Wednesday, June 29, 2016

I Wanna Grow Old With You

Kemarin Sabtu pas saya les, ada teman cewek cerita tentang cintanya yang pupus. Lalu nggak berapa lama obrolan kami merembet ke masalah pernikahan. Maklum lah, teman les saya kebanyakan belum pada nikah jadi wajar jika masih penasaran soal pernikahan.

Hhmm, kalau cerita tentang pernikahan, apa ya yang diceritain? Saya juga bingung, hahahaha. Bukannya sok menggurui tapi tiap orang pasti punya cerita cintanya sendiri. Kadang cerita cinta tiap pasangan tuh unpredictable. Dari cerita teman-teman saya, mereka menemukan pasangannya pada nggak nyangka. Ada yang berjodoh di tempat kerja, dapet jodoh ternyata sahabatnya sendiri, ada yang putus nyambung, dan ada yang taaruf. Banyak lah pokoknya. Bagi saya, yang paling asyik itu ya menikmati cerita cinta itu sendiri. Hahahaha, nggaya.

Menikah itu pilihan karena sekarang banyak juga orang yang memutuskan untuk nggak nikah. Padahal menurut saya menikah itu enak, lho. Saya mengatakan enak bukan soal kehidupan se*snya, ya. Menikah itu enak saat bisa hidup berbagi dengan pasangan. 

Yang saya rasakan ketika menjalani proses pernikahan sampai sekarang yaitu kebahagiaan saat pasangan mengerti diri saya. Begitu pula sebaliknya. Iyap, saya merasakan sekali hal tersebut. Kadang pernah terpikir kalau pak suami adalah orang yang paling mengerti saya ketimbang orangtua sendiri. Padahal orangtua termasuk orang yang dekat dengan saya sejak kecil, kan? Nah, saat dewasa saya merasakan hal yang berbeda. 

Bahagia rasanya jika pak suami bisa mengerti saya. Misalnya, saat saya marah atau butuh istirahat, pak suami tahu saya baiknya diapain. Dibantu, diajak jalan-jalan, didengarkan curhatnya, atau malah dicuekin. Hahahaha, beneran lho, saya kadang dicuekin karena saking hafalnya pak suami dengan sifat saya. Lalu, jika sudah agak reda dan pikiran sudah on lagi, saya minta maaf. Tapi kalau lagi kumat, ya gitu lagi terus minta maaf lagi. Hahahahaha, manusia ya!

Lalu, bagaimana dengan kekurangan pasangan?

Ada teman saya yang katanya belum siap menikah jika harus menerima atau menyesuaikan diri dengan kekurangan pasangan. Waini, saya cuma bilang, justru ini enaknya nikah yaitu saat saya bisa menerima dan maklum dengan kekurangan pak suami.

Kadang kalau dipikir, beberapa pasangan yang saya kenal kebanyakan sifatnya berbeda dan saling melengkapi. Kekurangan masing-masing pasangan bukan menjadi masalah tapi malah dibutuhkan satu sama lain. Hal ini pula yang saya rasakan selama ini. Sifat pak suami yang sangat bertolak belakang malah membuat saya lagi-lagi berpikir bahwa sifat inilah yang saling melengkapi di kehidupan pernikahan kami. Dan, perbedaan ini yang bikin pernikahan lebih seru, hahaha.

Seperti yang saya ceritakan sebelumnya, ketika menghadapi kekurangan pasangan, yang dikedepankan adalah bagaimana reaksi kita terhadap kekurangan tersebut. Reaksi untuk mau ngomel, cuek, atau mau menunjukkan gimana yang bener. Semua itu butuh proses, kok.

Dulu, pas awal menikah, yang namanya handuk di tempat tidur, sepatu di ruang tamu, piring kotor nggak ditaruh di dapur, bakal bikin saya ngomel-ngomel panjang.

Sekarang?

Sudah biasa dengan hal-hal tadi. Tetep ngomel juga sih kalau masih ada tenaga, hahaha. Tapi kalau saya sudah capek, ya dibiarin aja terus bakal rapi kok dengan sendirinya. Entah yang merapikan pak suami sendiri atau saya. Toh kalaupun nggak dirapikan sama pak suami, saya bakal merapikan dan membersihkan rumah juga, kan?  

Jadi ya dengan berjalannya waktu dan kebersamaan dengan pasangan maka kita akan tahu sifat pasangan. Entah itu sifat yang baik atau yang buruk. Tinggal bagaimana reaksi kita menghadapi kekurangan tersebut. Lama kelamaan akan terbiasa dan menjadi hal yang lumrah karena mungkin itu sudah karakter pasangan kita. Terima saja pasangan kita apa adanya. 

Pernikahan bukan hanya soal penyesuaian karakter dengan pasangan aja, lho. Ada cerita lain yang bakal membuat pernikahan lebih rame, hahahaha. Dalam menjalani pernikahan, jujur saja, saya mengalami banyak cobaan dan godaan. Lumayan juga cobaan dan godaan yang saya alami. Paling sering sih masalah keluarga. Namun ada juga cerita yang membuat saya lebih banyak bersyukur karena memiliki pak suami tercinta *tsaaah. Semakin lama menjalani pernikahan, kok ya feeling mengatakan kalau saya benar-benar ingin menjalani hidup bersama dengan pak suami. Yes, I wanna grow old with pak suami.

Bukan tanpa alasan, sih. Selain pak suami sangat mengerti saya, menikah adalah sebuah janji yang tidak untuk main-main. Menikah bukan hanya antara saya dan pak suami tapi di situ ada dua keluarga besar yang menyatu. Keluarga besar inilah yang menjadi pengingat saya untuk selalu bersikap sopan bukan hanya ke pak suami namun juga keluarganya. Jika saya berbuat yang neko-neko pasti keluarga saya bakal kena imbasnya juga. 

Hhmm, obrolan antara saya dengan teman les tempo hari kok ya pas dengan momen yang mau saya tulis. Mumpung ini Bulan Juni, saya tiba-tiba pengin menulis ginian, ya. Padahal saya bukan tipe orang yang romantis, hahahaha. 

I don't need anybody to tell me because I know you are the best
You know my flaws
You know how to treat me and how to make me happy

Is there going to be a brighter life
Yes, we can make it!
No worry since I live with you

May love and happiness be bestowed upon us. Aamiin.

I love you full, pak suami ^-^
I wanna grow old with you
And happy anniversary.


Gambar dari sini






Powered by Blogger.

Recent Posts

    Follow Me

    Page Views

    Copyright © Pipit Widya | Powered by Blogger
    Design by Saeed Salam | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com