Tuesday, June 07, 2016

Revolusi Iran dan Jilbab di Indonesia

Obrolan malam antara saya dan pak suami tetiba membicarakan soal jilbab. Kata pak suami, pemakaian jilbab di Indonesia tak lepas dari revolusi Iran. Saya yang mendengar ini langsung kaget sebab beberapa minggu sebelumnya, pernyataan pak suami sama dengan ucapan salah satu teman chatting di Line. Ada hubungan apa antara revolusi Iran dan jilbab di Indonesia?

Saya memutuskan googling untuk mencari tulisan mengenai hal ini. Maklum, saya gagap soal politik yang seperti ini. Akhirnya saya pun membaca beberapa tulisan yang membahas tentang revolusi Iran serta jilbab di Indonesia. Serasa mengulang pelajaran PSPB atau sejarah. Anyway, ada yang tahu kepanjangan PSPB, nggak? Hahahahaha, ketahuan angkatan jadoel, ya.

#Revolusi Iran dan Jilbab di Indonesia 

Seperti yang terangkum di Wikipedia, revolusi Iran pada tahun 1979 merupakan perubahan Iran dari sistem monarki menjadi Republik Islam. Revolusi ini bukan karena kekalahan perang, krisis moneter, atau ketidakpuasan terhadap militer. Revolusi ini mengalahkan sebuah rezim yang dibekingi oleh kekuatan angkatan bersenjata besar-besaran. 

Revolusi di Iran terjadi karena pemerintahan monarki yang saat itu dipimpin oleh Shah Muhammad Reza Pahlevi dianggap menjalankan pemerintahan secara brutal, korup, dan boros. Kebijakan-kebijakan yang diambil pemerintah menyebabkan perekonomian tidak efisien dan Shah Muhammad cenderung mengambil kebijakan yang mengutamakan pendekatan dengan kekuatan barat (USA).  Dia juga dianggap sebagai pemimpin yang sekuler. Hal-hal inilah yang menyebabkan benturan dengan identitas muslim Iran serta cara pandang rakyatnya yang sangat menghormati agama dalam kehidupan sehari-hari. 

Ketidakpuasan atas rezim ini menghasilkan perubahan yang sangat besar. Iran dari sistem monarki berubah menjadi Republik Islam yang dipimpin oleh Ayatullah Khomeini. Pada tanggal 1 April 1979, Iran secara resmi menjadi Republik Islam melalui referendum yang disetujui oleh sebagian besar rakyat Iran. 

Beberapa sumber yang saya baca menyatakan bahwa revolusi Iran pada tahun 1979 berpengaruh pada wanita muslim di Indonesia untuk memakai jilbab. Pada saat itu, perjuangan wanita muslim di Indonesia terkendala oleh berbagai peraturan yang melarang penggunaan jilbab. Iya, pada era 1970-1980 para wanita muslim di Indonesia dilarang memakai jilbab oleh pemerintah Orde Baru. 

Hubungan antara pemerintah Orba dengan Islam sempat mengalami kondisi yang buruk. Saat itu, banyak pejabat di era tersebut menganggap bahwa Islam merupakan ancaman politik sehingga pemerintah banyak melakukan penekanan. Kebijakan-kebijakan yang diambil pemerintah Orba juga banyak yang merugikan umat Islam. 

Contohnya, pada tahun 1979 di Sekolah Pendidikan Guru Negeri Bandung, pihak sekolah hendak memisahkan murid yang memakai jilbab. Namun hal ini ditolak oleh mereka yang berjilbab. Sejak saat itu, pelarangan memakai jilbab di sekolah mencuat apalagi larangan tersebut disahkan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan dengan dibuatnya SK 052. 

Sementara itu di tahun yang sama yaitu sekitar tahun 1979 sampai 80-an, masa ketika revolusi Iran sedang berlangsung. Perempuan-perempuan muda Iran diberitakan oleh media sedang berjuang lengkap dengan pakaian berjilbab. Hal inilah yang menginspirasi wanita muslim di Indonesia untuk memakai jilbab. 

#Jilbab Saat Ini 

Pemakaian jilbab di Indonesia mengalami pertumbuhan yang sangat pesat terutama di tahun 2000-an. Jilbab saat ini mengalami evolusi yang luar biasa fenomenal. Iya, saat ini banyak sekali wanita Indonesia yang memakai jilbab. Tujuan mereka memakai jilbab berbeda-beda. Bagi sebagian orang, memakai jilbab bukan hanya faktor kepatutan, privasi, menjalankan syariat agama, tapi juga sudah menjadi life style. 

Dulu, orang hanya tahu tentang 'jilbab' saja, sebuah kain segi empat, agak tebal, dan dipakai untuk menutup kepala. Bentuk 'jilbab' tempo doeloe yang hanya disematkan dengan peniti menjadi bentuk yang umum dan lumrah di masyarakat.

Kini jilbab banyak mengalami evolusi. Dari yang semula hanya 'jilbab' biasa menjadi aneka sebutan yang beraneka ragam mulai dari ciput, khimar, bergo, pasmina, dll. Hingga terkenal sebutan hijab fashion dan saat ini menjadi life style di Indonesia. Life style inilah yang membuat jilbab semakin beragam dan membentuk suatu bisnis serta komunitas baru. Komunitas hijaber bertebaran di mana-mana. Mereka memakai jilbab sangat stylish dengan padu padan warna dan corak.  

Tak dapat dipungkiri bahwa peran dunia luar sangat berpengaruh pada perkembangan jilbab di Indonesia, misalnya dari Malaysia, Turki, dan Arab. 

Iya, perkembangan jilbab atau sekarang lebih dikenal dengan hijab fashion di Indonesia luar biasa fenomenal. Dari yang dulunya hanya kain biasa menjadi aneka rupa produk yang dikembangkan oleh para designer. Mereka merancang aneka fashion dengan mengadopsi busana dari luar negeri. Adopsi fashion disesuaikan dengan selera wanita Indonesia, maka terciptalah aneka mode hijab di pasaran.

Perkembangan ini sejalan dengan pesatnya penggunaan media sosial untuk berinteraksi dengan masyarakat. Produk tergres dari designer terkenal yang baru diposting, esoknya produk sejenis dan 'ala-ala' langsung membanjiri pasaran. Bahkan, para pesohor negeri juga turut andil dalam perkembangan fashion ala-ala ini. Jika artis Syahrini atau Inneke sedang memakai hijab fashion dan posting di akun media sosial mereka maka masyakarat akan menyebutnya abaya 'Syahrini' atau hoodie 'Inneke'. Pesona pesohor negeri ini masih menarik masyarakat untuk berbusana. 

Adanya fenomena yang luar biasa ini membuat jilbab menjadi sebuah komoditi baru. Komoditi dagang yang luar biasa besar. Dengan jumlah umat muslim terbesar di dunia maka tak heran jika para designer handal Indonesia ingin menjadikan negeri ini menjadi kiblat fashion muslim dunia. 

Sebagai sesama muslim, saya pun turut senang dengan adanya fenomena yang baik ini. Iya, saya senang jika jumlah wanita muslim Indonesia yang memakai jilbab bertambah banyak. Namun terkadang kesenangan ini membuat saya tertegun ketika melihat mereka yang berjilbab dengan aneka model yang masih dianggap kurang mencerminkan sebagai muslim oleh sebagian masyarakat.

Kita semua tahu, banyak orang yang memakai jilbab tapi masih berpakaian kurang sopan. Keadaan ini pernah menggegerkan dunia maya dengan istilah jilboob. Tak perlu lah saya menjelaskan lagi fenomena tersebut karena saya yakin Teman-teman sudah banyak yang tahu. 

Selain itu, saya juga tertegun ketika salah satu teman memberitahukan tentang jilbab-jilbab baru yang bahkan ada komunitasnya. Hhmm, tak perlu saya sebutkan komunitas tersebut di sini. 

LUAR BIASA fenomena hijab fashion ini di Indonesia. Sebagai masyarakat, saya ikut senang karena semakin banyak pilihan untuk berbusana tanpa meninggalkan identitas sebagai muslim itu sendiri. 


#Bersyukur Hidup di Indonesia

Tinggal di Indonesia membuat saya banyak bersyukur karena negeri ini tidak mempunyai paksaan kepada warganya untuk berjilbab. Saya menemukan artikel dari CNN Indonesia yang ini. Ceritanya, setelah revolusi Iran, pemerintah membuat peraturan yang mewajibkan wanita Iran untuk berjilbab. Untuk melaksanakan aturan ini, pemerintah menyiapkan polisi moral yang akan memenjarakan atau menghukum wanita yang kedapatan tidak memakai jilbab. Keadaan ini membuat wanita modern Iran merasa terkekang. Mereka lebih suka memakai celana panjang dan penutup kepala alih-alih menggunakan jilbab untuk menutupi kepala dan leher. 

Nah, jurnalis Iran bernama Masih Alinejad membuat laman di Facebook untuk menyuarakan kebebasan kaum wanita modern di sana. Dia mengajak wanita Iran untuk melepaskan jilbab di area publik kemudian mengunggahnya di Facebook. Aksi  Alinejad ini mendapat banyak respon dari masyarakat Iran. Maka, jurnalis ini menerima penghargaan HAM di Geneva, Swiss. 

Wow, saya tercengang membaca ini. Saya tercengang karena membandingkan keadaan ini di Indonesia. Di negeri kita yang diakui sebagai negeri muslim terbesar dunia memberikan kebebasan kepada rakyatnya untuk berjilbab atau enggak. Tidak ada hukuman untuk tidak berjilbab kecuali di daerah yang melaksanakan syariat Islam dengan kental.

Saya memang berjilbab dan senang jika melihat banyak wanita muslim yang berjibab. Namun alangkah baiknya jika mereka berjilbab dari hati bukan karena mengikuti tren saja. Saya yakin semua itu butuh proses. 

Awalnya saya juga berjilbab masih ala kadarnya namun lama-kelamaan menemukan gaya nyaman sendiri setelah berjilbab. Nggak perlu meniru orang lain tapi ikutilah kata hatimu untuk berjilbab. Saya juga bersyukur ketika tahu bahwa beberapa instansi juga sudah memberikan kelonggaran kepada pegawainya untuk berjilbab. Sebetulnya jilbab itu tidak mengurangi peran wanita untuk berkarya di bidangnya masing-masing. 

Yang saya tahu, wajar jika ada orang yang ingin menjalankan perintah agama dengan baik. Memakai jilbab atau enggak itu urusan pribadi masing-masing masyarakat. Dan, orang lain juga tidak berhak untuk melarang orang memakai jilbab. 

Adanya banyak perbedaan di masyarakat menimbulkan banyak pula atribut pada orang berjilbab yang malah kadang menimbulkan stereotipe sehingga membuat sebagian masyarakat berpandangan aneh, menjadi takut atau melakukan diskriminasi.  

Setelah melalui proses selama berjilbab akhirnya saya sadar bahwa saya tidak berhak menghakimi orang lain hanya berdasarkan atas apa yang mereka kenakan. Pakaian bukan tolak ukur untuk menilai seseorang. 

Sekian curhatan kali ini dan terima takjil kasih.^-^.


Referensi :

https://id.wikipedia.org/wiki/Revolusi_Islam_Iran

http://www.boombastis.com/pemakai-jilbab/47891

http://dennyja-world.com/polemik-diskusi/read/31

http://www.cnnindonesia.com/internasional/20150225014108-120-34599/jurnalis-asal-iran-raih-penghargaan-ham-untuk-kampanye-jilbab/






















14 comments:

  1. Menarik juga mencermati perkembangan jilbab di Indonesia. Aku sih masih beranggapan banyak pemakai jilbab yang hanya "ikut-ikutan" (apalagi bila dikaitkan dengan fashion). Apakah kemudian para pengguna jilbab akan mengarah ke suatu bentuk jilbab yang baru? Ini menarik juga untuk diamati. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hhmm, let's see years ahead ya :)

      Delete
    2. Gapapa ikut2an tugas yg tau mensyiarkan terus agar yg ikut2an smkn mantap:) wallahualam

      Delete
  2. Sering ada bully halus juga bagi yang tdk pakai jilbab tertentu...

    ReplyDelete
  3. Mau bikin kerudung Pipit Widya ya...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahaha boljug idemu, Anak muda.
      Nanti kuberi nama kerudung Umi Pipit, huahahahaha :))

      Delete
  4. Alhamdulillah saya memakai jilbab bukan karena ikut-ikutan, mbak Pipit. Tapi berproses dari nol, meskipun belum sempurna tapi tetap belajar memperbaiki diri. Semua orang memang bebas melakukan apa keinginannya ya mbak, yang penting bertanggung jawab :)

    ReplyDelete
  5. Baru tau sejarah ini. Ternyata ada sangkut pautnya ya. Duh berasa miskin ilmu sejarah...
    Kalaupun berjilbab mengikuti tren, kita doakan saja semoga suatu hari berjilbabnya datang dari hati dan sadar itu sebagai bentuk menjalankan perintah illahi. Tentunya bentuk proses berjilbabnya juga semakin lebih baik.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin, doa yang sama saya ucapkan.

      Delete
  6. Seperti yang mbak tulis khan kalau di iran sudah menganut sistem pemerintahan islam dari monarki. Jadi wajar donk kalau wanita disana DIWAJIBKAN memakai jilbab. Indonesia khan sistem demokrasi pancasila. Jadi tolong bedakan ya mbak. Lagipula sebagai muslim, wanita memang DIWAJIBKAN memakai jilbab. Bahkan tertulis di dalam pedoman hidup al-quran. Bukan karena pemikiran 'UNTUNG TINGGAL DI INDONESIA' tetapi sebagai makhluk yg memeluk agama kita juga harus memahami aturan agama tersebut. Kalau memeluk agama islam, berarti wanita harus menutupi aurat. Definisi WAJIB itu tidak ada pilihan lagi jadi harus ditaati.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, sistem di Indonesia dan Iran berbeda.
      Terima kasih ya sudah diingatkan.

      Delete

Powered by Blogger.

Recent Posts

    Follow Me

    Page Views

    Copyright © Pipit Widya | Powered by Blogger
    Design by Saeed Salam | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com