Thursday, January 01, 2015

Perjalanan Darat dari Singapura ke Malaysia

Perjalanan dari Singapura ke Malaysia ditempuh dengan bus malam, karena kami memang berniat akan tidur di bus. Setelah keluar hotel di Geylang, kami mencari taksi menuju terminal bus Singapore-Johor yang ada di Queen Street. Membayar taksi cukup memakai EZ-link, alhamdulillah sisa saldo kami masih mencukupi.



Di terminal kami memilih bus umum yang murah saja. Jadwal keberangkatan bus biasanya ditempel. Kami naik Bus 170 menuju Larkin. Karena ini bus umum yang tarifnya murah, banyak banget penumpang yang berdiri. Selain wisatawan, penumpang bus sepertinya pekerja yang nglaju Singapura-Malaysia. 

Bus akan berhenti di Woodland. Semua penumpang turun membawa bawaan untuk proses imigrasi  keluar Singapura. Di sini, para penumpang berlari dan berlomba agar sampai di imigrasi secepatnya. Kenapa? Selain agar cepat dilayani ternyata mereka berebutan kalau naik bus. Sumpah, saya dan suami sampai terbengong-bengong melihat cara mereka berebutan naik bus, mirip di Indonesia, ada yang melompat pembatas segala hehehe. Kami naik bus yang sama. Yang penting, tiket bus jangan sampai hilang. Sengaja kami duduk di dekat sopir agar dapat bertanya tentang bus yang kami tumpangi di Johor baru nanti.

Lega deh kami bisa mendapat bus menuju Terminal Larkin. Perjalanan dari Woodland ke Larkin ternyata sebentar. Karena malam, saya tidak bisa melihat-lihat pemandangan di luar.

Sampai di Larkin, buset deh  kami langsung didatangi calo. Banyak banget calo berkeliaran di malam hari. Muka kami yang capek, polos, dan bingung pastinya menjadi sasaran empuk mereka. Meski sudah ditolak, mereka tetap membuntuti kemana kami pergi. Sampai akhirnya kami digiring ke salah satu loket. Suami saya sempat menawar harga tiketnya. Entah kemahalan atau tidak, saya lupa waktu itu bayar berapa.

Penginapan yang telah kami pesan bernama Hotel KL Sentral, lokasinya dekat dengan stasiun KL Sentral. Dari hasil bertanya ke sopir sebelumnya, kami disarankan naik bus ke Pudu Raya. Tiket sudah dibeli dan kami sudah di dalam bus. Busnya enak banget dan nyaman, yah tidak rugilah kami membayar segitu ke calo. Ternyata eh ternyata, setelah duduk sekitar 5 menit di bus tersebut, kami disuruh pindah bus sama sopir dan calonya. Heh, sempat protes juga dan kami tetap disuruh pindah. Bus yang ini tidak sebagus bus sebelumnya huhuhu. Dendam kesumat membara sama calo dan sopir di Larkin. Ampun dah!

Selama perjalanan saya dan suami benar-benar capek sampai terlelap tidur. Entah sudah sampai atau belum, semua penumpang turun di pinggir jalan, tidak di terminal. Kami tidak tahu turun dimana, katanya sih sudah sampai Pudu Raya. Asli, semua bingung. Apalagi belum subuh, stasiun masih tutup semua.

Di jalan kami kembali ditawari sopir taksi. Mereka tak gentar menawarkan jasanya, kebanyakan mereka bertampang India. Karena masih dongkol, kami menolak dan memilih berjalan kaki. Eh, hanya beberapa meter, akhirnya suami saya luruh juga dan memilih naik taksi. Katanya sih daripada bingung dan hari masih gelap, taksi pilihan tercepat. Naik taksi dengan ditawar dan akhirnya sampai di hotel juga. Lega rasanya sudah di hotel.

Di hotel, kami hanya menunggu jam buka stasiun KL Sentral, menitipkan barang dan cuci muka. Sarapan roti hasil membeli di mini market. Perjalanan lanjut ke Batu Caves. 







4 comments:

  1. Busnya bagus.. Yang salut sih sama jalannya. Mulus gitu. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bus yg kunaiki biasa aja Beb..
      Yoii, jalannya di Singapore mulus2..

      Delete
  2. Jadi ini to kisah sebelum sampe batu cape kemaren. Salut!! :)

    ReplyDelete

Powered by Blogger.

Recent Posts

    Blog Archive

    Follow Me

    Page Views

    Copyright © Pipit Widya | Powered by Blogger
    Design by Saeed Salam | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com