Friday, January 09, 2015

Tak Semua Orang Suka Beras Merah

Saya dan suami mencoba mengganti konsumsi beras putih ke beras merah. Kebiasaan ini sudah berlangsung sejak bulan puasa lalu. Alasannya karena ingin sehat aja mengingat begitu banyaknya informasi mengenai manfaat beras merah.

Mengubah kebiasaan tersebut tidak terlalu sulit bagi kami berdua. Karena apa? Kami orangnya kalau makan ya makan aja, jarang pilah-pilih makanan. Sewaktu saya memasak beras merah untuk pertama kali, gagal karena terlalu lembek. Saya membaca beberapa cara memasak beras merah yang katanya airnya harus lebih banyak dibanding memasak beras putih. Hasilnya, malah menjadi seperti bubur plus magic com kotor semua hihihi. Setelah beberapa kali mencoba akhirnya saya menemukan takaran yang pas. 

Mencoba makan beras merah dicampur sayur waktu itu rasanya aneh, malah terasa hambar di lidah. Tapi  karena terbiasa, lama-lama rasanya jadi biasa, dibikin enak aja hihihi. Kalau sekarang kebalikannya, sewaktu makan nasi putih malah rasanya manis, padahal dulu sewaktu masih mengonsumsi ini perasaan biasa aja rasanya hihihi.  

Nah, beberapa minggu lalu keluarga saya datang ke rumah. Namanya tuan rumah, pasti agak repot sedikit ya menyiapkan ini-itunya. Tapi, tetep ya, saya hanya menyediakan beras merah di rumah. Saya pikir, pasti semua orang akan suka beras merah jika mengingat manfaatnya bagi kesehatan *halah.

Eh, ternyata saya salah besar! Saat makan siang, beberapa tamu dan saudara saya malah tidak suka beras merah. Awalnya saya sempat mikir aneh, kenapa kok mereka tidak suka. Antara aneh dan dongkol sih, sudah dimasakin, eh malah nggak dimakan. Hhhhmm kalau mereka tahu segambreng manfaatnya, apa mereka masih enggan beralih ya? 

Ada beberapa hal yang menjadikan mereka kurang menyukai beras merah. Mereka tidak suka karena rasa beras merah hambar, teksturnya keras dan aromanya yang tidak seharum beras putih. Rendahnya kandungan karbohidrat pada beras merah membuat rasanya memang sedikit hambar dibanding beras putih. Alasan inilah yang disarankan kepada penderita diabetes agar beralih mengonsumsi beras merah. 


Sedangkan untuk teksturnya, sebenarnya nggak keras, asal dimasak dengan takaran yang pas. Sekarang saya kalau masak beras merah alhamdulillah empuk. Resepnya cuma diberi air lebih banyak dibanding saat masak beras putih dengan takaran beras yang sama. Kalau masalah aroma, beras merah memang tidak ada aromanya seperti beras putih. Kurang tahu deh, kenapa. Saya kalau masak beras, biasanya diberi perasan air jeruk nipis, biar aromanya agak wangi aja. Mungkin suatu saat nanti akan ada versi beras merah pandan wangi atau beras merah raja lele, yang aromanya bisa sewangi beras putih hihihi.

Kalau disuruh memilih, saya lebih suka mengonsumsi beras merah karena irit. Perbandingan kalau masak beras putih biasanya 2 gelas untuk porsi 2 orang sehari. Nah, kalau masak beras merah cuma butuh 1,5 gelas sehari dengan porsi sama. Lumayan irit kan? Sedangkan kalau nasinya sisa warnanya tidak kekuningan seperti sisa nasi putih *ya iyalah kan warnanya merah. Maklumlah, sejak menjadi IRT, saya memang penganut aliran irit tapi tak medit (pelit) hihihi. 

Semoga semakin banyak orang yang suka mengonsumsi beras merah. Kan kalau semakin banyak permintaan, para petani juga banyak yang menanam beras merah. Jadi gampang carinya di pasar atau di agen beras dan siapa tahu harganya bisa lebih murah ^_^


14 comments:

  1. Rasanya gimana, Mbak? Enak? Aku uda lama kali loh ngga makan nasi merah. :D

    ReplyDelete
  2. tenang aja mbak, aku suka banget ama beras merah buat dietku agar berhasil...hehehe

    ReplyDelete
  3. Bener banget Mbak, irit dan sehat! Saya suka beras merah, apalagi kalau ketemunya yang agak pulen. Cuma jarang... Hidup beras meraahh!! :)

    ReplyDelete
  4. saya pun belum pernah merasakan beras merah mbak :D salam kenal

    ReplyDelete
  5. Nah itu alasan orang rumah nggak mau mak. Kalau cuma masak untuk diriku sendiri boros jadinya masak 2x. Mau nyoba cara diatas ah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mak, kalo dibiasain nanti lama-lama biasa.

      Delete
  6. mbak, coba waktu nanak nasinya dikasih segenggan ikan teri. lbh kaya akan kalsium :)

    ReplyDelete

Powered by Blogger.

Recent Posts

    Blog Archive

    Follow Me

    Page Views

    Copyright © Pipit Widya | Powered by Blogger
    Design by Saeed Salam | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com