Monday, July 27, 2015

Cerita Mudik

Cerita mudik itu seru dan tidak ada habisnya, ya. Isinya bisa hal-hal yang kurang menyenangkan dan banyak juga cerita senang dan bahagianya. Biasanya orang akan melakukan apa pun demi bisa mudik. Mulai dari harga tiket naik dan tidak mudah didapatkan sampai rela terkena macet demi bisa pulang ke kampung halaman. Tapi itu semua sangat seru kalau diingat-ingat.^-^.

Budaya mudik atau pulang kampung sebenarnya tidak hanya di Indonesia saja. Negara-negara di Eropa, Amerika, dan Tiongkok juga merayakan mudik saat Natal, Thanks Giving, atau Tahun Baru China. Diperkirakan kegiatan mudik di Indonesia merupakan mobilisasi terbesar karena tidak hanya orangnya saja yang berpindah tapi juga transportasinya. Belum lagi kalau membawa bawaan atau oleh-oleh. 


#Asal Kata Mudik

Menurut Wikipedia, mudik berasal dari Bahasa Jawa ngoko mulih dilik yang artinya pulang sebentar. Namun ada juga yang mengatakan, mudik berasal dari kata udik, yang bisa diartikan sebagai kampung atau desa yang jauh dari kota. Pada intinya, mudik saat ini sudah menjadi tradisi bagi rakyat Indonesia untuk kembali ke kampung halaman, bersilaturahmi dan berkumpul dengan keluarga. Bahkan ada juga yang menjadikan mudik untuk pamer kekayaan dan menunjukkan eksistensinya karena sudah dianggap sukses hidup di perantauan. 

Masyarakat yang tidak pulang kampung biasanya diidentikkan atau dianggap tidak punya ongkos untuk mudik. Padahal tidak semuanya demikian. Mungkin saja mereka yang tidak mudik sedang ada kepentingan atau bisa juga mereka mengganti mudik di lain waktu, tidak saat Lebaran. 


#Cerita Seru Mudik

Banyak sekali cerita seru selama mudik baik yang membuat jengkel atau malah senang. Yakinlah, semua itu akan menjadi pengalaman yang akan terus diingat dan dapat diambil hikmahnya. Cerita seru apa saja selama mudik?

1. Macet

Ini cerita mudik yang sering banget diberitakan. Mudik tanpa macet mungkin kurang seru, ya. Saya dari kecil diajak orangtua mudik ke Yogyakarta, kota kelahiran bapak saya. Sewaktu belum punya mobil sendiri, bapak sering nebeng budhe atau mencari carteran mobil. Bisa dibayangkan dong ya bagaimana sumpeknya mobil. Jumlah anggota keluarga bapak ada lima, belum lagi budhe dan keluarganya. Ditambah lagi barang bawaan dan oleh-oleh. Sumpaaah, pengap banget di mobil apalagi kalau macet!! 

Sekarang, setelah berumah tangga, saya dan pak suami lebih suka mudik pakai kereta karena nyaman dan jarang macet. Tapi tetep ya, barang bawaan saat balik pasti lebih banyak dibanding saat mudik. 

2. Kuliner

Pulang ke kampung halaman itu artinya kembali bernostalgia dengan jajanan khas. Seneeeng banget kalau masih bisa menemukan jajanan sewaktu masih sekolah atau kuliah dulu apalagi kalau makanan tersebut tidak ada di perantauan. Mau tempatnya rame pun, tetap dijabanin asal bisa makan kuliner favorit. Nggih napa nggih? hihihihi. Lupakan diet dan manjakan perut. Pokoknya isinya hanya yummy food and happy tummy, deh.^-^.

Saya pribadi kalau pulang ke rumah orangtua di Semarang, pasti ibu sudah siap dengan makanan favorit yakni tahu bakso, cumi hitam, welut panggang (belut asap), atau ndas manyung. Aaaah, enaknya melahap makanan tersebut apalagi dimasak sama ibu atau saudara yang artinya gratis, tak perlu bayar, hihihihi. 

3. Silaturahmi

Inti mudik sebenarnya kembali ke kampung halaman untuk bersilaturahmi dengan saudara atau teman-teman lama. Dengan mudik, kita bisa tetap tahu keadaan saudara yang lama tak ketemu. Jangan sampai kita dianggap seperti kacang yang lupa kulitnya. Meski sekarang komunikasi dengan teknologi canggih bisa dilakukan lewat jarak jauh, tapi silaturahmi dengan bertatap muka secara langsung tetap lebih nikmat. Kita bisa saling cerita, tertawa, atau berbagi apa pun. Di sini yang saya rasakan yaitu arti kehadiran jauh lebih penting karena itu  merupakan salah satu bentuk perhatian yang mungkin saat ini susah dilakukan. Saya yakin, setelah silaturahmi yang ada hanya perasaan senang dan senang. Nggih napa nggih? hihihihi.

4. Bahasa Daerah

Saya biasanya mudik dalam mudik, artinya saya mudik ke keluarga inti di Semarang tapi bapak dan ibu mengajak saya mudik ke kampung halaman mereka. Biasanya setelah Shalat Ied, saya dan pak suami diajak ke Gunung Pati (kampung halaman ibu) dan Yogyakarta (kampung halaman bapak). Kalau di kampung halaman orangtua kadang saya tersenyum mendengar bahasa daerah yang sudah jarang saya dengar meski di Semarang sehari-hari berbahasa Jawa. 

Misalnya ada keponakan yang tiba-tiba teriak, "Aku pengen mukok!" 
Itu artinya dia mau muntah. 

Terus budhe menawarkan makan dengan kata-kata seperti ini,

"Ayooo do madang (pakai 'dh' apa nggak ya) dhisik." 
Artinya, ayo makan dulu.

Kalau di Yogya, masih sering saya dengar kata-kata "Ngko sikik" yang artinya nanti dulu. 

Semoga kata-kata tersebut tetap digunakan oleh mereka di kehidupan sehari-hari dengan logat khas daerah mereka masing-masing. Meski sama-sama berbahasa Jawa tapi logat daerah yang satu dengan daerah yang lain berbeda. Medoknya beda. Dan, saya juga bangga kalau sampai sekarang ada yang bilang kalau saya masih medok walaupun sudah tinggal di ibu kota coret, hihihi. Bahasa daerah merupakan salah satu kekayaan bangsa juga, kan? 

5. Ziarah Kubur

Ini momen yang membuat saya terharu sampai sekarang. Entah kenapa setiap nyekar atau ziarah kubur saya selalu teringat dengan mereka yang sudah tiada. Ingat dengan semua kenangan dan ingat akan dosa-dosa saya kepada mereka. Sebagai keponakan/cucu pastinya saya pernah berbuat dosa atau menyakiti hati mereka dan saya juga belum membahagiakan mereka dengan baik. Sedih kalau ingat itu.

Dengan ziarah kubur ini, saya kembali diingatkan bahwa sehebat apa pun orang, pasti akan kembali ke asalnya, ke tanah dan ke Pencipta. Nggak ada yang perlu disombongkan, nggak ada yang dibanggakan. Orang mati membawa amal dan orang yang ditinggalkan hanya mengingat nama dan perbuatan mereka. 

6. Cerita Kehidupan

Setiap pulang ke kampung halaman pasti bapak, ibu, teman, atau tetangga saling cerita soal kehidupan dan pengalaman yang banyak banget hikmahnya. Ada cerita soal si A yang sudah sukses, Si B yang sudah sakit-sakitan, atau Si C yang masih berjuang memperbaiki hidupnya. Pokoknya banyak banget, deh. Semua cerita itu sangat berarti bagi saya. Dengan cerita tersebut, saya yakin bahwa hidup itu berputar, butuh proses, dan perjuangan. Tak selamanya enak, tak sepenuhnya mudah. Tinggal bagaimana kita menjalani dan mensyukurinya. *halah kok sok bijak gini, sih. Bagi saya dan pak suami, jalani hidup apa adanya yang penting kita happy dan selalu ingat sesama. Toh, semua yang kita lakukan ujung-ujungnya akan balik ke kita juga. Nggih napa nggih? hihihi.

Mudik meski telah menjadi tradisi yang mungkin tidak hanya dilakukan oleh muslim saja tapi tetap ada efek positif di dalamnya bagi siapa pun yang melakukannya. Mudik mengingatkan bahwa sesungguhnya kita, sebagai manusia untuk tidak lupa akan asal kita, tidak lupa kepada keluarga kita terutama orangtua atau mertua. Saya jadi teringat sebuah kutipan di majalah yang saya baca, kurang lebih seperti ini, "at the end of the day, all you need is your family."

Saya mengiyakan kutipan tersebut karena di saat kita terjatuh, terpuruk atau di saat tua nanti, tak ada yang lebih perhatian dan sayang kepada kita kecuali keluarga. Karena keluarga pula, kita jadi lebih semangat melanjutkan kehidupan. Setelah bertemu mereka kita seakan mendapat energi baru. Maka benar, lirik lagu Keluarga Cemara yang mengatakan bahwa harta yang paling berharga adalah keluarga. Nggih napa nggih?














27 comments:

  1. Mau cerita juga tentang mudiiik.. Hihihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ditunggu ceritanya, pasti seru :)

      Delete
    2. Halooo, Kak! Mau jadi bagian tim jelajah Kalimantan GRATIS? Ikuti lomba blog "Terios 7 Wonders, Borneo Wild Adventure" di sini http://bit.ly/terios7wonders2015
      #Terios7Wonders

      Jangan sampai ketinggalan, ya!

      Delete
  2. Lepaskan kerinduanmu disaat mudik, terdapat banyak cerita seru didalamnya :)

    ReplyDelete
  3. Kalau aku mudik ke Tasik. ga kepikiran jalan-jalan ke tempat rekreasi yang ada di sana. Males banget liat jalanan yang macet. Cuma man ke rumah kakek dan sodara. kakek saya sendiri sudah sepuh banget. Sudah bisa melihat dengan awas dan memorinya sudah kacau. Tapi pas kami pamit, nada suaranya sedih banget sampe-sampe kami ga tega pamitan. Cuma bilang Mpah yang sehat ya...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jadi sedih Mak mbayangin kakek. Smg kakek selalu sehat, ya. Aamiin.

      Delete
  4. Tahun ini gak mudik mbak, tahun kemaren udah, kalo ini emang karna gak ada duit, ngirit :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jarak Jepun-Indo mah saya juga mikir kalo mudik Mba :)

      Delete
    2. This comment has been removed by the author.

      Delete
  5. aku mudik juga mbak tapi jarang pakai macet, biasanya naik kereta atau pesawat. deket juga mudiknya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ho oh enak Mba kalo naik transportasi itu.

      Delete
  6. cerita mudik kemarin gada macet-macetnya mbak cz mudiknya nyuri star duluan :-)

    ReplyDelete
  7. njihhhh.....hehehe
    kalo jombang, engko dilek : nanti dulu :)
    kalau pulang kampung ke jombang,kediri dan ponorogo,berasa banget jadi duta bahasa hahaha...mendadak ganti bahasa dan logat disetiap daerah,seru dan khas. tapi sayang,kemarin saya g jadi mudik :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaahahaha seru ya Mba..
      Semoga selalu sehat ya, bumil ;)

      Delete
  8. Pipiiiit...
    Mohon maaf lahir batin sebelumnya yaaaah..
    Kalau selama ini ada salah komen yang kurang berkenan di hati...mohon dimaafkan yaaah...*cipika cipiki*

    ReplyDelete
  9. Aku mah tiap lebaran gak pernah mudik Piiit..dua-duanya orang Bandung dan orang tuanya pada di Bandung juga hehe...
    Jadi ya gitu deh...hiks...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bibiii, maaf lahir batin juga yaaa..*kasih pipi kanan-kiri
      Bandung macet ya kalau musim liburan tapi asyik banget emang kota Bandung.
      Ga papa Biii, malah ga capek ;)

      Delete
  10. kalau saya mudiknya seminggu sekali, mbak... Jakarta - Subang . hehehe

    ReplyDelete
  11. Indonesia kelihatan heboh karena penduduknya banyak banget. Tapi seru, suka sengaja cari macet heheee

    ReplyDelete
  12. mudik itu seruu, kalau aku ngga begitu berasa suasana mudiknya karena lawan arus pit hihihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Enak ngga macet tapi kurang seru kalo gitu :)

      Delete
  13. Sedikit curhat nih, lebaran kemarin saya gak mudik :(
    Jadi semua yang berhubungan dengan hal-hal lebaran seperti yang disebutkan mbak pipit diatas, tidak bisa saya rasakan (sedih). HUHUHU

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semoga bisa mudik ya, ga harus pas lebaran kan Mas?

      Delete

Powered by Blogger.

Recent Posts

    Follow Me

    Page Views

    Copyright © Pipit Widya | Powered by Blogger
    Design by Saeed Salam | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com