Tuesday, March 13, 2018

Saat Bule Kebanjiran

Kali ini saya mau ngomongin soal bule lagi nih. Bukan tentang yang aneh-aneh sih. Cuma tentang perilaku mereka yang bikin saya takjub yaitu saat bule kebanjiran.

Jadi ini cerita tentang temannya pak suami. Matur nuwun, pak, sharingnya selama ini. Bisa untuk bahan postingan blog, nih. Hahaha.


Sekitar setahun lalu pak suami ngerjain proyek dan berkantor di BSD. Sebagian timnya berisi orang asing, salah satunya bule dari Italia.

Ceritanya waktu itu sempet ada berita daerah Kemang dilanda banjir besar. Nah, si bule ini jadi salah satu korbannya. Sebut saja namanya Inzaghi. Hahaha, soalnya ini nama pemain bola favorit saya waktu itu. Cakep soalnya. Receh banget kan alasannya.

Pixabay

Kalau nggak salah, kejadiannya saat weekend. Inzaghi lagi naik taksi ke arah Kemang. Tahu-tahu hujan turun deres banget sampai daerah Kemang banjir. Parahnya lagi, taksi yang ditumpangi Inzaghi kemasukan air. Ih, kebayang dong gimana kotornya.

Nah, si Inzaghi minta diturunkan di mall. Sontak aja, semua mata tertuju padanya (kayak iklan apa sih ini) karena Inzaghi basah kuyup masuk mall.

Yang dilakukan Inzaghi di mall yaitu beli baju baru sampai daleman. Yah, namanya juga kebanjiran pasti kan nggak mau kalau tubuh kotor.

Waktu pak suami dan teman-temannya diceritain ini tentu aja kasihan. Niat mau hang out malah kebanjiran. Belum lagi diliatin orang di mall.

Tapi nih ada cerita yang bikin mereka takjub ama si Inzaghi. Habis kebanjiran, besoknya Inzaghi langsung ke rumah sakit buat medical check up sampai rontgen.

Iyes, dia melakukan itu semua. Nggak peduli berapa uang yang keluar, yang penting dia aman dari penyakit.

Wow, orang Indonesia yang mendengar ini tentu saja takjub. Gila ya, orang luar peduli banget kalau menyangkut kesehatan. Proteksinya tinggi sekali. Wong cuma kebanjiran sampai minta rontgen ckckck. Ya wajar sih karena standar hidup orang luar lebih tinggi karena mereka hidup di negara yang ekonominya lebih mapan dibanding Indonesia.

Tapi kalau sampai rontgen, ini nih yang nggak kepikiran sama saya. Wong dulu hampir tiap hari saya pernah mengalami rob. Belum lagi banjir saat hujan. Tapi ya nggak pernah melakukan MCU kayak Inzaghi sih. Apalagi rontgen. Mungkin karena udah biasa kebanjiran kali ya. Atau malah sayang ngeluarin uangnya. Kayaknya dua-duanya sih, hahahahaha.

Udah segini dulu ceritanya. Hm, kamu kalau kebanjiran bakal ngelakuin hal yang sama kayak Inzaghi nggak?


Continue Reading…

Monday, March 12, 2018

Orang Asing Sama Dengan Kita

Beberapa waktu lalu ada berita viral tentang orang asing yang kehabisan uang di Indonesia. Menariknya, di beberapa artikel linimasa menyebutkan ada polisi yang membantu mencarikan tumpangan gratis. Bahkan artikel di sini menyebutkan kalau ada hotel yang menggratiskan biaya menginap. Nggak hanya itu saja, orang asing tersebut juga diberi oleh-oleh secara gratis. Kenapa ini bisa terjadi? Kok kayaknya orang Indonesia segitunya banget ya sama orang asing. Padahal orang asing itu sama dengan kita, lho. 

Saya yang membaca berbagai berita tersebut beneran takjub dengan kebaikan orang Indonesia. Emang sih membantu sesama itu baik, terlebih yang dibantu adalah orang yang sedang kesusahan. Tetapi ini terjadi pada bule atau orang asing. Hhmm, kalau hal ini terjadi pada turis lokal, apakah masyarakat juga akan sebaik itu?

Misal keadaan dibalik, kalau ada turis Indonesia kehabisan ongkos di luar negeri apakah akan diperlakukan sama dengan turis asing yang kehabisan ongkos tersebut? 

Kayaknya orang luar akan bertindak seperti orang Indonesia, kemungkinannya kecil sekali. Yah, aturan di luar negeri sangat ketat, terutama di bagian imigrasi. Untuk masuk ke negara orang, butuh dokumen ini itu dan persyaratan yang lumayan rinci.

Stereotip masyarakat kita terhadap orang asing sangat berlebihan terutama pada bule. Dulu sih kalau sekolah ngadain darma wisata (jadul amat yak istilahnya) ke Borobudur atau ke Bali dan ketemu bule, yakin deh langsung pada rebutan minta foto. Padahal bule tersebut bukan artis atau orang terkenal. Dan, bule tersebut juga belum tentu nyaman diajak foto bareng lho. Hayoo, siapa yang pernah ngelakuin ini? Hahahaha, masa lalu banget ya.

Orang asing sangat menghargai privasi. Kalau kehidupan mereka terganggu atau nggak nyaman, biasanya mereka akan menolak dengan keras. 

Untuk kasus foto bareng, mungkin mereka nggak bisa menolak karena yang minta banyak, hahahaha. Padahal ini mungkin kali pertama bagi bule tersebut diajak foto bak selebriti. Yah, merasakan jadi artis sebentar di Indonesia, ya nggak? Hahahaha.

Eh, tapi kenapa ya yang sering diajak foto bareng saat piknik yaitu turis yang bule. Maksudnya, mereka yang berkulit putih dan berambut pirang. Tipe umum ras kaukasoid gitulah. 

Kalau misalnya ada turis yang rasnya mongoloid atau bahkan negroid, apakah mereka juga sering diajak foto? Hhmm, kalian pasti tahu jawabannya.

Emang ya stereotip orang Indonesia terhadap bule atau ras kaukasoid nggak bisa lepas dari masa lalu. Di mata orang Indonesia, bule adalah orang yang makmur, kaya, dan seneng banget kalau bisa ketemu mereka. Hal ini nggak bisa disalahkan, sih. 

Mungkin saja pengaruh dari bangsa kita yang dijajah 3,5 abad oleh Belanda. Rakyat kita diperlakukan sebagai budak untuk melayani para penjajah. Kita dianggap sebagai orang yang miskin. Praktik kolonialisme inilah yang mengakar pada pikiran orang Indonesia untuk memperlakukan para bule dengan berlebihan. 

Padahal kita semua sama derajatnya, hanya warna kulitnya saja yang berbeda. Bahkan beberapa turis yang sedang di Indonesia nggak semuanya hidup berkecukupan. 

Misalnya saja turis Australia yang liburan ke Bali. Kebanyakan sih mereka pengangguran di sana dan hidupnya dibiayai negara. Nah, sisa uang tersebut ditabung dan buat liburan ke Indonesia. Maklumlah, biaya hidup di Indonesia terbilang murah bagi mereka.

Dari Pinterest

Sebenarnya perlakuan istimewa untuk orang asing bukan terjadi di dunia traveling saja. Di dunia perkantoran pun hal ini juga sama. Saya mau cerita pengalaman di kantor pak suami.

Kantor pak suami sahamnya terdiri dari Indonesia dan Jepang. Meski demikian, kepemilikan saham terbesar ada di tangan Indonesia. Harusnya, orang Indonesia dong, yang diperlakukan istimewa. 

Kenyataannya?

Jadi, ketika ada orang Jepang yang dinas di Indonesia, mereka akan difasilitasi secara wah. Misalnya, apartemen elit di pusat kota. Bahkan orang Jepang tersebut diberi mobil beserta sopirnya. Kalau cuma staf biasa, semobil berisi 2 orang Jepang. Kalau levelnya agak tinggi, biasanya mobil dan sopir khusus untuk satu orang. 

Padahal nih, orang Jepang tersebut di negeri asalnya belum tentu punya sopir. Boro-boro sopir, mobil aja juga belum tentu punya. Karena aturan yang ketat soal mobil dan printilannya kayak kepemilikan SIM, dll. Belum lagi biaya parkir yang mahal. 

Tapi hal ini nggak berlaku saat pak suami dinas di Jepang. 

Sumpah, perlakuannya bedaaa banget kalau dibandingin sama mereka, dengan level yang sama. 

Pak suami di Jepang ya kudu mandiri. Apartemen gratis sih tapi letaknya nggak dekat kantor, agak pinggiran. Kalau dekat kantor dengan jarak 2 stasiun JR, apartemennya sempit banget dan agak kuno. Kalau di pinggiran kota, apartemennya agak bagus dan lebih luas. Saya dan pak suami pernah merasakan ini semua baik tinggal di dekat kantor ataupun agak jauhan, hahahaha.

Nah, untuk transport, pak suami nggak dapat mobil. Ya iyalah, siapa juga suami gue, ya kan? Secara, bos di Jepang aja tiap hari ngantornya naik kereta. Masak yang cuma karyawan biasa mau dapat fasilitas lebih. Apa kata orang Jepang? Hahahahaha.

Pak suami mendapat perintah detail via email tentang apa yang harus dilakukan di hari pertama masuk kerja. Emailnya biasanya nyuruh bawa dokumen apa saja ke kantor dan berangkat pertama kali sama siapa. Jadi nih, waktu pertama kali masuk kerja, pak suami diajak bareng ama teman sekantornya yang tinggal di apartemen yang sama. 

Nah, cuma itu doang. Hari pertama ngantor berangkat sama teman biar tahu naik kereta apa dan turun di mana. Pas pulang kantor ya pak suami pulang sendiri. Masak iya mau ngajak bareng teman. Ish, ini Jepang, apa-apa kudu mandiri.

Beda banget kan perlakuannya? 

Yah, mungkin kalau sistem transportasi kita oke dan layak, orang asing nggak takut naik transportasi umum. Mereka akan berperilaku sama kayak tinggal di Jepang. 

Tapi ya nggak segitunya sih dengan ngasih fasilitas yang wah, kayak mobil plus sopir.*lah curcol, hahahaha.

Kalau apartemen, mungkin saja standar apartemen di Sudirman atau Thamrin bukan sesuatu yang mewah bagi mereka. Yah, standar hidup mereka kan juga tinggi. 

Jadi, kesimpulan postingan ini apa? Ya, kalau ketemu orang asing, biasa aja. Nggak usah berlebihan sama mereka. Ntar mereka malah Ge-er, hahahaha. Orang asing sama dengan kita, kok.

Kalian pernah melihat atau mengalami perlakuan yang hampir mirip nggak? 


Continue Reading…
Powered by Blogger.

Recent Posts

    Follow Me

    Page Views

    Copyright © Pipit Widya | Powered by Blogger
    Design by Saeed Salam | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com