Wednesday, January 13, 2016

Pengobatan Alternatif Masih Banyak Peminat

Terhitung sejak Oktober sampai postingan ini dibuat, saya mendapat email dari para pembaca blog ini. Hampir setiap bulan saya mendapat email dan isinya sama, mereka sebagian besar menanyakan tentang ikhtiar hamil saya di Shinse Sukimin Taryono. Rasanya senang mendapat email dari Teman-teman karena pengalaman yang saya tulis dapat memberikan sedikit informasi tentang pengobatan alternatif tersebut. Selain itu, saya juga mendapat banyak support dan merasa nggak sendiri sebagai PCO fighter. Kami saling menguatkan satu sama lain meski melalui dunia maya. Terima kasih buat perhatian dan support Teman-teman selama ini. Dari beberapa email tersebut, saya dapat mengambil kesimpulan bahwa pengobatan alternatif ternyata masih banyak peminatnya. 

Anehnya, surat elektronik yang menanyakan ikhtiar saya tersebut, kok nggak ada yang menanyakan pengobatan alternatif lain yang pernah saya jalani, ya. Saya pernah berobat ke Eyang Agung yang lokasinya jauh dari rumah saya, yaitu di Ciputat. Padahal cara pengobatan di Eyang Agung seru, lho .^_^. Unik, menarik, dan khas Jawa. Pengalaman seru berobat di Eyang Agung selengkapnya bisa dibaca di sini

Pengobatan alternatif bukanlah hal asing bagi masyarakat Indonesia. Sebelum mengenal pengobatan medis, masyarakat sudah mengenal pengobatan tradisional. Di beberapa daerah, pengobatan dengan cara ini masih digunakan dan banyak peminatnya. Tak terkecuali di kota-kota besar, praktik pengobatan alternatif jumlahnya menjamur dengan metode beragam. Ada yang memakai metode pijat, totok, bekam, bahkan terapi dengan hewan seperti lintah. Semua praktik tersebut dikemas dengan cara berbeda sehingga mempengaruhi biaya pengobatannya pula. Tak tanggung-tanggung, biaya pengobatan di tempat tertentu harganya bisa mencapai jutaan rupiah. 

Meski ada yang tergolong mahal, nyatanya pengobatan alternatif masih banyak peminat dan bisa bertahan di masyarakat modern sampai sekarang. Kenapa? Secara logika, pengobatan medis nggak bisa menjamin pasien sembuh 100%. Sependek pengetahuan saya yang pernah belajar dan bekerja di bidang kesehatan, dokter hanya menganalisa gejala pasien. Obat yang diberikan hanya bersifat sementara dan mengurangi gejala yang diderita oleh pasien. Penyakit akan muncul jika kita kurang menjaga kesehatan atau daya tahan tubuh kita menurun. Dengan begitu, akan timbul berbagai gejala yang mengarah ke penyakit tertentu. 

Maka, sah-sah saja jika masyarakat memilih ke praktik metode secara tradisional . Menurut sebuah sumber yang saya baca di Kompas menyebutkan bahwa pengobatan tradisional ada yang bersifat alternatif dan komplementer. Sebagai pengobatan alternatif, pengobatan tradisional dipilih karena pasien nggak mau menjalani perawatan medis. Sedangkan sifat komplementer, pengobatan ini dipilih untuk melengkapi pengobatan medis. 

Menurut Foster dan Anderson, yang selengkapnya bisa dibaca di sini, ada beberapa faktor yang mempengaruhi masyarakat dalam memilih pengobatan alternatif. Saya nggak akan menulis faktor-faktor tersebut satu per satu. Namun, ada yang menarik dicermati. Salah dua dari berbagai faktor yang ditulis sumber tersebut yaitu faktor ekonomi dan faktor kejenuhan terhadap pelayanan medis.

Menurut saya, kedua faktor ini berhubungan satu sama lain. Masyarakat dewasa ini dihadapkan pada biaya hidup yang tinggi. Mereka harus bekerja keras untuk dapat memenuhi biaya anak sekolah, kebutuhan sehari-hari, dan juga biaya kesehatan. Saya juga merasakan hal itu, terutama biaya untuk kesehatan. Meski saya dan pak suami ditanggung asuransi namun ada limit dalam penggunaan asuransi tersebut. Apabila saya dan pak suami sering berobat ke rumah sakit dan melebihi limit asuransi, maka sisanya ditanggung sendiri. Padahal kita tahu bahwa biaya berobat di kota besar nggak sedikit. 

Saya membayangkan, bagaimana biaya pengobatan masyarakat yang kurang mampu tapi harus berobat demi kesembuhan penyakitnya? Meski sudah ada BPJS, namun belum semua masyarakat memanfaatkan fasilitas tersebut. Mau tak mau mereka harus mengeluarkan uang yang nggak sedikit untuk berobat ke dokter. Keadaan ini tentu membuat mereka berpikir karena biaya pengobatan medis tentu saja mempengaruhi kondisi keuangan mereka. Akhirnya mereka jenuh terhadap pelayanan medis dan beralih ke pengobatan secara tradisional.

Masih ingat kasus Ponari beberapa tahun lalu? Iya, peristiwa itu sangat fenomenal dan sebagian besar pasien Ponari adalah masyarakat menengah ke bawah. Hanya dengan mencelupkan batu ke air yang dibawa pasien, Ponari sangat terkenal dan bisa memperbaiki kondisi keuangan keluarganya. Pasiennya banyak hingga Ponari kelelahan dan dia harus digendong untuk "mengobati" pasiennya. Mereka rela antre berjam-jam demi mendapat tuah dari batunya Ponari. Mereka hanya ingin sehat atau sembuh dengan biaya yang murah. Sekarang, bagaimana nasib Ponari dan pasien-pasiennya? Apakah "dukun" Ponari masih menerima pasien atau enggak? Apakah Ponari masih seramai dulu? Ah, saya sendiri nggak tahu banyak soal itu. Hahaha.

Dalam kasus Ponari, selain ekonomi, tentunya faktor sosial dan budaya sangat berpengaruh kuat di masyarakat. Faktor sosial, yaitu adanya sugesti dari seseorang yang pernah berobat ke Ponari berkembang luas dari mulut ke mulut. Penyebaran ini sangat cepat mengingat tempat tinggal Ponari masih di desa yang masih kuat hubungan kekeluargaannya. Sugesti atau cara pandang tersebut dapat mempengaruhi orang lain sehingga mereka tanpa pikir panjang mendapat sudut pandang yang sama tentang Ponari.

Sedang faktor budaya tentu saja hal ini masih kuat mempengaruhi kehidupan masyarakat kita. Nilai-nilai budaya yang dianut sehari-hari sangat mempengaruhi pola pikir masyarakat. Dan, hal ini pula yang berlaku di masyarakat untuk menerima atau enggak praktik pengobatan alternatif tersebut. Jika ada kecocokan dengan budaya atau suku mereka, maka praktik pengobatan seperti Ponari sangat mudah diterima masyarakat. Karena, semua kebudayaan memiliki cara pengobatan yang berbeda-beda baik ilmiah atau enggak. Apalagi kalau sudah melibatkan unsur supranatural dalam pengobatan tersebut, dapat dipastikan masyarakat akan ramai berbondong-bondong ke sana.  

Saya sendiri mempertimbangkan banyak hal sebelum memutuskan ke Shinse Sukimin. Seperti Teman-teman yang email ke saya. Pastinya Teman-teman ingin tahu pengalaman saya dan informasi tentang shinse tersebut, kan? Saya pun demikian. Saya mencari informasi dengan googling dan berusaha mendapatkan informasi sebanyak-banyaknya. Saya baca pengalaman yang sudah berobat ke sana, saya catat tempatnya, pergi pertama kali dengan sepupu, dan ikuti aturan Shinse. Bagi saya, pengobatan ke shinse ini hanya komplementer, pelengkap dari pengobatan medis yang saya jalani. 

Banyak yang bertanya ke saya, sekarang bagaimana? Apakah saya masih ke Shinse Sukimin? Jujur, sejak saya pindah rumah, saya belum berobat ke mana-mana lagi. Hahaha, maklum uangnya banyak terkuras untuk menambal rumah sana-sini. Memang, ada di saat-saat tertentu saya capek dengan semua pengobatan. Ada waktu di mana saya dan pak suami harus memprioritaskan anggaran keuangan. Saya yakin, Teman-teman yang kasusnya seperti saya juga mengalami hal serupa. Hidup itu pilihan, kan? Hahaha, sok bijaksana banget, ya. Yakinlah, saya saat ini sedang galau.^_^. 

Hhmm, melihat berbagai kejadian di masyarakat, menurut saya, baiknya kita jangan asal memilih pengobatan alternatif. Perhatikan beberapa faktor dan pertimbangkan baik-baik sebelum berobat ke tempat yang dituju. Selalu gunakan akal sehat kita dalam memilih pengobatan-pengobatan itu. Menjalani berbagai pengobatan apa pun nggak akan berhasil dengan baik kalau kita sendiri nggak menjalani pola hidup sehat agar proses pengobatan tersebut lebih mudah dan lebih cepat hasilnya. Makan makanan bergizi, olahraga teratur, kurangi makanan yang mengandung pengawet, dan hindari rokok. Hayo, apakah itu sudah menjadi bagian hidup dari Teman-teman? 




















Continue Reading…

Tuesday, January 12, 2016

Waspada Kejahatan di Sekitar Anak

Kejadian yang saya ceritakan adalah hasil postingan di grup whatsapp ibu-ibu tempat saya tinggal. Selain itu, ada juga cerita dari tetangga saya mengenai kejahatan yang marak terjadi di sekitar anak. Semua kejadian berlangsung di dekat kompleks tempat saya tinggal. Ngeri, ya! Sebagai orangtua, wajar kalau kita harus waspada terhadap kejahatan di sekitar anak. Jangan sampai anak-anak menjadi korban karena kelalaian orangtua atau pengasuhnya.

#Kejahatan Seksual pada Anak

Bulan lalu, grup whatsapp ibu-ibu di kompleks saya tinggal rame dengan postingan yang mengabarkan betapa bahayanya anak-anak sekarang terutama di sekitar kompleks saya. Informasi yang diposting oleh seorang ibu sontak membuat ibu-ibu yang lain bereaksi dan saling mengingatkan satu sama lain.

Sebut saja Ibu A, yang memposting berita tersebut. A memposting foto seorang bapak berusia paruh baya. Di foto tersebut, bapak tersebut kelihatan takut dan dikerubungi banyak orang. Kemudian ada pesan berantai yang menjelaskan tentang foto tersebut. Siapa bapak tersebut? Dan mengapa dia dikerubungi banyak orang?

Menurut informasi yang beredar, bapak berusia paruh baya tadi adalah penjual bakso yang sering menjual dagangannya di salah satu kompleks. Nah, kompleks tersebut letaknya nggak jauh dari kompleks yang saya tinggali. Pedagang bakso tadi memang biasa keliling di kompleks tersebut sehingga warga nggak curiga sama sekali.

Masalah mulai muncul ketika ada seorang anak melapor ke orangtuanya atau perbuatannya diketahui warga, ya (hehe maaf lupa). Bapak tadi dilaporkan melakukan kejahatan seksual pada anak yaitu memegang alat kelamin dan tubuh anak-anak. Aduh, kenapa ini bisa terjadi?

Analisa saya (ceilah), penjual bakso tersebut punya akses ke kompleks jadi dia sudah hafal dengan kondisi kompleks tersebut. Misalnya, kapan kompleks tersebut rame dan sepi. Dia juga tahu kapan anak-anak di tempat itu keluar rumah. Di saat dia sudah hafal dengan keadaan kompleks, maka dia mulai mengatur waktu yang pas untuk melakukan perbuatan jahatnya.

Untungnya, perbuatan keji tadi diketahui dan massa nggak brutal menghakimi bapak tadi. Warga hanya memberi sanksi ke penjual bakso tadi. Dia dilarang berjualan di kompleks tersebut dan membuat surat pernyataan di atas materai enam ribu rupiah. Jika dia mengulangi perbuatan tak senonoh itu lagi maka akan diproses secara hukum. Penjual tadi juga dilarang berjualan di kelurahan yang menaungi wilayah tempat tinggal saya. 

Postingan ini rame diperbincangkan oleh bapak-bapak dan ibu-ibu di kompleks. Mereka takut kejadian tersebut terjadi di kompleks saya. Aduh, amit-amit, jangan sampai ya. Pemikiran mereka, bisa saja penjual bakso tadi alih profesi menjadi pedagang makanan lain. Meski di kompleks saya ada security 24 jam namun hal ini dirasa masih kurang. Justru kepedulian dan peran orangtua dalam mendampingi anak-anaknya selama bermain sangat penting. Untungnya, antar tetangga masih kompak dan saling mengawasi satu sama lain. Kalau ada anak yang berlari agak jauh, si ibu langsung diingatkan dan mengikuti anak tadi. Kalau ada anak yang membeli jajan pasti didampingi orangtuanya. Mereka nggak mau kecolongan dan selalu waspada terhadap kejahatan di sekitar anak mereka.

#Anak Hampir Diculik

Seperti kisah yang diceritakan oleh Ibu B, tetangga saya. Di kompleks yang dekat dengan tempat saya tinggal, konon katanya sistem keamanan di kompleks tersebut bagus banget. Kompleksnya besar dan ada palang pintu elektronik. Nyatanya, untuk masuk ke kompleks tersebut nggak susah-susah banget. Di dalam kompleks tersebut fasilitasnya bagus. Di dalam kompleks tersebut banyak ruko dan ATM sehingga orang lain banyak yang hilir mudik. Misal, kita tinggal bilang ke security, "Mau ke ATM, Pak," maka security percaya begitu saja dan kita bisa masuk dengan mudah.

Masih menurut B, di kompleks tersebut ada masjid yang rame didatangi anak-anak untuk belajar mengaji setiap sore. Di sekitar masjid atau kompleks itu ada mobil yang sering hilir mudik. Orang bawa mobil, pasti penampilan parlente dong dan nggak ada yang curiga kalau ternyata mereka penjahat. Masyarakat nggak tahu siapa orang tersebut, mungkin teman/tamu/saudara salah satu warga di kompleks itu. Bawa mobil, gitu lho. Nggak ada yang tahu kalau di dalam mobil ternyata ada penjahat yang sedang mencari mangsa. Siapa lagi mangsanya kalau bukan anak-anak.  

Ketika sudah menentukan mangsa, mobil tersebut sering wara-wiri karena ingin tahu aktivitas anak yang dijadikan mangsa. Kalau aktivitas anak sudah diketahui, mereka akan mencari kelengahan dan hal ini memudahkan mereka untuk melakukan kejahatannya.  Anak yang diincar diasuh oleh asisten karena orangtuanya kerja. Bisa dibayangkan dong, kalau rumah anak tadi sepi.

Saat siang dan keadaan kompleks sepi, si anak tadi ceritanya sedang tidur. Ndilalah, si mbak pengasuh nggak mengunci pintu gerbang dan pintu utama terbuka sedikit. Keadaan lengah seperti ini tentu sangat disukai penjahat. Mereka mengambil anak tersebut. Untungnya si mbak tahu dan teriak minta tolong. Akhirnya anak tadi selamat tapi sayangnya penjahat berhasil kabur.

Dua kejadian di atas sering banget kita dengar di mana-mana, kan? Di televisi, di koran, di portal berita online banyak yang memberitakan kejahatan pada anak.  Sebagai pembaca atau pendengar berita, kita was-was tapi kadang merasa biasa saja karena hal itu nggak terjadi di lingkungan kita. Tapi ketika tahu hal ini terjadi di dekat tempat tinggal kita, pasti rasanya lain. Ini menandakan bahwa daerah tempat tinggal kita masuk kategori kurang aman. 

Kenyataannya, kejadian-kejadian tersebut terjadi di kompleks yang menerapkan security 24 jam kok ya masih bisa kecolongan? Hal ini bukti kalau hanya mengandalkan security nggak menjamin tempat kita bisa aman 100% dari orang-orang jahat. Modus mereka macam-macam. Bisa saja mereka menjadi penjual tapi nyatanya malah mengintai kondisi kompleks. Bisa saja, kan, mereka pura-pura menjadi konsumen yang mau melihat rumah yang dijual atau dikontrakkan? Atau para penjahat tadi menjadi tamu salah satu warga sehingga security mengizinkan masuk. Penjahat sekarang pintar mencari modus untuk melegalkan usahanya.  

Semua kemungkinan tersebut bisa saja terjadi. Semua modus-modus tersebut bisa terjadi di mana-mana, termasuk tempat tinggal kita. Hanya peran orangtua dan pengasuh anak yang menjadi kunci pengawasan selama anak bermain dan melakukan aktivitas di luar rumah. Jangan sampai mereka lepas dari pengawasan. Dan, jangan abai terhadap tetangga karena peran tetangga juga penting di sini. Mereka bisa membantu mengawasi aktivitas anak, lho. Kondisi lingkungan kita akan aman kalau satu sama lain saling memperhatikan. Bukan dalam taraf kepo tapi memperhatikan untuk keamanan dan kenyamanan bersama. 







































Continue Reading…

Monday, January 11, 2016

Menulis untuk Manusia, Bukan Hanya untuk Mesin

Blogger, sebuah fenomena baru di masyarakat yang saat ini jumlahnya menjamur. Ada yang ngeblog karena sekedar hobi atau sharing pengalaman. Ada yang memang menjadikan predikat blogger sebagai profesi. Dan, ada juga blogger yang menjadikan blognya sebagai alat untuk mengejar materi semata. Sebenarnya ngeblog itu tergantung tujuan dari pemilik blog tersebut. Namun, alangkah baiknya kalau si pemilik blog dapat menulis dengan baik untuk manusia, bukan hanya untuk mesin.

Tulisan blogger di era digital ini tentu menjadi pemasukan utama bagi google, sebuah mesin pencari yang menjadi rujukan pertama orang berburu info onlineLha wong tinggal ketik keyword tertentu, mau cari info apa, tutorial ini-itu, resep ala siapa saja, atau plesir ke tempat sana-sini dan dalam sekejap berbagai informasi tersebut ada. Tinggal klik, mau pilih yang mana. Bayangin saja kalau nggak ada blogger, bakal seperti apa google? Nggak ada blogger, nggak ada artikel. Nggak ada artikel, google nggak ada pengunjung. Kalau nggak ada pengunjung, google dapat uang dari mana? Hahaha, bener kan?

Menjadi blogger itu gampang, tinggal cari tutorial cara bikin blog di google maka dalam 5 menit pasti sudah punya blog. Teorinya memang seperti itu. Tapi ya apa bener menjadi blogger segampang itu? Saya pribadi berpendapat bahwa menjadi blogger itu susah dan harus up to date. Kenapa? Kenyataannya, saya kalau menulis postingan harus mempertimbangkan ini-itu, jangan sampai postingan saya bikin pihak tertentu jadi baper. Harus berpikir pula kalau postingan yang saya bikin meski isinya curhat tapi sebisa mungkin ada yang diambil positifnya oleh pengunjung. Saya nggak mau asal posting yang nantinya malah bikin saya baper sendiri. Saya ingin menulis postingan untuk manusia, bukan hanya untuk mesin. Dan, untuk menulis postingan yang ramah manusia ternyata ada rambu-rambunya, seperti yang telah disampaikan oleh salah satu narasumber di acara Fun Blogging, yang saya ikuti setahun lalu. 

Blogger mana yang nggak senang kalau tulisannya berada di halaman pertama mesin pencari? Apalagi kalau tulisan tersebut nangkring di posisi puncak. Wuih, senangnya nggak ketulungan. Hal ini juga saya alami. Beberapa tulisan saya yang ada di popular post masuk halaman pertama google padahal selama ini saya nggak menerapkan ilmu SEO dengan baik. Iya, saya memang gaptek jadi kalau sudah selesai membikin postingan, saya hanya share ke beberapa media sosial yang saya punya. Lha wong media sosial saja punyanya cuma facebook, twitter, blog, dan G+. Itu pun buat share postingan saja, saya jarang update status, kakaaak. 

Cuma, saya sering sebel sama blogger yang postingannya berada di halaman pertama google karena judul postingannya memang menarik tapi isinya kosong. Mereka memosting tulisan yang nggak nyambung dengan judul yang eye catching tadi. Pernah mengalami seperti ini? Tulisan-tulisan tersebut saya anggap kurang bertanggung jawab dan hanya memenuhi google saja. Istilah kasarnya, mereka nyampah di google. Situs-situs yang nggak bertanggung jawab itu hanya mencari jumlah pengunjung di blognya. Iya, mereka hanya butuh satu klik saja untuk memperbanyak jumlah kunjungan demi menaikkan trafik blognya. Mbok ya jangan seperti itu. Alangkah baiknya kalau kita bisa menulis atau memberi informasi yang berguna atau bermanfaat ke pembaca, kan? Sudah nggak zaman deh menulis yang seperti itu.

Kalau mau menaikkan trafik blog, menulislah yang jujur. Saya yakin, pengunjung yang mampir ke blog kita tentu butuh informasi untuk memecahkan masalahnya. Tulisan blogger yang sebagian besar adalah pengalaman pribadi dianggap mampu sebagai rujukan atas informasi yang dicari tadi. Pengunjung dapat belajar atau bertambah informasinya dari pengalaman yang ditulis blogger. Nah, alasan inilah yang menjadikan konten adalah raja. Kalau isi postingannya menarik, pasti blog tersebut akan banyak pengunjungnya. Kalau blognya rame, maka alexa akan ramping dan indikator-indikator yang terkait dengan performa blog akan menunjukkan data yang signifikan pula. 

Saya memang bukan ahli SEO. Saya memang bukan blogger yang memperhatikan peringkat blog harus baik. Saya hanya ingin berbagi lewat tulisan di blog. Kalau beberapa tulisan saya sempat nangkring di posisi pertama google, ya alhamdulillah. Padahal saya hanya melakukan hal-hal ini :

#Tulisan Asli

Supaya terindex oleh mesin pencari, menulislah yang menarik dan jangan hasil meng-copy tulisan orang lain. Mencari rujukan boleh supaya konten kita lebih berbobot namun tulisan kita jangan sama persis dengan rujukan tersebut. Sebaiknya referensi tersebut divariasi dan dijadikan khas tulisan ala kita.

#Bahasa Sederhana

Membuat postingan sebaiknya dengan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami oleh pengunjung. Kenapa? Karena kita nggak tahu siapa saja orang yang mampir ke blog kita. Setiap orang berbeda dan mereka juga belum tentu paham dengan bahasa yang sangat teoritis. Maka menggunakan bahasa yang sederhana menjadi hal yang saya terapkan selama menulis.

#Tulisan Sesuai EYD

Setelah belajar tentang cara menulis yang baik di Fun Blogging, ternyata tulisan yang sesuai EYD disukai oleh mesin pencari. Di sini bukan berarti tulisan kita harus plek EYD dan terkesan kaku. Buatlah postingan sesuai dengan gayamu namun tetap memperhatikan kaidah EYD. Misalnya, penulisan judul yang baik, pemisahan kata depan dan kata sambung, jumlah baris tiap paragraf, dll. Jangan sampai orang pusing melihat tulisan kita karena nggak ada paragraf atau satu paragraf terlalu panjang.

#Menambahkan Link

Supaya pengunjung betah dan berlama-lama di blog kita, baiknya tautkan link artikel terkait yang pernah kita buat. Dengan cara ini, pengunjung akan penasaran dengan link tersebut, membuka, terus membaca artikel tadi. Mudah-mudahan pengunjung dapat bertambah infonya dan tentu saja jumlah pengunjung kita semakin banyak, kan?

#Minimal 1000 Kata

Saya pernah membaca pembahasan di grup blogger yang saya ikuti tentang salah satu cara biar postingan terindex google yaitu dengan menulis minimal 1000 kata. Karena saya gaptek jadi hanya ini yang saya terapkan. Saya juga nggak mudeng kenapa google suka tulisan yang panjang. Namun, karena saya menulis dari hati dan berdasarkan pengalaman pribadi plus curhat, jadi saya enjoy menulis panjang. Tapi meski panjang, namun konten tetap diperhatikan, nggak asal panjang. 

#Gambar

Kita bisa menambah pengunjung dari gambar yang kita upload. Teorinya gini, kemampuan mesin pencari bukan hanya dari tulisan tapi juga gambar. Malah, gambar juga bisa menjadi hal penting untuk menarik pengunjung. Dengan menambahkan deskripsi tulisan pada gambar terkait maka pengunjung akan tertarik dan langsung klik. Lumayan kan hal ini menambah jumlah pengunjung? Namun, saya masih belajar soal ini. Seringnya saya hanya upload foto terkait tulisan saja tanpa menambah deskripsi foto tersebut. Iya, blogger memang harus banyak belajar.

#Editing

Proses editing juga penting, lho. Sebab, blogger itu mandiri dari mencari bahan, mengumpulkan refernsi dan gambar serta melakukan proses editing. Sebelum di-publish, saya sering mengedit dengan cara membaca postingan preview. Dengan membaca melalui preview, kita akan tahu tulisan kita enak dibaca atau nggak. Kita juga tahu bagian mana yang kurang pas atau salah ketik. Dan, dengan mengedit kadang ada saja ide baru yang bisa menambah isi tulisan. Lakukan self editing ini dengan baik supaya tulisan menjadi enak dibaca. Saat melakukan editing, sebaiknya kita memosisikan diri sebagai pengunjung. 

#Rajin Update 

Saya pernah mampir ke blognya Bibi Titi Teliti yang menceritakan pengalamannya menang ngeblog dan bisa ke Korea gratis. Persyaratan lomba tersebut salah satunya tentang SEO, yang mana mau nggak mau tulisan kudu nangkring di posisi atas google dengan keyword tertentu. Nah, si bibi cerita kalau dia juga gaptek soal SEO dan bertanya pada ahli SEO, supaya tulisan kita bisa on top google. Si ahli SEO tersebut menyarankan supaya Bibi rajin posting setiap hari. Dengan melakukan nasihat itu, postingan bibi bisa bertahan di posisi puncak dan bisa jalan-jalan ke Korea gratis. Kita bisa belajar dari pengalaman orang lain, kan? Menurut saya, rajin update itu obat yang manjur untuk mengatasi berbagai penyakit blogger, hahaha. 

Demikian curhatan saya tentang postingan blog kali ini. Yuk, jadi blogger yang baik dan bermanfaat bagi pembaca. Blogger itu ya menulis untuk pembaca bukan hanya untuk mesin. Pembacanya siapa? Manusia kan? ^-^










































Continue Reading…

Wednesday, January 06, 2016

Resensi "Novel Ayah"

Judul : Ayah
Penulis : Andrea Hirata
Tahun : Cetakan I, Mei 2015
Tebal : 396 Halaman
Penerbit : PT Bentang Pustaka

Ayah, sosok yang tak kalah penting dalam mendidik anaknya. Ia akan melakukan apa pun untuk kebahagiaan anaknya, meski sosok tersebut bukanlah orangtua kandung. Di Novel Ayah ini, saya mendapat pelajaran tentang arti persahabatan, cinta, dan keluarga. 




#Cerita Novel Ayah

Di bab-bab awal, penulis sengaja mengenalkan tokoh-tokoh utama di novel ini secara bergantian dari bab satu ke bab yang lain. Awalnya saya sedikit bingung karena cerita antar bab nggak berhubungan sama sekali. Akhirnya, di salah satu bab Andrea Hirata memusatkan alur cerita yang beruntun dan saling menyambung.

Novel ini menceritakan tentang persahabatan antara Sabari, Ukun, dan Tamat. Mereka berteman sejak sekolah hingga dewasa dengan segala problematikanya, salah satunya tentang cinta. Dikisahkan bahwa Sabari sangat dingin terhadap perempuan. Sedangkan kedua sahabatnya gampang sekali jatuh cinta dengan berbagai gadis, tapi mereka hanya sekedar suka tanpa berani menyatakan perasaannya.

Secara tak sengaja Sabari kenal dengan gadis cantik bernama Marlena, yang akrab dipanggil Lena. Sabari jatuh cinta sejak pandangan pertama. Sayang, Lena sangat membencinya karena rupa Sabari yang tak setampan pria-pria yang dikenalnya. Segala usaha dilakukan Sabari demi mendapatkan perhatian Lena. Akhirnya usaha tersebut berbuah manis karena Sabari dapat menikah dengan Lena yang ternyata sudah mengandung. Lena hamil dengan pria lain, tak tahu siapa ayah dari anak itu. 

Zorro atau Amiru, nama anak tersebut. Kehadiran Zorro telah merubah hidup Sabari menjadi seorang ayah. Meski Zorro bukan darah daging sendiri tapi Sabari sangat mencintainya. Setiap hari Sabari bekerja keras dan merawat Zorro dengan baik. Dia bahagia hidup berdua bersama Zorro. Baginya, Zorro adalah segala-galanya. Bila melihat Zorro, sakit hatinya seakan terobati kalau mengingat Lena yang meninggalkan rumah dan pulang seenaknya. 

Rumah tangga yang tak didasari cinta membuat Lena menggugat cerai Sabari. Bagi Sabari, tak apalah bercerai asal ia masih bisa merawat Zorro, toh selama ini mereka memang hidup berdua. Namun nasib berkata lain, hingga suatu hari Zorro diambil paksa oleh Lena. Ibu dan anak tersebut hidup berpindah-pindah dari satu kota ke kota lain. Karena kecantikannya, Lena menikah lagi. Sayangnya, pernikahan Lena sering diguncang drama sehingga dia kerap bercerai. 

Sepeninggal Zorro, hidup Sabari makin tak tentu. Badan tak terawat, rumah tak diurus, dan ia tak mau kerja. Dia stress berat hingga membuat kedua sahabatnya iba dan berinisiatif mencari Zorro. Tamat dan Ukun rela mencari Lena dan Zorro ke seantero Sumatera. Perjuangan mereka mencari ibu dan anak tersebut penuh liku. Mereka rela melakukan apa saja demi kebahagiaan Sabari dan persahabatan yang telah lama terjalin.

Apakah Sabari dapat bertemu kembali dengan Zorro? Dan, bagaimana kisah cinta antara Sabari dan Lena? Apakah mereka akan bersatu? Silakan dibaca sendiri ya novelnya. Nggak seru dong kalau diceritakan semua di sini, hahaha.

#Bagian yang Disuka

Andrea Hirata dikenal sebagai perangkai kata yang ulung. Setiap kalimat yang ditulisnya sangat indah dan penuh makna. Pemilihan diksi yang tepat membuat kalimat demi kalimat di novel ini enak dibaca. Hal ini membuat Bahasa Indonesia tampak agung karena pilihan katanya banyak. 

Uniknya lagi, di novel ini banyak sekali puisi-puisi yang dibuat sebagai pelengkap cerita. Misalkan, percakapan antara Sabari dengan ayahnya yang saling sahut menyahut menggunakan puisi. Ada pula puisi ketika Sabari meninabobokan Zorro kecil. Puisinya bagus banget dan sangat menyentuh.

Contohnya, puisi yang terdapat di halaman 64. Puisi ini dirangkai oleh Ayah Sabari untuk menyindir anaknya yang sedang jatuh cinta.


Waktu dikejar
Waktu menunggu
Waktu berlari
Waktu bersembunyi
Biarkan aku mencintaimu
Dan biarkan waktu menguji

Bagus kan puisinya?

Selain berbagai macam puisi, di Novel Ayah ini, Andrea Hirata seakan ingin mengabarkan bahwa perbendaharaan Bahasa Indonesia sangat banyak dan bagus. "Kata-kata mencerminkan watak orang yang mengucapkannya." Begitu salah satu dialog dalam novel tersebut yang menyiratkan bahwa kita bisa memakai percakapan menggunakan Bahasa Indonesia yang kaya kosakata indah. 

Andrea juga menuliskan beberapa kata Belitong kuno yang saat ini jarang sekali digunakan dalam percakapan sehari-hari. Misalnya saja, gelaning, hademat, ngayau, dan ketumbi. Hayoo, teman-teman tahu artinya nggak? Di Novel Ayah, kata-kata tersebut diartikan dengan percakapan sederhana dan tak berkesan menggurui.

#Bagian yang Nggak Disuka

Beberapa halaman terutama di awal-awal bab, Andrea sering melakukan pengulangan nama yang nggak perlu. Misal Ukun suka sama A, B, C, D, dst. Penyebutan nama ini terlalu banyak dan sering diulang. Selain itu, ada pula cerita yang terlalu berliku-liku. Misalnya, menceritakan panjangnya hubungan kekerabatan seseorang. Sumpah, urutannya panjang banget. Menurut saya, ini terlalu lebay dan bikin pusing pembaca. Kalau ada banyak nama dan silsilah seperti itu, langsung saya skip.^-^.

#Pelajaran yang Diambil

Setiap karya Andrea Hirata pasti ada nilai yang diambil karena sebagian besar karyanya menceritakan perjuangan hidup orang-orang yang dikenalnya. Perjuangan hidup tersebut dikemas secara apik dengan kata-kata yang mudah dipahami sehingga nggak mengurangi inti cerita. Di Novel Ayah, ada banyak sekali kisah kehidupan yang bisa dipelajari.

Pertama, persahabatan antara Sabari, Ukun, dan Tamat. Kisah mereka membuat saya untuk lebih memahami arti sahabat. Persahabatan yang kuat dan tulus tak akan lekang oleh waktu. Masing-masing akan saling menguatkan dan mencoba melakukan yang terbaik untuk sahabatnya. Seperti kisah Ukun dan Tamat yang rela berjuang keliling Sumatera dengan biaya yang pas-pasan demi kebahagiaan Sabari. Demi melihat hidup Sabari seperti semula. 

Kedua, kisah cinta Sabari dan Lena. Hubungan cinta yang unik karena mereka membangun rumah tangga karena terpaksa dan nggak ada cinta yang seimbang. Yang ada hanya cinta Sabari kepada Lena saja. Sebaliknya, Lena nggak peduli sama sekali dengan pasangannya. Kisah cinta yang pondasinya kurang kuat maka akan rapuh dan berakhir seperti rumah tangga Sabari. Namun, kesetiaan Sabari pada Lena membuat saya menangis dan merinding membaca akhir cerita ini. Sungguh!

Ketiga, perjuangan seorang ayah dalam keluarga. Membaca kisah Sabari yang sangat menyayangi Zorro membuat saya berkaca pada perjuangan bapak. Sabari rela bekerja keras, merawat, dan memberikan yang terbaik untuk Zorro, meski ia bukan anak kandungnya. Sabari selalu mendongeng dan membacakan puisi ketika Zorro mau tidur. Kebiasaan ini membentuk ikatan batin yang kuat antara ayah dan anaknya. Hal ini membuat Zorro selalu teringat sosok Sabari meski dia sudah terpisah jauh dengan ayahnya itu. Zorro juga tumbuh menjadi anak yang pintar dan pandai berpuisi seperti Sabari. Ah, kisah ayah dan anak ini membuat saya kangen pada bapak yang tinggal di Semarang

Keempat, kisah Amiru yang berbakti kepada orangtua. Amiru melanjutkan kursus di kota Bogor dan menjadi salah satu lulusan terbaik. Tawaran bekerja di perusahaan elektronik terkenal di Jakarta pun ditolak. Ia lebih memilih pulang ke Belitong untuk mengurus ayahnya. Ia malah membuka kios reparasi elektronik di kampung halamannya.

Akhir Cerita yang Penuh Kejutan

Novel Ayah akan memberikan kejutan-kejutan di setiap lembarnya. Kejutan kisahnya. Kejutan kalimatnya. Dan, kejutan puisinya.  Di akhir cerita kita akan tahu bagaimana akhir kisah Sabari dan Lena  yang tak disangka oleh pembaca. Kisah cinta yang membuat kita ternganga karena semua yang dikisahkan di novel ini ternyata KISAH NYATA.   











Continue Reading…

Monday, January 04, 2016

Anak Kecil Penyuka Seni Budaya

Saat ini sangat lumrah ketika melihat anak kecil sangat piawai bermain gadget. Mereka cekatan menggerakkan tangan ke kanan-kiri dan ke atas-bawah memainkan piranti tersebut. Sudah biasa. Tapi, ketika ada anak kecil penyuka seni budaya, bagaimana reaksi kita? Pasti agak aneh kan? Beneran tuh ada anak balita yang suka sama seni budaya?

Minggu siang tepatnya setahun lalu di Anjungan Yogyakarta Taman Mini Indonesia Indah, saya janjian dengan sahabat untuk menemani membeli souvenir khas Indonesia. Maklum, suaminya bekerja di anjungan tersebut jadi saya berharap beliau dapat memberi masukan barang yang bagus untuk dijadikan souvenir. Saat tiba di depan galeri yang menjual pernak-pernik khas Yogyakarta, hati saya sumringah melihat dua anak kecil sedang bermain. Salah satu dari mereka yaitu anak sahabat saya yang bernama Daffa, anak kecil penyuka seni budaya.

Daffa anak yang lucu. Tahun ini Daffa memasuki usia yang kelima dan masih belum bersekolah. Wajahnya bulat, pipinya tembem, dan ukuran tubuhnya termasuk besar untuk anak seusianya. Maklum, bentuk tubuhnya mewarisi sang ayah yang tinggi dan besar. Setiap kata yang keluar dari bibirnya membuat saya tertawa karena celotehannya masih cadel khas anak kecil.

Bagi saya, Daffa termasuk anak yang unik. Ibunya sering cerita kalau Daffa suka hal-hal yang bersifat tradisional. Saat umur 2 tahunan, Daffa akan berhenti menangis kalau didengarkan lagu campursari. Daffa juga suka wayang. Saat asyik nonton wayang, dia akan diam memperhatikan permainan dalang. Ketika ada babak komedi pewayangan, dia akan tertawa meski nggak paham dengan apa yang diucapkan dalang. Namanya juga anak kecil, nalurinya seakan tahu apa yang sedang dilihat dan didengarnya. 

Waktu ke anjungan Yogyakarta dan bertemu Daffa secara langsung, saya melihat kakinya refleks berayun disertai goyangan kepala saat mendengar lagu campursari yang diputar di galeri. Saya tersenyum melihat polah lucu si anak tembem itu. Ah, dia memang anak kecil penyuka seni budaya.

Orangtua Daffa merupakan keturunan Jawa. Ayahnya lahir di Klaten dan besar di Jakarta. Sedangkan ibunya lahir dan besar di Solo. Seperti ibunya, Daffa kecil lahir di Solo. Dia hanya numpang lahir saja di sana. Berhubung kedua orangtuanya bekerja di Jakarta maka anak tersebut diboyong ke ibu kota. Wajar kalau anak tersebut kurang fasih berbahasa Jawa karena di lingkungan tempat tinggalnya sehari-hari menggunakan Bahasa Indonesia.

Kebiasaan Daffa yang suka seni dan budaya mungkin ada pengaruh kebiasaan orangtuanya. Maklum, ayah Daffa juga suka mendengarkan lagu campursari. Ringtone di handphone-nya saja lagu khas dari daerah Jawa tersebut. Ayahnya juga suka melihat wayang atau menonton ludruk Kirun di youtube. Sedangkan ibunya sangat piawai membatik. Dia sering diundang ke berbagai acara untuk memeragakan proses membatik. Berdasarkan ceritanya, acara besar yang nggak bisa dilupakan yaitu saat dia membatik di pernikahan akbar Raffi Ahmad-Nagita Slavina. Di acara tersebut, dia bisa keluar-masuk ruangan menggunakan kartu khusus. Pengalaman bertemu para pesohor negeri ini membuatnya bangga karena nggak semua orang bisa punya pengalaman seperti itu.

Daffa suka pernak-pernik yang bernuansa seni budaya. Beberapa mainannya yaitu wayang dan topeng ondel-ondel. Yup, Daffa kecil suka bermain wayang sendiri di rumah. Kalau bermain wayang, meski hanya berkaos dalam, dia nggak pernah lupa memakai blangkon. "Biar kayak pak dalang," katanya. Saya selalu kagum kalau ibunya memasang foto Daffa yang selalu berkostum tradisional sebagai profile picture di whatsapp. 

Dalang Cilik Daffa 

#Bertemu Idola

Baru-baru ini di kesempatan yang berbeda, ibunya cerita kalau Daffa lagi ngefans sama Dimas Tedjo. Teman-teman tahu nggak siapa Dimas Tedjo? Saya juga nggak tahu tapi terus googling karena penasaran. Hayooo, siapa coba? 

Dimas Tedjo adalah penyanyi campursari kelahiran Yogyakarta. Pria muda ini sangat dikenal di daerah Yogyakarta dan Solo. Muda, cakep, dan punya ciri khas. Itu yang saya ketahui sedikit tentang Dimas Tedjo. Iya, usianya yang baru 30-an, tampang cakep, dan penampilannya yang modern membuatnya terkenal sebagai penyanyi campursari di daerah Yogyakarta dan Solo. Satu lagi, kebiasannya memakai blangkon menjadi ciri khasnya untuk manggung di mana-mana sehingga dia juga dikenal dengan sebutan "Dimas blangkon." Kalau penyanyi campursari, saya sih tahunya cuma Didi Kempot, hahaha.

Kesukaan Daffa pada Dimas Tedjo bermula dari ayahnya yang rajin mendengarkan lagu campursari milik penyanyi tersebut. Saking sukanya, ayahnya Daffa juga beli VCD Tedjo. Ayah Daffa punya hampir semua VCD Tedjo. Nah, dari sering melihat dan mendengar lagu-lagu campursari tadi, Daffa jadi tahu Dimas Tedjo dan hafal dengan beberapa lagunya. Menurut ibunya, Daffa suka menyanyi menirukan gaya Tedjo lengkap dengan blangkonnya. Karena kecintaannya pada idolanya pula, saat itu kalau pergi ke mana-mana Daffa pasti memakai blangkon.

Lihat tuh Cincin Akiknya ^-^

Lucunya lagi, Daffa tahu detail penampilan si Tedjo yang ibunya sendiri malah nggak tahu. Suatu hari, tiba-tiba Daffa membeli mainan cincin akik seharga seribu rupiah dan dipamerkan ke ibunya. Tentu saja saat itu ibunya kaget dan menanyakan kenapa beli cincin akik. Kata Daffa, "Biar kayak Om Tedjo." Ketika ibunya ngeh, setelah diperhatikan detail ternyata Tedjo suka memakai cincin. Hahaha, ada-ada saja ya tingkah lucu anak ini.

Saking ngefansnya sama Tedjo, Daffa bilang ke orangtuanya kalau dia pengen bertemu idolanya tersebut. Setiap hari dia menanyakan kapan bisa ketemu sama Om Tedjo. Hati orangtua mana yang tega membiarkan keinginan anaknya nggak keturutan? Dengan segala usaha sana-sini maka ayah dan ibunya mencoba mewujudkan keinginan anaknya tersebut. Usaha orangtua Daffa untuk bertemu Tedjo penuh cerita seru. Mulai dari follow facebook, instagram, sampai telepon ke manajernya. Semua itu dilakukan hanya untuk mengetahui jadwal manggung Dimas Tedjo di Jakarta. Informasi yang didapat secuil apa pun akan ditindaklanjuti tanpa kenal putus asa! Hingga akhirnya ibunya Daffa dapat menelepon langsung Dimas Tedjo. Saat itu reaksi Dimas Tedjo kaget dan tertawa seakan nggak percaya kalau fansnya ada anak kecil yang belum sekolah. 

Usaha keras dan dukungan semesta *halah* akhirnya dapat mempertemukan artis dan fansnya dalam acara hajatan di Ciledug. Semula mereka pesimis karena acara tersebut cukup jauh dari rumahnya yang berada di sekitar TMII. Apalagi orangtuanya Daffa nggak terlalu paham daerah Ciledug karena itu bukan wilayah jelajahnya. Yang namanya usaha keras dan didukung semesta, pasti ada saja jalan. Akhirnya jarak yang cukup jauh TMII-Ciledug dilakoni berkat bantuan seorang teman. Si kawan yang baik hati tersebut mau menemani dari berangkat sampai pulang dan untungnya dia hafal daerah Ciledug.  

Saat hari-H bertemu idolanya, tangis bahagia ibu Daffa pecah ketika melihat anaknya bisa foto bareng dengan Om Tedjo. Daffa juga bisa satu pentas dengan idolanya. Dan, Daffa bisa bersalaman dan nggak penasaran dengan Dimas Tedjo. Plong, lega, gembira, dan haru. Jadi satu perasaan orangtua Daffa ketika berhasil mewujudkan keinginan putranya itu.

Daffa dan Idolanya

Banyak hal yang saya pelajari dari keluarganya Daffa. Perjuangan orangtuanya mengajarkan saya untuk terus berusaha dan nggak menyerah mencapai tujuan. Jungkir balik usaha tersebut nantinya akan menjadi cerita yang menyenangkan. Dan, dari anak kecil yang lucu tersebut membuat saya untuk terus menyukai Indonesia dan seni tradisionalnya.



*Semua foto adalah dokumentasi keluarga Daffa.
Makasih ya Mak buat foto-fotonya.^-^.

















Continue Reading…

Saturday, January 02, 2016

Saya Suka Indonesia

Saya suka Indonesia. Adalah wajar bila yang berkata seperti itu merupakan orang Indonesia. Apalagi jika orang tersebut lahir dan besar di Indonesia. Tapi kalau yang bilang orang asing, baru deh terasa agak aneh di telinga. Kadang terbersit tanya, mengapa mereka suka Indonesia?

Hari Sabtu akhir Desember lalu, berhubung les Bahasa Jepang di UI sedang libur, maka saya memutuskan datang ke perpustakaan keliling di Cikini. Kegiatan sosial yang buku-bukunya dibiayai oleh Jepang tersebut sudah saya ikuti sejak 6 bulan lalu. Ada rasa senang dan kangen ketika mau berangkat hingga saya mengajak pak suami meninggalkan rumah pukul 8 pagi, supaya nggak terlambat. Campur aduk antara senang sekaligus kangen sebab saya sudah beberapa bulan absen ke Cikini sehingga lama tak bersua dengan muka-muka polos yang selalu ceria. Karena terlalu bersemangat, saat itu saya dan pak suami merupakan orang yang pertama kali datang padahal seringnya mendapat predikat termolor. Bahkan pintu di rumah baca belum dibuka.

Pagi itu meski tak banyak ibu-ibu Jepang yang datang tapi suasana rumah baca rame sekali. Bukan saja rame karena banyak anak-anak yang membaca namun ada banyak mahasiwa Jepang yang hadir. Mahasiswa tersebut umumnya baru pertama kali datang ke Indonesia. Mereka sekitar 6 orang beserta 1 dosen. Mahasiswa-mahasiswa tersebut berasal dari Chiba University, The University of Tokyo, dan Toyo University. 

Kebanyakan mahasiswa tersebut laki-laki, hanya ada satu perempuan dalam rombongan itu. Perempuan tersebut rambutnya dicat warna-warni dan bibirnya ditindik. Ia mengingatkan saya pada dandanan anak muda di Harajuku. Ah, ia membuat saya kangen Jepang. Ia membaur bersama kami untuk bercanda bersama anak-anak. Komunikasi campuran antara Bahasa Inggris dan bahasa tubuh membuat saya tersenyum akan kemajemukan manusia di dunia ini. Ketika saya tanya berapa lama di Indonesia, ia menjawab 7 hari, yang akan dihabiskan di Jakarta dan Bali. 

Usai percakapan tersebut saya sibuk membacakan buku kepada anak-anak. Sedangkan perempuan tersebut masih asyik memperlihatkan aneka gambar di buku bacaan dan bercanda dengan anak-anak. Beberapa anak ada yang menanyakan nama dan asal mahasiswa tadi. Anak-anak tampak antusias ketika tahu kakak-kakak tersebut dari Jepang, negara yang mereka kenal lewat gambar kereta di buku yang mereka baca. Tak berapa lama, rombongan mahasiswa tadi pamit untuk sarapan. Maklum, mereka baru saja tiba di Jakarta tengah malam dan pagi itu wajar kalau perut minta diisi. 

Keasyikan membacakan buku membuat saya nggak ngeh kalau di dekat jendela masih ada satu perempuan muda Jepang. Dia duduk di dekat jendela memakai kacamata dan tas punggung. Saya baru menyadari keberadaannya saat merapikan buku, tanda perpustakaan keliling sudah selesai. Dengan ramah, ia menyapa saya dalam Bahasa Indonesia yang fasih, "Selamat siang." Saya pun menjawab dengan sapaan yang sama dilanjutkan berkenalan satu sama lain. Semula saya mengira kalau ia bagian dari rombongan tadi. Ternyata dugaan saya salah dan dari obrolan singkat tadi membuat rasa penasaran saya mulai muncul. 

Namanya Michiho, akrab dipanggil Michi. Ia mahasiswa Osaka University jurusan Bahasa Indonesia. Sejak Agustus lalu ia tinggal di Indonesia dan rencananya belajar Bahasa Indonesia di UIN Syarif Hidayatullah selama setahun. Iya, ia belajar di Universitas Islam Negeri yang ada di Ciputat, Tangerang. Selama di Indonesia, ia ngekos di dekat kampus.

Terus terang, saya agak aneh ketika mengetahui dia belajar Bahasa Indonesia dan kuliah di kampus yang berbasis Islam. Sependek pengetahuan saya, nggak semua orang asing belajar di universitas yang ada embel-embel agamanya apalagi Islam. Karena rasa penasaran yang tinggi, saya memberanikan diri untuk ngobrol lebih lama melalui whatsapp.

Michi san, kuliah Bahasa Indonesia di Jepang?
Iya, saya mahasiswa Bahasa Indonesia di Jepang.

Kok tahu UIN dari siapa?
Dari dosen saya. Dia punya teman di UIN.

Apa belajar Islam juga di UIN? Agamamu apa? Ada masalah nggak dengan itu?
Ya, saya belajar Islam di UIN. Saya Buddhis dan tidak ada masalah dengan itu. Karena saya ingin tinggal di sini dan kebanyakan orang Indonesia Islam, saya juga belajar Islam biar tahu.

Kenapa belajar Bahasa Indonesia?
Saya suka Indonesia. Saya suka makanan Indonesia yang enak dan pedas. Makanan di Jepang asin dan tidak pedas. Karena saya lahir dan besar di Jepang, maka sudah bosan hidup di Jepang. Saya mau bekerja di Indonesia dan menjadi warga negara di sini. Saya mau merasakan tinggal di negara berkembang.

*Agak kaget, sih, saya mendengarnya. Lalu saya tanya lagi.

Kenapa suka Indonesia? Bukannya Jepang lebih nyaman dibanding Indonesia?
Bagi saya cukup nyaman kok tinggal di sini. Indonesia orangnya ramah dan makanannya enak. Saat ini, Indonesia berkembang dan baru-baru ini banyak perusahaan Jepang memulai bisnis di Indonesia. Saya mau bekerja di perusahaan seperti itu. 

***

Jawaban Michi membuat saya tersenyum. Bukan kali ini saja saya bertemu orang Jepang yang bilang kalau mereka suka Indonesia. Pertama kali bertemu ibu-ibu dari negeri matahari terbit baik di negara asalnya sendiri maupun di Indonesia, pasti mereka bilang suka Indonesia. Dalam hati, apakah pernyataan mereka cuma basa-basi di depan saya? Hhmm, kalau dibandingkan dengan negara asal mereka yang maju, canggih, dan nyaman tentu pernyataan mereka agak nggak masuk akal. Bayangkan saja, di Indonesia apalagi Jakarta terkenal macet. Belum lagi masyarakatnya masih kurang disiplin, beberapa bagian semrawut, kurang nyaman, dll. Apa menariknya Indonesia bagi mereka? 

Sudah jamak yang tahu kalau negeri ini kekayaan alamnya melimpah. Sayangnya, banyak masyarakat yang mengakuinya tapi kurang memanfaatkan dengan baik. Selain itu, kurangnya kesadaran akan bangga menjadi orang Indonesia membuat rasa memiliki dan melihat potensi alam ini masih rendah menyebabkan hal ini lebih banyak dikuasai asing. Sehingga, eloknya kekayaan negeri ini tertutup oleh sisi negatifnya saja. Padahal kalau potensi tersebut dikelola dengan baik maka julukan sebagai negara penghasil kekayaan alam yang membanggakan secara global akan lengkap jika dapat menghasilkan pundi-pundi rupiah yang jumlahnya nggak sedikit. 

Nah, peluang besar ini yang saat ini banyak dilirik negara asing, misalnya Jepang. Kalau diperhatikan secara seksama, ekspansi Jepang saat ini bukan hanya di bidang elektronik dan kendaraan saja namun lebih dari itu. Coba tengok ke mini market atau pasar swalayan di bagian makanan dan minuman. Di situ banyak banget produk-produk dari Jepang asli atau yang berkoporasi dengan perusahaan Indonesia. Bahkan, di Tangerang sudah ada Mall AEON yang sangat identik dengan Jepang. Sebagian besar outletnya menyediakan kuliner atau produk Jepang. 

Banyak yang tahu kalau Indonesia sangat pesat pertumbuhan ekonominya. Menurut laporan Boston Consulting Group yang sumbernya bisa dibaca di sini, Indonesia bakal menjadi negara yang besar di Asia apalagi didukung dengan potensi demografinya. Jumlah penduduk Indonesia yang terbesar ke-4 di dunia dengan usia produktif yang lebih besar dibanding non produktif merupakan potensi yang sangat bagus. Populasi masyarakat kelas menengah diperkirakan akan terus meningkat. 

Jumlah penduduk yang besar dengan jumlah kelas menengah yang terus meningkat merupakan pasar yang potensial. Apalagi kualitas penduduk Indonesia yang semakin lama semakin baik menandakan potensi daya saing yang hebat. Jika Indonesia dapat mengolah dan memasarkan segala potensi yang dimiliki, kita akan menjadi negara yang sangat diperhitungkan di ekonomi dunia. 

Meski sekarang banyak sekali produk asing membanjiri pasar Indonesia namun sejatinya ada tren yang bagus di masyarakat. Saat ini, banyak sekali muncul pengusaha-pengusaha muda yang mengolah kekayaan alam Indonesia menjadi produk lokal yang berkualitas bahkan banyak yang menembus pasar internasional. Hal ini didukung dengan pemasaran online yang sangat mudah sehingga pemasaran produk menjadi lebih cepat. Artinya, pemasaran produk yang cepat berbanding lurus dengan lapangan kerja yang semakin terbuka. Karena industri ini banyak menyerap tenaga kerja diharapkan jumlah pengangguran akan berkurang dan masyarakat berpenghasilan jumlahnya bertambah. 

Tentunya kita patut bersyukur akan potensi yang ada di negeri ini. Nggak banyak, lho, negara yang punya karunia seperti Indonesia. Contohnya Jepang *lagi* hahaha, yang saat ini punya masalah yang besar di demografinya. Jumlah penduduk usia non produktif di Jepang lebih banyak dibanding yang produktif. Kata salah satu ibu Jepang yang saya kenal, anak muda Jepang saat ini banyak yang nggak mau menikah atau beberapa ada yang malas punya anak. Keadaan ini tentu berbahaya bagi Jepang sendiri karena penduduknya sedikit jadi diperkirakan kelangsungan hidup akan terancam punah. Bahkan ada wilayah di Jepang yang dikenal dengan "pulau kucing" karena populasi kucing yang ada melebihi jumlah manusia di pulau tersebut. Informasi mengenai pulau tersebut bisa dibaca di sini

Hhmm, nggak mau juga kan kalau negeri kita seperti itu? Atau kekayaan kita dikuasai negara lain? Orang asing saja suka Indonesia, lho. Masak kita nggak? Bangga dong jadi orang Indonesia.^-^.





















Continue Reading…

Friday, January 01, 2016

Resolusi dan Ramalan Tahun Baru

Halo, selamat tahun baru, ya! 
Semoga tahun ini lebih baik dari tahun kemarin. Aamiin.^-^.

Menjelang awal tahun, hal yang sering diperbincangkan banyak orang tak lepas dari nuansa baru menyambut pergantian angka yang menandai tahun sudah berubah. Berbagai persiapan untuk merayakan malam tahun baru selalu menjadi topik hangat di mana-mana. Di sejumlah media baik cetak, televisi, radio, ataupun elektronik juga memperbincangkan hal yang biasanya menjadi lecutan untuk mengawali tahun. Biasanya yang sering diperbincangkan sebagai penyemangat menyambut datangnya tahun yaitu resolusi dan ramalan tahun baru. 

Di akhir tahun atau mendekati perayaan tahun baru, banyak banget acara televisi yang mendatangkan bintang tamu seorang tokoh yang katanya bisa memprediksi hal-hal apa saja yang bakal terjadi di tahun baru. Dan, apa yang dibahas tersebut kadang menjadi berita hangat saat itu juga apalagi yang berkaitan dengan kehidupan selebritas. Jujur, untuk yang ini saya angkat angan karena sudah nggak mengikuti acara infotainment, hahaha. 

Nggak mau ketinggalan, coba tengok saja di berbagai media cetak baik koran maupun majalah. Masing-masing berita cetak menampilkan peruntungan nasib berdasarkan ahli fengshui, hongshui, ahli astrologi, dan ahli-ahli lainnya untuk bicara mengenai apa yang bakal rame di tahun yang baru. Kalau di radio dan obrolan sesama teman, biasanya yang dibahas tentang resolusi tahun baru. Pertanyaan yang sering diajukan biasanya seperti ini, "Apa, sih, resolusimu di tahun baru?" 
Bener, kan?

#Resolusi Tahun Baru

Menurut Wikipedia Indonesia yang uraiannya nggak jauh beda dengan Wikipedia berbahasa Inggris, menyebutkan bahwa resolusi tahun baru merupakan tradisi yang umum terjadi di mana pun. Inti dari sebuah resolusi yaitu seseorang melakukan perbaikan atas dirinya sendiri.  

Saya pun nggak mau ketinggalan dan pernah membuat resolusi tahun baru. Kebanyakan orang mencatat resolusi tersebut di sebuah buku atau di handphone. Setiap beberapa minggu atau bulan, biasanya catatan tersebut ditengok lagi. Si pencatat akan melihat apakah beberapa resolusi tersebut sudah tercapai atau belum. Jika belum, masih berapa banyak PR yang harus dikerjakan?  

Banyak resolusi yang dibuat di awal tahun nggak tercapai. Saya pun mengalami hal ini, hahaha. Tahun 2014 saya pernah membuat catatan resolusi. Ada beberapa poin cita-cita yang ingin saya capai di tahun tersebut. Kenyataannya, resolusi tersebut saya ubah lagi di pertengahan tahun. Hahahaha, macam perubahan anggaran di kantor pemerintah saja.

Resolusi yang sudah dirubah tersebut beberapa ada yang tercapai dan ada yang nggak. Senang dan syukur saya ucapkan ketika salah satu impian dapat tercapai, yaitu saya bisa pindah rumah. Untuk mewujudkan itu memang butuh usaha yang nggak sedikit. Perlu pengaturan skala prioritas sehingga hal-hal yang kurang perlu dikesampingkan dulu.

Sedangkan resolusi yang dari dulu nggak pernah berubah dan belum tercapai yaitu mempunyai anak. Sampai saat ini saya masih berpikiran positif dan berusaha meski kadang capek dan lelah. Tapi, semua itu mengajarkan saya banyak hal. Masalah anak itu urusan Tuhan, kita sebagai manusia hanya melakukan yang enak saja. Itu kelakar teman saya. Bener juga, ya? hahaha.    

Kegagalan dalam pencapaian resolusi sejalan dengan sebuah studi tahun 2007 yang dilakukan oleh Richard Wiseman dari Universitas Bristol. Studi tersebut menyatakan bahwa 88% dari 3.000 responden gagal mewujudkan resolusi mereka (dari sumber ini). 

Alasan banyak yang gagal dalam mewujudkan resolusi karena mereka menulis resolusi yang nggak masuk akal, ada yang nggak fokus ke tujuan, bahkan ada yang lupa dengan resolusinya. Lucunya, satu dari 10 responden menyatakan bahwa mereka mampu mencapai beberapa target. 

Banyak orang membuat resolusi agar kehidupannya lebih baik namun banyak pula yang lupa dan nggak fokus pada tujuannya sendiri. Hal ini nggak beda jauh sama saya, hahahaha. Sejak tahun lalu saya sudah nggak bikin resolusi lagi karena malu banyak yang nggak tercapai. Saya hanya punya resolusi yang sama setiap tahunnya. Resolusi tersebut cukup saya ucapkan dalam hati, nggak perlu dicatat. Setiap tahun saya hanya ingin menjadi orang yang lebih baik. Udah, itu tok!

Ternyata ini juga nggak gampang dilakukan, ya. Dalam ngeblog, misalnya. Kadang-kadang semangat untuk ngeblog masih naik-turun. Di awal-awal tahun, mulanya semangat ngeblog tinggi sekali bahkan Januari saya bikin 40 postingan, melebihi jumlah hari di bulan itu. Lalu makin lama makin turun jumlah postingannya. Bahkan di Bulan November saya nggak bikin postingan sama sekali. Dan, jumlah postingan dari tahun 2014 ke 2015 hanya naik 3 postingan saja. Duh, semoga semangat untuk ngeblog selalu stabil, ya. 

#Ramalan Tahun Baru

Seperti yang saya utarakan di atas, saat penghujung tahun di media cetak banyak tulisan tentang ramalan tahun baru. Di Indonesia, biasanya masih menggunakan ramalan ilmu kuno dari China yang sudah melegenda. Shio teman-teman yang biasanya dilambangkan dengan berbagai hewan akan diterawang sesuai shio yang menjadi lambang di tahun baru. Para ahli ilmu ini akan mengutarakan shio apa yang beruntung di tahun tersebut. Begitu pula sebaliknya, shio-shio yang dianggap kurang beruntung dianjurkan untuk lebih waspada. Ahli astrologi juga nggak mau ketinggalan. Mereka juga punya porsi untuk melihat peruntungan melalui zodiak.

Di media cetak baik koran atau majalah, ramalan tahun baru mempunyai porsi halaman yang lumayan banyak. Kenapa bisa begitu? Karena hal-hal yang dibahas dalam ramalan juga banyak meliputi rezeki, kesehatan, dan asmara. Tak ketinggalan, ada juga yang membahas pertarungan politik di tahun yang baru, apakah suasananya lebih adem atau malah semakin panas.

Semua hal-hal yang dibahas tersebut nggak jauh dari kehidupan manusia itu sendiri. Banyak orang yang ingin sekedar tahu atau malah nggak mau tahu sama sekali. Itu urusan masing-masing pribadi, sih. Hanya saja, media cetak merupakan perusahaan yang ingin meraup untung dengan memanfaatkan apa yang sedang terjadi di masyarakat. Mereka menghadirkan tulisan dengan narasumber yang nggak main-main juga. Bagi sebagian orang, ramalan tersebut dianggap sebagai pengingat untuk lebih baik menjalani kehidupan di tahun yang baru. Dan bagi sebagian yang lain, mereka tetap menjalani hidup tanpa memusingkan apa kata ramalan.  

Ngomong-ngomong soal ramalan, dulu waktu masih ABG, saya suka membaca ramalan zodiak terutama yang berhubungan dengan uang dan asmara. Hahaha, maklum waktu itu masih sekedar ingin gaul dengan teman-teman. Apalagi beberapa teman saya banyak yang berlangganan majalah Gadis, Aneka, dan Hai. Majalah remaja populer di era 90-an, ya. Kalau ada majalah baru, yang dibuka pertama kali biasanya ramalan zodiak, hahaha.

Saat ini, sebagai blogger *uhuk* tentunya saya nggak mau ketinggalan ramalan juga, dong. Bukan, saya bukan meramal hal-hal yang memang nggak saya ketahui. Saya hanya ingin sharing tentang salah satu senjata andalan blogger yaitu media sosial.

Blogger nggak lepas dari media sosial dengan segala hiruk pikuknya karena peralatan utama bagi blogger tentu saja internet. Seperti yang kita tahu, saat ini pesona media sosial masih cetar dan mempesona. Jumlah pengguna media sosial akan meningkat seiring murahnya harga handphone dan paket internet. Bahkan, dengan adanya perkembangan di sana-sini memungkinkan informasi dapat menyebar secara cepat dan luas hanya dengan sekali klik. Iya, penyebaran informasi hanya butuh jari, nggak perlu koar-koar ke sana-sini segala. Maka nggak heran, saat ini banyak sekali selebritas dunia maya bermunculan baik dari dunia blog, youtube, instagram, dll. Karena perkembangannya yang pesat inilah diperkirakan tahun 2016 akan banyak keramaian di media sosial.

Semakin ramenya media sosial kalau nggak bisa dimanfaatkan dengan baik bisa saja menimbulkan masalah. Berbagai persoalan yang muncul bisa dikarenakan kelalaian diri sendiri dalam memposting sesuatu. Di dunia maya, apa pun yang sudah diposting akan meninggalkan rekam jejak baik tulisan atau gambar. Misalnya, postingan yang awalnya hanya untuk selfie atau untuk kenang-kenangan jika dilakukan di tempat dan waktu yang salah maka akan mendapat reaksi beragam dari masyarakat. Mungkin ini yang menjadi dasar permasalahan dunia maya bahwa apa yang kita posting belum tentu persepsinya sama dengan yang melihat. Seperti kita tahu, orang yang melihat dan membaca postingan tersebut jumlahnya banyak. Jumlahnya bisa mencapai ribuan dalam beberapa jam saja dan hanya dengan sekali klik. Yup, SEKALI KLIK!

Seperti kasus-kasus yang terjadi sebelumnya, masalah penghinaan atau pencemaran nama baik diperkirakan masih banyak terjadi. Meski sudah ada UU ITE (Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik), yang namanya pribadi tiap orang berbeda. Contoh, ada yang memposting hal yang dapat membuat segolongan atau beberapa pihak tersinggung. Parahnya lagi, postingan tersebut dibuat saat sedang marah sehingga ia merasa dapat melampiaskan emosinya. Dan, dengan sekali klik, postingan tersebut menyebar ke mana-mana, di-screencapt oleh banyak orang dan di-share di grup sana-sini. Apa yang terjadi? Dapat dipastikan, si pembuat postingan akan di-bully oleh pihak yang tersinggung tersebut. Bahkan, bisa saja postingan tadi menjadi topik bernas di berbagai media yang membuat pihak kepolisian turun tangan. Jangan sampai mengalami kejadian seperti ini, deh!

Saya pernah mengalami kejadian yang membuat khilaf padahal saya tipikal orang yang nggak terlalu aktif di media sosial. Tahun lalu, saya pernah membuat postingan yang dapat membahayakan diri sendiri jika itu dibaca oleh orang yang nggak bertanggung jawab. Untungnya, ada seorang teman yang mengingatkan dan langsung saya hapus postingan tersebut. Dag-dig-dug nggak karuan rasanya setelah kejadian tersebut. Bagi yang sudah mengingatkan, terima kasih, ya. ^-^.

Sejak kejadian tersebut, setiap akan memposting sesuatu apakah itu tulisan, status di facebook, atau gambar maka saya akan berpikir beberapa kali. Apakah itu layak untuk diposting di jagat maya? Apakah itu aman dan nggak menimbulkan konflik sana-sini? Dan, saya selalu menghindari memposting saat marah karena takut kalau kemarahan tersebut membuat pihak tertentu melaporkan postingan itu ke pihak yang berwenang. Jadi, bijaklah dalam berinteraksi di media sosial.

Di tahun yang baru ini, apa saja resolusi teman-teman? Dan, ramalan apa saja yang bakal menjadi trending topic selanjutnya? Hhmm, semoga saat ini dan esok akan lebih baik dari sebelumnya, ya. Karena sejatinya manusia menginginkan kehidupan yang lebih baik setiap saat tanpa harus menunggu bergantinya tahun.
























Continue Reading…
Powered by Blogger.

Recent Posts

    Follow Me

    Page Views

    Copyright © Pipit Widya | Powered by Blogger
    Design by Saeed Salam | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com