Akankah Berakhir?

Aku memacu mobilku dengan cepat supaya lekas sampai ke tempat tujuan. Aku hanya ingin meluapkan emosi yang sudah tak tahan kubendung.

Namun jalanan yang ramai saat orang-orang pulang kantor membuatku harus menurunkan ego. Tuhan tahu cara meredam emosiku sesaat.

Aku menyetir pelan bahkan aku hanya menginjak rem supaya tetap berada di jarak aman dengan kendaraan yang ada di depan.

Barisan motor di samping kiri dan di depan mobil mengalihkan perhatianku. Kupandangi wajah-wajah letih mereka. Ada yang santai namun banyak yang tidak sabar sampai mereka membunyikan klakson berkali-kali.

Huh, akhirnya aku sampai juga di kafe. Perjalanan yang biasanya memakan waktu 30 menit dari kantor, tadi harus kutempuh selama satu jam.

Alunan musik romantis dengan suara saxophone menyambutku. Aku segera duduk di bangku kenangan. Bangku pojok yang berada di dekat jendela. Bangku yang mengingatkanku tentang dirimu.

Segelas es lemon tea dan mango cheesecake menjadi temanku malam itu. Aku mengeluarkan undangan darimu. Pelan-pelan kubaca satu per satu kalimat dan tulisan yang ada di situ. Lagi dan lagi.

Aku tak percaya. Robertus Eki Silalahi akan menikah seminggu lagi.



Air mataku tumpah di kafe ini, di bangku kenangan ini. Bangku yang sama saat kamu melamarku di hari ulang tahunku.

"Happy birthday, Sayang," ucapmu sambil mengeluarkan kotak dari saku celana.

"Apaan sih, Hon? Kok kayaknya romantis banget. Jarang-jarang, lho, kamu kayak gini," jawabku heran.

Kamu hanya tersenyum dan bibirmu bergerak membentuk kata 'I love you'. Lalu kamu memakaikan cincin di jari manisku.

Air mataku semakin deras mengingat itu. Aku hanya bisa menatap keluar jendela supaya tidak orang yang tahu kalau aku menangis sesenggukan.

Memori demi memori terus teringat. Bahkan pertengkaran-pertengkaran yang tidak bisa kita atasi semakin membuatku sakit.

Dari awal, kamu dan aku tahu bahwa hubungan kita terhalang tembok yang besar. Kita berbeda budaya. Bahkan Tuhan-ku dan Tuhan-mu juga lelah menjaga hubungan kita.

Apakah ini artinya cinta tak harus memiliki?

Aku hanya diam di kafe ini. Melamun dan memandang orang-orang di luar jendela. Bahkan aku tak menghiraukan lagu cinta yang dibawakan oleh band kafe.

Apa aku bisa sekuat orang-orang di luar sana? Kembali berjalan tegak dan tak lagi melihat ke belakang untuk mengingatmu.

Lamunanku buyar saat pelayan kafe menawari segelas air putih. Aku menolak dengan halus lalu pulang meninggalkan bangku kenangan.

Kunyalakan mesin mobil dan kucari frekuensi radio favoritku. Sialan. Lagunya Raisa, Mantan Terindah.

Mau dikatakan apalagi
Kita tak akan pernah satu
Engkau di sana
Aku di sini
Meski hatiku memilihmu

Yang tlah kau buat begitu indah
Buat diriku susah lupa*

Aku mengingatmu lagi dan kenangan di mobil ini. Saat kamu mengecup bibirku dengan lembut. Aku merasa hangat. Setelahnya kita berdua hanya tertawa.

Sepertinya aku kehilangan kendali. Mobilku oleng dan tiba-tiba terdengar bunyi

Braaakkk!!

Aku terbangun dari tidur ketika handphoneku berbunyi. Sebuah pesan dari Eki.

"Sayang, besok kita ke kafe, yuk. Aku mau ngomong penting."

Apakah ini semua akan berakhir?

***

PS:

Teman-teman mumet nggak sih baca cerita ini? Mohon masukannya supaya saya bisa memperbaiki di cerita-cerita selanjutnya. Terima kasih, ya.🤗

* Lirik lagu Mantan Terindah


18 comments

  1. Mungkin kata "aku"nya tidak perlu ada pengulangan dalam satu paragraf mba.

    Misal :

    Diawal kalimat :

    Aku memacu mobilku dengan cepat supaya lekas sampai ke tempat tujuan. Aku hanya ingin meluapkan emosi yang sudah tak tahan kubendung.

    Bisa diganti dengan :

    Demi memuaskan emosi yang sudah tak terbendung, kupacu mobilku lebih cepat agar segera sampai di tujuan.

    Saya juga agak bingung dengan kata "pacu" karena biasanya di pakai sebelum kata kuda, kalau untuk mobil mungkin "mengendarai" (meskipun rasanya masih kurang sepadan juga dengan kalimat di paragrafnya). Mungkin bisa dengan "kupercepat laju mobilku agar segera sampai di tujuan." Kalo ingin lebih ditekan bisa digunakan kata meluncur atau melesat, tinggal disesuaikan dengan kalimatnya. IMO, sih 😅😂 (Semoga gak menyesatkan.)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mba Riniiii, makasih banyak masukannya. Iya, bener banget.

      Saya nulis ini berasa kayak dikejar deadline. Nulisnya malem dan kurang dibaca lagi jadi seadanya. Kayak Bandung Bondowoso dah, hahahaa. Makanya pas udah jadi berasa aneh dan nanya ke teman2.😁

      Delete
    2. Oh mbak Rini teliti juga ya, sarannya juga bagus.

      Mbak Rini kasih kritik buat cerpenku dong.😂

      Delete
    3. Komen saya di blog Mas Agus itu, sebenernya kritikan semua isinya Mas 😂🤣

      Delete
    4. @Mas Agus: nah, ternyata oh ternyata 😂

      @Mba Rini: kritik tanda sayang ya, Mba.😉

      Delete
  2. Mau kasih saran apa ya... Kalau menurut saya sih kurang panjang aja. Itu tadi ceritanya dia ternyata cuma mimpi kan...
    Saya juga masih belajar mbk. Tapi biasanya kita bakal lebih pintar menulis kalau lebih sering membaca. Saya dulu hobi banget baca buku, sampai bisa nyelesain novel sendiri tapi saya simpen. Hobi baca cerpen, pas nulis cerpen juga jadi enak. Atau sambil mendengarkan musik.
    Semangat terus mbk...💪😊

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, saya masih belum bisa nulis fiksi yang panjang kayak Mba Astria. Ini aja udah ngos-ngosan, hahaha. Pelan2 deh mba saya akan belajar.

      Nah, itu dia, Mba. Sejak saya belajar nulis fiksi, tiap baca novel atau cerpen malah jadi mikir soal penokohannya, alurnya, dll. Kok bisa ya penulis punya ide gini dan gitu, jadi malah kebanyakan mikir. Lama nyelesainnya.

      Btw, makasih banyak ya, Mba, sarannya.😍

      Delete
  3. Woaaah apa inihhh? 😍

    Saya nggak bisa kasih komentar kalau soal kepenulisan mba karena saya nggak jago 🙈 tapi dari segi pembaca, saya suka tulisan di atas dan twist-nya. Karena saya sendiri bahkan nggak sangka kalau ending-nya itu cuma mimpi 😆 saya kira betulan terima undangan. Huhu. Terus jadi ikut kepikiran bagaimana perasaan cewek itu waktu baca pesan 🙈

    Overall, syyuuukkkaaakkk! 😍❤

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ini adalah pikiran absurd, Mba, hahaha.

      Ceritanya sih saya lagi belajar bikin plot twist, Mba Eno.😂 Jadinya malah kayak gini, berasa aneh aja, hahaha. Masih banyak yang harus saya pelajari. Btw, makasih, Mba Eno.😘

      Delete
  4. Bukan penulis cerpen saya mah.. nggak tahu harus ngasih komentar apa.

    Cuma, agak bingung saat di kafe, peralihan antara dunia nyata dan khayalan masa lalu bercampur, jadi pertama kali baca sih, nggak begitu ngeh. Baru kedua kalinya, setelah diperhatiin ada "flasback" nya yang nyampur..

    Maaf kalau salah, dari sisi pembaca saja.. Bukan penulis

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha, bener Pak Anton, cerita kali ini agak berasa aneh, makanya saya kasih pesan di akhir tulisan.

      Terima kasih masukannya, Pak.😊

      Delete
  5. Saya tidak pandai menulis cerpen jadi yahhh tak ada saran dari saya, hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tidak apa2, Bang Ancis. Terima kasih sudah berkunjung di sini.😊

      Delete
  6. Menurutku sudah bagus sih, plot twist nya juga lumayan bagus. Untuk saran mungkin sama seperti mbak Rini.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waduh, saya malu nih dikomen Mas Agus.🙈 Masih banyak yang harus saya pelajari, Mas. Ini kayaknya kurang tertata dengan baik.

      Terima kasih, Mas Agus untuk sarannya.🤗

      Delete
  7. Wah gaswat jadi si eki pas kasi pesan pas si aku baru bangun dari mimpi buruk, apa bentar lagi mau mutus dan kasi undangan,
    Terus si aku tak beberapa lama kemudian bakal ke kafe kyk yg dalam mimpinya en then nangis pulangnya nyetel raisa trus kecelakaan
    Jadi semacam dejavu gitu ya mba pit...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah, you know me so well.*nyanyi Smash 😄

      Iya iya iya itu yang ada di pikiranku saat bikin cerita ini. Mereka pacaran lama tapi beda suku dan agama. Dijalani dengan baik tapi ujungnya belum tahu bakal bisa bersama apa enggak. Itu masalah dasarnya.

      Makasih, Nita, untuk analisanya.😊

      Delete