22 comments
Entah ini kunjungan yang berapa kali saya berobat ke Sukimin Taryono. Saya pertama kali ke Sukimin tahun 2015 dan pernah saya ceritakan di sini. Terus kunjungan terakhir pada awal Maret 2016 lalu. Saya menulis ini karena ada beberapa email yang masuk menanyakan ikhitar hamil ke Sukimin Taryono. Sebagian besar dari mereka menanyakan apakah saya sudah hamil atau belum. 

Oke, saya cerita dulu ya. 

Jadwal mens saya itu nggak teratur. Jadwal mens tersebut pada bulan Januari (tgl 23) dan Februari (tgl 28). Karena bulan Februari dapat pas akhir bulan maka awal bulan Maret saya ke Sukimin Taryono. Sebenarnya sih yang ngajakin berobat ke sana pak suami. Saya nurut aja. 

Awal Maret saya dan pak suami ke Sukimin Taryono. Seperti biasa, kaki saya dipijat karena saat itu masih hari ke-3 mens. Sedangkan pak suami karena nggak ada keluhan apa-apa, boleh dipijat atau enggak. Saat itu pak suami minta dipijat karena sudah jauh-jauh ke sana dan pengin lebih rileks aja, hahahaha. 

Setelah dipijat, saya ditawari beli ramuan kayak jamu gitu. Ramuannya terdiri dari rempah-rempah yang siap direbus. 

Awalnya saya ditawari yang harganya 700ribu. Maaf, harga segitu dapat berapa bungkus, saya lupa. Kayaknya untuk 7 hari minum, deh. Eh, ternyata saya pernah beli jamu yang 700ribuan itu. Pernah saya ceritakan di sini juga. Nah, yang harga segitu minumnya disuruh pakai air rebusan paha ayam. Oia, fyi, saat ini saya jarang makan ayam di bagian paha. Kalau beli ayam seringnya bagian dada tanpa sayap dan kulitnya minta dibuang. Tapi kalau makan di mekdi atau kaefci sih anteng aja makan ayam setulang-tulang dan sekulit-kulitnya, hahahahaha. Nggak papa lah, saya jarang banget kok makan di situ. Paling setahun sekali *serius lho ini.  

Daripada saya ribet beli paha ayam, saya nanya ke Sukimin apakah ada jamu yang nggak pakai rebusan paha ayam. Terus saya dikasih jamu ini nih


Maaf ya Fotonya Agak Blur

Jamunya cuma 4 bungkus dan untuk pasutri. Harganya 900ribu. Iya, harga jamunya lebih mahal dari yang sebelumnya. 

Lalu di mana bedanya?


Dari perbedaan tersebut, Teman-teman jadi tahu kalau jamu yang 900ribu jumlahnya lebih sedikit jadi cuma diminum 2 hari saja. Hal ini beda sama jamu 700ribu yang harus diminum sekitar seminggu. 

#Setelah Minum Jamu, Gimana?

Hhhhmm, setelah minum jamu biasa sih. Saya sempat nggak mens pada bulan Maret. Jujur, agak deg-degan dan berharap semoga bisa hamil. Etapi pas awal April saya malah mens dan lanjut pada bulan Mei. 

Saat ini saya dan pak suami sudah berada di titik lelah. Kami hanya pasrah aja, deh. Mencoba menikmati hidup sebaik-baiknya, banyak berdoa, dan rajin berolah raga. 

Gitu aja dulu sharing saya tentang ikhtiar hamil kali ini. Sekali lagi, terima kasih buat Teman-teman yang sudah mau berbagi lewat komen di blog atau email saya. Semangat ya, Teman-teman :))






















20 comments
"Nanti pas di Singapur, kita nginepnya di red district, lho," kata pak suami. 
Saya pun membalas agak sedikit sewot, "What?? Nggak ada yang lebih enak dikit emangnya?"
"Itu udah yang paling murah dan udah fix pesen," jawab pak suami datar. Lalu saya pun pasrah. 

Sedikit percakapan antara saya dan pak suami sekitar dua tahun lalu saat kami mau jalan-jalan ke Singapura. Saya dan pak suami menginap di Fragrance Hotel Ruby tepatnya di distrik merah Singapura yaitu di kawasan Geylang.

Geylang merupakan kawasan prostitusi legal di Singapura. Iyap, prostitusi di kawasan ini dilegalkan oleh pemerintah setempat. Pekerja se*s komersial (PSK) di kawasan ini berasal dari berbagai negara seperti Malaysia, Thailand, India, Vietnam, Filipina, bahkan Indonesia. 

Kegiatan prostitusi di Geylang konon kabarnya dimulai sejak kedatangan Stamford Raffles pada tahun 1819. Daerah ini awalnya kerap didatangi pria dari berbagai negara. Raffles sadar akan potensi pelacuran di kawasan ini maka ia membiarkan Geylang menjadi pusat prostitusi. 

Meski pemerintah Singapura nggak pernah mempromosikan kawasan Geylang sebagai daerah pariwisata namun banyak wisatawan yang datang ke sini. Mereka yang sengaja datang ke sini biasanya suka dengan hiburan malam. Atau mungkin yang ingin menikmati suasana malam yang berbeda di Singapura *halah.

Etapi meski saya dan pak suami sengaja menginap di Geylang bukan berarti kami suka hiburan malam, lho *pencitraan. Boro-boro suka, melihat saja belum pernah, hahahaaha. Kami sengaja ke sini karena budget travelling yang mefet, Kakaaaak. Huahahaahaha.

Para PSK di Geylang ada yang legal dan ilegal. Mereka yang legal biasanya ada di bar dan motel berizin. Di tempat yang dilegalkan ini, para PSK diawasi secara ketat terutama kondisi kesehatannya. Pengawasan ini dilakukan untuk menghindari terjadinya penularan penyakit kelamin. Sedangkan PSK yang ilegal ada yang menjajakan sendiri atau lewat mucikari di sepanjang lorong reman-remang. 

#Kenapa Memilih Red Distirict?

Sekali lagi, karena biaya menginap di kawasan ini murah. Saya dan pak suami menginap di Fragrance Hotel Ruby (maaf tarifnya lupa). Fasilitas yang ada di hotel ini cukup bagus dan bersih. Ada wifi di lobby, kamar yang cukup untuk 2 orang. Oia di kamar ini ada TV flat, AC, dan kamar mandi dalam yang airnya bisa pilih panas atau dingin. 

Di dekat lobby juga ada toilet umum yang bersih dan cukup luas, sehingga membantu aktivitas cuci muka setelah tiba di hotel. Untuk pelancong yang budgetnya mepet seperti kami, biasanya tiba di hotel sebelum waktu check in dan kami cuma menitipkan tas lalu mbolang. Saat travelling, alokasi waktu sangat dibutuhkan supaya itinerary yang sudah dibuat dapat terlaksana. Betul, kan?

Fragrance Hotel Ruby di Geylang dekat dengan stasiun MRT Aljunied. Jarak dari stasiun ke hotel sekitar 10 menit. Dan, di dekat hotel banyak banget tempat makan yang murah meriah. Kalau saya dan pak suami langganan sarapan di tempat makan yang dekat banget sama hotel. Mirip warteg lah. Pegawainya juga ada yang dari Indonesia. Kalau nggak salah ingat, pegawainya ada yang berasal dari Surabaya. Karena sering sarapan di sini, Si Mbak sampai hapal lho dengan kami. 

#Kesan Terhadap Geylang

Sewaktu pak suami bilang kalau kami akan menginap di red district, saya sempat shock dan agak takut karena image red district bagi saya agak menyeramkan. Namun ketika saya sudah sampai di Stasiun Aljunied dan berjalan menuju hotel, hal-hal yang menyeramkan tersebut hilang. 

Saat keluar dari stasiun Aljunied, kesan pertama yang saya rasakan yaitu rame dan banyak orang India. Sambil berjalan menuju hotel, saya melihat sekeliling kawasan ini. Seperti kota tua. Pikiran saya tentang Geylang pertama kali karena gedung-gedung di kawasan ini memang sudah tua namun terawat. 

Lalu banyak tempat makan atau restoran China. Iyap, selain orang India, kawasan ini banyak juga dihuni orang China. 

Di sepanjang jalan dari Aljunied ke hotel banyak sekali lorong. Saya sendiri nggak hafal, hotel yang kami tempati ada di lorong berapa. Yang kami hafalkan saat itu hanya arah menuju stasiun terdekat saja.

Pagi Hari di Geylang

Pagi itu saya dan pak suami sampai di Stasiun Aljunied dan bergegas menuju hotel. Kami melewati lorong demi lorong. Saya berjalan penuh penasaran karena ingin ketemu para PSK di sini. Dan, saya pun tersenyum ketika melihat ada mbak-mbak amoy yang cantik berdiri di pinggir lorong. Pak suami sempat dilirik lho, dikira mau mencari jasa mereka, hahahahaha. 

Kesan saya terhadap para amoy di Geylang yaitu cantik, seksi, dan bermake-up sederhana. Seperti halnya para PSK, tubuh mereka langsing, rambut lurus, dan pakaian mereka seksi. Namun riasan yang sederhana nggak mengurangi kecantikan mereka. Sebagian dari mereka ada yang sudah mangkal sejak pagi. Yah, namanya juga red district, kan?

#Geylang di Malam Hari

Nah, ini dia yang saya tunggu. Melihat Geylang di malam hari. Kenapa saya penasaran? Karena ini red district yang pasti akan rame kalau malam sudah tiba. Saya hanya penasaran dengan suasana di sini. Saya hanya ingin menikmati suasana yang berbeda selama di Singapura.

Setelah city sight seeing di Singapura dari pagi sampai malam, saya antusias ketika langkah kaki keluar dari stasiun Aljunied. Suasana malam di luar stasiun rame sekali. Kebetulan, di dekat stasiun ada acara yang banyak didatangi orang India. Saya nggak tahu acara tersebut. Selain hiruk pikuk nya acara tersebut, di luar stasiun ada juga pedagang yang menjual buah dan aneka dagangan. Ah, hampir mirip dengan Indonesia.  

Langkah kaki melambat karena saya benar-benar ingin menikmati suasana malam di Geylang. Di berbagai resto yang saya lewati, banyak banget orang kumpul dan tertawa terbahak-bahak. Sebagian besar dari mereka beretnis China. Mereka makan sambil menghabiskan waktu dengan ngobrol. Di dekat mereka juga ada gadis-gadis yang seksi. Saya hanya melirik dan melihat sekeliling.

Geliat Geylang di malam hari lebih rame dibanding pagi atau siang. Meski malam, ada juga toko sayur yang masih buka. Bahkan, pedagang pinggir jalan yang menjual aksesoris untuk se*s juga ada. Namanya juga red district, saya pun maklum dengan kondisi ini.

Namun mata saya tertuju salah satu sudut yang rame. Saya sengaja melangkah ke situ. Area pertokoan yang masih buka sampai malam. Di sepanjang trotoar dan pinggir toko banyak banget orang yang berkumpul di situ. Saya memberanikan diri lewat toh di belakang ada body guard yang siap melindungi, hahahahaha. 

Mata saya tak mau kehilangan untuk melihat apa yang terjadi di sana. Oh, di salah satu sudut saya melihat ada yang bertransaksi. Yang pria berperawakan India sedangkan yang wanita beretnis China. Sepertinya mereka sedang melakukan tawar menawar *sotoy, hahahahaha. 

Ya ya ya saya hanya tersenyum. Setelah agak jauh dari lokasi tersebut, saya berbisik ke pak suami,
"Berani nawar berapa, Bang?". Hahahahahahaha. Yang saya godain hanya tersenyum sambil menyuruh berjalan lebih cepat.

Saya dan pak suami nggak sampai ke lorong yang remang-remang. Badan sudah capek dan penginnya langsung rebahan dan mandi di hotel. Pliket banget soalnya. 

#Apakah Geylang Aman untuk Wisatawan?

Karena pernah menginap di kawasan ini dan nggak terjadi apa-apa, saya bisa mengatakan kalau kawasan ini aman bagi wisatawan. Mungkin orang-orang yang biasa ngumpul di sana tahu mana yang turis dan yang bukan. Selama kita bisa membawa diri dengan baik, orang-orang di kawasan Geylang juga baik kok. 

Oia, saya juga terkesan dengan orang Singapura di kawasan ini. Saat akan menyeberang jalan, pengendara mobil tetap mengutamakan pejalan kaki, lho. Saya kira mereka akan seenaknya saja kalau ada di red district. Ternyata enggak, mereka juga masih tertib. 

Jadi, kamu masih takut untuk menginap di red district Singapura? 


Fragrance Hotel-Ruby 
10 Lorong 20 Geylang Singapore 398730
Phone : +65 6841 3888

  
















People change. Saya anggap sebagai hal yang wajar jika orang berubah ke arah yang lebih baik. Setiap orang pasti mengalami proses dalam hidupnya yang akan membawanya ke arah pilihan hidup yang akan dijalani. Proses yang terjadi akan membuat pola pikir, perbuatan, bahkan penampilan akan berubah. Perubahan tersebut pasti akan membuat orang lain merasa atau berpikiran lain terhadap diri kita. 

Hal ini juga saya alami. Mulai dari penampilan, pola pikir, dan perbuatan banyak yang berubah. Jangankan dari zaman sekolah, mulai dari kuliah sampai sekarang pun banyak yang berubah. Semua perubahan yang saya alami tentu ada sebabnya, bukan terjadi secara kebetulan. 

Banyak sekali kejadian yang saya alami hingga membuat saya seperti sekarang. Dulu, saya yang suka bicara terlalu blak-blakan tanpa kontrol sekarang sudah bisa saya kurangi. Dulu, saya yang berpikiran sempit sekarang sudah bisa menerima dan menyaring segala informasi dengan baik. Dan, emosi yang dulu naik turun sekarang sedikit demi sedikit sudah berkurang. 

Ketika melakukan itu semua saya nggak sadar kalau perbuatan-perbuatan tersebut nggak baik dan berdampak negatif pada orang lain. Saya kurang peka. Saya kurang memikirkan perasaaan orang lain jika bicara terlalu blak-blakan atau emosi nggak terkendali. Saat itu saya hanya ingin melampiaskan apa yang ada di diri saya. Setelah melakukan itu memang terasa plong. Setelahnya, saya pasti menyesal. 

Ketika ada peristiwa yang sangat menampar saya, seketika itu saya tersadar. Bahwa yang saya lakukan dulu ternyata nggak baik untuk diteruskan. Namun saya perlu merubah reaksi atas apa yang sudah saya alami. 

Saya sadar bahwa orang-orang yang dulu dekat dengan saya sekarang agak menjaga jarak. Entah kenapa. Mungkin karena perubahan saya tersebut. Padahal saya berubah untuk diri sendiri ke arah yang lebih baik. Dan itu ternyata nggak gampang. Susah banget!!

Saya merasa bahwa beberapa sahabat yang dulunya sering cengengesan, sekarang agak takut untuk mengajak saya bercanda. Heiy, padahal saya masih suka hahahihi, lho. Beneran!! Malah sering cengengesan sendiri kalau melihat sesuatu yang saya anggap aneh atau lucu. Haahahahaha..

Kemarin, saya baru saja menegur sahabat saya soal ini. Saya merasa bahwa dia menjaga jarak banget dengan saya. Padahal kami sudah bersahabat sejak SMP. Ketika saya utarakan kenapa ini bisa terjadi, ternyata dia takut kalau guyonannya menyinggung karena dia pikir saya sudah berubah. Iya, berubah menurut versi dia.

Hhhhmmm, perubahan yang saya alami saat ini nggak sepenuhnya merubah kepribadian yang sudah dikenal orang. Dulu saya yang celelekan, saya yang suka guyon, atau saya yang ngambekan, hahahahahaha. Semua itu masih hanya saja sekarang saya akan menempatkan itu semua pada porsi dan waktu yang tepat. 

Ada kalanya bila saya sudah lelah dan nggak ingin terlibat dalam perselisihan, saya hanya diam. Pergi tidur, entah mengantuk atau nggak akan saya lakukan. Setelah bangun tidur dan otak agak waras lagi, saya akan menuntaskan masalah tersebut. Jika nggak, maka saya akan melupakannya. Yang sudah ya sudah, nggak perlu ada pembahasan lagi.

Beruntungnya, saat ini saya sudah tahu kebahagiaan untuk diri saya sendiri. Saya akan melakukan tindakan yang tentunya sudah saya pikirkan dulu bagaimana reaksi orang lain terhadap tindakan tersebut. Saya berusaha untuk mengeluarkan kata-kata yang baik dari mulut saya maupun kalimat dari jari-jari saya. Saya nggak ingin menyakiti orang lain. Dengan melakukan ini, saya merasa bahagia. 

Ajining diri saka lathi. 

























9 comments
Judul : Unbelievable Japan
Penulis : Weedy Koshino
Tahun : Cetakan I, 2016
Tebal : 355 Halaman
Penerbit : PT Elex Media Komputindo


Hari Sabtu kemarin saya membeli buku Unbelievable Japan karena saya suka hal-hal yang berhubungan dengan Jepang, terutama tentang budaya dan kehidupan sehari-hari warganya. Saya tahu buku tersebut dari blog Kompasiana Mbak Weedy Koshino. Saya memang suka membaca blog si penulis yang selalu menceritakan kehidupan sehari-hari selama beliau tinggal di Jepang. Penulisan di blognya ringan jadi mudah dimengerti. Sssttt, saya menjadi silent reader blognya, lho.^-^.  

Asal tahu saja, kalau bulan lalu saya nggak beli buku sama sekali karena masih ada novel dan autobiografi yang belum selesai dibaca. Tapi sejak beli buku Unbelievable Japan ini entah kenapa saya nggak mau lepas dan selalu penasaran dengan cerita-cerita selanjutnya. Makanya ini rekor bagi saya yang bisa menghabiskan buku baru, nggak sampai 24 jam. Iyap, Minggu siang kemarin saya sudah mengatamkan buku tersebut. Seperti judulnya, so unbelievable!! Hahahahahaha. 



Kenapa sih saya mengatamkan buku tersebut cepet banget?

Jujur, saya kangen banget dengan kehidupan di Jepang. Meski hanya beberapa bulan tinggal di sana namun banyak hal yang membuat saya terkaget-kaget dengan budaya dan masyarakatnya. Ketika membaca buku ini saya seperti bernostalgila. Lagipula tempat tinggal Mbak Weedy di Chiba, saya pernah tinggal di Yokohama. Chiba dan Yokohama sama-sama ada di Kanagawa Prefecture. Haduh, baper karena saya juga pernah main ke Chiba. 

Di buku tersebut, Mbak Weedy menceritakan kehidupan sehari-harinya sebagai ibu rumah tangga yang menikah dengan orang Jepang. Beliau hijrah ke Jepang tahun 2007 dan dikaruniai dua orang anak. 

Pengalaman sebagai orang asing yang tinggal di negara yang sangat berbeda dengan Indonesia membuat beliau mengalami shock culture sebagai seorang istri dan menantu. Nah, pengalaman-pengalaman inilah yang diceritakan Mbak Weedy di buku tersebut. 

Semua yang ditulis oleh Mbak Weedy Koshino di bukunya berdasarkan kisah nyata yang dialami sehari-hari. Kisah tersebut terbagai dalam 3 kategori, yakni Life Style, Culture, dan Education. Masing-masing kategori berisi kisah-kisah yang menarik dan membuat saya manggut-manggut mengiyakannya karena memang pernah mengalami hal yang sama. 

Cerita mengenai Jepang yang maju, keren, masyarakatnya makmur dan berdisiplin tinggi, kayaknya sudah biasa, kan? Hahahahaha. Memang itulah image Jepang di sebagian besar masyarakat Indonesia. Namun jangan salah lho kalau kehidupan di sana nggak cuma enaknya saja. Dalam bukunya, Mbak Weedy juga menceritakan sisi lain tentang Jepang. 

Beberapa kisah tersebut ada yang membuat saya melongo karena nggak percaya dan sempat bilang, 

'Ih, di Jepang ada juga ya kejadian kayak gini. Untung kemarin nggak ngalami kejadian ini.'
Atau seperti ini
'Waduh, kok serem amat ya kehidupan di sana. Beneran tuh ada kejadian kayak gitu?'

Dan, apa yang diceritakan Mbak Weedy memang benar. Terutama ceritanya sebagai ibu rumah tangga di Jepang. Kalau saya mengikuti cerita facebook teman yang tinggal di sana terasa banget tuh betapa rempongnya menjadi ibu rumah tangga di sana. Mereka harus menyiapkan segala keperluan untuk keluarganya dari pagi sampai malam. Mulai belanja, masak, antar jemput anak sekolah, sampai sibuk mempersiapkan kebutuhan anak-anaknya yang ikut kegiatan ekstrakurikuler di sekolah. Kalau weekend atau liburan sekolah, para ibu tetap capek karena mengurusi ekskul atau pertandingan antar tim. Lah, kalau di Indonesia jarang banget saya jumpai orangtua yang sibuk mengurusi kegiatan ekskul anaknya.

Lha kenapa kok bisa sibuk, sih? Apa ekskul di Jepang nggak ada yang ngurusi? 

Tenyata bukan itu masalahnya. Di Jepang, peran orangtua di sekolah dan kegiatan ekskul anaknya sangat besar. Mereka akan kebagian tugas ini-itu demi kelancaran kegiatan tersebut. Tugas-tugas tersebut akan diberitahukan jauh-jauh hari secara detail melalui email. Mbak Weedy pun menceritakan kalau beliau pernah jadi petugas patroli sekolah yang disangka anaknya kayak pencuri. Dan, Mbak Weedy juga cerita kalau beliau pernah dijutekin saat menjadi tukang parkir di acara ekskul anaknya. Lha, kok bisa sih? Ya, baca sendiri saja bukunya. Saya yang membaca kisah-kisah tadi ikutan tertawa dan kasihan. Selain itu, saya mendapat pelajaran untuk nggak jutek sama tukang parkir, hahahaha. Kasihan mereka karena sudah capek cari tempat parkir.

Saya memang suka membaca kehidupan dan budaya negara lain, apalagi Jepang. Bab yang saya suka yaitu cerita yang berjudul 'Belajar Rendah Hati dari Orang Jepang.' Cerita ini ada di halaman 211. Mbak Weedy menceritakan bagaimana beliau kagum dengan sifat rendah hati masyarakat Jepang. Mereka nggak mau terlihat mencolok dan dianggap sombong. Bahkan, Mbak Weedy tahu kehebatan teman-temannya bukan dari si empunya atau cerita dari orang lain, lho. Beliau tahu kehebatan dan kerendahan hati orang Jepang saat main ke rumah temannya. Lah, kok bisa sih? Main ke rumah teman terus tahu kehebatannya? Apa hubungannya? Semua diceritakan detail kok sama Mbak Weedy. 

Cerita Favorit

Saya sependapat dengan apa yang diceritakan Mbak Weedy soal kerendahan hati ini. Beliau membandingkan keadaan ini dengan sikap masyarakat Indonesia yang saat ini suka banget bergaya hidup mewah dan pamer. Hal ini beda banget dengan sikap orang Jepang yang sederhana. Saya membaca kisah itu terasa mak jleb, manggut-manggut, dan hok-ah hok-oh melulu, hahahaha. Membaca kisah ini saya teringat dengan ibu-ibu Jepang di Jakarta yang saya kenal. Mereka jauh dari kesan glamour meski saya tahu mereka sangat berada. Persis plek seperti cerita Mbak Weedy.

Selain itu ada juga pengalaman Mbak Weedy dan suaminya yang mencari sekolah untuk anaknya. Mbak Weedy dan keluarganya muslim. Saat anaknya mau sekolah, mereka mencari sekolah yang menyediakan bento yang nggak mengandung babi. Pencarian sekolah tersebut susahnya bukan main. Sebab nggak semua sekolah mau menyediakan makanan khusus atau yang berbeda antara anak yang satu dengan yang lain. Akhirnya mereka bisa menemukan sekolah yang mau menerima keyakinan Islam namun dengan negosiasi yang terbilang nggak gampang. 



Sekolah di Jepang rata-rata menyediakan makan siang untuk murid-muridnya. Sebagian besar menunya mengandung babi. Namun demi menjalankan keyakinan Islam, Mbak Weedy harus menyediakan bento yang berbeda untuk anaknya. 

Setelah mendapat sekolah yang mau menerima nego tersebut ternyata masalah lain datang yaitu ketakutan Mbak Weedy dan suaminya kalau anaknya dibully karena makanannya berbeda.  Kejadian bully di Jepang ternyata cukup parah, lho. Saya tahu dari cerita yang membahas soal ijime (bully) di Jepang. Bagaimana orangtua menghadapi ini? 

Kisah 'Menyikapi Menu Sekolah yang Mengandung Babi' sangat menarik karena saat ini banyak orang Indonesia yang ikut suaminya bekerja di Jepang. Salah satu kekhawatiran mereka tentu saja menemukan makanan halal terutama untuk anaknya yang sudah sekolah. Jadi kalau Teman-teman mau ke Jepang dalam waktu yang lama dan menghadapi masalah ini, bisa belajar dari pengalaman Mbak Weedy. Beliau menceritakan kisah yang sangat sensitif  ini dengan bahasa yang tidak menggurui. 

Oia, buku ini juga cocok dijadikan panduan bagi Teman-teman yang baru pertama kali ke Jepang. Buku Unbelievable Japan ada bab yang menceritakan manner yang nggak boleh dilakukan di sana. Mbak Weedy memberikan contohnya dan menceritakan itu semua dengan alasan-alasan yang mengerikan karena berhubungan dengan funeral. Lho, kok bisa sih? Ya baca saja bukunya.^-^.

Yang suka travelling atau yang mau menginap di ryoukan, ada juga panduan dan tata cara menginap di sini. Sssttt, yang suka onsen tapi telan**ang bulat, juga diceritakan semua di sini. Onsennya seperti apa? Dan di mana? Ceritanya komplit deh di halaman 185, hahahaha.

Selain panduan manner, ada juga panduan musim untuk berkunjung di sana. Musim apa yang tepat untuk berkunjung dan hal-hal apa yang nggak boleh dilakukan sebagai turis di sana. Katanya sih di Jepang itu nggak cuma 4 musim tapi malah 6 musim. Biasanya kan musim cuma musim panas, dingin, gugur, dan semi. Lha ini kok sampai 6 musim. Yang dua lagi apa? Mbak Weedy menceritakan musim yang ada di Jepang plus bulan-bulannya. Jadi kalian yang mau travelling ke Jepang bisa mempersiapkan apa saja ketika musim tersebut tiba. 

Kalau mengikuti blognya Mbak Weedy, membaca buku ini serasa memindahkan tulisan di blog ke dalam buku. Bahasa yang ada di blog sama seperti yang ada di dalam buku. Bahasa yang digunakan dalam buku Unbelievable Japan sangat mudah dipahami sehingga pesan yang ingin disampaikan dapat diterima pembaca.  

Sebenarnya tulisan di blog dan buku itu berbeda. Buku ini terkesan 'memindahkan blog' saja karena beberapa kalimat juga tidak tepat tanda bacanya. Kalau soal ini pun saya juga masih banyak kesalahan di blog karena kurang taat pada aturan EYD. Kalau kata-kata yang nggak baku sih oke ya, nggak papa karena biar bahasanya santai. Namun ada yang aneh nih saat saya membaca buku ini. 

Di hal 321 menceritakan tentang kampanye pemilu di Jepang. Di situ ada tulisan yang menurut saya agak janggal yaitu di paragraf terakhir yang bunyinya seperti ini,

'Coba lihat deh foto di bawah ini, foto ini saya ambil ketika mau pergi belanja ke supermarket....'


Sebagai pembaca buku, tentunya saya langsung melihat ke bawah dong, ingin tahu seperti apa sih fotonya. Ternyata tulisan tersebut hanya beberapa jarak saja dengan akhir halaman sehingga fotonya ada di halaman sebaliknya. 

Kalau saya membaca tulisan tersebut di blog nggak masalah karena bisa melihat foto langsung ke bawah. Tapi ini kan sudah menjadi buku. Blog dan buku berbeda karena buku mempunyai halaman. Dan ketika buku sudah diedit bisa saja foto yang letaknya semula di bawah pindah ke halaman selanjutnya. Hhhmm, setelah saya baca bagian depannya, ternyata nggak ada editornya, ya. 

Secara keseluruhan, buku ini memang menyajikan cerita-cerita yang menarik dan inspiratif. Banyak sekali kisah-kisah inspiratif yang selalu dihubungkan dengan kehidupan di Indonesia. Harapan penulis sih semoga pembaca dapat mengambil hikmah dan sisi positif dari kehidupan di Jepang. Syukur-syukur kalau dapat mempengaruhi perubahan kehidupan di Indonesia. Tirulah apa yang baik. Sebaliknya, jangan meniru hal-hal yang kelihatannya keren tapi setelah tahu esensinya ternyata nggak keren sama sekali. Sebagai pembaca kita harus cerdas dalam mengambil setiap hikmah dari apa yang kita baca. 

Jujur nih ya, membaca buku Unbelievable Japan membuat saya sadar bahwa setelah membaca buku ini, justru makin banyak hal-hal yang nggak saya ketahui tentang Jepang. Dan benar, kehidupan di Jepang ternyata nggak melulu ada cerita baiknya saja seperti yang kita ketahui selama ini. Unbelievable!!.^-^.





















8 comments
Saya nggak kerja di sektor migas, lho ya. Yang saya ceritakan adalah hasil ngulik ke pak suami yang sampai tulisan ini dibuat, kebetulan beliau masih bekerja di industri migas. Pak suami bekerja di sektor migas sudah 8 tahun, tepatnya di bidang EPC (Engineering Procurement Construction). Saat ini pak suami bekerja di kantor yang sahamnya dimiliki oleh Indonesia dan Jepang. 

Kenapa saya nulis ini? Sebab ada yang bilang ke saya kalau punya suami yang bekerja di sektor migas itu enak karena konon katanya gajinya besar. Hhhhmmm, saya tertawa saja mendengar ocehan seperti itu. Ketika hal ini saya sampaikan ke pak suami, beliau cuma senyam-senyum. Artine apa jal? hahahahaha. Kata pak suami sih, gaji besar itu tergantung profesionalitasnya. Memang sih profesionalitas di sektor migas sangat dibutuhkan. Karena kalau nggak profesional dan nggak tahu prosedur yang benar, bahaya pasti mengancam.

Sudah jadi rahasia umum kalau sektor migas di Indonesia masih menduduki posisi teratas yang dicari para pencari kerja. Berdasarkan sumber yang bisa dibaca di sana dan sini, memang industri migas menduduki posisi yang mentereng dalam daftar gaji terbesar di Indonesia. Daftar gajinya sungguh menggiurkan sehingga banyak pencari kerja yang menginginkan bekerja di sektor ini. Itu daftar gaji menurut survey lho ya, belum tentu sama dengan kenyataannya, hahahaha. 

Asal tahu aja kalau kantor migas itu banyak departemennya. Ada bagian engineering seperti process, petroleum, mechanical, electrical, civil, process safety, instrument, dan operation. Untuk non engineering juga ada HRD, finance, supply chain management. Dan masih banyak lagi kalau diuraikan satu per satu. Semua tergantung besarnya perusahaan, bidang, serta kebutuhannya. Semua bagian tadi gajinya beda-beda. Yang membedakan tentu saja skill dan pengalaman. 

Pak suami bekerja di on shore bagian process engineering, beliau nggak mau kalau disuruh bekerja off shore. Bekerja di off shore memang gajinya lebih besar dibanding on shore. Namun perlu diingat juga faktor resiko di off shore jauh lebih banyak dan nyawa taruhannya. Nggak main-main, kan? 

Iya, bekerja di off shore biasanya sistemnya 2 minggu kerja - 2 minggu libur. Atau mungkin ada yang sebulan. Itu tergantung kebijakan masing-masing kantor, sih. 

Bekerja di lepas pantai tentu nggak mudah karena para pekerja tersebut harus meninggalkan keluarga dan hidup di laut dengan tim yang itu-itu saja. Di sini, semua harus dihitung dengan detail seperti kebutuhan logistik dan HSE-nya. Dan, pekerja yang hidup di laut harus menghadapi berbagai faktor resiko yang besar seperti cuaca ekstrim yang nggak bisa diprediksi. Bekerja dengan tim yang sama, hiburan terbatas, serta faktor resiko yang tinggi tentu akan mengakibatkan pekerja mengalami tingkat kejenuhannya yang besar. Maka dari itu, biar nggak jenuh dan puyeng, obatnya ya gaji yang besar, hahahahaha. 

Kalau di on shore gimana? Ya sama saja.

Jadi gini, pak suami pernah ditugaskan ke site yang ada di Jawa dan luar Jawa. Masing-masing site tentu beda medannya meski hampir sama. Selama di site, biasanya para pekerja akan tinggal di mess supaya kalau berangkat ke tempat proyek bisa barengan. Begitu juga dengan pulangnya.

Lokasi proyek migas di site biasanya agak jauh dari rumah penduduk atau penginapan. Pekerja lapangan biasanya akan berangkat dan pulang naik mobil jemputan bersama-sama. Mobil di sini bisa saja pick up, nggak cuma mobil-mobil yang umum digunakan. 

Mereka berangkat dan pulang bareng karena masalah lokasi. Kalau di Jawa, lokasinya bisa dibilang cukup aman. Kalau di luar Jawa, sangat menyedihkan. Beberapa tahun lalu, pak suami pernah bertugas di site yang ada di Palembang. Lokasi proyeknya di hutan, jauh dari mana-mana. Kalau mau telepon ke saya harus susah payah cari sinyal. Kalau malam, pekerja nggak berani keluar karena masih banyak hewan buas di sekitar lokasi proyek. Kalau mau keluar lokasi, biasanya diantar jemput oleh warga lokal yang tahu seluk beluk hutan. Tuh, sesuatu banget, kan?

Baru-baru ini pak suami cerita kalau temannya yang ada di site mengalami kecelakaan kerja dan sempat bikin heboh di kantor. Temannya sudah memakai wearpack namun kurang taat pada prosedur. 

Sebut saja namanya X, seorang supervisi operator di lapangan. Ceritanya si X lagi filling tank yang isinya bahan kimia berbahaya yaitu fenol. Sebenarnya tugas pengisian fenol bukan job desk si X tapi karena disuruh atasan maka dia lakukan juga. Di tempat pengisian tersebut ada lambang 'tengkorak' yang artinya bahan tersebut memang berbahaya. X nggak ijin ke bagian HSE dulu, asal isi tank aja. Nah, ngisi tankinya pakai portable pump. Ketika mau pasang pompa, si X kelupaan pasang klem atau klemnya kurang kenceng. Pas X mulai menjalankan pompa, selangnya copot terus fenolnya nyembur ke mana-mana. Meski sudah pakai wearpack tapi badan X kena juga. Berhubung si X nggak langsung lepas wearpacknya, beberapa bagian di badan X mengalami luka bakar yang cukup parah.

Kata pak suami, wearpack didesign tidak waterproof/chemicalproof. Jadi ketika ada bahan kimia membasahi wearpack maka badan akan terpapar bahan kimia tersebut. Si X langsung mandi di safety shower tetapi karena dia malu telanjang, wearpacknya malah dipakai lagi. Hal ini membuat X terpapar fenol lebih lama. Seandainya dia nggak memakai wearpack lagi, kemungkinan luka bakarnya nggak tambah parah. 

Beberapa kejadian yang saya ceritakan di atas hanyalah sedikit cerita bagi mereka yang bekerja di sektor migas. Bekerja di bidang ini memang membutuhkan skill sesuai keahlian masing-masing. Selain itu, ilmu pengetahuan juga harus diupdate karena perkembangan ilmu dan software di sektor migas lumayan cepat. 

Memang, bekerja di sektor mana pun butuh profesionalitas. Tapi di sini saya hanya ingin menceritakan bahwa bekerja di sektor migas yang konon katanya gajinya gedhe cukup wajar mengingat keahlian dan pengalaman yang dibutuhkan serta faktor resiko yang tinggi. 

Tapi jujur ya, saat ini industri migas lagi lesu banget karena harga minyak dunia yang jatuh dan juga embargo Iran sudah dicabut (jadi apa enggaknya, kurang tahu pasti hahahaha). Kondisi ini tentu membuat saya, sebagai istri seorang kuli yang kerja di bidang ini agak ketar-ketir. Kabarnya dua perusahaan raksasa dunia sudah merumahkan ribuan karyawannya. 

Gimana kabarnya kantor pak suami?

Alhamdulillah, kantornya pak suami sampai tulisan ini dibuat masih aman dan belum ada PHK (duh, jangan sampai terjadi, ya). Meski tergolong aman namun kenyataannya kantor pak suami melakukan 'diet' ketat. Beberapa kebijakan yang dulu ditetapkan dan agak longgar sekarang nggak ada.

Misalnya nih, aturan makan malam gratis yang dulu dibagikan pukul 7 malam diganti pukul 8 malam. Artinya apa? Biar karyawanan nggak pada lembur atau pura-pura lembur untuk mendapatkan makan malam gratisan, hahahaaha. Kalau sedikit karywan yang lembur berarti pengeluaran kantor untuk makan malam dan uang lembur juga sedikit, kan?

Mirisnya, sudah 2 tahun lebih kantornya pak suami nggak ada kenaikan gaji. Huhuhuhu, sedih banget, deh. Meski gaji cukup tapi karena cicilan KPR yang gedhe, berasa kurang tuh gajinya.*curcol, hahahaha. 

Ketika saya curhat masalah ini ke pak suami, beliau cuma bilang gini 

"Semua memang harus disyukuri. Berapa pun gajinya kalau merasa cukup ya cukup. Pintar-pintarnya kita mengatur keuangan. Kalau kita nggak pernah puas dan merasa bersyukur, mau gaji sebesar apa pun nggak akan pernah cukup."

Setelah mendengar nasihatnya pak suami, hati jadi plong, deh. Rasanya adem tapi tetep ya masih berharap ada kenaikan gaji, hahahahaha.*Istri matre yang realistis*

Jadi, buat yang penasaran gimana bekerja di sektor migas semoga mendapat gambaran meski masih abstrak, hahahahaha. Etapi kalau untuk pegawai adminnya biasanya sih nggak ditempatkan di site. Mereka biasanya di HO (head office) mengurus kelancaran administrasi. Gajinya berapa kalau admin migas ya? Katanya nih, admin migas gajinya tetap lebih tinggi daripada admin sektor lain dengan skill dan pengalaman yang sama. Bener atau enggaknya, hhhhhmmm nggak tahu, deh, hahahahaha.