Friday, April 29, 2016

Odaiba dan Anak Rantau

Ini kali kedua saya dan pak suami pergi ke Odaiba. Tahun sebelumnya kami memang sudah pernah ke Odaiba karena ingin melihat gundam dan bernarsis ria di Madame Tussauds. Sebenarnya pergi ke Odaiba bukanlah bagian dari rencana liburan golden week. Berhubung dari Fuji Shibazakura masih sore, maka kami berniat pergi ke Odaiba sekedar untuk nostalgia saja. 

Kami naik kereta rapid dari Otsuki sampai ke pemberhentian terakhir yaitu di Shinjuku. Dari Shinjuku, saya dan pak suami transit ke JR Yamanote Line dan turun di Shimbashi. Setelah itu transit lagi ke Yurikamome Line. 

Saya menikmati perjalanan menggunakan kereta Yurikamome Line, kereta canggih yang driver less. Perjalanan saat itu membuat memori saya untuk mengulang kembali waktu pertama kali ke Odaiba. Jujur saja, luapan emosi dan rasa penasaran kali ini nggak sebesar waktu perjalanan pertama. Iya, saya hanya ingin bernostalgia dan benar-benar menikmati setiap langkah perjalanan. Saya menikmati antrean di kereta. Saya mengincar tempat duduk di bagian depan. Meski mendapat tempat duduk namun saya dan pak suami memilih berdiri agar bisa menikmati indahnya Teluk Tokyo dan berjalan di dalam Rainbow Bridge. Ah, tetap saja rasa kagum tak bisa lepas dari senyum saya.

Di Odaiba, saya dan pak suami nggak ke mana-mana. Kami hanya menikmati sunset di Teluk Tokyo berlatar belakang Rainbow Bridge. Kami bercerita ngalor ngidul sambil mengingat masa lalu. Bunyi gemericik air menjadi suguhan tersendiri kala itu. Hhhmm, suasananya lumayan romantis, hahahaha.

Rainbow Bridge di Malam Hari

Keadaan sore itu cukup rame. Banyak juga turis yang menyaksikan sunset seperti kami. Mungkin karena saat itu sedang golden week dan udara cukup bersahabat jadi banyak turis yang ingin mengabadikan momen di Odaiba. 



Tak jauh dari tempat kami duduk terdengar percakapan bahasa Indonesia lebih spesifik ada yang berbahasa Jawa. Ah, senangnya ada orang Indonesia, pikir saya saat itu. Maka saya pun memberanikan diri bertanya kepada mereka. 

Usia mereka masih muda, sekitar 20 tahunan. Mereka adalah anak rantau yang sedang berlibur ke Tokyo. Mereka pergi berombongan. Setelah tanya sana-sini ternyata mereka tinggal di Okinawa (kalau nggak salah). Berlibur ke Tokyo adalah impian yang harus dibayar mahal karena mereka harus menabung sekian lama. Biar irit, mereka harus menginap di tempat teman atau menginap secara rombongan. Sayangnya, mereka nggak tahu soal Kanto Pass. Kalau mereka punya kartu ini, pasti biaya transportasi lebih murah dan mereka bisa saja pergi ke Fuji atau Kawaguchiko. 

Oia, siapa mereka?

Mereka adalah anak-anak lulusan SMK yang bekerja di Jepang. Untuk bisa ke Jepang tentu saja mereka melalui seleksi yang ketat. Nggak cuma urusan nilai namun juga bahasa Jepang. Karena apa? Sebab di daerah yang jauh dari Tokyo, biasanya masyarakat yang bisa berbahasa Inggris semakin sedikit. Mungkin itu 'desa-nya' Jepang. Mau nggak mau mereka harus bisa menguasai percakapan sehari-hari atau percakapan di tempat kerja. 

Ketika saya ajak bercanda, mau nggak cari istri orang Jepang? Mereka menjawab nggak mau, hahahaha. Mereka lebih baik pulang kampung mencari istri lokal dan membeli tanah dari hasil menabung tersebut. Aduh, sungguh mulia sekali cita-cita mereka. 

Selama sunset, saya dan pak suami lebih banyak mengobrol dengan mereka. Berbagi cerita dengan sesama orang Indonesia. Sampai akhirnya kami berpisah karena mereka ingin melihat objek yang lain. Tak lama setelahnya, saya dan pak suami pun mengikuti jejak mereka. Berfoto di Liberty, bernarsis ria dengan latar belakang Rainbow Bridge dan melihat gundam lagi. Gundam yang tinggi besar dan gagah di waktu malam. 

'Hai Gundam, akhirnya bisa ketemu kamu lagi,' bisik saya waktu. 
*saya memang lebay, hahahaha*.

Kalau Malam, Gundam Nakutin :(

Setelah puas melihat gundam dan berfoto ria akhirnya kami pulang. Sewaktu menunggu kereta datang, saya dan pak suami bertemu dengan anak rantau lagi. Anak laki-laki yang berasal dari Medan dan tinggal di Omiya. Dia juga sama seperti anak rantau yang saya jelaskan di atas. Namun, masa kontraknya sudah mau habis. Mungkin sekarang dia sudah balik ke Indonesia. 

Ada yang menarik dalam percakapan kami. Ketika tahu bahwa ini kali kedua kami ke Jepang dan kebetulan dua tahun berturut-turut, dia malah ingin seperti kami. Katanya kami beruntung karena kalau ke Jepang selalu bertemu dengan musim semi. Lanjutnya lagi, lebik baik kayak kami daripada bertahun-tahun tinggal di Jepang. 

'Lho, kenapa, Mas, bukannya enak tinggal di Jepang?' tanya saya. 

'Lumayan enak tapi kehidupan di Jepang sepi,' katanya.

Hahahahaha, dalam hati, saya malah ingin seperti kamu, Mas, yang bisa menikmati Jepang di setiap musim. Ah, hidup memang sawang-sinawang ya. 

Selama perjalanan pulang, tak hentinya saya dan pak suami membicarakan anak-anak rantau tadi. Kami yakin bahwa mereka harus kerja keras setiap hari. Uang yang didapat selain untuk memenuhi kebutuhan hidup juga ditabung untuk keluarga mereka di Indonesia. Mereka harus pandai mengelola keuangan supaya bisa untung dan membeli apa yang mereka inginkan sewaktu pulang nanti. Kalau mereka hanya memikirkan jalan-jalan saja, takutnya mereka nggak punya simpanan untuk keluarga. Mereka masih muda namun daya juangnya sangat luar biasa. Saya salut!

Pak suami lalu mengingatkan untuk lebih bersyukur karena kami tinggal nggak jauh dari Tokyo, pusat kota yang penuh dengan hiburan. Untuk mencari apa pun juga gampang. Dan, beliau juga bilang, kalau saya lebih beruntung karena bisa ke Jepang tanpa proses yang njlimet seperti mereka. Ya kali, saya juga pengin ke Okinawa, melihat objek wisata yang ada di sana. Hahahahaha, tuh kan hidup itu sawang-sinawang. 




























Continue Reading…

Monday, April 25, 2016

Fuji Shibazakura, Alternatif Liburan Musim Semi di Jepang

Liburan musim semi di Jepang berarti saatnya hanami atau melihat sakura. Jutaan orang rela merogoh kocek untuk melihat indahnya sakura. Keindahan sakura saat hanami di Shinjuku Gyoen dan sakura malam di Chidorigafuchi pernah saya ceritakan di sini dan sono. Bunga sakura mekarnya nggak lama, sekitar 2 minggu doang. Setelah itu akan gugur lagi. Mekarnya bunga sakura antara tempat yang satu dengan yang lain berbeda. Kalau Teman-teman sedang liburan musim semi dan nggak bisa melihat sakura, jangan khawatir. Masih ada Fuji Shibazakura, alternatif liburan musim semi di Jepang. Festival bunga ini nggak kalah cantiknya sama sakura.

Berawal dari saya dan pak suami yang ingin menghabiskan liburan golden week selama 3 hari. Tahun lalu liburan golden week jatuh di Bulan Mei. Seperti biasa, kami membeli tiket Kanto Pass 3 days karena kami tinggal di Shin Yokohama, daerah Kanto. Melihat fuji shibazakura festival adalah liburan di hari pertama. 

Liburan golden week kali ini kami lalui dengan santai, nggak kemrungsung seperti tahun sebelumnya. Kami ingin menikmati liburan layaknya warga lokal. 

#Apa itu Fuji Shibazakura Festival?

Festival di kaki Gunung Fuji yang berlangsung mulai pertengahan April sampai akhir Mei. Lokasinya ada di Fuji Motosuko Resort, Kawaguchiko. 

Festival yang berlangsung selama musim semi ini menyajikan pemandangan yang luar biasa bagus dengan hamparan ribuan bunga moss phlox yang berlatang belakang Gunung Fuji. Warna-warni bunga moss phlox disusun sedemikian rupa sehingga menghasilkan karya yang indah. Keindahan gradasinya dari pink hingga ungu membuat pengunjung terkesima. Bunga moss phlox mekar bertahap dan akan mekar 100% menjelang akhir Mei. 

Fuji Shibazakura


#Akses ke Fuji Shibazakura by Kanto Pass

Untuk sampai ke Fuji, saya dan pak suami harus berangkat pagi karena kami akan berganti-ganti kereta. Saya dan pak suami berangkat sekitar pukul 06.00 dari St. Shin Yokohama menggunakan JR East turun di Hachioji. 

Dari Hachioji kami transfer kereta cepat yang turun di Otsuki. Kereta ini ada banyak jenisnya. Ada kereta rapid, Super Azusa, Azusa, dan Kaiji. Semua kereta tersebut berangkat dari Shinjuku. Untuk lebih jelasnya silakan dilihat jadwalnya di link ini

Di dalam kereta ada petugas yang akan memeriksa tiket. Oia, kereta ini juga dilengkapi dengan toilet yang bersih dan nyaman. Perjalanan dari Hachioji ke Otsuki membutuhkan waktu sekitar satu jam. 

Sepanjang perjalanan kami dimanjakan dengan pemandangan alam yang hijau serta gunung Fuji. Kalau Fuji san sudah nampak, turis biasanya langsung beraksi untuk foto, hahahaha. 

Pemandangan dari Kereta

Setelah turun di Otsuki, kami ganti kereta Fujikyu Railway. Tahun sebelumnya saya dan pak suami pernah naik kereta yang sama. Saat itu kami liburan ke Kawaguchiko. Yup, perjalanan ke Fuji Shibazakura sama dengan perjalanan ke Kawaguchiko. Namun setelah sampai di Stasiun Kawaguchiko kami transit naik bus. Jadwal keberangkatan bus dari Kawaguchiko ke lokasi festival tiap satu jam sekali. 

Fujikyu Railway

Liburan di Jepang itu sangat mengenakkan turis karena semua informasi yang dibutuhkan lengkap termasuk info mengenai bunga shibazakura ini. Jadi ketika kami mau naik bus, di loket tersebut dipasang pengumuman mekarnya bunga ini. Pada awal Mei, bunga indah ini baru mekar 50%. Tiket Kanto Pass nggak termasuk harga tiket bus dan masuk ke festival, ya. 

Pengumuman Mekarnya Moss Phlox
Harga Tiket
Selama perjalanan menggunakan bus, wisatawan juga dimanjakan dengan pemandangan danau-danau indah yang ada di sekitar Gunung Fuji. Sayangnya, bus nggak turun untuk melihat keindahan tersebut. Perjalanan menggunakan bus dari Kawaguchiko ke lokasi festival sekitar satu jam. 



Pemandangan dari Bus

Banyak Warga Lokal yang Camping di Sekitar Danau


Selama festival Fuji Shibazakura, sebaiknya pengunjung membawa payung atau topi karena cuaca lumayan panas. Di lokasi festival ada toko suvenir, toilet, dan stand makanan. Supaya lebih hemat, sebaiknya bawa air minum atau camilan untuk bekal makan siang di sana. Makan siang di bawah kaki Gunung Fuji, hhmm nikmatnyaaa.^-^.



Fuji Mini :)

Gunung Fujinya Sudah Nggak Kelihatan

Jadi, gimana? Bagus kan? Makanya jangan sedih kalau nggak bisa melihat sakura. Masih ada Fuji Shibazakura yang tak kalah cantiknya. Have fun, ya!

Kalau mau ke sini, baiknya pagi karena bisa melihat Gunung Fuji yang bagus. Semakin siang atau sore, gunungnya kurang nampak apalagi kalau cuaca kurang mendukung. 

Untuk pulangnya, kami menggunakan transportasi yang sama. Dari shuttle bus Fuji Shibazakura kami ke Kawaguchiko lalu ke Otsuki dan turun di Shinjuku. Yup, dari Shinjuku perjalanan liburan masih lanjut ke Odaiba untuk melihat Gundam kedua kalinya. Yeay!


More Info about Fuji Shibazakura please click this site. 



















Continue Reading…

Tuesday, April 12, 2016

Belajar Bahasa Jepang Dasar di LBI UI

Saya mendapat komentar yang menanyakan belajar Bahasa Jepang di LBI (Lembaga Bahasa Internasional) UI yang pernah saya tulis di sini. Si Mbak menanyakan apa saja yang dipelajari di Jepang-1. Komentar ini membuat saya untuk menuliskan gambaran belajar Bahasa Jepang Dasar di LBI UI.

Jadi gini, belajar Bahasa Jepang di LBI UI bisa di dua tempat yakni di Salemba dan Depok. Peserta yang ingin mendaftar sebaiknya aktif mengikuti info yang ada di web LBI. Webnya LBI apa? Silakan buka link saya di atas. Baca saja aturan dan cara mendaftarnya. Ingat, LBI buka pendaftaran biasanya mendekati akhir term dan sistemnya siapa cepat dia dapat. Jika ada yang ingin ditanyakan, baiknya kirimkan email. Adminnya LBI baik kok, mereka akan menjawab email kita. Setelah mendaftar, Teman-teman boleh ikut placement test atau enggak. Kalau enggak ikut, otomatis akan belajar mulai dari Jepang-1. Dan, penempatan kelas menyesuaikan hasil placement test tersebut.

Kalau membaca brosurnya, belajar Bahasa Jepang Dasar di LBI mulai dari Jepang-1 sampai Jepang-7. Iya, belajar tingkat dasarnya aja sampai langit level ke-7. Duh, itu masih dasar, lho. Sedangkan tingkat intermediatenya ada 3 level. Kalau Teman-teman memang niat mau belajar, pastinya akan mengikuti level kelas secara kontinyu. Sebaliknya, karena sesuatu dan lain hal, banyak juga yang nggak melanjutkan belajarnya. Bahkan, ada yang berhenti di tengah term. Duh, sayang uangnya kalau gini.

Mau tahu kenapa saya kursus Bahasa Jepang? Padahal saya cuma IRT. Untuk apa? Silakan baca alasan-alasan tersebut di sini

Sampai tulisan ini dibuat, saya sedang persiapan ujian akhir kelas Jepang-2. Lalu, apa saja yang dipelajari di Jepang-1 dan Jepang-2?

#Kelas Jepang-1

Saya daftar kursus memang nggak ikut placement test. Saya memang niat belajar dari dasar banget. Selama di Jepang-1, Teman-teman akan mendapat 3 buku yakni Minna no Nihongo versi Jepang dan Inggris serta buku Hiragana-Katakana.

Di Jepang-1 materi dasarnya adalah menulis dan membaca Hiragana dan Katakana. Dan, buku Hiragana-Katakana tersebut wajib habis di Jepang-1. Pelajaran ini sangat penting karena kalau nggak bisa baca Hiragana-Katakana, kita nggak bisa mengikuti pelajaran selanjutnya. Karena apa? Materi pelajaran yang ada di buku di Minna no Nihongo tulisannya Jepang semua. 

Sedangkan buku Minna no Nihongo versi Inggris hanya untuk panduan saja. Isinya mengenai penjelasan vocab dan grammar dari masing-masing bab. 

Buku Minna no Nihongo ini terdiri dari 25 bab. Dan, nggak semua dipelajari di Jepang-1. Buku ini semacam buku diktat yang saya perkirakan akan habis dipelajari sampai kelas Jepang-4. Jadi, selama Jepang-1, akan belajar dari bab 1-6. Begitu seterusnya jika kita belajar secara bertahap. Buku ini pun akan habis jika dipelajari bab demi bab. Proses belajarnya pelan-pelan dan bertahap.

#Kelas Jepang-2

Hampir sama di Jepang-1, di kelas ini hanya melanjutkan pelajaran dari bab 7-14. Semakin lama belajar, semakin susah karena grammarnya makin susah dan vocabnya tambah banyak. 

Pola kalimat yang dipelajari di kelas ini merupakan variasi dari kalimat Jepang-1. Semua bab akan berkaitan satu sama lain dan biasanya ada pengembangan di sana-sini. Belajar Bahasa Jepang memang ekstra keras karena pola kalimatnya banyak, partikelnya juga banyak, belum lagi vocabnya. Selain itu, di kelas ini juga mempelajari variasi bentuk kata kerja. 

Di Jepang-2, Teman-teman akan mendapat tambahan buku Basic Kanji. Yup, mulai kelas ini kita belajar kanji. Yeay!

Buku Kanji Dasar

Gimana rasanya belajar kanji?
Wow, warbiyasak!! Lumayan bikin keliyengan, hahahaha.

Jadi, belajar kanji di buku ini ada beberapa cara. Untuk memudahkan, belajar kanji bisa melalui gambar. Misal, bentuk kanji 'hi' (api) memang dibuat berdasarkan bentuknya. Dengan narasi gambar, diharapkan Teman-teman lebih mudah memahami dan tahu cara menuliskannya.

Sebenarnya belajar kanji kalau cuma satu huruf memiliki satu bunyi dan satu arti sih nggak masalah, tinggal dihafalin aja. Tapi kenyataannya nggak seperti itu. Nah, lo!

Jadi, kanji Jepang itu memang unik dan jumlahnya ribuan. Iya, ribuan. Yang nyebelin, satu huruf kanji bunyinya bisa berbeda tergantung kunyomi atau onyomi. Apa itu? Saya nggak bisa menjelaskan secara rincinya. Dengan mempelajari sendiri, pasti Teman-teman akan tahu arti kunyomi dan onyomi serta cara membaca kanji. 

Belajar kanji ini juga penting karena kalau Teman-teman memang niat ingin kuliah atau bekerja di Jepang, semua huruf yang ada di Jepang kebanyakan kanji. Kalau di buku Minna no Nihongo kita masih bisa belajar dan membaca karena kanji di buku tersebut ada hiragana dan katakananya. Tapi kenyataannya di Jepang, huruf kanji nggak ada terjemahan hiragana atau katakananya. Kanji ya kanji. Jarang banget ada terjemahannya. 

Iyap, Jepang memang punya 3 huruf yaitu hiragana, katakana, dan kanji. Saya pernah baca teks yang mengatakan bahwa tulisan yang memakai hiragana dan katakana jarang banget dipakai di Jepang. Lucunya, teks tersebut mengatakan bahwa kalimat hiragana biasanya ada di buku anak-anak. Sedangkan katakana digunakan di telegram. Dan, yang paling sering digunakan yaitu kanji. Jadi selama ini saya belajar setara anak-anak Jepang dong, hahahaha. 

Sensei saya dan ibu Jepang yang saya kenal pernah mengatakan kalau sebenarnya orang Jepang sendiri banyak yang sudah lupa cara menulis kanji yang benar sesuai urutan. Mereka bisa baca kanji tapi untuk menulis dengan benar, mereka banyak yang lupa. Nah, ini seperti doktrin bagi saya. Jadi, saya inginnya bisa membaca kanji saja tanpa harus bersusah payah menghafalkan urutan penulisannya. 

Tapi selama kursus nggak seperti itu. Kita disarankan untuk bisa paham cara menulis dan membaca huruf kanji dengan baik dan benar. Nah, kalau untuk membaca memang harus diimbangi dengan bacaan yang banyak sehingga jumlah vocab dan tulisan kanji juga bertambah. Tapi saya belum kuat, Kakaaaak. Belajarnya pelan-pelan. Maklum, kemampuan otak berbanding terbalik dengan pertambahan usia. Hiks!

Nah, itu saja gambaran belajar Bahasa Jepang tingkat dasar di LBI UI. Bagi yang tertarik sama Jepang atau ingin kuliah di sana, buruan belajar Bahasa Jepang. Nihon-go wa muzukashii desu ga omoshiroi desu.^,^.























Continue Reading…

Monday, April 11, 2016

Kenapa Saya Kursus Bahasa Jepang?

Hampir setahun saya kursus Bahasa Jepang di LBI (Lembaga Bahasa Internasional) UI. Kalau Teman-teman ingin tahu apa itu LBI, silakan baca tulisan saya yang ini. Saya memang suka mempelajari bahasa dan akhirnya memilih kursus Bahasa Jepang di UI. Kenapa kursus Bahasa Jepang? Karena berbagai alasan, hahahaha.  

Bukannya saya sok-sokan ambil kursus Bahasa Jepang. Kalau dilihat dari status saya yang seorang IRT biasa, mungkin ada yang berpikiran aneh kenapa ambil kursus Bahasa Jepang. Halah, IRT pakai Bahasa Jepang buat apa? Buang-buang duit saja. 

Tapi, saya nggak peduli dengan pemikiran tersebut. Saya ingin melakukan hal-hal yang saya sukai. Jujur nih belajar sesuatu yang kita suka dan tanpa paksaan, rasanya beda Kawan. Saya sangat menikmati proses belajar di tempat kursus. Setiap pelajaran baru yang bikin pusing pala berbi Pipit, saya pelajari lebih rinci sampai mudeng. Pusing tapi senang, hahaha. Dan, menikmati proses belajarnya itu yang saya suka. 

Lalu, kenapa saya tetap kursus kalau malah bikin pusing? Ini nih alasan kenapa saya kursus Bahasa Jepang :

#Suka Jepang

Ini alasan utama saya ambil kursus. Saya suka Jepang sejak kecil. Setiap membaca kehebatan teknologi di negara Jepang, saya selalu kagum. Puncaknya ketika saya agak iri ketika ada teman SMA yang lolos pertukaran pelajar di Jepang. Setelah melalui tahap seleksi yang ketat, mereka bisa belajar di sana selama beberapa bulan. Sejak itu, keinginan saya untuk bisa ke Jepang sangat kuat.

Seiring berjalannya waktu, alhamdulillah saya bisa ke Jepang meski nebeng dinasnya pak suami. Tuhan mengabulkan keinginan hamba-Nya melalui jalan lain yang lebih mudah. Sebenarnya nggak mudah juga sih kalau mengingat biaya yang harus dikeluarkan untuk mengurus visa dan beli tiket PP-nya. Hahahahaha. Alhamdulillah, semua terbayar ketika bisa merasakan hidup di sana yang cuma beberapa bulan. Pengalaman dan kebahagiaan tak tergantikan oleh uang.*halah*

Saya suka Jepang karena teknologi dan budaya disiplinnya yang tinggi. Dua hal ini yang membuat Jepang bisa menjadi negara yang maju dan hebat. 

Jujur, saya nggak suka mengikuti perkembangan anime, dorama, idol, atau cosplay yang saat ini lagi marak dan membanjiri Indonesia. Saya kurang suka dengan hal-hal tersebut. Jadi kalau ada yang cerita tentang dorama atau anime, saya cuma diam dan serasa mendengarkan bunyi jangkrik krik-krik, hahahaha. 

Tapi saya salut banget sama cowok entah itu teman sendiri atau temannya pak suami yang mengikuti perkembangan idol Jepang, seperti AKB48 dan JKT48. Saya suka ketawa sendiri melihat mereka yang hafal dengan para personilnya. Saya juga salut ketika mereka bela-belain antre berjam-jam demi menonton konsernya. Saya juga salut ketika ada yang sedih kalau idolanya sakit atau keluar dari grupnya. Haduh Mas, kalian sungguh hebat!! Saya nggak sanggup kalau harus seperti kalian. Saya hanya menikmati lagu-lagu mereka yang ngehits aja. Selebihnya engngngngng....

Tanpa mengikuti perkembangan dunia idol, anime dan segala yang ngehits di Jepang bukan berarti saya nggak suka Jepang. Saya suka Jepang karena teknologi dan budayanya. Justru karena inilah yang membuat saya enjoy menjalani kursus. Ketika saya belajar sesuatu yang saya suka, rasanya beda. Saya belajar nggak ada tekanan atau paksaan. Semakin lama belajar justru saya menyadari kalau banyak yang tidak saya ketahui. Nihon-go o benkyoushimasu tanoshii ne! 

Eits, bukan berarti saya nggak suka sama Indonesia, lho. Saya suka Indonesia. Alasan kita kursus bahasa asing bukan berarti kita nggak nasionalis tapi ini untuk menambah ilmu pengetahuan. Ilmu itu tidak terbatas, kan? 

#Tokyo Love Story

Generasi 90-an masih ingat nggak sama drama Tokyo Love Story? Hayoo yang mengaku generasi 90 mana suaranyaaa? Drama Tokyo Love Story ditayangkan di Indosiar setiap sore. Zaman itu drama ini sangat terkenal. Gegara drama ini, saya suka sama Jepang. 

Masih ingat nggak sama ceritanya?

Kalau nggak salah, tokoh utamanya Kanji dan Rika Akana. Kanji merantau ke Tokyo untuk mencari kerja. Kanji orangnya pendiam dan kalem banget. Teman sekantornya, Rika Akana sifatnya ceria dan suka ketawa. Sifat Rika beda banget sama sifatnya Kanji. 

Rika suka sama Kanji. Tapi Kanji antara ya dan nggak karena dia suka sama Satomi, temannya sewaktu kecil. Kanji dan Satomi pacaran tapi mereka juga sempat putus. Nah, inilah dramanya ketika Kanji harus memilih antara Satomi atau Rika Akana. Ending drama ini bikin miris. Kanji memilih Satomi untuk dijadikan istri. Padahal Rika lebih cantik dan lebih ceria, lho. Aduh Mas Kanji, kamu kok tega, sih. 

Drama percintaan ini sangat membekas di ingatan saya. Saya masih ingat mukanya Mbak Rika Akana, Mas Kanji dan Mbak Satomi. Saya juga masih ingat sama sound tracknya, lho. Yang ngaku generasi 90-an, yuk ah nyanyi bareng.^,^.

Ku tak tahu harus memulai dari mana
Sang waktu pun slalu terus mengejarku ke sana
Terbang melayang, lalu menghilang
Tertelan kata hiasan cinta

Pacarku yang cantik dan slalu menawan
Membuat susah diriku tuk mengatakan cinta
Namun hujan kan reda 
Dan kita kan dapat berjalan bersama

Di hari itu dan di tempat itu
Bila kita tak pernah berjumpa
Mungkin kita tak akan percaya
Kau dan aku saling suka dan cinta 


#Berteman Sama Orang Jepang

Karena pernah tinggal di Jepang, akhirnya saya punya teman Jepang. Awalnya teman saya cuma satu, yakni sensei yang mengajar Bahasa Jepang di Kannai, tempat tinggal pertama saya. Namanya Nakamura-san. Beliau adalah orang Jepang pertama yang saya kenal. Orangnya sangat baik, perhatian, dan ramah. 

Komunikasi melalui email masih kami lakukan sehingga waktu saya kali kedua tinggal di Jepang, kami kangen-kangenan. Kami saling cerita kondisi masing-masing. Beliau juga mengantarkan saya belanja dan menunjukkan makanan yang tidak mengandung babi. Dari beliau pula saya tahu natto. 

Natto merupakan makanan khas Jepang yang terbuat dari fermentasi kedelai dengan bau yang menyengat dan teksturnya lengket. Karena baunya yang kurang sedap, menjadikan nggak semua orang Jepang suka natto. Mereka nggak tahan dengan baunya. Tapi natto bagi saya sangat enak karena termasuk makanan yang halal, menyehatkan, dan murah. Makan natto lebih nikmat jika dicampur nasi putih hangat dan dicampur dengan irisan daun bawang. Haduuh, saya jadi ngiler membayangkan natto. 

Natto

Ketika ikut dinas yang kedua, alhamdulillah teman saya bertambah. Nggak cuma sensei saja tapi juga teman dari negara lain serta ibu-ibu Indonesia yang tinggal di Jepang. Cerita tentang mereka pernah saya tulis di sini dan sono

Pertemanan yang awalnya biasa lalu berkembang dengan perkenalan saya dengan ibu-ibu Jepang yang tinggal di Jakarta. Nggak mudah untuk menjalin komunikasi secara intens karena mereka agak tertutup. Kalau nggak ada hal yang penting banget, mereka nggak bakal whatsapp atau SMS, meski sekedar basa-basi. Dengan kerja sungguh-sungguh dan nggak melanggar etika, baru mereka bisa percaya akan kredibilitas kita. 

Oia, ibu-ibu Jepang yang tinggal di Jakarta pintar Bahasa Indonesia, lho. Mereka belajar Bahasa Indonesia ada yang privat atau ikut kursus. Meski sudah jago casciscus dengan Bahasa Indonesia namun mereka juga sering ngobrol pakai Bahasa Jepang. Nah, supaya saya bisa ikut nimbrung dengan mereka ada baiknya kalau saya mengerti Bahasa Jepang, kan?

#Ingin Balik ke Jepang

Iyaaa, ini keinginan saya selama ini. Entah kapan akan terjadi tapi saya yakin kalau suatu saat bisa ke Jepang lagi. Saya yakin bisa bertemu teman-teman di sana. Saya yakin bisa praktik Bahasa Jepang dengan orang Jepang di negara Jepang. 

Semoga Tuhan merangkul mimpi saya dan mewujudkannya dengan cara yang indah dan mudah. Aamiin.^-^.

#Melatih Otak

Nah, ini juga alasan saya kenapa saya suka belajar. Sejak menjadi IRT kadang saya merasa dunia kok sempit karena cuma mengurus cucian, beberes rumah, memasak, dan nyetrika. Dengan ikut kursus maka saya bisa menggunakan waktu kursus sekalian untuk me time. Dengan ikut kursus, otak saya agak mumet tapi saya senang karena itu tandanya otak dipakai untuk mikir. Tapi..tapi..kalau untuk mikir hal-hal yang berat kadang saya nggak sanggup, Kakaaaak. Misal nih, kalau sudah belajar kanji. Haduuh, pening! 

#Bertambah Teman

Saya selalu senang bila bertemu dengan orang baru. Setiap pergantian term, pasti ada teman baru yang saya kenal. Dengan bertambahnya teman, saya bisa mengerti karakter orang lain dan jalan pikiran mereka. Oia, rata-rata teman saya masih muda-muda, euy! Rasanya seru ketika saya bisa ngobrol dan tahu mimpi serta cita-cita mereka. Sebagian besar dari mereka sih pengin ke Jepang. Anak muda zaman sekarang hebat-hebat, euy!

Itu tadi beberapa alasan kenapa saya kursus bahasa Jepang. Belajar adalah hal yang paling saya sukai apalagi belajar bahasa asing. Dengan mempelajari bahasa asing setidaknya kita mengerti sapaan atau percakapan dasar sehingga kalau mau ngobrol dengan orang asing jadi enak. Jangan takut kalau pengucapan kita masih endebra-endebro. Mereka nggak masalah dengan hal itu. Justru mereka salut ketika tahu kita pernah belajar dan mengerti bahasa asing yang diucapkan. Belajarlah dan terus belajar. Siapa tahu, dengan menguasai bahasa, kita bisa menguasai dunia. Ceileh bahasanya, hahahaha. Gambarimasu!!






Continue Reading…

Friday, April 01, 2016

Tinggal di Depok

Minggu lalu, salah satu sahabat saya yang tinggal di Yogyakarta whatsapp menanyakan gimana rasanya tinggal di Depok, Jawa Barat. Sahabat saya Maryam (sebut saja namanya itu). Maryam saat ini sedang menjalani LDM. Tugas negara mengharuskan suami harus tinggal di ibu kota. Sedangkan Maryam beserta anak-anaknya tinggal di Yogya. Dia sempat kepikiran untuk tinggal bersama suami. Maryam kasihan kalau mendengar suaminya selalu pulang malam dan masih melakukan aktivitas sendiri di rumah. Capek banget, kan?

Sebenarnya tinggal di mana pun asal kita bisa enjoy pasti akan terasa enak dan nyaman. Keputusan tinggal di Depok merupakan keputusan antara saya dan pak suami. Kata orang, kalau mau memilih tempat tinggal di Jakarta dan sekitarnya, biasanya tempat tersebut dekat dengan tempat tinggal pertama kali. Saya nggak sepenuhnya mengiyakan karena itu tergantung dari berbagai aspek, misalnya saja keuangan.

Saya dan pak suami pertama kali ngontrak di daerah Tanjung Barat, Jakarta Selatan. Saat itu, kalau mau jalan-jalan, yang deket ya di Depok. Karena apa? Jarak ke Depok lebih dekat daripada jarak ke Citos atau Penvil. Kalau jalan-jalan ke Depok, mau naik kendaraan sendiri, oke. Mau naik KRL, hayuk. Mau ngangkot, tinggal jalan di depan gang. Jadi, banyak pilihan transportasi kalau mau ke Depok.

Karena sering wara-wiri ke Depok, akhirnya saya dan pak suami merasa sreg dengan kota ini. Kesan pertama saat ke Depok yaitu RAME. Sumpah, dari tugu selamat datang langsung terpampang *halah bahasane* Jalan Margonda yang lebar tapi susah untuk diseberangi. Pengalaman susahnya menyeberang di Margonda pernah saya tulis di sini.

Jalan Margonda memang jalan utama di Depok. Ramenya minta ampun apalagi kalau sedang jam-jam sibuk dan weekend. Macetnya, Kakaaaak.

Oke, saya ceritain bagaimana tinggal di Depok dari berbagai aspek, ya.

#Universitas Indonesia

Ini salah satu yang membuat saya suka sama Depok. Apalah arti Depok tanpa UI, hahahahaha. Iya, universitas ini merupakan salah satu universitas impian di negeri ini. Yah, meski belum bisa kuliah di sana seenggaknya sampai saat ini saya masih bisa merasakan perkuliahan ala anak UI. Kok bisa? Lha kan saya masih ambil kursus bahasa asing di UI. Kursus yang seru tersebut pernah saya ceritakan di sini.

Tapi memang bener kok, saya melihat kampus UI sangat hidup. Saya kan ambil kursus hari Sabtu jadi tahu keseruan aktivitas adik-adik mahasiswa di sana. Selalu saja ada kegiatan ngumpul di sana. Entah bikin tugas kuliah, persiapan pentas, atau malah ada kegiatan seru kayak Festival Korea atau Festival Jepang di PSJ (Pusat Studi Jepang). Pokoknya, UI nggak ada matinya. Keren!

Selain itu, UI itu rindang banget. Banyak banget pohon-pohon hijau yang tinggi. Hal ini membuat siapa pun yang jalan kaki di sekitar UI nggak merasa panas. Selain pohon yang memanjakan mata, ada juga danau-danau yang bagus. Enak banget kalau habis kursus jalan kaki sambil melihat danau-danau itu. Adem banget rasanya. Dan, di UI ada bus kampus yang gratis. Duh, komplit banget ya, fasilitasnya.

#Kampus

Selain UI, Depok juga punya banyak kampus, lho. Sependek pengetahuan saya ada BSI dan Guna Dharma yang kampusnya berlokasi di Margonda dan Kelapa Dua. Kehidupan kampus yang selalu rame pasti berimbas pada kehidupan ekonomi yang lain di Depok. Misalnya saja bisnis fotocopy, kuliner, dan kos-kosan. Malah saat ini Depok lagi gencar membangun apartemen. Kabarnya, banyak anak UI yang tinggal di apartemen yang ada di sepanjang Margonda. Wuih!

#Kuliner

Seperti yang saya sebutkan di atas, banyaknya mahasiswa di Depok membuat bisnis kuliner juga menggila di kota ini. Di sepanjang Jalan Margonda dari ujung ke ujung full kuliner. Mau apa? Nasgor, ayam, mie, sushi, soerabi, roti bakar, martabak, bubur, nasi uduk, warteg, es, semua ada. Nggak usah takut kelaparan kalau tinggal di Depok karena kulinernya beragam. Tinggal atur duitnya saja, hahahaha.

Selain Margonda, ada juga kuliner di Daerah Beji, Depok Tengah, Depok Timur, di Jalan Tole Iskandar, dan masih banyak lagi. Misalnya, Soto Juragan yang ada di Depok Timur

#Pusat Perbelanjaan

Kalau menurut saya, mall yang bagus di Depok cuma satu, yaitu Margo City. Kenapa saya bilang bagus? Karena memang lay outnya bagus, nyaman, kulinernya banyak, dan outletnya beragam. Sebenarnya ada juga Detos (Depok Town Square), ITC Depok, Ramayana, D Mall, Giant, Tip Top, dan DTC (Depok Town Center) di Sawangan.

Pusat perbelanjaan selain Margo City, sebagian ada yang sepi karena outletnya kurang menarik atau malah harganya kemahalan.

#KRL

Salah satu faktor yang penting banget bagi saya yaitu KRL atau sekarang lebih dikenal dengan commuter line. Iya, saya penyuka transportasi umum. Beberapa daerah di Depok dilalui oleh KRL. Namun ada juga yang enggak, misalnya saja Sawangan. Daerah ini lebih banyak akses tolnya ketimbang KRL.

KRL merupakan transportasi yang sangat murah dan nyaman. Saat ini, PT. KCJ ( Kereta Commuter Jakarta) sedang melakukan inovasi dan perbaikan untuk kenyamanan penumpang. Meski murah dan nyaman, kadang transportasi ini juga menjengkelkan karena masih ada kereta yang berangkat nggak tepat waktu dan beberapa gerbong ada yang nggak dapat peron. Keadaan ini tentu merugikan penumpang karena mereka juga harus berpacu dengan waktu, lari-lari memasuki gerbong sambil berdesakan atau mencari gerbong yang ada peronnya.

#Tinggal di Kampung atau Kompleks?

Di Depok banyak banget kompleks mulai dari yang cluster mini sampai kompleks yang besar. Kalau Teman-teman sedang bingung mau mencari kompleks yang mana, saya pernah menulis beberapa kompleks yang ada di Depok. Silakan baca di sini. Siapa tahu bisa menambah referensi jelajah kompleksnya. Jangan lupa, untuk selalu memperhatikan hal-hal berikut sebelum membeli rumah di kompleks.

Teman-teman lebih suka tinggal di kampung? Saya juga pernah tinggal di kampungnya Depok, kok. Kalau mau tahu gimana rasanya tinggal di kampung, silakan baca juga di sini.

#Bebas Banjir?

Kalau ada yang bilang Depok bebas banjir itu di mana dulu? Karena nggak semua daerah bebas banjir. Sewaktu saya dan pak suami mencarai rumah pertama kali, ada lho kompleks yang banjir. Kami tahunya dari letaknya yang lebih rendah dari jalan dan perabot di rumah tersebut diberi tatakan supaya nggak kena banjir. 

Kalau hujan deras, kadang di beberapa jalan bahkan di Margonda sendiri juga sering banjir. Hal ini dikarenakan drainase yang buruk di wilayah tersebut. Penyebabnya karena banyak got yang dibeton jadi air kurang mengalir dengan lancar, akhirnya banjir deh.

#Macet

Kalau ini jangan ditanya. Di mana-mana kalau jam-jam sibuk dan weekend pasti macet. Baik Margonda, Jalan Tole Iskandar, Kartini, Depok Lama, Beji, hampir semua macet. Harus sabar deh kalau mau lewat di jam-jam sibuk. Siapkan stok sabar yang banyak, hahahaha.

#Pelayanan Kesehatan

Pelayanan kesehatan di Depok bisa dibilang cukup bagus. Ada klinik, puskesmas, RSUD, dan ada juga RS swasta yang bonafid. Mau mencari pelayanan kesehatan mulai dari kecantikan sampai pelayanan untuk penyakit gawat, juga tersedia. Mau pelayanan kesehatan yang murah atau yang mahal, juga ada. Mau yang pakai asuransi atau BPJS, juga ada. Komplit! 

#Ruang Terbuka Hijau (RTH)

Sayang sekali, untuk fasilitas RTH yang disediakan oleh pemerintah sangat kurang bahkan tidak ada sama sekali. Hutan kota di Depok ada di UI namun itu nggak membuat semua orang tahu. Bisa dikatakan kalau Depok sangat membutuhkan RTH. Warga dapat melakukan aktivitas atau kreativitas di RTH adalah harapan bagi warga Depok jadi kalau sedang liburan mereka nggak melulu ke mall. 

#Panas

Tinggal di Depok sangat panas seperti Jakarta. Meski di daerah tertentu ada yang masih punya area pepohonan hijau namun kadang panas masih menyengat. Mungkin banyaknya pabrik di Depok turut andil dalam peningkatan suhu di kota ini.

#Jakarta Coret

Iya, Depok merupakan daerah pinggiran Jakarta. Warganya banyak yang pindahan dari Jakarta atau yang bekerja di Jakarta. Alasan mereka memilih tinggal di Depok bisa jadi karena harga tanah di Jakarta sudah mihil bingit. 

Mereka yang bekerja di Jakarta harus rela berangkat pagi, pulang malam, terkena macet di jalan, atau berdesak-desakan di kereta. Para pekerja tersebut umumnya meninggalkan kendaraan mereka di stasiun dan memilih naik kereta karena lebih murah dan nggak kena macet. 

Ini cerita saya mengenai Depok, salah satu kota Jakarta coret. Saya suka Depok dengan berbagai keunikannya. Banyaknya kuliner, cerita kemacetan, dan mudahnya akses di kota ini membuat saya suka layaknya kota kelahiran sendiri. Harapan saya, semoga Depok selalu menjadi kota yang banyak wifinya, ramah anak dan ramah untuk warganya, ya. Aamiin.^-^.






















Continue Reading…

Welcome April

Welcome, April! Bulan ini merupakan bulan yang spesial buat saya. Banyak sekali kejadian yang saya alami di bulan ini. Saya lahir di bulan ini. Saya memakai jilbab pertama kali di bulan ini. Saya bisa melihat sakura mekar sempurna juga di bulan ini.

Sakura memang cantik banget baik siang maupun malam. Nggak bosen saya melihat bunga ini. Indahnya sakura saat hanami di Shinjuku Gyoen dan sakura malam pernah saya ceritakan di sini dan sono. Iya, saya belum bisa move on dari hal-hal yang berbau Jepang, hahaha. Ima Nihon de haru desu. Huwaaaa tambah baper. 

Sebenarnya bukan itu yang membuat saya selalu senang bila April menyapa. Setiap hari sebelum atau sesudah tidur, hampir dipastikan saya selalu merenung, memikirkan kejadian-kejadian pada hari tersebut. Pun begitu saat bulan April tiba. Saya selalu melakukan instropeksi dan mengingat peristiwa-peristiwa setahun belakangan yang sangat membekas. Kejadian apa yang membuat mindset atau perilaku saya berubah. Kejadian apa yang membuat saya untuk lebih mawas diri serta kejadian apa yang perlu saya tingkatkan konsistensinya. 

Dalam setahun kemarin banyak sekali peristiwa yang membuat saya menjadi seperti sekarang. Saya hanya ingin berubah menjadi lebih baik lagi tanpa menghilangkan jati diri saya dan kebiasan-kebiasan yang selama ini sudah menjadi rutinitas. 

Ada kalanya seseorang berubah karena melihat, mendengar, atau mengalami sendiri kejadian dalam hidupnya. Saya pun begitu. Bertemu dengan banyak orang dan banyak karakter membuat saya lebih mengerti arti tenggang rasa dan berdamai dengan peristiwa itu. Ada peristiwa yang membuat pikiran saya berubah total memandang sesuatu karena tahu fakta yang sebenarnya. Saya mencoba belajar dari hal tersebut dan berusaha menerima dengan lapang dada. 

Masalah yang datang silih berganti membuat saya menjadi lebih mengerti arti hidup secara menyeluruh. Saya nggak mau memikirkan masalah demi masalah terlalu jauh. Saya juga nggak mau berada di lingkungan orang-orang yang selalu memberi hawa negatif terlalu lama. Saya hanya ingin bahagia dan menikmati hidup. 

Makasih sahabat-sahabatku yang sudi membaca whatsapp dengan kata-kata 'ajaib' dariku kalau sedang galau. Makasih sahabat-sahabatku sudah mendengar ceritaku. Makasih sahabat-sahabatku berbagi tawa denganku. Makasih juga untuk pak suami yang selalu menjadi pendengar setiaku.^-^.

Semoga April ini seindah April tahun kemarin. Aamiin.*kode untuk pak suami.^-^.



-Welcome April in my new life-















Continue Reading…
Powered by Blogger.

Recent Posts

    Follow Me

    Page Views

    Copyright © Pipit Widya | Powered by Blogger
    Design by Saeed Salam | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com