Monday, February 15, 2016

Tinggal di Kampung atau Kompleks?

Pada November tahun lalu, saya nggak ngeblog sama sekali. Selama vakum tersebut, saya iseng membuka blogger dashboard dan ngeklik search keyword. Dari beberapa search keyword, ada yang menarik karena kata-kata yang dicari oleh pembaca belum pernah ada di postingan blog ini. Ada pembaca yang nyasar ke blog ini dengan keyword seperti judul di atas "Tinggal di Kampung atau Kompleks?" Ngomong-ngomong, dengan membuka search keyword ternyata bisa menambah ide postingan blog, lho. Hahahaha. 

Saya akan berbagi sedikit pengalaman bagaimana rasanya tinggal di kampung atau kompleks. Kebetulan, saya pernah merasakan tinggal di kedua pemukiman tersebut. Rasanya tentu beda tinggal di kampung atau kompleks namun itu semua balik ke diri kita masing-masing. Kalau kita enjoy, ya nggak masalah tinggal di pemukiman tersebut. Namun, ada lho orang yang belum pernah atau malah nggak mau tinggal di kampung dengan berbagai alasan. Mungkin pengalaman yang akan saya bagi berikut ini dapat menjadi alasan-alasan tersebut.

#Tinggal di Kampung

Saya akan membagi cerita saat tinggal di kampung dalam dua waktu, yaitu sebelum dan sesudah menikah. Dari kecil sampai mau menikah, saya tinggal bersama orangtua di Semarang. Sedangkan awal-awal nikah dan punya rumah sendiri, saya dan pak suami tinggal di kampung orang bukan di kompleks. Saya merasa, ada perbedaan antara tinggal di kampung sendiri dan di kampung orang. 

*Sebelum Menikah

Orangtua saya dari dulu sampai sekarang selalu tinggal di kampung. Mereka nggak mau tinggal di kompleks dengan berbagai alasan, diantaranya rumah di kompleks cenderung sempit dan bentuk bangunan banyak yang nggak sesuai keinginan. Memang sih, untuk urusan rumah bapak saya termasuk orang yang ribet. Penginnya beliau, rumah itu atapnya yang tinggi dan bahan bangunannya yang bagus. Dan benar, rumah bapak memang cukup luas dan kualitas bangunannya oke banget. Kalau boleh dibandingkan, kualitas bangunan rumah bapak lebih bagus dibanding kualitas bangunan yang ada di kompleks pada umumnya. 

Rumah bapak atapnya tinggi dan rangkanya nggak mau pakai baja ringan. Rangka rumah memakai kayu dari tanaman kelapa atau pakel yang usianya sudah puluhan tahun. Batang pohon tersebut dikirim dari desa bapak, langsung dari  Yogyakarta.  Selain itu, kusen dan bahan-bahan bangunan lainnya juga terbilang bagus. Kalau bahan bangunan tersebut dipakai di rumah-rumah yang ada di kompleks, pasti harga rumah tersebut mahal. 

Ya begitulah bapak saya. Orangnya keras dan apa pun akan dilakukan untuk mewujudkan keinginannya. Sebagai anak, saya sih senang-senang saja karena rumah nyaman. Tapi kenyamanan rumah bapak sekarang berbeda dengan rumah saat kami tinggal di daerah Semarang bawah. 

Bingung ya dengan ceritanya? 

Gini, dulu saya dan keluarga tinggal di kampung yang ada di wilayah Semarang Utara. Keadaan kampung di tempat tersebut sangat padat. Rumah-rumah berimpitan. Karena faktor ekonomi, kadang satu rumah dibagi untuk beberapa anak yang sudah berkeluarga. Ya, istilahnya mereka beranak-pinak di rumah tersebut. Belum lagi lingkungannya kurang nyaman karena kalau musim kemarau sering  rob (air laut pasang). Bila musim hujan tiba sering terjadi banjir. Di daerah ini, air melimpah ruah tak kenal musim, hahaha. 

Meski terkenal sebagai daerah yang kotor tapi masyarakat yang hidup di situ sangat guyub. Suasana kekeluargaannya terasa sekali saat ada warga yang punya hajat atau sedang mengalami musibah. Tanpa harus dikomando, mereka akan datang membantu. Mereka membantu dengan ikhlas tanpa dibayar. Bagi mereka, membantu tetangga adalah wajib. Kalau nggak membantu, bila suatu saat mereka mengalami hal yang sama, bisa jadi malah dikucilkan oleh warga. Kadang sanksi sosial dari warga membuat hidup nggak tenang karena kejadian tersebut sering menjadi bahan omongan warga. 

Selama tinggal di daerah tersebut, keluarga kami untungnya belum pernah mendapat sanksi sosial. Kalau diomongin sama warga, ya pasti lah pernah karena hidup di kampung pasti ada saja warga yang menjadi sumber informasi bagi warga lainnya atau bigos, hahaha. Namun, berkat rasa gotong royong dan suasana guyubnya, sampai sekarang hubungan keluarga saya dengan warga di Semarang bawah masih baik banget. Rasanya sudah seperti saudara sendiri. Mungkin karena saya dari lahir sampai besar tinggal di daerah tersebut jadi hafal dengan tetangga. Yang saya rasakan, kalau kita lahir dan besar di tempat yang sama, sosialisasi dengan tetangga bukan suatu masalah yang besar. Mungkin karena ini pula, beberapa dari mereka ada yang hubungannya sangat dekat seperti saudara sendiri. 

Sayangnya, karena masalah lingkungan yang kotor, akhirnya orangtua memutuskan untuk pindah rumah di Semarang atas, tepatnya di daerah Ngaliyan. Beradaptasi di lingkungan baru ternyata nggak mudah. Saya merasa, hubungan saya dengan tetangga baru nggak sedekat dengan tetangga lama. Sisi baiknya, orangtua saya sangat ramah kepada siapa saja dan mereka cukup dikenal oleh warga sekitar. Bagi saya pribadi, hal ini dapat menjadi poin plus karena saya bisa mengenal tetangga meski hanya silaturahmi saat lebaran saja. Silaturahmi ini hanya dengan mengikuti orangtua, hahaha. Kalau lebaran, biasanya bapak berkeliling kampung mengunjungi rumah warga satu per satu. Saya hanya ngikut saja. Dengan begini, saya jadi kenal dengan tetangga. Pun begitu sebaliknya. Kebiasaan ini terbawa sampai saya menikah dan harus tinggal di luar kota. 

*Setelah Menikah

Kehidupan sangat berbeda setelah menikah karena saya harus tinggal di luar kota yang nggak ada saudara. Setahun setelah menikah, saya dan pak suami memutuskan membangun rumah sendiri di kampung. Pemikiran saya saat itu, harga tanah dan biaya membangun rumah di kampung tentu jauh lebih murah dibanding membeli rumah di kompleks. Dan, sebetulnya saya ingin merasakan suasana guyub seperti kehidupan saya di Semarang. 

Nyatanya, memang harga tanah di kampung lebih murah bila dibandingkan dengan biaya di kompleks. Namun, untuk membangun rumah sendiri tentu tergantung pada kondisi keuangan Teman-teman kan? Bisa saja kualitas rumah yang dibangun lebih bagus atau malah lebih jelek daripada rumah di kompleks. Hal ini nggak bisa disamaratakan antara yang satu dengan yang lain, sesama warga kampung. 

Untuk masalah sosialisasi, jujur saja saya mengalami kesusahan. Hal ini ada beberapa sebab, diantaranya faktor pengetahuan dan nggak adanya keluarga di sekitar tempat tinggal. 

Sewaktu tinggal di kampung, saya bersosialisasi hanya lewat pengajian dan arisan. Selebihnya, saya banyak menghabiskan waktu di rumah. Saya kurang suka dengan tetangga karena kalau ngumpul, mereka lebih suka bergosip. Jika ada sesuatu yang berbeda sedikit dengan yang lain, pasti jadi omongan. Padahal tiap keluarga kan sejatinya berbeda dalam hal apa pun dan itu menjadi hak mereka dalam mengelola urusan rumah tangganya. Saya yakin, pasti tiap orang melakukan yang terbaik untuk keluarganya. 

Mungkin faktor pengetahuan dari warga yang notabene masih (maaf) berpendidikan rendah membuat pemikiran saya nggak klop dengan mereka. Ditambah lagi, tidak adanya saudara di sekitar saya seakan membuat saya terkucil. Coba kalau di sekitar rumah ada orangtua atau saudara yang sudah tinggal lebih dulu, pasti beda rasanya. 

Meski dalam kehidupan sehari-hari saya membatasi sosialisasi tapi hal ini berbeda saat pengajian dan arisan. Saat ada acara seperti ini, saya suka karena terasa guyubnya. Kalau urusan sosialisasi di kampung, saya lebih suka berhubungan langsung dengan ketua RT atau pengurus pengajian setempat. 

*Kampung di Jabodetabek

Selama tinggal di kampung daerah Depok, ada hal unik yang saya amati di sana. Hal ini nggak jauh berbeda dengan daerah lain di seputaran Jakarta lainnya. 

Selama di kampung, saya akui pertumbuhan properti sangat pesat. Artinya, naiknya nilai jual tanah dari tahun ke tahun selalu meningkat. Meski demikian, selalu ada pembangunan rumah atau kompleks baru di kampung. Kebanyakan mereka pendatang yang membangun tempat tinggal di daerah tersebut. Bisa dibilang rumah mereka mewah dibandingkan rumah warga yang lebih dulu tinggal. 

Selain itu, ada pula rumah seperti kompleks di kampung. Ceritanya, ada warga yang membeli tanah dan membangun rumah berdampingan yang bentuknya mirip satu sama lain. Tanah tersebut dibangun sekitar 4-8 rumah, tergantung dari luasnya tanah, sih. Iya, rumah-rumah yang dibangun mirip kompleks. Sayangnya, warga pendatang ini nggak pernah datang arisan atau pengajian di kampung. padahal mereka bukan tinggal di kompleks, lho.  

Ada juga yang membangun cluster mini di kampung. Jadi, ada tanah yang cukup besar dan dibangun sekitar 8-10 rumah saja di situ. Rumah ini ada di kampung, pemisahnya hanya pagar cluster saja. Biasanya cluster mini tersebut nggak ada security-nya. Kalau membeli sesuatu yang sifatnya kecil misalnya jajanan anak atau belanja sayuran, warga yang tinggal di cluster tersebut mau nggak mau harus membeli di warung yang ada di kampung itu. Kalau penghuni cluster mau bersosialisasi dengan warga kampung sih malah bagus. Tapi, seringnya mereka hanya membeli barang-barang yang sifatnya kecil saja di kampung dan jarang yang membaur dengan warga kampung. 

Sebetulnya, membangun cluster-cluster mini di kampung sepertinya saat ini menjadi tren di Jabodetabek. Banyak sekali kampung-kampung di Jabodetabek yang ada kompleks mini. Dengan harga jual yang lebih murah, pengembang menyulap tanah menjadi cluster hanya dengan membuat rumah yang mirip dan diberi pagar cluster. Untuk faktor kualitas bangunan biasanya ada harga, ada rupa lah, ya. Seringnya, kompleks mini tersebut nggak ada fasos dan fasumnya. Ya iyalah ya, namanya juga mini, lahannya terbatas kan?

#Tinggal di Kompleks 

Saat ini, saya tinggal di kompleks, rumah lama dijual. Saya pindah rumah pada September lalu. Kompleks saya terbilang baru namun cukup luas. Rumah yang dibangun jumlahnya ratusan unit dan ada fasos serta fasumnya. Kebanyakan warganya masih muda dan usianya nggak jauh beda jadi kalau bersosialisasi dengan tetangga cukup mudah. Selain itu, warga di kompleks umumnya cukup berpendidikan jadi kami bisa klop satu sama lain, gap-nya nggak terlalu jauh. 

Sampai saat ini, saya dan pak suami sudah merasa nyaman karena hubungan sosial antara kami dengan tetangga cukup baik. Setiap sore dan waktu-waktu tertentu ibu-ibu sering ngumpul. Bapak-bapak juga ada kegiatan sendiri. Fasilitas di dalam kompleks juga cukup bagus karena ada play ground untuk anak-anak, lapangan basket, dan mushalla. Bagi saya, fasilitas ini cukup lengkap.  

Namun, kalau Teman-teman mau membeli rumah di kompleks, harus hati-hati. Jangan terburu-buru kalau mau membeli rumah di kompleks. Saat ini, banyak sekali kompleks baru bermunculan. Banyak sekali pengembang yang mempromosikan kompleksnya namun nyatanya kualitas rumah kurang bagus atau malah tidak memenuhi standar. Bahkan, ada yang bermasalah soal sertifikat rumahnya. Semua harus diperhatikan secara detail karena ini menyangkut uang yang nominalnya nggak sedikit. Beberapa pertimbangan dalam mencari rumah di kompleks sudah pernah saya tulis di sini

Saya merasa bahwa di mana pun kita tinggal, kebutuhan rohani atau batin tetap diperlukan. Apalah arti kehadiran kita kalau nggak bisa bersosialisasi dengan baik. Justru dengan sosialisasi ini bukan nggak mungkin akan menambah jumlah saudara dan memperpanjang usia kita. Apabila batin senang, maka hidup pun akan tentram dan nyaman. Betul kan? 


















Continue Reading…

Friday, February 12, 2016

Flea Market di Nissan Stadium

Melihat keramaian dan aktivitas masyarakat di tempat baru merupakan hal yang paling saya sukai. Pun begitu ketika tinggal di Shin Yokohama. Keramaian di Jepang biasanya ada di sekitar stasiun atau bila ada event tertentu. Salah satu tempat yang ramai dan sering saya kunjungi yaitu flea market di Nissan Stadium. Kalau di Indonesia, flea market layaknya pasar pagi yang sering diadakan setiap hari Minggu.

Sebenarnya lokasi flea market di Shin Yokohama ada di beberapa tempat. Namun, saya dan pak suami seringnya datang ke flea market di dekat apartemen. Kebetulan, apartemen kami dekat sekali dengan Nissan Stadium. Jadi, kalau mau ke flea market nggak sampai 5 menit, tinggal keluar apartemen saja.

Parkiran Meluber di Nissan Stadium

Flea market di Nissan Stadium menempati arena luar stadion. Flea market ini diadakan sesuai jadwal yang ada di web Nissan Stadium. Flea marketnya nggak tiap Minggu diadakan karena tergantung sikon. Misal, kalau cuaca sedang hujan atau ada pertandingan/acara di Nissan Stadium biasanya flea marketnya libur.  Cerita tentang Nissan Stadium yang konsepnya ramah lingkungan dan sangat manusiawi saya tulis di sini, ya. Kebetulan, waktu itu saya tinggal pas musim semi jadi flea market ini sering diadakan. 

Menurut asal katanya, flea market berarti pasar loak. Meski demikian, barang-barang yang dijual di sini nggak semuanya barang bekas, kok. Dan, di flea market ada banyak banget variasi barang yang dijual. Ada baju bekas, baju baru, mainan, sepatu, sandal, VCD, alat tulis, makanan, minuman, dll. Jangan salah lho, turis asing juga banyak yang suka hunting barang di flea market. Mereka biasanya mencari barang murah, unik atau antik di sini.



Memang sih kalau hunting barang di sini harus sabar dan teliti. Siapa tahu berkat hunting dengan sabar kita bisa dapat barang yang murah dengan kualitas bagus. Hal ini hampir sama di Indonesia lah. Di beberapa stand, ada barang yang bisa ditawar namun ada juga yang nggak boleh ditawar sama sekali. Kalau mau dapat harga murah, beli saja di last minute, hahahaha. Saya dan pak suami pernah beli jeruk waktu penjualnya mau tutup lapak. Saat itu kami jalan-jalan dulu melihat barang-barang yang lain. Sewaktu pulang, kami melihat penjual jeruk mau tutup lapak dan akhirnya kami dikasih harga murah.

Para penjual yang ada di flea market Nissan Stadium kebanyakan orang Jepang dan hanya sedikit yang bisa berbahasa Inggris. Biasanya penjual yang masih muda rata-rata bisa berkomunikasi menggunakan Bahasa Inggris. Tipe para penjual di flea market bermacam-macam. Ada yang cuek tapi ada juga yang ramah. Mereka yang cuek kadang kurang merespon pembeli. Mereka santai dan duduk-duduk melihat dagangan atau keadaan sekililingnya. Sedangkan penjual yang ramah, mereka nggak segan untuk memamerkan keunikan barang yang dijual dan tentunya disertai dengan senyuman. 

Oia, selain suka melihat barang-barang yang dijual, saya dan pak suami juga suka melihat mobil-mobil yang dibawa penjual. Mobilnya keren-keren, euy! Di negara maju seperti Jepang, orang yang punya mobil biasanya identik dengan orang kaya. Banyak kabar yang beredar kalau punya mobil di sana harus siap dengan pajak dan biaya parkir yang tinggi. Nah, saya dan pak suami sering mikir, alasan mereka berjualan di flea market apa ya? Hhhmmm, memang keuntungannya berapa sih? Hahahaha, pikiran kami memang penuh dengan kekepoan selama tinggal di sana.

Mobilnya, Bok!

Awal Mei 2015, cuaca musim semi sedang bagus-bagusnya. Udara terasa sejuk dengan sinar matahari yang cerah. Cuaca seperti ini sangat nyaman untuk beraktivitas di luar ruangan. Begitu juga saat flea market. Suasana flea market ramai banget, nggak seperti minggu-minggu sebelumnya. Dari pagi sampai siang para penjual dan pembeli seakan tumplek blek di pasar dadakan tersebut. Mereka ada yang membeli baju, topi, sayuran, atau benda-benda unik lainnya. Pun begitu dengan saya dan pak suami. Kami ingin membeli barang yang mengingatkan pada flea market di stadion internasional kebanggaan Jepang itu.

Suka Melihat Keakaraban Ini 

Saya dan pak suami berkeliling semua sudut stadion dari atas sampai bawah. Kami sangat menikmati hiruk pikuk di pasar tersebut. Setiap orang sibuk dengan urusannya masing-masing. Ada yang hanya melihat-lihat, ada yang melakukan transaksi jual beli, dan ada yang ngobrol santai sambil makan. Beberapa aktivitas mereka menarik perhatian saya. Di flea market kali ini banyak hal yang belum pernah saya jumpai di flea market sebelumnya. Hal-hal tersebut diantaranya :

#Bekal Bento

Saat jam makan siang, pengunjung antre membeli makanan yang dijual di beberapa stand. Namun ada pemandangan yang berbeda di salah satu tangga stadion. Saya menjumpai keluarga, yakni bapak serta dua anaknya sedang asyik makan bento. Di sudut lain ada juga yang makan onigiri yang mereka bawa dari rumah. Kebiasaan orang Jepang yang sering membawa bekal dari rumah selalu ada dalam keseharian mereka. Menyantap bento di tempat terbuka dan nggak jajan, siapa takut? Irit dan sehat, kan? ^-^


#Makanan Halal

Kalau orang Jepang ada yang membawa bento di flea market, hal ini berbeda dengan kami. Saat jam makan siang, saya dan pak suami bingung mau makan apa. Kalau jajan, takut nggak halal. Mau balik ke apartemen, kok nanggung. Serba salah banget, deh. Kami putuskan untuk berkeliling flea market dulu, sedang makan siang nanti setelah balik ke apartemen. Nah, sewaktu berkeliling di salah sudut, nggak nyangka kami menemukan penjual makanan halal. Padahal minggu-minggu sebelumnya, nggak ada makanan halal, lho. Mungkin penjualnya hanya berjualan saat ramai saja. Alhamdulillah, akhirnya kami bisa nemuin makanan halal di flea market ini.



Makanan halal tersebut dijual oleh sepasang suami istri dari Pakistan. Mereka menggunakan mobil untuk berjualan. Mungkin mereka sudah lama tinggal di Jepang dan membuka bisnis makanan halal. Mereka berjualan dibantu oleh 2 orang anaknya, laki-laki dan perempuan. Namun, hanya yang perempuan saja yang sibuk melayani pembeli. Anak perempuan tersebut berusia sekitar 13 tahun sedangkan adiknya masih kecil. Si adik hanya bermain-main di sekitar mobil.

Ketika penjual tersebut tahu saya berjilbab, beliau tersenyum dan memberi salam. Hati saya langsung nyes dan memberikan senyuman balik. Senang ya bisa bertemu sesama muslim di Jepang. Saat memesan makanan, kami sempat berbincang sedikit karena takut mengganggu pembeli yang antre. Kami hanya menanyakan asalnya dari mana. Saya memesan kebab dan pak suami pesan nasi biryani. Harga makanan halal di flea market termasuk murah, nyatanya banyak juga orang Jepang yang antre memesan makanan halal ini. 

#Air Mancur

Mungkin ini karena saya norak ketemu air mancur di stadion, hahaha. Maklum, saat flea market sebelumnya, nggak ada pemandangan ini. Air mancur ini salah satu fasilitas yang disediakan Nissan Stadium. Kalau air mancur nggak nyala, tempat itu mirip penutup got yang dipasang di ubin. Saya juga baru tahu kalau tempat tersebut ternyata bisa jadi air mancur saat flea market sedang cerah atau panas. Air mancur ini digunakan anak-anak untuk bermain air seperti di water boom. Air ini akan muncul setiap beberapa menit. Lucu deh melihat keceriaan dan aktivitas anak-anak bermain air, apalagi kalau airnya sedang mancur. Mereka berebutan bermain air.^-^.



#Produk Indonesia

Senangnya bukan main saat saya melihat ada produk Indonesia dijual di flea market. Yah, gimana nggak senang coba. Produk kita, ciiin. Produk Indonesia. Ada dua produk yang bikin saya excited. Pertama, saya nemuin sabun LUX dijual di sana. Semua tahu kalau sabun Lux buatan Unilever, merk dagang yang mendunia. Tapi di sini, sabun Lux ini buatan Indonesia cuma semua informasinya tertulis dengan huruf Jepang, nggak pakai Bahasa Indonesia lagi. 

Sabun Lux Versi Jepang

Produk kedua yakni sepatu. Bukan sepatu biasa sih tapi ini sepatu Nike. Semua sudah tahu ya kalau sepatu ini buatan dari berbagai negara. Ada yang buatan Indonesia, Vietnam, dll. 

Ceritanya, sepatu saya sudah jelek banget dan kurang enak kalau dipakai jogging. Memang sih waktu itu sudah niat mau dibuang dan beli baru di sana. Selain karena butuh kan bisa juga buat kenang-kenangan *halah. Harganya juga nggak mahal kok, mumpung diskon pula. Hahahaha. 

Ada yang Made in Indonesia

Setelah cocok dengan modelnya akhirnya saya bungkus dan bawa pulang. Ketika sampai apartemen, saya coba lagi dan pak suami mengecek sepatu tersebut. Beliau kaget ketika tahu kalau sepatu yang dibeli ternyata buatan Indonesia. Lha dalah, niatnya pengin pakai sepatu buatan Jepang ternyata kok buatan negeri sendiri. Sepatunya kayaknya mumet tuh diajak bolak-balik Indonesia-Jepang-Indonesia lagi, hahahaha. Sumpah, saya ngekek dengan kejadian ini. Ya..ya..ya hal ini bikin saya makin suka dengan Indonesia.

Bagi Teman-teman yang sedang berlibur di Jepang, coba deh mampir ke flea market. Temukan keramaian dan keunikan di sana. Syukur-syukur kalau Teman-teman bisa dapat barang bagus dan murah. Senangnya dobel, tuh. Hahahaha. Hhhhmmm, semoga saya punya kesempatan berkunjung ke Jepang lagi dan bisa menjelajah flea market-flea market yang lain, nggak cuma flea market di Nissan Stadium saja. Semoga!  


















Continue Reading…

Tuesday, February 09, 2016

Nissan Stadium

Pada bulan Mei 2014, saat itu saya dan pak suami ingin mencari suasana baru di Yokohama. Maklum, beberapa tempat wisata di Yokohama sudah kami jelajahi. Merasa sedikit bosan dan bingung mau ke mana, akhirnya kami memutuskan pergi ke museum ramen. Museum tersebut satu-satunya tempat yang menjelaskan tentang mie ramen di Jepang. Pengalaman pergi dan mencicip mie di museum ramen yang konsepnya unik pernah saya ceritakan di sini. Lokasi museum tersebut di Shin Yokohama, sekitar 30 menit dari Stasiun Kannai, tempat tinggal kami saat itu. Menariknya lagi, selain ada museum ramen ternyata ada juga stadion berskala internasional yang terkenal dengan nama Nissan Stadium di Shin Yokohama. Saat itu, mumpung di Shin Yokohama, kesempatan berkeliling di stadion kebanggaan Jepang tersebut nggak kami sia-siakan.

Setahun kemudian, saya bisa menyusul pak suami ke Jepang. Alhamdulillah, saya bisa merasakan dan mengalami pergantian usia 2 tahun berturut-turut di Jepang. Meski awalnya sempat deg-degan karena saat mau berangkat ternyata visa belum jadi, akhirnya drama tersebut bisa diatasi berkat kerja sama antara pihak agen visa dan kantor pak suami.

Saya dan pak suami tinggal di tempat yang berbeda dari masa dinas yang pertama. Kami tinggal di Shin Yokohama, tempat yang pernah kami kunjungi sebelumnya. Apartemen kami sangat dekat dengan Nissan Stadium. Wow, saya nggak menyangka bisa tinggal di daerah ini.

Saya dan pak suami tinggal di pucuk apartemen. Meski agak ngeri karena sering terjadi gempa tapi kami tetap santai dan sangat menikmati tinggal di tempat baru tersebut. Apartemen yang menjadi rumah kami berkonsep minimalis dengan desain furniture yang sederhana tapi terkesan lux. Meski minimalis tapi peralatan yang tersedia komplit dan sangat membantu aktivitas sehari-hari. Barang-barang tersebut tertata rapi tanpa mengurangi ruang gerak manusia yang tinggal di situ. Secara berkala, peralatan tersebut juga dicek oleh petugas apakah butuh perbaikan atau nggak. Selain untuk kenyamanan penghuni, pemeriksaan dilakukan untuk meminimalkan kejadian yang tak diinginkan. Semua dikerjakan secara rutin dan detail dengan pemberitahuan terlebih dulu. Hal inilah yang saya sukai di Jepang.

Tinggal di apartemen yang nggak ada teman senegara membuat saya kesepian. Mau nggak mau saya mencari kegiatan di luar apartemen. Selain les Bahasa Jepang dan ikut kegiatan sosial di sana, tetap saja rasa bosan sering saya rasakan. Apalagi bengong, sering banget. Untungnya, kalau mau ke Nissan Stadium tinggal engklek karena saking dekatnya, hahahaha. Lumayanlah keluar sebentar di Nissan Stadium melihat kereta atau taman di sana. 

#Tentang Nissan Stadium

International Stadium Yokohama atau lebih dikenal dengan Nissan Stadium merupakan stadium terbesar di Jepang dengan kapasitas 72.327 tempat duduk. Stadion ini dibuka pada bulan Maret 1998 dan menjadi markas klub sepak bola Yokohama F. Marinos. Hajatan besar pada tahun 2002, Nissan Stadium digunakan untuk laga final FIFA World Cup antara Jerman dan Brazil. Hayo, masih ingat nggak siapa yang menang? Yup, Brazil menang 2-0 atas Jerman. Rencananya, pada Olimpiade tahun 2020 Nissan Stadium akan digunakan sebagai tempat pertandingan bola. Saking besarnya, stadion ini nggak hanya digunakan untuk pertandingan bola saja. Bermacam-macam acara seperti rugby, American Football, konser musik, dll sering banget diadakan di tempat ini. Di musim tertentu area di luar stadion dimanfaatkan untuk flea market.   

Saat ke Nissan Stadium Tahun 2014
Nissan stadium dirancang dengan konsep yang sangat matang dan ramah lingkungan. Berdasarkan informasi yang ada di website resminya, ada banyak aspek yang menjadi keunggulan stadion ini. Saya hanya menulis beberapa keunggulan yang unik saja ya, diantaranya :

*Rumput Hijau

Penggunaan rumput asli di stadion ini merupakan hal yang sangat membanggakan sebab nggak mudah untuk mengatur dan merawat rumput supaya tetap hijau di negara 4 musim. Penanaman rumput hijau ini mirip dengan pot bunga. Kalau kita menanam tanaman di pot ada apa saja? Nah, hal itu sama dengan penanaman rumput di Nissan Stadium. Tapi sistem pot bunga ini cuma sampai kedalaman 80 cm saja. Di bawahnya berupa bagian kosong. Dan, di kedalaman 30 cm ada pipa air panas yang berguna untuk mengatur suhu. 

Para pekerja yang merawat rumput bekerja keras untuk menjaga supaya rumput tetap hijau dan rapi. Bila musim panas dan dingin tiba, mereka akan bekerja ekstra keras merawat rumput. Maklum, cuaca ekstrim yang kadang panas banget atau dingin banget mempengaruhi pertumbuhan rumput hijau. Kalau nggak ditangani dengan baik, bisa-bisa rumput tersebut mati. 

*Ramah Lingkungan

Atap yang digunakan di Nissan Stadium bisa dibilang keren banget. Atap ini dirancang untuk dapat menutup 3/4 tempat duduk penonton sehingga mengurangi efek angin. Dengan minimnya angin saat pertandingan, diharapkan penonton nyaman sepanjang pertandingan. 

Selain itu, atapnya dirancang untuk dapat menampung air hujan. Tampungan air hujan ini digunakan untuk menyirami rumput yang ada di lapangan. Dengan demikian, pengelola stadion dapat menghemat anggaran untuk menyiram rumput. Wuih, keren!

Nggak hanya itu saja. Selain memanfaatkan air hujan, buangan air limbah juga ditampung dan diolah untuk membilas toilet dan menyirami tanaman yang ada di stadion tersebut. Mengingat kebutuhan air di stadion ini sangat besar, maka pemanfaatan teknologi ini sangat ramah lingkungan dan dapat menekan biaya operasional kan? Hebat, ya!

*Sangat Manusiawi

Di negara maju, bukan hal yang asing jika pembangunan apa pun sangat memprioritaskan kenyamanan manusia itu sendiri. Pun begitu dengan penataan di Nissan Stadium ini. Contohnya, tempat duduk penonton dirancang dengan jarak yang membuat nyaman antar penonton dan disediakan pula tempat untuk menaruh minuman. Adanya 2 layar besar berukuran 19 x 9m serta penempatan layar yang dapat dilihat dari semua sudut membuat penonton dapat menyaksikan drama pertandingan dengan baik. Dijamin, penonton nggak bakal ketinggalan dramanya deh. Apalah arti pertandingan bola tanpa drama, hahahaha. 

Hebatnya lagi, stadion ini juga menyediakan area untuk kursi roda sebanyak 147 seat. Bahkan, jika diperlukan, area khusus difabel ini bisa diperluas sampai 632 seat. Wow!!

Tinggal di dekat stadion lumayan sepi. Meski demikian, setiap pagi stadion ini digunakan oleh warga untuk olahraga. Mereka berolah raga di luar stadion. Selama tinggal di Shin Yokohama saya dan pak suami sering melakukan jogging pagi di stadion ini. Karena ukurannya sangat luas, dengan sekali keliling sudah membuat capek dan lumayan berkeringat. Sedangkan di sore hari, lapangan di luar stadion seringnya dipakai untuk berlatih sepak bola. Sedangkan di sudut yang lain, ada juga yang melakukan olahraga selain sepak bola. Mereka bebas menggunakan area di luar stadion.  

Kalau sedang ada pertandingan di Nissan Stadium, teriakan dan gegap gempita penonton terasa sampai di apartemen. Nah, kalau seperti ini stadion ramai sekali. Selain banyaknya penonton, ada juga mobil yang parkir sampai malam mengular hingga keluar stadion. Saya dan pak suami sering melihat penonton pulang malam setelah pertandingan usai. 

Jika ada pertandingan atau acara di Nissan Stadium, stasiun kereta pasti ramai sekali. Petugas stasiun dan polisi sudah siap dengan hal tersebut. Para petugas tersebut mengatur penonton mulai masuk ke stasiun sampai di area menunggu kereta. Dengan demikian, antara penonton dan pengunjung kereta yang lain tetap merasa nyaman meski stasiun ramai sekali. Karena Jepang sangat disiplin, saya jarang melihat adanya tawuran setelah pertandingan bola usai, hahahaha. Mereka tetap berjalan dan bercanda dengan teman-temannya di jalan dan di stasiun. Mereka bangga membawa atribut untuk mendukung tim favorit yang sedang bertanding. Mereka juga bangga akan keberadaan stadion tersebut. Saya masih ingat dengan semboyan "Our Home, Our Field! Yokohama."





Nissan Stadium
Address : 3300 Kozukue-cho, Kohoku-ku, Yokohama City 222-0036
Transport : Check this website




















Continue Reading…
Powered by Blogger.

Recent Posts

    Follow Me

    Page Views

    Copyright © Pipit Widya | Powered by Blogger
    Design by Saeed Salam | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com