Friday, September 30, 2016

Cerita tentang Grup Whatsapp

Hari gini, pemakaian smartphone kayaknya sudah menjadi hal biasa di masyarakat. Dan, para pengguna smartphone juga sudah nggak asing dengan berbagai aplikasi chatting. Banyaknya aplikasi chatting ini menjadikan orang membentuk grup chatting via ponsel dengan berbagai tujuan. Nah, grup chatting yang banyak dipakai di smartphone kayaknya whatsapp ya. Makanya nggak heran kalau ada banyak cerita tentang grup whatsapp.



Ada yang bilang bahwa saat ini sosialita bukan hanya kumpulan orang yang kongkow di tempat-tempat elit. Namun, sosialita di era digital saat ini katanya yang punya banyak grup whatsapp. Jadi, coba sekarang dicek WA-nya, sudah punya berapa grup? Sudah jadi sosialita, belum?.^-^. 

Pembentukan grup Whatsapp mempunyai banyak alasan. Ada yang membentuk grup WA karena tergabung dalam komunitas yang sama, untuk memudahkan koordinasi, grupnya bermanfaat dan anggotanya saling membutuhkan, dll.

Dari berbagai alasan tadi, grup whatsapp sepertinya sudah menjadi kebutuhan dalam berkomunikasi dan bersosialisasi. Banyak orang yang terlihat aktif di dunia maya namun kenyataannya dia pendiam. Dia merasa lebih nyaman berkomunikasi lewat ponsel. 

Melalui grup whatsapp pula, kita bisa bersosialisasi dengan mudah. Hanya dengan main jempol dan say hello, serasa sudah punya banyak teman ya. Padahal kalau ketemu di dunia nyata kadang kita nggak tahu orangnya yang mana. Pernah mengalami hal ini? Biasanya sih ini terjadi di grup yang anggotanya nggak kenal satu sama salin. Mereka berada di grup WA karena berada dalam komunitas yang sama. 

#Etika di Grup 

Dalam hal berkomunikasi di grup chatting sebaiknya kita, sebagai anggota, mempunyai aturan sopan santun meski aturan tersebut nggak tertulis. Komunikasi di dunia maya tentu saja beda dengan komunikasi secara langsung. Kalimat yang digunakan selama chatting di grup kadang bisa menimbulkan berbagai arti. Karena ya tadi, kita nggak bisa melihat ekspresi wajah, intonasi kalimat, dan bahasa tubuh saat chatting di dunia maya.

Makanya kalau chatting via ponsel nggak usah terlalu baper dan kudu mencerna kalimat dengan baik. Mungkin, jangan terlalu sensi kali ya kalau lagi ngobrol via ponsel. 

Saya pernah lho baper gara-gara chatting di grup. Pernah. Gara-gara nggak fokus dan sudah emosi duluan jadinya baper dalam mengartikan suatu kalimat. Padahal kalau kalimat tersebut dicerna lagi, saya yang salah mengartikannya. Bukan salah si penulis kalimat. 

Dulu sih saya gampang banget emosi apalagi kalau membaca percakapan yang terasa menyudutkan. Yah, nama juga manusia kan ya, pasti pernah khilaf. Makin lama akhirnya saya bisa sadar dan terlihat lebih tenang dalam menanggapi percakapan di grup whatsapp. Malah, saya seringnya menjadi silent reader di berbagai grup. 

Namun, satu yang pasti, saya menghindari pertikaian di grup yang saya ikuti. Saya juga nggak mau menanggapi berbagai share yang belum diketahui kebenarannya atau yang berbau SARA. Saya lebih memilih diam. 

Oia, terkait dengan share atau copas tulisan di grup kayaknya sering ya terjadi. Nah, share info yang belum jelas inilah yang membosankan bahkan bisa berbahaya. Bosan, karena biasanya copas itu tulisannya panjaaaang banget. Untuk membacanya kadang butuh 'read more' beberapa kali. Dan, yang menyebalkan bila info yang dicopas belum tentu benar atau adanya tulisan bisa mendapat pahala bila ikut menyebarkan.

Pernah membaca copasan yang begitu kan? Nah, ini yang paling saya sebelin. Boleh sih menyebarkan info atau broadcast message tapi kita juga harus pintar dalam memilih info yang akan disebarkan. 

Sebelum tekan copy-paste, baiknya baca dulu infonya lalu balik tanyakan ke diri sendiri. Kira-kira info ini bermanfaat nggak, berbau SARA nggak, beritanya bener nggak, kalau kita baca infonya kira-kira gimana. Gampangnya, kalau kita aja nggak butuh atau nggak suka sama infonya, ngapain disebarin ke orang lain? 

Jika salah menyebarkan info kita bisa berdosa lho karena menyebarkan berita yang nggak jelas atau malah nggak benar sama sekali. Kalau infonya dishare oleh beberapa orang, dosanya gimana coba? Malah jadi dosa berjamaah kan?

Biasanya sih broadcast tentang anak, parenting, pemilu, dan agama sering nih yang kayak gini. Broadcast ini sering mendapat banyak jempol dan dishare banyak orang. Mungkin orang cuma membaca judulnya doang yang sudah menimbulkan empati. Dari judul yang seperti itu, mereka beranggapan isi dari broadcast tersebut bagus dan layak untuk disebarkan. Siapa tahu bisa nambah pahala, hahahaha. Padahal, belum tentu lho infonya benar. 


#Admin dan Tipe Anggota Grup 

Keberadaan admin di dalam grup cukup berperan. Tugas admin kayaknya lebih banyak untuk invite doang ya. Bener nggak sih? Secara kalau sudah di grup, kadang admin juga cuek atau malah anggota lain yang bertindak bila ada percakapan yang nggak sesuai. 

Terkait dengan admin ini, saya pernah membentuk grup yang anggotanya mempunyai problem yang sama tapi nggak kenal satu sama lain dengan baik. Bahkan ada yang nggak kenal sama sekali. Awal pembentukan grup sih obrolan rame tapi lama-lama grupnya sepi dan saya baper, hahahaha.

Sebagai admin, kalau grupnya sepi saya kok merasa bersalah ya. Seakan-akan nggak bisa membuat grup jadi tempat yang enak buat ngobrol. Makanya saya bubarkan grup tersebut, hahahaha.

Oia, kalau jadi admin, saya nggak pernah lho asal invite orang. Seringnya sih invite atas rekomendasi anggota lain atau saya japri duluan, mau nggak masuk grup. 

Soalnya, saya sebel kalau tiba-tiba diinvite tanpa permisi. Ada lho yang begini. Teman kuliah yang lama nggak ketemu, awalnya dia inbox nanya kabar lalu nanya no hape. Terus invite grup tanpa permisi. Wah, saya kaget banget. Karenanya, saya di grup hanya menjadi silent reader kadang malah nggak baca percakapan sama sekali. Langsung delete aja, huahahahaha. 

Di grup, seringnya saya menjadi silent reader. Saya lebih suka membaca info yang bermanfaat dan relevan dengan minat saya. Pernah juga saya dianggap sebagai anggota dominan. Duh, biyung. Wong jadi silent reader di mana-mana kok dianggap dominan, saya jadi bingung, hahahaha. Saya pernah ngobrolin ini sih sama teman. Mungkin ya karena care terhadap sesuatu dan memang lebih suka menulis jadinya saya menganggap lebih ekspresif di dunia maya. Dan, hal ini dianggap berbeda oleh orang lain yang belum kenal sama saya. 

Namun, atas kejadian ini saya makin banyak belajar untuk bersikap lebih baik lagi dan bicara seperlunya saja di grup. Bukankah pengalaman adalah guru yang terbaik? 

#Dari Rame Lalu Sepi

Hahahaha, kayaknya banyak ya grup yang kayak gini. Awalnya rame minta ampun sampai ratusan chat masuk dalam sekejap. Seiring waktu, grupnya sepi. Grup yang awalnya rame banget bisa jadi karena anggotanya masih excited entah bertemu kawan lama atau merasa lebih dekat. 

Tapi ketika sudah nggak ada obrolan lagi, anggotanya pada diem dan cuek. Lam-lama malah keluar satu per satu. 

Saya pernah juga mengalami hal ini. Awalnya punya grup untuk memudahkan koordinasi. Grup banyak obrolan karena waktu itu masih banyak ide dan membahas hal-hal sepele lah. Namun, lama-lama grupnya sepi banget. Saking sepinya dalam beberapa bulan nggak ada obrolan sama sekali. Kalau ada yang promo di grup pada cuek. 

Mungkin grupnya terlalu sepi, akhirnya pada keluar sendiri-sendiri. Yang bikin kaget, si admin yang notabene pembentuk grup juga keluar tanpa kabar. Parahnya, dia menunjuk saya sebagai admin tanpa permisi. 

Karena kaget dan bingung, saya juga keluar namun izin dulu dengan anggota yang lain. Saya pun langsung menunjuk anggota lain sebagai admin. Menyadari ada yang keliru, buru-buru saya japri  teman tersebut dan minta maaf karena menunjuk tanpa permisi saking kagetnya. 

Yah, keberadaan grup whatsapp tergantung dari anggotanya dan maksud dari terbentuknya grup tersebut. Jika memang grup tersebut asyik dan anggotanya care, maka grup chatting merasa dibutuhkan dan bakal bertahan kok. 

#Japri

Nah, ini salah satu etika berkomunikasi di grup. Kalau dirasa obrolan hanya didominasi oleh 2 orang dan obrolannya nggak berhubungan dengan yang lain, baiknya melanjutkan obrolan via japri saja.

Kenapa?

Biar yang lain nggak merasa terganggu. Nggak semua orang suka lho dengan kondisi seperti ini. Apalagi kalau grupnya nggak di-mute. Yah, bakal bunyi terus tuh ponsel.

Sssttt, mayoritas grup yang saya ikuti semua di-mute. Saya hanya memrioritaskan grup yang memang dirasa urgen saja. Karena, saya merasa terganggu jika banyak obrolan yang masuk namun nggak berhubungan sama grup. Hiks, spamming banget!

#Left Grup

Waini, pernah left grup secara tiba-tiba? Atau pernah nggak bengong dan malah bertanya kenapa si anu left grup tanpa permisi?

Hiyaaaa, saya pernah mengalami dua-duanya.

Kasus satu, cerita left grup tiba-tiba karena saya juga diinvite secara tiba-tiba. Okelah, saya akhirnya maklum. Namun, begitu urusan sudah selesai, hak saya juga dong untuk left grup secara tiba-tiba tanpa permisi? 

Kasus dua, kalau tiba-tiba ada yang left grup tanpa babibu, pernah nggak sih kita kadang malah tanya,

Siapa tuh yang left? *karena kita nggak nyimpen nomernya.
Lhoh, kenapa left? *karena kita bingung dan bengong sendiri dengan si anu yang tiba-tiba left grup. 

Kalau saya sendiri kadang malah bertanya, ada yang salah dengan grup ini? 
Atau malah kayak gini, 
grup ini kayaknya emang kudu diakhiri deh saking sepinya. Terus kalau mau left kok sungkan. Hahahaha, teteplah ewuh pakewuh untuk left grup kadang sungkan meski merasa grupnya sepi banget.

Etapi saya juga akan melakukan bersih-bersih grup dan siap-siap hengkang di grup yang terlalu sepi dan kurang memberikan dampak ke saya. Kayaknya sih lebih baik gitu ya supaya memori hape juga nggak terlalu berat. Sebaiknya memang harus selektif dalam memilih grup.

#Promo di Grup

Kalau promo di grup whatsapp sih nggak apa-apa. Biasanya promo di grup malah membuat anggota lain dari semula belum tahu jadi tahu. Kadang promo bisa jadi hiburan karena bisa window shopping tanpa ke mall, hahahahaha. 

Melakukan promo di grup meski banyak yang nggak melarang tapi juga kudu diperhatikan aturan di grup. Karena ada grup yang mempunyai aturan ketat untuk melakukan promo. Bahkan ada yang melarang melakukan promo di grup. Adaaaa grup yang kayak gini. 

#Salah Kamar

Salah kamar dapat terjadi karena kurang aqua fokus ataupun hape ngehang. Meski kita sudah fokus tapi kalau hape ngehang, bisa lho chat jadi salah kirim. Bener kan? Jadi, sebelum send pastikan hape dalam kondisi oke dan tetap minum aqua fokus. 

Ada nih anggota grup yang sering salah kamar. Kalau chatnya nggak rahasia atau berbahaya sih nggak papa ya, masih aman lah. Tapi kalau obrolannya nggak boleh diketahui banyak orang terus salah kamar, yah malah bocor deh. Atau lagi nyurhatin teman di grup sebelah tapi salah kamar ke grup yang ada teman tersebut, duh bisa berabe tuh. Bakalan panjang rentetannya.

Kalau mau chat, sebelum tekan send dilihat dulu kontak yang ingin diajak ngobrol biar ga salah kamar. Oke?

Segini tapi kok panjang dulu ya cerita tentang grup whatsapp. Sejujurnya, saya pengen banget lho punya grup whatsapp yang anggotanya sama-sama nggak jaim. Saya mbayanginnya kok seru ya grupnya. Hehehe, saya belum tergabung di grup whatsapp yang anggotanya saling kenal dan nggak jaim, sih. Kasian, ya. 

Punya grup whatsapp kan? Kalau grup whatsapp kalian gimana? Cerita dong.






































26 comments:

  1. Saya punya wa, tapi group wa jarang. Paling satu dua saat ada acara, udah itu left.
    baca tulisan ini moga saya bisa praktekkan dan bisa memaksimalkan wa saya ya Mbak :)

    ReplyDelete
  2. saya baru aja left 2, kebanyakan jadi kurang fokus

    ReplyDelete
  3. Aku suka diinvite tanpa ijin, e tau2 uda banyak aja masukin ke grup , akhirnya aku left hihi

    ReplyDelete
  4. mbaaaak....ini tulisannya dari awal sampe akhir saya ngalamin semuanya hehehe....Paling males kalo isi grup cuma copas-copas panjang sampe harus read more berkali2 dan ujung2nya suruh sebarin dll. Bukannya gak suka di kasih nasihat atau tausiyah tapi kan kita juga belom tau kebenaran copasan tersebut ya. Soal grup yang anggotanya gak jaim, grup alumni SD saya banget. Saking gak jaimnya mungkin kalo orang masuk ke grup itu langsung ngejudge bahwa grup itu gak bermanfaat sama sekali karena isinya cuma maen plesetan kata, ledek2an sesama anggota dan tidak pernah sekalipun ngobrol serius (peraturan di grup itu: kalo mau ngomong serius japrian aja, jangan pernah percaya sama omongan di grup). Ealaaaah kenapa jadi panjang ini komennya. Maafkeuun.... Salam kenal ya mbak...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai Mbak Imelda, salam kenal juga.
      Hahahaha, ga papa panjang. Seru kok ceritanya. Tooos dulu dong :)
      Btw grup SD-ku malah sepiii banget. Kayaknya saya mau hengkah deh, hahahaha.
      Ih, enak ya punya grup yg seru.

      Delete
  5. Mencerna kalimat dengan baik <--- Demi ini saya kadang membaca pesan bisa 2-3x. Apalagi kalau tulisan pesannya disingkat-singkat, nggak ada titik maupun koma. Takutnya saya salah baca lalu salah persepsi ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah, itu. Tulisan yg ga ada titik koma dan spasi bikin puyeng.^^

      Delete
  6. wah saya banyak gruppp, biasanya emang ada tipe pendiam di dunia nyata, ramai di grup. Kalau saya tipe yg seimbang. hehe. Salam kenal

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyaa, salam kenal juga Mba Idhan :).

      Delete
  7. Aku ada bbrp grup mb. Yang grup yang tmn2 ktmunya pas gede...itu lbih variatif topiknya. Tapi klo grup SMP...silent reader aja..mau left nggak enak, mau ngobrol...bingung topiknya apa. Wajah2nya juga dah pd lupa..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe kalau grupnya sepi, saya izin left Mba :)

      Delete
  8. iya, dari rame jd sepi, skrg sepi,
    aku ada sih yg left, soalnya bahasan grupnya nggak jelas, suka nyeremfet urusan kamar, hiiiiii,

    ReplyDelete
    Replies
    1. Memang ada batasan juga ya kalau guyon meski teman sendiri.

      Delete
  9. Kebiasaan grup apapun, mau WA atau LINE, awalnya saja rame, trus sepiii. Saya cuma punya 4 grup WA. Satunya keluarga dan yg lain kerjaan. ^_^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku juga grupnya sekarang sedikit. Habis bersih2 :)

      Delete
  10. Haha aku banget tuh grup WA banyak beud dari orang rumah, big fam,kerjaan, komunitas mpe skul bocah, yang sepi grup alumni, mungkin topik pembicaraan udah ngga nyambung ya hanya nostalgia saja hiks

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hhhmm, Mbak Dew sosialita dong kalau gitu :)

      Delete
  11. Karena masih mahasiswa group WA isinya ya bahas2 kukiah hehe sama organisasi jg ��:D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Duh, zaman kuliah, saya belum ada grup nih.

      Delete
  12. Aku tuh kalo di grup wa selalu hanya jadi silent reader lho Pit, sampai suka di japri kenapa gak pernah ikutan ngomong hahaha...

    Grup WA kadang suka banyak dramanya yah, aku mah cukup jadi penonton aja deh :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Seriusan Bi sampai dijapri segala, hahahaha.

      Delete
  13. Aku justru gak mau Mbak, punya banyak grup. Sudah lah aku baperan, tambah lagi problem sana sini. Lelaaaaah.. Wkwkwk :p

    Makanya gitu ada yg invite tanpa permisi aku pasti bilang, "maaf ini grup apa ya? Maksudnya apa aku diundang ke sini?" Terus kalok gak ada jawaban langsung blaaaaas ngeleft :p

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku udah bersih2 grup Beb, sekarang ga banyak grup.:)

      Delete

Powered by Blogger.

Recent Posts

    Follow Me

    Page Views

    Copyright © Pipit Widya | Powered by Blogger
    Design by Saeed Salam | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com