Friday, May 20, 2016

Buka Mata, Hati, dan Telinga

Seminggu belakangan ini saya merasa galau rauwis-uwis. Kegalauan tersebut pasti ada sebabnya. Galau setelah membaca postingan blogger yang saya ikuti kemudian galau karena ngeklik akun yang nggak sengaja saya temukan. Kegalauan tadi akhirnya membuka mata, hati, dan telinga saya. 

Kadang, saya berpikir kok bisa ya semua yang saya baca, lihat, dan dengar lagi-lagi membuka hati saya untuk lebih sadar akan besarnya dunia ini. Besarnya dunia hanya mengingatkan saya betapa kecilnya saya. Padahal saya sudah berusaha untuk tahu dan memahami. Tapi, setelah saya baca lagi ternyata saya belum benar-benar tahu. Iya, dunia ini berisi aneka macam orang dengan urusannya masing-masing yang kadang bikin pusing. Toh, dengan membaca dan memahami kehidupan mereka maka saya menarik kesimpulan, inilah hidup yang penuh warna. 

Hahahaha, ngomong apa sih ini? 

Ya sudah, yuk ngomongin yang bikin saya galau.

#Memahami Perbedaan

Ini gegara saya membaca postingan blogger 'sunyi'. Iya, saya menyebutnya demikian karena blognya isinya cuma tulisan dan tulisan tok! Jangankan foto, identitas si empunya blog pun sangat minim dan bikin penasaran. Namun followers blog dan media sosialnya nggak sesunyi blognya, jumlahnya ribuan. Saya maklum karena memang tulisan blogger ini bernas dan cetar, berkisah kehidupan yang terjadi di masyarakat. 

Tulisannya di awal Mei kemarin ada yang membuat saya mengiyakan dan sependapat dengannya. Dia menulis tentang keheranannya melihat fenomena yang terjadi di masyarakat yang berdebat soal datangnya puasa, natal, tahun baru, dll. Berbagai perdebatan dan nyinyiran akan memenuhi media sosial yang isinya itu-itu saja tiap tahun. Hal-hal yang diributkan sudah usang dan semua orang juga paham. 

Jika puasa Ramadhan tiba, biasanya yang diperdebatkan soal warung yang boleh buka mulai jam berapa, pakai penutup atau enggak, dan penetapan awal puasa yang merembet ke penentuan tanggal 1 Syawal atau lebaran. 

Sebagai umat muslim, kalau kita memang niat puasa, saya yakin mau datang godaan apapun pasti niat tak akan goyah. Kalau bisa dengan niat tersebut, kita akan menuntaskan puasa sampai selesai. Godaan saat puasa banyak. Godaan soal makanan mah ini hanya godaan yang kecil. Masih banyak hal lain yang bisa bikin konflik batin saat puasa lho, nggak melulu soal makanan. 

Oia, saya pernah diceritain pak suami tentang indahnya perbedaan. Di dalam Islam sendiri pun ada banyak banget perbedaan. Jujur, saya nggak terlalu paham karena ilmu agama saya masih cetek banget. 

Ceritanya sewaktu di Jepang, setiap ketemu sesama muslim itu rasanya seneng banget. Berasa nggak sendirian. Ketemu sesama muslim dan hanya tersenyum itu rasanya udah nyes banget, deh. Apalagi kalau ada yang mengucapkan salam. Maklum, muslim di sana masih minoritas. 

Nah, kantornya pak suami di Jepang ada tempat khusus untuk sholat. Setiap waktu sholat tiba, pak suami dan teman-temannya yang muslim akan menunaikan ibadah wajib tersebut. Di tempat sholat ini, pak suami kadang ketemu dengan muslim dari Iran. Mereka nggak saling kenal karena beda departemen. Namun, setiap orang Iran tersebut diajak sholat berjamaah, dia mau lho. Pun begitu dengan sholat Jumat. 

Di tempat ini, masing-masing orang akan mendapat giliran menjadi imam. Tapi, muslim Iran ini nggak mau kalau jadi imam. Dia hanya mau jadi makmum saja. Pak suami dan teman-temannya nggak mempermasalahkan hal ini. Nggak papalah, toh sudah sholat berjamaah saja udah seneng banget. 

Mendengar cerita pak suami tersebut saya merasa begitu indah dan damainya Islam di negeri yang notabene bukan negara muslim. Kebersamaan sangat terasa tanpa penuh tanya ataupun nyinyir sana-sini. Yang mereka tahu, mereka sama-sama muslim dan menyembah Tuhan yang sama. 

Lalu tentang memberi ucapan saat natal.

Coba deh perhatikan ramenya media sosial tentang perdebatan soal ini yang tiap tahun isinya sama. Boleh atau nggak mengucapkan natal. Kalau Teman-teman memang ingin mengucapkan selamat natal, ya sudah ucapkan saja. Kalau ada yang tidak ingin mengucapkan, ya silakan. Mereka pasti punya pertimbangan sendiri-sendiri kok. Dan, pengguna media sosial juga banyak yang sudah dewasa. Mereka pasti tahu akan semua yang diucapkan dan dilakukannya. 

Lucunya, pas natal kemarin saya nggak sengaja membaca timeline facebook yang isinya status seorang blogger terkenal. Blogger tersebut beragama nasrani. Statusnya kurang lebih seperti ini,

"Kalian mau ngucapin selamat natal atau enggak, itu nggak mengurangi kebahagiaan dan keceriaanku merayakan natal."

See? Dia saja legowo dan maklum dengan kondisi yang terjadi di dunia maya dan nyata. 

Jadi, perbedaan itu pasti ada. Terima saja perbedaan yang ada di masyarakat. Bukan perbedaannya yang dipermasalahkan tapi bagaimana reaksi kita menghadapi perbedaan tersebut. Lakukanlah semua itu dengan baik tanpa menyakiti perasaan orang lain. Kalau kita sendiri disakiti pasti nggak enak, kan?

#Profesional Dancer

Ini semua bermula dari yang namanya kebetulan, hahahahaha. Bermula dari ajakan pak suami agar saya mau ngegym. Beliau rela mengambil brosur dan jadwal di salah satu tempat gym yang lokasinya dekat rumah. 

Di tempat gym tersebut, ada pilihan member yaitu gym only atau gym plus. Harga member per bulannya tentu saja beda. Nah, pak suami menyarankan saya untuk ikut member gym plus. Artinya, selain ngegym saya juga bisa ikutan aerobik, yoga, zumba, aerocombat, dan belly dance. Semua itu terserah member, mau ikut kapan saja. Jadwal sudah tersedia. 

Saya cuma diam dan merenung mau ikut ngegym dan kelas senam ini-itu. Tapi kemudian ragu kalau saya nggak bisa menepati sendiri. Jika sudah jadi member dan nggak aktif ikut ngegym atau senam, sayang banget kan uangnya. Jadi saya cuma bolak-balik brosur tersebut dan melihat jadwal kelas senam, hahahahaha. 

Nah, pas melihat brosur, mata saya tertuju pada foto kelas belly dance. Pakaian yang ikut senam belly dance kayak penari dari Timur Tengah. Iya, penari Timur Tengah yang pakaiannya warna-warni, seksi, dan memakai celana harem. Saya hanya diam melihat itu lalu mikir. Kalau saya ikut belly dance, apa pakaian saya harus seperti mereka? Kalau iya, kayaknya nggak sanggup, deh. Hahahahhaha, nggak pede, Kakaaak. 

Bermula dari itu saya akhirnya searching tentang belly dance. Nggak sengaja pula saya nemu akun media sosial seorang profesional belly dancer di luar negeri. Haduh, melihat mereka saya seperti terintimidasi. Tubuhnya bagus banget, Ciiiin!! Sebagai sesama wanita, saya iri dan minder sama mereka, hahahahaha. 

Ngomongin belly dancer di luar negeri, saya merasa ini udah menjadi sebuah profesi, ya. Kalau di Indonesia, saya kurang tahu banyak. Di Indonesia, belly dance biasanya ada di sangar-sanggar senam dan sepertinya belum menjadi profesi layaknya di luar negeri. 

Biar gampang, belly dancer yang saya kepoin sebut saja namanya X. Ketika stalking akun media sosial Mbak X, saya melongo. Foto-foto di akunnnya hampir semua tentang kegiatannya menari bersama teman-temannya. Foto-fotonya artistik. Saya suka bajunya yang warna-warni ditambah dengan liukan tubuh yang bagus. 

Hampir di semua akunnya baik facebook, youtube atau instagram, Mbak X ingin dikenal sebagai seorang penari.  Iya, jiwanya ada di menari. 

Seorang belly dancer apalagi yang profesional, mereka akan manggung di mana-mana termasuk di festival berskala internasional. Kayaknya sih nggak ada foto yang menceritakan kelas belly dance layaknya kegiatan di Indonesia yang hanya untuk senam. Mereka menari dan menari. Sesekali ada foto yang menceritakan liburan ke luar negeri bersama rombongan tarinya, bahkan mereka pernah di Bali. Selama di Bali, selain aktivitas berlibur, mereka juga mengunggah foto saat latihan dan menari bersama.

Saya menangkap bahwa kegiatan di Bali tersebut mirip retreat yang bisa memberikan pengalaman dan energi baru setelah mereka melakukan kegiatan ini. Hhhmm, mereka sangat menjiwai setiap gerakan meliuk ke kanan dan kiri. Bagi mereka, belly dance bukan hanya soal tari tapi juga pencarian jati diri. 

Hanya di akun instagram, Mbak X mengunggah foto bersama keluarganya. Kegiatan liburan atau berkumpul bersama keluarga dan teman non penari hanya ada di instagram. 

Di semua akunnya saya mengambil kesimpulan kalau Mbak X adalah seorang penari sejati dan dia bangga dengan profesinya. Menariknya lagi, selama dia menari ternyata penontonnya nggak cuma pria saja, lho. Banyak juga yang wanita. Para penonton tersebut juga sopan dan menghargai penari. 

Ketika melihat akun media sosial Mbak X, saya jadi tahu kalau profesi belly dancer itu nggak gampang. Bagi saya, nggak gampang ini banyak artinya. Misalnya waktu perform yang kebanyakan malam dan nggak di tempat tertentu. Iya, profesional dancer ini harus siap manggung di mana-mana, di kapal misalnya. Lalu, menghadapi penonton yang ada prianya juga butuh persiapan mental tersendiri. Bener, kan?

Hasil ocehan saya kali ini adalah murni curhat, hahahaha. Membaca tulisan blogger yang saya sebutkan di atas dan cerita seorang profesional belly dancer membuat saya lebih terbuka lagi. Iya, terbuka mata, hati, dan telinga saya untuk melihat aneka rupa yang ada di dunia ini. Saya tentu nggak bisa menyalahkan atau menjudge ini dan itu. Saya hanya melakukan apa yang saya yakini. Bagaimanapun, perbedaan pasti ada. Tinggal bagaimana kita memandangnya dan menyikapi perbedaan tersebut. Dan, kalau bisa jangan nyinyir.^-^.




























6 comments:

  1. iya sampe beberapa teman saya juga bilang kalau sekarang netizen itu debatnya terjadwal. Pas Februari debat apa, moment apa debatnya lain lagi :D

    ReplyDelete
  2. Kalau tidak terlalu penting, saya membatasi banget buka beranda FB atau TL Twitter Mba, takut mood saya yang lagi semangat malah jadi baper hihihi.
    Memahami perbedaan itu sesuatu yang luar biasa, perlu keluasan hati.
    Harus banyak latihan untuk ini :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya pun begitu, Mba Ani.
      Perasaan Mba Ani mah udah bijak deh di medsos.

      Delete
  3. Piiit...
    Hampir mirip dengan mbak Ani tuh, aku jarang gentayangan di timeline, biasanya cuma baca berita yang aku pengen aja, untuk menjaga kemurnian hati...halah...
    *bilang aja nongkrongnya di fanbase korea terus gitu hehe..*

    Belly dance aku gak gitu ngerti Pit, tapi di komplek rumahku ada zumba lho, dan aku ikutan bareng ibu2 tetangga gitu..

    Tapi kalo ikutan senam, baju senamnya emang ala cherybelle gitu Piiit...gak papa atuh da cuma buat di studio senam aja..ibu2 semua kok :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Diriku tak kuasa dgn postingan koreanya Bibi.
      Atuhlah bikin postingan ttg ibu2 senam komplek, Biiii...
      Dah aku mah apa atuh, tetep ga pede, Biiii..

      Delete

Powered by Blogger.

Recent Posts

    Follow Me

    Page Views

    Copyright © Pipit Widya | Powered by Blogger
    Design by Saeed Salam | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com