situ karena lokasinya strategis, mau ke mana-mana dekat. 

Mau ke Pasar Minggu, masuk tol, dan piknik ke Ragunan dekat. Mau ke stasiun tinggal jalan kaki. Mau ke Depok apalagi. Mau naik angkot tinggal jalan kaki keluar gang. Enaknya lagi kontrakan ini ada halaman yang cukup luas untuk parkir mobil para kontraktor. Selama ngontrak di situ kami belum pernah mengalami kebanjiran. Kelebihan-kelebihan inilah yang membuat kontrakan tersebut selalu penuh.

Selain lokasi, yang bikin betah tentu saja para tetangga yang tinggal di situ. Kebanyakan yang ngontrak di situ seumuran jadi ngobrolnya lumayan nyambung. Saya juga nggak terlalu sering ngobrol sih karena waktu itu masih kerja. Paling kalau sore dan nggak ada kerjaan rumah yang numpuk baru ngobrol sama emak-emak. 

Kehidupan di kontrakan samalah dengan kehidupan biasa, banyak juga problematikanya cuma pintar-pintarnya kita saja menempatkan diri. Ada orang yang baik dan nggak. Ada yang suka nggosip dan nggak. Cuma agak aneh aja melihat tetangga yang kontrakannya waktu itu isinya barang-barang mewah tapi ternyata suka telat bayar kontrakan. Bahkan dia kabur dari kontrakan loh. Yah, penampilan kadang tidak mencerminkan kehidupan sebenarnya. Ada juga cerita ART yang kabur dari majikan. Sebelum kabur, dia sempat bilang mau kerja sama saya kalau nanti sudah pindah rumah. Duh, kasihan si mbak itu. 

Bisnis kontrakan kalau dilihat sangat menjanjikan ya. Hari gini kontrakan masih laku loh apalagi di Jakarta dan sekitarnya. Banyak banget orang yang mencari kontrakan dengan alasan untuk memudahkan aktivitas sehari-hari. Tiap bulan si juragan bisa dapat uang kontrakan yang jumlahnya dihitung dari harga sewa dikalikan berapa pintu yang terisi. Selain itu harga properti yang tiap tahun meningkat bisa saja kontrakan dijadikan investasi atau dijadikan warisan untuk anak cucu nanti, hahahaha. Menjadi juragan kontrakan masih menjadi mimpi saya dan pak suami nih.

Membangun kontrakan itu kayaknya gampang ya. Habis isi kontrakan kan standart banget. Kalau yang gampang sih rumah petak yang isinya ruang tamu, 1 kamar tidur, dapur, dan kamar mandi. Bahan bangunan yang digunakan juga standart, nggak perlu yang kualitasnya bagus banget. Saya melihat kontrakan depan saya dindingnya batako, atapnya asbes, dan catnya cepat pudar. Hahahaha, yang penting ada ruang untuk berteduh. Etapi, kualitas kontrakan yang bagus juga berpengaruh dengan harga sewanya. Semakin eksklusif dan bagus, harga sewa semakin mahal.  

Kontrakan depan rumah saya ada 2 pintu. Kalau ada yang kosong, nggak sampai sebulan sudah terisi lagi. Pokoknya nggak pernah kosong lama kontrakan itu. Si juragan kontrakan kebetulan tetangga sendiri. Orangnya masih muda, umurnya mungkin 10 tahun lebih tua, teman akrabnya pak suami, penampilannya low profile banget. Dia bekerja di perusahaan telekomunikasi ternama. Pelan tapi pasti bisnis kontrakannya bertambah. Dari 2 pintu sekarang sudah ada kontrakan baru 3 pintu. Kata pak suami, mungkin habis ini ada proyek lagi karena si juragan masih punya tanah di dekat situ juga. Wuih, mupeng deh dengan bisnisnya. 

Sedangkan kontrakan yang pernah saya tinggali jumlahnya sekitar 15 pintu. Banyaknya pintu yang terisi sempat membuat saya dan pak suami ngiler menghitung pendapatan si juragan per bulan, hanya dari kontrakan ini. Gampangnya saja per pintu harga sewanya sejuta. Uang yang masuk ke juragan sebulan 15 juta kan? Seiring meningkatnya harga properti, harga kontrakan juga akan mengikuti. Tiap tahun atau tiap berapa tahun sekali biasanya harga sewa akan naik. Tentu saja hal ini berbanding lurus dengan pendapatan si juragan kontrakan. 

Sumber Gambar 

Yuk, coba menghitung bisnis kontrakan yang simple :

Misalkan untuk membangun 1 rumah petak ukuran 30 m2 butuh dana sebesar :
- tanah : 70 juta
- bangunan : 20 juta
Total : 90 juta

Katakanlah, harga sewa per bulan 500rb.
Biaya pemeliharaan per bulan 10% = 50rb.
Pendapatan per bulan = 500rb-50rb 
                                    =  450rb

BEP = 90 juta : 450rb 
        = 200

Karena 1 tahun = 12 bulan maka 200/12 = 16.
Ya, BEP-nya sekitar 16 tahun. 

Hhhhhmmm, lama juga ya BEP-nya. Tapi ingat, tiap berapa tahun sekali harga properti pasti meningkat dan harga sewa turut naik, jadi bisa saja BEP tersebut lebih cepat. Kata beberapa ahli keuangan sih properti merupakan salah satu investasi yang baik. Dengan memiliki aset yang produktif akan menambah pemasukan bahkan bisa dijadikan sumber untuk memenuhi biaya hidup. 

Namanya usaha pasti ada saja kendalanya, termasuk bisnis kontrakan ini. Sebagai mantan kontraktor, si juragan kontrakan pasti pening kalau menemukan kejadian seperti ini :

1. Telat Bayar

Yah, namanya orang pasti beda karakter termasuk para kontraktor. Berbahagialah kalau juragan kontrakan punya warga yang taat bayar pajak bulanan dan berperilaku baik. Bila ada kontraktor yang nakal ya harus tegas. Berkali-kali nggak bisa diperingatkan ya harus diusir. Tapi saya tega nggak ya nanti kalau jadi juragan seperti ini. Mereka kan juga manusia, huhuhu. - _ -

Pengalaman saya, dulu ada tetangga yang telat bayar sewa sampai diingatkan berkali-kali tetep ndableg sampai si juragan melepas jendela. Beneran loh ini kejadian di kontrakan yang saya tinggali dulu.

2. Pengganggu 

Nah, ini saya belum pernah ketemu tetangga yang seperti ini. Cuma setelah pindah, saya sempat diceritain sama teman yang waktu itu masih ngontrak di sana. Ada macem-macem sih ceritanya. 

Tengah malam pintu teman saya digedor-gedor sama orang, si tamu langsung marah-marah. Lah, teman saya kan bingung secara nggak kenal sama orang itu. Masalah yang diributin juga dia nggak paham. Setelah ditanya, ternyata yang nggedor itu salah pintu. Harusnya yang dilabrak tetangga sebelah bukan pintunya dia, huhuhu. Akhirnya ramelah rumah sebelah, malam hari pula. Ngganggu orang tidur kan?

Langsung deh teman saya lapor ke penjaga kontrakan dan minta supaya si juragan menindak tegas tetangga yang ribut tengah malam. Memang ya tetangga yang mengganggu ketertiban umum *halah* kudu ditindak tegas. 

Masih ada loh tetangga yang bikin parno. Misalnya nih ada tetangga yang suka memelihara burung dalam jumlah banyak. Maklum teman saya takut terkena flu burung karena waktu itu wabahnya lagi heboh diberitakan. Selain itu, ada juga tetangga yang buka praktik pengobatan. Saya nggak tahu pastinya seperti apa karena kata teman saya praktiknya aneh. 

Oia, ada loh tetangga yang ngomongnya kenceng banget. Yang namanya kontrakan kadang batuk aja denger kan ya apalagi kalau ngomong stereo. Terus ada juga yang nyetel musik kenceng banget. Haseeek, kalau ini sih kadang suka karena saya memang suka musik. Cuma telinga sering diajak kompromi kalau mendengar lagu daerah yang nggak ngerti artinya, hahahaha. Roaming tapi seru sih. 

3. Air dan Listrik

Masalah air dan listrik itu PR banget bagi juragan kontrakan karena dua hal ini sangat vital. Tanpa air dan listrik apalah arti hidup, yang ada malah mati gaya. Kontrakan yang saya tempati dulu itu kan ada sekitar 15 pintu tapi airnya cuma satu tandon. Jadi kalau musim kemarau untuk mendapatkan jatah air kudu giliran. Untungnya ya waktu itu saya masih kerja jadi aktivitas rumah seringnya dilakukan pagi saat tetangga masih belum banyak yang bangun.

Pernah sih saya ngalami kejadian listrik rusak jadi benar-benar nggak ada air dan listrik dari pagi sampai sore. Untungnya kejadian itu pas weekend. Kontraktor yang punya saudara dekat pada ngungsi di kerabatnya. Daripada mati gaya dan nggak jelas mau mandi di mana, saya ngungsi ke kantor loh. Beneran, ngungsi ke kantor sambil update berita dari tetangga. Pas listrik dan air nyala baru deh pulang kandang. Hahaha, seru juga kalau ingat kejadian itu. 

4. Komplain

Kalau teman-teman mau jadi juragan kontrakan, siap-siap aja ya kalau nanti banyak yang komplain. Biasanya para kontraktor komplain soal fasilitas yang kurang. Misalnya tegangan listrik yang naik turun sehingga peralatan mereka rusak. Eh, ini beneran loh terjadi.

Tegangan listrik yang nggak stabil memang berbahaya dan merugikan kontraktor. Pak suami pernah pakai stabiliser untuk kulkas. Kami agak parno ketika tetangga cerita kalau kulkas mereka rusak gara-gara tegangan yang nggak stabil. Alhamdulillahnya kulkas kami bisa tahan low voltage. Kulkasnya sampai sekarang masih awet tapi stabilisernya sudah rusak lama, kayaknya sudah dijual ke tukang loak deh. 

Kalau mau bisnis kontrakan sebaiknya dipikirkan lagi fasilitas-fasilitas yang memudahkan user atau kontraktor. Pikirkan baik-baik tentang sistem pembayaran sewanya, soal air dan listrik, serta faktor keamanan. Kalau hal ini bisa diatasi, bisa saja kontraktor betah tinggal di situ jadi banyak pintu yang terisi. Bagaimanapun, kontraktor adalah raja. Bener kan? hahahaha. 






















Continue Reading…

Monday, August 24, 2015

Camilan Ki Koiin

Tak disangka kalau beberapa waktu lalu saya mendapat oleh-oleh dari teman dan sahabat yang saya kenal lewat blog, Hani. Kebetulan rumah kami agak dekat jadi lumayan sering ketemuan juga. Terimakasih ya Hani buat oleh-olehnya. Nggak nyangka loh kalau itu juga merupakan bisnis keluarga yang digeluti teman saya di kota kelahirannya, Garut. Bisnis camilan ini namanya unik, Ki Koiin. 

Bisnis camilan Ki Koiin terbilang masih baru. Berawal dari keinginan Hani untuk punya usaha sendiri, usaha tersebut lalu direalisasikan pada bulan Mei lalu dengan dibantu saudara sepupunya yang sudah terbiasa membuat camilan di Kampung Gahot, Garut. Bahkan acara soft launchingnya di bulan yang sama menggandeng Radio Antares (radio pertama di Garut) dan beberapa blogger Garut. 

Nama camilan pangsit ini diambil dari "Aki Koyyin", nama sang kakek yang sudah tiada. Aki (kakek) disingkat dengan "ki" agar lebih mudah diucapkan dan terkesan kekinian. Sedangkan "Koiin" berasal dari nama "Koyyin." Namun dapat juga diartikan sebagai "koin" yang sebenarnya. Maknanya meskipun koin berupa uang recehan tapi kalau jumlahnya banyak, nominalnya juga akan besar. Uang yang besar berasal dari kumpulan uang kecil atau koin recehan, kan? Nah, itu dia filosofi dari nama camilan Ki Koiin ini. 

Ki Koiin Rasa Original, Cabe-cabean, Kopi

Bahan-bahan yang digunakan dalam pembuatan camilan pangsit ini tentu saja dari bahan-bahan pilihan dengan meminimalkan penggunaan MSG agar camilan ini aman dan dapat dinikmati oleh siapa saja. Dengan menjaga kualitas bahan-bahan yang digunakan, diharapkan proses pengajuan dan pembuatan nomor P-IRT serta sertifikasi halal dapat segera diperoleh. Apabila camilan pangsit Ki Koiin ini sudah terdaftar dan mendapat sertifikasi halal diharapkan pemasarannya dapat lebih luas lagi. Dengan demikian, tak menutup kemungkinan lapangan pekerjaan di Kampung Gahot akan semakin bertambah sehingga penduduknya tak hanya mengandalkan kebutuhan hidupnya dari buruh tani saja. 

Camilan pangsit Ki Koiin mempunyai beberapa varian rasa, antara lain rasa original, cabe-cabean, dan kopi. Saat ini, sedang dalam pengembangan beberapa rasa lagi antara lain green tea, vanilla, dll. Camilan ini begitu digigit langsung 'kres' dan sangat renyah. Untuk yang original, rasanya seperti pangsit pada umumnya namun aroma khas daun jeruknya terasa. Sedangkan yang rasa cabe-cabean, jujur saja, saya dan suami nggak kuat sama pedasnya. Kami bukan penyuka pedas. Sumpah, level pedasnya sangat sangat tinggi. Ki Koiin rasa kopi menjadi favorit saya. Sesuai dengan namanya, pangsitnya warnanya coklat dengan bau khas kopi, dan rasanya manis. Enak bangeeet apalagi kalau ditemani dengan secangkir teh yang tidak terlalu manis. Wah, pasangan camilan sore yang cocok, tuh. 

Camilan Ki Koiin dipasarkan secara online dan offline. Pembelian secara online bisa lewat fanpage Selain itu, camilan Ki Koiin juga ada di RM Ayam Kampungan, Garut. Sedangkan untuk area Depok, bisa diperoleh di TIP TOP Depok Lt.2 (Takoyaki). 














Continue Reading…

Friday, August 21, 2015

Sering Kram

Minggu lalu, saya dan pak suami hampir tiap hari bolak-balik ke rumah sakit karena kami berdua nggak enak badan. Apa karena efek habis lebaran ya badan jadi pegel. Mungkin kebanyakan makanan yang mengandung lemak dan kurang berolah raga. Kalau pak suami sih keluhannya beda, maagnya sering kambuh. Sedangkan saya badan pegel dan sering kram. Dua tanda yang saya alami bisa jadi tanda kalau saya kekurangan mineral lho. Kok bisa ya?

Saya gampang banget capek dan badan pegel makanya tiap bulan rutin pijet di klinik kesehatan yang murah meriah. Selain itu, saya sering banget kram. Serius!! Jadi, kalau naik motor tiba-tiba jari kaki yang tengah dan jari manis nggantet sendiri dan rasanya sakit. Itu posisinya saya sudah mengendarai motor lho. Kalau mengalami kejadian itu, saya diamkan atau kaki saya luruskan sedikit. Nggak lama nanti sudah normal dan jarinya nggak nggantet lagi. Pernah juga pas tidur tiba-tiba kaki kram. Sakiit banget rasanya. Kalau sakitnya dilawan malah tambah sakit. Harus didiamkan dan diluruskan pelan-pelan kakinya supaya nggak sakit banget.

Kejadian yang agak parah ya pas bulan puasa kemarin. Waktu sholat, tiba-tiba kaki kram yang membuat saya nggak bisa duduk dengan baik di antara dua sujud. Penginnya cepet-cepet sujud. Karena masih sakit, untuk duduk di akhir sholat pun tidak bisa. Jadi baca doanya cepet, nggak tahan soalnya. Nah, pernah kejadian pas sholat berjamaah di musholla. Karena ngikut imam jadinya saya menahan sakit pas sholat. Tersiksa. 

Karena saya takut ada apa-apa makanya sewaktu pak suami periksa ke rumah sakit, saya ikut periksa. Ceritanya satu RS beda dokter, hihihi. 


#Selasa, 11 Agustus 2015

Saya daftar ke poli umum Rumah Sakit Mitra Keluarga Depok. Dokternya baik banget dan komunikatif, namanya dr.Shelly. Saya ditanya keluhannya apa. Setelah cerita blablabla, saya diperiksa mulai dari tensi sampai dipegang pundak dan kakinya. 

Kata Bu Dokter, kalau capek dan otot tegang  bisa saja karena aktivitas sehari-hari. Yah, padahal saya di rumah nggak ngapa-ngapain, cuma duduk saja di depan komputer. Kalau soal kram, katanya bisa saja kurang pemanasan saat olahraga atau terkena dingin. Nah, mungkin saja benar terkena dingin. Secara saya alergi dingin dan tiap malam kalau tidur AC pasti nyala. Lah, kalau nggak nyalain AC, panasnya juga nggak tahan. 

Untuk mengetahui penyebab pastinya, dokter menyarankan saya cek lab komplit mulai darah lengkap, gula puasa dan setelah puasa, asam urat, lemak, dan kalsium. Kayaknya sih dokternya teliti banget jadi ingin tahu penyebab sakit saya apa secara sejak resign saya juga jarang cek lab komplit. Ah, dokternya tahu yang saya mau deh.

Saya disuruh puasa mulai jam 10 malam, nggak boleh makan tapi boleh minum. Esoknya, saya ambil darah dan cek lab.

Oia, saya kan orangnya kalau keluar rumah itu sekalian jalan. Jadi, saat itu juga saya tanya ke dokternya, kapan jadwal praktiknya biar pas ngambil hasil lab sekalian konsultasi. Alhamdulillahnya Bu Dokter praktik setiap hari. Setelah itu, saya ke lab cuma konfirmasi dan tanya hasilnya kira-kira kapan. Eh, ternyata hasilnya hari itu juga bisa diprint. Oke, sip! Berbekal info ini, saya sudah punya bayangan besoknya mau ngapain saja dan bawa apa saja selama di RS. 


#Rabu, 12 Agustus 2015

Saya berangkat pagi biar nyampai di RS jam 8 teng. Bukan saya namanya kalau nggak rempong. Karena sudah punya gambaran mau ambil darah-nunggu di RS-ketemu dokter maka saya sudah bawa buah untuk sarapan dan tentu saja majalah untuk baca-baca di sana. 

Berhubung sudah ada rujukan, saya langsung ke bagian lab. Dan, karena dokter merujuk tes gula setelah puasa maka 2 jam setelah sarapan darah saya diambil lagi. Yang membuat saya kaget yaitu saya mendapat kupon sarapan. Kata petugas lab, sarapannya harus dari RS nggak boleh nambah lagi termasuk buah yang saya dari rumah. Kalau minum air putih boleh. Saya oke-in saja deh. Sudah terbayang saya bakal dapat sarapan yang enak dan diet gagal *halah. Ternyata dugaan saya SALAH BESAR. Sarapan saya cuma ini :

Kupon Sarapan

Iyaaa, menu sarapannya setangkup roti tawar selai strawberry, telur 1 biji, dan susu putih segelas. Udah itu tok!! Yang membuat saya eneg yaitu susu karena saya nggak doyan susu putih kecuali susu sapi asli yang anget-anget. Aneh? Nggak ah, itulah saya.^-^. Sumpah ya, roti dan telur saya lahap dengan tenang tapi butuh perjuangan banget saat menghabiskan susunya. Kalau nggak diminum kok ya katanya harus habis karena sudah ditakar. Kalau diminum kok ya nggak doyan. Akhirnya dengan mengucap "bismillah" dan menutup hidung saya habiskan susu tersebut kayak minum jamu glek glek glek. Sesudahnya minum air putih yang banyak. Lebay? memang!

Setelah itu saya daftar ke poli umum untuk konsul nanti lalu bengong dan baca nunggu giliran selama 2 jam. Setelah semua proses dilalui *bahasane* akhirnya hasil lab saya keluar dan saya pun lanjut konsultasi. Agak kaget sih melihat hasil labnya. Untuk asam urat, gula, dan kolesterol masih bagus. Namun ada juga beberapa hasil lab yang kurang dari nilai rujukan. Setelah konsultasi dengan dokter, untungnya hasil yang kurang dari nilai rujukan nggak terlalu signifikan kok, masih wajar. Tapi ternyata kalsium saya di bawah nilai rujukan, ini hasilnya :

Hasil Pemeriksaan Kalsium

Yup, ternyata saya kurang kalsium dikit. Itulah analisa dokter yang menjadi penyebab saya kram. Saran dokter hanya minum susu yang mengandung banyak kalsium atau minum suplemen penambah kalsium. Karena di rumah ada C*R maka saya memutuskan nggak beli obat jadi dokter nggak meresepkan apa-apa. Padahal bisa saja kan saya ambil suplemen tersebut mumpung ditanggung asuransi. Tapi kalau saya sudah punya obatnya apa iya saya akan menimbun obat di rumah? Mumpung gratiiiis. Nggak, saya bukan orang yang seperti itu.


#Kenali Kram

Kram adalah kontraksi otot yang tiba-tiba dan sakit di satu otot atau lebih. Rasa sakit ini yang membuat kita nggak bisa bergerak. Kram otot seringkali nggak menimbulkan dampak apa-apa pada otot jadi nggak berbahaya. Kram bisa terjadi pada siapa saja bahkan orang sehat sekalipun. 

Penyebabnya :
  • Penyumbatan aliran darah
  • Adanya saraf yang tertekan
  • Kekurangan mineral dan elektrolit dalam tubuh : potasium, kalsium, kalium
Pencegahan : 
  • Sebelum olahraga atau beraktivitas melakukan pemanasan/peregangan
  • Minum air putih yang banyak
  • Perbanyak makanan yang mengandung potasium, kalsium, dan kalium : pisang, jeruk, kentang, sayuran segar
  • Olahraga rutin
Pengobatan :
  • Bagian yang kram direndam/dikompres dengan air hangat
  • Melakukan peregangan pada otot yang kram 
  • Melakukan pemijatan ringan pada otot yang kram

Apa teman-teman sering mengalami kram? 




Sumber :

1. http://smkn2bangkalan.sch.id/?typ=dmod&opt=artikel&act=bd&id=34

2. https://www.deherba.com/apa-penyebab-otot-sering-kram.html

3. http://health.detik.com/read/2009/07/09/160428/1162184/766/kenapa-sering-kram


















Continue Reading…

Monday, August 10, 2015

Jalan-jalan ke Candi Borobudur

Kapan terakhir kali teman-teman ke Candi Borobudur? Pas SD? Pas karya wisata SMP/SMA? Atau malah baru-baru aja ke sana? Kalau saya ke sana terakhir kali pas SD ikut pikniknya ibu. Iya, sepertinya sih pikniknya ibu-ibu PKK. Saat itu saya kebagian momong si bungsu, hihihi. Waduh, ternyata sudah puluhan tahun lalu. Sekarang malah si bungsu yang nyetir dan jadi andalan sewaktu jalan-jalan ke Candi Borobudur, lebaran kemarin.


Ceritanya memang saya pengin banget ke sana apalagi sekarang Candi Borobudur terkenal karena Mark Zuckerberg pernah melihat sunrise di sana, ya. Sebenarnya pengin banget melihat sunrise di sana tapi nggak bisa. Ya sudahlah, yang penting bisa ke Candi Borobudur.

Berangkat dari Semarang H+3 lebaran, sekitar jam 7 pagi. Dan, sampai di Candi Borobudur jam 10-an. Gila, mau ke pintu utamanya sudah macet banget. Jadi sewaktu sampai di perempatan yang mau ke pintu utama, ada kumpulan bapak-bapak seperti tukang ojek. Mereka menawarkan jasa penunjuk arah. Mereka menunjukkan arah masuk candi (bukan pintu utama) menggunakan motor. Ya sudah, karena macet banget kami terima tawaran tersebut. Cukup bayar jasanya sebesar Rp.15.000,- aja kok. Bapak tersebut menunjukkan jalan tikus menuju ke sana. Memang nggak macet sih tapi jalannya ada yang lumayan sempit. Dan benar saja, kami sudah sampai di pintu masuk loket 7, mobil parkir dekat pintu masuk. Lumayanlah. Nggak kebayang kalau masuk lewat pintu utama tanpa bantuan bapak tadi.

Woalaah, begitu turun dari mobil, kami langsung ditawari topi dan jasa sewa payung. Karena memang cuaca panas banget, kami pilih menyewa payung. Cuma bayar Rp.5.000,- bisa pakai payung sepuasnya. Murah banget!!

Tiket masuk ke candi Rp.30.000,- sewaktu lebaran kemarin. Nggak tahu juga harganya kalau di hari biasa, apakah lebih murah atau enggak. 

Masuk ke area candi, banyaknya pengunjung mulai terasa ramenya. Parah ramenya!! Banyak banget orang yang piknik di sini. Saya senang sih melihat keramaian ini. Itu tandanya Candi Borobudur masih memesona wisatawan lokal. Tapi hal ini tidak berlaku untuk adik saya. Dia nggak mau naik ke candi karena panas dan rame. Dia lebih suka menonton tarian yang ada di sana.


Saya kurang tahu tarian apa namanya. Penarinya laki-laki semua. Mereka memakai topeng 'buto', karakter jahat dalam pewayangan. Penampilan mereka sebenarnya biasa saja. Tapi bunyi gemericing di kakinya membuat gerakan tari mereka semakin rame. Mereka menari mengikuti alunan gamelan yang ditabuh dan menghasilkan suara harmonis. Saya suka sekali melihatnya. 

Tapi jalan-jalan kali ini ada yang membuat saya agak bingung dan jengkel. Yah, bukan apa-apa sih tapi ini juga demi kebaikan Borobudur sendiri yang sudah termasuk warisan dunia. Setidaknya hal ini bisa dibenahi agar Borobudur tetap cantik dan memesona. Malu dong kalau candi ini banyak yang rusak gara-gara ulah pengunjung yang kurang bertanggung jawab. Ini dia hal-hal yang bikin saya bingung dan jengkel :

1. Sarungisasi

Ada plang tentang cara sarungisasi. Saya nggak tahu itu maksudnya apa. Lah, apakah kalau ke sana harus pakai sarung? Atau di mana sarungnya? Peraturan itu untuk apa? Saya mengira peraturan tersebut dibuat khusus untuk jemaat Budha yang akan berdoa di sana. Ternyata saya salah besar!!

Cara Sarungisasi

Belakangan saya tahu info soal sarungisasi tersebut dari web jalan-jalannya Mak Lusi, blogger asal Yogyakarta. Dari web tersebut dikatakan bahwa sarungisasi bertujuan untuk mengendalikan jumlah pengunjung yang membludak. Karena termasuk warisan budaya dunia yang dibiayai UNESCO, Borobudur diharapkan nggak cepat rusak karena jumlah pengunjung yang sangat banyak. Jadi ceritanya itu pengunjung yang naik ke candi sebaiknya pakai jarik yang disediakan. Jika jumlah jarik habis, ya harus antre nunggu pengunjung yang memakai jarik turun. Peraturan ini bagus sih. Tapi kenyataannya pengunjung naik ya naik aja, nggak disuruh memakai jarik/sarung yang disediakan. Bahkan, pengumuman untuk memakai jarik juga tidak ada. So, yang naik ke candi tumplek blek sampai semua tangga penuuuuh. Mereka rela ngantre naik meski cuaca panas sekalipun.

2.  Merogoh dan Memanjat Stupa 

Ini nih budaya orang Indonesia yang nggak baik. Meski sudah diperingatkan berkali-kalai sama petugas, tetep aja mereka merogoh stupa. Memang, masih ada beberapa orang yang beranggapan bahwa kalau mereka merogoh stupa maka keinginannya dapat terkabul. Oalaaah, pliiiis, deh!! Hari gini masih percaya begituan?? Yang ada malah patungnya pada rusak karena ulah kalian. Padahal petugasnya sudah teriak-teriak pakai TOA, lho.

"Dilarang merogoh stupa. Nasib Anda tidak akan berubah hanya dengan memegang stupa di Candi. Tindakan Anda hanya akan membuat patung rusak."

Masih kurang jelas?? Teriakan petugas tersebut diiyakan oleh pengunjung tapi masiiiih saja ada yang berbuat yang jelas-jelas nggak boleh. Aku kudu piye jal?

Relief yang Cantik

Dan, mirisnya lagi nih ada lho yang foto dengan memanjat dinding candi. Padahal kan dinding candi juga akan rusak kalau dipanjat seperti itu. Duh, kenapa pengunjung yang datang ke candi ini kurang berperilaku yang baik, ya.

3. Sampah

Ini juga kebiasaan yang buruk banget. Banyak juga sampah di sekitar candi yang tidak bertuan. Pengunjung seenaknya makan dan minum terus sampahnya ditinggal begitu saja. Apa susahnya sih membawa pulang sampah sendiri. Nggak usah dibawa pulang deh, di bawah juga banyak tempat sampah kok. 

Kalau mau ke Candi Borobudur sebaiknya sih :

1. Jangan Datang Siang

Iya, panas bok! Lebih baik datang pagi sekalian melihat sunrise. Cara ini ditempuh dengan ikut tour atau menginap di penginapan sekitar candi. Kalau datang pas liburan, ingat semakin siang semakin rame dan macet. Kalau mau datang sore pun percuma karena nggak mungkin mengingat banyaknya pengunjung. 

2. Bawa Topi dan Payung

Karena panas sebaiknya membawa pelindung biar nggak terpapar sinar matahari berlebihan. Nggak mau juga dong kalau piknik malah jadi nggak nyaman dan mukanya nanti rusak, hihihihi. 

3. Memakai Pakaian yang Nyaman

Ya karena panas tadi jadi usahakan pakai baju yang nyaman dan menyerap keringat. Nggak usah pakai high heels juga. Emang ada yang pakai high heels? Ada, kakaaak. Hihihihi. Pakailah baju yang cepat menyerap keringat dan alas kaki yang nyaman. Oia, bawa tas juga jangan terlalu berat karena capek bawa beban berat kalau mau naik sampai puncak. 

4. Tidak Membawa Senjata Tajam

Jangan membawa senjata tajam atau benda yang aneh-aneh. Karena kalau mau masuk candi, akan dilakukan pemeriksaan yang ketat. Barang bawaan akan diperiksa dengan metal detector.

5. Membawa Minum

Jangan lupa bawa minum karena hal ini sangat membantu saat haus ketika naik tangga yang curamnya minta ampun. Kalau teman-teman capek bisa istirahat sebentar dan minum, jangan dipaksakan kalau capek dan haus karena takut dehidrasi. 

6. Taati Peraturan

Iya, ini jelas banget. Taatilah peraturan yang ada di situ. Kalau nggak boleh memegang stupa ya jangan dilakukan. Kalau mau foto, carilah spot yang bagus tapi nggak merusak candi. Dan, jangan membuang sampah sembarangan, ya!  

Yuk ah, kita jaga warisan leluhur kita. Jangan sampai rusak dan bikin malu Indonesia. Karena kalau bukan kita yang menjaga, mau siapa lagi?

Habis jalan-jalan ke Candi borobudur bisa lanjut ke Yogyakarta lho nyobain Merapi jeep tour yang seru abis!!























Continue Reading…

Thursday, August 06, 2015

Panduan Komplit Wisata ke Jepang

Jepang masih menjadi daya tarik bagi orang Indonesia untuk berwisata. Memang, negeri ini unik karena punya sisi modern dan kuno yang bikin takjub. Mereka masih merawat dengan baik peninggalan-peninggalan zaman dulu. Apalagi yang modern, bakal bikin kita bengong di sana. Takjub dan takjub isinya. Nah, kalau teman-teman mau wisata ke sana, biasanya mencari panduan yang komplit kan? Kalau bisa panduan tersebut sekali klik, bisa mendapat berbagai info soal wisata ke Jepang. Betul? 

Tokyo Sky Tree

Kebetulan sewaktu tinggal di Jepang, saya kenal dengan teman yang punya web Halal in Japan Iya, teman saya muslim. Meski dia muslim dan webnya ada 'halal'-nya tapi informasi di web tersebut beragam, kok. Cocok banget buat yang suka travelling. Karena apa? Isinya komplit. Nggak melulu soal halal tapi banyak juga info travellingnya. Kalau info soal halal pastinya juga komplit. Apalagi info tersebut sangat dibutuhkan bagi muslim yang kadang susah mencari tempat untuk sholat atau cari makanan halal. Iya kan?

#Tentang Halal in Japan (HIJ)

Teman saya bukan orang Jepang tapi dia sudah tinggal di sana selama 27 tahun. Sewaktu dia tahu pemerintah Jepang membuat kemudahan dalam pengurusan visa untuk Indonesia dan Malaysia maka jumlah turis muslim pun meningkat. Sayangnya, mereka banyak yang kesulitan menemukan hal-hal yang halal atau yang diperbolehkan oleh muslim selama berada di Jepang. Setelah dia searching, beberapa web yang berisi informasi soal halal di Jepang kurang komplit dan susah digunakan. Makanya dia membuat web yang komplit dan mudah diakses. Niatnya hanya ingin membantu turis yang berwisata ke Jepang, terutama turis muslim. Web ini murni dibuat secara pribadi tanpa kepentingan dari pemerintah atau pihak mana pun. 

Web tersebut dibuat tahun 2014. Meski baru setahun tapi jumlah orang yang ngelike di fanpagenya banyak banget. Sampai tulisan ini dibuat sudah mencapai 40ribu lebih. Nggak gampang lho untuk mendapatkan like sebanyak itu dalam setahun. Dengan banyaknya yang suka berarti memang web tersebut sangat bermanfaat. 

#Apa Saja Isinya?

Kalau teman-teman membuka web HIJ, di bagian atas web tersebut terdapat beberapa page yang sudah dikelompokkan berdasarkan kebutuhan. Menariknya, page di bagian atas sudah dikelompokkan berdasarkan kota yang sering menjadi tujuan wisatawan, yakni ada Yokohama, Tokyo, Osaka, dan Kyoto. Ada juga informasi soal Jepang di 'Basic Info'. Pastinya juga ada page khusus 'Halal'. Informasi yang ada di sini buanyaaaak banget!! Mulai dari soal Jepang, tempat-tempat wisata yang ciamik, tempat wifi, tourist information, resto halal, toko halal, makanan halal untuk oleh-oleh, dan masih banyaaaak lagi!

Kota-kota Wisata Dibuat Page Khusus

Kalau teman-teman baru pertama kali ke Jepang, baca dulu page 'Basic Info.' Di sana banyak banget informasi soal Jepang, mulai dari iklimnya, apa yang harus dilakukan atau yang nggak di sana, bahkan soal toilet yang canggih di sana juga diceritain. Hah? Nggak percaya? Buka sendiri, deh. Yah, secara dia sudah lama di Jepang jadi ya hapal di luar kepala, dong.

Bagi teman-teman muslim malah lebih enak lagi, nggak usah bingung. Ada page khusus 'Halal.' Yup, page ini dibuat khusus untuk memudahkan teman-teman mencari tempat halal berdasarkan wilayah yang terhubung langsung dengan web toko tersebut. Enak kan? 

Informasi yang ditulis ringkas dan sangat berguna bagi wisatawan. Apalagi tulisan tersebut juga terhubung langsung dengan web yang dibutuhkan. Misalkan, kalau ngeklik 'Kyoto' beberapa tempat wisata di Kyoto muncul berikut informasi dan web lokasi tersebut. Jadi, infonya dijamin up to date. Tahu sendiri kan, Jepang sangat detail dalam hal apa pun apalagi soal web wisatanya. 

Fotonya Bikin Mupeng 

Asyiknya lagi, di tempat wisata tersebut juga diberi link tempat halal yang ada di situ. Kalau teman-teman ngeklik Kyoto jadi tahu tempat wisatanya di mana saja plus tempat-tempat halalnya. Enak banget, ya. Terus nih di informasi tersebut ada foto-foto yang bagus dan asli bikin mupeng ke sana, hihihihi. Memang, saya akui dia orangnya detail dan rapi termasuk dalam memberikan info di webnya. Hhhhmm, kayaknya sudah Jepang banget deh orangnya, apa-apa harus detail. 

#Ngiklan dan Komentar

Sampai saat ini saya masih berkomunikasi sama dia melalui email. Katanya banyak banget toko, restoran, brand, dll yang mau ngiklan di webnya. Tapi sampai saat ini masih belum diterima. Dia ada rencana akan menerima iklan. Tapi nggak semua brand akan diterima. Dia akan selektif memilih iklan yang produknya benar-benar dapat membantu turis.

Perusahaan atau travel agency Indonesia mau ngiklan di sana? Coba aja nulis di kolom kontak/komentar yang disediakan. Siapa tahu dia mau diajak kerja sama lho. Kalau sudah deal, jangan lupa ajak saya ke Jepang ya, hihihihi. 

Teman-teman bisa bertanya atau memberikan masukan untuk web tersebut lho. Silakan kirim ke box yang sudah disediakan. Dia orangnya welcome, kok. Yah, kalau agak lama dibalas berarti dia lagi sibuk. Sabar, kakaaaak.^-^.

#Kekurangan 

Web tersebut memang sangat informatif. Jujur, selama tinggal di Yokohama saya dan suami sering mencari info tempat wisata, info soal masjid ya di web ini. Apalagi info soal oleh-oleh yang halal. Meski nggak semua dari web ini sih, tapi web HIJ ini sangat membantu.

Meski sangat informatif tapi menurut saya masih ada yang kurang. Kalau misalnya web tersebut ada page 'event' apa yang sedang ada di Jepang, tambah enak lagi ya. Jadi kalau mau buat itinerary tinggal nyontek event apa saja yang sedang berlangsung. Hihihihi, maunya enaknya aja, ya. Hhhhmm, ya iyalah. 

So, bagi teman-teman yang mau ke Jepang, silakan kunjungi web HIJ. Dapatkan info yang komplit dan pastinya sangat membantu acara jalan-jalan kalian.^.^.


*Semua foto diambil dari web HIJ.









Continue Reading…

Belajar dari Jepang

Banyak banget artikel dan tulisan yang menceritakan tentang besarnya peran ibu-ibu Jepang. Saya termasuk yang suka membaca dan mengikuti kegiatan mereka meski lewat tulisan. Saya selalu kagum dengan mereka. Bukan hanya ibu asli Jepang saja tapi juga ibu Indonesia yang tinggal di sana. Membaca cerita-cerita mereka seakan menjadi seorang ibu di sana sangat kompleks kebutuhannya, harus bisa ini-itu dan bikin ini-itu sendiri. Jujur, kadang saya malu dengan diri sendiri. Saya masih jauuuuh dari mereka. Makanya ketika teman saya mudik dari Jepang, saya korek lagi informasinya dan belajar lagi dari Jepang.

Seperti yang telah saya ceritakan sebelumnya, teman saya orang Indonesia tapi tinggal di Jepang karena suaminya orang Jepang. Kami kenal sewaktu saya tinggal di Yokohama. Kebetulan kami ikut kegiatan yang sama antara Jepang-Indonesia. Saya mengikuti kabar dari teman-teman yang tinggal di Jepang lewat status mereka di facebook. Semacam obat rindu dan saya senang kalau mengetahui kabar mereka sehat. Sebaliknya, ikutan sedih kalau tahu ada kabar yang kurang baik. Sudah seperti saudara karena memang saudara setanah air, kan? hihihihi.

Nah, dari beberapa statusnya ada yang membuat saya penasaran. Dia pernah membuat status yang ditujukan untuk survey bagaimana jam kerja di Indonesia selama bulan puasa. Pernah juga dia membuat status menjawab angket khusus bagi orang Indonesia yang bekerja di Jepang. Angketnya berhadiah voucher ngopi di Starbuck. Enak ya? Saya penasaran saja, sih, sama kerjaan dia di sana. Setahu saya dia hanya ibu rumah tangga dari dua anak yang masih TK. Terus survey dan angket itu untuk siapa? Apakah dia membantu suaminya survey untuk kantor? Akhirnya pertanyaan saya terjawab saat kami ketemuan.

Teman saya memang seorang IRT, di Jepang jarang banget orang memakai jasa ART. Karena apa? Tenaga manusia di sana mahal, ciiin. Hitungannya per jam. Untuk mengisi waktunya, dia menjadi freelancer sebuah kantor. Yang dia kerjakan kadang survey atau menerjemahkan tulisan Jepang-Indonesia. Semula tidak ada masalah dengan kerjaan tersebut. Maksudnya, meski dia menjadi freelancer, urusan rumah juga aman terkendali. Tetapi saat anak-anaknya sudah sekolah semua dan TK di sana makin lama pulangnya makin sore, dia agak kelabakan. Kadang urusan rumah keteteran sehingga suaminya agak protes.

Kata suaminya, "Tugas utamamu kan jadi ibu bukan mengurusi kerjaanmu itu. Kasihan anak-anak kalau kurang terurus. Kamu boleh kerja tapi porsinya mulai dikurangi, ya."

Saya yang kala itu mendengar hanya manggut-manggut. Yah, kata teman saya, kembali ke komitmen awal. Komitmen bagi orang Jepang sangat berarti, jangan asal berkomitmen. Iya, sih, saya memang menyadari hal ini. Jangan buat janji asal janji dengan mereka, pasti mereka akan nagih. Kalau ketemuan dengan mereka jangan sampai telat dan usahakan datang duluan, biar mereka yang nggak enak sama kita, hihihihi.  

Saya lalu menimpali, "Kenapa nggak dititipin ke neneknya, Mba? Kan cuman sebentar."

Teman saya menjawab, "Neneknya sudah tua, 77 tahun. Lagian kalau mengurusi anak yang sedang aktif-aktifnya, kasihan, capek neneknya. Sebaiknya mereka tetap dalam pengawasan ibunya. Ini mereka masih TK, nanti kalau udah SD, bakalan lebih sibuk lagi karena orangtua berperan juga dalam kegiatan sekolah anak-anak."

Saya manggut-manggut lagi. 

Memang benar yang selama ini diberitakan beberapa media bahwa peran ibu di Jepang sangat penting. Meski mulanya mereka berkarir, tak sedikit yang melepaskan karirnya demi keluarga. Itu salah satu faktor yang menyebabkan mengapa orang Jepang juga malas menikah. Mereka ingin berkarir. Meski saat ini sudah ada kebijakan dari pemerintah untuk menggiatkan IRT kembali bekerja, kebijakan ini masih banyak pro dan kontra. Sedihnya lagi, meski mereka sudah menikah, banyak yang memilih untuk tidak punya anak. Mungkin biaya hidup di sana yang tinggi  membuat mereka membuat keputusan ini. Jadi, bisa dikatakan tugas pemerintah di sana banyak karena sebagian besar usia penduduk Jepang sudah tidak produktif lagi, banyak yang manula. Bisa saja nanti di Jepang banyak warga pendatang daripada orang Jepang yang asli. Saya pernah membaca ada pulau yang jumlah penduduknya lebih sedikit dibanding jumlah kucing dan jumlah boneka di pulau tersebut. Dan, yang tinggal di pulau tersebut rata-rata sudah tua. Kasihan, ya. 

Sedangkan kondisi di Indonesia, sebaliknya. Negeri ini dianggap berpotensi besar untuk maju dari sisi ekonomi karena alam dan banyaknya penduduk usia produktif yang kreatif. Memang masih banyak yang perlu dibenahi di Indonesia agar bisa maju dan berkembang. Semua tergantung dari warga negaranya, sih. Saat ini sudah banyak orang Indonesia yang berbuat baik, nggak melulu jelek. Semoga perbuatan baik yang tumbuh satu bisa menyebar satu, menyebar, dan menyebar lagi hingga banyak orang yang berbuat baik untuk negeri ini. Sayang banget kalau negeri yang terkenal cantik tapi orang-orangnya perilakunya nggak secantik alamnya. Boleh belajar dari Jepang, tapi yang baik-baiknya saja, ya. Ayo Indonesia, kita bisa!!


PS : postingan ini kok malah ngelantur ke mana-mana, ya. Pening pala ^-^
















Continue Reading…

Wednesday, August 05, 2015

Pengalaman Tarik Tunai dengan ATM BNI di Jepang

Tinggal di luar negeri bagi beberapa orang memang agak susah untuk menyesuaikan diri. Semua sistem dan beberapa hal yang sudah biasa di negeri sendiri sangat berbeda saat kita berada di luar negeri. Butuh banyak informasi dari teman yang sudah pernah tinggal di sana jika kita ingin merasa nyaman. Kami mencatat detail apa saja yang kami butuhkan tak terkecuali soal keuangan. Pun begitu dengan saya dan suami yang saat itu tinggal di Jepang meski hanya beberapa bulan. Beberapa pengalaman yang kami alami saat tarik tunai menggunakan ATM Indonesia di Jepang mungkin bisa diambil pelajarannya. 

Kami pertama kali tinggal di Jepang tahun 2014. Waktu itu pengalaman kami masih NOL soal Jepang apalagi tentang keuangannya. Khusus untuk keuangan, yang kami persiapkan dari Indonesia hanya uang tunai Yen untuk keperluan transportasi setelah turun dari bandara dan biaya hidup sebulan. Selanjutnya masalah keuangan kami serahkan ke ATM. 

Sebenarnya sangat mudah untuk tarik tunai di Jepang. Kebetulan suami saya nasabah BNI Syariah. Yang saya rasakan ketika membandingkan layanan BNI Syariah dan bank-bank syariah yang lain yaitu soal kemudahannya. Jadi, kalau bank-bank lain yang ada syariahnya harus melakukan transaksi di bank syariah tersebut. Nasabah tidak bisa melakukan transaksi di bank yang konvensional karena manajemen mereka terpisah. Hal ini tidak berlaku bagi BNI Syariah. Kalau kita melakukan transaksi di bank BNI yang konvensional pun masih bisa meski kita pelanggan BNI Syariah, jadi tidak harus ke BNI Syariah. 

Apalagi saat tinggal di Jepang, hidup serasa nyaman dan mudah karena ada ATM BNI. Walaupun menjadi nasabah BNI Syariah tetapi suami tetap bisa bertransaksi dengan mudah dan cepat di Jepang. Bayangkan, kalau urusan keuangan ribet pasti akan mengganggu kenyamanan hidup di sana apalagi urusan jalan-jalan. Semua hal pasti akan terganggu karena masalah uang sangat krusial. Tentunya kami tidak mau hal ini terjadi. 

Untuk memenuhi biaya hidup dan jalan-jalan selama di sana, kami hanya mengandalkan kartu ATM BNI yang sangat menguntungkan. Meski demikian, ada pula kejadian yang tidak mengenakkan terjadi. Apa itu?


#Tarik Tunai di ATM Seven Eleven Jepang

Kejadian ini dialami oleh suami sewaktu dinas untuk kedua kalinya di Jepang. Sekitar bulan November, suami berangkat ke Jepang sedang saya menyusul beberapa bulan kemudian. Pada bulan Januari, suami harus mengambil uang tunai untuk keperluan mendadak. Beliau mengambil uang di ATM Seven Eleven. Ketika transaksi sudah selesai, ternyata uangnya tidak keluar. Uangnya tidak besar, sih, cuma 10.000 Yen atau sekitar sejuta. Artinya, transaksi gagal tapi mutasi di rekening menyebutkan kalau uang suami saya berkurang sejumlah tersebut berikut biaya administrasinya. Padahal biaya tarik tunai di ATM Jepang lumayan, ya. Hiks.

Bukti Transaksi yang Gagal

Setelah kembali ke apartemen, suami langsung cek internet banking ternyata langsung kena debet. Karena masih bingung harus bagaimana, suami mengabaikan kejadian ini, karena kalau telepon CS tentu besar sekali biaya roamingnya. Beruntung, teman menawarkan pakai skype untuk menelepon CS. Akhirnya pada akhir Januari suami menelepon customer service BNI dan menanyakan masalah tadi. Meski telepon malam hari, pelayanan dari BNI sangat memuaskan. Pihak bank menanyakan beberapa identitas suami dan mereka melayani dengan baik sekali. Suaranya terdengar sabar dan renyah di telepon. Kami diberi nomor pengaduan dan setelahnya kami diminta menunggu kurang lebih 45 hari kerja untuk pengembalian uang yang gagal tadi.

Bukti Transaksi yang Gagal

Setelah waktu yang dijanjikan ternyata uang tersebut belum cair juga. Akhirnya suami telepon lagi menanyakan hal ini. Masih dengan suara yang sabar, pihak bank tetap melayani dengan ramah. Mereka sangat profesional meski kami berada di luar negeri. Pada bulan April akhirnya kami mendapat pemberitahuan kalau uang yang dijanjikan sudah cair. UTUH. Yang dimaksud 'utuh' di sini yaitu uang kami kembali beserta biaya administrasi penarikan tunai sebesar Rp.25.000,-. Jadi kami tidak dirugikan sama sekali. Salut!!

Bukti Uang Kembali Utuh


#Tarik Tunai di ATM Kantor Pos Jepang

Suami akhirnya cerita masalah di atas ke temannya yang sudah lama tinggal di Jepang. Saran temannya, lebih baik mengambil uang di ATM yang ada di kantor pos. Kenapa kantor pos? Karena di tempat ini sangat jarang terjadi masalah. Lagi pula kantor pos banyak dijumpai di sana. Enaknya lagi, ATM BNI bisa digunakan di kantor pos Jepang karena ada logo Cirrus-nya. 

ATM Japan Post- Sumber dari Sini 

Tidak usah bingung menggunakan ATM di kantor pos Jepang. Sangat mudah karena kita bisa memilih instruksi menggunakan Bahasa Inggris. Lakukan instruksinya maka dalam sekejap uang yang dibutuhkan akan keluar. Untuk informasi selengkapnya dan jam penarikan di ATM kantor pos Jepang, bisa dibuka di sini. 

Ada beberapa hal yang diperhatikan ketika mengambil uang di ATM kantor pos Jepang. Selain soal jam pelayanan, sebelum mengambil uang sebaiknya dilihat dulu bagaimana nilai tukar uangnya. Kalau nilai tukarnya bagus, bisa mengambil saat itu juga. Boleh saja melakukan tarik tunai dengan 'aji mumpung' karena nilai tukar yang bagus. Tapi ingat, penarikan maksimal sesuai dengan limit ATM di Indonesia. Jadi kalau limit ATM sebesar 10 juta, berarti kita harus mengambil uang maksimal 10 juta lalu tinggal dikonversikan ke Yen. Misal 1 yen = Rp.120,-, berarti maksimal penarikan yaitu 10 juta/120 = sekitar 83.000 Yen. 

Kalau Mau Tarik Tunai, Lihat yang 'Sell'

Jangan lupa, setiap transaksi akan dikenakan biaya administrasi. Untuk BNI, biaya administrasinya sebesar Rp.25.000,- sekali transaksi.

Berikut saya berikan tips tarik tunai di luar negeri :

1. Cari ATM yang melayani international cash withdraw.

2. Sebaiknya punya skype berbayar agar bisa telepon ke CS bank di Indonesia jika ada masalah dengan ATM.

3. Pastikan mempunyai internet banking untuk transaksi non tunai dan pengecekan jika sudah mengambil uang di ATM.

4. Cek valas untuk mendapat kurs yang terbaik dan bisa ambil uang dalam jumlah besar sekaligus karena ada biaya tarik yang lumayan besar.

5. Perhatikan limit kartu.

6. Perhatikan jam operasional ATM.

Berkat kemudahan ini, alhamdulillah semua aktivitas kami berjalan lancar. Semua sesuai dengan rencana yang kami susun. Enaknya lagi, urusan jalan-jalan juga lancar karena kita bisa tarik tunai di kantor pos mana pun. Dengan ATM BNI, urusan hidup dan jalan-jalan di Jepang sangat mudah. Terimakasih, BNI ^-^
















Continue Reading…

Ketika KRL Mogok

Pernah mengalami KRL mogok? Saya baru saja mengalaminya kemarin. Saya bukan roker (rombongan kereta) yang tiap hari naik KRL tapi saya sering menggunakan KRL kalau ke mana-mana. Saya suka banget naik KRL karena memang banyak banget keuntungan dari transportasi massal ini. Naik KRL itu biayanya murah banget, nggak kena macet, dan nyaman (kecuali rush hour, ya, hihihihi). 

Setiap Selasa saya memang ada acara di daerah Pondok Jati. Siang itu saya janjian di Stasiun Tebet dengan teman, sebut saja A. Si A orang Indonesia tapi tinggal di Jepang karena suaminya orang Jepang. Karena kami bergabung di komunitas yang sama maka dia pengin sekali ikut acara tersebut di Jakarta, mumpung sedang mudik. Mulailah kami naik KRL dan transit beberapa kali biar cepat.

Saat itu KRL yang kami tumpangi tujuan Bekasi. Kami naik dari Manggarai untuk transit di Jatinegara. Beberapa menit kereta jalan langsung terdengar suara mesin mati meski kereta masih jalan pelan sekali. Tak lama kemudian lampu dan AC mati. Kelihatannya hanya lampu emergency saja yang menyala. 

Mengetahui kejadian tersebut, beberapa penumpang langsung mendesah dan mengeluh, 
"Yaaaaahhh mesin mati. Gimana nih?"

Mendengar keluhan mereka, saya dan A panik. Dia langsung bilang seperti ini, 
"Sering mogok kayak gini ya?"

Saya pun bilang nggak tahu karena baru pertama kali mengalami KRL mogok. Saya tahu banget wajah A panik karena dia juga baru mengalami kejadian seperti ini. Untuk mengurangi rasa panik, kami berdua ngobrol ngalor-ngidul sampai kepanasan. Yup, siang itu memang cuaca panas banget. Bayangkan saja, di KRL hanya ada lampu emergency, tanpa AC. Saking panasnya, ada orang yang membuka jendela lho. 

Saat itu, otak saya bekerja *tumben mikir, hihihihi. Kalau kereta masih lama mogoknya, apa yang ada di kepala saya? Tentunya yang saya pikirkan keselamatan. Iya, apalagi? Sambil ngobrol, sambil melihat muka panik A, pikiran saya isinya macem-macem.

Gimana, ya kalau mogoknya lama?
Gimana, ya kalau sampai pengap banget di dalam?
Gimana, ya kalau ada kereta lain yang lewat?
Aku kudu piye?

Saat itu juga saya kepikiran kalau hal tersebut terjadi maka saya menyuruh mas-mas untuk buka jendela dan kalau masih lama akan buka paksa pintu kereta rame-rame terus terjun, secara tinggi banget ya jarak gerbong ke tanah. Lebay dan norak, ya? Lha gimana lagi? Jujur, saya dan A panik banget. Sempat kepikiran acara ketemuan yang pertama kali di Indonesia bakal jadi cerita horor di siang yang panas. Huh,,

Untungnya kejadian tersebut hanya berlangsung lima menit. Ketika lampu dan AC mulai menyala, keriaan para penumpang terpancar dari wajah dan suara mereka *halah. Legaaaa, kereta sudah jalan lagi meski akhirnya kami telat. 

Kalau para roker yang tiap hari naik KRL bagaimana ya rasanya mengalami kejadian KRL mogok? Panik banget nggak, sih?
















Continue Reading…
Powered by Blogger.

Recent Posts

    Follow Me

    Page Views

    Copyright © Pipit Widya | Powered by Blogger
    Design by Saeed Salam | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com