Featured Slider

Kurir Jalan Kaki di Jepang

Saya suka banget mengamati orang. Nggak yang kepo atau gimana, ya. Suka aja mengamati hal-hal kecil yang ada di sekitar. Apalagi mengamati hal-hal yang jarang atau belum pernah saya jumpai.

Sebetulnya melihat kehidupan di Jepang tuh asyik banget karena budaya mereka yang beda dengan Indonesia. Oke, saya nggak akan membandingkan karena masing-masing punya keunikan sendiri.

Kehidupan di Jepang pun nggak selalu yang enak-enak aja, kok. Ada juga yang bikin melas. Di mana-mana pasti ada enak dan nggak enaknya, kan?

Kali ini saya mau cerita tentang kurir jalan kaki aja ya. Apalah ini bahasanya, hahaha.

Mobil dan Garasi

Lama banget nggak nulis tentang Depok. Kangen juga sama kota ini meski macet di mana-mana, hahaha. Bagaimana pun Depok adalah rumah kedua saya. Karena keluarga kecil saya tinggal di kota ini.

Saya tertarik menulis tentang mobil dan garasi karena beberapa hari lalu baca berita di portal online yang menyebutkan bahwa Pemkot Depok akan mengeluarkan Perda tentang hal ini. Inti dari Perda tersebut adalah kalau punya mobil ya harus punya garasi.

Sebegitu pentingkah aturan punya garasi ini sehingga sampai dibuatkan Perda?

Pengalaman Mengurus Tunjangan Anak di Jepang

Jadi gini, pak suami kan dinas di Jepang statusnya single bukan family status. Artinya, dapat apartemen untuk single jadi tampak mungil saat ketambahan saya dan sinok. Selain itu, jika ada keluarga yang datang ke Jepang, tiket pesawat ditanggung sendiri. Pihak kantor hanya memfasilitasi pembuatan surat menyurat yang diperlukan.

Kalau dipikir dengan statusnya yang bukan family, saya dan sinok nggak dapat apa-apa kan ya. Kenyataannya malah saya dan sinok mendapat hak layaknya warga Jepang. Alhamdulillah pemerintah Jepang baiiikkk banget. Saya dan sinok dimudahkan segala urusan selama tinggal di sini.


Kabar baiknya lagi, saya nggak nyangka kalau sinok malah dapat tunjangan anak selama hidup di Jepang. Yes, TUNJANGAN ANAK TIAP BULAN. Alhamdulillah, sesuatu banget kan. Mamak langsung semangat untuk hidup di Jepang, hahaha.

Panik Saat Gempa? No Way!


Kemarin saat leyeh-leyeh, saya merasakan gempa yang lumayan kencang. Perabotan dapur pada goyang. Apartemen yang saya tempati bergoyang. Kejadian ini lumayan lama. Yang terpikir saat itu adalah sinok.

Saya segera lari menuju tempat tidurnya dan memastikan barang-barang yang ada di dekatnya aman, nggak jatuh menimpa sinok.

Bila terjadi gempa di Jepang, saya seringnya diam di apartemen. Merapal doa sebisanya dan berusaha tetap tenang. Selain itu, saya biasanya nengok keluar apartemen, melihat reaksi tetangga apartemen sebelah gimana. Tapi kemarin saya cuma diam aja menunggu sinok yang tertidur lelap.

Hm, emang sih di Jepang sering banget terjadi gempa. Dulu pas dinas pertama, pernah juga ngalami gempa yang cukup kencang. Kata tetangga sebelah, orang-orang India pada keluar apartemen saking takutnya.

Hati-hati Jajan Sembarangan

Akhir tahun 2017 saya dan pak suami jalan-jalan ke Bandung. Tujuan ke Bandung mau silaturahmi dengan keluarga besar saya yang ada di sana. Selain itu, saya dan pak suami pengen menikmati malam pergantian tahun di kota Bandung.

Saya dan pak suami menginap semalam di Air BnB yang lokasinya dekat dengan Gedung Sate. Jarak dari penginapan ke Gedung Sate nggak jauh. Cukup jalan kaki sekitar 10 menit aja. Jadi kami memutuskan melihat pesta kembang api di Gedung Sate.

Selama menuju ke Gedung Sate, banyak sekali pedagang yang berjualan. Mereka tak henti-hentinya menawarkan dagangan. Ada nasi ayam, sosis bakar, mie instant, dll. Saya cuma lirik-lirik aja. Nggak beli karena udah kenyang dan nggak niat jajan.

Tahu sendiri kan kalau malam tahun baru ramenya kayak apa. Jalanan macet karena orang-orang mau tahun baruan. Saya aja ngeri kalau jalan di keramaian gitu. Kalau misal terjadi hal-hal yang nggak diinginkan, cara kaburnya gimana? Jalanan sampai macet cet nggak gerak sama sekali.