Tuesday, January 12, 2016

Waspada Kejahatan di Sekitar Anak

Kejadian yang saya ceritakan adalah hasil postingan di grup whatsapp ibu-ibu tempat saya tinggal. Selain itu, ada juga cerita dari tetangga saya mengenai kejahatan yang marak terjadi di sekitar anak. Semua kejadian berlangsung di dekat kompleks tempat saya tinggal. Ngeri, ya! Sebagai orangtua, wajar kalau kita harus waspada terhadap kejahatan di sekitar anak. Jangan sampai anak-anak menjadi korban karena kelalaian orangtua atau pengasuhnya.

#Kejahatan Seksual pada Anak

Bulan lalu, grup whatsapp ibu-ibu di kompleks saya tinggal rame dengan postingan yang mengabarkan betapa bahayanya anak-anak sekarang terutama di sekitar kompleks saya. Informasi yang diposting oleh seorang ibu sontak membuat ibu-ibu yang lain bereaksi dan saling mengingatkan satu sama lain.

Sebut saja Ibu A, yang memposting berita tersebut. A memposting foto seorang bapak berusia paruh baya. Di foto tersebut, bapak tersebut kelihatan takut dan dikerubungi banyak orang. Kemudian ada pesan berantai yang menjelaskan tentang foto tersebut. Siapa bapak tersebut? Dan mengapa dia dikerubungi banyak orang?

Menurut informasi yang beredar, bapak berusia paruh baya tadi adalah penjual bakso yang sering menjual dagangannya di salah satu kompleks. Nah, kompleks tersebut letaknya nggak jauh dari kompleks yang saya tinggali. Pedagang bakso tadi memang biasa keliling di kompleks tersebut sehingga warga nggak curiga sama sekali.

Masalah mulai muncul ketika ada seorang anak melapor ke orangtuanya atau perbuatannya diketahui warga, ya (hehe maaf lupa). Bapak tadi dilaporkan melakukan kejahatan seksual pada anak yaitu memegang alat kelamin dan tubuh anak-anak. Aduh, kenapa ini bisa terjadi?

Analisa saya (ceilah), penjual bakso tersebut punya akses ke kompleks jadi dia sudah hafal dengan kondisi kompleks tersebut. Misalnya, kapan kompleks tersebut rame dan sepi. Dia juga tahu kapan anak-anak di tempat itu keluar rumah. Di saat dia sudah hafal dengan keadaan kompleks, maka dia mulai mengatur waktu yang pas untuk melakukan perbuatan jahatnya.

Untungnya, perbuatan keji tadi diketahui dan massa nggak brutal menghakimi bapak tadi. Warga hanya memberi sanksi ke penjual bakso tadi. Dia dilarang berjualan di kompleks tersebut dan membuat surat pernyataan di atas materai enam ribu rupiah. Jika dia mengulangi perbuatan tak senonoh itu lagi maka akan diproses secara hukum. Penjual tadi juga dilarang berjualan di kelurahan yang menaungi wilayah tempat tinggal saya. 

Postingan ini rame diperbincangkan oleh bapak-bapak dan ibu-ibu di kompleks. Mereka takut kejadian tersebut terjadi di kompleks saya. Aduh, amit-amit, jangan sampai ya. Pemikiran mereka, bisa saja penjual bakso tadi alih profesi menjadi pedagang makanan lain. Meski di kompleks saya ada security 24 jam namun hal ini dirasa masih kurang. Justru kepedulian dan peran orangtua dalam mendampingi anak-anaknya selama bermain sangat penting. Untungnya, antar tetangga masih kompak dan saling mengawasi satu sama lain. Kalau ada anak yang berlari agak jauh, si ibu langsung diingatkan dan mengikuti anak tadi. Kalau ada anak yang membeli jajan pasti didampingi orangtuanya. Mereka nggak mau kecolongan dan selalu waspada terhadap kejahatan di sekitar anak mereka.

#Anak Hampir Diculik

Seperti kisah yang diceritakan oleh Ibu B, tetangga saya. Di kompleks yang dekat dengan tempat saya tinggal, konon katanya sistem keamanan di kompleks tersebut bagus banget. Kompleksnya besar dan ada palang pintu elektronik. Nyatanya, untuk masuk ke kompleks tersebut nggak susah-susah banget. Di dalam kompleks tersebut fasilitasnya bagus. Di dalam kompleks tersebut banyak ruko dan ATM sehingga orang lain banyak yang hilir mudik. Misal, kita tinggal bilang ke security, "Mau ke ATM, Pak," maka security percaya begitu saja dan kita bisa masuk dengan mudah.

Masih menurut B, di kompleks tersebut ada masjid yang rame didatangi anak-anak untuk belajar mengaji setiap sore. Di sekitar masjid atau kompleks itu ada mobil yang sering hilir mudik. Orang bawa mobil, pasti penampilan parlente dong dan nggak ada yang curiga kalau ternyata mereka penjahat. Masyarakat nggak tahu siapa orang tersebut, mungkin teman/tamu/saudara salah satu warga di kompleks itu. Bawa mobil, gitu lho. Nggak ada yang tahu kalau di dalam mobil ternyata ada penjahat yang sedang mencari mangsa. Siapa lagi mangsanya kalau bukan anak-anak.  

Ketika sudah menentukan mangsa, mobil tersebut sering wara-wiri karena ingin tahu aktivitas anak yang dijadikan mangsa. Kalau aktivitas anak sudah diketahui, mereka akan mencari kelengahan dan hal ini memudahkan mereka untuk melakukan kejahatannya.  Anak yang diincar diasuh oleh asisten karena orangtuanya kerja. Bisa dibayangkan dong, kalau rumah anak tadi sepi.

Saat siang dan keadaan kompleks sepi, si anak tadi ceritanya sedang tidur. Ndilalah, si mbak pengasuh nggak mengunci pintu gerbang dan pintu utama terbuka sedikit. Keadaan lengah seperti ini tentu sangat disukai penjahat. Mereka mengambil anak tersebut. Untungnya si mbak tahu dan teriak minta tolong. Akhirnya anak tadi selamat tapi sayangnya penjahat berhasil kabur.

Dua kejadian di atas sering banget kita dengar di mana-mana, kan? Di televisi, di koran, di portal berita online banyak yang memberitakan kejahatan pada anak.  Sebagai pembaca atau pendengar berita, kita was-was tapi kadang merasa biasa saja karena hal itu nggak terjadi di lingkungan kita. Tapi ketika tahu hal ini terjadi di dekat tempat tinggal kita, pasti rasanya lain. Ini menandakan bahwa daerah tempat tinggal kita masuk kategori kurang aman. 

Kenyataannya, kejadian-kejadian tersebut terjadi di kompleks yang menerapkan security 24 jam kok ya masih bisa kecolongan? Hal ini bukti kalau hanya mengandalkan security nggak menjamin tempat kita bisa aman 100% dari orang-orang jahat. Modus mereka macam-macam. Bisa saja mereka menjadi penjual tapi nyatanya malah mengintai kondisi kompleks. Bisa saja, kan, mereka pura-pura menjadi konsumen yang mau melihat rumah yang dijual atau dikontrakkan? Atau para penjahat tadi menjadi tamu salah satu warga sehingga security mengizinkan masuk. Penjahat sekarang pintar mencari modus untuk melegalkan usahanya.  

Semua kemungkinan tersebut bisa saja terjadi. Semua modus-modus tersebut bisa terjadi di mana-mana, termasuk tempat tinggal kita. Hanya peran orangtua dan pengasuh anak yang menjadi kunci pengawasan selama anak bermain dan melakukan aktivitas di luar rumah. Jangan sampai mereka lepas dari pengawasan. Dan, jangan abai terhadap tetangga karena peran tetangga juga penting di sini. Mereka bisa membantu mengawasi aktivitas anak, lho. Kondisi lingkungan kita akan aman kalau satu sama lain saling memperhatikan. Bukan dalam taraf kepo tapi memperhatikan untuk keamanan dan kenyamanan bersama. 







































14 comments:

  1. kalau mengetahui berbagai macam kejahatan di sekitar anak, suka bikin saya merinding. Rasanya pengen sangat memproteksi anak dengan membuatnya gak boleh kemanapun. Tapi tentunya seperti itu juga gak baik. Selalu berusaha waspada. Dan berdoa semoga anak-anak selalu dilindungi oleh Nya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Meski belum punya anak, saya juga merinding baca berita kejahatan pada anak.
      Aamiin utk doanya.

      Delete
  2. Aku jg serem mba dgr cerita2 kejahatan ke anak gini -_- . makanya dia dr awal ak ajarin jg utk ga mw deket gitu aja ama org asing, ato nerima pemberian apapun juga dr org asing. Anaknya sih ngerti kalo diksh tau, tp moga2 beneran bisa nerapin kalo ktemu situasi bgitu. Tapi amit2 jgn deh...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semoga anak2 dapat terhindar dari kejahatan apa pun. Aamiin.

      Delete
  3. para orangtua pastinya harus mengawasi dan menjaga anaknya ya, pastinya selalu dikasih tau juga agar mereka bisa membedakan mana orang baik dan yg nggak baik :)

    ReplyDelete
  4. Benar mbak Pipit. Jaman sekarang modus kejahatan sudah bertambah macamnya, kita sebagai orang tua harus lebih waspada dan jangan sampai anak-anak lepas dari pengawasan kita meskipun mereka hanya main di komplek saja.

    Anaka-anak juga harus selalu ditanya apa kegiatan mereka hari ini supaya mereka bisa bercerita dan kalau ada hal yang mencurigakan kita bisa tahu lebih cepat :)

    ReplyDelete
  5. saya baca di facebook yang tukang bakso itu..hadeuh serem ya mba

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hooo, saya malah ga tau klo nyebar di facebook.

      Delete
  6. yang sempet ramai di fb itu bukan ya mb???duh...ngeri ya mb idup di jaman sekarang, di komplek yang ada sekuritynya aja masih ada orang orang cabul...kudu ati ati dan makin waspada

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ga tau mba. Sosmedku buat share postingan aja. Jarang ngikutin perkembangan dunia maya secara detail. Hehe.

      Delete
  7. Sahabatku ada yg jadi guru bimbel. Murid2nya sering cerita kalau pedagang2 jajanan di sekolahnya itu sering menunjukkan gesture nggak senonoh. Hati2 aja deh.

    ReplyDelete
  8. sebagai kakak saya selalu berhati hati untuk majaga adik ..
    btw tulisnya menginspirasi , makasih mbka..

    ReplyDelete

Powered by Blogger.

Recent Posts

    Follow Me

    Page Views

    Copyright © Pipit Widya | Powered by Blogger
    Design by Saeed Salam | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com