Monday, February 05, 2018

Belajar Hidup dari Orang Kecil

Saya suka sekali membaca buku autobiografi seorang tokoh. Pelajaran yang dapat diambil dari membaca buku tersebut tentu saja kisah inspiratif dan perjuangan si Tokoh dalam meraih kesuksesan. Namun, kadang saya berpikir. Kayaknya suatu hal yang lumrah kalau belajar hidup dari tokoh terkenal. Lalu, apa salahnya jika kita belajar hidup dari orang kecil di sekitar kita?

Orang-orang kecil yang saya maksud di sini yaitu mereka yang pendapatannya di bawah UMR. Pendapatan sih bisa dikatakan 'sedikit' tapi kan kita nggak tahu, bisa jadi di dalam yang sedikit itu justru terdapat keberkahan yang besar.*benerin jibab dulu

Saya dan pak suami sempat tertegun dengan tukang rumput langganan. Sebut saja namanya Pak Karto. Pak Karto merantau dari Wonogiri ke Jakarta dengan harapan agar kehidupannya menjadi lebih baik. Bertahun-tahun merantau akhirnya beliau bisa membangun rumah di Depok. 

Istri Pak Karto bekerja sebagai ART di perumahan elit di daerah Jakarta. Istri Pak Karto tinggal di rumah majikan dan pulang ke Depok seminggu sekali. Anak Pak Karto ada 4. Ada yang sudah menikah, bekerja, dan sekolah. Karena ibu mereka nggak tiap hari di rumah, anak-anak Pak Karto hidup mandiri.

Sehari-hari Pak Karto bekerja sebagai pemotong rumput. Mesin pemotong rumputnya sudah tua. Nggak heran kalau saat kerja, mesin tersebut kerap kali ngadat. Tapi Pak Karto sudah lihai dengan hal ini. Tanpa menunggu berjam-jam, mesin tersebut dapat digunakan lagi.

Suatu kali, kami memanggil Pak Karto untuk membersihkan rumput. Pak Karto termasuk orang yang rajin. Beliau selalu datang sebelum waktu yang ditentukan. Ah, senangnya jika bekerja sama dengan orang seperti beliau. 

Di saat sedang bekerja di rumah kami, hape Pak Karto tiba-tiba berbunyi. Hape tersebut disimpan di kantong bajunya. Jadi meskipun suaranya tidak terdengar tapi getaran saat ada panggilan masuk terasa. Pak Karto mematikan mesin sebentar lalu bercakap dengan orang yang telepon tadi.

Setelah itu Pak Karto bilang ke kami bahwa setelah dari rumah kami sebenarnya dia dapat job memotong rumput di area komplek yang lebih besar. Asumsinya, dengan luasan yang lebih besar tentu pendapatan Pak Karto lebih besar dari pendapatan di rumah kami. Tapi apa yang dilakukan oleh Pak Karto? 

Beliau menolak job tersebut, saudara-saudara. Ya, menolak job. Terkesan songong ya, Pak Karto, hahahaha. 

Saya dan pak suami yang mendengar ini juga kaget. Saya pun penasaran dan memberanikan diri bertanya alasan menolak job tersebut.

Pak Karto dengan santai bilang kalau dalam sehari, dia bekerja cukup di 1 tempat saja. Rejeki berapa pun yang didapat hari itu akan selalu disyukuri. Besok nyari rejeki lagi. 

Wow, matematika saya nggak masuk nih. Maklumlah pikiran udah terlalu njlimet jadi kadang saya nggak bisa berpikir sederhana seperti Pak Karto. Kalau pikiran saya, semakin banyak job berarti makin banyak pula pendapatan. Kalau ada sisa di hari itu, bisa ditabung kan ya. Tetapi ternyata matematika saya nggak berlaku untuk kehidupan Pak Karto. Beliau ingin bekerja dan istirahat secara seimbang. Kalau bekerja terus memang nggak ada habisnya. Toh, syukuri dan nikmati saja pemberian rejeki di hari itu.

See? Sebegitu simpelnya ya pemikiran beliau. Mungkin bukan hanya Pak Karto saja yang seperti itu. Masih banyak orang-orang kecil di luar sana yang percaya dan yakin akan rejekinya Tuhan. Mereka masih bisa hidup dan bertahan di tengah kerasnya kehidupan di kota besar. Mereka masih bisa bersyukur atas nikmat dan rejeki yang datang tiap hari meski hanya cukup untuk makan di hari itu saja. 

Ah, saya jadi malu sama mereka. Memang ya, matematika manusia beda sama matematikanya Tuhan. Kita hanya perlu bersyukur dan berusaha, insya Allah rejeki akan datang. Ya, saya perlu banyak belajar tentang hidup dari orang-orang seperti mereka.

*Tulisan ini sekaligus buat self reminder untuk diri saya sendiri.

2 comments:

  1. Salut buat pa Karto dengan keyakinanya bahwa rezeki sudah ada yang mengatur dan kalimat matematika manusia beda dengan matematika Tuhan itu super sekali

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, saya juga salut waktu dengernya. Nggak nyangka aja.

      Delete

Powered by Blogger.

Recent Posts

    Follow Me

    Page Views

    Copyright © Pipit Widya | Powered by Blogger
    Design by Saeed Salam | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com