Friday, April 29, 2016

Odaiba dan Anak Rantau

Ini kali kedua saya dan pak suami pergi ke Odaiba. Tahun sebelumnya kami memang sudah pernah ke Odaiba karena ingin melihat gundam dan bernarsis ria di Madame Tussauds. Sebenarnya pergi ke Odaiba bukanlah bagian dari rencana liburan golden week. Berhubung dari Fuji Shibazakura masih sore, maka kami berniat pergi ke Odaiba sekedar untuk nostalgia saja. 

Kami naik kereta rapid dari Otsuki sampai ke pemberhentian terakhir yaitu di Shinjuku. Dari Shinjuku, saya dan pak suami transit ke JR Yamanote Line dan turun di Shimbashi. Setelah itu transit lagi ke Yurikamome Line. 

Saya menikmati perjalanan menggunakan kereta Yurikamome Line, kereta canggih yang driver less. Perjalanan saat itu membuat memori saya untuk mengulang kembali waktu pertama kali ke Odaiba. Jujur saja, luapan emosi dan rasa penasaran kali ini nggak sebesar waktu perjalanan pertama. Iya, saya hanya ingin bernostalgia dan benar-benar menikmati setiap langkah perjalanan. Saya menikmati antrean di kereta. Saya mengincar tempat duduk di bagian depan. Meski mendapat tempat duduk namun saya dan pak suami memilih berdiri agar bisa menikmati indahnya Teluk Tokyo dan berjalan di dalam Rainbow Bridge. Ah, tetap saja rasa kagum tak bisa lepas dari senyum saya.

Di Odaiba, saya dan pak suami nggak ke mana-mana. Kami hanya menikmati sunset di Teluk Tokyo berlatar belakang Rainbow Bridge. Kami bercerita ngalor ngidul sambil mengingat masa lalu. Bunyi gemericik air menjadi suguhan tersendiri kala itu. Hhhmm, suasananya lumayan romantis, hahahaha.

Rainbow Bridge di Malam Hari

Keadaan sore itu cukup rame. Banyak juga turis yang menyaksikan sunset seperti kami. Mungkin karena saat itu sedang golden week dan udara cukup bersahabat jadi banyak turis yang ingin mengabadikan momen di Odaiba. 



Tak jauh dari tempat kami duduk terdengar percakapan bahasa Indonesia lebih spesifik ada yang berbahasa Jawa. Ah, senangnya ada orang Indonesia, pikir saya saat itu. Maka saya pun memberanikan diri bertanya kepada mereka. 

Usia mereka masih muda, sekitar 20 tahunan. Mereka adalah anak rantau yang sedang berlibur ke Tokyo. Mereka pergi berombongan. Setelah tanya sana-sini ternyata mereka tinggal di Okinawa (kalau nggak salah). Berlibur ke Tokyo adalah impian yang harus dibayar mahal karena mereka harus menabung sekian lama. Biar irit, mereka harus menginap di tempat teman atau menginap secara rombongan. Sayangnya, mereka nggak tahu soal Kanto Pass. Kalau mereka punya kartu ini, pasti biaya transportasi lebih murah dan mereka bisa saja pergi ke Fuji atau Kawaguchiko. 

Oia, siapa mereka?

Mereka adalah anak-anak lulusan SMK yang bekerja di Jepang. Untuk bisa ke Jepang tentu saja mereka melalui seleksi yang ketat. Nggak cuma urusan nilai namun juga bahasa Jepang. Karena apa? Sebab di daerah yang jauh dari Tokyo, biasanya masyarakat yang bisa berbahasa Inggris semakin sedikit. Mungkin itu 'desa-nya' Jepang. Mau nggak mau mereka harus bisa menguasai percakapan sehari-hari atau percakapan di tempat kerja. 

Ketika saya ajak bercanda, mau nggak cari istri orang Jepang? Mereka menjawab nggak mau, hahahaha. Mereka lebih baik pulang kampung mencari istri lokal dan membeli tanah dari hasil menabung tersebut. Aduh, sungguh mulia sekali cita-cita mereka. 

Selama sunset, saya dan pak suami lebih banyak mengobrol dengan mereka. Berbagi cerita dengan sesama orang Indonesia. Sampai akhirnya kami berpisah karena mereka ingin melihat objek yang lain. Tak lama setelahnya, saya dan pak suami pun mengikuti jejak mereka. Berfoto di Liberty, bernarsis ria dengan latar belakang Rainbow Bridge dan melihat gundam lagi. Gundam yang tinggi besar dan gagah di waktu malam. 

'Hai Gundam, akhirnya bisa ketemu kamu lagi,' bisik saya waktu. 
*saya memang lebay, hahahaha*.

Kalau Malam, Gundam Nakutin :(

Setelah puas melihat gundam dan berfoto ria akhirnya kami pulang. Sewaktu menunggu kereta datang, saya dan pak suami bertemu dengan anak rantau lagi. Anak laki-laki yang berasal dari Medan dan tinggal di Omiya. Dia juga sama seperti anak rantau yang saya jelaskan di atas. Namun, masa kontraknya sudah mau habis. Mungkin sekarang dia sudah balik ke Indonesia. 

Ada yang menarik dalam percakapan kami. Ketika tahu bahwa ini kali kedua kami ke Jepang dan kebetulan dua tahun berturut-turut, dia malah ingin seperti kami. Katanya kami beruntung karena kalau ke Jepang selalu bertemu dengan musim semi. Lanjutnya lagi, lebik baik kayak kami daripada bertahun-tahun tinggal di Jepang. 

'Lho, kenapa, Mas, bukannya enak tinggal di Jepang?' tanya saya. 

'Lumayan enak tapi kehidupan di Jepang sepi,' katanya.

Hahahahaha, dalam hati, saya malah ingin seperti kamu, Mas, yang bisa menikmati Jepang di setiap musim. Ah, hidup memang sawang-sinawang ya. 

Selama perjalanan pulang, tak hentinya saya dan pak suami membicarakan anak-anak rantau tadi. Kami yakin bahwa mereka harus kerja keras setiap hari. Uang yang didapat selain untuk memenuhi kebutuhan hidup juga ditabung untuk keluarga mereka di Indonesia. Mereka harus pandai mengelola keuangan supaya bisa untung dan membeli apa yang mereka inginkan sewaktu pulang nanti. Kalau mereka hanya memikirkan jalan-jalan saja, takutnya mereka nggak punya simpanan untuk keluarga. Mereka masih muda namun daya juangnya sangat luar biasa. Saya salut!

Pak suami lalu mengingatkan untuk lebih bersyukur karena kami tinggal nggak jauh dari Tokyo, pusat kota yang penuh dengan hiburan. Untuk mencari apa pun juga gampang. Dan, beliau juga bilang, kalau saya lebih beruntung karena bisa ke Jepang tanpa proses yang njlimet seperti mereka. Ya kali, saya juga pengin ke Okinawa, melihat objek wisata yang ada di sana. Hahahahaha, tuh kan hidup itu sawang-sinawang. 




























9 comments:

  1. senengnya ketemu sesama perantau di jepang ya mbak..

    ReplyDelete
  2. aduh jembatan di malam harinya keren banget

    ReplyDelete
  3. Saya yg habis SMK merantau di luar daerah aja berasa seuatu perjuangannya. Apalagi mereka yg jangan2 seumuruan saya merantau di luar negeri.

    Btw setuju gundamnya kok keliatan serem ya hehe XD

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener, bisa ngerasain kalau kita senasib ya, Mba.

      Delete
  4. cinta produk lokal berarti ya mbak mereka hehehee

    ReplyDelete
  5. memang bener serem kalau liat gundam malem-malem ya .

    ReplyDelete

Powered by Blogger.

Recent Posts

    Follow Me

    Page Views

    Copyright © Pipit Widya | Powered by Blogger
    Design by Saeed Salam | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com