Wednesday, January 28, 2015

Waspada Buah Impor

Kemarin saya menonton berita yang bikin kaget. Kabarnya apel impor dari AS yaitu Granny Smith dan Gala terkontaminasi bakteri Listeria monocytogenes. Meskipun Kementan menjamin bahwa apel impor yang saat ini beredar di pasaran aman dari Listeria tapi hendaknya kita harus waspada. Apalagi bagi ibu sebagai gerbang utama masuknya pangan di rumah. Untuk amannya, lebih baik kita waspada terhadap buah impor dan mengonsumsi buah lokal saja. 

Sampai dengan Januari 2015, berdasarkan data dari Center of Disease Control (CDC) AS, puluhan warga AS dilaporkan terinfeksi Listeria dari apel tersebut bahkan beberapa diantaranya meninggal. Di Malaysia pun apel dari AS sudah dilarang peredarannya.

#Bakteri Listeria monocytogenes

Bakteri ini ditemukan pertama kali pada tahun 1926 oleh E. G. D. Murray pada kasus kematian anak kelinci.  Berbentuk batang dan dapat hidup sampai suhu 3 derajat celcius. Makanya bakteri ini dapat hidup di almari pendingin atau pembekuan. Tahun1981 dilaporkan adanya wabah listeriosis sebanyak 41 kasus dan 18 diantaranya meninggal. Wabah ini kebanyakan menyerang wanita hamil dan neonatal. Sampai sekarang L. monocytogenes dikenal sebagai bakteri yang berbahaya di industri makanan.

Bakteri listeria bisa ditemukan pada susu mentah dan produk olahannya, sayuran mentah, buah-buahan, daging merah, dan ikan mentah. Jadi bisa saja bakteri listeria ditemukan pada susu, daging, dan sayuran yang telah disimpan di lemari pendingin dalam waktu lama. 

Gejala listeriosis berlangsung sekitar 7-10 hari dengan tanda umum seperti demam dan nyeri otot. Bisa juga disertai mual dan diare. Bila menyebar ke sistem saraf dapat menyebabkan meningitis. Disebutkan bahwa listeria lebih berbahaya daripada Salmonella. Bakteri Salmonella menyebabkan kematian 1%, sedangkan Listeria 25%. 

Bakteri Listeria Monocytogenes termasuk bakteri yang kerap menempel pada kulit apel. Jika suka mengonsumsi apel dengan kulitnya, sebaiknya dicuci secara menyeluruh sampai bersih di air mengalir. Akan tetapi mengupas kulit apel merupakan cara yang terbaik untuk menghindari infeksi bakteri ini. Pencegahan total terhadap bakteri ini tidak bisa dilakukan. Lebih baik mengonsumsi buah yang benar-benar matang karena bakteri ini baru bisa mati pada suhu 75 derajat celcius.

#Buah Lokal

Dengan semakin terbukanya pasar perdagangan bebas, saat ini buah impor jumlahnya berlimpah bahkan melebihi jumlah buah lokal. Hal ini menyebabkan harga buah lokal terkadang lebih mahal dibanding buah impor. Sebenarnya mengonsumsi buah lokal adalah cara terbaik untuk menghindari infeksi bakteri yang saat ini masih menjadi momok. Meski tampilan buah lokal tak semenarik buah impor, tapi buah lokal rasanya lebih unggul, lebih segar dan lebih lezat. Hal ini karena negara kita beriklim tropis dengan tanahnya yang subur dapat menghasilkan buah yang rasanya lebih kuat dan lebih enak dibanding buah impor. 

Selain itu kandungan gizi buah lokal lebih baik dibanding yang impor karena tidak memerlukan waktu penyimpanan dan proses pengawetan yang lama. Asal tahu, buah impor terkadang membutuhkan waktu penyimpanan selama 6 bulan sampai setahun. Proses penyimpanan dan pengawetan yang terlalu lama akan mengurangi kandungan gizi dalam buah baik vitamin maupun mineral. 

Buah Lokal di Rumah

Mengonsumsi pangan lokal dapat mengurangi resiko terkena penyakit degeneratif, seperti jantung, diabetes, kanker, dan stroke. Buah lokal dapat bertindak sebagai detoksifikasi, mencegah peningkatan kolesterol, dan tidak ada racun di dalamnya. Konsumsi buah impor bisa saja beresiko terhadap kesehatan lebih besar karena buah tersebut mungkin saja disemprot pestisida atau dilapisi fungisida untuk mencegah pembusukan. 

Meskipun demikian, ada beberapa buah impor yang tidak bisa ditanam di Indonesia karena masalah iklim padahal manfaat buah tersebut sangat bagus untuk kesehatan. Misalnya buah kurma, kiwi, dan pear. Jadi, buah-buah impor memang masih diperlukan untuk memenuhi kebutuhan yang terus melonjak apalagi petani kita sendiri belum mampu mencukupi kebutuhan dalam negeri. Diperlukan upaya yang panjang agar buah lokal dapat menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Apalagi konsumsi buah di Indonesia masih rendah sekitar 35kg/kapita/tahun dibandingkan dengan Jepang yang sudah 150kg/kapita/tahun. 


Sumber :



















23 comments:

  1. Iya saya juga baca beritanya di koran dan menonton di TV Swasta. Wah wah harus hati hati ini. Mudah mudahan nda semua buah diperlakukan demikian. Ada insektisida atau racun sebagainya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Pak semoga buah bisa mjd makanan yg sehat.
      Terimakasih ya Pak sudah mampir :)

      Delete
  2. padahal buah lokal juga tak kalah sehatnya ya mba

    ReplyDelete
  3. Memang harus hati-hati ya mbak.
    Sebenarnya, buah lokal lebih sehat dan lebih segar. Kandungan vitaminnya juga belum rusak karena penyimpanan lama seperti buah impor.

    ReplyDelete
  4. Blessing in disguise sih, secara kami di rumah lebih suka buah lokal. Lebih suka rasa apel malang yang asyem-asyem itu :)
    salam kenal ya, mak !

    ReplyDelete
  5. semoga suatu saat nanti, buah lokal bisa jadi tuan rumah di negeri sendiri, ya :)

    ReplyDelete
  6. hmm, nggak ada yang aman ya zaman sekarang ini..

    ReplyDelete
  7. Seram sekali bakteri2 jahatnya. perlu menyeleksi nih. seperti yang mbak katakan, buah lokal kandungan gizinya lebih baik, mending cari aman saja deh, yang lokal tak kalah.

    ReplyDelete
  8. wah,ngeri juga ya mbak,bisa tumbuh di kulkas. Kalo saya lebih ke buah lokal,jarang beli yang produk luar..

    ReplyDelete
  9. Baru tahu saya kalau konsumsi buah kita per orang rata-rata tidak ada 50 kg per tahun..
    Padahal tanah segini gedenya.. Oh..oh..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, konsumsi buah di Indonesia masih rendah.

      Delete
  10. Waduuuh mesti hati2 ya kalo belanja buah..dengan belanja buah lokal membantu petani kita ya mba :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Buah lokal utk kesejahteraan bersama, ya Mba.

      Delete
  11. Untungnya rumah saya dekat pasar tradisional yang menjual buah-buahan lokal....

    ReplyDelete

Powered by Blogger.

Recent Posts

    Blog Archive

    Follow Me

    Page Views

    Copyright © Pipit Widya | Powered by Blogger
    Design by Saeed Salam | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com