Friday, March 11, 2016

Gerhana Matahari Total 2016 dan Trend Pariwisata

Gerhana matahari total sudah berlalu. Peristiwa yang terjadi pada tanggal 9 Maret 2016 kemarin gaungnya masih terasa sampai sekarang. Di berbagai pemberitaan, peristiwa tersebut diyakini menarik banyak orang baik dari Indonesia sendiri atau dari warga negara lain. Peristiwa alam ini sangat langka karena kejadian di Indonesia berlangsung tiap 33 tahun sekali. Maka, pemerintah melalui Kementerian Pariwisata memanfaatkan momen gerhana matahari total 2016 untuk mendongkrak pendapatan dan menjadi trend pariwisata baru. 

Pada peristiwa gerhana matahari kemarin, ada puluhan kota di berbagai provinsi di Indonesia yang mengalami gerhana matahari total. Kota-kota tersebut antara lain Palembang, Bangka Belitung, Sampit, Palangkaraya, Balikpapan, Palu, Poso, Luwuk, Ternate, Halmahera, Sulawesi Barat, Bengkulu, Jambi, dan Kalimantan Barat.

Kemenpar dan pemerintah daerah setempat jauh-jauh hari sudah melakukan berbagai promosi untuk menarik wisatawan. Selain wisatawan, peristiwa gerhana juga disaksikan oleh pejabat negara, fotografer, astronom, ilmuwan, peneliti, komunitas travel, dan wartawan. Berbagai kegiatan digelar untuk menyambut gerhana matahari tersebut. Sebut saja seminar, festival seni dan budaya, hingga ragam kuliner nusantara. Dari tayangan di televisi, secara umum persiapan dari kemenpar dan pemda setempat sudah cukup baik namun masih ada beberapa daerah yang belum siap menyambut kedatangan wisatawan. 

Daerah-daerah yang mengalami gerhana total ada yang belum siap menjadi tempat wisata karena lokasinya yang jauh dari pusat kota. Untuk mencapai lokasi gerhana harus menempuh jalur darat selama berjam-jam dulu dari pusat kota. Selain itu, daerah tersebut hanya mengalami peristiwa gerhana matahari total selama beberapa menit saja. Jadi, persiapan yang ada terasa kurang greget. Namun adanya fenomena gerhana ini diharapkan dapat membawa dampak positif bagi pengembangan pariwisata ke depannya. Peristiwa gerhana matahari total 2016 setidaknya dapat menjadi batu loncatan untuk menggali potensi daerah-daerah tersebut. Dengan demikian, wisatawan tidak hanya mengenal daerah wisata yang sudah populer duluan. 

Menteri Pariwisata, Arief Yahya dalam wawancara di salah satu stasiun televisi swasta mengungkapkan bahwa pendapatan pemerintah dari peristiwa gerhana matahari total mencapai ratusan milyar rupiah. Angka ini sungguh fantastis karena dicapai dalam beberapa hari menyambut fenomena alam langka tersebut. Dia juga menambahkan, Indonesia saat ini harus jeli menangkap peluang pariwisata karena saat ini lingkup pariwisata tidak hanya soal ruang saja namun juga soal dimensi waktu.

Trend pariwisata saat ini sudah berubah dari ruang ke dimensi waktu. Dalam dunia pariwisata masalah dimensi waktu menjadi sangat penting. Banyak sekali wisatawan rela berlomba-lomba datang ke suatu tempat demi menyaksikan peristiwa alam yang langka. Mereka juga rela menyaksikan pertunjukan seni yang hanya terjadi di waktu-waktu tertentu saja. Bagi traveler sejati, apa pun akan dilakukan demi mendapatkan momen yang jarang terjadi. 

Melihat fenomena ini, bisa saja pemda-pemda di Indonesia menyelenggarakan calendar event di masing-masing daerah. Dengan adanya calendar event tersebut, dapat dipastikan akan ada banyak pertunjukan seni dan budaya dari masing-masing daerah yang bisa ditampilkan. Apalagi negeri ini sangat kaya akan keberagaman sehingga dalam sebulan bisa saja berbagai atraksi kesenian dari berbagai daerah yang berbeda dapat menarik wisatawan untuk berkunjung. 

#Sholat Gerhana

Bagi orang muslim, peristiwa gerhana merupakan salah satu tanda kebesaran dan kekuasaan Allah SWT. Karenanya, umat Islam disunnahkan melakukan sholat gerhana. 

Sejujurnya, tanggal 9 Maret 2016 saya melakukan sholat gerhana untuk pertama kalinya. Alhamdulillah, masjid di dekat rumah menyelenggarakan sholat sunnah tersebut. Karena ini sholat gerhana pertama kali, saya mencari referensi tata cara sholat gerhana. Untungnya, di grup whatsapp ada yang memposting tata cara sholat tersebut.

Di lingkungan tempat saya tinggal (Depok), sholat gerhana dilaksanakan pada pukul 06.00-08.20. Daerah Depok memang tidak mengalami gerhana matahari total namun ada tanda-tanda alam yang menunjukkan bahwa umat Islam bisa memulai sholat gerhana.

Jadi, pada pukul 06.00 saya dan pak suami sudah siap berangkat ke masjid. Kami mendapat info kalau sholat gerhana dimulai sekitar pukul tersebut. Sesampainya di tempat sholat, beberapa pengurus masjid masih belum tahu pasti kapan sholat tersebut dilaksanakan. Menurut mereka, sholat gerhana dimulai jika keadaan mulai redup. Artinya, saat itu matahari mulai tertutup oleh bulan. Kalau matahari masih terang bersinar, itu berarti kita melakukan sholat dhuha, bukan sholat gerhana. Jika dalam rentang waktu tersebut kedaan belum redup, maka jamaah yang punya kepentingan yang tidak bisa ditinggalkan boleh meninggalkan masjid. Penjelasan inilah yang saya tangkap dari pengurus masjid tempat saya melaksanakan sholat. 

Selama di masjid, para jamaah menunggu keadaan agak redup. Jamaah di masjid melakukan zikir dan tahmid yang dipimpin imam masjid. Cukup lama memang menunggu waktu ini karena butuh kira-kira satu jam. Para jamaah juga was-was karena mereka sudah lapar dan ibu-ibu banyak yang kepikiran pekerjaan di rumah yang belum selesai. Hahahaha, saya juga termasuk dalam jamaah yang resah dan gelisah. Akhirnya pada pukul 07.10 keadaan di sekitar masjid mulai redup dan agak mendung. Para jamaah mengucap takbir dan tahmid. Setelah itu, kami melaksanakan sholat gerhana berjamaah.

Tata cara sholat gerhana yang saya lakukan kemarin sebagai berikut :

1. Takbir, membaca doa iftitah, membaca ta'awudz, lalu Al Fatihah, dan membaca surat agak panjang.

2. Rukuk dengan rukuk yang agak panjang.

3. Bangkit dari rukuk (I'tidal).

4. Tidak sujud tetapi membaca Al Fatihah dan surat yang lebih pendek dari surat yang pertama.

5.  Lalu rukuk lagi dengan rukuk yang lebih pendek dari rukuk yang pertama.

6. Bangkit dari rukuk (I'tidal).

7. Kemudian sujud, lalu duduk di antaradua sujud, lalu sujud lagi.

8. Berdiri melakukan rakaat kedua, dan selanjutnya melakukan gerakan seperti yang dilakukan pada rakaat pertama. 

Subhanallah, sungguh saya merasa bersyukur bisa melakukan sholat gerhana. Ada rasa takjub yang tidak bisa saya ungkapkan meski saya tidak melihat peristiwa gerhana matahari secara langsung. Keadaan sekitar masjid yang redup cukup menjadi tanda bagi saya bahwa peristiwa gerhana matahari total sedang berlangsung dan ini sebagai tanda kebesaran Tuhan.  

Bagaimana dengan kamu, Teman-teman? 



















13 comments:

  1. Tanpa melihat langsung pun, cukup dengan merasa cahaya yang meredup sudah luar biasa, ya Mbak. Saya gak ikutan shalat karena jaga bocah yang suka lari2 ... kalo dibawa keluar rumah takutnya malah lari keluar masjid dan melihat matahari -_-

    ReplyDelete
  2. Saya di Depok juga Mbak. Kmrn melihat langit cerah tapi gelap (bukan gelapnya mendung). Saya nggak sholat krn njagain anak2, jd berdiam diri di rumah menonton tayangan di GMT du TV :)

    ReplyDelete
  3. Kebetulan saya sedang nggak sholat mbak Pipit jadi bisa keluar melihat-lihat, tapi kalau dilhat langsung juga ngga kelihatan hanya cahaya menyilaukan. Kemudian saya liha menggunakan klise photo jaman dulu, bisa kelihatan hanya gerhana sebagian aja mbak karena Semarang memang nggak total ya :)

    Di masjid dekat rumah saya jamaah sholat gerhana sampai luber ke jalan :)

    ReplyDelete
  4. aku lg halangan mbk,jd gk bs ngikut sholat gerhana deh yg syahdunya hampir sm kayak sholat 'id. hiks, blm rejeki.

    ReplyDelete
  5. aku mau ada acara, jadi dari subuh di adpur masak buat acara siang, tapi merasakan kok saat tiba2 agak menggelap

    ReplyDelete
  6. saya kemarin bagi tugas
    Anak-anak masih pada tidur, istri pengin bgt ke masjid
    ya wis sy di rumah hehehe
    salam sehat dan sukses amin

    ReplyDelete
  7. Itu kok petunjuk Sholat Gerhana ndak ada niatnya langsung takbir, bukankah Niat itu termasuk rukun sholat? :-D

    Kalau sy kemarin gagal menikmati gerhana matahari di Jakarta, soalnya ndak punya filter hehehe

    Sy juha berharap semoga pariwisata Indonesia maju, lebih baik industri wisatanya yg maju ketimbang industri yg merusak lingkungan.

    ReplyDelete
  8. saya takjub dan juga takut, karena GMT adalah tanda akan dekatnya kiamat. :(

    ReplyDelete
  9. Halo mbak.
    Kemarin saya ga ikut shalat karena si kecil masih tidur :(
    Kemarin sekeluarga ke mesjid untuk shalat, sudah seperti shalat ied ya hehe..
    Saya sendiri merinding melihat gerhana sebagian di bandung. Mengucap alhamdulillah daan takbir atas bukti nyata kekuasaan Allah. Belum lagi ikut terharu saat menyaksikan gmt di tv. Subhanallah..

    ReplyDelete
  10. Jamannya memang lagi seperti itu, dikit2 wisata, agak hedonis. Ada sisi baik buruknya. Semoga masih banyak sisi baiknya.

    ReplyDelete
  11. Setelah shalat kusuf berjamaah di mushala, saya lihatnya di tivi, Mbak :)

    ReplyDelete
  12. Saya tertarik dengan tulisan anda,
    Saya juga mempunyai tulisan yang sejenis mengenai Pariwisata yang bisa anda kunjungi di Informasi Pariwisata

    ReplyDelete
  13. saya malah nggak liat, soalnya emang gak boleh ama ust. saya, setelah selesai solat gerhana, jangan keluar masjid sebelum gerhana selesai..

    ReplyDelete

Powered by Blogger.

Recent Posts

    Follow Me

    Page Views

    Copyright © Pipit Widya | Powered by Blogger
    Design by Saeed Salam | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com