Tuesday, December 22, 2015

Sosialisasi dengan Tetangga

Sejak pindah rumah pada September lalu saya merasakan kehidupan sosial yang lebih baik. Artinya, sosialisasi dengan tetangga lebih baik dibanding dulu. Di rumah lama memang kehidupan sosialnya kurang baik padahal itu di kampung, loh. Kata orang, tinggal di kampung lebih guyub dan terasa persaudaraannya. 

Tapi ini nggak saya alami. Jadi, kondisi lingkungan di tempat lama masih sepi. Tetangga cuma ada dua di sebelah kiri. Bagian depan dan samping kanan masih kebun. Ada juga beberapa kontrakan tapi sepi. 

Bukannya nggak mau bersosialisasi dengan tetangga tapi perbedaan umur dan (maaf) pemikiran yang sangat berbeda membuat saya kurang nyaman dalam mengobrol. Pernah satu kali saya senyum dan ramah kepada beliau, ujung-ujungnya malah minta diutangin. Sebel nggak sih kalau diginiin? Saya termasuk orang yang cukup tegas, sekali ngutangin beliaunya bakal ketagihan. Jadi say NO ketika ada yang minta utangan. 

Untuk beberapa orang yang saya anggap kurang nyaman kadang saya menjaga jarak dan bicara seperlunya saja. Toh bagi saya bersosialisasi nggak cuma sekedar itu. Dengan ikut pengajian dan arisan di kampung membuat saya kenal beberapa dari mereka. Melalui kegiatan tersebut saya juga tahu perkembangan di kampung meski saya kurang aktif. Ya, ini adalah salah satu hal yang nggak enak ketika tinggal di perantauan, di kampung pula, dan nggak ada saudara sama sekali. 

Tapi kini ada kabar gembira sejak tinggal di lingkungan baru, hal-hal yang dulu nggak enak sekarang berubah 180 derajat. Sampai saat ini (berarti sudah 3 bulan) kehidupan komplek yang biasanya lu-lu-gue-gue masih dalam batas wajar. Maksudnya masyarakat di komplek yang saya tinggali masih guyub dan kompak. Dengan adanya smartphone, kegiatan komunikasi juga berlanjut di dunia maya melalui aplikasi chatting. Hal-hal yang dibahas juga seputar perbaikan kehidupan komplek. Semua dari warga dan untuk warga.

Mungkin hal inilah yang membuat saya dan pak suami mulai betah dengan kehidupan di lingkungan baru. Tetangga umurnya juga nggak jauh beda membuat pembicaraan jadi seru karena nggak terlalu njeglek roamingnya, hahaha. Ada saja yang jadi bahasan di grup whatsapp baik bapak-bapak maupun ibu-ibu. Mulai masalah security, futsal, sampah, fasos dan fasum komplek, kumpul-kumpul, makan bareng, senam, dan tentunya pengasuhan anak. Sejauh ini saya masih enjoy dengan pembahasan tersebut. 

Yup, komplek saya terbilang baru. Dari total seratusan unit baru separuh yang laku itu pun nggak ditempati semua karena ada rumah yang digunakan untuk investasi. Meski demikian, jumlah warga yang sudah hampir 50-an sangat kompak dan guyub. Masing-masing grup baik bapak maupun ibu mempunyai kegiatan yang tujuannya untuk menambah keakraban. Kalau bapak-bapak seringnya sih futsal tiap hari Minggu dan kumpul sambil bakaran kalau weekend atau menjelang libur. Sedangkan ibu-ibunya seringnya kumpul untuk makan bersama. Semua itu dilakukan secara gotong royong atau saweran sukarela. Apa yang ada di rumah dikeluarkan. Seru deh kalau gini. 

Salah Satu Keakraban di Komplek

Meski demikian, saya juga tetap menjaga diri ketika berkomunikasi dengan mereka baik secara offline maupun online. Sebisa mungkin saya menghindari pembicaraan yang menyangkut privasi seseorang atau kehidupan tetangga. Kenapa? Gini, lingkungan yang kita pilih sekarang biasanya akan menjadi lingkungan yang nggak cuma ditempati setahun atau dua tahun aja kan? Kalau bisa hidup aman, nyaman, dan tentram di situ sampai tua. Nah, kalau semisal pembicaraan kita menyinggung atau menyakiti tetangga dan ada yang jutek sama kita, lah kitanya kan yang nggak enak dan nggak nyaman. Apalagi saya termasuk newbie di komplek jadi masih perlu adaptasi. Sebisa mungkin bicara seperlunya saja. Kalau nggak nyaman biasanya saya nggak keluar rumah atau nggak ikut nimbrung. 

Beberapa hal yang saya dan pak suami terapkan dalam bersosialisasi dengan tetangga yaitu :

1. Salam, Senyum, Sapa

Yup, ilmu dari Aa Gym ini memang tokcer diterapkan nggak cuma untuk tetangga tapi juga untuk security. Setiap ketemu mereka usahakan untuk menyapa dan tersenyum. Meski terlihat sepele tapi dampak bagi yang disenyumin besar loh. Mereka berasa diperhatikan dan dihargai sebagai sesama. Rasanya nyess kalau ada tetangga yang menegur dan menyapa meski cuma sapaan "mari, Pak." Betul?

2. Bicara Seperlunya

Seperti yang saya tulis tadi, kalau bisa bicara seperlunya saja baik offline maupun online. Kalau ada ibu-ibu sedang nimbrung, dilihat dulu kira-kira mereka ngobrol hal-hal umum atau privasi. Kelihatan dari keras nggaknya mereka ngobrol kok. Kalau pelan berarti agak privasi, hindari saja kalau kita nggak tahu topiknya. Dan, jangan sampai kita cerita masalah pribadi atau masalah rumah tangga ke tetangga. Usahakan untuk nggak melakukan hal ini karena tetangga adalah orang yang setiap hari kita ketemu. Kalau mereka tahu urusan dapur kita kan nggak sopan dan gawat juga. Kalau misal mereka cerita ke tetangga yang lain, bisa berabe tuh urusannya. Betul kan?

Sedangkan kalau di grup whatsapp, saya dan pak suami tetap bicara seperlunya. Kalau ada hal-hal yang memang perlu dikomentari ya berikan komentar sewajarnya. Kalau pembicaraan grup agak sensitif ya jadi pembaca saja. Dan, jangan lupa beri apresiasi emoticon senyum atau ucapan 'terima kasih' jika ada yang memberikan info bermanfaat. Jadi, orang yang memberi info merasa dihargai. 

3. Ikut Aturan

Sebagai warga baru, saya dan pak suami berusaha untuk bisa membaur dengan warga lama. Salah satunya dengan ikut aturan, misal ikut iuran bulanan atau ikut arisan. Dengan cara ini, sosialisasi lebih mudah karena kalau bertemu atau gabung dengan mereka nggak ada rasa kikuk karena kita sama. Kalau misal kita sendiri yang nggak ikut iuran kan nggak enak juga kan? Malah jadi bahan omongan tetangga loh nantinya. 

4. Berbagi

Suka berbagi dengan tetangga itu ada enaknya, loh. Berbagi di sini bisa apa saja, misal makanan, peralatan rumah tangga, atau tenaga. Biasanya sih acara yang digawangi secara bersama-sama akan terasa guyub dan rame kalau banyak donaturnya. Dijamin bakalan berkesan dan biasanya sisa makanannya banyak. Kalau sisa, pasti kembali ke kita kok karena akan dibagi rata. 

Jadi, jangan pelit kalau punya sesuatu atau barang yang dibutuhkan warga. Pikirkan juga, kalau suatu saat nanti kita yang butuh, pasti mereka akan balik menolong kita kok. Pasti itu. 

Tetangga katanya saudara kita yang terdekat. Dan, saya merasakannya sekarang karena nggak punya saudara di Depok. Alhamdulillah, punya tetangga yang baik dan peduli membuat hidup saya dan pak suami lebih bermakna. Jadi, sayangi tetangga kita dan berikan yang terbaik untuk mereka karena suatu saat kita pasti butuh mereka.  













Continue Reading…

Monday, December 21, 2015

Kursus Bahasa Asing di Universitas Indonesia

Awalnya sih iseng dan tanya ke pak suami kalau saya pengen melanjutkan les Bahasa Jepang di Depok. Mengingat saya pernah belajar sedikit Bahasa Jepang di Yokohama dan sayang kalau nggak dilanjutkan. Di luar dugaan, ternyata pak suami memberikan lampu hijau dan saya pun mulai mencari info kursus Bahasa Jepang di Depok. Sempat searching sana-sini dan akhirnya dapat info kursus bahasa asing di Universitas Indonesia.

Dalam hati, nggak salah tuh di UI ada kursus bahasa asing? Bagi orang awam atau yang nggak kuliah di UI, sebagian besar mereka mengira UI cuma untuk kuliah saja. Dan, pemikiran saya saat itu adalah web yang dikelola oleh perguruan tinggi apalagi milik pemerintah, biasanya infonya kurang update. Tapi di sisi lain, ini UI loh, sebuah nama besar yang nggak bisa dipandang sebelah mata. Masak iya UI nggak update? Hahahaha, maklum saya kurang gaul dan bukan anak asli Depok jadi saat menemukan sebuah situs yang mengarahkan ke lembaga milik pemerintah kadang kurang greget saja. Tapi kalau info tersebut memang benar, saya senang banget karena kalau ke UI cuma melewati tiga stasiun. Setelah benar-benar mengecek situsnya dan bertanya ke teman yang bekerja di UI, saya jadi yakin akan kevalidan situs tersebut. 

Ternyata Universitas Indonesia mempunyai wadah untuk belajar bahasa asing bernama Lembaga Bahasa Internasional FIB UI, singkatnya LBI. 

#Apa itu LBI (Lembaga Bahasa Internasional) UI?

Sebuah lembaga di bawah Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya UI yang membuka kursus berbagai bahasa untuk masyarakat umum. Iya, siapa saja boleh belajar di sana. Tempat belajarnya ada di 2 tempat yakni di Salemba dan di Depok. 

#Di mana tempatnya?

Karena rumah saya di Depok, saya cerita LBI yang di Kampus Depok saja ya. LBI ada di Gedung X, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (FIB). Kalau teman-teman naik kereta, aksesnya gampang banget kok. Dari stasiun UI, tinggal nyebrang lampu merah dan jalan lurus kira-kira 10 menit. FIB letaknya setelah FISIP atau setelah gedung Pusat Studi Jepang (PSJ).

#Kursus bahasa apa saja?

Yah, namanya juga lembaga bahasa internasional milik UI pula jadi yang dipelajari macem-macem. Ada Bahasa Inggris, Arab, Belanda, Jerman, Jepang, Korea, Mandarin, Perancis, Rusia, dan Spanyol. Komplit banget kan? 

Selain itu, LBI juga ada TOEFL dan program-program lain yang membutuhkan ijazah internasional.

#Kapan waktunya?

Waktu belajar untuk Salemba dan Depok berbeda. Semua ada dan dijelaskan secara komplit di webnya. 

#Pengalaman belajar di LBI

Saya mengambil kelas Jepang di Depok. Saat pertama kali masuk kursus, teman-teman bisa saja ikut placement test. Kalau memang sudah casciscus bisa saja langsung ke kelas sesuai penempatan dan nggak harus mulai dari awal. Sedangkan saya karena memang ingin belajar dari dasar dan belum lancar ya nggak ikut placement test, langsung daftar kelas Jepang 1. 

Untuk daftar ke kelas Jepang ternyata siapa cepat dia dapat karena kelas ini peminatnya banyak. Kalau nggak buru-buru daftar bisa kehabisan jatah karena jumlah siswa per kelas dibatasi maksimal 20 orang. Kalau nggak dapat jatah kursi ya teman-teman ikut term selanjutnya. Meski demikian, kenyataannya di tengah perjalanan banyak juga yang siswa yang nggak ada kabar. Kalau gini, sayang uangnya kan? Padahal yang antre mau ikut kursus juga banyak loh. 

Oiya, aturan belajar di LBI cukup ketat. Jumlah absensi dan tugas juga mempengaruhi penilaian loh jadi nggak asal aja. Kalau saya pribadi, saya senang dengan aturan ini karena ini serasa oase bagi saya yang sehari-harinya IRT di rumah *halah lebay. Menjadi ibu rumah tangga kadang membuat saya agak telat mikir. Lah, gimana nggak, soalnya otak jarang dipakai untuk mikir yang berat. Dan hal-hal yang dihadapi sehari-hari di rumah ya itu-itu saja mulai masakan, cucian, dan gosokan. Tapi sejak ikut les, saya senang karena mendapat teman dan lingkungan baru. Yang pasti, ini bisa menambah kewarasan otak saya, hahahaha.  

Bertemu dengan orang-orang dan lingkungan baru selalu membuat saya senang. Oiya, teman sekelas saya banyak yang bekerja dibanding yang berstatus mahasiswa. Alasan mereka ambil kursus macam-macam. Ada yang pengen bekerja di Jepang, ada yang pengen melanjutkan studi ke Jepang, ada yang bekerja di perusahaan Jepang jadi mereka pengen upgrade Bahasa Jepang untuk komunikasi. Sedangkan alasan saya apa secara di kelas hanya satu yang sebagai IRT, hahahaha. Alasan saya belajar Bahasa Jepang selain untuk mengisi waktu dan menambah kewarasan otak, sudah saya sebutkan di awal tulisan ini. Coba deh scroll ke atas, ya.  

Untuk pengajar atau senseinya, so pasti enak banget. Sensei yang mengajar masih muda banget. Kebanyakan sih alumni UI tapi ada juga yang masih mahasiswa. Perbedaan umur ini juga nggak masalah karena sensei-sensei tersebut sangat humble dan enak banget diajak diskusi jadi suasana kelas nggak kaku. Mau tanya soal Bahasa Jepang, manga, budaya Jepang, hayuk aja. Selain sensei yang masih muda, pernah juga kelas diajar oleh dosen asli yang senior. Wow, meski senior, beliau ngajarnya enak banget karena membuat kelas hidup dan aktif jadi siswanya gampang mudeng. 

Sensei dan Siswa ^-^

Untuk Jepang 1, siswa akan mendapat buku Hiragana-Katakana. Buku ini berisi tata cara menulis Hiragana dan Katakana berikut artinya. Selain itu, siswa mendapat buku Minna no Nihongo, buku wajib ya kalau ini. Buku ini ada 2 yaitu yang berisi full Jepang dan satunya berisi petunjuk atau kosakata dalam Bahasa Inggris. 

Jadi, untuk Jepang1 mendapat 3 buku yaitu Hiragana-Katakana (1 buku) serta Minna no Nihongo versi Jepang dan Inggris. Dengan buku-buku ini dijamin siswa akan mudah belajar Nihongo utamanya untuk percakapan dasar dan menulis Hiragana-Katakana.

Buku Jepng-1

Untuk melanjutkan ke tingkat selanjutnya, ada beberapa aturan yang akan dibagikan kalau teman-teman sudah mulai kursus. Aturan-aturan tersebut berlaku selama kursus dan infonya sangat komplit. Kalau teman-teman masih bingung dengan aturan tersebut, bisa kok tanya ke sensei atau guru yang mengajar. 

Yuk, belajar bahasa asing! Seru loh ^-^



Info LBI

LBI UI Salemba : Jl. Salemba Raya 4 Jakarta 10430
Telp (021) 31930335, 31902112
Fax (021) 3155941, 3156341

LBI UI Depok : Gedung X Lt.1 Kampus FIB UI Depok
Telp. (021) 7864075, 78849082
Fax (021) 78849085

Web : www.lbifib.ui.ac.id

Twitter : @lbi_fibui














Continue Reading…

Tuesday, December 01, 2015

Sifat Baik Ibu-ibu Jepang

Saya suka banget melihat kebiasaan orang-orang di sekitar atau yang saya kenal tak terkecuali dengan kebiasaan ibu-ibu Jepang yang ada di Indonesia. Ya ya ya berteman dengan orang asing membuat saya sangat menjaga sikap biar enggak terjadi salah paham. Takut juga kalau tiba-tiba ada miskom antara kami. Meski baru beberapa bulan kenal dan berkumpul tapi saya bisa belajar beberapa sifat baik dari ibu-ibu Jepang.

Ibu-ibu Jepang yang ada di Indonesia sebagian besar ikut suaminya yang sedang dinas. Mereka umumnya tinggal di apartemen. Mereka ada yang sudah tinggal di sini selama puluhan tahun atau baru beberapa bulan. Beberapa dari mereka ada yang sudah pulang ke Jepang karena masa dinasnya sudah habis. Namun, ada juga ibu Jepang yang menikah dengan orang Indonesia. Kalau statusnya begini, biasanya mereka tinggal di rumah pribadi bukan di apartemen. 

Lain negara lain juga kebiasaannya. Meski tinggal di Indonesia tapi budaya Jepang mereka masih kuat banget. Ya iyalah ya, secara mereka orang Jepang gitu loh hahahaha. Nah, apa saja hal-hal menarik yang bisa dipelajari dari ibu-ibu Jepang? 

#Privasi

Berteman atau berbicara dengan orang asing membuat saya lebih hati-hati. Sebisa mungkin saya menghindari pembicaraan yang menyangkut masalah pribadi. Misalnya sudah punya anak belum, pertanyaan tentang suaminya atau kebiasaan selama di Indonesia. Saya sangat menjaga privasi mereka karena takut nggak sopan atau menyinggung. Kebetulan juga, ibu-ibu Jepang kalau bertanya juga enggak soal privasi banget. Kalau mereka tanya umur, mereka aja bilang 'maaf, saya boleh tanya umur'. 

Lain cerita kalau misalnya kami sedang ngobrol sesuatu dan ada pertanyaan dengan hal tersebut, saya akan bertanya sesuai tema. Misalkan, kami sedang ngobrol soal Bahasa Jepang dan ada yang cerita kalau di rumah ngobrol dengan suami (kebetulan suaminya orang Indonesia) pakai Bahasa Jepang. Setiap hari mereka ngobrol memakai Bahasa Jepang kecuali dengan asisten dan sopirnya. Nah, saya lalu tanya, kalau ngobrol dengan anak apakah pakai Bahasa Jepang juga? 
Si Ibu menjawab kalau dia nggak punya anak. Sampai di sini saya stop dan nggak tanya lebih jauh, misalnya, kenapa nggak punya anak? Apakah sudah promil? Ya kali siapa tahu saya juga pengin promilnya, hahahahaha. 

#Selamat Siang, Maaf, Permisi, dan Terima kasih

Yup, kata-kata tersebut enggak berhenti terdengar dari bibir mereka. Sedikit-sedikit mereka bilang maaf. Kalau lewat di depan orang pasti bilang permisi atau selamat siang. Ketemu sopir pribadinya yang sedang membawa buku pun ngucapin terima kasih, lho. Saya melakukan hal kecil untuk mereka, pasti dibalas dengan 'terima kasih.' 

Ya ya ya orang asing memang nggak sungkan untuk mengucapkan kata-kata tersebut. Beda banget sama orang Indonesia, ya. Padahal kata-kata tersebut terdengar sederhana dan sepele tapi bagi yang mendengar rasanya diperhatikan dan dihargai. Bener enggak sih? 

Pengalaman saya pribadi sewaktu di Jepang, sering banget ketemu orang yang enggak kenal di jalan dan mereka bilang 'Konnichiwa.' Mereka menyapa sambil tersenyum lho. Kaget juga sih dengan keramahan mereka. Apalagi kalau di tempat les. Begitu sampai di sana dan ketemu tukang kebun, sensei, staf atau sesama murid pasti mereka memberi salam, 'Ohayou gozaimasu.' 

#Bayar Sendiri atau Saweran

Orang Jepang suka minum atau makan-makan, bahasa kerennya nomication (nomimasu+communication). Intinya sih makan bareng sambil ngobrol gitu. Kantornya pak suami di Jepang, hampir tiap bulan pasti ada acara makan-makan. Pak suami sih seneng aja diajak makan bareng tapi senep ketika harus membayar iuran, hahahahaha. Makanannya sih sedikit tapi yang banyak sakenya padahal pak suami enggak minum sake. Di situ sedihnya. Tapi sejauh ini iurannya masih wajarlah. 

Nah, seperti yang saya ceritakan sebelumnya kalau setiap Jumat keempat biasanya saya diajak makan-makan oleh ibu-ibu Jepang. Berdasarkan pengalaman pak suami, untuk acara seperti ini saya harus siap uang karena mereka jarang nraktir. 

Benar, kalau makan dengan mereka, saya harus bayar apa yang saya makan. Kalau makanannya barengan misal makan sushi rame-rame, total bill dibagi rata alias saweran. Dengan cara ini sih saya bilang wajar karena memang begitu seharusnya, kita keluarkan sesuai apa yang kita makan. Ketika makan-makan di restoran di Indonesia hal ini juga berlaku loh. Padahal saya pengin banget ditraktir sama mereka *hahahaha ngarep.

#Sederhana dan Hemat

Menurut saya ibu-ibu Jepang itu kok sederhana dan hemat ya. Penampilan mereka biasa banget. Bahkan ada yang istri seorang presdir tapi penampilannya sangat biasa dan nggak branded atau pamer kekayaan. Yup, sepertinya mereka nggak suka menghamburkan uang. Hhhhmmm, mungkin nggak ya ini berhubungan sama sifat orangnya juga. Atau memang sudah budaya mereka ya.  

#No Tip

Saya sering menumpang mobil salah satu rekan yang kebetulan les BIPA (les Bahasa Indonesia) di UI. Saya juga pernah melihat sendiri kebiasaan sopir setelah parkir. Mereka akan memberikan slip parkir berikut uang kembalian ke majikan, utuh dan saat itu juga. 

Kalau pengalaman teman Indonesia yang tinggal di Jepang, saat itu teman pesan barang secara online dan dibayar COD (cash on delivery). Sewaktu barang sampai ternyata ada kembalian 500Yen. Teman tersebut sudah ikhlas dan bilang, "Kembaliannya buat kamu aja."
Eh, petugas tersebut tetep kekeh nggak mau dan berusaha nyari uang receh 500Yen. Meski lama nyarinya, tapi akhirnya ada kembalian juga. Padahal teman tersebut enggak masalah kalau nggak ada kembalian toh cuma 500Yen, pikirnya. 

#Disiplin dan Bersih

Kalau ini sih sudah menjadi rahasia umum budaya orang Jepang ya. Mereka memang disiplin, kalau acara jam 2 teng ya jam 2 sudah ada di lokasi. Uniknya, kalau masuk ke ruangan PAUD yang saya ceritakan di sini, mereka akan melepas alas kaki dan memakai alas kaki khusus dalam ruangan. Yup, mereka masih menerapkan hal tersebut di Indonesia. Apa mungkin ruangan PAUD-nya yang kotor ya? hahahahahaha.

Yang jelas sewaktu saya ke rumah salah satu ibu Jepang, rumahnya bersih dan rapi. Yang unik, di ruang tamunya ada rak khusus untuk alas kaki dan disediakan sandal khusus untuk dipakai di dalam rumah. Enggak cuma itu saja. Karena si ibu tersebut hobi memelihara kucing dan punya beberapa kucing (kucingnya bukan kucing pesek lho tapi yang kampung), kucing tersebut juga punya wilayah sendiri-sendiri. Kalau ada kucing yang berada di wilayah kucing lain, si ibu akan menggendong dan mengembalikan ke wilayahnya semula sambil bilang gini, "Kamu tidak boleh di sini. Nanti kamu bertengkar. Ayo kembali." Sumpah, ini seriusan dan saya melihat sendiri. Sebegitunya ya, bahkan kucing juga diajak disiplin, hahahahaha.


#Perhatian dan Baik

Meski terdengar sangat keras dan disiplin tapi mereka baik banget dan perhatian. Contohnya banyak, yaitu mereka itu akan membalas budi kalau kita berbuat baik atau memberi sesuatu. Pasti. Saya teringat sewaktu di Yokohama ketemu sensei yang mengajar tahun sebelumnya. Beliau membawakan saya oleh-oleh dari negara yang sedang dikunjungi. Jadi sewaktu beliau jalan-jalan ke Vietnam dan tahu kami akan bertemu, saya diberi oleh-oleh negara tersebut bukan barang Jepang. Tuh, jalan-jalan aja masih ingat sama saya, perhatian banget kan.

Sewaktu di Yokohama, saya juga pernah dikasih tempe padahal saya sebelumnya pesan 1 biji tapi malah diberi 2 biji dan gratis. Si ibu tersebut enggak mau dibayar sama sekali padahal saya sudah siap uang. Alhamdulillah, rejeki anak soleh hahahahaha. 

Kalau di Jakarta, saya juga diajak berangkat bareng naik mobil ke perpustakaan keliling di Matraman. Bahkan kalau pulang, mereka pasti memikirkan cara saya agar pulang bisa cepat dan gampang dapat kereta. Maklum, saya kan anak kereta dan nggak naik mobil. Saya sampai kagum sama perhatian mereka. Mereka dengan senang hati memberikan tebengan sampai ke stasiun. 

Kalau mereka tahu saya akan datang ke perpus keliling dan saat itu mendung atau hujan, mereka langsung menawarkan sopirnya untuk menjemput saya di stasiun. Intinya sih mereka enggak mau rekannya kesulitan karena acara bersama. Baik banget kan?

Semua yang saya ceritakan ini berdasarkan pengalaman saya loh ya. Mungkin ada yang lebih lama berteman dengan mereka atau tinggal di Jepang jadi lebih paham. Mungkin ada juga orang Jepang yang mempunyai kebiasaan buruk, namanya juga manusia pasti ada yang baik dan buruk. Tapi saya di sini cerita yang bagusnya saja. Kita ambil sisi positif dari orang asing untuk diterapkan bagi diri sendiri. Ini bukan menggurui lho ya, saya hanya sekedar sharing pengalaman.



















Continue Reading…

Kegiatan Sosial Bersama Ibu Jepang

Dua minggu sejak kepulangan saya ke Indonesia, tepatnya pertengahan Juni lalu, saya memutuskan untuk melanjutkan kegiatan sosial bersama ibu-ibu Jepang yang tinggal di Indonesia. Sebenarnya kegiatan ini sudah saya ikuti sejak saya tinggal di Yokohama. Saya tahu tentang kegiatan tersebut dari seorang sensei yang mengajar di tempat kursus dan kebetulan beliau pernah tinggal di Indonesia selama tiga tahun. 

Sensei tersebut bernama Watanabe-san. Perkenalan saya dengan beliau sebenarnya nggak sengaja sih. Jadi sewaktu hari pertama kursus kelas kaiwa (percakapan) materinya tentang perkenalan. Mungkin beliau mendengar "Indonesia kara kimashita" (saya dari Indonesia) langsung deh saya dijawil. Kebetulan juga waktu itu kami duduknya saling membelakangi. Reaksi saya pertama kali antara kaget dan senang ketika tahu ada orang Jepang yang mengajak ngobrol Bahasa Indonesia. Nggak nyangka ada orang Jepang yang bisa bicara Bahasa Indonesia dengan baik.

Watanabe-san tinggal di Indonesia dari tahun 1997-2000 ikut suaminya yang saat itu ditugaskan di Jakarta. Jadi selama rentang waktu tersebut, beliau tahu soal reformasi di Indonesia dan hebohnya Jakarta selama era reformasi. Selama tinggal di Jakarta, beliau juga belajar Bahasa Indonesia di UI. Jujur sih, Bahasa Indonesianya masih bagus meski sudah lama nggak ke Indonesia. Salut, deh!

Sewaktu di Yokohama

Dari beliau juga, saya tahu kalau ibu-ibu Jepang yang ada di Jakarta punya kegiatan sosial untuk orang Indonesia. Dan, kegiatan tersebut tetap dilanjutkan meski mereka balik ke Jepang. Bingung ya? Gini ceritanya..

Ibu-ibu Jepang yang tinggal di Jakarta punya komunitas sosial untuk membantu orang Indonesia. Kegiatan yang ditangani macam-macam, salah satunya perpustakaan keliling. Yup, saya hanya ikut kegiatan perpustakaan keliling. Sedangkan kegiatan yang lain saya kurang begitu paham.

#Perpustakaan Keliling di Jepang

Kegiatan utama perpustakaan keliling pastinya menyediakan buku baik untuk anak-anak maupun untuk ibu-ibu. Mereka ingin supaya anak Indonesia suka membaca karena mereka tahu minat baca di Indonesia sangat rendah. Buku-buku yang disediakan ada buku cerita dan pengetahuan, ada buku Indonesia dan terjemahan. Untuk buku terjemahan, tentunya ada juga buku cerita Jepang. Jadi buku-buku terjemahan Jepang ini dikirim melalui KBRI. Nah, yang menerjemahkan buku cerita Jepang yaitu ibu-ibu Jepang yang pernah tinggal di Indonesia dan ibu-ibu Indonesia yang tinggal di Jepang.

Karena saya tinggal di Yokohama, jadi saya tahunya perkumpulan ibu-ibu yang tinggal di kota tersebut. Mereka berkumpul setiap Jumat kedua dan keempat di gedung rakyat (istilah saya sendiri). Gedung tersebut dekat dengan Stasiun Yokohama dan ada 10 lantai. Ibu-ibu tersebut berkumpul di lantai 10. Menariknya, gedung tersebut bisa dipakai siapa saja lho dan gratis. Rame bener gedungnya dan mereka sibuk dengan kegiatan masing-masing tanpa saling mengganggu. Takjub saya, hahahaha. 

Selama ngumpul, ibu Jepang ada yang setor bacaan. Maksudnya, ibu-ibu Jepang sudah menerjemahkan satu buku lalu diserahkan ke ibu-ibu Indonesia. Yup, ibu Indonesia kebanyakan sih hanya mengoreksi susunan kalimat dan kosa katanya saja. Maklum, mereka menerjemahkan memakai kamus dan ada beberapa kata yang asing bagi anak-anak jadi harus disesuaikan penggunaan katanya. 

Ini pengalaman baru bagi saya menjadi editor ala-ala, hahahaha. Bekerja dengan mereka ternyata nggak sembarangan lho. Mereka tuh mengerjakan terjemahan dengan sungguh-sungguh. Saya juga takut karena nggak mudeng Bahasa Jepang tapi untungnya saya masih bisa mengoreksi sedikiiit meski banyak tanya ke ibu-ibu Indonesia yang sudah lama tinggal di sana. Salutnya lagi, mereka bekerja serius tapi santai. Kalau minggu keempat, biasanya sih kami makan-makan. Soal kebiasaan ini, saya ceritain terpisah ya *sok misterius, hahahahaha.

Buku-buku yang sudah diterjemahkan tersebut dikumpulkan di Tokyo, kalau jumlahnya sudah banyak baru dikirim ke KBRI. Kenapa KBRI? biar urusannya gampang, ciiin. Soalnya dulu pernah dikirim langsung ke ekspatriat Jepang yang tinggal di Jakarta, urusannya ribet sama petugas imigrasi, hahahahaha. Jadi, sejak kejadian tersebut mereka mengirim lewat KBRI aja biar gampang. 

#Perpustakaan Keliling di Jakarta

Lokasi kegiatan sosial di Jakarta ada di dua tempat yakni hari Sabtu di Cikini dan Selasa di Matraman. Pertama kali saya ikut yang di Cikini dan membuat saya bengong dengan lokasinya. Perpustakaan kelilingnya ada di semacam rumah singgah yang kecil.

Sumpah, sebagai orang Indonesia, saya nggak nyangka kalau ternyata ada kehidupan di dalam Pasar Cikini. Maksud saya, di dalam pasar ada gang-gang sempit dan kampung bahkan motor bisa lewat. Omaigaaaaatttt!!! Bahkan ada beberapa toko yang ditingkat, lantai bawah untuk jualan sedangkan lantai dua untuk tempat tinggal. Kenapa saya tahu? Karena di lantai 2 banyak banget cucian yang gelantungan dijemur. Wow, lokasi ini benar-benar membuka mata saya tentang kondisi di Indonesia terutama Jakarta. 

Lokasi kedua yaitu di daerah Matraman, sekitar Stasiun Pondok Jati. Tempat untuk membaca lebih luas dan lebih bagus karena ada di PAUD. Jadi lebih enak dan nyaman untuk membaca. Makanya, di Matraman pula jumlah ibu-ibu Jepangnya yang ikut lebih banyak karena kalau di Cikini sempit banget baik tempat membacanya ataupun gangnya. 

Di Dalam PAUD-Matraman
Buku-buku bacaan disusun dengan rapi, diberi sampul dan kode. Begitu juga dengan tempat bukunya. Misal buku yang berkode merah untuk anak usia 2-4 tahun, warna oranye untuk anak 5-8 tahun, buku warna hijau untuk orang dewasa atau ibu-ibu. Semua yang datang membaca tidak boleh makan/minum dan bukunya juga wajib dibaca di tempat, nggak boleh dibawa pulang. Hhhhmmm, aturan sama orang Jepang kudu ketat, euy! Bagus juga, sih.

Karakter masyarakat dan anak-anak di kedua daerah tersebut beda banget. Yang saya rasakan, sambutan dan antusias warga untuk membaca bagus yang di Matraman. Di daerah tersebut, masih banyak anak-anak yang membaca sedangkan ibu-ibunya ada juga yang membaca atau menulis resep. Kalau di Cikini, ibu-ibunya lebih cuek bahkan jarang banget ada yang mampir membaca. Menyedihkan :(

Ibu di Matraman Menulis Resep

Yang namanya kegiatan pasti ada naik turunnya. Kadang rameee banget kadang sepi. Lucunya lagi, kegiatan membaca gratis ini kalah sama odong-odong, hahahahaha. Beneran, kalau ada odong-odong, anak-anak pasti memilih naik kereta-keretaan tersebut. Bahkan ibu-ibu Jepang juga kepengin naik odong-odong, lho. Entah kapan mereka mau naik tapi yang jelas mereka penasaran banget naik odong-odong. Saya cuma tertawa dan mengiyakan saja. Nggak kuat mbayangin ibu-ibu Jepang naik odong-odong diiringi lagu anak-anak. Hahahahahahaha. 

Saat ini, saya lebih banyak ikut kegiatan hari Selasa yang berlokasi di Matraman karena Sabtu saya sudah ada kegiatan baru yang juga menyenangkan. Nanti juga akan saya ceritakan terpisah *sok misterius lagi, hahahahaha. 

Hampir 6 bulan ikut kegiatan tersebut tapi saya sudah mendapat pengalaman yang unik. Salah satunya dari yang nggak tahu soal Frozen sekarang jadi tahu gegara pernah satu hari membacakan buku Frozen 2 kali. Hiyaaaa, anak-anak suka banget sama Frozen, saya sampai bosen membacakan, hahahahaha. Tapi demi mereka, saya ceritakan lagi. 

Dengan mengikuti kegiatan sosial tersebut, mata hati saya juga terbuka. Kegiatan yang saya lakukan hanya secuil dan nggak ada apa-apanya tapi begitu melihat anak-anak membaca atau meminta untuk dibacakan buku, ada kebahagiaan yang saya rasakan. Melihat tawa mereka, melihat keingintahuan mereka, melihat keasyikan mereka sungguh membuat saya terharu dan bersyukur. 

Ada satu anak yang nggak akan saya lupa. Anak tersebut tinggal di Cikini bersama budhe dan kakeknya, bukan bersama orangtuanya. Dia anak berkebutuhan khusus. Dia suka sekali dengan kereta. Ketika saya memperlihatkan buku tentang kereta, pesawat atau mobil, senyumnya lebar sekali. Saya mau menangis tapi saya tahan. Saya hanya ingin melihat dia tertawa dan bahagia, nggak mau membuat yang lain bingung dengan keadaan saya. Bersikap senetral mungkin demi senyumnya. Begini ya rasanya menjadi relawan. Begini ya rasanya meluangkan waktu sebentar untuk anak Indonesia, untuk senyum mereka.

Bahagia Melihat Senyummu, Dek ^-^



Memang, ini hanya kegiatan kecil tapi berkat kegiatan yang kecil ini saya jadi tahu perjuangan mereka bertahan di Jakarta. Kehidupan keras di dalam pasar. Kehidupan di pinggir kali. Melihat kehidupan lain yang ada di Jakarta. Ternyata Jakarta nggak hanya ada cerita kehidupan mewah ala sinetron yang nggak bermutu namun ada juga usaha yang nggak pernah lelah. Yang membuat saya salut, mereka tetap bahagia dengan kesederhanaannya. Jangan lupa, ada senyum anak-anak di sana. Ada harapan anak-anak di sana. Ada masa depan Indonesia bersama anak-anak di sana. 






















Continue Reading…
Powered by Blogger.

Recent Posts

    Follow Me

    Page Views

    Copyright © Pipit Widya | Powered by Blogger
    Design by Saeed Salam | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com