Wednesday, September 16, 2015

Serba-serbi Semarang

Sebagai cah Semarang yang lahir dan besar di kota ini membuat saya ingin menulis tentang serba-serbi Semarang. Ibu kota Jawa Tengah yang juga sebagai kota terbesar kelima ini memang unik yang terbagi menjadi Semarang bawah dan atas. Daerah tersebut ada yang perkembangannya jalan di tempat namun ada juga yang pesat. Sewaktu mudik kemarin saya sempat kaget dengan perkembangan beberapa daerah di Semarang terutama di daerah atas. Yah, Semarang memang unik dengan segala serba-serbinya.

#Simpang Lima

Bagi saya, Semarang itu unik karena pusat keramaiannya hanya di situ saja. Kawasan yang paling rame dari dulu sampai sekarang yaitu Simpang Lima. Kawasan tersebut rame karena semua yang dibutuhkan masyarakat seakan ada di situ semua. Di Simpang Lima ada kantor Gubernuran, sekolah, kampus, bank, mall, hotel, masjid, lapangan, kuliner, dan rumah sakit. 

Dulu saya bersekolah di daerah Kampung Kali, dekat dengan kawasan tersebut. Kalau pulang gasik atau lebih awal biasanya langsung main ke mall karena adanya cuma itu. Kalau ngemall, biasanya jalan kaki sekitar 15 menit dan selalu rame-rame bareng teman. 

Kawasan Simpang Lima memang favorit dari dulu sampai sekarang karena adanya mall, lapangan, dan masjid. Jadi kalau masyarakat mau refreshing biasanya ngemall, beribadah di Masjid Baiturrahman lalu nongkrong atau makan malam sekalian di kawasan tersebut. Ya, Simpang Lima kalau malam hari ada banyak kuliner yang bisa dipilih dan bikin bingung. Sedangkan kalau Minggu pagi ada Car Free Day dan pedagang tumplek blek di sana. Habis olahraga di Tri Lomba Juang, coba deh mampir ke Simpang Lima, beli sarapan sekaligus menikmati ramenya Simpang Lima. 

Karakter orang Semarang yang ingin praktis, sekali jalan tapi bisa ke mana-mana ya ada di Simpang Lima ini. Meski saat ini sudah ada mall Paragon di Pemuda tapi kawasan ini tetap saja menjadi favorit masyarakat. 

#Semarang Bawah

Lirik lagu Jangkrik Genggong yang menyebut Semarang kaline banjir sangat lekat pada kota ini. Memang nggak sepenuhnya salah sih karena di beberapa kawasan tertentu memang sering banjir. Saya pernah tinggal di daerah Semarang bawah yang terkenal banjir. Hampir tiap tahun bahkan tiap bulan bisa saja daerah ini banjir yang nggak hanya disebabkan hujan tapi juga karena rob (air laut pasang). 

Banjir di kawasan ini sangat merugikan warga secara ekonomi karena selain bisa mengganggu aktivitas sehari-hari, mengorosi ban motor/sepeda, pastinya banyak rumah warga yang pendek karena kalah tinggi dengan jalan. Solusi banjir di masing-masing RT biasanya hanya meninggikan jalan agar areanya lebih tinggi sehingga air mengalir ke area yang rendah. Kalau jalan tinggi maka rumah warga kalah dengan jalan. Nah, air malah masuk ke rumah-rumah tersebut. Keadaan seperti ini membuat warga mau nggak mau ikut meninggikan rumah juga jadi rumah mereka makin lama makin pendek. 

Mirisnya lagi, sebagian besar warga di sana bekerja sebagai buruh pabrik dan berpenghasilan pas-pasan. Seringnya saya menjumpai rumah yang nggak diplester jadi batu bata dibiarkan begitu saja. Bagi mereka, mlester buang-buang duit toh rumahnya nanti bakal diurug dan banjir juga. 

Saya paham dengan kondisi mereka karena bapak dulu juga begitu. Rumah yang jaraknya tinggi banget dari jalan makin lama makin pendek sebab sering diurug. Kalau teman main ke rumah, katanya rumah saya keren karena sering gonta-ganti ubin dan cat. Hahahahaha padahal yang punya rumah mumet sama hutang buat ngurug rumah biar nggak banjir atau rembes. 

Sebenarnya potensi di kawasan ini sangat besar untuk dijadikan tempat wisata. Kawasan bawah dekat dengan pelabuhan jadi banyak pabrik di sana. Nggak heran banyak warga yang menggantungkan hidupnya menjadi buruh. Selain pabrik, di kawasan ini sebenarnya ada pusat pembuatan ikan asap yang terkenal di Semarang. Masyarakat Semarang menyebutnya iwak panggang. Saya yang saat ini tinggal di Depok merasakan ikan asap Semarang jauh lebih enak dari ikan asap di Jakarta. Ikan asap made in Semarang lebih kering dan baunya harum. 

Saya tahu tempat pengolahan ikan tersebut karena sewaktu kuliah dulu teman saya ada yang melakukan penelitian hubungan ISPA dan para pekerja pembuat ikan asap. Duh ya ampun ciiiin, ternyata mereka harus berjuang melawan asap demi ikan yang enak. Prosesnya masih sederhana. Setelah ikan dicuci lalu dipanggang menggunakan batok kelapa untuk memanggang ikan pari, lele, dan manyung. Kadang untuk membalik ikan-ikan tersebut mereka memakai tangan kosong dengan cepat tanpa menggunakan alat pelindung. Wuih, orang Indonesia memang sakti. 

Selain itu, kawasan bawah terkenal dengan bangunan lamanya seperti Stasiun Tawang, Gereja Blenduk, Kantor Pos, Pasar Johar, Pabrik Rokok Praoe Lajar, dll. Sebagian besar bangunan di kawasan tersebut memang peninggalan Belanda yang masih kokoh. Tapi sayangnya kurang dirawat dengan baik sehingga kurang menarik wisatawan dan banyak bangunan yang terbengkalai. 

Saya dulu bersekolah di SD Katolik yang ada di kawasan tersebut jadi tahu kondisi kawasan kota lama. Lah, SD saya saja sekarang sepertinya sudah nggak ada atau mungkin dijadikan satu dengan SD Katolik yang lain di tempat yang sama. Hal ini mungkin dikarenakan semakin sedikitnya orang yang bersekolah di sana sebab mereka nggak mau terkena banjir. 

Oia, di Semarang bawah ada perumahan yang dulu terkenal elit loh, namanya Tanah Mas. Banyak warga Tionghoa yang tinggal di sini karena lokasinya yang strategis. Mau ke bandara dekat. Mau ke pasar ada. Mau bisnis di pelabuhan apalagi. Mau ikan segar, hayuk. Mau ke Marina tinggal nyeberang.  Tapi banyak rumah yang ditinggalkan pemiliknya karena mereka nggak tahan banjir. Meski demikian masih ada yang bertahan dan betah tinggal. Teman ibu saya yang seorang dokter mengaku betah tinggal di Tanah Mas meski sering dilanda banjir karena kalau ke mana-mana dekat dan beliau sudah kenal baik dengan pedagang yang ada di kawasan itu jadi kalau pengin ini-itu tinggal telepon saja. 

Andai saja Semarang bawah diperbaiki, dipercantik, dan kalinya dibersihkan saya membayangkan wisatawan dapat naik perahu melihat bangunan tua menyusuri Kali Semarang dari Jembatan Mberok sampai Bandarharjo. Kalau mereka lapar, mampir beli jajan pasar yang dijual di sekitar situ atau makan sego mangut ndas manyung. Wuih, ngayaldotcom nih, hahahahaha. Mimpi nggak dilarang kan? ^-^

#Semarang Atas

Berbeda dengan uraian sebelumnya, kawasan ini disebut daerah atas karena memang terletak di dataran tinggi yang kemungkinan kecil dilanda banjir. Kawasan atas ada di bagian Selatan dan Barat. Bagian Selatan mulai dari Siranda sampai Banyumanik. Sedangkan di Barat merupakan area baru yaitu di daerah Ngaliyan sampai Mijen.

Semarang Selatan dan Barat dulu merupakan daerah yang sepi dan jarang dilirik. Tapi sekarang berubah drastis. Untuk wilayah selatan terutama Tembalang perkembangannya sangat pesat karena ada kampus UNDIP di daerah itu. Sewaktu saya kuliah sekitar tahun 2002, daerah ini sudah rame tapi sekarang lebih rame lagi.

Awal-awal kuliah, beberapa teman saya ada yang nggak betah karena suasana kampusnya yang ndeso dan jauh dari mana-mana. Dulu saya masih bisa melihat sapi merumput di sekitar kampus. Sekarang saya kurang tahu, masih ada sapi apa nggak ya. Kebijakan UNDIP yang memindahkan semua kampus S1 dari Pleburan ke Tembalang tentu membawa dampak bagi keduanya. Kawasan Pleburan katanya sekarang sepi, tentu saja hal ini berbeda dengan Tembalang. 

Sewaktu mudik kemarin, saya dan pak suami iseng lewat Tembalang tapi nggak ke area kampus sih. Kami cuma lewat di daerah Tirto Agung ke Banjarsari. Wuih, di sana-sini full bangunan, padet dan panas banget. Toko Totem, toko yang dulu menjadi dambaan para mahasiswa, sekarang sudah nggak ada. Kawasan Banjarsari dan Bulusan yang dulu sepi sekarang banyak kos-kosan, salon, bengkel, dan toko. Kagetnya lagi, pengembang properti sebesar Ciputra membangun komplek di situ bernama Citra Grand Semarang. Bisa dibayangkan dong ya harga tanah yang dulunya murah sekarang mahal banget. Perkembangan kawasan Tembalang benar-benar pesat. 

Semarang Barat juga hampir sama nih. Kebetulan orangtua saya sudah pindah ke daerah Ngaliyan sejak 7 tahun lalu. Iyaaa, bapak-ibu pindah karena nggak kuat sama banjir di bawah, hahahaha. Daripada uang habis untuk meninggikan rumah lebih baik beli rumah di daerah atas. 

Kawasan Barat terkenal dengan alaska (alas karet). Alas berarti hutan. Jadi alaska artinya hutan karet. Nggak salah kalau masyarakat memberi nama ini karena di sepanjang jalan menju Mijen banyak pohon karet. Menurut asisten ibu yang asli situ, dulu daerah sekitar alaska dingin banget kalau pagi dan masih ada kabut. Bila sudah maghrib, mau lewat di jalan sekitar alaska orang-orang takut karena sepi dan jalannya kecil.

Kondisi sekarang berubah drastis. Saat ini sudah dibangun perumahan elit BSB (Bukit Semarang Baru) yang sekarang bermitra dengan Grup Ciputra. Adanya komplek elit ini membuat infrastruktur juga makin bagus. Jalan yang dulunya sempit sekarang lebar. Tapi sayangnya, banyak pohon karet yang dikorbankan yang membuat udara di daerah Ngaliyan tambah panas. 

#Tempat Wisata

Kalau ngomongin tempat wisata, jujur Semarang masih kalah jauh dengan Solo atau Yogyakarta. Meski menjadi ibu kota Jawa Tengah, biasanya kota ini hanya menjadi persinggahan atau hanya untuk dilewati saja. Ya gimana lagi, Semarang sedikit banget tempat wisatanya jika dibandingkan dengan dua kota budaya tersebut. Namun, Semarang punya beberapa tempat yang layak dikunjungi seperti Lawang Sewu, Gereja Blenduk, Vihara Buddhagaya, dan Kuil Sam Poo Kong. 

Ada tempat wisata baru nih tapi saya belum pernah ke sana sih. Saudara sepupu sering ngajak tapi saya masih belum sempat main ke sana. Katanya sih lagi ngehits karena pemandangannya yang bagus. Nama tempat wisatanya Waduk Jati Barang. Waduk ini diresmikan pada bulan Mei 2014. Konon kabarnya waduk ini dibuat untuk mengendalikan banjir di Semarang dan untuk menghasilkan listrik. 

Sumber Gambar 

#Kuliner

Semarang punya kuliner yang terkenal enak seperti wingko babat, lumpia, mie kopyok, tahu pong, tahu gimbal, soto, tahu petis, bolang-baling, mangut, dll.

Kalau pulkam, saya pasti mampir jajan ke tempat makan langganan antara lain :

*Soto Pak Man

Saya seringnya beli soto di Pak Man Pamularsih karena lebih dekat dengan rumah. Tempat makan ini buka mulai jam 07.00 sampai sore. Lebih enak kalau beli pagi karena kuahnya lebih seger. Saya suka soto ini karena kuahnya bening. Soto ini disajikan di mangkok kecil dengan taburan ayam, bawang goreng, dan irisan tomat. Pelengkap makan soto biasanya ada sate ayam, puritan, atau kerang. pastinya ada tempe yang digoreng kering dan perkedel. Tempenya lihat deh, tipis dan kering banget seperti keripik tapi agak tebal. Rasanya enak banget tempenya. Makan soto pagi hari dengan sambal wuih bikin semangat deh! Haduh, jadi kangen soto Pak Man, hahahaha. 

Soto Pak Man

*Tahu Gimbal

Saya kurang suka tahu gimbal di Taman KB atau kawasan SMA 1. Sejak pindah di Ngaliyan, saya menemukan tahu gimbal yang enak banget. Lokasinya di dekat Toko Idjo, seberangnya Kantor Kecamatan Ngaliyan. Namanya Tahu Gimbal Bu Siti, buka mulai jam 10 pagi. Tempatnya sederhana tapi rame banget kalau pas jam makan siang. Selain tahu gimbal, kita bisa pesan gado-gado atau tahu campur. Asli, bumbunya enak banget. Recommended banget deh. 

Tahu Gimbal Bu Siti

*Mangut

Ikan mangut yaitu ikan asap yang diolah dengan bumbu pedas bersantan. Ikan yang diasap macam-macam, bisa ikan pari, lele, ikan sembilan, ikan manyung, atau belut. Ikan ini biasanya diolah dengan bumbu mirip tumis ditambah kemiri, kencur, daun jeruk, dan santan. Biar sedap dan mantap ditambah pete atau ditambah gembus. Widiw, jadi laper nih. Hahahaha. 

Nah, yang sering saya pesan ke ibu kalau pulang ke Semarang yaitu mangut welut (belut asap). Kalau ibu saya masaknya nggak terlalu pedes karena pak suami nggak bisa makan pedes. Pas mudik kemarin saya mampir ke rumah budhe dan lucky me, budhe masak mangut ndas manyung. Ikannya gedheee banget. Mantep, deh!



*Tahu Bakso

Kalau pulkam saya biasanya beli tahu bakso TAHUCAHUNGARAN. Lokasinya ada dua, yaitu di Simpang Lima (pojokan oleh-oleh Istana Brilliant) dan pojok Toko Siranda. Kalau hari biasa bisa beli langsung tapi kalau liburan baiknya pesan dulu. Pengalaman saya, lebaran tahun lalu saya hampir nggak dapat tahu bakso karena nggak tahu kalau harus pesan dulu. Mau nggak mau kami menunggu berjam-jam demi mendapat tahu bakso. Nomor teleponnya 081325212600 atau 024-70229148. 

Sekarang karena ibu saya nyambi jualan tahu bakso ya saya dapat jatah dari ibu. Lumayan ngirit, hahahaha. Bukan, ibu nggak bikin tahu bakso tapi cuma pesan dan dijual di kantor atau ke tetangga. Alhamdulillah, tahu baksonya enak dan ukurannya besar-besar. 

Tahu Bakso Dagangan Ibu


*Serabi Notosuman

Meski ini makanan asli Solo tapi tiap pulkam saya pasti beli ini karena serabinya enak banget. Langganan saya yang ada di Jalan Thamrin nomor teleponnya 024-3548816. Tempat ini buka dari pagi sampai serabinya habis, hahahaha. Serabinya ada yang rasa original dan coklat. Saya lebih suka yang rasa original. Eh, serabi ini sepertinya ada di Tangerang loh, tepatnya di mana saya kurang tahu. 

Serabi Notosuman di Jalan Thamrin 

*Singkong Presto dan Sirup Fres

Kalau ke Semarang, saya punya toko langganan yang menjaul aneka snack kiloan. Saya sudah langganan dari sejak zaman kerja. Kalau pulkam, biasanya ibu sudah pesan makanan kesukaan saya yaitu singkong presto. Makanan ini terbuat dari singkong yang digoreng atau dipresto, entah saya kurang tahu. Singkongnya gurih dan empuk, enaaaak banget!! Saya biasanya pesan 2 bal lalu dibagi-bagi ke sahabat, tetangga, dan dibawa ke kantor pak suami. Alhsmdulillah, semua suka. Kata pak suami, yang dinantikan temannya kalau pulkam ya singkong presto ini. 

Kalau sirup, saya dan pak suami kurang suka tapi ini favorit sahabat jadi saya sering bawa sirup ini untuk dia. Kata dia sih sirupnya enak dan nggak ada di Jakarta. Memang sih sirup Fress ini asli buatan Semarang.  




*Wingko 

Saya jarang beli wingko yang dijual di toko oleh-oleh sepanjang Jalan Pandanaran. Pak suami kurang sreg dengan ukurannya yang kecil jadi makannya kurang mantep, hahahaha. Seringnya saya pesan di penjual wingko, namanya Wingko Eco buatan Pak Hardi.

Wingko ini bentuknya kotak dan ukurannya nggak kecil-kecil. Makan satu biji sudah cukup. Kalau pesan, biasanya saya janjian pagi jam 06.30 di Pasar Bulu. Iyap, Pak Hardi biasa mangkal di bawah jembatan penyeberangan Pasar Bulu. Wingkonya enak juga kok. Murah meriah dan fresh karena dibuat sesuai pesanan. 

Itu saja cerita saya tentang Semarang. Kalau ada yang mau main ke Semarang silakan loh ya. Meski saat ini saya nggak tinggal di kota itu tapi medok dan bahasa saya jek koyok cah Semarang lho ndaaaaa.^,^.












31 comments:

  1. Jadi kangen semarang :'(
    Dari kecil aku mudik kesana ke tmp bude pakde
    Dan akhirnya kuliah di sana 97-2001, dan bener tuh di kampus pemandangannya sapi2 lagi makan rumput hahaha
    Skrg uda beda banget yah

    Eh totem uda jadi apaan sekarang ? Nge hitzz banget ituh totem.
    Uda lama banget ga ke semarang

    Dan ternyata aku belum cobain singkong presto sampe sekarang *kebangetan*

    ReplyDelete
  2. dulu ke semarang pas masih kecil,tapi pingin banget gitu ke semarang akhir2 ini..pingn banget ngicip lumpia sama penasaran sama singkong presto,baru denger mbak^^

    ReplyDelete
  3. Pernah bbrp kali ke semarang.. ke tempat2 yg mba sebut2 jg.. smg atas dan smg bawah. Sempet main ke lawang sewu sm kuil sam poo kong ya kalo ga salah.. btw. Kuliah 2002 seangkatan donk kita seumuran.hihih salam kenal mba pipit.. bw ke blog aku yah

    ReplyDelete
  4. Aku klo ke smarang pesti ingat ga lolos ujian masuk unes hahhaha

    Tp itu tahu baksonya mengalihkn dujiaku hahahahha

    ReplyDelete
    Replies
    1. sama mbak, gara-gara lihat makanannya jadi ga fokus sama artikelnya :-)

      Delete
  5. gara-gara fokus lihat makanan, sampai lupa mau komen apaan :-)

    mungkin karena selama ini yang sering terdengar tentang semarang adalah Simpang Limanya mbak.
    kalau saya sendiri pernah main ke pohon karet daerah MIJEN.

    ReplyDelete
  6. Ke Semarang cuma pernah numpang transit doang mbak. infonya komplit ding, boleh nih jadi rujukan kalo kapan2 ke Semarang, hehee

    ReplyDelete
  7. Huaaaa Semarang. Aku senang banget Semarang. Waktu kecil tiap tahun pulang "kampung". Sekarang udah setahun lewat blom ke sana lagi. Jadi kangen baca tulisanmu. Wingko enak yang cap kereta api deket Gereja Blenduk situ.

    ReplyDelete
  8. wah tahunya semarang ya wingko, he,he.Mudah2an suatu waktu bisa berkunjung ke sana

    ReplyDelete
  9. kulinernya top markotop ya..pagi2 langsung lihat makanan jadi laper mbak...

    ReplyDelete
  10. Nah itulah sebagai orang semarang yg cinta banget sama gedung2 tua sedih aja liatnya gedung2 cantik itu dibiarin gtu aja..kebanjiran kepanasan padahal itu aset wisata besar lho. Klo dikelola bisa jdi kaya Amsterdam..naik perahu keliling kota lama..seru banget kaan..
    Betewe..sebenernya wingko bukan dari semarang mak tp dari Babat jawa timur cuma emang ngehits nya di Semarang hehehe...

    ReplyDelete
  11. Semarang penuh cerita, saya terakhir ke Semarang Januari tahun ini dan tempat wisata itu belum tahu. Bakalan jadi tempat wisata favorit nih selanjutnya.

    ReplyDelete
  12. lumpia Semarang sudah terkenal kemana-mana lho...enaknya tiada duanya... :)

    ReplyDelete
  13. tahu gimbal kesukaanku tuh mbak

    ReplyDelete
  14. Pengen nyicip singkong presto....
    Dulu pernah ke Semarang waktu adekku baru mau masuk kuliah di UNDIP, kampusnya di Tembalang atas itu, emang dulu sepi banget di sana, dulu sempet mikir ini kampus kok sepi amat, masih gersang :D

    ReplyDelete
  15. lho lho lho kyknya sekolahnya sama'an deh kita. jangan2 kenal. hihihi
    btw, semarang emang ngangeniiii ^_^

    ReplyDelete
  16. belum pernah ke semarang, pgn ih...
    rumah orang tua saya jg gt mba... lantai diurug terus, tp atap ga naik2, jdnya rmhnya pendek :D

    ReplyDelete
  17. Saya semakin lama semakin cinta Semarang deh. Kotanya cantiiik kulinernya endeuuusss. Baso tahunya juara! :-9

    ReplyDelete
  18. Kirain ada lomba, Mbak. Keren ini ulasannya. Andai diikutkan lomba, bisa menang deh menurut saya.

    Penasaran, itu yang masih betah tinggal di Tanah Mas meski kena banjir, kalo banjir gimana caranya mengatasi, ya?

    ReplyDelete
  19. Ortuku dulu sempat tinggal 2 tahun di Semarang Barat, Jl Anggraeni. Tp aku lbh banyak di Jogja krn sdh kuliah. Rasanya belum puas, pengin jalan2 lagi eksplor Semarang.

    ReplyDelete
  20. Saya pernah bebeapa kali ke Semarang. Simpang Lima maish tetap ramai, ya :)

    ReplyDelete
  21. Mbak kalo boleh tahu alamat lengkap waduk jati barang sebelah mana ya?? saya pengen banget nih main. Thanks :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo, maaf saya belum pernah ke sana.
      Hasil dari googling, di Gua Kreo ada jembatan menuju ke waduk tsb. CMIIW.

      Delete
  22. Mbak pipit dulu promil shinse ya?. Sempat mampir di blog ny. Apakah sdh berhasil mbak? Pengobatan berjalan berapa bln? Mohon info. Thank sebelum dan sesudahnya (:

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo, iya saya pernah ke shinse.
      Sampai sekarang belum.

      Delete
  23. Kalau mudik colek2 ya pipiit pengen kopdar lagiii :* semarang memang ngangenin yoo...panasnyaaa hihihii

    ReplyDelete
  24. jadi kangen semarang nih mba..kangen makan soto pak man juga he he he..salam kenal ya mba pipit

    ReplyDelete
  25. Serabi notosuman bukan nya solo yaaa hahaha.
    Btw dan aku baru tau ada semarang atas bawah

    ReplyDelete
  26. waahhh jadi enak tuh mbak liat sotonya hehehe

    ReplyDelete
  27. wah, baru engeh kalau ada yang namanya semarang atas-semarang bawah :O

    ReplyDelete

Powered by Blogger.

Recent Posts

    Follow Me

    Page Views

    Copyright © Pipit Widya | Powered by Blogger
    Design by Saeed Salam | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com