Wednesday, May 31, 2017

Ramadan Kali Ini

Marhaban ya Ramadan. Selamat menjalankan ibadah puasa bagi teman-teman yang muslim. Daripada blog mlompong, saya mau cerita Ramadan kali ini aja, ya. 

Seperti tahun-tahun sebelumnya, saya selalu senang dan antusias saat Ramadan tiba. Seakan ada suasana yang berbeda dan selalu dinanti ketika Ramadan datang. Cerita Ramadan kali ini sepertinya sama dengan tahun-tahun sebelumnya. Hanya saja saya sudah menemukan ritme baru dalam menjalankan Ramadan tahun ini. 

Dulu, saya sering mendapat chat mohon maaf saat Ramadan mau tiba. Semacam total membersihkan diri untuk menyambut Ramadan. Akhir-akhir ini, sedikit sih. Dan jarang juga membalas percakapan maaf-maafan di grup WA. 

Saling memaafkan ketika mau Ramadan saya ketahui pertama kali saat kuliah. Waktu itu, saya bingung ketika banyak teman cewek yang salam-salaman untuk meminta maaf. Plus disertai dengan cipika-cipiki.

Meski awalnya agak kaget dan kikuk lama-lama hal ini menjadi semacam tradisi di kampus sebelum Ramadan. Maklum, dulu saya nggak pernah melakukan ini. Dan sekarang, saya sudah merasa biasa aja. Apalagi dengan ucapan maaf yang dilakukan secara virtual, ya. Memang sih lebih enak kalau bermaafan di dunia nyata. 

Selain ucapan maaf, Ramadan tahun ini saya lebih enjoy dalam menjalankannya. Mungkin karena sudah menemukan ritme yang baru kali, ya.



Ramadan tahun ini merupakan kali kedua tidak ada asisten. Jika tahun lalu merupakan Ramadan pertama tanpa ART jadi saya agak kacau dalam mengatur waktu dan belanja. 

Berbekal pengalaman tahun lalu, Ramadan kali ini saya lebih bisa mengatur belanja dengan baik sehingga tidak ada makanan yang terbuang percuma. Kalau soal waktu, saya masih kocar-kacir nih. Rasanya ingin bermalas-malasan melulu. Jika waktu sudah agak sore atau mendekati jam buka puasa, baru deh ngurus rumah dan memasak jadi pontang-panting, hahahaha. 

Ramadan kali ini seperti biasa saya sudah nyetok belanja bulanan dan nggak ngemall lagi. Iya, saya dan pak suami memang berkomitmen kalau puasa kami usahakan nggak usah ngemall karena kami nggak kuat dengan ramenya. Apalagi kalau sampai antre di kasir berjam-jam. Duh, bye bye deh! Jika ada barang kebutuhan yang kurang, cukup beli di warung atau mini market dekat rumah.

Kalau untuk makanan, alhamdulillah pak suami termasuk orang yang gampang makan asal nggak pedes. Pak suami memang nggak bisa makan pedes. 

Ngomongin tentang makanan, Ramadan kali ini, saya usahakan membuat menu yang berbeda untuk sahur dan buka. Hal ini terinspirasi dari ibu saya.

Jadi waktu mudik tahun lalu, saya masih bisa merasakan nikmatnya sahur dan buka dengan makanan buatan ibu. Nah, ibu saya membedakan sayuran untuk sahur dan buka. Dan beliau masak menu sahur dadakan jadi terasa fresh saat memakannya. 

Waktu makan itulah saya berpikir untuk merubah pola masak jika Ramadan tiba. Berbeda dengan ibu, biasanya menu untuk sahur saya bikin saat waktu buka. Jadi kalau siang/sore saya masak 2 menu. Menu yang berkuah dimakan saat buka puasa sedangkan menu untuk sahur macam tumis atau ca sayuran. Yes, menu sahur bikin yang simpel aja.

Kenapa saya melakukan ini?

Karena ini memudahkan saya saat sahur. Ketika sahur, saya nggak masak sambil ngantuk. Hal ini juga bisa dijadikan solusi jika saya dan pak suami telat bangun sahur. Kalau menu sahur sudah ada, saya tinggal ngangetin aja. Enak to kalau gini?

Selain menu utama, saat berbuka puasa biasanya saya selalu menyediakan air putih, kurma, buah dan takjil. Saya dan pak suami berbuka dengan simpel sih. Setelah tarawih, kami baru mulai makan. Nah, untuk saya pribadi, Ramadan kali ini saya usahakan untuk nggak makan nasi saat buka puasa. Cukup konsumsi kurma, buah, sayur, dan lauk.

Yah, ini nggak saklek sih. Kayak kemarin, saya makan kupat karena saya lagi pengen makan kupat tahu. Tapi saya usahakan untuk mengurangi karbo. 

Selain masalah karbo, yang berbeda dari tahun sebelumnya yaitu Ramadan kali ini saya dan pak suami bertekad untuk mengurangi gorengan dan makanan bersantan. Mengurangi lho ya bukan menghindari. Alhamdulillah sih sudah berjalan dengan baik.

Sampai saat ini saya cuma bikin bakwan untuk menu kupat tahu. Selebihnya semoga tetap konsisten mengurangi gorengan. Oia, untuk membeli gorengan di pinggir jalan, sekarang sudah jarang banget. Dulu sih pak suami sering banget beli gorengan kalau di rumah nggak ada takjil.

Selain hal-hal di atas, ada hal yang membuat saya bahagia banget. Hal ini sebenarnya biasa aja sih tapi bagi saya merupakan hal yang istimewa. Hm, nganu, alhamdulillah musholla di kompleks tempat saya tinggal sudah bisa dipakai. 

Meski musholla belum 100% jadi sih tapi tempat ini sudah bisa dipakai untuk salat. Seneng banget ketika warga gotong royong mempersiapkan musholla untuk persiapan salat tarawih. Saya juga seneng ketika salat banyak juga anak-anak yang ikut. Meski rame dan agak berisik tapi saya sangat menikmati momen seperti ini. Karena saya yakin kalau hal ini akan menjadi kenangan yang indah nantinya.*halah

Warga kompleks memang menantikan musholla. Dengan adanya musholla maka kegiatan tarawih dan kegiatan-kegiatan lain bisa dilakukan di musholla. Semoga nantinya ada banyak kegiatan lain untuk memakmurkan musholla. Harapan saya, ramainya musholla tidak hanya saat-saat tertentu saja. Kapan pun, musholla bisa menjadi tempat yang sejuk dan bermanfaat untuk menunjang kegiatan di kompleks.

Ini cerita Ramadan saya kali ini. Kalau cerita Ramadan kalian apa nih? ☺



















Continue Reading…

Wednesday, May 17, 2017

Alasan Memilih Rice Cooker Sebagai Kado Pernikahan

Bingung mau ngasih kado pernikahan? Sebenarnya banyak lho barang yang bisa dijadikan kado pernikahan. Nggak usah jauh-jauh deh, alat rumah tangga bisa dijadikan pilihan kok. Salah satunya rice cooker.

Enam tahun lalu, saat sepupu saya menikah, saya bingung mau kasih kado apa. Kalau ngasih kado takut enggak dipakai atau pengantinnya nggak suka. Belum lagi soal harganya. Pengennya sih kado yang pas di kantong dan barangnya bakal dipakai. 

Saya sempat googling dan tambah bingung, hahahaha. Soalnya, banyak banget pilihan yang yang dikasih sama Mbah Gugel. Yah, saya baca aja sih saran-sarannya. Lalu saya diskusi dengan pak suami biar sama-sama enak. Siapa tahu pak suami juga bisa kasih ide.  

Setelah diskusi dengan pak suami, kami sepakat untuk membeli rice cooker. Bukan tanpa alasan sih kenapa kami memilih rice cooker untuk kado pernikahan. Beberapa pertimbangan kenapa rice cooker bisa dijadikan kado pernikahan antara lain :

#Pasti Dipakai

Saat membeli kado untuk pernikahan, pasti dong kita kepikiran kalau kadonya bakal dipakai atau enggak. Bermanfaat atau enggak. Iya, kan?

Nah, kalau ngasih rice cooker sih kemungkinan besar bakal dipakai. Karena kan pengantinnya juga makan nasi. Jadi beliin saja alat untuk membuat nasi. Lah, zaman sekarang kan jarang banget yang masak nasi dengan cara diaron. 

Eh, meski masak nasinya dengan cara tradisional pun, rice cooker masih bisa digunakan untuk menghangatkan nasi kan? Jadi yakin bakal dipakai deh. 

#Harga Terjangkau

Rice cooker ada bermacam varian. Mau yang biasa atau yang canggih semua ada. Rice cooker yang hanya untuk memasak nasi, harganya banyak terjangkau. Kalau kamu mau beli yang agak mahal pun dan nggak pengen kantongnya jebol, masih bisa diakali lho. Coba ajak teman atau saudara untuk patungan beli rice cooker deh. Dengan begini kan rice cooker jadi ramah di kantong kan?

#Mudah Didapat

Saat ini, rice cooker bukan termasuk barang mewah. Banyak toko peralatan rumah tangga yang menjual rice cooker. Bahkan toko-toko yang ada di pasar atau dekat rumah pun banyak yang jual.

Jadi kalau bisa cari kado pernikahan yang mudah didapat, kenapa enggak?

#Multi Fungsi

Iya, rice cooker nggak cuma untuk memasak nasi saja. Banyak yang menggunakan rice cooker untuk membuat mie instan, memasak telur, merebus air, dll. Meski belum pernah mencoba, tapi banyak lho anak kos yang melakukan ini, hahaha. Yah, kalau kepepet apa pun bisa terjadi, kan? ☺

Nah, itu tadi beberapa pertimbangan dalam memilih rice cooker sebagai kado pernikahan.


Pengalaman saya, dulu sih rempong banget bawa kado segede rice cooker. Bayangin aja ya saya dan pak suami naik motor bawa kado segede rice cooker dari Tanjung Barat ke Bekasi. Byuh, kalau ingat masa-masa itu jadi ketawa sendiri.

Kalau sekarang sih nggak usah rempong dan khawatir. Hal ini bisa disiasati kok. Caranya beli saja rice cooker secara online. Kalau gini kan rice cooker bisa langsung dikirim ke alamat pengantin. 

Kalau membeli online, waktu pengiriman juga fleksibel. Misalnya, kalau pengantin segera menempati rumah baru kan bisa dikirim kapan aja saat si pengantin sudah di rumah yang baru. Hal ini malah membantu pengantin karena mereka nggak perlu membawa barang yang banyak.

Bayangkan aja nih, kalau mereka udah di rumah baru lalu mendapat kado alat rumah tangga yang baru pula. Jadi dobel kan senangnya?

Masih mikir buat nyari kado pernikahan? Buruan gih beli rice cooker. 


Continue Reading…
Powered by Blogger.

Recent Posts

    Follow Me

    Page Views

    Copyright © Pipit Widya | Powered by Blogger
    Design by Saeed Salam | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com