Wednesday, September 16, 2015

Serba-serbi Semarang

Sebagai cah Semarang yang lahir dan besar di kota ini membuat saya ingin menulis tentang serba-serbi Semarang. Ibu kota Jawa Tengah yang juga sebagai kota terbesar kelima ini memang unik yang terbagi menjadi Semarang bawah dan atas. Daerah tersebut ada yang perkembangannya jalan di tempat namun ada juga yang pesat. Sewaktu mudik kemarin saya sempat kaget dengan perkembangan beberapa daerah di Semarang terutama di daerah atas. Yah, Semarang memang unik dengan segala serba-serbinya.

#Simpang Lima

Bagi saya, Semarang itu unik karena pusat keramaiannya hanya di situ saja. Kawasan yang paling rame dari dulu sampai sekarang yaitu Simpang Lima. Kawasan tersebut rame karena semua yang dibutuhkan masyarakat seakan ada di situ semua. Di Simpang Lima ada kantor Gubernuran, sekolah, kampus, bank, mall, hotel, masjid, lapangan, kuliner, dan rumah sakit. 

Dulu saya bersekolah di daerah Kampung Kali, dekat dengan kawasan tersebut. Kalau pulang gasik atau lebih awal biasanya langsung main ke mall karena adanya cuma itu. Kalau ngemall, biasanya jalan kaki sekitar 15 menit dan selalu rame-rame bareng teman. 

Kawasan Simpang Lima memang favorit dari dulu sampai sekarang karena adanya mall, lapangan, dan masjid. Jadi kalau masyarakat mau refreshing biasanya ngemall, beribadah di Masjid Baiturrahman lalu nongkrong atau makan malam sekalian di kawasan tersebut. Ya, Simpang Lima kalau malam hari ada banyak kuliner yang bisa dipilih dan bikin bingung. Sedangkan kalau Minggu pagi ada Car Free Day dan pedagang tumplek blek di sana. Habis olahraga di Tri Lomba Juang, coba deh mampir ke Simpang Lima, beli sarapan sekaligus menikmati ramenya Simpang Lima. 

Karakter orang Semarang yang ingin praktis, sekali jalan tapi bisa ke mana-mana ya ada di Simpang Lima ini. Meski saat ini sudah ada mall Paragon di Pemuda tapi kawasan ini tetap saja menjadi favorit masyarakat. 

#Semarang Bawah

Lirik lagu Jangkrik Genggong yang menyebut Semarang kaline banjir sangat lekat pada kota ini. Memang nggak sepenuhnya salah sih karena di beberapa kawasan tertentu memang sering banjir. Saya pernah tinggal di daerah Semarang bawah yang terkenal banjir. Hampir tiap tahun bahkan tiap bulan bisa saja daerah ini banjir yang nggak hanya disebabkan hujan tapi juga karena rob (air laut pasang). 

Banjir di kawasan ini sangat merugikan warga secara ekonomi karena selain bisa mengganggu aktivitas sehari-hari, mengorosi ban motor/sepeda, pastinya banyak rumah warga yang pendek karena kalah tinggi dengan jalan. Solusi banjir di masing-masing RT biasanya hanya meninggikan jalan agar areanya lebih tinggi sehingga air mengalir ke area yang rendah. Kalau jalan tinggi maka rumah warga kalah dengan jalan. Nah, air malah masuk ke rumah-rumah tersebut. Keadaan seperti ini membuat warga mau nggak mau ikut meninggikan rumah juga jadi rumah mereka makin lama makin pendek. 

Mirisnya lagi, sebagian besar warga di sana bekerja sebagai buruh pabrik dan berpenghasilan pas-pasan. Seringnya saya menjumpai rumah yang nggak diplester jadi batu bata dibiarkan begitu saja. Bagi mereka, mlester buang-buang duit toh rumahnya nanti bakal diurug dan banjir juga. 

Saya paham dengan kondisi mereka karena bapak dulu juga begitu. Rumah yang jaraknya tinggi banget dari jalan makin lama makin pendek sebab sering diurug. Kalau teman main ke rumah, katanya rumah saya keren karena sering gonta-ganti ubin dan cat. Hahahahaha padahal yang punya rumah mumet sama hutang buat ngurug rumah biar nggak banjir atau rembes. 

Sebenarnya potensi di kawasan ini sangat besar untuk dijadikan tempat wisata. Kawasan bawah dekat dengan pelabuhan jadi banyak pabrik di sana. Nggak heran banyak warga yang menggantungkan hidupnya menjadi buruh. Selain pabrik, di kawasan ini sebenarnya ada pusat pembuatan ikan asap yang terkenal di Semarang. Masyarakat Semarang menyebutnya iwak panggang. Saya yang saat ini tinggal di Depok merasakan ikan asap Semarang jauh lebih enak dari ikan asap di Jakarta. Ikan asap made in Semarang lebih kering dan baunya harum. 

Saya tahu tempat pengolahan ikan tersebut karena sewaktu kuliah dulu teman saya ada yang melakukan penelitian hubungan ISPA dan para pekerja pembuat ikan asap. Duh ya ampun ciiiin, ternyata mereka harus berjuang melawan asap demi ikan yang enak. Prosesnya masih sederhana. Setelah ikan dicuci lalu dipanggang menggunakan batok kelapa untuk memanggang ikan pari, lele, dan manyung. Kadang untuk membalik ikan-ikan tersebut mereka memakai tangan kosong dengan cepat tanpa menggunakan alat pelindung. Wuih, orang Indonesia memang sakti. 

Selain itu, kawasan bawah terkenal dengan bangunan lamanya seperti Stasiun Tawang, Gereja Blenduk, Kantor Pos, Pasar Johar, Pabrik Rokok Praoe Lajar, dll. Sebagian besar bangunan di kawasan tersebut memang peninggalan Belanda yang masih kokoh. Tapi sayangnya kurang dirawat dengan baik sehingga kurang menarik wisatawan dan banyak bangunan yang terbengkalai. 

Saya dulu bersekolah di SD Katolik yang ada di kawasan tersebut jadi tahu kondisi kawasan kota lama. Lah, SD saya saja sekarang sepertinya sudah nggak ada atau mungkin dijadikan satu dengan SD Katolik yang lain di tempat yang sama. Hal ini mungkin dikarenakan semakin sedikitnya orang yang bersekolah di sana sebab mereka nggak mau terkena banjir. 

Oia, di Semarang bawah ada perumahan yang dulu terkenal elit loh, namanya Tanah Mas. Banyak warga Tionghoa yang tinggal di sini karena lokasinya yang strategis. Mau ke bandara dekat. Mau ke pasar ada. Mau bisnis di pelabuhan apalagi. Mau ikan segar, hayuk. Mau ke Marina tinggal nyeberang.  Tapi banyak rumah yang ditinggalkan pemiliknya karena mereka nggak tahan banjir. Meski demikian masih ada yang bertahan dan betah tinggal. Teman ibu saya yang seorang dokter mengaku betah tinggal di Tanah Mas meski sering dilanda banjir karena kalau ke mana-mana dekat dan beliau sudah kenal baik dengan pedagang yang ada di kawasan itu jadi kalau pengin ini-itu tinggal telepon saja. 

Andai saja Semarang bawah diperbaiki, dipercantik, dan kalinya dibersihkan saya membayangkan wisatawan dapat naik perahu melihat bangunan tua menyusuri Kali Semarang dari Jembatan Mberok sampai Bandarharjo. Kalau mereka lapar, mampir beli jajan pasar yang dijual di sekitar situ atau makan sego mangut ndas manyung. Wuih, ngayaldotcom nih, hahahahaha. Mimpi nggak dilarang kan? ^-^

#Semarang Atas

Berbeda dengan uraian sebelumnya, kawasan ini disebut daerah atas karena memang terletak di dataran tinggi yang kemungkinan kecil dilanda banjir. Kawasan atas ada di bagian Selatan dan Barat. Bagian Selatan mulai dari Siranda sampai Banyumanik. Sedangkan di Barat merupakan area baru yaitu di daerah Ngaliyan sampai Mijen.

Semarang Selatan dan Barat dulu merupakan daerah yang sepi dan jarang dilirik. Tapi sekarang berubah drastis. Untuk wilayah selatan terutama Tembalang perkembangannya sangat pesat karena ada kampus UNDIP di daerah itu. Sewaktu saya kuliah sekitar tahun 2002, daerah ini sudah rame tapi sekarang lebih rame lagi.

Awal-awal kuliah, beberapa teman saya ada yang nggak betah karena suasana kampusnya yang ndeso dan jauh dari mana-mana. Dulu saya masih bisa melihat sapi merumput di sekitar kampus. Sekarang saya kurang tahu, masih ada sapi apa nggak ya. Kebijakan UNDIP yang memindahkan semua kampus S1 dari Pleburan ke Tembalang tentu membawa dampak bagi keduanya. Kawasan Pleburan katanya sekarang sepi, tentu saja hal ini berbeda dengan Tembalang. 

Sewaktu mudik kemarin, saya dan pak suami iseng lewat Tembalang tapi nggak ke area kampus sih. Kami cuma lewat di daerah Tirto Agung ke Banjarsari. Wuih, di sana-sini full bangunan, padet dan panas banget. Toko Totem, toko yang dulu menjadi dambaan para mahasiswa, sekarang sudah nggak ada. Kawasan Banjarsari dan Bulusan yang dulu sepi sekarang banyak kos-kosan, salon, bengkel, dan toko. Kagetnya lagi, pengembang properti sebesar Ciputra membangun komplek di situ bernama Citra Grand Semarang. Bisa dibayangkan dong ya harga tanah yang dulunya murah sekarang mahal banget. Perkembangan kawasan Tembalang benar-benar pesat. 

Semarang Barat juga hampir sama nih. Kebetulan orangtua saya sudah pindah ke daerah Ngaliyan sejak 7 tahun lalu. Iyaaa, bapak-ibu pindah karena nggak kuat sama banjir di bawah, hahahaha. Daripada uang habis untuk meninggikan rumah lebih baik beli rumah di daerah atas. 

Kawasan Barat terkenal dengan alaska (alas karet). Alas berarti hutan. Jadi alaska artinya hutan karet. Nggak salah kalau masyarakat memberi nama ini karena di sepanjang jalan menju Mijen banyak pohon karet. Menurut asisten ibu yang asli situ, dulu daerah sekitar alaska dingin banget kalau pagi dan masih ada kabut. Bila sudah maghrib, mau lewat di jalan sekitar alaska orang-orang takut karena sepi dan jalannya kecil.

Kondisi sekarang berubah drastis. Saat ini sudah dibangun perumahan elit BSB (Bukit Semarang Baru) yang sekarang bermitra dengan Grup Ciputra. Adanya komplek elit ini membuat infrastruktur juga makin bagus. Jalan yang dulunya sempit sekarang lebar. Tapi sayangnya, banyak pohon karet yang dikorbankan yang membuat udara di daerah Ngaliyan tambah panas. 

#Tempat Wisata

Kalau ngomongin tempat wisata, jujur Semarang masih kalah jauh dengan Solo atau Yogyakarta. Meski menjadi ibu kota Jawa Tengah, biasanya kota ini hanya menjadi persinggahan atau hanya untuk dilewati saja. Ya gimana lagi, Semarang sedikit banget tempat wisatanya jika dibandingkan dengan dua kota budaya tersebut. Namun, Semarang punya beberapa tempat yang layak dikunjungi seperti Lawang Sewu, Gereja Blenduk, Vihara Buddhagaya, dan Kuil Sam Poo Kong. 

Ada tempat wisata baru nih tapi saya belum pernah ke sana sih. Saudara sepupu sering ngajak tapi saya masih belum sempat main ke sana. Katanya sih lagi ngehits karena pemandangannya yang bagus. Nama tempat wisatanya Waduk Jati Barang. Waduk ini diresmikan pada bulan Mei 2014. Konon kabarnya waduk ini dibuat untuk mengendalikan banjir di Semarang dan untuk menghasilkan listrik. 

Sumber Gambar 

#Kuliner

Semarang punya kuliner yang terkenal enak seperti wingko babat, lumpia, mie kopyok, tahu pong, tahu gimbal, soto, tahu petis, bolang-baling, mangut, dll.

Kalau pulkam, saya pasti mampir jajan ke tempat makan langganan antara lain :

*Soto Pak Man

Saya seringnya beli soto di Pak Man Pamularsih karena lebih dekat dengan rumah. Tempat makan ini buka mulai jam 07.00 sampai sore. Lebih enak kalau beli pagi karena kuahnya lebih seger. Saya suka soto ini karena kuahnya bening. Soto ini disajikan di mangkok kecil dengan taburan ayam, bawang goreng, dan irisan tomat. Pelengkap makan soto biasanya ada sate ayam, puritan, atau kerang. pastinya ada tempe yang digoreng kering dan perkedel. Tempenya lihat deh, tipis dan kering banget seperti keripik tapi agak tebal. Rasanya enak banget tempenya. Makan soto pagi hari dengan sambal wuih bikin semangat deh! Haduh, jadi kangen soto Pak Man, hahahaha. 

Soto Pak Man

*Tahu Gimbal

Saya kurang suka tahu gimbal di Taman KB atau kawasan SMA 1. Sejak pindah di Ngaliyan, saya menemukan tahu gimbal yang enak banget. Lokasinya di dekat Toko Idjo, seberangnya Kantor Kecamatan Ngaliyan. Namanya Tahu Gimbal Bu Siti, buka mulai jam 10 pagi. Tempatnya sederhana tapi rame banget kalau pas jam makan siang. Selain tahu gimbal, kita bisa pesan gado-gado atau tahu campur. Asli, bumbunya enak banget. Recommended banget deh. 

Tahu Gimbal Bu Siti

*Mangut

Ikan mangut yaitu ikan asap yang diolah dengan bumbu pedas bersantan. Ikan yang diasap macam-macam, bisa ikan pari, lele, ikan sembilan, ikan manyung, atau belut. Ikan ini biasanya diolah dengan bumbu mirip tumis ditambah kemiri, kencur, daun jeruk, dan santan. Biar sedap dan mantap ditambah pete atau ditambah gembus. Widiw, jadi laper nih. Hahahaha. 

Nah, yang sering saya pesan ke ibu kalau pulang ke Semarang yaitu mangut welut (belut asap). Kalau ibu saya masaknya nggak terlalu pedes karena pak suami nggak bisa makan pedes. Pas mudik kemarin saya mampir ke rumah budhe dan lucky me, budhe masak mangut ndas manyung. Ikannya gedheee banget. Mantep, deh!



*Tahu Bakso

Kalau pulkam saya biasanya beli tahu bakso TAHUCAHUNGARAN. Lokasinya ada dua, yaitu di Simpang Lima (pojokan oleh-oleh Istana Brilliant) dan pojok Toko Siranda. Kalau hari biasa bisa beli langsung tapi kalau liburan baiknya pesan dulu. Pengalaman saya, lebaran tahun lalu saya hampir nggak dapat tahu bakso karena nggak tahu kalau harus pesan dulu. Mau nggak mau kami menunggu berjam-jam demi mendapat tahu bakso. Nomor teleponnya 081325212600 atau 024-70229148. 

Sekarang karena ibu saya nyambi jualan tahu bakso ya saya dapat jatah dari ibu. Lumayan ngirit, hahahaha. Bukan, ibu nggak bikin tahu bakso tapi cuma pesan dan dijual di kantor atau ke tetangga. Alhamdulillah, tahu baksonya enak dan ukurannya besar-besar. 

Tahu Bakso Dagangan Ibu


*Serabi Notosuman

Meski ini makanan asli Solo tapi tiap pulkam saya pasti beli ini karena serabinya enak banget. Langganan saya yang ada di Jalan Thamrin nomor teleponnya 024-3548816. Tempat ini buka dari pagi sampai serabinya habis, hahahaha. Serabinya ada yang rasa original dan coklat. Saya lebih suka yang rasa original. Eh, serabi ini sepertinya ada di Tangerang loh, tepatnya di mana saya kurang tahu. 

Serabi Notosuman di Jalan Thamrin 

*Singkong Presto dan Sirup Fres

Kalau ke Semarang, saya punya toko langganan yang menjaul aneka snack kiloan. Saya sudah langganan dari sejak zaman kerja. Kalau pulkam, biasanya ibu sudah pesan makanan kesukaan saya yaitu singkong presto. Makanan ini terbuat dari singkong yang digoreng atau dipresto, entah saya kurang tahu. Singkongnya gurih dan empuk, enaaaak banget!! Saya biasanya pesan 2 bal lalu dibagi-bagi ke sahabat, tetangga, dan dibawa ke kantor pak suami. Alhsmdulillah, semua suka. Kata pak suami, yang dinantikan temannya kalau pulkam ya singkong presto ini. 

Kalau sirup, saya dan pak suami kurang suka tapi ini favorit sahabat jadi saya sering bawa sirup ini untuk dia. Kata dia sih sirupnya enak dan nggak ada di Jakarta. Memang sih sirup Fress ini asli buatan Semarang.  




*Wingko 

Saya jarang beli wingko yang dijual di toko oleh-oleh sepanjang Jalan Pandanaran. Pak suami kurang sreg dengan ukurannya yang kecil jadi makannya kurang mantep, hahahaha. Seringnya saya pesan di penjual wingko, namanya Wingko Eco buatan Pak Hardi.

Wingko ini bentuknya kotak dan ukurannya nggak kecil-kecil. Makan satu biji sudah cukup. Kalau pesan, biasanya saya janjian pagi jam 06.30 di Pasar Bulu. Iyap, Pak Hardi biasa mangkal di bawah jembatan penyeberangan Pasar Bulu. Wingkonya enak juga kok. Murah meriah dan fresh karena dibuat sesuai pesanan. 

Itu saja cerita saya tentang Semarang. Kalau ada yang mau main ke Semarang silakan loh ya. Meski saat ini saya nggak tinggal di kota itu tapi medok dan bahasa saya jek koyok cah Semarang lho ndaaaaa.^,^.












Continue Reading…

Monday, September 07, 2015

Sereh dan Sirih

Setiap Sabtu saya dan pak suami pasti belanja ke pasar untuk membeli stok sayuran dan lauk. Sebelum pergi, pak suami mengingatkan saya untuk membeli "sereh." Rencananya daun yang dimaksud pak suami akan digunakan untuk mengobati matanya yang sakit. Ya sudah, saya manut toh harganya juga murah.

Ketika sampai di budhe langganan di pasar, pak suami mengingatkan lagi sudah beli sereh apa belum. Oiya, saya baru ingat langsung buru-buru membeli "sereh" yang dipesan. Setelah membeli yang dipesan tersebut, saya melanjutkan belanja ke penjual ayam langganan. Di depan penjual ayam, terjadilah keributan antara saya dan pak suami :

Suami (S) : "Mana daun serehnya?"
Saya (M) : "Nih." (Sambil menunjukkan yang dipesan)
S : "Kok ini sih? Mana daunnya?"
M : (Agak bingung) "Maksudnya?? Ini kan sereh yang kau maksud. Daunnya ya ini." (sambil menunjuk batang yang hijau)
S : "Bukan ini!! (Pak suami agak emosi dan mulai ngotot). Coba kamu tanya yang jual, ini bisa untuk mengobatai mata atau enggak."
M : "Lhoh? Lha mana tahu penjualnya soal begituan."

Situasi agak panas karena beberapa pedagang dan pembeli mulai melihat kami.

M : (Tanya ke penjual ayam) "Bang, ini namanya sereh kan? Daunnya ini kan ya?" (Sambil menunjuk batang yang hijau)

Si abang penjual ayam mengangguk dan menjawab iya. Tuh kaaan..Sementara itu pak suami masih dengan pendapatnya dan mulai browsing, tanya kepada ahlinya yaitu mbah google. Sementara itu saya melihat jawaban mbah google dan ternyata yang dimaksud DAUN SIRIH BUKAN SEREH!!

Sereh dan Sirih

Langsung saja saya spontan menjawab, "Kalau itu mah SIRIH (pakai I) bukan SEREH. Beda keles."
Pak suami masih dengan ngototnya bilang, "Kan beda pengucapan doang, kupikir sama."

M : "Ya Elah..beda pengucapan tapi artinya beda banget, ciiiinnn.."
Saya menjawab antara jengkel dan geli. Sementara itu abang penjual ayam ikut tersenyum.

Pak suami dongkol dan meninggalkan saya sendirian beserta belanjaan yang nggak sedikit di depan abang penjual ayam. *7$%#@*^%$* 
Oalah to bojoooo...bojoooo...antara daun sereh dan daun sirih kok ya nggak tahu bedanya. Dikira dengan beda bunyi antara "E" dan "I", daun sereh dan sirih artinya sama. Saya masih tertawa cekikian sendiri sambil melanjutkan belanja. Iya, sepanjang saya belanja dan tertawa sendiri dilihatin pedagang. Hahahahaha. 

Pak suami salah satu matanya bintitan. Sebenarnya sakit ini sudah diderita sejak di Jepang. Waktu itu matanya merah dan ketika periksa di dokter setempat, kata dokter penyebabnya bakteri. Kalau masih sakit dan membesar kemungkinan harus dioperasi. Dokter tersebut memberi beberapa obat mata. 

Setelah kembali ke Indonesia, mata tersebut kadang bintitannya muncul kadang enggak. Sewaktu mudik kemarin, matanya pernah kumat karena sewaktu bangun tidur matanya merah dan bengkak. Pak suami periksa ke rumah sakit, lagi-lagi mendapat beberapa resep obat. Beberapa minggu kemudian, bintitannya kalau pagi kempes tapi kalau sore kelihatan besar. Sewaktu konsultasi ke dokter, memang kalau mau sembuh baiknya dilakukan operasi minor. 

Sambil memakai obat dokter, pak suami juga browsing dan mencari obat herbal untuk sakit mata. Dari hasil browsing, pak suami mendapat info tentang manfaat daun sirih untuk sakit mata. Tapi ada juga info yang mengatakan kalau daun sirih bisa menyebabkan kebutaan. Nah lo. Info lengkapnya silakan dibaca sendiri ya.  

Karena pak suami sudah merasa terganggu dengan bintitan ini, rencana mau ketemu dokter lagi dan kemungkinan akan dilakukan operasi kecil. Gara-gara ini akhirnya suami saya tahu bedanya daun sereh dan sirih, hahahahaha. Sepertinya pak suami kurang piknik, tuh. ^,^.



















Continue Reading…

Thursday, September 03, 2015

Nama Unik

Saat ini mungkin lagi heboh dengan nama "Tuhan" yang ramai dibicarakan hingga banyak menuai kontroversi untuk mengubah nama tersebut. Nggak, saya nggak akan membahas nama tersebut. Cuma herannya dari kemarin hingga tadi pagi berita soal unik masih saja saya dengar meski bukan tentang nama "Tuhan." Kemarin, di salah satu tivi memberitakan keluarga yang namanya unik sedang tadi pagi di Radio Delta FM juga membahas nama unik. Sesuai dengan namanya, nama mereka memang unik sampai saya tertawa sendiri kalau mengingatnya. 

Nama yang merupakan pemberian orangtua pasti memiliki arti dan harapan. Tapi saya masih nggak tahu kenapa ada orang yang namanya "Syaiton." Masak iya orangtuanya ingin anaknya seperti syaiton atau setan? Hiiii, takut ah! Hahahaha, memang sih itu urusan mereka tapi ya apa nggak ada nama yang lain to pak..buk..?

Di salah satu stasiun tivi kemarin siang memberitakan sebuah keluarga yang nama anaknya unik-unik. Salah satunya bernama Andi Go To School, artinya Andi pergi ke sekolah. See? Unik kan? Pak Andi ini anggota kepolisian di Magelang (kalau nggak salah ingat). Hahahaha, lucu ya namanya. Tapi kan ini singular kan, kenapa namanya nggak Andi Goes To School ya? *penting dibahas, hahahaha. Kakaknya Pak Andi namanya Happy New Year karena lahir pada tanggal 1 Januari. 

Menurut berita tersebut (maaf kalau salah karena sudah agak lupa), kakaknya Pak Andi dulunya kalau disuruh sekolah susah dan sering nangis. Kalau nanti punya anak lagi, orangtuanya pengin si adik kalau berangkat sekolah rajin dan nggak nangis seperti kakaknya. Akhirnya adik Happy New Year diberi nama Andi Go To School. Karena Pak Andi waktu kecil nakal, kalau nanti punya anak lagi orangtuanya nggak pengin anaknya nakal seperti Pak Andi, makanya adiknya Pak Andi namanya Rudi A Good Boy. Sedangkan anaknya Pak Andi namanya Virgineo Silvero Go To Paradise. Dengan nama tersebut, Pak Doni ingin anaknya kelak bisa membawa keluarga ke surga. Aamiin. Sumpah, saya melihat berita ini cekikikan sendiri di rumah. Lucu, kreatif, dan unik. 

Kalau tadi pagi di acara Asri-Steny In The Morning juga membahas nama unik. Wah..wah..ternyata banyak juga ya yang namanya unik-unik. Pagi-pagi yang menelepon atau kirim tweet ke acara tersebut banyak banget. Saya kurang ingat nama-namanya karena ndengrin radio sambil memasak. Dari hasil stalking twitternya Delta FM, saya menemukan nama-nama unik yang diretweet. Nama-nama tersebut antara lain : Mentari Cinta Kasih, Tahan Benget, Honda Suzuki Implawati, Lebar bin Buntu, Juliasta Senang Akur, Sempat Ginting. Hahahaha, unik kan?

Oiya, saya ingat satu nama yang unik banget dari penelepon tadi pagi. Temannya melahirkan anak sewaktu pergantian Presiden dari Pak Harto ke Pak Habibie. Untuk mengenang momen tersebut, temannya memberi nama Presto Habib yang merupakan gabungan dari Presiden Soeharto dan Habibie. Hahahaha, ada-ada saja ya.

Soal nama unik ini, saya punya cerita nih. Teman SMA saya yang juga teman kuliahnya pak suami , namanya merupakan singkatan dari bulan, hari lahir, dan weton. Misalkan, namanya Saklitunov (Sabtu Kliwon Tujuh November). Ini misal loh ya. Sewaktu SMA dan kuliah, teman-teman banyak yang memanggil "Tutu." Saya dan pak suami juga ikut-ikutan memanggil "Tutu" dan anaknya juga nggak marah dipanggil dengan nama tersebut.

Lebaran kemarin, saya dan pak suami silaturahmi sekaligus nengok anak bayinya Tutu. Mumpung kami sama-sama sedang mudik di Semarang. Mulanya hanya kami bertiga yang ngobrol tapi nggak lama kemudian ibunya Tutu ikut ngobrol. Saking asyiknya, saya bertanya ke Tutu,

"Eh, Tu, masih inget nggak sama...."

Belum selesai saya bertanya, ibunya Tutu langsung memotong pembicaraan,

"Maaf Mba, bukannya apa-apa ya. Saya itu memberi nama ada artinya, nggak sembarangan loh Mba. Kalau anak saya dipanggil "Tutu" itu rasanya kok saya sakit ya. Soalnya saya pernah lihat di tivi ada orang bernama Tutu kok tabiatnya jelek banget."

Deg...

Saya nggak bisa ngomong lagi, cuma berpandangan sama pak suami. Sedang teman saya menanggapi ini dengan santai. Sumpah, saya nggak enak sama Si Ibu. Bukan saya bermaksud begitu soalnya ini sudah kebiasaan sejak SMA. Saya pun minta maaf, sungguh-sungguh minta maaf karena benar-benar nggak tahu soal itu dan saya juga nggak bermaksud seperti yang dipikirkan ibunya Tutu. Pembicaraan yang tadinya santai lalu berubah jadi kikuk. Tapi untungnya keadaan cair lagi ketika kami berbagi cerita dan saling belajar satu sama lain. Huhft, lega.

Tapi, ketika saya kesrimpet manggil dengan "Tutu" lagi, saya langsung sadar dan buru-buru minta maaf. Untungnya Si Ibu memaafkan dan menyadari kalau saya mengucapkan itu nggak sengaja, bukan meledek. Kata Si Ibu, ada temannya Tutu yang sengaja meledek memanggil dengan sebutan tersebut. Oh, saya baru tahu. Sejak kejadian tersebut, saya membiasakan diri memanggil dengan nama "Sakli" bukan "Tutu" lagi. Hahahahaha, saya ingin membiasakan diri supaya lidah nggak kesrimpet kalau nanti ketemu ibunya lagi.  

Teman-teman ada yang punya pengalaman dengan nama-nama unik?    



*Terimakasih Mak Wilis Idrati yang sudah merevisi nama Pak Andi dan keluarga, hehehe.














Continue Reading…

Seperti Anak Sendiri

Budhe dan ibu saya mempunyai beberapa persamaan. Mereka sama-sama seorang ibu dengan beberapa anak. Mereka juga punya "anak" lain yang bukan dari darah daging sendiri. Bertahun-tahun mereka tinggal di rumah yang sama jadi budhe dan ibu menganggap seperti anak sendiri. Kisah mereka berbeda tapi hampir mirip.

#Asisten Jadi Anak Ragil

Beberapa tahun lalu budhe punya asisten yang umurnya masih ABG, sebut saja namanya Si A. Usia A sekarang mungkin hampir sama dengan adik bontot saya, sekitar 22 tahun. Si A berasal dari desa yang dekat dengan Semarang. Sebagai asisten, tugas A hanya mengurus rumah. Pekerjaan A cukup bagus dan anaknya jujur jadi keluarga budhe senang sama dia. Setiap anaknya budhe jalan-jalan biasanya A selalu ikut. Karena keluwesannya dan terkenal sebagai anak yang rajin maka keluarga besar juga kenal baik dengan A. 

Kebetulan salah satu anak budhe ada yang bekerja sebagai guru SMP. Singkat cerita Si A bersekolah di tempat kerja sepupu saya. Sambil sekolah, A juga masih mengurus rumah. Setelah lulus SMP, A melanjutkan ke SMK jurusan akuntansi. Karena semangat belajarnya yang tinggi, A melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.

Hebatnya, saat ini Si A kuliah sambil bekerja sehingga dia bisa membiayai pendidikannya sendiri. Jadwal kerja yang membutuhkan fisik yang kuat tak lantas membuat A menyerah. Berbagai pekerjaan kerap dilakoni hingga sekarang sudah nyaman dengan pekerjaannya. Sejak A kuliah, budhe punya asisten baru untuk mengurus rumah. Bukan anak ABG lagi tapi seorang ibu yang merupakan tetangga dekatnya. Kalau terus-menerus mengandalkan A, budhe kasihan juga mengingat tenaga A sudah habis untuk bekerja dan kuliah. Meski demikian, A tetap tidur dan beraktivitas seperti biasa di rumah budhe. Iya, budhe sudah menganggap A bagian dari keluarganya bahkan sudah seperti anak ragilnya. 

Meski bukan anak kandung, budhe juga tidak memberi batasan kepada A. Terserah mau melakukan apa pun di rumah asal tidak membuat onar. Lucunya lagi kalau semisal ada keluarga yang punya hajat dan A tidak mendapat jatah seragam maka budhe akan marah-marah, hahahaha. Ini terjadi saat saya menikah dan ibu tidak memberi jatah seragam kepada A. Karena budhe mengomel akhirnya ibu membeli tambahan seragam. 

Dulu, kalau A memanggil ibu saya dengan sebutan 'buk' sekarang sudah memanggil 'tante', hahahahaha. Si A sudah tidak sungkan memanggil seperti sepupu saya. Bahkan A kalau pulang kampung cuma sebentar, katanya lebih betah tinggal di rumah budhe daripada di rumahnya sendiri. Hahahaha, ada-ada saja nih Si A. Dan, keluarga besar juga tidak masalah dengan semua perubahan tersebut. Malah semua salut dengan usahanya untuk maju. 

#Betah di Rumah Ibu

Kalau ini cerita di rumah ibu saya. Selama mudik kemarin di rumah ibu ketambahan satu anggota lagi. Bukan kali ini saja kejadiannya tapi sering banget. Sebut saja B, teman dari adik saya. Pertemanan B dan adik saya cukup lama. Si B sering menginap di rumah ibu karena di lantai dua memang ada kamar yang kosong. Adik saya sering meminta B untuk membantu memasukkan data di komputer atau otak-atik progam baru. Begitu juga dengan ibu, kalau pas lembur dan harus memasukkan data keuangan, biasanya ibu menyuruh B. Waktu itu B belum bekerja, masih luntang-luntung mencari pekerjaan.

Sekarang B sudah bekerja di Lampung tapi setiap pulang ke Semarang yang menjadi jujugan itu bukan rumah orang tuanya tapi rumah ibu saya. Jadi seringnya adik saya janjian dengan B di kantornya. Setiap hari B makan dan tidur di rumah ibu. Mau ngapain aja di rumah ibu tidak ada yang melarang asal tidak mengganggu tetangga. Mau makan apa saja yang ada di meja makan, silakan, tidak ada yang melarang. 

Hhhhmm, tindakan B agak aneh sih bagi saya. Kenapa dia tidak ketemu orangtuanya dulu? Kenapa dia betah di rumah ibu? Padahal dulu sering saya jutekin loh, hahahahaha. Ketika hal ini saya tanyakan ke ibu, alasan B betah tinggal karena dia sebal sama orangtuanya sendiri. Tiap pulang ke sana pasti orangtuanya meminta uang yang tidak sedikit dan dia disuruh membayar hutang. Kalau tidak memberi mereka uang, orangtuanya marah. Bukan karena dia pelit dan tidak sayang kepada orangtuanya tapi hutang orangtuanya yang dibebankan kepadanya membuat dia eneg dan tidak bisa menabung untuk dirinya sendiri. Makanya dia kurang betah. Mengetahui hal ini, lambat laun sikap saya sama dia berubah, yang dulunya jutek sekarang malah kasihan. Anaknya juga ringan tangan, mau disuruh apa saja kalau kami minta bantuan. 

Dua kisah tersebut memang berbeda. Meski berbeda tapi keduanya hampir sama, ya. Si A dan B lebih suka tinggal di rumah orang lain, bukan di rumah orangtuanya sendiri. Jujur, saya merasa beruntung karena mempunyai keluarga yang cukup dan bahagia. Hhhhmmm, kadang ya nggak bahagia sih kalau lagi berantem sama adik atau ibu, hahahahahaha. Tapi saya sangat beruntung memiliki mereka semua. 

Kisah A dan B membuat saya untuk lebih bersyukur dan menghargai orang lain. Bagaimanapun, mereka seorang anak yang butuh kasih sayang. Mereka juga manusia yang sama seperti kita, ingin mempunyai kehidupan yang lebih baik minimal untuk diri mereka sendiri atau untuk keluarga kecilnya jika mereka nanti sudah menikah. 














Continue Reading…
Powered by Blogger.

Recent Posts

    Follow Me

    Page Views

    Copyright © Pipit Widya | Powered by Blogger
    Design by Saeed Salam | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com