Friday, May 13, 2016

Jangan Menilai Orang dari Luarnya Saja

Ajining raga saka busana. Pepatah Jawa yang artinya kurang lebih seperti ini 'berharganya penampilan seseorang dinilai dari busananya.' Pepatah ini nggak sepenuhnya salah karena orang akan dinilai atau dihargai pasti dari penampilannya dulu. Dan, kebanyakan dari kita malah melihat orang hanya dari penampilan luarnya saja tapi nggak tahu dalamnya. Sssstt, jangan menilai orang dari luarnya saja. Rugi, karena penampilan nggak menjamin sikap orang tersebut baik atau nggak. Salah-salah malah kita nanti yang terkecoh dan rugi sendiri lho, hahahahaha.

Hhhhmmm, banyak sekali kejadian yang saya alami terkait hal ini. Maklum, saya bukan darah biru jadi kalau ke mana-mana selalu berpenampilan sederhana. Parahnya, saya sering dipandang sebelah mata karena penampilan yang biasa tadi. 

Iya, pengalaman karena kurang dihargai tersebut pernah saya ceritakan di postingan bukan darah biru. Postingan tersebut mendapat komentar yang lumayan banyak. Bahkan beberapa dari mereka ada yang bernasib sama seperti saya.

Sehari-hari saya dan pak suami memang berpenampilan sederhana, nggak suka yang neko-neko. Barang-barang yang dipakai sehari-hari juga bukan yang harganya mihil bingit. Saya dan pak suami lebih suka memakai barang-barang yang bikin nyaman. 

Nah, ada cerita nih. Saat ini, saya dan pak suami sedang menjual rumah pertama yang dibangun sendiri. Biasanya calon pembeli akan minta ketemuan pas weekend dan mereka biasanya memberi kabar mendadak.

Bertemu dengan calon pembeli yang dadakan pas weekend pula, membuat pak suami harus buru-buru biar nggak terlambat. Untuk menemui mereka, biasanya pak suami pakai kaos oblong, celana pendek, dan motor butut yang masih berplat H, daerah asal kami

Ketika sampai di lokasi, kebanyakan para pembeli suka nanya gini ke pak suami,

+ 'Maaf, ini rumah atas nama Bapak sendiri?'
-  'Iya, rumah sudah SHM atas nama saya sendiri.'

+ 'Maaf, Bapak tinggal sendiri atau dengan keluarga?'
-  'Saya sama istri. Keluarga semua di Semarang.'

+ 'Pak, orangtuanya juga ikut tinggal ya?'
-  'Enggak, saya tinggal sama istri.'

Dan, ketika tahu jawaban pak suami, mereka pada nggak percaya. Mungkin karena pak suami penampilannya biasa banget, motornya butut pula jadi mereka nggak nyangka kalau pak suami adalah pemilik rumah tersebut. Namun situasi segera cair setelah mereka ngobrol beberapa menit. 

Saya pun tak luput dari sikap ini. Saya tipikal orang yang gampang banget kagum dan simpati sama orang lain. Saya hanya ingin berpikiran positif *tsaaaah*. Kalau saya nggak melihat atau mengalami kejadian buruk terkait dengan orang tersebut maka saya akan tetap bersimpati. Tapi beda ceritanya kalau saya sudah mengetahui kejelekan orang tadi. 

Ceritanya saya kagum dan simpati dengan Z, seorang pria yang saat itu dekat dengan Mbak A. Bagi saya, Z merupakan orang yang baik dan pintar. Selalu itu yang ada di pikiran saya. Namun sekarang pandangan saya terhadap Z berubah seketika. Tepatnya kemarin, saya nggak sengaja melihat profilnya di facebook. Saya tahu Z jarang sekali update status atau ganti foto profil. Ketika tahu dia ganti profil, saya penasaran. Saya klik akun tersebut.

Saat ngeklik akun tersebut, nggak sengaja saya menemukan percakapan Z dengan teman perempuannya yang berprofesi sebagai belly dancer. Penari tersebut sebut saja, Mbak B. Wow, ternyata Mbak B cantik dan seksi sekali. Menurut saya, B lebih cantik dibanding A. Karena stalking to the max (soalnya nanggung kalau stalking setengah-setengah, hahahahahaha) saya menemukan percakapan yang agak ganjil. Jadi si Mbak B mengundang Z di suatu acara. Z pun menyanggupi untuk datang demi B dengan catatan Mbak B jangan bilang ke Mbak A.

Setelah membaca percakapan tersebut, langsung deh saya ngakak huahahahaahahahahahaha. Saya ngakak karena menertawakan diri saya sendiri yang terkecoh dengan penampilan Z. Yup, Z selalu berpenampilan rapi dan omongannya juga tertata. 

Orang yang selama ini saya anggap alim ternyata kok begitu, ya. Entah ada apa dengan A, B, dan Z.*huahahahaha kayak sekuel AADC, ya*. Saya nggak mau ikut campur karena itu bukan hak saya. Saya cukup tahu dan menyimpulkan sendiri. Namun, bukan berarti saya menjauh dari Z. Enggak. Kejadian ini saya ambil hikmahnya saja untuk diri saya sendiri supaya lebih waspada terhadap Z. Saya tetap kagum dan simpati terhadap Z namun sekarang sudah berbeda kadarnya.*tsaaaah lagi*.

Ada yang pernah mengalami seperti saya? Makanya, jangan menilai orang dari luarnya saja, dong. Hahahahaha.


*Postingan ini untuk mengingatkan diri sendiri, self toyor.* 





















4 comments:

  1. Aku banget niiihhh sukanya berburuk sangka sama orang. Pas orangnya baiiiiiikkkk banget sama aku, akunya jadi merasa bersalah sendiri. Huhuhu. Mulai sekarang emang ngga mau memandang sebelah mata lagi, yang kita lihat belum tentu benar yaaaaa

    ReplyDelete
  2. Pernah mbak, kalo aku dgan orang yg bernampilan spt orang nggak punya, baju yg kumal tp ternyata dia orang kaya...he

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah, saya juga pernah kayak Mba Dwi.

      Delete

Powered by Blogger.

Recent Posts

    Follow Me

    Page Views

    Copyright © Pipit Widya | Powered by Blogger
    Design by Saeed Salam | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com