Tuesday, March 15, 2016

Smart Home, Rumah Idaman Masa Depan

Hari Minggu kemarin saya kedatangan tamu. Mereka berdua kakak beradik. Si kakak bekerja sebagai IT di salah satu bank sedangkan adiknya bekerja di startup smart home. Mengetahui hal ini, saya dan pak suami antusias dengan bidang si adik tersebut. Iya, smart home! Saat ini sudah ada rumah yang menerapkan konsep ini. Bukan nggak mungkin kalau nantinya smart home bakal menjadi rumah idaman masa depan. Dengan memanfaatkan kemajuan teknologi, bukan hal yang mustahil kalau nantinya kita bakal punya smart home yang dikendalikan melalui handphone.

Kemajuan digital saat ini sangat pesat dan sepertinya sudah nggak terbendung lagi. Misalnya saja beberapa tahun lalu handphone hanya untuk telepon dan SMS. Zaman kuliah dulu, senangnya bukan main kalau bisa telepon dua detikan sama teman atau dapat info SMS gratis dengan ganti nomer center kartu selular. Hahahaha, lucu ya kalau ingat tempo doeloe. Kalau sekarang ya peran HP sangat dominan. Nggak salah kalau ada yang mengatakan, lebih baik ketinggalan dompet daripada ketinggalan HP, hahahaha. Sebegitu pentingnya peran HP hingga banyak sekali perusahaan teknologi informasi mencari untung dari benda bernama handphone.

Peluang ini nggak berlebihan kalau dijadikan bisnis oleh beberapa perusahan teknologi bahkan oleh pemilik facebook, Mark Zuckerberg. Dari majalah yang saya baca, Mark mengatakan bahwa di tahun 2016 ini dia ingin menciptakan artifical intelligence yang dapat mengelola rumah dan membantu pekerjaannya. Impiannya adalah dia mampu menggunakan suaranya sebagai sensor untuk mengendalikan hal-hal yang ada di rumah. Wuih, keren amat, ya!

Nggak usah berpikir jauh-jauh, deh. Kalau kita menginap di hotel kadang merasa takjub dengan fasilitas yang ada, kan? Misalnya saja kartu kamar yang bisa dipakai untuk kunci dan menyalakan lampu ruang. Dengan meletakkan kartu di tempatnya, lampu akan menyala. Begitu juga sebaliknya kalau kita mau keluar kamar. Bagi teman-teman yang tinggal di apartemen mungkin hal ini juga sudah menjadi hal yang lumrah.

Pengalaman ini pernah saya rasakan sendiri sewaktu tinggal di Jepang. Apartemen yang kami tempati semuanya no staff, apa-apa self service. Hanya dengan menggunakan kartu apartemen, saya bisa keluar masuk apartemen, memakai fasilitas di tempat fitnes, dan mengatur hal-hal kecil di kamar. Jadi bisa dibayangkan kalau kartu tersebut rusak atau hilang, kan? Sebegitu pentingnya kartu tersebut hingga kalau hilang atau rusak, pemilik wajib mengganti dengan nominal yang nggak sedikit.

Tempat fitnes pun juga menerapkan demikian. Kalau nggak bawa kartu jangan harap bisa masuk ke tempat ini, ya. Penggunaan kartu ini secara nggak langsung sangat bermanfaat untuk penghematan energi. Bayangin aja, kalau nggak ada orang di tempat fitnes, lampu dan semua peralatan di situ ya nggak akan nyala. Dengan demikian, listrik jadi hemat kan?

Itu masih soal kartu. Ada lagi nih yang menarik yaitu soal lampu. Di beberapa apartemen, lampu yang digunakan ada yang menggunakan remote control. Dengan alat tersebut, kita bisa menyalakan atau mematikan lampu sesuai kebutuhan tanpa harus berjalan menuju saklar. Dari tempat tidur pun kita bisa mengatur cahaya lampu. Kalau untuk membaca, cahaya lampu bisa dibesarkan. Jika ingin melihat tivi atau tidur dengan lampu redup, tinggal mengecilkan cahaya dari remote. Keren kan?

Banyak hal yang bisa didapat kalau penerapan teknologi pintar diterapkan di rumah. Seperti contoh yang saya tulis di atas, penggunaan teknologi canggih memberikan kemudahan bagi penggunanya. Selain itu, dengan pengaturan sendiri kita bisa menghemat penggunaan listrik. Misalnya nih, dengan aplikasi dan peralatan rumah yang sudah terkoneksi dengan sistem maka kita bisa mengatur penggunaan alat-alat tersebut dari jarak jauh, saat kita tidur, atau saat bepergian. Tinggal klik, kita bisa atur penggunaannya dan biarkan teknlogi cerdas bekerja untuk kita.

Smart home juga memberikan keamanan. Dengan kemajuan teknologi kita bisa mendeteksi tamu yang nggak diinginkan. Jika ada tamu yang mau masuk ke rumah, kita bisa lihat melalui monitor di dalam rumah. Kalau kenal dengan tamunya, kita bisa langsung membuka pintu melalui layar atau berkomunikasi terlebih dulu jika tamu tersebut punya kepentingan, misal kita pesan delivery order. Bahkan kalau rumah kita ada asap, pasti pengguna akan menerima pemberitahuan kejadian-kejadian yang nggak diinginkan melalui ponsel. Kalau saat ini, penerapan teknologi di rumah banyak yang menggunakan kamera untuk merekam kejadian-kejadian yang nggak diinginkan. Dengan adanya teknologi pintar tersebut, diharapkan kejadian-kejadian tadi dapat segera diatasi dan nggak menimbulkan kerugian yang semakin besar.

Namun untuk menjadikan kehidupan cerdas tersebut di rumah biayanya cukup mahal dan tergantung seberapa banyak peralatan yang mau dioptimalkan secara pintar. Besarnya biaya ini karena peralatan-peralatan yang digunakan masih banyak yang harus diimpor. Tapi, beberapa tahun lagi bisa saja hal ini akan menjadi biasa karena semakin meningkatnya kebutuhan masyarakat akan sesuatu yang simple dan cerdas. Semoga meningkatnya permintaan juga diimbangi dengan banyaknya penawaran aplikasi untuk menyerdaskan rumah. Hal ini layaknya perkembangan fungsi ponsel yang dari tahun ke tahun semakin aplikatif dan harganya pun semakin terjangkau.




















Continue Reading…

Friday, March 11, 2016

Gerhana Matahari Total 2016 dan Trend Pariwisata

Gerhana matahari total sudah berlalu. Peristiwa yang terjadi pada tanggal 9 Maret 2016 kemarin gaungnya masih terasa sampai sekarang. Di berbagai pemberitaan, peristiwa tersebut diyakini menarik banyak orang baik dari Indonesia sendiri atau dari warga negara lain. Peristiwa alam ini sangat langka karena kejadian di Indonesia berlangsung tiap 33 tahun sekali. Maka, pemerintah melalui Kementerian Pariwisata memanfaatkan momen gerhana matahari total 2016 untuk mendongkrak pendapatan dan menjadi trend pariwisata baru. 

Pada peristiwa gerhana matahari kemarin, ada puluhan kota di berbagai provinsi di Indonesia yang mengalami gerhana matahari total. Kota-kota tersebut antara lain Palembang, Bangka Belitung, Sampit, Palangkaraya, Balikpapan, Palu, Poso, Luwuk, Ternate, Halmahera, Sulawesi Barat, Bengkulu, Jambi, dan Kalimantan Barat.

Kemenpar dan pemerintah daerah setempat jauh-jauh hari sudah melakukan berbagai promosi untuk menarik wisatawan. Selain wisatawan, peristiwa gerhana juga disaksikan oleh pejabat negara, fotografer, astronom, ilmuwan, peneliti, komunitas travel, dan wartawan. Berbagai kegiatan digelar untuk menyambut gerhana matahari tersebut. Sebut saja seminar, festival seni dan budaya, hingga ragam kuliner nusantara. Dari tayangan di televisi, secara umum persiapan dari kemenpar dan pemda setempat sudah cukup baik namun masih ada beberapa daerah yang belum siap menyambut kedatangan wisatawan. 

Daerah-daerah yang mengalami gerhana total ada yang belum siap menjadi tempat wisata karena lokasinya yang jauh dari pusat kota. Untuk mencapai lokasi gerhana harus menempuh jalur darat selama berjam-jam dulu dari pusat kota. Selain itu, daerah tersebut hanya mengalami peristiwa gerhana matahari total selama beberapa menit saja. Jadi, persiapan yang ada terasa kurang greget. Namun adanya fenomena gerhana ini diharapkan dapat membawa dampak positif bagi pengembangan pariwisata ke depannya. Peristiwa gerhana matahari total 2016 setidaknya dapat menjadi batu loncatan untuk menggali potensi daerah-daerah tersebut. Dengan demikian, wisatawan tidak hanya mengenal daerah wisata yang sudah populer duluan. 

Menteri Pariwisata, Arief Yahya dalam wawancara di salah satu stasiun televisi swasta mengungkapkan bahwa pendapatan pemerintah dari peristiwa gerhana matahari total mencapai ratusan milyar rupiah. Angka ini sungguh fantastis karena dicapai dalam beberapa hari menyambut fenomena alam langka tersebut. Dia juga menambahkan, Indonesia saat ini harus jeli menangkap peluang pariwisata karena saat ini lingkup pariwisata tidak hanya soal ruang saja namun juga soal dimensi waktu.

Trend pariwisata saat ini sudah berubah dari ruang ke dimensi waktu. Dalam dunia pariwisata masalah dimensi waktu menjadi sangat penting. Banyak sekali wisatawan rela berlomba-lomba datang ke suatu tempat demi menyaksikan peristiwa alam yang langka. Mereka juga rela menyaksikan pertunjukan seni yang hanya terjadi di waktu-waktu tertentu saja. Bagi traveler sejati, apa pun akan dilakukan demi mendapatkan momen yang jarang terjadi. 

Melihat fenomena ini, bisa saja pemda-pemda di Indonesia menyelenggarakan calendar event di masing-masing daerah. Dengan adanya calendar event tersebut, dapat dipastikan akan ada banyak pertunjukan seni dan budaya dari masing-masing daerah yang bisa ditampilkan. Apalagi negeri ini sangat kaya akan keberagaman sehingga dalam sebulan bisa saja berbagai atraksi kesenian dari berbagai daerah yang berbeda dapat menarik wisatawan untuk berkunjung. 

#Sholat Gerhana

Bagi orang muslim, peristiwa gerhana merupakan salah satu tanda kebesaran dan kekuasaan Allah SWT. Karenanya, umat Islam disunnahkan melakukan sholat gerhana. 

Sejujurnya, tanggal 9 Maret 2016 saya melakukan sholat gerhana untuk pertama kalinya. Alhamdulillah, masjid di dekat rumah menyelenggarakan sholat sunnah tersebut. Karena ini sholat gerhana pertama kali, saya mencari referensi tata cara sholat gerhana. Untungnya, di grup whatsapp ada yang memposting tata cara sholat tersebut.

Di lingkungan tempat saya tinggal (Depok), sholat gerhana dilaksanakan pada pukul 06.00-08.20. Daerah Depok memang tidak mengalami gerhana matahari total namun ada tanda-tanda alam yang menunjukkan bahwa umat Islam bisa memulai sholat gerhana.

Jadi, pada pukul 06.00 saya dan pak suami sudah siap berangkat ke masjid. Kami mendapat info kalau sholat gerhana dimulai sekitar pukul tersebut. Sesampainya di tempat sholat, beberapa pengurus masjid masih belum tahu pasti kapan sholat tersebut dilaksanakan. Menurut mereka, sholat gerhana dimulai jika keadaan mulai redup. Artinya, saat itu matahari mulai tertutup oleh bulan. Kalau matahari masih terang bersinar, itu berarti kita melakukan sholat dhuha, bukan sholat gerhana. Jika dalam rentang waktu tersebut kedaan belum redup, maka jamaah yang punya kepentingan yang tidak bisa ditinggalkan boleh meninggalkan masjid. Penjelasan inilah yang saya tangkap dari pengurus masjid tempat saya melaksanakan sholat. 

Selama di masjid, para jamaah menunggu keadaan agak redup. Jamaah di masjid melakukan zikir dan tahmid yang dipimpin imam masjid. Cukup lama memang menunggu waktu ini karena butuh kira-kira satu jam. Para jamaah juga was-was karena mereka sudah lapar dan ibu-ibu banyak yang kepikiran pekerjaan di rumah yang belum selesai. Hahahaha, saya juga termasuk dalam jamaah yang resah dan gelisah. Akhirnya pada pukul 07.10 keadaan di sekitar masjid mulai redup dan agak mendung. Para jamaah mengucap takbir dan tahmid. Setelah itu, kami melaksanakan sholat gerhana berjamaah.

Tata cara sholat gerhana yang saya lakukan kemarin sebagai berikut :

1. Takbir, membaca doa iftitah, membaca ta'awudz, lalu Al Fatihah, dan membaca surat agak panjang.

2. Rukuk dengan rukuk yang agak panjang.

3. Bangkit dari rukuk (I'tidal).

4. Tidak sujud tetapi membaca Al Fatihah dan surat yang lebih pendek dari surat yang pertama.

5.  Lalu rukuk lagi dengan rukuk yang lebih pendek dari rukuk yang pertama.

6. Bangkit dari rukuk (I'tidal).

7. Kemudian sujud, lalu duduk di antaradua sujud, lalu sujud lagi.

8. Berdiri melakukan rakaat kedua, dan selanjutnya melakukan gerakan seperti yang dilakukan pada rakaat pertama. 

Subhanallah, sungguh saya merasa bersyukur bisa melakukan sholat gerhana. Ada rasa takjub yang tidak bisa saya ungkapkan meski saya tidak melihat peristiwa gerhana matahari secara langsung. Keadaan sekitar masjid yang redup cukup menjadi tanda bagi saya bahwa peristiwa gerhana matahari total sedang berlangsung dan ini sebagai tanda kebesaran Tuhan.  

Bagaimana dengan kamu, Teman-teman? 



















Continue Reading…
Powered by Blogger.

Recent Posts

    Follow Me

    Page Views

    Copyright © Pipit Widya | Powered by Blogger
    Design by Saeed Salam | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com