Friday, March 31, 2017

Menghargai Profesi Orang Lain

Ide untuk menulis postingan ini dari pak suami. Berawal dari curhatan pak suami yang sempat menjalani side job sebagai tukang ojek online. Side job ini lumayan bikin geregetan padahal uang yang didapat kadang nggak sebanding dengan usaha untuk menjemput rejeki tersebut. Tapi hal ini malah membuat kami untuk selalu melakukan hal-hal kecil yang bisa menghargai profesi orang lain.

Beberapa bulan yang lalu, pak suami mencoba side job sebagai ojek online. Iyes, pak suami jadi tukang ojek. Pak suami mendaftar sebagai tukang ojek yang sistemnya 'nebeng'. Hayoo, tahu kan yang saya maksud.^-^.

Hahahahaha, emang gaji kurang yak, sampai segitunya nyari side job? 

Hhmm, enggak sih. Justru pak suami pengen belajar dan merasakan profesi orang lain. Katanya sih penasaran dengan sistem aplikasinya serta ingin merasakan challenge sebagai driver ojek online. Profesi ini kok kayaknya banyak banget peminatnya dan lagi hits di mana-mana.

Side job sebagai tukang ojek hanya dilakukan saat berangkat atau pulang kantor. Jadi, pak suami hanya mengambil penumpang yang searah, baik arah ke kantor ataupun arah ke rumah. Ngojek dilakukan suka-suka dan nggak terpaku pada target apa pun. Namanya juga iseng.^-^.

Sistem 'nebeng' di aplikasi membolehkan penumpang melakukan order ojek beberapa hari atau beberapa jam sebelumnya. Pemesanan seperti ini untuk memudahkan penumpang dan driver. Penumpang bisa mendapatkan driver yang bersedia atau mungkin yang searah. Di sisi lain, driver pun bisa mempertimbangkan orderan yang masuk jauh-jauh hari. Kira-kira orderan bisa diterima atau enggak.

Menjalani profesi baru sebagai 'tukang ojek' membuat pak suami banyak bersyukur dan belajar. Tahu nggak sih, untuk mendapatkan penumpang saja kadang harus mantengin hape berkali-kali. Bahkan hal ini sering dilakukan saat malam hari. Belum lagi kalau udah mantengin hape dan nggak gercep, penumpang diambil orang lain, deh. Huhuhu, capek mantengin hape dan goyang jempol mulu.

Source : Pixabay

Sebagai istri, saya seneng banget dengan side job ini. Lha kan lumayan kalau bisa menghemat pengeluaran, hahahahaha. Apalagi jika pak suami bisa nraktir dari sisa jatah uangnya. Istri mana yang nggak seneng? Hahahahaha, kok receh banget ya standar hidup saya. Beneran deh, saat pak suami bisa kasih uang sisa jatah, langsung masuk celengan. 

Kadang saya juga nggak seneng-seneng amat sih. Apalagi kalau tahu perjuangan pak suami mendapatkan dan mengantar penumpang, saya kok merasa kasihan. Soalnya, pak suami sering cerita tentang hal ini. 

Kalau mendapatkan penumpang yang baik dan pengertian, driver mana yang nggak senang? Tapi kan nggak tiap kali narik, driver dapat penumpang yang baik, minimal yang nggak ngerepotin lah. 

Pak suami pernah dapat penumpang yang agak rese. Sebut saja namanya X. Nah, X order dari malam sebelumnya. Karena dianggap searah dengan kantor dan cocok jamnya, maka pak suami menerima orderan tersebut. X pesan untuk keberangkatan jam 06.15 tapi begitu pak suami mau berangkat, lalu orderan diganti jam 06.30. Ya udah pak suami nungguin bentar di rumah. 

Ketika waktu dirasa pas dengan kedatangan orderan di TKP, pak suami siap berangkat dong ya. Nah, saat mau sampai lokasi, si X kembali buat ulah. Dia kirim pesan untuk jemput jam 06.45. Duwenk!! 

Yah, kalau gonta-ganti jam begini ya ditinggalin sama pak suami. Karena apa? Pak suami hanya menerima orderan yang cocok. Maksudnya cocok yaitu waktu penjemputan dan perkiraan sampai ke TKP tidak membuatnya terlambat ngantor. Kalau orderan digonta-ganti melulu ya namanya njengkeli.

Sebagai driver, pak suami cuma kasih saran ke X. Kalau order ojek tolong waktu diperhitungkan lagi dengan baik. Jangan gonta-ganti jam jemputan dan kalau bisa jangan membuat driver terlalu lama menunggu. Kasihan drivernya.

Memang sih itu tanggung jawab driver. Tapi sebagai customer yang baik kalau nggak merepotkan orang lain kan lebih enak to? 

Hal yang hampir mirip pernah juga terjadi dengan penumpang lain. Jadi ketika sudah sampai di TKP, pak suami diminta untuk menunggu sebentar. Yah, sebagai driver yang baik, pak suami manut dengan customer lah ya. Setelah menunggu sekitar 15 menitan kok customer nggak keluar dan nggak ada kabar. Setelah ditelepon ternyata customer minta tambahan waktu lagi. Lah, kalau kayak gini bakal ditinggal sama pak suami. Akhirnya pak suami minta customer untuk cancel order.

Kalau misal yang cancel dari pihak driver, seolah-olah driver yang nggak mau menerima orderan. Hal ini bisa membuat driver mendapat raport merah, lho. Padahal kenyataannya customer yang molor. -__-

Saya juga kasihan sama pak suami kalau cuaca sedang hujan. Duh, perjuangan banget nih karena pak suami harus menyediakan jas hujan dan helm untuk penumpang. Padahal hari itu belum tentu ada orderan. Kalaupun ada ya harus hujan-hujanan mengantar penumpang sampai ke TKP. 

Sekarang sih pak suami udah jarang banget ambil orderan. Selain karena agak malas, orderan juga agak sepi. Tahu nggak, kenapa? Orderan rame karena waktu itu lagi banyak promo. Hahahahaha, ternyata banyak juga ya yang suka diskonan. Hidup diskonan! ^-^

Semenjak pernah merasakan jadi tukang ojek, pak suami lebih menghargai uang dan profesi orang lain. Bukan hanya untuk tukang ojek saja namun juga profesi lain yang mungkin bagi sebagian orang menganggap sebagai profesi biasa. Padahal di balik profesi ini ada usaha yang tidak biasa untuk melakoninya.

Nggak ada yang salah jika kita menghargai profesi orang lain. Dengan melakukan hal-hal kecil yang nggak menyusahkan, udah meringankan beban mereka kok. Kita hidup di dunia ini kan saling membutuhkan. Dan hormatilah orang lain, apa pun profesi mereka.^-^.

4 comments:

  1. Awal2 ada ojek online banyak sekali testimoni nasib orang berubah seketika. Tapi setelah driver bertambah jumhlah luar biasa dimana-mana papasan, yg ada malah drivernya yg curhat nelangsa, terutama yg tidak punya pekerjaan lain. Aku sih menghargai siapa saja yang mau bekerja keras, apapun hasilnya.

    ReplyDelete
  2. iya setiap profesi itu mulia , usaha yang kuat untuk menyambut rejeki halal.

    ReplyDelete
  3. suamiku juga sering mbak punya side job, tapi kebanyakan dagang sih ...mulai jual pulsa, jual beli hape, lukisan sampe batu akik. dinikmati aja...semua ada ceritanya masing-masing...

    ReplyDelete
  4. Saya kalau pesan ojek online, pas tinggal pake sepatu. Jadi abangnya nyampe udah beres. Iya kasihan nunggu, mereka kan juga punya target. Kalau saya sengaja ngisi sistem deposit, biar bayarnya 50%, jadi bisa ngasih tip ke abangnya lewat klik juga. Mungkin rejeki yg sedikit ini yg menjadi jalan untuk rejeki2 yg saya dapat :D

    ReplyDelete

Powered by Blogger.

Recent Posts

    Follow Me

    Page Views

    Copyright © Pipit Widya | Powered by Blogger
    Design by Saeed Salam | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com