Monday, February 12, 2018

Kangen Serunya Bisnis Jasa Titip

Mau cerita tentang bisnis jasa titip yang cuma sebentar saya jalani. Menjalankan bisnis jasa titip emang seru sih. Bagi yang baru menjalankan bisnis jastip, kudu sabar ya. Saya udah pernah ngerasain ini. Tapi sekarang udah nggak bisnis jastip lagi karena saya menjalankan jastip hanya sementara. Kadang saya kangen ama serunya bisnis jasa titip karena untungnya lumayan, hahahaha.

Oia, postingan ini bakal panjang ya karena saya mau cerita detail keseruan bisnis jasa titip dari luar negeri, khususnya Jepang. Eh btw, ini jadi branding saya nggak sih karena posting mulu soal Jepang, hahahahaha. Pokoknya saya mah Nihon daisuki.^-^.

Memulai bisnis jastip sebenarnya nggak sengaja sih. Yang mulai duluan pak suami. Waktu itu kan pak suami dinas di Jepang sendirian selama 3 bulan. Kalau nggak ada saya, pulang kerja malah kesepian. Bengong aja gitu di apartemen. Nah, daripada kebanyakan bengong, dia buka jastip deh. Dengan membuka jasa titip kayak gini, pulang kerja setidaknya ada kegiatan hunting barang di dekat apartemen. Jadi kalau pulang ke apartemen bisa langsung istirahat. 

Namun pak suami hunting barang lebih leluasa saat weekend karena kan weekday dia kerja. Jadi kalau weekend nggak galau mau ke mana, hahahaha. 

Awalnya pak suami buka penawaran di Kaskus. Lalu minta bantuan saya untuk promoin di Facebook. Responnya cukup lumayan karena Jepang terkenal akan barang-barangnya yang lucu dan unik. Pembeli kebanyakan nitip pernak-pernik lucu kayak gelas sake, hiasan rumah, furoshiki, Kit Kat green tea, dll. 

Oiya, waktu itu Kit Kat green tea belum segampang sekarang buat mendapatkannya. Kalaupun ada, harganya mahal banget. Yaiyalah, barang impor kan?

Selama menjalankan bisnis jastip, banyak sekali hal-hal yang diperhatikan. Di sini, saya akan cerita dari sisi penjual ya, karena memang pengalaman ini yang akan saya bagikan. 

Bisnis jasa titip termasuk susah-susah gampang. Susah karena banyak hal yang diperhatikan dan dipertimbangkan mengingat saat itu yang kami jual adalah barang dari luar negeri. Hal ini tentu akan berdampak pada transport dan bagasi saat balik nanti. 

Bisnis jastip bisa dikatakan gampang, sebenarnya barang yang dicari banyak, namun kadang bingung karena takut nggak sesuai seperti harapan pembeli. Entah harganya yang mahal atau motif yang kurang sesuai. 

Ketika masa dinas di Jepang diperpanjang, akhirnya saya menyusul pak suami. Nah, dari sini saya bisa merasakan langsung serunya bisnis jasa titip. 


Biasanya sih, saya dan pak suami jalan-jalan saat weekend. Di saat jalan-jalan itu, kami sekalian lihat pernak-pernik lucu yang jumlahnya banyak sekali. Di samping pernak-pernik, banyak barang yang fungsional dijual di sana. Kalau ketemu barang yang sekiranya lucu atau laku dijual, ya kami foto. Lalu kami tawarkan di medsos.

Semakin mudah barang tersebut didapat maka semakin murah harganya. Mudah didapat di sini artinya, nggak butuh transport yang mahal dan barangnya memang banyak dijual. Maklumlah, kami harus mempertimbangkan transport yang biayanya juga lumayan. 

Tapi ada juga permintaan yang nggak kami layani. Misalnya, ada yang minta produk dari Ghibli atau barang yang berat macam tea set. Saya dan pak suami nggak ngoyo dalam hunting barang. Kalau dirasa mudah dan nggak perlu modal banyak ya kami akan usahakan cari. 

Kalau barang dari Ghibli kan khusus ya hanya dijual di museum Ghibli. Nah, biaya dari Yokohama ke Tokyo kan lumayan (kami tinggal di Yokohama). Belum lagi kalau masuk museum Ghibli. Untuk tea set, sejak awal kami sudah menolak karena itu akan merepotkan. Tea set berat bok, takut bagasi nggak muat. Maklum, kami juga memikirkan barang bawaan kami yang lumayan banyak. 

Pernah lho kami cancel karena ada pembeli nggak jelas maunya gimana. Dia ragu-ragu sih ngasih keputusan. Bodo amat dah kalau ketemu pembeli yang seperti ini. 

Oia, saya pernah dititipi gotochi, kartu pos yang unik di masing-masing daerah di Jepang. Ih, lucu banget ya gotochi. Tapi berhubung saya nggak terlalu suka koleksi kartu pos ya biasa aja. Mungkin next time kalau ada kesempatan ke Jepang lagi, saya akan beli gotochi buat pribadi, hahahaha. 

Nah, nyari gotochi tuh cuma ada di kantor pos besar. Waktu itu saya ada kegiatan sama ibu-ibu Jepang di sekitar stasiun Yokohama dan dibantu beli gotochi di kantor pos. Ya, nggak enak juga sih merepotkan orang. Untungnya, waktu itu mereka juga ada perlu di kantor pos jadi ya saya manfaatkan sekalian, hahahaha. 

Karena saya nggak enakan ama temen, akhirnya gotochi 3 lembar yang sekitar 50rb itu saya kasih cuma-cuma. Hhhmm, pak suami agak marah sih karena perjuangan buat mendapatkan gotochi lumayan susah. Tapi ya gimana, wong nggak enak ama temen. Padahal temen itu baru kenal di Facebook dan sok akrab sama saya. Yah, maklum saya orangnya gampang meleleh apalagi kalau sesama anggota komunitas. Duh.

Sejak itu saya bertekad untuk lebih tega menjadi penjual jasa titip, hahahahaha.

Pengalaman yang lebih seru sebenarnya dialami pak suami. Pertama, ada yang nitip jam tangan limited edition. Kedua, jastip kamera bekas.

Oke, saya ceritain ya.

#Jasa titip jam tangan limited edition

Ada pembeli yang hobi mengoleksi jam tangan limited edition. Ini adalah titipannya yang kesekian kali. Dia berkali-kali nitip jam tangan dan alhamdulillah dapet jamnya. Harganya pun sama-sama cucok. 

Awalnya, permintaan itu dikira jam tangan biasa. Maklum ya, pak suami kurang paham soal jam tangan limited edition. Nah, nyari di berbagai toko nggak ada. Akhirnya pembeli bilang kalau itu emang limited edition. 

Pak suami malah tertantang buat ngedapetin ini. Jadi dia nanya ke temennya yang asli Jepang. Dari info temen, jam tangan tersebut dijual di Rakuten. Buat mendapatkannya kudu melalui bidding.

Masalahnya adalah Rakuten di sana nggak ada bahasa Inggrisnya jadi pak suami nggak ngerti sama sekali. Akhirnya temennya tadi dengan baik hati menawarkan bantuan. Jadi mulai masuk Rakuten, bidding, sampai bayar pakai akun temen. Pak suami cuma ngasih harga penawaran aja.

Untungnya sih jam itu dimenangkan pak suami. Nah, pas mau bayar ke temen tadi, pak suami kaget lho. Si temen ngasih laporan komplit sampai potongan CC-nya. Hebatnya lagi, dia nggak mau dibayar lebih. Bahkan sekedar ditraktir makan juga nggak mau. 

Alhamdulillah, kalau gini kan rejeki anak soleh, hahahaha. 

Emang sih sifat orang Jepang banyak yang kayak gini. Mereka akan tulus membantu tanpa ada kepentingan apa pun. Salut banget sama temen tadi. Arigatou, Mas Bro.^_^

#Jasa titip kamera bekas

Kalau bisnis kamera bekas sebenarnya nggak sengaja dan ini baru dijalanin saat mau balik ke Indonesia. Jadi ada temen kantor pak suami yang ngajak joinan bisnis ini. Tapi sistemnya adalah pak suami beli dulu baru dijual. Sistem ini yang bikin pak suami kurang sreg karena sangat beresiko.

Selama menjalankan bisnis jastip, pak suami selalu bikin aturan pembeli harus menyerahkan DP 50% dulu baru barang dibeli. Ada uang, ada baranglah. Kalau barang nggak dapet, DP tersebut akan dikembalikan 100%. 

Pak suami akhirnya memberanikan diri tes market dan berbisnis sendiri. 

Nah, karena bisnis kamera butuh effort yang nggak gampang makanya pak suami nyoba nawarin dulu di medsosnya. Ih, nggak disangka ternyata responnya luar biasa. Kami bisa jual 3 kamera bekas lho. Dan untungnya tuh lumayan banget.

Dalam bisnis jastip kamera, pak suami lebih waspada. Maklumlah ini nominalnya gedhe dan kalau ada cacat juga akan berdampak pada hasilnya. 

Hunting kamera bekas di Jepang lumayan susah. Saya pernah diajak nyari tuh. Pertama nyari di Akihabara. Dari siang sampai sore nggak dapet kamera yang diincar. Lalu malamnya kami ke Shinjuku. Akhirnya dapet sih di toko yang kecil gitu.

Oia, kamera bekas di Jepang ada gradenya dan semua dijamin kualitasnya. Barangnya juga asli Jepang kan makanya bisnis ini laku banget dijual di Indonesia. 

Pak suami masih penasaran sama kamera bekas. Kata temennya, kamera bekas yang murah ada di salah satu distrik di Tokyo. Akhirnya H-1 sebelum balik Indonesia, dia nekat ke Tokyo sehabis kerja. Hhhmm, katanya sih di sana banyak yang jual barang bekas dan harganya lebih murah daripada di Shinjuku. Kemudian dia nyesel kenapa kok dari kemarin nggak pergi ke daerah ini aja. Hahaha.

Itu tadi pengalaman saya dan pak suami dalam berbisnis jasa titip kecil-kecilan. Kami hanya memanfaatkan waktu dan kesempatan aja. Alhamdulillah sih ini jadi pengalaman baru yang seru banget. Kami belajar tentang kesabaran, amanah, dan marketing. Bagi kami, bisnis jasa titip banyak untungnya selama kita bisa mengatur dengan baik. 

Jangan semua permintaan dituruti karena itu menyangkut amanah dan kualitas barang. Oia, jangan lupakan bagasi dan bea cukai ya, biar nggak tekor-tekor amat, hahahahaha. 

Biar nggak dicurigai petugas, penataan barang di koper dibikin yang rapi. Barang yang sejenis baiknya dipisah. Misal ada yang di koper dan di tas.

Bisnis jastip ini kalau ditekuni bisa jadi bisnis yang menjanjikan lho. Banyak kan akun di IG yang menawarkan jastip. Omzet mereka dalam sebulan banyak banget. Emang sih bisnis ini mengutamakan amanah dan kualitas. Kalau pembeli sudah percaya maka barang apa pun yang dijual bakal laris manis. Percayalah. 

Oia, saya pernah menceritakan bisnis jasa titip waktu tinggal di Jepang. Tulisan tersebut dibuat di sana namun nggak sekomplit postingan ini.


Kamu pernah punya pengalaman dengan bisnis jasa titip nggak? Boleh sebagai penjual atau pembeli ya. Ceritain dong.^-^.



Continue Reading…

Wednesday, February 07, 2018

Susahnya Posting Lewat Handphone

Beberapa hari terakhir, saya lagi rajin ngeblog nih. Mungkin karena masih awal-awal tahun ya, jadi semangatnya masih ada. Kadang juga mikir, sayang banget kalau blog nggak di-update. Yah, semoga sifat rajin ini bisa bertahan lama ya, nggak cuma bentar doang. ^-^

Sebenarnya sih kemarin saya udah nyoba bikin postingan lewat handphone. Tapi ya Allah, susahnya posting lewat handphone. Baru bikin beberapa paragraf lalu delete. Terus bete sendiri.

Saya kan punya app blogspot. Pernah sih nulis di app blogspot. Enaknya nulis di situ karena simple, cuma modal hape dan kuota aja. Tapi nulis di app blogspot kayak ngedraft doang. Kenapa? Karena nulis pakai app blogspot jadinya ancur banget. Misal nih, kita udah nulis paragraf baru tapi setelah di-preview jadinya awut-awutan. Postingan nggak ada paragrafnya. Huft -_-

Selain itu, nulis pakai aplikasi ini susah ngeditnya. Jangan-jangan saya yang norak nih karena nggak tahu cara ngeditnya. Jadi saya tetap buka kompi buat merapikan postingan.

Saya pikir, kalau pakai app ini bakal enak dan mudah bikin postingan kapan pun dan di mana pun. Ternyata sama aja, masih perlu diedit via laptop atau kompi.  Aplikasi blogspot masih perlu perbaikan yang banyak. 

Eh, dulu saya pernah bikin postingan tentang app blogspot deh. Silakan baca di sini ya.

Karena emang lagi semangat ngeblog, akhirnya saya nyoba bikin postingan lewat dashboard blogger via browser. Kalau ini sih kayak buka laptop atau kompi biasa ya. Tapi entahlah, kemarin itu nyebelin banget. Saya udah nulis beberapa paragraf dan mau saya edit rata kiri dan kanan biar rapi, nggak bisa mulu. Buat ngeklik pilihan pengaturan paragraf aja susah banget. Pas dapet yang justify, nggak bisa dipilih. Tetep aja tulisan di rata kiri. 

Bermenit-menit cuma gitu doang akhirnya saya emosi dan nggak jadi bikin postingan. Akhirnya kembali ke cara lama biar saya waras dan blog tetap ada postingan baru. Saya nulis di kompi seperti biasa, hahahaha. Yah, mungkin saya emang gaptek jadi nggak tahu nih cara posting lewat handphone yang nyaman.

Btw, ada yang punya pengalaman yang sama nggak? Kamu lebih suka posting lewat handphone atau laptop nih? 



PS : Mau dikasih foto tapi uploadnya lama jadi nggak ada fotonya.-_-

Continue Reading…

Monday, February 05, 2018

Belajar Hidup dari Orang Kecil

Saya suka sekali membaca buku autobiografi seorang tokoh. Pelajaran yang dapat diambil dari membaca buku tersebut tentu saja kisah inspiratif dan perjuangan si Tokoh dalam meraih kesuksesan. Namun, kadang saya berpikir. Kayaknya suatu hal yang lumrah kalau belajar hidup dari tokoh terkenal. Lalu, apa salahnya jika kita belajar hidup dari orang kecil di sekitar kita?

Orang-orang kecil yang saya maksud di sini yaitu mereka yang pendapatannya di bawah UMR. Pendapatan sih bisa dikatakan 'sedikit' tapi kan kita nggak tahu, bisa jadi di dalam yang sedikit itu justru terdapat keberkahan yang besar.*benerin jibab dulu

Saya dan pak suami sempat tertegun dengan tukang rumput langganan. Sebut saja namanya Pak Karto. Pak Karto merantau dari Wonogiri ke Jakarta dengan harapan agar kehidupannya menjadi lebih baik. Bertahun-tahun merantau akhirnya beliau bisa membangun rumah di Depok. 

Istri Pak Karto bekerja sebagai ART di perumahan elit di daerah Jakarta. Istri Pak Karto tinggal di rumah majikan dan pulang ke Depok seminggu sekali. Anak Pak Karto ada 4. Ada yang sudah menikah, bekerja, dan sekolah. Karena ibu mereka nggak tiap hari di rumah, anak-anak Pak Karto hidup mandiri.

Sehari-hari Pak Karto bekerja sebagai pemotong rumput. Mesin pemotong rumputnya sudah tua. Nggak heran kalau saat kerja, mesin tersebut kerap kali ngadat. Tapi Pak Karto sudah lihai dengan hal ini. Tanpa menunggu berjam-jam, mesin tersebut dapat digunakan lagi.

Suatu kali, kami memanggil Pak Karto untuk membersihkan rumput. Pak Karto termasuk orang yang rajin. Beliau selalu datang sebelum waktu yang ditentukan. Ah, senangnya jika bekerja sama dengan orang seperti beliau. 

Di saat sedang bekerja di rumah kami, hape Pak Karto tiba-tiba berbunyi. Hape tersebut disimpan di kantong bajunya. Jadi meskipun suaranya tidak terdengar tapi getaran saat ada panggilan masuk terasa. Pak Karto mematikan mesin sebentar lalu bercakap dengan orang yang telepon tadi.

Setelah itu Pak Karto bilang ke kami bahwa setelah dari rumah kami sebenarnya dia dapat job memotong rumput di area komplek yang lebih besar. Asumsinya, dengan luasan yang lebih besar tentu pendapatan Pak Karto lebih besar dari pendapatan di rumah kami. Tapi apa yang dilakukan oleh Pak Karto? 

Beliau menolak job tersebut, saudara-saudara. Ya, menolak job. Terkesan songong ya, Pak Karto, hahahaha. 

Saya dan pak suami yang mendengar ini juga kaget. Saya pun penasaran dan memberanikan diri bertanya alasan menolak job tersebut.

Pak Karto dengan santai bilang kalau dalam sehari, dia bekerja cukup di 1 tempat saja. Rejeki berapa pun yang didapat hari itu akan selalu disyukuri. Besok nyari rejeki lagi. 

Wow, matematika saya nggak masuk nih. Maklumlah pikiran udah terlalu njlimet jadi kadang saya nggak bisa berpikir sederhana seperti Pak Karto. Kalau pikiran saya, semakin banyak job berarti makin banyak pula pendapatan. Kalau ada sisa di hari itu, bisa ditabung kan ya. Tetapi ternyata matematika saya nggak berlaku untuk kehidupan Pak Karto. Beliau ingin bekerja dan istirahat secara seimbang. Kalau bekerja terus memang nggak ada habisnya. Toh, syukuri dan nikmati saja pemberian rejeki di hari itu.

See? Sebegitu simpelnya ya pemikiran beliau. Mungkin bukan hanya Pak Karto saja yang seperti itu. Masih banyak orang-orang kecil di luar sana yang percaya dan yakin akan rejekinya Tuhan. Mereka masih bisa hidup dan bertahan di tengah kerasnya kehidupan di kota besar. Mereka masih bisa bersyukur atas nikmat dan rejeki yang datang tiap hari meski hanya cukup untuk makan di hari itu saja. 

Ah, saya jadi malu sama mereka. Memang ya, matematika manusia beda sama matematikanya Tuhan. Kita hanya perlu bersyukur dan berusaha, insya Allah rejeki akan datang. Ya, saya perlu banyak belajar tentang hidup dari orang-orang seperti mereka.

*Tulisan ini sekaligus buat self reminder untuk diri saya sendiri.

Continue Reading…

Friday, February 02, 2018

Hajimete no Otsukai, Cara Orang Jepang Mendidik Anak Mandiri Sejak Kecil

Saya suka banget dengan hal-hal yang berhubungan dengan Jepang, terutama soal budayanya. Entahlah, sejak SMA saya sudah suka banget dengan karakter orang Jepang yang terkenal baik. Yah, meski nggak semua sih karakter orang Jepang seperti itu. Tapi mayoritaslah ya. Salah satu yang paling saya suka yaitu sifat mandirinya. Nggak tua, nggak muda mereka melakukan apa-apa sendiri. Umumnya, mereka nggak mau merepotkan orang lain. Ternyata sifat mandiri ini adalah hasil didikan orangtua sejak mereka masih kecil.

Didikan inilah yang dijadikan acara teve di Jepang bernama Hajimete no Otsukai. Terjemahan bahasa Indonesianya kurang lebih 'tugas pertama'. Jadi, ini semacam reality show dimana orangtua menyuruh anak mereka yang berusia 3-5 tahun untuk berani keluar rumah sendiri. Biasanya sih orangtua akan menyuruh membeli sesuatu di super market atau mengantar barang ke tetangga/keluarga terdekat. Intinya, anak diajarkan bertanggung jawab dan mandiri tanpa didampingi orangtua.

Hajimete no Otsukai tayang di salah satu stasiun teve di Jepang sejak tahun 1991. Acara ini disiarkan setahun hanya dua kali, yakni saat seijin shiki dan umi no hi. Seijin shiki (hari perayaan orang dewasa) biasanya jatuh pada minggu pertama bulan Januari. Sedangkan umi no hi (hari libur pantai) yaitu hari libur nasional pada musim panas di bulan Juni. Di tiap shownya, acara ini dipandu oleh pembawa acara dan komentator dari kalangan seleb atau orang terkenal di Jepang. 

Hajimete no Otsukai sangat terkenal dan menjadi acara favorit di Jepang. Penonton dapat melihat muka polos anak kecil yang nggak dibuat-buat, kawaii banget. Perjuangan anak batita ataupun balita untuk membantu orangtua menjadi daya tarik di acara ini. Mereka ada yang bersemangat, takut, bahkan sampai nangis selama menjalankan tugas tersebut. Tak jarang, hal ini membuat haru penonton maupun pembawa acaranya. 

Pembawa acara dan para komentator pun sering menangis melihat perjuangan anak-anak tersebut yang penuh semangat. Apalagi jika anak-anak sudah sampai rumah dan disambut oleh tangis bahagia orangtuanya. Saya aja ini ngetik sambil nangis nih. Hahahaha, emang saya cengeng banget.

Demi keamanan si anak, beberapa kru TV akan menyamar sebagai pejalan kaki biasa sehingga mereka nggak tahu kalau sedang direkam.  

Nah, untungnya nih TV kabel saya ada program Jepangnya. Teve langganan saya anti mainstream lho, bukan brand yang kebanyakan orang punya. Senengnya lagi ternyata ada acara Hajimete no Otsukai tiap Kamis malam. Meski bukan tayangan yang baru setidaknya saya bisa mengambil pelajaran dari acara tersebut. 

Acara Hajimete no Otsukai merupakan acara favorit saya dan pak suami. Ritual malam Jumatnya ya nonton acara ini, hahahahaha. Eh, kalau kalian penasaran bisa kok nonton di Youtube. Hari gini apa sih yang nggak bisa ditonton lewat Youtube, ya kan? Yakin deh, kalian bakal senyam senyum sendiri atau mungkin malah nangis melihat tingkah laku anak kecil ketika disuruh belanja sendiri.

Gambar dari Pixabay

Semalam, acara ini menampilkan tokoh bernama Yuta. Ceritanya Yuta udah gedhe dan mempunyai 2 orang anak. Yuta menjadi dokter di salah satu klinik di pulau yang jauh banget dari Tokyo. Nah, penonton diajak flashback waktu Yuta berusia 5 tahun. Yuta (5th) dan adiknya (3th) disuruh ibunya membeli bahan untuk makan malam. Yuta disuruh membeli wortel, kari, dan sayuran. Sedangkan adiknya disuruh membeli bunga 1 ikat. Ibunya memberi dompet yang berisi uang ke masing-masing anak yang dikalungkan di leher.

Petualangan Yuta dan adiknya dimulai. Mereka berdua berjalan bergandengan tangan menuju super market. Kalau adiknya lepas dari gandengan, Yuta bakal teriak-teriak. Dari arah berlawanan, mereka berpapasan dengan anak SMA. Yah, semacam bubaran sekolah gitu ya. Melihat jumlah anak SMA yang banyak (padahal ya nggak banyak banget), mereka sembunyi di bawah pohon. Lucunya, Yuta pengen melindungi adiknya. Makanya Yuta ngambil batu kecil yang dilemparin ke anak SMA tadi. Yuta tuh melemparnya lucu banget kayak ngglundungin kelereng gitu. Hahahaha, kocak deh.    

Di acara ini pasti deh ada adegan anak kecil menyeberang jalan. Mereka kalau menyeberang memperhatikan lampu merah, lalu tengok kanan-kiri sambil mengangkat salah satu tangan. Karena displin berlalu lintas di Jepang sangat tinggi, kayaknya hal ini nggak masalah ya buat mereka. Anak-anak bisa menyeberang dengan aman. 

Ketika di super market kadang kehebohan terjadi. Anak-anak kadang belanja melebihi yang dibutuhkan atau mereka malah berantem mau beli apa. Anak-anak ini hebat lho. Mereka mengambil keranjang belanja sendiri. Kalau nggak bisa ambil, mereka minta bantuan pegawai toko. Mereka ke kasir ya sendiri. Menyerahkan dompet ke kasir lalu memasukkan kembali uang kembalian.

Saat pulang inilah kadang ada drama yang bikin haru. Anak-anak yang semula berangkat tasnya ringan menjadi berat karena berisi barang belanjaan. Tak jarang mereka ada yang kecapekan dan istirahat berkali-kali di jalan. Kalau saking beratnya, mereka biasanya menyeret tas belanja. Tentu saja hal ini bikin tas tersebut rusak dan barang belanjaan ada yang rusak atau sobek. 

Nah, Yuta ini membawa belanjaan sendiri karena adiknya juga sibuk membawa bunga. Bawaan mereka cukup berat tapi dengan penuh semangat mereka pengen segera pulang. Eh namanya anak kecil, ketika melihat temannya main mereka pun ikut. Yuta dan adiknya nggak langsung pulang. Mereka bermain dulu ke bukit bersama teman-temannya. Setelah itu, mereka mampir ke toko cuma untuk main ayunan. Yuta dan adiknya gantian mengayun. So sweet banget deh adegan ini. 

Singkat cerita, mereka sudah sampai rumah. Si ibu sudah menunggu dari tadi dengan agak cemas karena mereka belanja selama 2 jam, hahahaha. Ibunya terharu ketika melihat Yuta dan adiknya bisa belanja sendiri dengan baik. Eh, tapi ketika dicek kok dompet adiknya nggak ada. Ke mana ya dompetnya?

Lalu si ibu mengajak Yuta dan adiknya napak tilas sepanjang perjalanan pulang. Mereka ngecek di sela-sela pohon dan di jalan. Kali aja jatuh di situ kan. Yuta bilang kalau tadi main ayunan dulu. Setelah dicek ternyata dompetnya ketinggalan di ayunan. 

Ibunya Yuta ingin mengajarkan kepada anak-anaknya untuk bertanggung jawab dan menghargai uang meskipun uang kembalian tersebut jumlahnya sedikit. Hebat, ya. 

Oia, melihat kisah Yuta, saya jadi ingat sama mba Weedy Koshino. Kompasianer yang menikah dengan orang Jepang dan tinggal di sana. Mba Weedy juga penulis buku Unbelievable Japan. 

Beliau juga mempraktikkan hajimete no otsukai kepada anaknya. Cerita ini ditulisnya pada hal 135. Tentu saja mba Weedy melakukan bersama keluarga, nggak ada kru teve dan kamera. 

Cerita Mba Weedy di buku Unbelievable Japan

Mba Weedy dan suami mengawasi anak mereka dari kejauhan. Biar nggak dikenali, mereka memakai masker dan kaca hitam. Gerak-gerik ini dilihatin banyak orang karena agak mencurigakan. 

Saat di super market kayaknya para pegawai banyak yang tahu kalau si anak sedang menjalankan tugas. Untungnya si anak sukses menjalankan tugas tersebut. Mba Weedy sampai menangis begitu anaknya sudah di rumah. Beliau teringat perjuangan anaknya saat istirahat dan belanja sendiri. 

Acara hajimete no otsukai bagus banget ya. Hm, saya ngayal nih. Mungkin nggak ya hal ini bisa dicontoh di Indonesia? 

Misalkan pengen nyoba kayak Mba Weedy, ya gampangnya sih nyuruh anak belanja di warung dekat rumah. Kalau misal agak jauhan kan ngeri gimana nanti nyeberangnya. Kalau mau ekstrem misal belanja di mini market sih pasti takut kalau terjadi hal-hal yang tidak diingankan pada anak tersebut. Bisa jadi, orangtua yang mengawasi anak dengan menyamar malah dianggap penculik. Hahahaha, susah ya. 

Tapi kalau ada tim dari teve sih kayaknya mereka akan bertindak profesional dan melindungi anak kecil. Jadi kira-kira ada stasiun teve yang mau nyontoh program ini nggak ya? Menurut kamu gimana?  






























  
Continue Reading…

Thursday, February 01, 2018

Sudah Nggak Ada Steny di Delta FM, Atiku Ambyar

Cerita ini mungkin agak lebay. Biarin aja ya wong ini blog milik saya, hahahaha. Terserah saya dong mau cerita kayak gimana. Kan emang blog ini isinya curhatan. Tapi kalau ada brand yang mau kerja sama di blog ini, silakan lho ya. Asal cucok, hahahaha.#ehgimana

Udahan ya intro yang nggak penting tadi.

Jadi nih kemarin pagi bisa dibilang perasaan saya agak embuhlah. Ceritanya saya kan buka IG terus ada feed dari Steny Agustaf. Btw, ada yang tahu Steny nggak sih? Kalau nggak tahu, tanya ke mbah gugel ya, hahahaha. Dia tuh cuma ngasih kabar bakal ada pengumuman penting di Delta FM, jam 9-nan. Agak penasaran sih kira-kira apa ya yang mau diomongin sama Steny. Kok kayaknya penting banget. Dan ketika baca-baca komennya, atiku ambyar mbyar mbyar.

Kaget dan shock ketika tahu kalau Steny mau resign dari Delta FM. OMG, saat itu juga saya sedih banget dan benar-benar nggak nyangka sama berita ini. 

Maklumlah, saya pendengar radio Delta FM sekitar 4 tahun lalu. Lebih intens mendengarkan Delta tepatnya saat saya ikut pak suami dinas di Jepang. Dari pagi sampai malam, ya radio Delta yang menemani saya tiap hari. Lha gimana enggak sayang sama Delta coba.

Bayangkan, kalau kamu di Jepang nggak kenal siapa-siapa di apartemen terus nonton tivi Jepang juga nggak mudeng, njuk peh ngopo? Hayo aluwung ngenet sak puase mumpung internet di sana kuenceng dan nggak mikir kuota. Jadi aktivitas saya di apartemen kebanyakan ya di depan laptop atau cuma ndengerin radio Delta biar rame. Hal ini pernah saya tulis waktu tinggal di sana. 


Btw, di postingan tersebut ada komennya Harsya Subandrio lho. Salah satu presenter tivi dan penyiar di Delta juga. Jujur, saya nggak promoin postingan tersebut di media sosial manapun. Makanya waktu dapet komen tersebut, saya seneng banget.*penting ditulis, hahaha.

Balik lagi soal Steny ya. Nah, habis baca komen-komen di IG-nya Steny, saya langsung nyalain radio. Dan bener aja, Mba Asri Welas sebagai partnernya Steny menangis selama siaran. Tapi ya dasarnya Steny, suasana yang harusnya haru malah jadi lucu ama becandaannya dia. 

Asri dan Steny merupakan duo penyiar favorit saya tiap pagi. Mereka siaran mulai jam 6 sampai jam 10 pagi di acara Asri-Steny In The Morning. Ini lebih kayak talk show tapi di radio. Di talk show ini, mereka membahas hal-hal yang berhubungan sama kehidupan sehari-hari. Mulai masalah rumah tangga, pertemanan, percintaan, sampai politik juga dibahas di sini. Asyiknya tuh, meski temanya berat tapi mereka bisa membawakan dengan santai. Mereka mampu membuat suasana pagi jadi ceria dengan suara dan tawa sutranya, hahahahaha.

Duet Asri-Steny saling melengkapi. Mba Asri yang suaranya cempreng diimbangi sama suaranya Steny yang adem. Steny bisa mengimbangi karakter Asri yang emosian atau ceplas-ceplos. Dan, Steny tuh cerdas kalau bikin guyonan. Jadi dia pintar banget kalau nyindir secara halus. Ya maklumlah, pengalaman dia sebagai public speaker udah mumpuni banget. 

Kemarin, nggak terasa saya sediiih banget denger siaran terakhir di Delta FM. Hei, kalau kamu radio mania pasti tahu kan ya gimana rasanya ditinggal sama penyiar favorit. Gimana hampanya hari-hari tanpa suaranya. Secara sebagai pendengar setia pasti merasa dekat dengan penyiar meski belum pernah ketemu. Bener kan?

Nah, itu yang kemarin saya rasain. Saya masih belum rela kalau Steny resign dari Delta. Saya juga pasti merasa aneh kalau pagi dengerin radio nggak ada suaranya. Dan saya juga pasti akan adaptasi lagi dengan penyiar baru yang menggantikan Steny. 

Kayak pagi ini aja deh. Ketika saya dengerin Delta, ternyata cuma Asri Welas aja yang siaran ditemani Jodi. Biasanya bakal denger penyiar ngomong #AsriStenyIntheMorning, pagi ini cuma denger #AsriInTheMorning doang. Ih, aneh banget. Pasti deh Mba Asri juga merasa aneh kalau ngomong kayak gini. Apalagi masih hari pertama ditinggal kan, pastinya masih kangen sama Steny. 

Sebagai pendengar setia, kebahagiaan apa yang kamu rasain selain menang kuis di radio? Yak betul, pastinya ketemu penyiar kesayangan.

Eh btw, alhamdulillah saya dan pak suami pernah ketemu Asri dan Steny. Ceritanya, bulan Mei tahun lalu abis Mba Asri lahiran, pengen ketemu sama sobat Delta. Jadi mereka kasih 10 tiket nonton gratis. Beruntung, saya dan pak suami dapet tiketnya. Saya agak nawar nih. Jatah per orang kan cuma 1. Tapi saya minta 2, satunya buat pak suami. Lha mosok saya pergi sama pak suami ke Kemang Village tapi dia beli tiket sendiri. Yo rak lucu. Dan eman-eman duitnya kalau beli tiket sendiri. Selagi masih bisa memperjuangkan gratisan, kenapa enggak? *emaksukagratisan

Waktu nobar di Kemang Village

Oia, tim Delta lumayan banyak yang ikut. Selain Asri-Steny, juga ada Danar Gumilang, Mas Budi, dan 2 pegawainya. Asri dan Steny masing-masing membawa keluarga. 

Saya sangat terkesan dengan mereka. Orangnya rendah hati dan mau menyalami kami satu per satu dengan mengulang kata yang sama. Kayak gini nih contohnya,

"Halo, saya Danar".

Nah, kami kan denger dan tahu ya siapa namanya, misal nggak diucapin pun atau cuma salaman doang, bagi kami sih biasa ya. Tapi para penyiar ini tetap mengucapkan salam perkenalan seperti itu ke kami, satu per satu sambil salaman erat lho. Emang beda ya kalau orang yang udah jago public speaking, mereka bisa membawa diri dengan baik. Salut deh. 

Perasaan saya jangan ditanya lagi waktu ketemu sama mereka. Seneeeng banget. Penyiar yang selama ini cuma bisa didengerin suaranya di radio dan diliat di tivi akhirnya bisa bertatap muka dan ngobrol langsung. Eh, Mba Asri Welas kalau di tivi kelihatan biasa banget kan. Nah, kalau ketemu aslinya, cantik lho orangnya. 

Yang bikin saya respek banget ke mereka yaitu sikap humblenya. Mereka nggak ngerasa sok artis lho. Malah mereka ramah juga saat ada wartawan yang mau wawancara.

Terima kasih ya #AsriStenyInTheMorning udah menemani pagi saya dengan penuh tawa. Makasih, udah bikin pagi saya jadi semangat. Makasih udah nemenin saya saat masak. Dengan nggak ada Steny, semoga Mba Asri bisa dapet partner siaran yang cocok lagi. Sebagai sobat Delta, saya hanya bisa mendoakan yang terbaik dan menunggu gratisan-gratisan selanjutnya, hahaahaha.^-^.

Eh, btw kalian pernah nggak sih ngalamin kejadian kayak saya? Ati ambyar karena ditinggal mantan penyiar favorit? Hahaha. 












Continue Reading…
Powered by Blogger.

Recent Posts

    Follow Me

    Page Views

    Copyright © Pipit Widya | Powered by Blogger
    Design by Saeed Salam | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com