Thursday, August 06, 2015

Belajar dari Jepang

Banyak banget artikel dan tulisan yang menceritakan tentang besarnya peran ibu-ibu Jepang. Saya termasuk yang suka membaca dan mengikuti kegiatan mereka meski lewat tulisan. Saya selalu kagum dengan mereka. Bukan hanya ibu asli Jepang saja tapi juga ibu Indonesia yang tinggal di sana. Membaca cerita-cerita mereka seakan menjadi seorang ibu di sana sangat kompleks kebutuhannya, harus bisa ini-itu dan bikin ini-itu sendiri. Jujur, kadang saya malu dengan diri sendiri. Saya masih jauuuuh dari mereka. Makanya ketika teman saya mudik dari Jepang, saya korek lagi informasinya dan belajar lagi dari Jepang.

Seperti yang telah saya ceritakan sebelumnya, teman saya orang Indonesia tapi tinggal di Jepang karena suaminya orang Jepang. Kami kenal sewaktu saya tinggal di Yokohama. Kebetulan kami ikut kegiatan yang sama antara Jepang-Indonesia. Saya mengikuti kabar dari teman-teman yang tinggal di Jepang lewat status mereka di facebook. Semacam obat rindu dan saya senang kalau mengetahui kabar mereka sehat. Sebaliknya, ikutan sedih kalau tahu ada kabar yang kurang baik. Sudah seperti saudara karena memang saudara setanah air, kan? hihihihi.

Nah, dari beberapa statusnya ada yang membuat saya penasaran. Dia pernah membuat status yang ditujukan untuk survey bagaimana jam kerja di Indonesia selama bulan puasa. Pernah juga dia membuat status menjawab angket khusus bagi orang Indonesia yang bekerja di Jepang. Angketnya berhadiah voucher ngopi di Starbuck. Enak ya? Saya penasaran saja, sih, sama kerjaan dia di sana. Setahu saya dia hanya ibu rumah tangga dari dua anak yang masih TK. Terus survey dan angket itu untuk siapa? Apakah dia membantu suaminya survey untuk kantor? Akhirnya pertanyaan saya terjawab saat kami ketemuan.

Teman saya memang seorang IRT, di Jepang jarang banget orang memakai jasa ART. Karena apa? Tenaga manusia di sana mahal, ciiin. Hitungannya per jam. Untuk mengisi waktunya, dia menjadi freelancer sebuah kantor. Yang dia kerjakan kadang survey atau menerjemahkan tulisan Jepang-Indonesia. Semula tidak ada masalah dengan kerjaan tersebut. Maksudnya, meski dia menjadi freelancer, urusan rumah juga aman terkendali. Tetapi saat anak-anaknya sudah sekolah semua dan TK di sana makin lama pulangnya makin sore, dia agak kelabakan. Kadang urusan rumah keteteran sehingga suaminya agak protes.

Kata suaminya, "Tugas utamamu kan jadi ibu bukan mengurusi kerjaanmu itu. Kasihan anak-anak kalau kurang terurus. Kamu boleh kerja tapi porsinya mulai dikurangi, ya."

Saya yang kala itu mendengar hanya manggut-manggut. Yah, kata teman saya, kembali ke komitmen awal. Komitmen bagi orang Jepang sangat berarti, jangan asal berkomitmen. Iya, sih, saya memang menyadari hal ini. Jangan buat janji asal janji dengan mereka, pasti mereka akan nagih. Kalau ketemuan dengan mereka jangan sampai telat dan usahakan datang duluan, biar mereka yang nggak enak sama kita, hihihihi.  

Saya lalu menimpali, "Kenapa nggak dititipin ke neneknya, Mba? Kan cuman sebentar."

Teman saya menjawab, "Neneknya sudah tua, 77 tahun. Lagian kalau mengurusi anak yang sedang aktif-aktifnya, kasihan, capek neneknya. Sebaiknya mereka tetap dalam pengawasan ibunya. Ini mereka masih TK, nanti kalau udah SD, bakalan lebih sibuk lagi karena orangtua berperan juga dalam kegiatan sekolah anak-anak."

Saya manggut-manggut lagi. 

Memang benar yang selama ini diberitakan beberapa media bahwa peran ibu di Jepang sangat penting. Meski mulanya mereka berkarir, tak sedikit yang melepaskan karirnya demi keluarga. Itu salah satu faktor yang menyebabkan mengapa orang Jepang juga malas menikah. Mereka ingin berkarir. Meski saat ini sudah ada kebijakan dari pemerintah untuk menggiatkan IRT kembali bekerja, kebijakan ini masih banyak pro dan kontra. Sedihnya lagi, meski mereka sudah menikah, banyak yang memilih untuk tidak punya anak. Mungkin biaya hidup di sana yang tinggi  membuat mereka membuat keputusan ini. Jadi, bisa dikatakan tugas pemerintah di sana banyak karena sebagian besar usia penduduk Jepang sudah tidak produktif lagi, banyak yang manula. Bisa saja nanti di Jepang banyak warga pendatang daripada orang Jepang yang asli. Saya pernah membaca ada pulau yang jumlah penduduknya lebih sedikit dibanding jumlah kucing dan jumlah boneka di pulau tersebut. Dan, yang tinggal di pulau tersebut rata-rata sudah tua. Kasihan, ya. 

Sedangkan kondisi di Indonesia, sebaliknya. Negeri ini dianggap berpotensi besar untuk maju dari sisi ekonomi karena alam dan banyaknya penduduk usia produktif yang kreatif. Memang masih banyak yang perlu dibenahi di Indonesia agar bisa maju dan berkembang. Semua tergantung dari warga negaranya, sih. Saat ini sudah banyak orang Indonesia yang berbuat baik, nggak melulu jelek. Semoga perbuatan baik yang tumbuh satu bisa menyebar satu, menyebar, dan menyebar lagi hingga banyak orang yang berbuat baik untuk negeri ini. Sayang banget kalau negeri yang terkenal cantik tapi orang-orangnya perilakunya nggak secantik alamnya. Boleh belajar dari Jepang, tapi yang baik-baiknya saja, ya. Ayo Indonesia, kita bisa!!


PS : postingan ini kok malah ngelantur ke mana-mana, ya. Pening pala ^-^
















10 comments:

  1. benar menurut info kakakku yang pernah domisili sementara di Japan, kebutuhan tuh mahal banget, makanya sebisa mungkin bisa mandiri..
    aahh ini memotivasi banget,
    karena aku mau menuju tahap ini, melepas karir

    ReplyDelete
  2. enaknya sih emang di rumah aja ya mba ngurus anak dan suami, materi dijamin cuma kadang jd bosen juga akhirnya saya ngeblog deh :D

    ReplyDelete
  3. Ibu-ibu Jepang bikin ngiri, apa-apa dikerjain sendiri. Pinter ngurus rumah, pinter masak, pinter berkebun, nganter jemput anak sendiri, nemenin anaknya maen di taman, udah gitu selalu tampil cantik, ke sekolah anak, ke pasar, ke taman, naek mobil, naek sepeda pasti tetep gaya

    ReplyDelete
  4. Gimana kalo dengan negara islam dahulu? Lebih bagus mana jepang sama negara islam?

    Ada saran?

    ReplyDelete
  5. Waktu itu ada kolega dari Jepang yang cerita kalo gak kaya-kaya banget gak usah lah punya banyak anak di Jepang. Nyekolahinnya mahal banget dan repot ngurusnya. Belionya sih orang Jepang gede di Inggris dan punya anak 3. Jadi semacam curcol begitu. Hahaha.

    ReplyDelete
  6. Komitmen orang Jepang memang hebat sekali termasuk ketika punya anak, ya harus benar2 dirawat. Kadang sedih juga lihat para ibu yg malah bangga bisa kesana-kemari. Lha anakke karo sopo? Orang Jepang kalau nggak bisa komit ke keluarga, ya nggak punya anak.

    ReplyDelete
  7. Pipit, saya melihat potensi orang Jepang memang optimal.
    Mau muda atau tua, semua sangat-sangat produktif.
    Bayangin, cuman berkunjung seminggu aja saya udah bisa ngambil kesimpulan seperti ini, hehe, smoga bener ya...
    Disana, saya sering melihat orang yang sudah tua, masih bekerja sebagai tenaga kebersihan gedung atau kantor. Badannya udah bungkuk, tapi hasil kerjanya jauh deh sama pekerja-pekerja muda dan bugar yang ada di negara kita...sedih, miris dan rada iri dengan etos kerja mereka.
    Tapi memang, karakter itu harus dibentuk dari lahir dan terus diasah hingga dewasa. Setelah baca tulisan ini, saya jadi makin paham dengan mereka. makasih udah berbagi ilmu ya, Pit...waktu itu saya kesana pakai JALAN TOUR... *agak-agak promosi jadinya

    ReplyDelete
    Replies
    1. bener banget gan , memang orang jepang pekerja keras semua!

      Delete
  8. Amazing kalau lihat ibu-ibu Jepang ngurus anak... Sepedaan anak bonceng depan belakang, tapi dandannya cakep banget =)) Aku herannya di Jepang banyak banget orang udah 80-90an tahun tapi jalannya masih tegak masih minum bir di mise mise wkwkwk

    ReplyDelete

Powered by Blogger.

Recent Posts

    Follow Me

    Page Views

    Copyright © Pipit Widya | Powered by Blogger
    Design by Saeed Salam | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com